Chapter 2
Servant
By : AkinaYuki
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated M
SasuSaku
Warning AU, OC and OOC
"Aku akan menghajarnya kalau aku bertemu dengannya lagi!" Sakura memukul-mukul pedang kayunya ke arah boneka latihan yang berada di gedung latihan klub kendo. Dia terus memukul boneka itu dengan berbagai teknik tanpa mengenal lelah. "Akan kuhajar wajahnya!" teriak Sakura menyerang kepala boneka itu.
"Kau memang berisik ya, Haruno?" Suara seorang laki-laki yang tidak asing menghentikan latihan 'pelampiasan' Sakura.
"Sasori-senpai?" kata Sakura terkejut saat dia melihat laki-laki berambut merah itu tengah berdiri di balik jendela dan melihat lurus ke arahnya. Sebuah senyuman manis menghiasi wajah tampannya.
"Tapi kau hebat sekali sebagai seorang gadis, sungguh menarik," kata Sasori lagi yang membuat wajah Sakura memerah.
"Aa… tidak aku masih amatir," balas Sakura menggaruk-garuk kepalanya sungkan. "Eh? Sasori-senpai kenapa datang pagi-pagi sekali? Ada urusan?" Sakura bertanya kepada laki-laki itu sambil berjalan mendekatinya. Sekarang masih jam enam kurang lima belas menit, masih teralu pagi untuk ke sekolah tanpa alasan yang kuat.
"Aku hanya ingin saja, di rumah sakit sangat membosankan," jawab Sasori sambil menguap dengan lebar.
"Rumah sakit? AH!" Tiba-tiba Sakura berteriak dan menunjuk Sasori dengan tatapan tidak percaya. "Aku ingat! Kau cucu tunggal dari Chiyo-sama! Pemilik rumah sakit terbesar di Konoha!" kata Sakura lagi. Sasori hanya memandang Sakura beberapa menit untuk mengamati ekspresi keterkejutan Sakura dengan puas kemudian dia tertawa kecil sambil memegang perutnya.
"Hahahahaha."
"Heh? Kenapa kau malah tertawa?" tanya Sakura bingung dengan kelakuan Sasori.
"Tidak, wajahmu itu— hahahaha... lucu sekali!" Sasori menghapus air matanya yang keluar akibat tertawa teralu lama. "Kau ini memang menarik Haruno!" kata Sasori yang mengulurkan tangannya melewati jendela untuk menggapai kepala Sakura dan mengacak-acak rambut gadis itu.
"E-eh?" Wajah Sakura menjadi lebih merah dan jantungnya berdebar dengan keras ketika Sasori mengacak-acak rambutnya. Selama ini tidak pernah ada yang mengacak-acak rambutnya selain orangtuanya sendiri.
"Jadi… kau sedang kesal dengan seseorang bukan? Siapa dia?" tanya Sasori yang kini memandangi Sakura sambil menopang dagunya dengan tangan kiri yang disandarkan di bingkai jendela.
"Sangat kesal! Dia benar-benar membuatku marah! Mungkin kalau aku ini tokoh anime, bakal banyak asap yang keluar dari kepalaku" jawab Sakura mencibir sambil mengayun-ayunkan pedang kayu miliknya. "Senpai tahu orang yang bernama Uchiha Sasuke?" Sakura menoleh ke arah Sasori yang sedari tadi hanya tersenyum geli melihat kelakuannya.
"Uchiha Sasuke?" tanya Sasori yang dibalas anggukan semangat dari Sakura. "Ya, bisa dibilang aku mengenalnya. Kakak Sasuke kan dirawat di rumah sakit nenekku," jawab Sasori sambil mengerutkan sedikit dahinya untuk mengingat-ingat tentang info mengenai Uchiha.
"Dirawat? Memang kakaknya sakit apa?"
"Bagaimana ya? Bisa dibilang lagi kakak Sasuke itu bukan sakit," jawab Sasori lagi yang semakin membuat Sakura bingung. "Bingung?"
"Sangat." Sakura menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil memberikan senyum kuda kepada Sasori.
"Hahaha. Sudahlah, jadi Sasuke membuatmu marah? Memangnya apa yang telah dia lakukan hm?"
"Pertama sih gara-gara gadis yang berada di dekatnya itu. Si nenek lampir berambut merah!" jawab Sakura sambil mengepalkan tangannya dengan kesal.
