Tangannya mulai mengangkat tudung yang terus menutupi wajahnya sejak tadi, bersamaan dengan itu sekilau cahaya matahari yang menembus masuk melewati celah awan gelap yang tak lagi menitikan air hujan menyinari sekitar wajahnya dan membuat kilau rambut kuningnya semakin terlihat bercahaya. Kilau yang sama dengan yang kumiliki, karena memang dari sanalah genku berasal.
"Yo, kau sehat-sehat saja kan, Naruto?"
_-0-_
All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Fantasy, Romance.
Warning: AU, a lil' bit OOC. Naruto POV.
Eyesight
_-0-_
o
.
"A-Ayah?"
Aku terperangah ketika sosok itu menampakkan wujud aslinya –meskipun aku sudah bisa sedikit menduganya. Dia adalah Ayahku, Namikaze Minato, satu-satunya korban yang tidak dapat diselamatkan dalam peristiwa setahun yang lalu. Dan sekarang dia berada di sini bersamaku, di tempat yang bukan seharusnya dia berada. Tak pelak, sejuta pertanyaan langsung bermunculan dalam kepalaku bercampur dengan perasaan aneh karena melihat sosoknya yang sama sekali tidak berbeda dengan yang terakhir kali kulihat, kecuali, ia terlihat sedikit transparan.
"Sebuah pelukan?" tanyanya menawarkan.
Sambil tersenyum, aku menyapu butiran air mata yang aku tak tahu sejak kapan mulai mengisi sudut-sudut mataku, "kurasa tidak, satu tahun adalah waktu yang cukup lama, dan aku bisa melaluinya dengan baik."
"Oh ayolah," katanya terdengar sedikit kecewa, "kalau begitu maukah kau melakukannya untukku? Kau tidak akan terlihat seperti anak kecil kalau hal itu yang kau takutkan, bagaimana?"
Aku merasakan sebuah senyuman konyol dan tak terkendali mengembang di wajahku sekarang, sambil mengingat kapan terakhir kali aku melakukannya, sebuah hal yang kuanggap kekanakan yang tak lagi kulakukan saat usiaku memasuki sepuluh tahun dan sekarang aku benar-benar merindukan masa-masa itu.
"Jadi?"
"Yah, karena Ayah yang memintanya.." sahutku, sambil berusaha keras menolak untuk mengakui pada diriku sendiri bahwa aku akan sangat senang menerimanya.
Aku berjalan mendekat ke arahnya kemudian memeluknya, tidak terlalu erat namun juga tidak terlalu lemah tapi cukup membuatku merasa nyaman. Aku menikmati momen itu untuk beberapa saat, ketika akhirnya aku tersadar tubuhnya tak lagi memancarkan kehangatan seperti dulu dan aku tak lagi dapat merasakan detak jantungnya, hal itu benar-benar membuatku sedih. Aku tak tahu apakah aku bisa bertahan lebih lama lagi dalam posisi itu tanpa menangis, jadi secepatnya aku melepas pelukannya dan kembali ke posisiku semula.
"Kau mungkin merasa aneh," katanya sambil tersenyum kikuk, persis seperti yang akan kulakukan ketika bingung untuk menentukan ekspresi yang tepat dalam momen-momen tertentu.
Aku menggeleng, "tidak juga, mungkin aku terlalu banyak berurusan dengan hal-hal aneh belakangan ini, lagipula aku sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu," tentu saja, memangnya salah siapa aku jadi seperti ini, kalau bukan karena Ayah yang selalu mengajakku ikut serta dalam tugasnya dulu. Walaupun tentu saja aku tak pernah membayangkan untuk melihat hantu dari Ayahku sendiri.
Ia kembali tersenyum, kali ini lebih lepas.
Selepas senyum itu memudar, raut wajahnya terlihat menjadi lebih serius, tidak terlalu, tapi bisa dikategorikan seperti itu, kemudian ia berkata, "jadi, aku akan menjelaskan alasan keberadaanku di sini sekarang, tapi sebelumnya aku ingin mendengar sejauh mana yang hal kau ketahui tentang peristiwa satu tahun yang lalu itu?"
