"A-aku tak ingin mempercayainya, sama sekali tidak.. tentang peristiwa setahun yang lalu itu.. bukan kalian yang melakukannya kan?"
"Kenapa kau bertanya-"
"Kalian.. tidak membunuh ayahku kan?"
_-0-_
All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Fantasy, Romance.
Warning: AU, a lil' bit OOC. Naruto POV.
Eyesight
_-0-_
o
.
"Aku memang tidak tahu siapa dan apa sebenarnya kau ini, aku juga tidak tahu apa maksud dan tujuanmu selama ini, tapi aku tidak terlalu bodoh untuk dapat terus-terusan kau bohongi Hinata," kataku berujar lemah, tempat ini seolah telah menguras seluruh tenagaku sepenuhnya.
Sambil menatapnya dengan penuh kecewa, aku kembali berujar padanya, "dan sekarang, setelah aku mengetahui kalau kau bukanlah hantu, juga setelah mengetahui bahwa kau berada di sana saat peristiwa itu terjadi, dan setelah melihat beberapa orang sepertimu yang berusaha mencegahku untuk mengetahui hal yang sebenarnya, apalagi yang bisa kukatakan!"
"A-apa maksud perkataanmu itu Naruto-kun?" tanya Hinata yang akhirnya angkat bicara setelah sejak tadi hanya terdiam membisu.
Aku mencoba untuk kembali berdiri, dan Hinata berusaha untuk membantuku namun aku menepisnya, aku akhirnya bangkit berdiri dengan usahaku sendiri. Hinata yang bisa menyadari sikap dinginku hanya bisa menatap tangannya yang kutepis tadi dengan murung.
"Semalam, setelah beberapa lama aku mencari identitas aslimu, aku akhirnya menemukan sebuah titik terang. Aku menemukan bukti yang menunjukan bahwa kau dan seorang lainnya yang pernah kulihat di kota beberapa hari yang lalu, berada di sana saat tragedi satu tahun yang lalu itu terjadi. Dan entah mengapa, sebelum aku bisa mengetahuinya lebih jauh, ada beberapa orang yang tidak menginginkan hal itu diketahui, lalu mereka menyerangku di dalam kamarku sendiri, melumpuhkanku dan menghapus semua informasi yang kumiliki dan yang ingin kuketahui."
Hinata terlihat murung, "jadi, kau tidak percaya kalau aku ini adalah seorang hantu. Lalu, sekarang kau menuduhku telah menyerangmu demi menjaga kerahasiaan tentang identitas asliku ini, begitu?" tanyanya.
Aku hanya diam menjawab pertanyaan darinya itu, tapi tanpa mengatakannya pun, sepertinya Hinata tahu akan jawabannya. Hal itu semakin membuatnya semakin tersudut dan berusaha untuk kembali menyangkalnya.
"Apa kau pikir aku akan melakukan semua itu padamu Naruto-kun? Apa kau pikir, selama ini aku hanya memainkan sandiwara dan membohongimu?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar berat dan menyesakkan, membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan larut terbawa dalam kesedihan yang tersirat didalamnya. Aku tahu bahwa aku pun pasti akan merasa demikian, kalau saja..
"Tentu saja aku tidak percaya kalau kau akan melakukan hal seperti itu.." kataku yang sekilas membuat ekspresi di wajah Hinata terlihat lebih rileks. "Kalau saja.." kataku lagi yang langsung menghapus ekspresi itu di wajahnya, "kalau saja, aku tidak mendengar percakapan kalian."
Bagai mendengar petir di siang bolong, keterkejutan praktis melapisi setiap inci di wajah Hinata. Mulutnya sedikit terbuka demi mendegar kalimat yang kulontarkan padanya itu, "percakapan? Percakapan apa?" tanyanya berusaha mengelak.
"Percakapan semalam, yang kau lakukan dengan sosok misterius itu.." kataku menerangkan.
Hinata terdiam dalam keterkejutan yang melandanya, sementara aku masih menatapnya tanpa bicara, seolah memberinya celah untuk memungkiri fakta yang mengejutkan itu, tapi sepertinya tak ada lagi yang mampu disangkalnya, kenyataan itu sendiri bahkan sudah terlalu solid baginya untuk dipungkiri, kenyataan yang membawanya pada tuduhan yang tadi kulayangkan padanya, kenyataan yang terjadi, tepat sebelum kesadaranku memudar, malam itu.