"Nenek lampir berambut merah? Maksudmu, er- Karin?" tanya Sasori yang lagi-lagi dibalas anggukan membara dari Sakura. "Umph- HUAHAHAHAHA ja-jadi Karin itu nenek lampir berambut merah! Lalu Sasuke itu apa? Si buta dari gua hantu?" Sasori memegangi perutnya sambil tertawa keras, julukan yang diberikan Sakura mirip sekali dengan tokoh antagonis di film-film silat kuno favorit neneknya.
"Eh? Sasuke sih pendekar pantat ayam," jawab Sakura asal-asalan sambil mengacungkan jarinya di depan Sasori. "Rambutnya itu kan mirip dengan pantat ayam! Mencuat-cuat gimana gitu.." tambah Sakura lagi.
"Hahahahaha.. lalu kau itu apa Haruno?"
"Aku? Umh.. tentu saja aku itu pembela kebenaran Haruno Sakura! Dengan jurus-jurusku akan kubasmi si nenek lampir merah itu dan tentu saja pantat ayam yang seenaknya sendiri!" sahut Sakura sambil memperagakan gerakan-gerakan silat yang pernah dilihatnya di tv. "Eh? Aku lupa! Aku ada pekerjaan membersihkan ruang kepala sekolah hari ini!"
"Oh? Kau suka bekerja ya?" Sasori bertanya sambil menatap Sakura dengan pandangan menarik.
"Yeah! Bekerja itu selain mendapatkan uang juga bisa menyehatkan badan!" Sakura tersenyum sambil mengepalkan tangannya ke atas.
"Memang benar, tapi jangan teralu memaksakan diri." Sasori membalas senyuman Sakura dan mengelus rambut pink gadis itu perlahan. "Nah, aku pergi ya Haruno," kata Sasori berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya pelan.
"Eh Senpai!"
"Ya?" Sasori berbalik memandangi wajah gadis yang memanggilnya.
"Sakura," jawab Sakura singkat.
"Hah?"
"Panggil aku dengan nama Sakura!" kata Sakura lagi sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Sasori tersenyum lagi.
"Kalau itu mau mu, Sakura-chan" Sasori membalas dengan kedipan matanya yang menawan membuat semburat merah terlihat di wajah putih Sakura. "Sampai jumpa lagi Sakura-chan!"
"Ya, sampai jumpa Sasori senpai!" balas Sakura sambil melambaikan-lambaikan tangannya keluar dari jendela. Segera setelah Sasori pergi dari hadapannya, dengan gesit Sakura melepaskan baju latihannya yang sedikit basah dan menggantinya dengan baju seragam sekolah tak lupa dengan lambang ketua komisi kedisplinan yang selalu lekat dengannya.
Hanya sebuah bros berbentuk bunga Gladiolus yang berarti kekuatan jati diri. Sangat cocok dengan Sakura yang selama ini tetap bertahan menjadi diri sendiri untuk menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Sakura yang kuat dan tetap tegar meskipun dunia akan kiamat besok. Itulah dirinya..
Dengan terburu-buru Sakura berlari menuju ruangan kepala sekolah sambil mengelabang rambutnya menjadi dua bagian. Kemudian merapikan dasi merahnya yang lebar. Kaki jenjang nan putih itu berhenti melangkah dengan refleks ketika Sakura sudah sampai di depan pintu kepala sekolah yang sedikit terbuka?
Sakura menaikkan sebelah alisnya melihat keganjilan terhadap pintu ruangan kepala sekolah yang selalu tertutup mengingat kepala sekolah Konoha itu sering melakukan hal-hal yang dilarang untuk ditiru anak SMA –minum sake-
"Ahhh.."
Suara apa itu?
Mata emerald Sakura semakin melebar dan tanda tanya memenuhi kepalanya yang lumayan besar itu. Telinganya menangkap suara-suara tak jelas yang mirip dengan— desahan?
"Unhhhh.. Le-lebih cepat..Ahhh."
Sakura menelan ludah dengan susah payah ketika dia mendengar desahan itu semakin keras. Pikiran-pikiran aneh mulai menghantui otak sucinya. Digeleng-gelengkan kepalanya perlahan untuk menghilangkan pikiran itu, namun tetap saja matanya sangat penasaran untuk melihat.
