"Nah, sekarang katakan padaku,"

"Sudah kubilang, jariku tergores pisau kecil saat-"

"Bukan! Bukan itu yang ingin kudengar," kataku memotong ucapannya. Aku mengambil jeda sejenak, menatap jauh kedalam sorot matanya, melihat ekspresi diwajahnya yang tengah bertanya-tanya.

"Hinata, katakan padaku, apakah kau.. benar-benar hantu?"

_-0-_

All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Fantasy, Romance and Humor.
Warning: AU, a lil' bit OOC. Naruto POV.

Eyesight

_-0-_

o

Ada keheningan sejenak setelah pertanyaanku tadi keluar, dan kami hanya saling menatap dalam diam selama beberapa saat. Dari situ aku dapat melihat ekspresi keterkejutan yang melapisi setiap inci di wajah Hinata yang pucat, mungkin karena ia sama sekali tidak menduga kalau pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulutku. Lalu dengan cepat ekspresi tekejut itu berubah menjadi rasa gugup yang juga tak mampu disembunyikannya. "Bi-bicara apa sih Naruto-kun? Te-tentu saja aku ini hantu, he-he-he.."

Aku menatapnya yang masih tertawa dengan suara yang aneh itu, jelas-jelas itu adalah akibat kegugupan yang dirasakannya, dan ia masih berniat menyembunyikannya dariku. "Haaah, dasar~ masih mau membodohiku ya? Apa kau lupa kalau aku ini adalah anak seorang exorcist? Pastilah aku bisa membedakan yang mana hantu dan mana yang bukan hantu," terangku.

Hinata tertegun sejenak. "Ohh~" katanya, setelah itu ekspresi wajahnya berubah total, ia menopangkan dagu dan menatapku tajam, "lalu, kalau begitu menurutmu aku ini yang mana?" katanya balik bertanya.

"Eh? Kenapa kau malah balik bertanya? Justru itulah yang ingin kudengar darimu."

"Kau kan anak seorang 'exorcist', kau seharusnya tahu dong! Fuhhuuhu.." katanya mengelak sambil kemudian tertawa licik.

"Kau.. kau berusaha mempemainkanku ya?

"Hm.. menurutmu begitu? Sepertinya tidak."

"Baiklah kalau begitu, akan kubuat kau mengaku dengan caraku."

"Oh, kau membuatku takut Naruto-kun!" katanya seraya meledek dengan berpose seperti sedang ketakutan, "hm, kalau begitu biar kuberi tahu kau sesuatu yang bagus, aku ini tidak mudah membocorkan rahasia lho."

"Kepercayaan diri yang hebat. Tapi, apa kau tidak pernah mendengar, 'kepercayaan dirimu yang akan meruntuhkanmu'."

"Sayangnya aku tidak termasuk tipe yang seperti itu."

"Kalau begitu, mari kita buktikan," kataku.

Ia membalas dengan senyuman menantang, "coba saja."

Aku berjalan melewatinya ke arah dapur, menatap sekeliling, mencari-cari sebuah benda yang menurutku mampu membantuku untuk merobohkan kepercayaan dirinya yang berlebihan itu sekaligus untuk membuatnya mengakui wujud aslinya yang sebenarnya. "Ini dia!" kataku setelah menemukan benda yang kumaksud, aku memasukannya kedalam saku dan kemudian melangkah ke arah kloset untuk membuka pintunya, lalu aku berjalan kedalam kamar dan kembali keluar setelah beberapa menit kemudian. Aku dapat melihat kedua bola mata Hinata yang terus mengikutiku sampai aku kembali duduk pada posisiku semula.

"Oh, sudah kembali. Apa tidak terlalu cepat? Gunakan saja waktumu sebaik-baiknya," ujar Hinata merespon kedatanganku.

"Tidak. Ini sudah cukup," kataku. Aku kemudian menatapnya, menatapnya dalam-dalam, merasa iba terhadap apa yang akan kulakukan padanya ini. Seandainya saja ia mau mengaku, tentu aku tidak perlu melakukan hal seperti ini padanya.

"Apa?" tanyanya.

Aku menggeleng, "sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal ini padamu Hinata, karena itu akan kutanyakan sekali lagi, apa kau ini benar-benar hantu atau bukan?"