Semalam, 11.25 pm.
"Hentikan!" kataku sedikit berteriak.
"Tenang saja Uzumaki Naruto, aku tak akan melukaimu, karena kau adalah orang yang penting bagi misi ini."
"O-orang yang penting? Misi? A-apa maksudnya?"
"Tapi, ada hal lain yang harus kulakukan sekarang dan aku harus melakukannya, jadi tak akan kubiarkan kau menghentikanku, walau apapun alasannya."
BUGH!
"Arrgghh...!"
Sebuah perasaan nyeri menyentak dengan kuat di perutku, tendangan yang dilayangkannya terasa seperti menyentuh organ dalam tubuhku dan mengancurkannya, sekejap aku merasa seperti akan kehilangan nyawaku saat itu juga. Kemudian, tanpa peduli sedikitpun, sosok itu melangkah melewatiku menuju meja komputer dan mulai melakukan 'pembersihan' seperti yang sudah kuduga akan dilakukannya sebelumnya, dan aku hanya bisa menyaksikan hal itu terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa.
Dengan satu hentakan tangan, ia meninggalkan komputer itu dalam keadaan mati sambil kemudian berbalik kearahku. Lalu, kedua tangannya menyentuh tudung yang selama ini terus menutupi seluruh wajahnya, dan sejurus kemudian, wajah yang sudah mulai nampak familiar muncul dari balik tudung itu, sosok misterius itu menampakkan wajah aslinya, dialah gadis yang pernah kulihat di kota sebelumnya dan juga gadis yang bersama Hinata saat terjadinya peristiwa satu tahun yang lalu.
Rambut merah mudanya yang berkilau, membuat kedua bola mata emerald-nya nampak kontras dan begitu terlihat jelas, menatapku dengan tajam, seolah dengan tatapan itu ia dapat dengan mudah menghancurkan apapun yang dilihatnya. Kemudian, sebuah sensasi yang menyakitkan kembali menjalar disekujur tubuhku, untuk yang kedua kalinya tendangan kuat darinya mendarat di tubuhku, saat tu aku sudah tak mampu lagi untuk bergerak, berteriak atas rasa sakit itu pun rasanya sudah amat sulit, aku hanya bisa membiarkannya melakukan apapun terhadap tubuh lemahku yang sudah hampir tak berdaya ini.
Ketika ia mengambil aba-aba untuk serangan yang berikutnya, terdengar sebuah suara yang tidak asing dari arah pintu.
"Sudah cukup!" kata suara itu berteriak menghentikan serangan gadis itu padaku. "Kau pikir apa yang sedang kau lakukan!" bentaknya sekali lagi, gadis itu kemudian menurunkan kakinya yang tadi sudah siap untuk menyerangku.
Awalnya kupikir aku salah, karena suara itu terdengar persis sekali dengan orang yang kukenal. Namun, begitu derap langkah itu terdengar mendekat, begitu sosok yang muncul itu masuk kedalam ruang lingkup penglihatanku yang sudah mulai goyah, ternyata dugaanku tidak salah. Dia.. sosok yang muncul itu adalah Hinata.
"Hinata? Apa maksudnya ini? apa yang sedang dilakukannya di sini?" tanyaku dalam hati.
Aku begitu terkejut mengetahui kemunculan Hinata. Namun, seolah tiada henti-hentinya, kejutan lain muncul ketika si gadis emerald mundur beberapa langkah untuk berlutut dan memberi hormat pada Hinata. "Tuan Putri," katanya merendahkan diri.
"Tuan putri? Apa lagi ini?"
"Tugasmu hanya untuk menghapus semua informasi yang diketahuinya, tidak lebih," ujar Hinata lagi menekankan kalimatnya dengan tegas, sosoknya seolah berubah menjadi seseorang yang sama sekali tak kukenal.
