Sebelumnya aku sempat berpikir akan melihat gambar beberapa orang gadis yang sedang berfoto bersama, seragam yang mereka kenakan sama dengan yang dipakai oleh Hinata, dengan berlatar-belakangkan gedung sekolah tempat mereka menimba ilmu mereka tersenyum ceria sambil membuat logo V dengan jari-jari mereka.
Ternyata tidak, yang kulihat justru sama sekali berbanding terbalik dengan apa yang kubayangkan. Bulu romaku bergidik ngeri ketika gambar itu mulai menyatu dengan memori di otakku, hawa dingin langsung menyerbak tubuhku seolah hujan es baru saja terjadi dan itu membuat tubuhku seperti membeku.
Gambar itu, adalah gambar yang pernah sangat menghantuiku, setahun yang lalu.
_-0-_
All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Fantasy, Romance.
Warning: AU, a lil' bit OOC. Naruto POV.
Eyesight
_-0-_
o
Aku masih belum bisa mempercayai kedua mataku sendiri tatkala gambar itu muncul di layar komputer milikku. Sebuah pemandangan yang menguak kembali kenangan pahit dari dalam hatiku, itu adalah gambar tempat dimana ayahku melakukan tugasnya sebagai seorang exorcist untuk yang terakhir kalinya.
Kedua bola mataku bergetar, dan sudut-sudutnya mulai dipenuhi oleh cairan bening yang berurai dan siap tumpah kapan saja, gambar itu telah membuka kembali sebuah luka lama yang tersayat di hatiku.
Aku tak ingin merasakannya lagi, dan itu bukanlah sesuatu yang ingin kuingat, kalau bisa, bahkan aku ingin melenyapkan kenangan itu dari dalam hidupku.
Setahun yang lalu, dari sanalah semuanya berawal.
Saat itu, ayahku menerima tugas untuk menyelidiki sebuah kawasan industri tua yang lama sudah tak digunakan lagi. Kawasan itu sudah setengah abad lamanya tak dihuni, cukup lama untuk menjadikan sebuah lingkungan menjadi usang dan menyeramkan. Didalamnya terdapat beberapa buah bangunan versi eropa bekas sisa-sisa perang dunia pertama yang sudah dialih-fungsikan menjadi ladang usaha yang juga sudah lama tak terjamah, mungkin hal itulah yang memicu tempat tersebut menjadi tempat yang menyeramkan.
Setelahnya, beberapa orang excorcist mulai dipanggil untuk mengatasi kejanggalan-kejanggalan yang beberapa tahun terakhir ini mulai muncul, namun tak ada satupun yang membuahkan hasil. Akhirnya, setelah percobaan berikutnya, kali itu giliran ayahku bersama dengan beberapa orang excorcist lainnya untuk menerima permintaan itu dan mengeksplorasi dari mulai daerah lingkungan sekitarnya sampai bangunan-bangunan yang berdiri didalamnya. Beberapa ritual mulai dilakukan dengan gaya yang berbeda oleh masing-masing excorcist, anehnya, tak ada satupun dari usaha-usaha itu yang berhasil memancing keanehan-keanehan yang biasanya terjadi, malahan selama kurun waktu dua hari berikutnya, suasana di kawasan itu nampak seperti sebuah pemukiman biasa oleh karena banyaknya manusia yang berada di sana.
Akhirnya, pada hari ketiga dimana kegiatan eksplorasi itu diperkirakan akan berakhir, semua excorcist berkumpul demi mengeksplorasi bangunan terakhir yang merupakan pusat utama dari wilayah tersebut, semuanya berjalan lancar seperti hari-hari sebelumnya dan tidak nampak pertanda-pertanda kalau sebuah keanehan akan muncul, tapi justru disaat itulah terjadi bencana. Bangunan dengan tinggi lima lantai itu runtuh seketika tanpa sebab yang jelas, padahal sudah diketahui sebelumnya bahwa kondisi bangunan itu masih layak dan cukup aman untuk dimasuki.
Beberapa menit kemudian, tim penyelamat segera menghambur untuk melakukan proses evakuasi. Saat itu kondisi bangunan sudah luluh lantah dengan tanah, kecil kemungkinan bagi mereka yang terlibat untuk bisa selamat, sehingga aku dan semua yang berada disana saat itu hanya bisa berharap pada keajaiban agar mereka semua yang berada di sana bisa diselamatkan
Dan keajaiban itu memang benar terjadi, satu persatu dari para excorcist itu berhasil diselamatkan, semuanya itu dilakukan dalam selang waktu yang cukup dekat, awalnya kami semua larut dalam euforia kegembiraan dengan keajaiban itu, namun, lambat laun kami semua tersadar bahwa keajaiban itu mulai terlihat sedikit aneh, apalagi diantara mereka yang berhasil diselamatkan tidak ada satupun yang mengalami cedera berat, beberapa diantaranya bahkan masih mampu berjalan, walaupun sepertinya mereka telah kehilangan kesadaran mereka yang terlihat melalui tatapan mata yang mereka pancarkan yang terlihat kosong dan hampa.