"Fufufu, belas kasihan terhadap musuh? Kau akan dimanfaatkan kalau terus seperti itu Naruto-kun. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, bahkan dengan itu pun aku masih tidak yakin kalau orang sepertimu mampu membuatku bergeser satu inchi pun dari kursi ini."

"Begitu ya, kurasa memang tidak ada cara lain lagi selain cara ini."

Aku merogoh saku kananku dalam-dalam, mengambil sebuah benda yang tadi kumasukan kedalamnya, lalu dengan satu gerakan menggebrak aku menempatkan benda itu diatas meja, memberikan efek dramatis yang membuatku berada dalam pihak yang memegang kendali dalam keadaan ini.

Hinata menatap benda itu lekat-lekat, kali ini tak dapat dipungkiri lagi, bahwa ia amat terkejut dengan benda yang kini berada didepan sejauh jangkauan tangannya itu. "I-itu kan..!"

"Benar, ini adalah minuman favoritmu.. sekotak teh celup instan!"

"A-apa maksudmu? Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?"

"Oh, apa aku lupa mengatakannya, ini adalah persediaan terakhir di rumah ini!"

"Apa? kalau begitu, aku harus-"

BATS!

Tangan Hinata berusaha meraih kotak teh tersebut, namun gerakan tanganku lebih cepat darinya, selain juga karena posisi kotak teh itu berada lebih dekat ke arahku. "Eits, tidak semudah itu!" kataku sambil menimang-nimang kotak teh terakhir itu di tanganku. "Bukankah kau berhutang satu jawaban padaku? Kalau kau ingin mendapatkan teh ini, lebih baik kau jawab pertanyaanku tadi, hm, bagaimana?"

"Ceh, tak kusangka kau akan memakai cara selicik ini Naruto-kun."

"Hehehe, sudah kukatakan, kalau aku tidak akan sungkan-sungkan terhadapmu. Jadi, bagaimana, apa kau masih 'tipe yang tidak mudah membocorkan rahasia'?

"T-tentu saja, kau pikir aku ini mudah dibujuk hanya dengan sekotak teh seperti itu,"

"Oh ya? Berarti kau tidak butuh teh ini?"

"Tidak! Tentu saja, aku tidak butuh."

"Hmm, kalau begitu sebaiknya kuapakan ya teh ini, tidak ada yang butuh lagi sih," kataku, diam-diam aku melirik ke arah Hinata yang sepertinya masih mencoba bertahan dan tak merespon, "Ah, bagaimana kalau aku mengumpamakan sekotak teh ini adalah bola basket, dan keranjangnya adalah.. oh, kloset yang di sana itu, untung saja aku membuka pintunya tadi, jadi lebih mudah deh. Omong-omong, cita-citaku kan untuk menjadi seorang pemain basket profesinal lho."

"Bohong! Kau bahkan belum pernah menyentuh bola basket sebelumnya."

"Hehehe, bagaimana ya, memang belum pernah sih, tapi kalau mulai sekarang ditekuni, pasti bisa kan. Nah, berarti kotak teh ini adalah benda bersejarah bagiku karena benda ini akan menjadi bola pertama yang kumasukan dalam keranjang berupa kloset yang ada disana itu," kataku, Hinata masih tak bergeming dari tempat duduknya.

Kalau begitu tak ada cara lain, pikirku, aku akan benar-benar melakukannya, jadi aku mengambil aba-aba siap untuk melempar. "Oke, dalam hitungan ketiga, satu.. dua.. ti-"

"Jangaaaan...!" Hinata menyergah berusaha memblok lemparan yang akan kulakukan.

"Bohong kok!"

NGEEK

GUBRAKK!

"Apa yang kau lakukaaaan!" seru Hinata sambil berusaha bangkit.

"Fufufufu, kalau jatuh seperti itu berarti dihitung berapa inchi ya?"

"Gaaah... jangan bercanda ya, cepat berikan teh itu padaku!"

"Lho, Bukannya tadi kau bilang kau tidak mau? Jadi apa salahnya kalau kulempar?"

"Jangan..!"

"Kulempar ya?"

"Jangan dong.."