"Tapi, dia adalah manusia! Mahluk yang telah banyak berbuat kekacauan, mahluk yang telah-" gadis bermata emerald itu menghentikan kalimatnya.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi kau tidak bisa begitu saja melimpahkan kekesalanmu terhadap umat manusia padanya," seru Hinata mencoba terdengar bijak sekaligus menenangkan. Lalu, sambil mengenang, Hinata kembali berujar, "lagipula, manusia ini telah menerima penderitaan lebih banyak dari yang sepatutnya ia terima. Setahun yang lalu, kita telah mengambil satu-satunya orang yang paling berharga yang dimilikinya sebagai ganti atas kekesalan dan kebencian kita terhadap umat manusia, tidakkah hal itu sudah terlalu berlebihan? Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa manusia ini adalah satu-satunya orang yang menjadi kunci keberhasilan misi kita di sini."
Si gadis emerald terdiam.
"Kembalilah ke tempatmu, tugasmu sudah selesai di sini."
"Baik Tuan Putri, maafkan atas kelancangan hamba."
Lalu, setelah itu aku dapat mendengar derap langkah meninggalkan ruangan, Hinata telah pergi. Kemudian sosok emerald itu pun ikut menghilang. Bersamaan dengan itu, kesadaraan yang kumiliki semakin menipis dan lambat laun akhirnya membuatku tak sadarkan diri.
Kembali ke waktu Normal.
Hinata menatapku dan kemudian berusaha mendekat ke arahku. Aku pun melangkahkan kaki kiriku dan mundur selangkah, isyarat itu bisa ditangkap dengan baik oleh Hinata, ia berhenti mendekat saat itu juga.
"N-Naruto-kun, i-ini tidak seperti yang kau bayangkan," katanya memelas.
Aku mengambil jeda sejenak sebelum merespon kalimatnya dengan setengah hati. "Ya, aku tahu. Aku memang tak pernah membayangkan hal seperti ini sedetik pun, tidak sebelum aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya."
Kejadian itu memang sudah satu tahun berlalu. Namun, baik satu, dua atau bahkan puluhan tahun pun berlalu ketika kau kehilangan seseorang yang kau sayangi, hal itu akan terus menghantuimu sampai kapanpun juga, itulah kenyataan yang sebenarnya. Dan aku yang baru satu tahun lalu kehilangan seorang ayah yang amat kusayangi, sudah harus mengalami penderitaan lainnya karena mengetahui bahwa kematiannya bukanlah karena kecelakaan seperti yang kuperkirakan sebelumnya, melainkan karena dibunuh oleh sekelompok orang yang salah satunya kini tinggal di rumahku dan sudah kuanggap sebegai bagian dari hidupku sendiri.
"B-bukan begitu maksudku. S-sebenarnya-" seru Hinata memenggal kalimatnya, kemudian terdiam sampai akhirnya ia terlihat kebingungan untuk menjelaskan apa yang ingin diutarakannya. Kesunyian kembali membeku saat itu.
"Apa kau tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau sayangi Hinata?" tanyaku tiba-tiba, Hinata mendongak ke arahku sejenak lalu kembali tertunduk tanpa memberikan jawaban apa-apa. Aku kemudian berkata padanya bahwa ia tidak mungkin memahami rasa sakit yang kualami ini, dan seberapa banyakpun alasan yang ia buat tidak akan sanggup untuk mengurangi rasa sakit itu bahkan jika tanah yang ia pijak basah oleh darah yang menetes dari kedua matanya sekalipun.
Seperti itulah perasaanku padanya kini, kebencianku –pada Hinata yang telah merenggut nyawa ayahku juga pada diriku sendiri yang tak bisa melakukan apa-apa padanya atas hal itu- telah menjadi cangkang yang mengeras dalam kulitku, merubahku menjadi sosok yang lupa caranya untuk memaafkan, meskipun aku yakin bahwa pada dasarnya siapapun yang mengalami hal seperti ini akan sulit untuk memaafkan.
Hinata masih tertunduk menatap tanah saat aku berkata padanya -dengan nada yang setenang mungkin- bahwa aku ingin dia pergi dan tak ingin melihat wajahnya lagi. Entah iblis apa yang merasukiku saat itu hingga aku bisa dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu padanya. Tapi tentu saja aku tak terlalu memikirkannya saat itu, sebab kurasa siapapun juga pasti tidak akan berpikiran waras ketika ayah yang dicintainya dibunuh dan pembunuhnya berada tepat di hadapannya.