Dengan pelan dia mendekatkan dirinya di pintu yang terbuka itu. Memajukan sedikit wajahnya untuk mengintip 'kegiatan' apa yang sedang terjadi di ruangan itu. Memang hal yang dilakukannya saat ini sangat dilarang bagi Ketua Komisi kedisplinan sekolah. Mana ada ketua komisi kedisplinan mengintip? Mungkin hanya di komik-komik atau di film semata. Tapi ternyata rasa penasaran manusia itu lebih besar dari adat moral atau sebagainya.
Mata emerald Sakura semakin melebar ketika dia melihat guru biologi yang merangkap menjadi asisten kepala sekolah sedang begitu-begitu ehem.. maksudnya sedang melakukan adegan-adegan tujuh belas tahun keatas atau dengan kata lain bercinta. BERCINTA?
Lalu siapa laki-laki yang kini sedang berada di atas tubuh guru berambut hitam itu dan melakukan gerakan-gerakan yang sama berulang-ulangan dengan penuh nafsu? Berambut putih yang mencuat dan bekas luka itu. Sudah dipastikan kalau laki-laki itu adalah Kakashi. Pelatih kendo sekolah Sakura yang terkenal telat dan memang mesum itu.
Pipi Sakura yang ranum itu semakin memerah ketika Kakashi semakin ganas menyerang Shizune. Setiap dia menghentakkan pinggulnya maju maka Shizune akan mengerang keras apalagi ketika tangan-tangan kekar Kakashi mulai meraba-raba dan meremas-remas kedua benda kenyal yang begitu menantang di depan Kakashi. Tak hayal desahan-desahan itu semakin mengganggu kuping Sakura yang memonton pertunjukkan gratis.
Rasanya, telinga Sakura mulai memanas dan jantungnya berdegup dengan kencang. Sensasi aneh dan panas menjalari seluruh tubuhnya. Tangannya mulai bergetar pelan dan kerongkongannya serasa susah untuk menelan ludahnya sendiri apalagi ketika mata emerladnya melihat bibir Kakashi dan bibir Shizune bertemu, bertaut dan bersatu.
'Ini berbahaya'
Dengan cepat Sakura berlari meninggalkan tempat itu dan menuju tempat yang bisa menenangkan pikirannya. Entah tempat apa itu, yang jelas jauh dari ruangan kepala sekolah. Mungkin sebuah bangku panjang yang terletak di taman sekolah dengan sebuah pohon besar yang rindang? Atau tempat luas yang sepi.
Sepertinya Sakura telah memilih, kini kakinya telah berhenti berlari di sebuah aula basket yang sepi di jam-jam pagi seperti ini. Disandarkan punggungnya ke dinding aula dan meluruskan kakinya. Menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Sekali-kali dia mengelus-elus dadanya yang sudah mengeluarkan bunyi dag dig dug tidak karuan.
"Kenapa aku jadi malu sendiri? Arghhh.. sial!" teriak Sakura sambil menggerak-gerakkan kakinya tak beraturan.
"Apa yang kau lakukan disini gadis aneh?" tanya seseorang tiba-tiba mengagetkan Sakura. Orang itu sudah berdiri di samping Sakura dan melihatnya dengan menaikkan sebelah alisnya. Sepertinya Sakura sudah tahu siapa orangnya dengan mendengar suara dingin dan tak bernada itu. Untung saja di cerita ini jika bertanya terdapat tanda tanya, Kalau tidak perkataannya seperti sebuah pernyataan yang datar.
"Memangnya tidak boleh? Pantat ayam?" tanya Sakura balik dengan nada sesinis mungkin. Dia tidak memandangi wajah Uchiha muda itu. Melihat sepatunya yang bermerk itu saja sudah membuatnya muak.
"Tidak. Dan berhentilah memanggilku pantat ayam, gadis aneh," sahut Sasuke memandang tajam kearah Sakura.
"Kalau begitu berhentilah memanggilku dengan sebutan gadis aneh, pantat ayam!"
"Kurasa itu lebih cocok untukmu," kata Sasuke menyeringai kecil.