"Kenapa jangan? Kau tadi bilangnya tidak mau kan?"

"Ugh.."

"Ya kan? tidak mau kan?"

"Sebenarnya.. a-aku... m...u."

"Eh? Apa? aku tidak dengar?"

"A..ku m...u!"

"Apa? Apa?"

"AKU MAUUU..! Cepat berikan padaku! Berikan! Berikan! Berikan! Berikaaaan!" rengek Hinata sambil memukul-mukulkan meja dengan tangan kecilnya.

"Hahaha, gitu dong! Kalau mau ya bilang mau, tidak usah malu-malu. Baiklah, akan kuberikan, tapi jawab dulu pertanyaanku yang sebelumnya itu."

"Um.. soal itu.. a-aku ini.. se-sebenarnya.. adalah.. h-ha-hantu."

"Kalau begitu kulempar!" kataku spontan sambil benar-benar melempar kotak teh itu ke dalam kloset.

"Tidaaaak..!" Hinata melonjak dengan cekatan dan terbang melayang mengikuti arah yang dituju oleh kotak teh tersebut. Tangannya berusaha menggapai dan meraih kotak teh yang hanya berjarak beberapa inchi darinya itu, dan ketika tangannya sudah hampir mampu menggapai kotak tersebut, aku menarik kembali kotak teh itu dengan seutas benang tipis yang sudah kuikatkan pada kotak teh itu saat persiapan sebelumnya. Kini tinggalah Hinata yang masih melayang dengan tangan hampa tanpa hasil.

"Kereta bernama Hinata dengan tujuan kloset beberapa saat lagi akan memasuki stasiun, para penumpang diharapkan memasang sabuk pengaman dan berhati-hati dengan guncangan hebat yang akan segera terjadi," kataku seraya menirukan suara informan seperti di stasiun-stasiun kereta api.

Dan Hinata pun mendarat di kloset dengan tidak sempurna.

"Naruto-kun...!" jerit Hinata dari dalam kloset.

Aku menghampirinya, meraih kenop pintu dan menariknya hingga tertutup lalu menguncinya dari luar.

CEKREKK!

"Ah! Sekarang apa lagi? Cepat buka pintunya!" seru Hinata yang suaranya terdengar menggema dari dalam.

"Salahmu sendiri telah membohongiku."

"Aku tidak bohong! Yang kukatakan tadi itu benar! Aku memang hantu."

"Baiklah! Kalau kau memang benar-benar hantu, coba buktikan! Karena yang aku tahu, hantu itu tidak berdarah, tidak merasakan sakit, bisa melayang, bisa menembus benda, dan hantu juga tidak suka minum t-"

Belum selesai aku berbicara, tubuh Hinata telah menembus daun pintu dan sekaligus tubuhku yang lagi-lagi meninggalkan sensasi dingin yang kini sudah mulai terbiasa kurasakan.

"Memangnya kenapa kalau hantu suka minum teh?" tanyanya sambil melipat tangannya. "Naruto-kun baka! Baaaka! Coba lihat apa yang telah kau lakukan padaku!"

"Hehehe.. maaf, maaf.."

"Sekarang kau sudah percaya kan kalau aku ini hantu?"

"Iya, iya, sekarang aku percaya kok!"

"Fuh, ya sudah, sekarang cepat buatkan aku secangkir teh!"

"Heee, kenapa harus aku?"

"Anggap saja sebagai permintaan maaf karena telah meragukanku sebagai hantu.

"Haaah, baiklah, baiklah.."

"Dan jangan terlalu manis!"

"Iya, aku mengerti.."

Beberapa jam berlalu, panasnya matahari telah tergantikan dengan gemerlap sang rembulan. Hinta sudah berada di dalam kamarnya, sementara aku sedang berbaring menatap langit-langit dan menyimpulkan kedua tanganku di atas kepala sambil memikirkan kejadian sebelumnya, mengingat Hinata yang terbang melayang ketika mencoba meraih kotak teh, juga saat tubuhnya untuk kesekian kalinya menembus tubuhku dan membuatku menggigil.

