A/n before :

Banyak yang menanyakan kemana saja Aki selama ini. HAHAHAHAHA =_=

Maafkan Aki yang sudah menghilang tanpa jejak. Selama ini Aki teralu sibuk bergelut dengan sktesa-sketsa dan asistensi yang ditolah mentah-mentah. Sakit hati ini. *nangis lebay*

OKE! Aki rasa ini fic yang paling ditunggu-tunggu yak? :DD *pede* setiap review pasti ada saja yang menyinggung untuk mengupdate fic ini. Maafkan Aki yang sudah mentelantarkan. So, here is it!

Chapter 3

Servant

by : AkinaYuki

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate M

SasuSaku pair

Warning Au, OOC and OC

Enjoy the story

"Hoaaamm..." Sakura menguap lebar ketika dia berjalan pelan di sepanjang lorong rumah mewah yang terlihat masih dalam keadaan remang-remang. Lampu-lampu di sepanjang lorong pun bahkan masih tetap setia memancarkan cahaya kekuningan. Gorden panjang berwarna kelabu juga masih belum disibak.

Tapi kenapa?

Di pagi buta yang bahkan matahari saja belum bangun dan berkata 'hai' kepada semua orang. gadis berambut pink itu harus pergi melayani seorang pemuda tampan nan menyebalkan bernama Uchiha Sasuke. Oke, tak jadi masalah kalau HANYA pergi bekerja di pagi buta sebagai pelayan. Namun, sayang sekali ternyata ini tidak HANYA sesederhana itu.

Sakura harus bekerja dengan sebuah seragam yang sangat menjijikan baginya. Sebuah seragam maid lolita dengan panjang tujuh belas senti di atas lutut. Bayangkan! Seragamnya itu adalah seragam penuh renda yang mengembang. Sekali sibak atau ada angin berhembus pun bisa memperlihatkan apa saja yang tersembunyi di balik seragam itu. Apalagi dia harus mengenakan sepatu hak tinggi yang lebih membuatnya sebagai ikon majalah playboy.

Bunyi hak tinggi Sakura telah berhenti menggema di sepanjang lorong. Kini dia telah berdiri di depan sebuah pintu dari kamar majikan barunya. Ketika pintu ini terbuka, itu berarti 'Selamat datang di neraka, Sakura!'

TOK TOK TOK.

Sakura mengetuk-ngetuk pintu ukir yang mahal itu. Namun, setelah beberapa lama tidak terdengar apapun dari dalam kamar.

TOK TOK TOK.

Kali ini lebih keras daripada sebelumnya, lebih tepatnya dia menggedor pintu itu. Dengan sebuah kerutan di dahinya, tetap saja tidak ada sebuah suarapun yang tertangkap oleh gendang telinga Sakura.

TOK TOK TOK.

"SASUKE! BUKA PINTUNYA!" teriak Sakura sambil tetap menggedor-gedor pintu itu dan menghentak-hentakkan sepatu hak tingginya di lantai dengan tidak sabaran. Bibir merah merekahnya itu bahkan sudah mencibir dan maju beberapa centi dari ukuran sebelumnya.

Dan mungkin karena Sakura teralu sibuk dengan kegiatan mendumelnya itu, hingga dia tidak menyadari bahwa pintu yang digedor-gedornya dari tadi telah terbuka dan membuatnya oleng ke depan hingga jatuh di dada bidang seorang laki-laki yang telah menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.

"Kau bersemangat sekali, gadis aneh." ucap laki-laki itu dengan seringai kebanggaannya.

"Ehhhh! jangan menyentuhku pantat ayam!" Sakura berteriak sekencang mungkin dan berusaha bangkit dari tubuh Sasuke. Dengan cepat dia berdiri dan membetulkan seragamnya yang sudah menjadi tidak karuan.

"Tch! harusnya kau berterima kasih padaku." Mata Onyx Sasuke menyipit sejenak memandangi Sakura sinis. Dia berdiri dan mengikat kembali jubah mandinya yang banyak memperlihatkan dada bidangnya yang wow itu. "Aku sudah menyelamatkanmu, gadis aneh."

"Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan itu, hah?" tanya Sakura membalas tatapan Sasuke tak kalah sinis. Kedua tangannya sudah di pinggang dan dia menaikkan sedikit dagunya ke atas.

"Tidak ada, tapi aku mau."