Aku menatapnya, menduga-duga sejauh mana hal ini akan mempengaruhi penjelasannya nanti, tapi akhirnya aku lebih memilih untuk memberitahukan hal yang benar-benar kupikirkan karena sama sekali tak ada jaminan aku akan mendengar sesuatu yang lebih baik jika aku berbohong, "yang kutahu itu adalah sebuah kecelakaan yang menewaskan Ayahku seorang, tapi belakangan ini aku berpikir itu bukanlah hal yang sebenarnya terjadi, terlalu banyak hal aneh yang mengganjal dalam peristiwa itu , serta hal-hal yang belakangan ini kutemui memperkuat dugaanku kalau peristiwa itu sudah direkayasa, dan itu adalah sebuah pembunuhan," kataku dengan mantap.
Wajahnya tampak terkejut. "Aku tidak pernah menyangka, kau yang tak pernah serius melakukan suatu hal akan menyelidikinya sampai sejauh itu," katanya, entah itu termasuk dalam hitungan memuji atau bukan. "Yah, penjelasanmu itu memang tidak salah, tapi juga tidak benar sepenuhnya," sambungnya.
"Jadi benar, bahwa kematian itu adalah keinginan Ayah?"
"Apa Sakura yang mengatakannya kepadamu?"
"Sakura?"
"Nama gadis yang berbicara denganmu barusan," katanya sambil mengisyaratkan ibu jarinya kebelakang pada si gadis emerald. Aku memandanginya, ia pun sedang menatap ke arah kami dan langsung mengalihkan pandangannya begitu kedua mata kami saling terpaut.
"Aku memiliki kehidupan dan seorang anak yang hebat, jadi apa kau pikir aku akan menginginkan kematian itu?"
"Jadi, itu bukan keinginan Ayah?"
"Yah, memang bukan itu yang kuinginkan. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan, bisa dibilang itu adalah pilihan yang paling tepat pada saat itu," ujarnya, sambil memandangi awan-awan putih yang mulai kembali bermunculan setelah sempat menghilang karena hujan tadi, seperti sedang berusaha kembali mengingat kejadian yang sebenarnya.
"Aku tidak mengerti," kataku, mempertanyakan dari segi mana pilihan tepat itu diambil.
Ia berbalik menatapku, tersenyum. Mata birunya membesar ketika ia memfokuskan pandangannya. "Kau akan mengerti. Karena aku akan menceritakan semuanya padamu, apapun. Termasuk semua yang ingin kau ketahui," terangnya, "dan semua yang harus kau ketahui."
_-0-_
Sisa-sisa hujan tadi telah menyepuh semuanya menjadi basah dan dingin, termasuk semilir angin yang berhembus kencang sebelum akhirnya melambat dan menghilang. Aku menyaksikan dengan perlahan ketika Ayahku melangkahkan kakinya menuju puing-puing yang sudah terbengkalai sejak setahun yang lalu. Ia berputar menebarkan pandangannya ke semua arah, memandangi puing-puing itu dengan perlahan hingga kembali ke posisi awal, seolah ia sedang memberi salam pada puing-puing bisu tersebut.
"Sebuah awal dan akhir," katanya bergumam, memancingku untuk bergerak mendekat ke arahnya. Ia memilih sebuah bongkahan batu besar dan rata untuk diduduki, dan menyuruhku duduk di sebelahnya. Aku melangkah, tapi kemudian terhenti untuk melihat Sakura yang masih belum juga melepaskan pengawasannya dari kami, matanya yang memendar tajam entah mengapa membuat rasa bersalahku atas kepergian Hinata kembali menguak. Aku segera berpaling dan mengikuti petunjuk Ayahku.
"Skywalker," ucapnya tenang. "Apa yang kau pikirkan saat mendengar nama itu disebut?"