Kata-kata yang diucapkannya saat itu masih terngiang dengan jelas di kepalaku, Sekarang kau sudah percaya kan kalau aku ini hantu? Aku kemudian bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. "ya, aku percaya Hinata, bahkan aku sangat yakin sekarang, kalau kau memang benar-benar bukan hantu!"

_-0-_

Baiklah, pertama-tama saat ini aku harus mencari tahu dulu siapa atau apa sebenarnya Hinata itu. Dilihat dari kemampuan-kemampuan yang dimilikinya itu, orang awam mungkin akan menduga kalau ia memang hantu, tapi untuk ukuran anak seorang excorcist sepertiku yang memiliki banyak pengetahuan tentang banyak hal-hal berbau mistis ini, semua kemampuannya itu terlihat sangat ganjil, bahkan untuk ukuran seorang hantu sekalipun.

Dan yang paling mencolok, adalah saat tadi ia menembus pintu kloset dan tubuhku dengan sempurna, para hantu memang bisa melakukannya dan memang hanya merekalah yang bisa melakukan hal-hal seperti itu, tapi tidak ada satupun hantu yang bisa membawa serta benda lain bersamanya saat proses penembusan seperti itu.

Memang pakaian atau apapun yang dikenakan oleh si hantu bisa ikut menembus, tapi itu hanya sebatas benda-benda yang dikenakannya saat si hantu menemui ajalnya dan mati, diluar dari itu, benda apapun yang menempel pada si hantu akan teringgal pada saat hantu tersebut melakukan proses menembus. Sedangkan Hinata? perban yang kurekatkan pada jarinya saat ia terluka tadi masih menempel dengan sempurna ketika ia menembus pintu dan tubuhku ini, perban itu tidak lepas dan teringgal di dalam kloset, itu adalah merupakan bukti yang kuat kalau Hinata itu memang bukan seorang hantu.

Pagi berikutnya aku mengunjungi perpustakaan sekolah, mencari-cari hal-hal atau sesuatu atau apapun yang mungkin ada sangkut-pautnya dengan hal ini, dan dari semua jenis buku occult yang kubaca, tidak ada satupun yang ciri-ciri hantu seperti Hinata disebutkan di sana, dan hal ini semakin memperjelas dugaanku.

Kemudian, hal lainnya yang terpikirkan olehku adalah mencari identitas sesungguhnya Hinata, aku ingat pernah bertemu dengan seorang gadis yang mengenakan seragam yang sama dengan yang dipakai oleh Hinata, gadis yang kalau tidak salah bersama dengan sosok yang kukenali sebagai ayahku -walaupun belum jelas kebenarannya, dan entah kenapa sejak kejadian itu Hinata tidak pernah lagi mengenakan seragam itu, entah ini ada hubungannya atau tidak.

Satu-satunya cara yang bisa kuandalkan adalah menanyakannya melalui jaringan internet, aku mendeskripsikan seragam yang dikenakan Hinata sejauh yang kuingat, dan bertanya apakah ada sekolah yang menggunakan jenis seragam seperti ini. Hasilnya? Persis seperti yang kuduga, tanpa imbalan dan informasi yang mencukupi, hanya ada tujuh orang dalam waktu satu hari penuh yang mengunjungi tautan yang kukirimkan itu, salah satu diantaranya cukup baik dengan meninggalkan komentar: 'tidak tahu, mungkin yang di bawah tahu' ditambah beberapa buah simbol yang membentuk seperti wajah tersenyum, kalau saja ia tahu bahwa tidak ada lagi orang yang akan menuliskan komentar di bawahnya, ia mungkin tidak akan membuat simbol seperti itu.

Beberapa hari berikutnya, aku masih terkatung-katung dengan sedikitnya informasi yang kudapat, sementara aku masih bersama Hinata yang dengan wajah polos menyesap teh kesukaannya di depan layar televisi dan menikmati acara, entah kemalangan apa yang akan menimpaku kalau terus berada dalam keadaan seperti ini.

"Lihat, lihat Naruto-kun, orang itu akan memakan gurita kecil hidup-hidup!" serunya mengomentari acara televisi yang ditontonnya.