"Ya sudah, case closed." Sakura melangkahkan kakinya dengan ogah-ogahan melewati Sasuke. Namun tiba-tiba lengannya dipegang paksa oleh laki-laki stoic itu. "Apa lagi?" mata emerlad Sakura menatap tajam kearah Sasuke.

"Aku tidak suka rambutmu diikat seperti itu." Tangan Sasuke perlahan mendekati kepala Sakura dan melepaskan ikatan rambutnya. Membuat rambut itu kini jatuh terurai dengan lembut menyentuh pundak Sakura. Sedangkan gadis itu hanya mendecih kesal. Selama ini tidak pernah ada yang memprotes gaya rambutnya yang terkesan 'odd' itu. Terkadang dia suka membuatnya semakin terlihat nerd dengan memakai kacamata bermodel aneh. Gadis itu suka sekali menjadi berbeda di antara yang lain.

Tentu saja karena hidupnya sudah berbeda dengan yang lain. Kalian sudah tahu bukan betapa berbedanya kehidupan gadis berambut soft pink itu? Tentu saja dengan Uchiha Sasuke di dalamnya.

"Aku juga tidak suka kau mengancing bajumu seperti ini." Ucap Sasuke sambil memperhatikan seragam Sakura yang terkancing sampai leher, "Kau mirip ibunya Danzo saja." Tangan Sasuke kini turun ke bawah dan membuka beberapa kancing baju Sakura hingga hampir membuat belahan dadanya terlihat.

"PERVERT!" teriak Sakura kesal dan kembali mengancing bajunya.

"Aa… aku akan mengatakan kepada ayahku kalau kau tidak menuruti perintahku." Sasuke tersenyum selicik-liciknya dan memandang lurus ke arah Sakura. Senyuman laki-laki itu membuat Sakura bergidik ngeri meskipun itu sebenarnya sangat mempesona.

"Ugh, baiklah!" Sakura membuka dua buah kancing bajunya dan menatap Sasuke dengan kesal. "Puas, pantat ayam?"

"Belum." Alis Sasuke terangkat sebelah.

"Apa lagi hah!"

"Kau siapa?" tanya Sasuke yang mebuat Sakura bingung, Sasuke tidak mungkin terkena amnesia bukan?

"Tentu saja Haruno Sakura, baka!"

"Salah." Sasuke menggerakkan jari telunjuknya di depan wajah Sakura."Kau adalah pelayan pribadi Uchiha Sasuke." Tangan putih Sasuke membetulkan kerah baju Sakura."Dan aku adalah Uchiha Sasuke." Sasuke menatap emerald Sakura. Keringat dingin mulai menetes dari pelipis gadis itu.

"Kau paham dengan kondisi ini? Aku rasa otakmu itu cukup pintar untuk mengerti bukan?" tanya Sasuke lagi dengan sebuah seringai.

"Tentu saja aku tahu itu!"

"Jadi kau tahu semua permintaanku HARUS kau turuti?"

"Tapi.."

"Di kamus rumah ini tidak ada kata 'tapi'. Ingat itu gadis aneh." Sasuke mengacak-acak rambut Sakura sebentar. "Ah, dan mulai sekarang. kau harus memanggilku dengan tuan muda tampan dimanapun kau berada."

"APA!"

"Aku rasa telingamu itu masih berfungsi." Ejek Sasuke sinis.

"Itu menjijikkan." balas Sakura sambil memasang wajah ingin muntah.

"Tidak bagiku."

"Iya bagiku!"

"Cepat bilang."

"Tidak!" Sakura menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Ayahku pasti ada di kamarnya sekarang," ancam Sasuke. Dia sudah membalikkan badan seakan-akan bersiap untuk menemui tuan besar Uchiha Fugaku.

"Sial!" Sakura menggeram kesal. "Tu-tuan.. muda tam-tampan.." Dengan susah payah Sakura mengucapkan ketiga kata itu.

"Apa kau gagap?"

"Tuan muda tampan," ulang Sakura pelan.

"Aku tak mendengarmu." Sasuke mendekatkan telinganya ke Sakura.

"Tuan muda tampan!"

"Lebih keras."

"TUAN MUDA TAMPAN!"

"Sasuke-kun~"

"Heh?" Sakura mendengar sebuah suara yang familiar baginya. Dengan perlahan dia menoleh ke arah sumber suara itu. Di atas tempat tidur, berambut merah berantakan dan matanya yang menyebalkan. "Karin." Jujur, Sakura sangat malas menyebutkan nama itu. Mengingat nama itu benar-benar membuat kepalanya berdenyut-denyut tidak karuan.