Satu demi satu para excorcist berhasil diselamatkan, dan kini hanya tersisa satu orang lagi yang belum, dan orang itu adalah ayahku.
Ada jeda yang cukup panjang antara orang terakhir yang berhasil diselamatkan dengan ayahku, padahal hanya membutuhkan rentang waktu kurang lebih dua puluh menit antara excorcist-excorcist yang berhasil diselamatkan sebelumnya, dan kini sudah satu jam berlalu tanpa ada hasil apa-apa.
Tapi mereka tidak menyerah untuk mencari dan terus mencari hingga akhirnya usaha mereka pun membuahkan hasil, setelah tiga puluh menit berikutnya -yang terasa begitu panjang- berlalu, tim evakuasi akhirnya berhasil menemukan ayahku, sayang, kondisinya tidak seperti para excorcist-excorcist yang sebelumnya, ia tidak bisa berjalan, ia tidak bisa menertawakan nasibnya seperti para excorcist-excorcist yang berhasil diselamatkan sebelumnya, dan bahkan ia sudah tidak lagi bernafas.
Itulah awal dari semua kenangan buruk yang kualami.
Terlebih saat media massa mulai menyiarkan berita itu, dari mulai surat kabar maupun televisi. Semuanya memperlihatkan sebuah pemandangan bangunan tua yang telah rata dengan tanah yang menurut mereka sangatlah menarik dan penuh misteri.
Tapi tidak bagiku, justru itu adalah tempat yang telah merenggut satu-satunya orang yang kukasihi, tempat yang paling kubenci karena telah mempertontonkan kehilanganku pada dunia. Mereka semua menertawakan kepedihan yang kurasakan seorang diri. Aku membenci mereka semua yang berhasil selamat dari kejadian itu, aku membenci mereka semua yang telah menyaksikan peristiwa itu tanpa merasakan apa yang kurasakan, tapi tak ada yang bisa kulakukan untuk membalas itu semua. Selama beberapa waktu, aku hanya bisa menarik diri dari dunia, menyendiri dalam keheningan dan membiarkan kegelapan menyelimuti diriku.
Untunglah saat itu ada Iruka, orang yang telah membawaku kembali dari keterpurukan, ia terus berdiri di sampingku dan menemaniku serta terus menyemangatiku sampai akhirnya aku bisa kembali bersikap normal seperti saat ini. Kalau tidak ada dia, mungkin saat ini aku masih akan terjerembab dalam keputusasan.
Kini, sudah setahun berlalu sejak saat itu, gambar itu sekarang kembali muncul tepat di hadapanku tanpa aku dapat mengetahui alasannya dengan jelas, akan tetapi aku mencoba untuk tidak larut dalam kenangan satu tahun yang lalu itu, walaupun aku masih tidak dapat mengerti apa hubungan antara gambar ini dengan seragam Hinata yang kutanyakan sebelumnya.
Namun, setelah aku menegaskan pandanganku dengan lebih jelas, aku menemukan seuatu yang terlihat begitu familiar.
Di sana, tepat diantara reruntuhan bangunan, diantara kerumunan orang yang ikut menyaksikan kejadian yang terekam oleh kamera itu, aku terkejut menemukan apa yang kucari. Dua orang gadis yang tengah berdiri menyaksikan kejadian itu ternyata mengenakan seragam yang sama persis dengan yang dikenakan oleh Hinata.
Ya! Itu sama persis dengan apa yang Hinata pakai, batinku berucap. Mengetahui bahwa teka-teki tentang kebenaran Hinata akan segera terungkap, detak jantung menjadi berpacu sedikit lebih cepat. Namun, aku tidak lantas merasa senang dengan hasil ini, masih ada beberapa hal yang harus kupastikan dan beberapa hal lainnya yang masih berada di luar area hitam dan putih. Agar lebih yakin dengan apa yang kulihat, aku memperbesar gambar itu beberapa kali, dan ternyata kejutan lainnya telah menungguku di sana.
Salah satu diantara dua gadis itu, adalah Hinata.