Saat itu, Hinata yang sejak tadi tertunduk mengangkat wajahnya, aku dapat melihat kedua bola matanya yang sudah basah oleh air mata, sama halnya dengan pipinya yang juga basah. Tanpa berkata apa-apa, hanya dengan sebuah senyuman pedih yang berkembang di bibirnya, ia berbalik dari hadapanku. Kemudian langkah kakinya yang terkesan begitu berat menyapu kerikil di atas tanah yang kering dan berdebu, menyisakan jejak-jejak langkah yang cepat menghilang tertiup sang angin.
Perlahan-lahasan, sosok Hinata mulai menghilang diantara reruntuhan bangunan-bangunan tua di sana. Dan bersamaan dengan hal itu, aku dapat merasakan ada sebuah lubang yang terbuka di hatiku, aku berdalih sambil berharap bahwa semua ini adalah sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir, dan pada pagi harinya aku akan terbangun dan melupakan mimpi buruk ini. Tapi tidak seperti itu, dengan cepat aku tersadar bahwa ini semua adalah nyata dan benar-benar terjadi, Hinata telah pergi dan mungkin tak akan pernah kembali. Akulah yang telah membuat semuanya menjadi seperti ini, semua ini adalah salahku, rasa penyesalan itu dengan cepat menjalar disekujur tubuhku, menggerogoti keegoisanku dan membuatku sadar atas kesalahan yang telah kuperbuat.
"Apa yang telah kulakukan?" kataku seraya bersimpuh tak kuasa menahan rasa menyesal yang seolah terasa begitu beratnya menumpu di pundakku. Aku melihat ke arah Hinata pergi, berharap ia masih berada di sana menungguku menyesali atas apa yang telah kuperbuat, tapi yang ada di sana hanyalah kumparan angin kecil yang sesekali menyapu debu dan menghilang dengan cepat. Hinata benar-benar telah pergi, dan itu semua adalah kesalahanku.
Sementara hembusan sang angin terasa semakin kencang dan dingin, cuaca dengan cepat berubah kelabu di atas sana. Rintik hujan pun dengan cepat berubah menjadi deras dan semakin cepat merambat diantara tanah yang kering dan kotor, membasahi semua partikel-partikel yang disentuhnya, termasuk juga menyamarkan air mataku yang entah sejak kapan mulai terbendung dari pelupuk mataku. Dan bersamaan dengan sang hujan, aku menangis.
_-0-_
Kilat dan gemuruh petir mulai tak henti-hentinya saling bersahutan, dan seberkas cahayanya yang terang menyinari tempatku berada menyadarkanku akan kehadiran sebuah sosok yang tengah berdiri tak jauh dari hadapanku, dengan cepat aku berusaha untuk bangkit dan berusaha meraih sosok itu, "Hinata!" kataku penuh harap.
Namun sebuah kilatan petir kembali menyambar sekaligus memberitahukan padaku bahwa harapanku itu tak mungkin terkabul, dan Hinata tak mungkin kembali, sosok itu bukanlah Hinata. Dengan kecewa aku membasuh kedua mataku dan menegaskan pandangan pada sosok tersebut, itu adalah gadis yang terus bersama Hinata selama ini, juga merupakan gadis yang menyerangku semalam.
"K-kau.."
BUAGH!
Sebuah tendangan keras mendarat di wajahku saat itu juga, aku terjerembab dalam tanah kering yang kini bagaikan lumpur setelah terbasuh sang hujan. Gadis itu kembali menghampiriku, serangan berikutnya siap ia lancarakan, aku dengan sigap berusaha melindungi diriku untuk serangannya yang selanjutnya. Tapi selama beberapa detik kemudian tak ada yang terjadi, aku melirik pada gadis yang berdiri tepat di hadapanku itu kini, ia hanya berdiri sambil memandangku dengan tatapan mata emeraldnya yang tajam dan menyala.