"Kau! Kenapa di sini?" teriak Karin yang menarik selimut tipis menutupi bagian dadanya yang tidak tertutupi oleh selembar kain pun.

"Oh, jadi kau terlambat membukakan aku pintu karena ini?" tanya Sakura dengan tatapan mengejek ke arah Sasuke. Sedangkan Sasuke tidak menggubris pertanyaan itu dan berjalan menuju ruangan yang penuh dengan berbagai macam benda-benda bermerek dari seluruh dunia. Orang kaya memang hebat.

"Jawab pertanyaanku dahi lebar!" teriak karin lagi.

"Ck! Apa kau tidak lihat hah! Aku pelayan disini!" Sakura menunjuk-nunjuk seragamnya dengan kesal.

"Jadi kau pelayan disini? Cih! Kukira kau benci dengan Sasuke-kun. Ternyata, munafik sekali." Karin mengamati Sakura lebih teliti. Sebuah senyuman mengejek terukir di wajahnya. "Oh? dan kau berniat menggoda Sasuke-kun dengan memakai seragam seperti itu hah? Dasar murahan!"

"Apa katamu?" Sakura sudah mengepalkan tangan kanannya erat-erat. Rasanya sangat perlu di jidat lebarnya itu tertulis kata 'EMOSI' agar Karin tahu betapa marahnya dia saat ini,

"Karin."

"Ya Sasuke-kun?"

"Berisik."

"Heh?"

"Aku yang menyuruhnya memakai itu."

"APA?"

"Dan aku dengar, kau menyebutnya murahan?" tanya Sasuke lagi dengan nada sedingin mungkin. " Baju yang kusukai itu 'murahan' ?" mata Onyx itu terlihat berkilat dan menebarkan aura dingin kearah Karin. Sepertinya dewa salju sudah merasuki laki-laki itu.

"Ma-maksudku bukan seperti itu Sasuke-kun."

"Cepat pakai bajumu."

"Ta-tapi Sa.."

"Perlu aku ulang?"

"Ugh baiklah.." Karin mendengus kesal. Dia memandangi Sakura sambil menyipitkan matanya penuh kebencian. "Ini semua salahmu! Tunggu saja!."

"Terserahlah." balas Sakura acuh dan membuka gorden jendela di ruangan itu dengan menekan sebuah tombol yang akan membuat gorden itu bergerak dengan otomatis. Kini ruangan itu sedikit demi sedikit menjadi terang memperlihatkan sosok-sosok yang berada di ruangan itu termasuk Karin yang sedang memakai bajunya.

"Apa kau tidak malu? Ganti bajumu di kamar mandi!" kata Sakura yang risih melihat tubuh Karin yang hanya tertutupi oleh pakaian dalamnya yang sangat menjijikkan.

"Sasuke-kun tidak pernah protes kok. Kenapa? IRI melihat tubuhku yang jauh lebih bagus daripada tubuhmu hah?" sahut Karin mengejek. Sepertinya bibir yang penuh lipstik itu maju beberapa centi.

"Iri? hahahaha.." Sakura tertawa dengan keras kemudian menghentikan tawanya secara mendadak dan memasang muka tanpa ekspresi kearah Karin. "Jangan membuat pantatku tertawa, Karin."

"AHH! Aku sangat membencimu!" Karin mengacak-acak frustasi rambutnya dan segera mungkin memakai mantel bulunya yang norak itu. "Sasuke-kun aku pergi dulu, sampai jumpa besok." Karin berhenti sejenak di depan ruangan lemari itu meskipun pada akhirnya tak ada sedikitpun respon balasan dari Sasuke.

'Rasakan itu nenek lampir!' runtuk Sakura puas melihat karin yang diabaikan oleh Sasuke.

"Apa lihat-lihat hah?"

"Aku tidak melihatmu, weeek." Sakura menjulurkan lidahnya dan menarik kelopak mata bawahnya dengan jari telunjuk.

"Awas kau gadis jelek jidat lebar!" Karin berjalan melalui Sakura dengan cepat dan membanting pintu kamar Sasuke dengan keras. Untung saja pintu itu terbuat dari kayu ukir kualitas nomor satu, kalau tidak mungkin pintu itu akan rontok dan bernasib sial.

"ISH! dia menyebalkan sekali!" Sakura menggerutu melihat kepergian Karin. "Mau apa kau?" tanya Sakura saat dia melihat Sasuke telah keluar dari lemarinya dan menaruh pakaian yang dipilihnya di atas tempat tidur. Dari gerakannya, laki-laki itu seperti hendak melepas baju mandinya.