"Ya ampun! Itu kan Hinata!" kataku terkejut merespon apa yang kulihat. Lalu, seolah belum cukup dengan kejutan itu, aku kembali dikejutkan dengan keberadaan gadis lain yang berdiri disebelahnya yang ternyata adalah orang yang pernah kutemui beberapa waktu yang lalu, dia adalah gadis yang kukejar bersama seorang lainnya yang saat itu kuduga adalah ayahku.
"A-apa maksudnya ini?" kataku seolah tak mempercayai apa yang kulihat. Namun beberapa kalipun aku memejamkan mata dan membukanya lagi, gambar itu tetap tak berubah, kenyataan bahwa Hinata dan seorang gadis lainnya yang berada di sana saat kejadian itu sama sekali tak terbantahkan.
Apakah ini adalah sebuah perbuatan yang disengaja, ataukah ini hanya kebetulan semata. Hal itu beserta asumsi-asumsi lainnya langsung saling bertumbukan dalam otakku dan membuat urat-urat syarafku menegang. Padahal baru saja aku berpikir bahwa aku telah menemukan sebuah jalan yang akan menuntunku untuk menemukan jati diri sesungguhnya Hinata, tapi ternyata aku malah menemui jalan buntu, jalan yang terhalang oleh sebuah tembok yang begitu tinggi nan tebal yang menutupi pandanganku.
Tiba-tiba aku menyadarinya keanehan di dalam kamarku, cahaya lampu dari luar kamar telah menyinari masuk kedalam kamarku melalui celah pintu yang terbuka. Ini adalah hal yang aneh, karena aku ingat bahwa aku menutupnya tadi, kalau begitu berarti ada seseorang telah membuka pintu, mungkinkah itu..
DUGHH
Sekejap kemudian aku merasakan sedikit kejutan pada bagian tengkuk leherku, rasanya sakit, dan hal itu tiba-tiba saja membuat kedua mataku ini terasa begitu berat. Lalu hal yang sama juga terjadi pada seluruh bagian tubuhku, tangan dan juga kakiku, aku tak bisa mengendalikannya. Beberapa saat kemudian aku merasa seperti melayang, lalu tubuhku terjatuh membentur lantai tanpa bisa kukontrol, cukup keras dan menyakitkan.
Aku masih tak begitu mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi entah kenapa, rasanya keadaan ruangan tiba-tiba menjadi gelap, entah itu memang benar-benar terjadi atau karena efek benturanku barusan, yang jelas, sedikit demi sedikit pandanganku mulai buram, dan kesadaranku mulai goyah.
Saat itu aku melihat dua pasang kaki yang melangkah ke arahku dan berhenti tepat di hadapanku, aku mencoba untuk mengadahkan kepalaku untuk melihat siapa mereka namun sulit, kepalaku hanya bisa terangkat sedikit dan aku hanya bisa menatap sampai lutut kedua orang itu, sepertinya kali ini aku hanya bisa mengandalkan suaraku yang –paling tidak- masih bisa kukontrol dengan baik.
"Si-siapa kalian?" tanyaku terbata. Namun ternyata usaha sekuat tenagaku untuk bertanya itu hanya dibalas dengan diam oleh mereka dan tentu saja hal itu membuatku kesal sampai-sampai aku bisa menggerakan tanganku untuk mencengkram kaki salah satu dari mereka.
Mengejutkan, ketika aku berusaha mencengkram kaki itu aku merasakan sebuah sensasi yang begitu kukenal, sebuah sensasi yang terasa dingin dan hampa, tanganku pun hanya menembus melewati kaki itu tanpa bisa menyentuhnya sama sekali.
Mustahil, apakah mereka ini hantu..
"Kau pergi saja, biar aku yang membereskan sisanya," kata salah seorang dari mereka. Kemudian salah satunya pergi dengan menembus tembok di sudut yang gelap, ia menghindari cahaya lampu agar sosoknya itu tidak terlihat olehku.
"Khukhukhukhu, ternyata memang persis seperti yang dikatakan-nya, Uzumaki Naruto, kau memang pemuda yang menarik. Sayang kau mengetahui terlalu banyak, karena itu aku tak akan membiarkannya.." ujarnya dengan suara yang terdengar berat.
"A-apa maksudmu? S-siapa sebenarnya kalian?"
"Kau tak perlu tahu siapa kami. Yang jelas, apa yang coba kau lakukan itu akan sangat merugikan bagi kami sekarang, karena itu.." Ia tak melanjutkan kalimatnya, ia malah berjalan ke belakang melangkahiku seperti mencoba melakukan sesuatu, dan sepertinya aku tahu apa yang ingin dilakukannya.