"Argh! Kau memang menyebalkan!" Sakura mendengus kesal dan melipat kedua tangannya. Berbicara dengan Sasuke selalu saja memancing emosinya. Apa Sasuke itu mahkluk yang tanpa kebaikan ya? Setiap manusia kan punya kekurangan. Pasti kekurangan Sasuke itu adalah kebaikan.
"Hei.." panggil Sasuke ketika melihat Sakura hanya diam sambil mengerutu kecil. Namun panggilannya tidak digubris oleh gadis berambut pink itu.
"Hei," panggil Sasuke untuk kedua kalinya, tapi tetap saja Sakura tidak menoleh kearahnya. Sasuke menghela nafas singkat kemudian sedikit menundukkan badannya agar bisa mendekati wajah Sakura dengan posisi bungkuk itu. "Aku akan menciummu kalau kau tidak menoleh."
Sontak mendengar hal itu, Sakura segera berbalik dan memandangi Sasuke. "Ada apa sih?" tanya Sakura masih dengan ekspresi sebal.
"Tadi kau melihatnya kan?" tanya Sasuke tanpa menjauhkan wajahnya sedikitpun dari wajah Sakura.
"Melihat apa?" tanya Sakura yang masih tidak mengerti.
"Melihat hal yang dilakukan Shizune dan Kakashi tentunya. Memangnya kau habis melihat apa lagi?" tanya Sasuke dengan seringai liciknya.
"A-apa? aku tidak melihatnya" Sakura menjawabnya dengan terbata-bata. Mukanya memerah dan panik.
"Benarkah?" tanya Sasuke lagi menaikkan sebelah alisnya. Terlihat sangat jelas dia sedang menggoda Sakura, dan itu membuatnya hatinya puas. Entah mengapa dia mendapatkan kepuasan tersendiri ketika membuat gadis itu marah. "Apa kata semua orang jika ketua komisi kedisplinan sedang mengintip pasangan yang bercinta?"
Sakura memberikan death glare-nya kepada Sasuke ketika dia mendengar perkataan pemuda itu. Dari nada-nya saja sudah mengartikan bahwa Sasuke sedang mengancam Sakura.
"Kenapa melihatku seperti itu hah?" Sasuke memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura. "Aku cuma mengutarakan pemikiranku saja, apa salah?"
"Sebaiknya kau tutup mulut pantat ayam, kalau tidak aku bersumpah kau akan menyesal telah lahir di dunia ini!" balas Sakura yang masih memasang wajah mengerikannya. Bahkan dia menunjuk-nunjuk Sasuke dengan emosi meluap-luap.
Mata Onyx Sasuke memandangi Sakura sejenak. Bibir simetris itu tidak mengeluarkan sepatah katapun selama beberapa detik. "Tanpa kau buatpun, aku sudah menyesal telah lahir di dunia ini."
"Heh?" Sakura sedikit terkejut dengan perkataan Sasuke. Dia pikir mungkin Sasuke akan menjawab ancaman dengan kata-kata menyebalkan lainnya. Tapi mengapa dia mengeluarkan kata-kata yang cenderung sebagai sebuah penyesalan? Di dalam mata onyx itu terdapat kabut yang semakin tebal bila kita melihatnya semakin jauh ke dalam. "Bersyukurlah pada Tuhan karena kau telah lahir di dunia ini pantat ayam!"
"Kau tidak tahu hidupku. Jangan memerintahku" sahut Sasuke yang kini berbalik memandangi ring basket yang ada di seberang aula.
"Lalu? Kurasa hidup semua orang itu sama saja. Kaya atau miskin itu bukanlah pembeda kehidupan. Yang penting adalah apa yang dirasakan selama hidup" kata Sakura pelan. Entah mengapa dia mengatakan hal ini kepada Sasuke.
"Maksudmu?"
"Tuhan itu adil. Dia memberikan cobaan yang sama berat kepada semua orang. Hanya saja dalam bentuk yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana manusia menghadapinya. Itulah yang membuat hidup seseorang berbeda dengan orang lainnya," Sakura menatap sosok Sasuke yang kini memandanginya dengan bingung.
"Tak mengerti?" tanya Sakura yang sedikit kesal dengan keterlambatan otak Sasuke. "Begini, misalnya ada dua orang dikasih sebuah cake dengan potongan yang sama. Orang yang satu adalah orang yang sering memakan cake dan yang satu adalah orang yang jarang makan cake. Pasti perasaan mereka akan berbeda saat memakan cake itu bukan?"