"Ganti baju," jawab Sasuke singkat dan terus melanjutkan kegiatannya.

"Disini?"

"Hn."

"Kau tidak ada bedanya dengan nenek lampir itu! Ganti di kamar mandi!" perintah Sakura kesal sambil menunjuk pintu kamar mandi.

"Ini kamarku, terserah aku mau ganti baju dimana." bantah Sasuke sinis.

"Ta-tapi.."

"Kau malu melihatku telanjang?" Sasuke menoleh kearah Sakura, dia tersenyum menggoda gadis itu. Rasanya sangat senang bisa menggodai orang yang mengakui tidak menyukainya.

Sejak kapan Uchiha Sasuke tidak di sukai? Sejak kapan ada yang menolak pesona dari Uchiha bungsu ini? Oh, mungkin terlihat sangat arogan. Tapi ini adalah kenyataan. Sakura adalah seorang gadis biasa yang pastinya tidak akan tahan menghadapi pesona pria setampan Sasuke.

Lagipula tujuan Sasuke adalah membuat Sakura bertekuk lutut kepadanya seperti para fansnya. Setelah itu, semuanya akan menjadi THE END.

"Aku tidak sudi melihat tubuhmu itu. Menjijikkan..." Sakura bergidik ngeri membayangkan Sasuke yang akan telanjang.

"Hn? Tak perlu kau bayangkan. Aku akan melakukannya di depanmu," lanjut Sasuke lagi yang kini menurunkan baju mandinya.

"GYAA!" Sakura berteriak sambil menutup kedua matanya dengan cepat. Demi keselamatan matanya dia juga menaruh kedua tangannya di depan matanya agar dia sama sekali tidak bisa melihat kondisi Sasuke saat ini.

"Tch. Dasar gadis aneh."

"Maaf saja ya, Jangan samakan aku dengan para fansmu yang sudi melakukan apapun untuk melihat tubuhmu itu. Tidak akan pernah!"

"Benarkah?" Sasuke terdiam sejenak. Sepertinya dia terlintas sebuah ide yang sangat menarik baginya. "Hei Gadis aneh."

"Ada apa hah?"

"Kurasa aku butuh bantuanmu untuk merapikan dasiku."

Bohong! Sasuke belum memakai apapun. Itu hanya trik licik buatan Uchiha. Sungguh mereka pandai berbohong.

"Benarkah? Kau cepat sekali pakai baju." Sakura terlihat curiga. Dia masih menutup kedua matanya.

"Aku sudah terlatih. Cepatlah."

"Kau pasti berbohong."

"Ayahku pasti mau mendengarkanku saat sarapan nanti."

Ancaman yang bagus Sasuke. Pintar sekali!

"Ummm.." Sakura menggumam tak jelas. Dia mengetuk-ngetukkan sepatu hak tingginya beberapa saat. "Baiklah, aku akan membantumu Sa-"

"Hn?"

Mata Sakura membulat, mulutnya terbuka lebar dan setelah itu...

"GYAAAAAAAAA!"

(===)

Sarapan pagi yang memukau.

Bermacam-macam hidangan kelas atas terhidang di atas meja panjang ruang makan Uchiha. Dari yang sering kita lihat di acara kontes memasak atau bahkan makanan yang tak pernah diduga sebelumnya.

Di pojok meja terlihat Uchiha Sasuke sedang memakan sarapan paginya dengan tenang seperti biasanya. Namun tidak dengan Sakura, pelayan pribadinya yang sedari tadi memandangi punggung Sasuke dengan berapi-api.

Dia masih ingat betapa sial matanya tadi. Melihat pemandangan yang sangat membuatnya malu. Hampir selama dia ada di dunia ini, dia tidak pernah melihat laki-laki telanjang selain ayahnya sendiri. Dan sekarang, Sasuke telah menodai semuanya.

Mungkin wanita-wanita lain di luar sana akan berbahagia dan berbunga-bunga setelah melihat hal 'mempesona' di pagi hari. Tapi bagi Sakura, Sasuke tanpa baju sama saja melihat anjing defekasi di dekat tiang listrik. Bahkan sempat-sempatnya Sakura melihat bagian intim dari seorang Uchiha Sasuke. Dia benar-benar bodoh.