"Hentikan!" kataku sedikit berteriak. Kali ini tangaku yang mencoba untuk menghentikannya berhasil menggenggam pergelangan kakinya yang tengah mencoba untuk melewatiku, aku sedikit terkejut karena bisa melakukannya walupun kejadian seperti ini bukan pertama kalinya kualami.
Kemudian ia dengan cekatan menendang kakinya ke udara dan membuat genggamanku terlepas, seandainya saja aku sedang dalam kondisi normal, pasti aku bisa menahannya lebih dari itu.
"Tenang saja Uzumaki Naruto, aku tak akan melukaimu, karena kau adalah orang yang penting bagi misi ini. Tapi ada hal yang harus kulakukan sekarang dan aku harus melakukannya, jadi tak akan kubiarkan kau menghentikanku, apapun alasannya."
BUGH!
_-0-_
Sakit dan dingin, itulah hal yang pertama kali kurasakan ketika aku mencoba untuk membuka kedua kelopak mataku ini, sementara sinar hangat sang mentari telah merangsek masuk melalui celah jendela yang tertutup tirai jingga. Sepertinya hari sudah siang, kalau begitu berarti aku telah terbaring kaku tak sadarkan diri semalaman, pantas saja aku merasakan nyeri yang teramat sangat di sekujur tubuhku.
Aku berusaha bangkit dan duduk di tepi ranjang, itu saja sudah membutuhkan banyak tenaga bagiku. Sambil menghela nafas, aku kembali menyusun ingatan yang terjadi di malam sebelumnya, saat kedua orang itu tiba-tiba saja muncul dan menjatuhkanku. Juga saat aku gagal untuk menyentuhnya, tapi sesaat kemudian aku berhasil, fenomena ini sama dengan yang terjadi pada Hinata, dan semua kata-kata yang diucapkannya benar-benar membuatku bingung.
Tapi yang jelas, ia merasa terganggu denganku yang sedang mencari kejelasan asal-usul Hinata, berarti kemungkinan Hinata ada hubungannya dengan semua ini semakin besar. Dan satu-satunya hal yang bisa menjadi petunjuk dari semua itu adalah..
"Oh, komputernya!" kataku sambil menoleh ke arah komputerku yang saat itu sudah dalam kedaan off, stekernya pun sudah terlepas dari stop kontak, sepertinya ada yang mematikannya saat aku tidak sadarkan diri.
Aku berjalan tertatih ke arah komputerku, gerakanku sudah sedikit lebih baik dari yang sebelumnya. Setelah menyalakannya, itu aku langsung log in pada tautan yang kukirim sebelumnya. Dan ternyata semuanya persis seperti dugaanku, aku tidak dapat masuk kedalam tautanku sendiri, sepertinya seseorang telah merubah kata sandinya, bahkan riwayat pada semua browser milikku selama satu tahun kebelakang telah dihapus semua.
Tidak salah lagi, ini pasti adalah ulah orang-orang semalam.
Aku tidak kehilangan akal begitu saja. Itu memang gambar yang penting, dan gambar itu telah hilang karena orang-orang yang datang semalam telah menghapusnya, tapi aku tahu kalau itu adalah informasi umum yang bisa kudapatkan dimana saja di bagian search engine, aku yakin aku bisa mendapatkan sebanyak apapun dari sana. Jadi tanpa menunda lagi aku langsung memasukan kata kunci yang berhubungan dengan peristiwa setahun yang lalu itu di salah satu search engine terkemuka, sepersekian detik kemudian, segala hal yang berhubungan dengan hal itu langsung memenuhi laman komputerku, satu persatu aku menelitinya dengan seksama.
Tapi sungguh diluar dugaan, ternyata tidak ada satupun kiriman yang berhubungan dengan peristiwa itu, padahal ini adalah search engine yang paling terkenal di dunia, apa ada kesalahan? Ataukah aku memasukan kata kunci yang salah. Beberapa saat kemudian aku kembali mencoba menuliskan kata kunci yang lebih mendetail lagi, tapi hasilnya tetap tak berubah, tidak ada satu tautanpun yang berhubungan langsung dengan apa yang kucari, begitu pula di halaman-halaman berikutnya, semua informasi tentang kejadian satu tahun yang lalu itu seperti benar-benar telah lenyap sepenuhnya dan menghilang tanpa bekas.