"Hn. Tapi aku tidak suka cake," jawab Sasuke singkat. "Lagipula.." Sasuke berjalan mendekati Sakura dan mendekatkan wajahnya kembali. "Kenapa kau menjelaskan hal ini padaku? Kau sudah menyukaiku?"
"Dalam mimpimu pantat ayam!" Sakura menjulurkan lidahnya dan berdiri dari posisi duduknya. "Aku masih membencimu! Dan perbuatanmu dulu tidak akan pernah kumaafkan!"
"Ya, dan jangan lupakan tentang ancamanku tadi" balas Sasuke tidak mau kalah. Dengan langkah pelan dia berjalan meninggalkan Sakura yang masih menatapnya tak suka. Entahlah, sejujurnya Sakura bingung dengan Sasuke. Memang dia membencinya, tapi ada sedikit rasa penasaran tentang sosok yang kini telah menghilang dari pandangannya.
(===)
Langit Konoha mulai terlihat oranye ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat. Meskipun begitu tetap saja banyak orang yang berkeliaran di kota itu. Entah untuk makan, berbelanja atau sekedar nongkrong di suatu tempat. Berbeda dengan Sakura. Saat ini dia sedang di sebuah rumah megah, besar nan mahal. Sakura saja sampai bingung memakai kata apa untuk mendeskripsikan rumah itu.
Dengan gaya-gaya tradisional jepang dan pohon-pohon momoji yang tumbuh di sekeliling halaman. Bahkan di tengah-tengah rumah itu terdapat sebuah taman terbuka dengan kolam ikan besar yang dikelilingi pohon bonsai, pastinya harga bonsai itu sangat mahal, mungkin satu pot bisa mencapai dua puluh lima juta yen. Wow..
Seorang pelayan tua menyambutnya ketika dia berada di ruang konfirmasi tamu. Semacam ruangan untuk menganalisa tamu yang datang. Sedikit aneh memang, mungkin rumah ini ditinggali oleh orang-orang penting bagi negara. Semacam menteri? Atau mungkin perdana menteri?
"Selamat datang, Nona Sakura. Silahkan ikuti saya," kata pelayan tua itu dengan sebuah senyuman lalu berjalan memimpin Sakura ke sebuah ruangan yang sedikit menguras energi karena jaraknya yang cukup jauh. Setelah tiba di depan pintu ruangan itu, diketuknya tiga kali dengan perlahan. "Tuan Fugaku, pelayan pribadi tuan muda sudah datang."
"Suruh dia masuk." Terdengar sebuah suara balto dari dalam ruangan itu. Dari suaranya saja, sudah dipastikan orang itu adalah orang yang sangat tegas dan keras.
"Baiklah, tuan." Pelayan tua itu menyuruh Sakura masuk dan membukakan pintu itu untuknya tanpa menimbulkan sebuah suarapun. "Semoga berhasil nona," bisik pelayan itu sambil menutup pintu itu kembali ketika Sakura sudah masuk ke dalam.
"Jadi, kau yang bernama Haruno Sakura?" Suara itu membuat Sakura memalingkan wajahnya untuk memandangi calon majikannya. Sepasang mata Onyx yang sangat tajam dan dua buah garis kerutan di pipinya. Lalu ekspresi itu—Tunggu? Sepertinya Sakura mengenal ciri-ciri ini, tapi siapa?
"Benar, tuan. Saya Haruno Sakura," jawab Sakura sesopan mungkin dan berdiri dengan sikap sempurna. Orang di depannya ini pasti menginginkan sebuah kesempurnaan total.
"Aku lihat, kau masih bersekolah.."
"Benar tuan."
"Di Konoha Gakuen?" tanya pria itu lagi. Mata Onyx-nya mengamati penampilan Sakura yang biasa-biasa saja namun tetap rapi.
"Iya tuan," Sakura mengangguk singkat.
"Hm.. begitu. Kenapa kau ingin bekerja disini? Tidak ada maksud tertentu bukan?"
"Tentu saja tidak tuan. Saya hanya membutuhkan pekerjaan dengan gaji yang besar, lagipula teman saya menawarkan pekerjaan ini pada saya," jawab Sakura dengan nada pelan.
"Teman?"