Andai dia seorang dukun. Pasti dia akan melakukan santet kepada Sasuke dengan senang hati. Atau andai dia seorang pembunuh berdarah dingin, mungkin jasad Sasuke sudah ditemukan termutilasi satu jam yang lalu.

'Bersyukurlah kau Sasuke!'

"Umm.. Sakura-chan?"

"Ya Shion-chan?" Sakura mencoba tersenyum menjawab panggilan dari teman barunya.

"Kau menyukai Sasuke-sama ya?" tanya Shion dengan volume rendah.

"Huh? Ha ha ha ha.." Sakura tertawa sangat kaku mendengar pertanyaan Shion. Bisa-bisanya gadis itu mengira dia menyukai Sasuke. Dari dasar apa? "Itu hanya dalam opera sabun saja."

"Benarkah? Aku kira kau menyukainya. Habis daritadi kau memandanginya lekat-lekat!" kata Shion tersenyum penuh arti sambil memberikan sebuah kerlingan kearah Sasuke.

"Oh Shion! Aku menatapnya seperti itu bukan berarti aku menyukainya kan?"

"Hm? Lalu?"

"Hanya saja.." Sakura berhenti sejenak, dia memikirkan kata-kata yang baik agar Shion tidak salah paham. "Dia sudah memberikan sesuatu yang mengotori mataku."

"Heh? Mengotori matamu Sakura-chan? Tapi kulihat matamu baik-baik saja."

'Bukan begitu maksudnya' Sakura menghela nafas panjang. "Lupakanlah.." balas Sakura yang mengibas-ngibaskan tangannya di depan Shion.

"Permisi, Sasuke-sama." Sebuah suara terdengar setelah pintu di ruangan makan itu terbuka. Sosok ketua pelayan yang sudah tua namun selalu memberikan pelayanan sempurna berjalan dengan pelan tanpa menimbulkan sebuah suarapun dari sepatunya. Benar-benar pelayan yang patut di contoh. "Maaf, mengganggu sarapan anda."

"Hn." Sasuke meminum tehnya sebentar. "Ada apa Danzo?"

"Tuan Akasuna telah datang seperti biasanya." jawab Danzo yang masih membungkukkan badannya.

"Suruh dia masuk." Sasuke mengambil lap di dekatnya dan membersihkan noda-noda di sekitar mulutnya meskipun noda itu sama sekali tidak ada.

"Baik." Danzo pergi lagi dan menghilang di balik pintu besar itu. Hal yang diucapkan Kepala pelayan tadi membuat otak Sakura sedikit berpikir.

'Akasuna?'

Sakura sepertinya pernah mendengar nama keluarga itu. Seperti pernah mendengarnya tidak lama ini. Tapi dimana?

"Shion-chan.."

"Ya Sakura-chan?" Shion menoleh kearah Sakura yang memanggilnya. "Ada apa?"

"Kau tahu tentang Akasuna?"

"Ah! Maksudmu Sa-"

Kreeek~

Pintu itu terbuka lagi dengan pelan. Menghentikan kalimat Shion dan membuat mata emerald Sakura teralih ke arah sosok yang muncul dari balik pintu itu.

"Ohayou Sasuke!" sapa sosok itu dengan sebuah senyuman manis di wajahnya.

Well, rambut shaggy merah yang lembut. Mata caramelnya yang teduh dan senyumannya yang sangat manis di wajah baby face-nya.

Itu..

"Sasori-senpai.." ucap Sakura tak percaya.

Ah bodoh sekali Sakura. Akasuna itu dari Akasuna Sasori. Kenapa dia bisa melupakannya?

"Ya! maksudku tadi Sasori-san. Kau mengenalnya Sakura-chan?" tanya Shion lagi dengan sebuah senyuman di wajahnya. matanya terlihat penasaran.

"Dia kakak kelas ku di sekolah." jawab Sakura ragu-ragu.

"Hounto ni?" Mata Shion membesar seperti ikan mas koi. Sepertinya dia menemukan buruannya kali ini.

Oh tidak!

"A-aku bersekolah di tempat yang sama dengan Sasuke-"

"Aa.. Gadis aneh, kau lupa perjanjian kita tadi pagi?" Sasuke menyela perkataan Sakura.

Bagus. Kuharap ini adalah mimpi.

"Haruskah?" balas Sakura memandangi Sasuke tak mau kalah.

"Kalau kau tak mau Ayahku tahu." Sasuke tersenyum lagi. Senyuman licik lebih tepatnya.