Ini pasti juga adalah ulah mereka, kemungkinannya adalah mereka telah menghapus semua data itu atau membuatnya menjadi properti pribadi sehingga tidak bisa diakses secara bebas. Tapi kalau sampai bisa melakukan hal-hal seperti itu, mereka pasti bukan orang sembarangan. Aku yakin hanya segelintir orang yang bisa melakukan hal itu, aku bahkan ragu bahwa orang sekelas pemimpin negara dapat melakukannya, kecuali dalam keadaan kritis.
Jadi sebenarnya siapa mereka? Dan ada hal penting apa yang harus disembunyikan pada diri Hinata sampai-sampai mereka melakukan hal-hal sejauh ini, apa semua ini ada hubungannya dengan peristiwa kematian ayahku setahun yang lalu itu?
Tapi, apapun jawabannya, sepertinya aku sudah terlibat dalam suatu masalah yang cukup besar, dan satu-satunya kunci dari semua rahasia ini, adalah Hinata.
_-0-_
Beberapa saat kemudian tubuhku telah dapat kembali bergerak bebas, efek serangan dari orang-orang semalam sudah tidak lagi kurasakan. Aku langsung bergegas dari kamarku untuk segera mencari tahu kebenaran dibalik semua peristiwa ini.
"N-Naruto-kun, ada apa? kenapa tergesa-gesa seperti itu?" tanya Hinata.
"Hinata, ikutlah denganku, ada yang ingin kutunjukan padamu."
"E-eh, ada apa, kenapa tiba-tiba.."
"Sudah, ikut saja.." kataku sambil menarik tangan Hinata.
Kemudian, dengan mengendarai sepeda motor peninggalan ayahku, aku membawa Hinata menyusuri jalan-jalan kota menuju suatu tempat yang menurutku juga merupakan kunci dari semua misteri ini. Setelah melewati jarak beberapa kilometer, akhirnya sampailah kami pada sebuah gerbang yang menjadi pembatas sebuah kawasan yang telah dinyatakan dilarang untuk dimasuki oleh pemerintah setempat. Sayangnya, gerbang itu sudah terlalu tua untuk menahan kami agar mematuhi apa yang tertulis disana.
Setelah menerobos masuk, kami berjalan beberapa meter hingga akhirnya sampailah kami pada sebuah tempat yang sedikit lapang, langit luas menyapa kami begitu tiba disana. Sementara, sisa-sisa puing bekas sebuah peristiwa yang terjadi satu tahun yang lalu masih tetap berserakan di atas tanah, seolah berniat membuka kembali jejak kenangan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Hinata, ini adalah tempat terakhir dimana ayahku menjalaskan tugasnya sebagai seorang exorcist, juga merupakan tempat dimana ia menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkanku sendirian di dunia ini.."
Aku sedikit terkenang saat mengatakannya, karena bagaimanapun juga aku berusaha melupakannya, hal-hal seperti ini tidak akan pernah bisa hilang sepenuhnya dari dalam dirimu.
"Ah, aku yakin aku tak perlu mengatakannya lagi kepadamu, bukan begitu?"
Hinata menatapku ragu, "a-apa maksudmu Naruto-kun? A-aku baru pertama kali pergi ke tempat ini."
"Tidak, tidak, kali ini kumohon jangan membohongiku lagi Hinata. Aku sudah cukup dengan semua sandiwaramu."
Ternyata aku memang tak dapat menahannya, berada di tempat ini benar-benar telah membuatku hilang kendali, luka yang telah lama tertutup itu seolah telah kembali terbuka, sampai-sampai membuat lututku terasa begitu lemah bahkan untuk menopang tubuhku sendiri sehingga membuatku jatuh berlutut. Aku dapat merasakan sudut-sudut mataku mulai basah oleh air mata.
"N-Naruto-kun..?"
. . . . .
"A-aku tak ingin mempercayainya, sama sekali tidak.. tentang peristiwa setahun yang lalu itu.. bukan kalian yang melakukannya kan?"
"Kenapa kau bertanya-"
"Kalian.. tidak membunuh ayahku kan?"
.
To be continue
.
a.n
telat begitu lama~
maaf semuanya karena telah membuat menunggu begitu lama, maaf, maaf.
dan terima kasih sudah mau menunggu fict Eyesight ini, walaupun mungkin penantian panjang readers sekalian ini tidak setimpal dengan apa yang didapat.^^;
maklum, saya masih amatir, dan karena itulah readers sekalian diharapkan mau memberikan kritik dan sarannya agar fict ini bisa lebih bagus kedepannya.
oke, terima kasih lagi sebanyak-banyaknya bagi yang sudah membaca dan mereview fict ini.
sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.
salam hangat,
Aojiru.