"Ino Yamanaka, dialah yang menawarkan pekerjaan ini pada saya."
"Keluarga Yamanaka.." Laki-laki itu terdiam sejenak. "Dari datamu, kau memiliki banyak keahlian," sahut laki-laki itu lagi sambil membolak-balik sebuah laporan di depannya. Mungkin itu adalah identitas Sakura beserta hal-hal penting lainnya.
"Benar. Saya bisa melakukan apa saja!" jawab Sakura berusaha menyakinkan laki-laki itu.
"Baiklah, satu lagi."
Sakura menatap laki-laki itu dengan pandangan bingung.
"Apa kau mengenal Uchiha Sasuke?"
'Sasuke? Untuk apa menayakan Sasuke? Oh, bagus! Kini Sasuke selalu menghantuiku kemana-mana!' batin Sakura yang terkejut dengan pertanyaan laki-laki itu.
"Ya. Saya mengenalnya," jawab Sakura dengan nada datar. Menyebalkan sekali harus mengakui mengenal laki-laki berambut pantat ayam itu, andai saja mata emerald Sakura tidak harus menangkap sosok itu dan telinganya tidak pernah mendengar nama itu. Namun waktu tidak bisa diputar ulang bukan?
"Bagaimana menurutmu tentang dia?"
"Menurut saya?" tanya Sakura semakin bingung dengan arah pembicaran ini. "Er- Dia anak yang pintar." Sakura menggaruk-garuk pelan pelipisnya.
"Lalu?"
"Hanya itu yang saya tahu, saya tidak teralu mengenalnya. Maaf," lanjut Sakura dengan menyesal. Ah, apakah dia tidak diterima? Hanya karena tidak mengenal Sasuke dengan baik?
"Begitukah?" gumam laki-laki itu. Dia terdiam lagi dan sepertinya sedang menyeringai kecil?
Tunggu! Sakura ingat seringai itu, mirip dengan seringai—
"Kau diterima Haruno Sakura. Mulai besok kau akan bekerja di sini sebagai pelayan pribadi dari anak keduaku. Namaku Fugaku Uchiha dan anakku bernama Sasuke Uchiha."
'Cobaan apa lagi yang kau berikan padaku kami-sama'
"Tugasmu adalah bertanggung jawab sepenuhnya mengenai anakku. Bangun pagi, sarapan, sekolah bahkan mengerjakan PR atau yang lain-lainnya itu adalah pekerjaanmu. Jika terjadi suatu masalah tentang Sasuke..." Laki-laki itu berhenti sejenak dan menatap tajam kearah Sakura. "Tentu saja itu berarti masalah besar bagimu."
"Ba-baik Fugaku-sama," kata Sakura pelan. Sepertinya dia menjadi tidak sabar untuk bertemu sahabat karibnya Ino Yamanaka. Sebuah hadiah spesial telah dipikirkannya dengan baik untuk besok. Sebuah pukulan keras yang pastinya sangat sakit.
"Kau bisa menanyakan hal yang tidak kau mengerti ke Danzo. Kepala pelayan di rumah ini. Apa kau mengerti?" tanya Fugaku lagi.
"Saya mengerti."
"Kalau begitu pergilah.."
"Baik, saya permisi" Sakura berjalan mundur dengan pelan kemudian membuka pintu itu dan segera menghilang dari hadapan Fugaku. "Ah sial!" gumam Sakura sambil menghela nafas panjang. Sepertinya dia sudah jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Tapi apa boleh buat? Sepertinya dia harus bertahan dalam jurang itu untuk menunggu bantuan datang.
Ini semua demi gaji yang besar. Dia tidak boleh merepotkan Ayahnya yang bekerja sebagai Florist di Konoha. Hei? Gaji seorang florist itu tidak seberapa bukan? Untung saja Sakura mendapatkan beasiswa di sekolahnya itu, masuk akselerasi pula.
Sangat beruntung.
"Selamat datang di lingkungan kami," sambut pelayan tua yang bernama Danzo itu tersenyum melihat Sakura yang sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri.
"Eh? Te-terima kasih banyak!" balas Sakura dengan sebuah senyuman manis.
"Kurasa anda sudah tahu nama saya bukan?" tanya Danzo yang dibalas anggukan kecil dari Sakura. "Dan sepertinya anda harus mengenal yang lainnya juga," lanjut Danzo yang membuat Sakura menatatapnya bingung.