Aku terdiam sejenak, mencari-cari kata yang tepat untuk menjabarkan pendapatku tentang hal itu namun tak dapat menemukannya. "Entahlah," kataku sambil berpikir, "Alien? Mahluk luar angkasa?"
"Bukan." Ia menggeleng, lalu berujar dengan penuh keyakinan. "Mereka adalah manusia, sama seperti kita, hanya saja mereka adalah manusia dalam wujud yang berbeda."
"Terdengar tidak terlalu meyakinkan,"
Ia tersenyum, lalu berkata bahwa semua hal di dunia ini punya banyak cara yang berbeda-beda untuk dijelaskan, begitu pula dengan apa yang menyusunnya. Secara garis besar, manusia merupakan gabungan dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Dalam beberapa kepercayaan, jasmani hanya merupakan sebuah wadah yang digunakan di dunia ini untuk suatu saat nanti kita tanggalkan menuju kehidupan yang sebenarnya, yaitu alam arwah atau rohani. Banyak yang mengatakan bahwa dalam fase ini manusia adalah merupakan sesuatu bentuk yang kekal dan tidak dapat mati.
Namun banyak juga dari mereka yang percaya bahwa kematian merupakan akhir dari segala-galanya, hingga tidak sedikit dari mereka yang mencoba menemukan obat dari segala macam penyakit bahkan sampai rahasia untuk hidup abadi. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang pesat, para ahli kimia pada masa itu berupaya untuk mengatasi ketidakmampuan ini dengan berbagai macam percobaan. Dengan mengambil sifat dasar emas yang tidak bisa rusak, mereka mencoba meneliti dan menguraikan unsur-unsur emas, bahkan memasukannya ke dalam ramuan dan obat-obatan yang mereka namakan Elixir of Life atau ramuan kehidupan.
"Mereka memasukan unsur emas ke dalam ramuan mereka?" kataku menyela, "aku tidak percaya mereka melakukanya."
"Pada masa itu ilmu pengetahuan masih terlalu sedikit, mereka tidak benar-benar tahu apa yang sedang mereka lakukan."
Lebih jauh lagi, ia menjelaskan bagaimana hal ini terus berlanjut selama beberapa dekade, namun penelitian itu tak pernah berhasil, banyak orang yang tewas dalam prakteknya. Beberapa orang yang tidak menyetujui hal ini mulai menuduh bahwa para ahli kimia itu melakukan pemujaan setan, mereka menyerahkan korban manusia kepada iblis, mereka dituduh sebagai penyihir yang menerapkan ilmu magis. Perburuan pun dimulai, orang-orang yang dicurigai berkecimpung di dunia sihir pun diburu untuk diberantas secara kejam dengan cara dibakar, digantung atau diikat pada sebuah kursi untuk dijatuhkan ke dalam danau.
Para ahli kimia yang ketakutan dan merasa terpojok berusaha menyelamatkan diri mereka dengan cara mengungsi ke lereng-lereng gunung yang gelap dan sunyi. Mereka membentuk kelompok dan pemukiman kecil untuk memperbesar persentase keselamatan mereka sambil terus melakukan penelitian serta bertahan hidup secara bersamaan, hal itu membawa mereka pada hari-hari persembunyian yang mengerikan.
Namun akhirnya tempat persembunyian itu berhasil diketahui, pegunungan itu kemudian dibakar tanpa berniat meloloskan seorangpun dari mereka. Butuh waktu tiga hari penuh untuk mengubah pegunungan hijau itu menjadi bara api yang menyala di antara hitam legamnya pepohonan mati yang tumbang. Setelah itu para pemburu kembali menyisir pegunungan, namun yang mereka temukan hanyalah sisa-sisa pemukiman yang telah hangus dan kosong. Saat itulah mereka menemukan jejak-jejak langkah kaki yang begitu banyak, jumlahnya diperkirakan lebih dari lima puluh orang. Sayangnya jejak-jejak itu kembali membawa mereka pada sebuah kebuntuan, jejak itu mengarah dan berkumpul pada suatu tempat berawan di puncak gunung dan kemudian lenyap begitu saja, menghilang tanpa bekas.