"Begini Shion, maksudku tadi.. aku bersekolah di tempat yang sama dengan Tu-.." Sakura menghentikan penjelasannya.

"Tu? Tu apa?" tanya Shion semakin tidak mengerti. Sakura mengerutkan dahinya dan menarik nafas panjang.

"Tuan muda tampan Sasuke."

Oh betapa puasnya Sasuke sekarang. Dia meminum tehnya lagi dan menyapa Sasori. "Ada apa kau kemari?"

"Seperti biasanya, aku hanya menyerahkan laporan kesehatan kakakmu tersayang. Hahaha." Sasori tertawa kecil sambil menyerahkan sebuah amplop coklat besar ke Sasuke. "Aku minta ya?" lanjut Sasori yang segera mengambil beberapa potong kue kering dan memasukkannya ke dalam mulut.

"Kurasa aku tak perlu melihatnya bukan?"

"Ya.. dia baik-baik saja. tenang saja." Sasori menarik sebuah kursi makan di dekat Sasuke dan mendudukinya dengan santai.

"Hn, baguslah."

"Oh! Kudengar kau mendapat pelayan baru?" tanya Sasori yang segera mendapatkan anggukan singkat dari Sasuke. "Jadi, seperti apa rupa pelayan pribadi Sasuke kali ini hah?"

"Jangan mengejekku." Sasuke melirik sinis kearah pria yang lebih tua dua tahun darinya itu.

"Aku tak pernah mengejekmu.."

"Kau mirip sekali dengan Itachi."

"Benarkah? aku merasa tersanjung."

"Terserahlah." Sasuke menghela nafas singkat dan melambaikan tangannya rendah untuk memanggil seorang pelayan. "Gadis aneh, kemari."

Oh tidak..

"Kau mendengarku bukan?" kata Sasuke lagi. Kali ini dia berbicara sedikit keras.

'Semoga Tuhan mengampuni dosaku dan bukan dosamu Sasuke!'

Dengan langkah yang terasa sangat berat. Sakura berjalan mendekati Sasuke dan Sasori. "Ya, Tuan muda tampan. Ada apa?"

"Sasori ingin melihatmu." jawab Sasuke santai dan menunjuk Sasori yang mulai mengerutkan dahinya.

"Se-" Sakura mengambil nafas panjang lagi. Dan memberikan sebuah senyuman palsu di depan Sasori. "Senang bertemu dengan anda Sasori-sama."

"K-kau?" Jari telunjuk Sasori menunjuk Sakura yang berdiri tak jauh di depannya.

"Nama saya.." Sakura terdiam lagi. Sungguh susah menghadapi kondisi seperti ini. "Haruno Sakura." Sepertinya keringat dingin mulai menetes dari dahinya.

"..." Sasori terdiam melihat sikap Sakura. Tak lama kemudian dia tersenyum sangat manis. "Ya, senang berkenalan denganmu Sakura. Namaku Sasori." kata Sasori mengulurkan tangan kanannya dengan maksud untuk bersalaman.

"Kurasa tidak perlu bersalaman untuk berkenalan dengan pelayan pribadiku," sela Sasuke yang sudah melirik tidak suka dengan uluran tangan itu. "Iya kan Sasori?"

"Kau jahat sekali Sasuke. Aku kan hanya ingin menyalaminya saja. Iya kan Sakura?" tanya Sasori yang tersenyum untuk kesekian kalinya kearah Sakura. "Ah, maksudku Sakura-chan."

"I-iya.." Sakura mengangguk sekilas.

"Kembalilah ke tempatmu tadi," perintah Sasuke dengan cepat. Sepertinya dia mulai tidak menyukai keadaan ini.

"Ba-baik.." Dengan cepat Sakura kembali ke tempatnya semula. Berdiri di samping Shion yang hanya menatapnya dengan heran.

"Sakura-chan.."

"Ng?"

"Kau menyukai Sasuke-sama, aku yakin itu."

"Heh?"

"Ah, tidak. lebih tepatnya. Sakura-chan menyukai tuan muda tampan Sasuke." Shion tersenyum-senyum sendiri dan mulai mengeluarkan handphonenya dari balik seragamnya. sepertinya dia sudah siap menyebarkan gosip ini keseleuruh penjuru rumah Uchiha.

'Kalau memang kau itu ada Tuhan. Kenapa kau tidak membuat aku menjadi nenek-nenek tua saja?'

(===)

"Arghh~!"