"Kalian keluarlah," perintah Danzo memandangi sebuah belokan di lorong panjang itu. Di balik dinding itu keluar beberapa pelayan lainnya dengan wajah sungkan.
"Ahahaha.. ternyata Danzo-sama sudah tahu ya?" kata salah satu pelayan itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Mereka juga pelayan disini?" tanya Sakura memandangi pelayan itu satu-satu.
"Tentu saja.." jawab Danzo dengan senyumannya.
"Aku Shion, salam kenal." Seorang pelayan wanita berambut pirang membungkukkan badannya di depan Sakura.
"Aku Sakura, salam kenal juga." Sakura ikut membungkukkan badannya dan tersenyum ke arah Shion.
"Aku Taruho," seorang laki-laki berambut coklat dengan kacamata bingkai bawah tersenyum kearah Sakura.
"Aku Matsuri! Salam kenal Sakura-chan! Dan laki-laki di sebelahku ini namanya Sora!" kata seorang gadis yang sedikit pendek sambil menunjuk seorang laki-laki di sampingnya.
"Sebenarnya masih ada lagi, tapi mereka sedang sibuk bekerja. Mungkin kau harus mengenal Pain-san, Konan-san dan Ayame-san!" kata Shion dengan berbinar-binar.
"Ah, terima kasih banyak. Sepertinya mulai sekarang aku membutuhkan bantuan kalian. Maaf kalau merepotkan," kata Sakura sungkan sambil membungkukkan badannya.
"Tidak perlu sungkan begitu, mulai sekarang kita teman kan? Jadi harus saling membantu!" sahut Taruho mengedipkan sebelah matanya ke arah Sakura.
"Taruho, jangan mulai menggoda wanita!" kata Shion yang memukul lengan kanan Taruho.
"Oh iya, kalau bekerja disini apa aku akan memakai baju seperti kalian?" tanya Sakura lagi sambil memperhatikan penampilan teman-teman barunya itu. Mungkin seperti baju maid biasa. Untuk perempuan, baju maid hitam mencapai lima senti di bawah lutut, sepatu boot coklat tua dan headdress putih di kepala mereka.
"Ya! Tapi, mungkin akan sedikit berbeda kalau untuk Sakura-chan," jawab Matsuri sedikit ragu.
"Berbeda?"
"Biasanya sih, kalau tuan muda Sasuke menginginkan hal lain. Kalau dia tidak berkomentar apa-apa tentang bajumu maka kau memakai baju seperti ini," jelas Sora menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Eh, tuan muda Sasuke datang!" seru Shion ketika matanya melihat kehadiran tuan muda mereka yang berjalan ke arah mereka. "Cepat berbaris!" kata Shion lagi yang segera membentuk barisan rapi di pinggir tembok dengan yang lainnya. Sakura hanya bingung melihat kelakuan pelayan itu dan berdiri di barisan terakhir.
"Selamat malam, tuan muda Sasuke" sapa Danzo dengan sopan ketika Sasuke melewatinya.
"Selamat malam, tuan muda Sasuke," kata para pelayan itu serentak dan membungkukkan badan mereka dalam-dalam bersamaan. Sasuke hanya berjalan melewati mereka tanpa membalas sapaan itu sama sekali. Namun ketika dia baru selangkah melewati barisan itu, tiba-tiba kakinya berhenti melangkah. Kepalanya menoleh memandangi sosok yang dikenalinya.
"Kau?"
"Ng? oh— hai" sapa Sakura yang mengerti maksud keterkejutan Sasuke.
"Kenapa kau ada di rumahku?" tanya Sasuke sinis memandangi Sakura.
"Mulai besok aku bekerja disini," Sakura menjawab dengan nada sinis pula. Para pelayan yang lain hanya bisa melihat aura-aura negatif dari kedua orang itu.
"Sebagai?" tanya Sasuke lagi.
"Pelayan pribadi tuan muda Sasuke Uchiha, perlu aku tambahkan kata 'pantat ayam' dibelakangnya?"
"Benarkah?" Sebuah seringai kecil muncul di wajah tampan itu. Sepertinya banyak rencana-rencana mengerikan telah tersusun di otaknya itu.
