Chapter 4

Servant

By : AkinaYuki

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate M

Warning AU, OOC and lime (?)

Enjoy the story

"Sasuke? Sakura?"

"Se-senpai!"

Mata emerald Sakura membentuk bulatan sempurna melihat kehadiran sesosok pria yang sangat tak diharapkannya berada di tempat ini disaat ini pula.

"Ma-maaf, aku tidak tahu kalau kalian sedang bersenang-senang. Hahaha.." Sasori tersenyum canggung sambil menggaruk-garuk rambut merahnya yang tak gatal.

"Ini bukan seperti yang senpai pikirkan!" Dengan sebuah gerakan menepis yang kuat, Sakura menyingkirkan tubuh Sasuke dari atas tubuhnya dan segera berdiri di samping tempat tidur, menatap Sasori dengan kuatir dan panik. Sedangkan Sasuke? sepertinya dia sedang menuju alam mimpi beberapa detik yang lalu secara paksa, dengan kata lain pingsan.

"Tapi sesuai dengan apa yang aku lihat, aku tidak tahu kalau kau dan Sasuke itu—" Sasori berhenti sejenak. Dia menelan ludahnya yang tertahan di batang tenggorokkannya. "—Sepasang kekasih?"

"Bu-bukan! Sasuke menyerangku saat aku tertidur! dia mabuk!" teriak Sakura frustasi menunjuk-nunjuk pria berambut emo yang mendengkur halus tak jauh darinya.

"Hm?" Sebelah alis Sasori terangkat, dia berjalan menuju tempat tidur Sasuke dan memperhatikan pria itu dengan mata karamelnya. "Sudah kuduga dia mabuk. Handphone-nya saja tertinggal di kamarku," kata Sasori menunjukkan handphone Sasuke ke arah Sakura.

"Jadi—" Sakura menahan nafasnya. "Senpai percaya padaku?"

"Tentu saja Sakura-chan." Sasori mengacak-acak rambut soft pink Sakura dengan lembut. "Kau pikir aku tidak tahu tabiat Sasuke itu seperti apa?"

"Ah, benar juga."

"Yah, karena itu. Kau harus berhati-hati." Sebuah senyuman manis ditujukan kepada Sakura, membuat gadis itu sedikit merona. "Jaga baik-baik Sasuke. Jangan sampai dia berbuat hal-hal seperti itu."

"Ah? masa aku harus menjaganya!" kata Sakura sebal sambil mengembungkan pipinya.

"Itu tugasmu sebagai pelayan pribadinya. Aku rasa Sasuke tertarik padamu. Jadi untuk sementara ini dia tidak mungkin memecatmu." Sasori mengedipkan matanya. "Manfaatkan itu baik-baik Sakura-chan!"

"Ya, semoga saja dia tidak memecatku." Ucap Sakura pelan sambil memandangi Sasuke dengan sebuah kerutan di dahinya.

"Tidak pulang?"

"Eh? Sepertinya sudah teralu malam. Aku menginap disini saja."

"Oh baiklah, aku pergi duluan ya Sakura-chan?"

"Uhm..hati-hati Sasori-senpai."

"Ah, Sakura-chan?" panggil Sasori ketika dia sudah membuka pintu kamar Sasuke.

"Ya?" Sakura menoleh dan memandangi Sasori yang sedang melihat ke arah bagian tubuhnya yang rasanya sedikit dingin.

"Baju dalammu.. kelihatan." Seringai kecil terukir di wajah manis Sasori ketika dia menunjuk kearah dada Sakura yang mengekspos bra berwarna putih polos meskipun tidak nampak seutuhnya.

"Aa..." Wajah Sakura saat itu juga langsung memerah tidak karuan. Mulutnya pun hanya terbuka dan tertutup kembali seperti ikan koi di kolam ikan sekolah.

"Hahahaha.. sampai jumpa besok. Bye." Sasori menutup pintu kamar Sasuke dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari Sakura yang daritadi hanya mengucapkan kalimat yang tak jelas.

"TIDAK! ini semua gara-gara ulahmu! dasar pantat ayam sialan!" teriak Sakura kesal sambil melempari Sasuke dengan bantal-bantal yang ada, meskipun Sasuke sama sekali tidak merasakannya karena dia sedang bermimpi indah dengan beratus-ratus tomat sedang memeluknya (?).

Sedangkan Sasori hanya tersenyum kecil dan mengacak-acak rambutnya di sepanjang lorong rumah Sasuke. "Hh, benar-benar menggoda imanku."