Beberapa ahli lain yang ikut ambil bagian dalam perburuan ini –yang awalnya ikut serta hanya untuk mencari keuntungan- menyelidiki sisa-sisa pemukiman peninggalan para ahli kimia yang terbakar, tidak banyak yang bisa mereka dapatkan di sana, beberapa di antaranya bahkan sudah hangus tak tersisa. Tapi dari penyelidikan yang singkat itu, mereka berpendapat bahwa walaupun gagal dalam membangkitkan ramuan kehidupan, para ahli kimia itu berhasil menemukan sesuatu dari hasil percobaannya. Sesuatu yang tidak kalah hebat dari sebuah ramuan kehidupan, sesuatu yang dapat meloloskan mereka kepungan maut api para pemburu."
Aku bergidik merinding mendengar penjelasan itu, dugaanku mengarah pada suatu penjelasan tidak masuk akal yang nyata. "Mungkinkah?"
"Ya. Mereka berhasil menemukan 'ramuan kehidupan' dalam bentuk dan fungsi yang berbeda, yang memberi mereka wujud asli manusia yang dianggap kekal dan abadi. Keturunan langsung dari para ahli kimia itu masih hidup sampai sekarang dan kembali muncul untuk melakukan balas dendam."
"Skywalker!"
_-0-_
Masih tak percaya atas apa yang baru saja kudengar, pikiranku meledek karena berusaha memilah-milah mana yang menurutnya masuk akal atau tidak, sayangnya yang kudengar ini semuanya terdengar kurang masuk akal. "Aku tahu bahwa aku tak pernah serius dalam belajar, tapi untuk melewatkan sesuatu yang begitu mengejutkan.. aku yakin sekolah tidak mengajarkan hal ini. Dari mana Ayah mendapatkan informasinya?"
Ia tersenyum, "sebenarnya kau tidak akan pernah menemukannya di sekolah manapun."
Sudah kuduga. "Lupakan tentang sekolah, aku seharusnya tidak pernah mengharapkan apapun dari sana. Lalu bagaimana dengan media dan majalah-majalah di luar sana, diantara hal-hal konyol yang mereka bicarakan, kenapa tidak satupun diantara mereka yang membahas hal ini. Aku bisa menjamin bahwa berita ini akan berkali-kali lebih menarik ketimbang orang-orang bodoh yang menjual penampilan mereka di atas panggung."
"Karena mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya."
"Bagaimana bisa mereka tidak mengetahuinya? Ini bukan tentang cerita yang bisa diabaikan begitu saja kan?"
"Kau ingin tahu mengapa?" tanyanya, sambil melihatku mengangguk dan terdiam sejenak. "Karena sejarah tidak menulis ceritanya sendiri," katanya.
Aku menggerling. "Oh ayolah, Ayah kan tahu kalau aku tidak pandai dengan permainan kata-kata seperti itu.."
"Artinya, sejarah itu ditulis oleh manusia itu sendiri. Sejarah ada berkat catatan-catatan yang ditulis oleh mereka yang mengalaminya beratus-ratus tahun yang lalu, dan dengan bergantung pada hal seperti itulah kita akhirnya dapat mengenal sejarah seperti yang kita kenal sekarang," ujarnya. "Tapi apakah kita pernah berpikir, bagaimana jika yang tetulis pada catatan-catatan itu bukanlah kejadian yang sebenarnya, bukankah itu berarti bahwa kita selama ini telah hidup dengan mempercayai sebuah kebohongan?"
"Maksud Ayah, semua buku-buku sejarah yang kupelajari di sekolah.."