Aku menoleh ke arah televisi dan melihat tentakel-tentakel kecil yang tengah bergeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari sebuah sumpit yang mengapitnya, beberapa saat kemudian tubuh gurita kecil itu masuk ke dalam mulut menyisakan beberapa buah tentakel yang menjalar keluar yang akhirnya hanya dengan satu isapan berisik oleh si pemakan, membuat usaha gurita kecil itu untuk bebas menjadi sia-sia. "Oh, itu hal biasa. Nama makanan itu adalah Odori Don, makanan itu memang menyajikan gurita ukuran kecil dalam keadaan hidup."

"Kasihan, gurita yang malang," katanya menaruh simpati pada gurita tersebut.

"Yap! Benar juga!" kataku, sambil berpikir bahwa ada bagusnya juga menyaksikan acara seperti ini, semalang apapun nasibku, pasti tidak akan lebih malang daripada nasib si gurita, setidaknya itu membuatku merasa jauh lebih baik.

"Ada apa?"

"Ah, tidak apa-apa, hanya sedang berpikir.."

"Dasar aneh.." katanya dengan santai sambil kemudian kembali menyesap secangkir teh miliknya.

Malamnya, masih pada hari yang sama, aku mendapatkan sebuah email baru yang langsung kuketahui melalui bunyi tawa mendesis yang berasal dari komputer milikku. Yap, itu adalah ringtone yang kupakai untuk menandakan adanya email masuk, bunyinya memang terdengar sedikit norak dan aneh, tapi walaupun begitu, aku sama sekali tidak berniat untuk menggantinya, karena entah bagaimana bunyi itu meninggalkan kesan nostalgia yang kurasakan tiap kali mendengarnya.

Dengan berbekal antuisasme yang sangat sedikit, aku mengarahkan kursor ke arah gambar tersenyum yang menjadi icon penyedia jasa layanan email yang kugunakan. Dan mengingat banyaknya email-email spam yang kudapatkan belakangan ini, aku pun menyangka bahwa email yang baru masuk tadi itu juga pasti salah satu darinya, namun ternyata tidak, itu adalah balasan dari tautan yang kukirimkan sebelumnya, tentang identitas Hinata yang kutanyakan beberapa hari yang lalu, "kuharap ini bukan junk-post seperti sebelumnya," kataku berharap.

Si pengirim tidak menuliskan namanya, dan itu membuatku sedikit ragu bahwa apa yang ditulisnya kali ini akan berguna juga. Tapi ternyata tidak seperti yang kuperkirakan, komentarnya yang langsung kubaca itu membuat irama jantungku berpacu sedikit lebih cepat: 'sepertinya aku pernah melihat seragam jenis itu, tapi aku tidak begitu yakin. Ah,akan kukirimkan fotonya, semoga dapat membantu!'

Dia tidak menuliskan simbol tersenyum pada akhir komentarnya, tapi aku yakin kalau saat ini wajahku tengah tersenyum berkat komentarnya. Sebuah link ia sertakan dalam komentarnya itu, dan layar komputerku langsung diselimuti warna putih ketika aku mengkliknya. Perlahan-lahan, gambar yang dikirimkannya mulai terbuka sampai akhirnya terlihat secara keseluruhan.

Foto itu pun terpampang dengan jelas di layar komputer milikku.

Sebelumnya aku sempat berpikir akan melihat gambar beberapa orang gadis yang sedang berfoto bersama, seragam yang mereka kenakan sama dengan yang dipakai oleh Hinata, dengan berlatar-belakangkan gedung sekolah tempat mereka menimba ilmu mereka tersenyum ceria sambil membuat logo V dengan jari-jari mereka.

Ternyata tidak, yang kulihat justru sama sekali berbanding terbalik dengan apa yang kubayangkan. Bulu romaku bergidik ngeri ketika gambar itu mulai menyatu dengan memori di otakku, hawa dingin langsung menyerbak tubuhku seolah hujan es baru saja terjadi dan itu membuat tubuhku seperti membeku.

Gambar itu, adalah gambar yang pernah sangat menghantuiku, setahun yang lalu.

.

To be continue

.

a.n

Yosh! Chapter 5 selesai!
terima kasih buat yang masih setia membaca serta mereview fiction ini, semoga terhibur.
sampai jumpa di chapter berikutnya, terima kasih.
salam hangat,
Aojiru.