(===)

"Ohayou Sakura!" teriak Ino dengan keras ketika dia melihat sosok temannya yang berambut pink sedang membersihkan jendela ruang guru yang berada di lantai dua. Ditemani sebuah tangga kayu dan seember air serta lap basah yang berada di tangannya. Topi tukang berwarna biru muda melindungi kepalanya dari sinar matahari pagi yang menyengat.

"Oh?" Sakura menoleh kebawah. Ke arah temannya yang memandanginya dengan ngeri. "Ohayou Ino!"

"Apa yag kau lakukan?" tanya Ino dengan suara yang keras lagi.

"Biasa! Bekerja!" Sakura mengedipkan matanya dan tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. "Tunggu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan."

"Hah? Oke." Ino mengangguk singkat dan menepi ke dinding sekolah. Menyandarkan punggungnya dan mengutak-atik handphone mahalnya. Tak beberapa lama kemudian, Sakura pun turun kebawah dengan sebuah lompatan indah. Tapi belum sempat gadis bermata aquamarine itu menoleh ke sosok sahabat dekatnya, sebuah tendangan keras tertuju padanya dan mengenai dinding di belakang.

Saking kerasnya bisa dilihat tercipta sebuah retakan kecil tak jauh dari wajah Ino. Mungkin sekitar lima sentimeter dan itu membuat Ino terkejut tak percaya. Matanya membesar dan tak berkedip, mulutnya membuka dan menutup layaknya ikan koi di kolam ikan Yamanaka.

"APA YANG KAU LAKUKAN FOREHAD!"

"Hah?" Kedua alis Sakura terangkat tinggi. Dia memiringkan kepalanya sedikit, menandakan dia tidak mengerti maksud Ino. Ah tidak, lebih tepatnya dia berpura-pura untuk tidak mengerti maksud pertanyaan sahabat pirangnya itu. "Apanya? aku tidak mengerti".

"Tidak mengerti?" tanya Ino tak percaya. Dia berdehem sejenak dan memandangi tajam Sakura. "Kau turun dari atas dan tiba-tiba menendangku. Apanya yang TIDAK kau MENGERTI Sakura?"

"Yang tidak ku mengerti?" Sakura tersenyum penuh arti. Oh, senyumannya terlihat seperti senyuman aneh milik pacar Ino yang bernama Sai. "Kau mau tahu?"

"Tu-Tunggu Sakura. Ini bukan soal pekerjaan yang aku tawarkan itu kan?"

"Oh? Sepertinya kau sudah mengerti."

"Jangan marah dulu, memang aku mengetahui bahwa keluarga Uchiha yang membutuhkannya." Suara Ino sedikit menurun ketika dia mengucapkan kata Uchiha. Bola matanya bergerak pelan secara ragu-ragu untuk mengamati raut muka Sakura. "Ta-tapi.. gaji disana besar bukan? Tidak ada salahnya kan?"

Sakura terdiam sejenak. Meresapi kata-kata Ino yang ada benarnya. Oke, dibandingkan dengan gaji pelayan di tempat lain, gaji menjadi pelayan di rumah Sasuke dapat dikatakan sangat luar biasa. Dimana lagi dia bisa mendapatkan penghasilan sebesar itu hanya dengan menjadi seorang pesuruh.

Ah, dia lupa. Dia bukan hanya sekedar pesuruh, mungkin lebih tepatnya budak dari Uchiha Sasuke yang egois, menyebalkan dan benar-benar menyebalkan.

"Maafkan aku Sakura. Ayolah! Aku ajak ke pesta kembang api keluarga ku deh," lanjut Ino dengan nada dibuat-buat. Dia menatap Sakura dengan mengeluarkan jurus memelasnya yang selalu berhasil menyita perhatian Sakura.

"Pesta kembang api?"

"Sebentar lagi tahun baru kan? Perusahaan ibuku mensponsori acara penutupan tahun Konoha. Jadi kita bisa dapat tempat bagus! Kau mau kan?" tanya Ino lagi penuh semangat. Dia sudah melupakan ketakutannya terhadap kemarahan Sakura.

Pesta penutupan tahun baru Konoha. Begitu meriah, begitu ramai dan begitu membuang-buang waktu. Bayangkan kau harus berdesak-desakkan demi sesuatu yang meledak-ledak di angkasa. Tidak menghasilkan uang sama sekali. Sementara penutupan tahun selalu ramai dengan penawaran kerja satu hari akibat toko-toko yang berpesta diskon. Dari penjelasan di atas, sepertinya Sakura tahu akan memilih yang mana.