"Tidak kesemuanya," tambahnya. "Menurutku tidak semua dari catatan-catatan itu adalah sebuah kebohongan. Lagipula aku yakin bahwa mereka yang meninggalkan catatan-catatan itu tdak pernah bermaksud untuk membohongi kita secara langsung. Ketika terdapat dua kubu yang berseteru, yang kalah akan musnah dan sang pemenang akan menulis catatan-catatan yang mengisahkan kehebatan mereka yang kadang terlalu dilebih-lebihkan, demi sebuah sanjungan ataupun sebuah kehidupan yang layak yang mereka inginkan. Atau juga sebuah cerita yang dicatat tidak seperti yang sebenarnya demi menutupi suatu kejadian yang tidak boleh didengar oleh rakyat, lebih terlihat sebagai upaya untuk menenangkan diri mereka sendiri pada masa itu. Bahkan hal-hal seperti ini masih dapat terlihat di zaman kita tinggal sekarang."
"Kalau begitu, bagaimana Ayah bisa yakin dengan cerita yang Ayah katakan? Apa ada jaminan bahwa hal itulah yang benar-benar terjadi? Mungkinkah justru sebaliknya, cerita itu adalah cerita yang dilebih-lebihkan?"
Sekilas ia tersenyum. "Sebuah pengamatan yang bagus. Ya, kemungkinan seperti itu ada. Bahkan kisah yang kukatakan tadi lebih cenderung pada hal yang dilebih-lebihkan itu," ujarnya dengan tenang. "Sekitar tiga abad yang lalu, sebuah catatan kuno ditemukan di sebuah reruntuhan yang diperkirakan adalah sisa-sisa sebuah kerajaan pada abad 16. Catatan itu ternyata berisi sesuatu yang mengerikan.."
"Tentang para ahli kimia itu?" kataku menyela.
"Benar. Catatan itu ditulis melalui sudut pandang para ahli kimia itu sendiri, sedangkan sejarah yang dikenal dan diyakini oleh masyarakat pada masa itu –dan sampai sekarang- adalah apa yang ditulis oleh para pemburu dan pihak-pihak yang mendukungnya. Tidak aneh kalau banyak orang yang menentang catatan ini dan menganggapnya sebagai kepalsuan sejarah. Walaupun sebenarnya catatan ini lebih didukung oleh fakta-fakta yang kuat ketimbang sejarah yang mereka yakini sebelumnya. Seperti keberadaan stonehenge sebagai alat teleportasi yang mereka gunakan, garis-garis nazca sebagai komunikasi yang mereka pakai, serta banyak situs-situs lainnya yang tersebar di seluruh dunia ini yang membenarkan catatan ini. Namun, karena sejak dulu orang-orang selalu ketakutan ketika berhadapan dengan sesuatu yang berbau magis dan percaya bahwa iblis bisa mengutuk mereka melalui tangan-tangan para penyihir, mereka tidak mau mengakui catatan ini yang berarti secara tidak langsung sama saja dengan mengakui keberadaan para ahli kimia yang mereka anggap penyihir itu."
"Catatan itu akhirnya ditekan sampai batasnya, lenyap dan menghilang tanpa pernah sekalipun muncul ke permukaan," lanjutnya. "Tapi lima puluh tahun kemudian tepatnya sekitar dua abad yang lalu catatan itu kembali muncul. Tahu bahwa catatan ini akan kembali ditentang, para peneliti melakukan penelitiannya secara diam-diam dan berusaha menguak kebenaran tentang kisah para ahli kimia itu dalam ketenangan. Mengingat keterbatasan atas apa yang bisa mereka lakukan, hanya sedikit informasi yang bisa mereka dapatkan dari catatan itu, penelitian pun diwariskan pada generasi berikutnya dan yang berikutnya, hingga akhirnya catatan itu bisa terus bertahan hingga saat ini."
"Biar kutebak," kataku, "Ayah adalah salah satu dari generasi yang diwariskan itu?"