Malam ini pundak Sakura terasa pegal. Setelah memutari penjuru rumah Uchiha untuk mengenal seluruh pekerja yang ada. Dan itu sangat mengerikan mengingat betapa banyaknya pekerja yang ada di rumah ini.

Belum lagi dia harus membersihkan kamar Sasuke yang sangat luas melebihi kamar presiden suit di hotel berbintang. Memenuhi permintaan Shion untuk membantunya mengurus perpustakaan dengan bermilyar buku. Dan dia harus menunggu majikan menyebalkannya itu pulang dari jalan-jalannya bersama Sasori agar dia bisa pulang ke rumah, membaringkan badannya dengan tenang dan tentu saja MANDI!

"Pantat ayam itu lama sekali!" keluh Sakura yang sejak dua jam tadi menunggu di kamar Sasuke. Meskipun dia duduk di atas tempat tidur King size-nya yang mewah dan empuk. tetap saja menunggu itu adalah pekerjaan yang menyebalkan.

'Ah, ternyata melelahkan sekali ya menjadi pelayan.' batin Sakura yang dengan bebas membuang tubuhnya ke belakang. Menikmati betapa nyamannya tempat tidur mewah itu. Begitu empuk hingga membuat Sakura merasa tidur di gumpalan awan di musim semi. Dan baunya pun wangi maskulin. Bau khas Sasuke.

Hari ini gadis itu banyak mengalami hal yang di luar dugaannya. Sasuke dan Sasori. Ternyata mereka adalah seorang sahabat. Belum lagi gosip yang mengatakan bahwa dirinya menyukai Sasuke tersebar luas. Semoga saja gosip itu tidak terdengar oleh Tuan besar Uchiha Fugaku. Kalau tidak, mati sudah riwayatmu Sakura.

Sakura menghembuskan nafas panjang sekali lagi sebelum akhirnya dia tertidur akibat batas maksimum ketahanan tubuhnya hari ini.

Ckreeek~

Pintu kamar Sasuke terbuka dengan pelan. Saking pelannya hingga Sakura tidak terbangun dari tidurnya. Rupanya setelah dua jam Sakura tertidur pulas, Sasuke datang dengan penampilan yang berantakan.

Laki-laki itu menggaruk-garuk rambutnya kasar dan membuang kunci mobilnya asal-asalan di atas tempat tidur sebelum dia menyadari bahwa ada seseorang yang dengan seenaknya mengambil daerah otoriter pribadinya saat ini.

Seorang gadis berambut soft pink sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.

Sasuke mengerutkan dahinya, dia terdiam sejenak. Dia merasa kesal namun entah mengapa sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya.

Dengan langkah yang pelan dan tenang Sasuke mendekati Sakura. Mengulurkan tangannya dan mengusap pipi ranum gadis itu, memainkan helaian lembut rambut Sakura dengan jari-jarinya dan menelusuri lekuk wajahnya dengan jari dingin itu.

Dahinya, kelopak matanya, hidungnya dan bibirnya. Terasa begitu hangat di jari Sasuke. Hembusan nafas yang keluar dari mulut Sakura pun terasa bagai udara di musim panas bagi Sasuke.

Semuanya begitu sempurna. Menarik Sasuke untuk lebih mendekat, melihatnya lebih jelas dan membujuknya untuk melakukan lebih. Lebih dari rabaan, usapan dan lebih dari tangan yang berperan.

Sasuke mendekatkan wajahnya, membiarkan tangan kanannya menahan beban tubuhnya dan tangan kirinya yang mengangkat leher Sakura agar wajah gadis itu semakin mendekatinya. Semakin dekat, mata hitam itu bisa melihat bibir itu mendekat. dia bisa merasakan dada gadis itu yang naik turun beraturan hampir menyentuh dada bidangnya.

Sejak kapan Sasuke bisa menjadi setegang ini dalam hal seperti ini. Dia adalah casanova. Penakluk wanita baik dalam hati maupun ranjang. Sebuah ciuman pastinya sudah sangat di kuasainya dengan baik. Tak ada yang bisa mengalahkannya.

Bibir dingin Sasuke akhirnya menyentuh bibir lembut itu. Merasakan betapa manis bibirnya. Membasahi bibir gadis itu dengan sapuan lidahnya dan semuanya menjadi lebih indah ketika Sasuke berhasil membuat Sakura membuka mulutnya. membiarkan Sasuke semakin menjadi-jadi. Menelusuri rongga mulut Sakura, mengabsen gigi-giginya, menautkan lidah mereka dan saling berbagi Saliva.