"Apa yang sudah kau lakukan dasar manusia bodoh!" sergahnya, suaranya bergelegar diantara desiran hujan yang terus berjatuhan. Untuk sesaat aku bingung sekaligus terkejut tanpa tahu apa yang dimaksudkannya. Matanya yang tajam dan menyala memberiku sedikit petunjuk, sepertinya aku telah membuatnya marah.
"Kau telah membuat putri Hinata menangis, takkan kumaafkan! Takkan kumaafkan!" katanya lagi, menegaskan bahwa emosinya sedang benar-benar tersulut saat ini.
Kemudian, tanpa menunggu penjelasan dariku, ia kembali melayangkan pukulan dan tendangannya secara bertubi-tubi, seolah setiap rasa sakit yang kurasakan darinya akan menyurutkan kekesalannya terhadapku. Namun, beberapa saat kemudian ia menghentikan serangannya, ketika ia menyadari bahwa aku sama sekali tidak mengelak ataupun berusaha menepis serangannya tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
Aku –dengan tubuh yang sudah babak belur- menyeka setetes darah yang mengalir dari bibirku, "aku memang pantas diperlakukan seperti ini, jadi kau tak usah merasa kasihan terhadapku, pukulah aku sebanyak yang kau mau."
Mendengar hal itu, gadis emerald tersebut menjadi geram, ia mengepalkan tangannya dan sekali lagi melayangkan tinjunya padaku, membuatku terpelanting sejauh beberapa kaki dan kembali berjibaku dalam lumpur dan derasnya hujan. "Setelah apa yang kau lakukan padanya, sekarang kau malah mengatakan hal sepert itu hah? Dasar manusia rendahan!" teriaknya meluapkan emosi.
Tak berapa lama, si gadis emerald terdiam sambil memperbaiki ritme nafasnya yang kian memburu, balutan emosi yang menderanya pun mulai sedikit mereda, setelah itu ia mulai berkata dengan lirih tentang Hinata, bahwa semua prasangka buruk yang kualamatkan padanya tidaklah sama dengan kenyataan yang terjadi, bahwa sebenarnya Hinata sangatlah perhatian pada diriku ini. "Tuan Putri.. ia begitu mempedulikanmu melebihi apapun yang kau tahu, ia terus memperhatikanmu, dan begitu mengagumimu, apa kau tahu itu?"
Aku memang merasakan perasaan itu secara samar-samar yang makin lama makin jelas terasa. Awalnya aku merasa tdak yakin, tapi sepertinya memang itulah yang terjadi.
"Dan apa kau tahu, ia bahkan telah melakukannya jauh sebelum kalian bertemu."
Aku menatapnya heran, bertanya-tanya dalam hati tentang maksud kalimatnya itu, "apa maksudmu 'sebelum kami bertemu'?"
Ia terdiam, sekilas ia nampak ragu untuk menjawab pertanyaanku barusan.
"Rupanya Tuan Putri memang belum memberitahukannya padamu," katanya. Sama sekali tidak menjawab pertanyaanku dan malah membuatku semakin penasaran. "Aku akan memberitahumu, dan perlu kau ingat, aku bukan melakukannya karena kau yang meminta tapi karena aku ingin mengembalikan nama baik Tuan Putri, sampai kapanpun aku akan tetap membenci manusia seperti kalian," katanya dengan lantang, sebelum akhirnya kembali tenang sambil menghela nafas panjang.
"Huh, mungkin aku akan dimarahi karena mengatakan ini," gumamnya pelan, aku yang tak begitu mendengarnya dengan jelas hanya menatapnya heran. "Ah sudahlah, kau ingin tahu kan, wujud asli Tuan Putri kami?"
_-0-_
Hujan telah sedikit mereda, namun gemuruh petir sesekali masih terdengar menggelegar, langit pun bagaikan terbelah seolah ikut terkejut atas kenyataan yang baru terkuak ini, kenyataan yang selama ini tersembunyi yang ternyata berada jauh di luar perkiraanku itu telah membuat sistem kerja otakku menjadi kacau. "T-tidak mungkin, aku tidak percaya itu.."
"Memang sulit untuk diterima, tapi itulah kenyataan yang sebenarnya.."