"Ya," jawab Sakura dengan malas. Apakah ini termasuk melawan harga diri? Dengan bekerja sebagai pelayan pribadi orang yang dibencinya?
"Kalau begitu jam lima pagi kau sudah harus berada di sampingku. Tidak boleh telat sedikitpun," kata Sasuke dengan sebuah senyuman kemenangan.
"APA?"
"Dan kau boleh pulang setelah aku menyuruhmu pulang. Selebihnya akan kuberitahu besok, sampai jumpa besok gadis aneh." lanjut Sasuke yang berjalan pergi dari hadapan Sakura, namun lagi-lagi dia mengentikan langkahnya. "Oh ya.." Sasuke berbalik memandangi Sakura yang masih menatapnya dengan sebal.
"Untuk seragammu, tuju belas senti di atas lutut" dengan seringai khasnya Sasuke kembali berjalan pergi. Meninggalkan Sakura dan para pelayan lain yang membatu mendengar perkataan Sasuke tadi.
"Tu-tujuh belas senti di atas lutut?" kata Sakura tidak percaya.
"Wow, sekali membungkuk bisa terlihat!" sahut Taruho yang langsung mendapatkan jitakan keras dari Shion.
"Hh, kekuasaan yang dimiliki tuan muda memang menyenangkan," kata Sora yang berjalan meninggalkan teman-temannya diikuti oleh Matsuri yang selalu berada di sampingnya.
"Yang tabah ya, Sakura" kata Shion pelan sambil menepuk pundak Sakura lalu mengajak Taruho pergi untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya.
"Apa itu boleh Danzo-sama?" tanya Sakura yang kini memandangi Danzo. "Rok sekolahku saja tidak sependek itu."
"Saya tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Danzo dengan wajah tenangnya seperti yang dialami Sakura adalah hal yang sangat biasa terjadi. Ya, mungkin ini lebih baik ketimbang di lempari gelas atau vas bunga oleh tuan muda-nya itu bukan? Sakura masih beruntung. Gadis berambut merah yang sering terlihat bersama tuan muda-nya itu malah memakai rok yang lebih pendek.
"Kurasa aku semakin membenci pantat ayam itu.."
TBC
a/n : GOMEEEEEEN~! Maaf ya lama mengupdate ^^" tolong dimaklumi~ banyak yang bilang kalau update jangan lama-lama.. hahahaha maaf ya!
Untuk chapter ini lemonnya cuman sekilas banget. Wkakakaka.. paling chapter depan ada lebih banyak =D
Oh ya! Masih ingat dengan Shion, Taruho dan Sora kan?
Shion ma Taruho itu ada di Naruto movie shippunden XD kalau Sora sekarang udah muncul wkakakaka
eh banyak yang bilang fic ini mirip bbf ya? Apa jangan-jangan gara kemunculan Sasori di saat-saat Sakura berteriak itu? Hahahaha~
sebenarnya Aki dapat ide fic ini dari My fair lady. XD
Yosh! Arigato buat readers dan reviewers!
Hounto ni arigato for :cherry_cute/Kuroneko Hime-un/eve/harunaru chan muach/Je_jess/Ryuku S.A.J/Uchiha Sakuya-Chan/ Ka Hime Shiseiten/rey619/Megumi Kisai/LuthMelody/haruichi Nigiyama/Aoi_mizu/Fusae 'LeeBumYeHyun' Deguchi/Smiley/Utsukushi I-KuroShiro6yh/Chiho Nanoyuki/Kiran-Angel Lost/Deathberry Kuchiki/Miyagi Doumaru(bentar.. orochimaruXHinata?)/So-Chand 'Luph plend'/Blackforest/aya-na rifa'i/Imuri Ridan Chara/Monster Koro/Shinrei Azuranica/Akuma paradise/Kin chan Usagi/Apple pie/Rhaa yamanaka/Ash D Portgas/SasuChiha LowVeRezZ/MissUchiwa/Nakamura Miharu-chan/uyee/DeviL's of KunoiChi/VLouchi Hisagi/Mila Mitsuhiko/Aurellia Uchiha.
Sudah semua kah itu? Hahahaha~
Sorry for misstypo dan cerita yang mungkin membuat kecewa =_=
Dan mohon bersabar untuk update-tan fic lainnya. Masih in progress XD
R&R nyo? :3