Bahkan Sasuke dapat mendengar suara indah Sakura di sela-sela ciuman mereka membuat Sasuke semakin berani melakukan semua ini. Tangannya yang menahan leher Sakura kini bergerak ke bawah, menyusup di balik seragam yang dipilihkan oleh dirinya sendiri.

Tangan itu berkelana lebih jauh, menemukan harta karun incarannya dan mengeksplorasi bagian-bagian itu. Memainkannya hingga tak sadar bahwa sang gadis telah mendesah pelan dan membuka matanya. Mendapatkan sang majikan tengah berada di atasnya, menciuminya tanpa henti dan tangannya tengah bermain di daerah-daerah sensitif dadanya.

"Mmm!" Sakura berusaha menggerakkan badannya ketika dia menyadari semua itu. Namun badan Sasuke begitu berat. Dan semua perlakuan Sasuke kepadanya saat ini terasa menyenangkan. Sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Membuat darahnya menggebu-gebu dan terasa panas.

"Sa-Sasuke.." ucap Sakura pelan ketika Sasuke menghentikan ciumannya dan menatap kearah mata Emerald Sakura. Laki-laki itu tersenyum dan mulai mendekatkan bibirnya kembali sebelum akhirnya, "Siapa yang bilang kita akan melanjutkannya hah!" Sakura menutup bibir Sasuke dengan kedua tangannya dan berguling ke samping menghindari tubuh Sasuke.

"Sayang sekali," ucap Sasuke pelan dan membaringkan badannya.

"Apanya yang sayang sekali hah!" Sakura mengerutkan dahinya. Dia bangkit dari tempat tidur dan berdiri di depan Sasuke yang berbaring. "Kau menyerangku disaat aku tertidur Pantat Ayam!"

"Aa.. kau melanggar perjanjian kita, gadis aneh."

"Sekarang aku teralu kesal untuk menyebutmu tuan muda tampan!" teriak Sakura kesal sambil menunjuk-nunjuk Sasuke.

"Kalau begitu kau perlu di hukum." Dengan sekali tarikan keras, Sasuke membuat Sakura jatuh di atasnya.

"A-apa mau mu hah!"

"Menghukummu." Sasuke menjilati pipi Sakura dengan perlahan. "Kau telah melanggar banyak hal hari ini Sakura."

"Sa-sasuke? Kau—mabuk?" tanya Sakura lagi ketika dia mencium bau alkohol dari tubuh Sasuke.

"Hn, tidak." Tangan Sasuke kini melingkar erat di pinggang Sakura. Membuat gadis itu dengan terpaksa semakin menghimpit tubuh Sasuke. Bahkan dia bisa merasakan dada Sasuke menekan paksa dadanya. Dan itu membuatnya sesak.

"Sa-sasuke... Hentikan. Aku tidak bisa bernafas."

"Kalau begitu." Sasuke membalikkan tubuhnya hingga Sakura berada di bawahnya. "Kita buka saja bajumu itu Sakura." Tangan Sasuke mulai membuka kancing-kancing baju Sakura perlahan sembari bibirnya sibuk menikmati leher jenjang gadis itu tanpa lupa memberikannya sebuah tanda di daerah jamaahnya.

"Sa-sasuke..." Sakura berusaha memberontak. Pandangannya mulai mengabur ketika Sasuke sudah membuka seluruh kancing atasannya dan beraksi dengan kedua benda sensitifnya. Memanjakannya dan memberikan kenikmatan surgawi padanya. "Kumohon.. hentikan.."

'Kalau kau itu ada Tuhan, mau kah kau membantuku untuk menghindari pesona laki-laki ini?'

Kreeeek~

"Sasuke! Kau melupakan ponselmu di kamar—"

"Senpai.."

"—Ku.. Sakura? Sasuke? Kalian?"

'Dan kau memang benar-benar ada.'

TBC

A/n again!

OH TUHAN! =_= Aki merasa fic ini semakin hancur wkakakakaka xDD

Apa iya semakin hancur? =A= *ngubur diri*

Terima kasih bagi yang sudah mereview. Mohon maaf tidak Aki cantumkan satu-satu. =_= karena itu banyak sekali dan Aki sangat berterima kasih atas review kalian semua. ini benar-benar mengharukan Q_Q

Kalau ada yang ingin ditanyakan, lebih baik sms saja ya? OH! Aki ganti nomor baru :D

tolong di lihat di profil.

Review?