Masih sulit untuk memahami kenyataan yang baru saja dikatakannya, bibirku seolah bergerak dengan sendirinya untuk kembali menanyakan kebenaran yang sebenarnya, "J-jadi.. kalian ini..?"
"Ya, kami bukanlah manusia seperti kalian, dan kami tidak tinggal di bumi ini seperti kalian para manusia, karena kami adalah Skywalker."
"T-tapi, hal seperti itu? Skywalker?"
"Apa kau masih ingin menyangkalnya? Bukankah kau sendiri yang paling mengetahui bahwa banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang terus terjadi pada Tuan Putri? Tentu kau pernah juga 'kan meragukan sosok Tuan Putri yang selama ini kau kira sebagai seorang hantu? Dan bukankah hal ini menjawab semua keanehan-keanehan itu? Karena kami memang bukan hantu seperti yang kau pikirkan, kami adalah mahluk yang hidup di langit dan kami menamakan diri kami Skywalker."
Tanpa mempedulikan kondisiku yang masih terkejut, ia kembali menjelaskan tentang keberadaan mereka yang sudah ratusan tahun terus hidup berdampingan dengan para manusia tanpa diketahui sedikitpun, tentang nenek moyang mereka yang kemungkinan juga berasal dari bumi lalu kemudian berevolusi seiring dengan berjalannya waktu sehingga bisa hidup dengan keadaan dan kemampuan seperti sekarang ini. Juga tentang keberadaban mereka yang sudah sangat maju bila dibandingkan dengan umat manusia yang berada di bumi.
"Hanya sedikit hal yang membedakan antara kalian dengan kami, salah satu diantaranya adalah wujud kami yang transparan dan terlihat seperti hantu, juga tidak semua orang bisa melihat kami karena keberadaan kami yang seperti ini, walaupun sebenarnya kami juga tidak bisa menembus benda ataupun terbang melayang seenaknya, itu semua adalah berkat perkembangan ilmu teknologi yang telah dikembangkan oleh orang-orang kami, semua itu dilakukan demi tercapainya misi dan tujuan kami."
"T-tujuan?" tanyaku penasaran setelah mendengar beberapa kali kata itu disebutkan.
"Ya, tujuan. Karena itulah kami memutuskan untuk turun ke bumi. Semuanya berawal sekitar satu tahun yang lalu," jawabnya tanpa sedikitpun memberi tahu apa tujuannya, entah karena dia tidak ingin mengatakannya atau karena hal lain. Tapi yang jelas kata-kata yang diucapkan sesudahnya telah berhasil mengalihkan perhatianku dari hal itu. "Setahun yang lalu? Jangan-jangan tentang peristiwa setahun yang lalu itu?"
"Benar, itu adalah titik awal yang memicu dimulainya misi ini," jelasnya.
Dan penjelasannya itu telah membuat asumsiku yang sempat kusesali –karena telah membuat Hinata pergi- kembali mencuat, "berarti, benar bahwa kalianlah yang telah membunuh ayahku?" tanyaku, sebercak emosi kembali dapat kurasakan mulai bergerumul dalam sudut hatiku yang gelap. "Lalu apa tujuan kalian sebenarnya datang kemari?"
"Sebenarnya, kami sudah menyusup kemari selama beberapa bulan sebelum peristiwa itu terjadi, dan tujuan awal kami adalah untuk menghancurkan umat manusia secara keseluruhan!"
"A-apa? Meng-" kalimatku terputus, sepertinya dia tidak main-main saat mengatakan hal itu, aku bisa merasakan aura kebencian yang terpancar kuat darinya. Padahal, tadinya kupikir bahwa informasi yang sebelumnya saja sudah benar-benar membuatku sangat terkejut, jadi aku benar-benar tak menyangka kalau ternyata aku bisa dibuat lebih terkejut lagi dari itu. "Kenapa? Apa alasannya?" tanyaku lagi.
Sambil melemparkan tatapan yang begitu tajam, ia memandangku seolah aku ini adalah seekor hewan buruan. "Balas dendam!" jawabnya tanpa keraguan sedikitpun.