Secercah senyum nampak di wajahnya, "kau benar, aku adalah salah satu dari sedikit orang yang mewariskan pengetahuan ini. Sebenarnya catatan aslinya telah hancur bersamaan dengan meletusnya perang dunia I, sejak saat itu pengetahuan ini hanya diwariskan dan diajarkan berdasarkan apa yang mereka ketahui, masih dengan cara sembunyi-sembunyi."
"Lalu, bukankah dengan begitu malah membuat informasi ini semakin meragukan? Dan sekarang bukan hanya kisah yang dikatakannya, keberadaan catatan itu pun menjadi sesuatu yang dipertanyakan," tanyaku.
"Tepat sekali," jawabnya. "Karena itulah semakin sedikit orang yang diwarisi pengetahuan ini, karena semakin banyaknya tanda tanya atas kebenaran dan keberadaan catatan ini. Awalnya pun, aku hanya mempelajarinya sebagai bagian dari sejarah."
"Lantas apa yang membuat Ayah yakin?"
Ia tertawa kecil. "Sebelum ini, aku pernah bertemu dengannya sekali, saat aku masih hidup."
Aku terkejut, "maksud Ayah, para skywalker itu?"
Ia menjawab dengan anggukan kepalanya. "Ya, seorang skywalker, hanya satu orang."
"Bagaimana? Apa saat itu dia juga berniat balas dendam?" tanyaku makin penasaran.
"Tidak. tidak seperti itu," katanya sambil menengadah ke langit. "Saat itu aku masih muda, mungkin seumuran denganmu sekarang. Dan pertemuan kami awalnya memang kurang bagus, tapi entah bagaimana akhirnya kami bisa berteman. Dia seorang wanita yang sangat bersahabat. Dia membantuku dalam penelitian ini dan membuatku yakin atas catatan-catatan itu. Bahkan lebih dari itu, kami memiliki masa-masa yang indah yang kami lalui bersama. Beberapa tahun pun berlalu, hingga akhirnya perasaan itu muncul, kami berdua tahu bahwa itu bukanlah pilihan yang bagus dan memiliki resiko yang besar. Tapi tanpa peduli akan hal itu, kami berdua tetap melakukannya, kami memutuskan untuk menikah.."
Menikah..?
"..setahun kemudian kami dikaruniai seorang anak. Anak yang mewarisi darah dari dua manusia berbeda yang pernah berseteru. Dan ah.. aku ingat saat kami berdebat untuk menentukan nama anak itu.."
Tunggu dulu..
"..aku yang memberinya nama Naruto, seperti yang dikatakan oleh guruku, sedangkan nama keluarganya diambil dari nama keluarga Ibunya, Uzumaki. Dan nama anak laki-laki itu adalah Uzumaki Naruto.."
Kalau begitu, dia adalah..
".. oh iya, apa aku sudah menyebutkan nama wanita itu? Satu-satunya wanita di dunia ini yang bisa membuatku jatuh cinta padanya.."
...
"Ibu..?"
"..namanya adalah Uzumaki Kushina. Ya, dia adalah Ibumu.."
Tiba-tiba saja air mata menuruni pipiku, tak terelakan, meleleh bagaikan butiran salju di musim panas.
"Wanita terhebat yang pernah ada, 'kan, Naruto?"
Aku mengangguk, bersamaan dengan air mata yang masih mengalir turun, aku tersenyum.
-bersambung-
a.n
Yosh, chapter delapan ini akhirnya selesai, horee..
makan waktu karena mesti nyari referensi sana-sini, dan mungkin banyak yang sadar kalau chapter ini bener-bener mirip ama sebuah novel yang terkenal, karena plotnya emang sedikit banyak ngambil dari situ termasuk sejarah-sejarahnya dan yang lain sebagainya. Credit buat itu novel, ada yang tau novel apa?^^
Dan tentu saja, sebuah ucapan terima kasih karena masih bersedia membaca fiction ini, juga buat yang udah repot-repot mau mereview dan fave dan yang lain-lainnya,
sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.
ciao.
Salam hangat, Aojiru.