Sekilas atmosfir disekitarku terasa tajam dan menusuk. Aku tidak yakin apakah itu adalah kekuatan yang dimilikinya ataukah hanya karena tekanan mental yang terlalu kuat. Menyadari bahwa dirinya hampir lepas kendali, si gadis emerald memalingkan wajahnya sambil menghela nafas panjang, "ah, aku bicara terlalu banyak, maafkan aku," katanya singkat.
Butuh waktu beberapa saat untuk lepas dari momen menegangkan itu, dan aku hanya bisa terdiam sambil menunggu waktu itu tiba.
"Jadi, pada dasarnya kau menyalahkan Tuan Putri atas kematian Ayahmu setahun yang lalu itu kan?" tanyanya, aku mengangguk dengan sedikit enggan. "Baiklah, biar kujelaskan. Benar bahwa kematian Ayahmu ada hubungannya dengan kami, dan.." ia terhenti sejenak, "memang kamilah yang membunuhnya saat itu."
Setelah mendengar kata-kata itu, sontak amarahku terasa seperti mau meledak, aku tidak peduli yang di depanku ini adalah seorang gadis atau apalah, yang pasti saat ini aku ingin sekali memukulnya dengan sekuat tenagaku.
"Tapi," katanya yang langsung mengalihkanku dari emosiku, "Ayahmu mati atas keinginannya sendiri."
Seperti mendengar petir di siang bolong, seluruh tubuh ini terasa kelu dan begitu sulit untuk digerakkan. Aku hanya bisa terdiam, kata-kata itu seolah begitu sulit untuk bisa kupahami. Aku mendengarnya, dan kata-kata itu masih berputar di otakku tapa bisa kumengerti.
"Maaf, mungkin aku terlalu banyak mengatakan hal-hal yang sulit kau percaya. Dan aku mengerti jka kau meragukan semua yang kukatakan ini, karena itu.." si gadis menggantungkan kalimatnya, kemudian ia berbalik dari hadapanku, saat itu aku baru menyadari bahwa ada seseorang lainnya yang berdiri di belakang si gadis, seseorang dengan jubah dan tudung yang menutupi wajahnya, entah sejak kapan dia sudah berada di sana.
Si gadis berjalan ke arahnya, berhenti di hadapan orang tersebut, lalu kembali berjalan. Tak lama kemudian, sosok berjubah itu berjalan menghampiriku dan berhenti tepat di hadapanku lalu terdiam tanpa melakukan apa-apa. Aku tidak yakin dengan apa yang sedang dilakukannya, tapi sepertinya dia sedang mengamatiku, mungkinkah ada sesuatu yang sedang direncanakannya.
Aku terus memperhatikannya sampai ketika tangannya mulai bergerak menyentuh tudung yang menutupi wajahnya, sebuah gerakan yang membuatku mundur selangkah demi mengantisipasi hal yang mungkin saja terjadi. Tapi yang selanjutnya terjadi adalah sebuah tawa kecil terdengar dari arahnya, sebuah tawa yang mengingatkanku akan seseorang yang pernah kukenal sebelumnya.
"Hahaha, sudah setahun berlalu, tapi kau sama sekali tidak berubah.."
Ternyata benar, bukan hanya tawa itu tapi juga suara itu adalah suara yang sangat akrab di telingaku. Tapi tidak mungkin kalau pemilik suara itu masih..
Tangannya mulai mengangkat tudung yang terus menutupi wajahnya sejak tadi, bersamaan dengan itu sekilau cahaya matahari yang menembus masuk melewati celah awan gelap yang tak lagi menitikan air hujan menyinari sekitar wajahnya dan membuat kilau rambut kuningnya semakin terlihat bercahaya. Kilau yang sama dengan yang kumiliki, karena memang dari sanalah genku berasal.
"Yo, kau sehat-sehat saja kan, Naruto?"
.
To be continue
.
a.n
hmm, smoga belum ada yang menjadi fosil saat fict ini kembali dilanjutkan setelah sekian lama terbengkalai.
ooaaaaaa, trim's karena masih sudi membaca fict ini walaupun harus menunggu lama, arigatoo, arigatoo
lain kali saya akan lebih berusaha agar hal-hal seperti ini tidak terulang lagi.
baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.
salam hangat,
Aojiru.