Yang dibutuhkannya adalah uang. Bukan pemandangan api yang ada di angkasa membentuk sesuatu atau apalah itu. Mungkin setelah berdoa di kuil dia akan pulang dan mengambil berbagai penawaran kerja part time. Ide yang bagus Sakura!

"Err- Kurasa aku tidak mau." Sakura melepas perlengkapan bersih-bersihnya dan berjalan menjauhi Ino.

"Hei! masa kau tak mau?" Ino mengejar Sakura dengan cepat. Bibirnya membentuk huruf vokal O dan melipat kedua tangan mulusnya di depan dada. "Selama ini apa yang kau lakukan di akhir tahun?"

"Ha-"

"Pagi hari Sakura berdoa di kuil terdekat. Makan mie soba sebagai tradisi sejenak, kemudian Sakura pergi bekerja. Sampai besoknya dia juga bekerja. Tamat!" Sakura mendengus mendengar ringkasan hidupnya yang dibuat Ino terdengar menyebalkan. "Jangan mendengus, itu hidupmu."

"Hanya kau yang protes tentang hidupku selama ini." Mata Sakura menyipit dan memandangi lorong masuk Sekolah yang ramai. Terlihat kerumunan siswi-siswi yang berteriak kegirangan sambil membawa sesuatu di tangan mereka. Bisakah sekolah ini terlihat normal dan tenang? Mereka masuk, mengucapkan selamat pagi dan langsung masuk ke kelas masing-masing. Tanpa keributan dan tanpa perlu memandangi seorang laki-laki?

"Tidak. Sebenarnya Dei-nii juga protes kok. Jadi Sakura kau mau-"

"KYAAAAA! Sasuke-san! terimalah bento-ku!"

"Oh tidak, salah memilih jalan nih," gumam Ino menepuk jidatnya sendiri ketika gendang telinganya bergetar dan sarafnya mengirim info ke otak kecilnya bahwa seorang yang dibenci Sakura ada di dekat mereka. "Aduh Sakura! sepertinya aku mau ke toilet. Anterin aku yuk!" ucap Ino cepat sambil menarik lengan Sakura.

"Pergi sendiri sana, aku mau menaruh alat bersih-bersih ini di gudang dulu," balas Sakura datar meski mata emeraldnya masih memandang tajam ke arah kerumunan itu.

"Tidak bisa! Pokoknya kau harus ikut denganku!" Ino tidak mau kalah. Dia harus berusaha dengan keras agar Sakura mau menemaninya dan tidak menimbulkan keributan lagi dengan Sasuke. Jangan pagi ini dan jangan disaat Sakura sedang marah kepadanya akibat Uchiha Sasuke. Tidak boleh!

"Kau ini kenapa sih? Masa aku harus menemanimu ke toilet, kau kan sudah enam belas tahun!" Sakura mengalihkan pandangannya dan menatap Ino dengan heran. Tingkah kekanak-kanakan Ino membuatnya heran dan sedikit sebal. Apa yang harus ditakutkan dari toilet sekolah yang sangat bagus itu?

"Err- sudahlah ikut saja ya?"

"Tidak."

"Ayolah forehead!"

"Tidak pig."

"Saku-"

"Gadis jelek!" Suara seseorang yang tidak diinginkan oleh dua orang ini pun terdengar memasuki pembicaraan mereka. Bola mata Emerald dan Aquamarine itu bergerak dan memandangi sosok yang berjalan mendekati mereka.

"Selamat pagi Yamanaka," sapa laki-laki itu tanpa ekspresi seperti biasanya. Dia hanya mengucapkan sapaan itu akibat keluarga mereka berteman dekat dalam hal bisnis maupun dalam hal kerjasama yang lain.

"Ya, selamat pagi Sasuke," balas Ino dengan sebuah senyuman yang meragukan. Diliriknya Sakura yang terlihat memutar kedua bola matanya dengan kesal.

"Tidak menyapa majikanmu?" Mata Onyx Sasuke memandangi Sakura. Sebuah seringai tipis terukir di wajahnya.

"Selamat pagi Sasuke-san." Sakura menyapa Sasuke dengan malas, bahkan dia tidak memandangi wajah tampan laki-laki itu. Hanya membuang muka kearah lain, mungkin melihat tong sampah lebih baik.

"Salah. Kau tidak ingat perjanjian kita?"

"Disini?"

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Tentu saja. kau pelayanku pribadiku di rumah dan di sekolah. Perlu aku menelepon ayahku?"

Wah, Ino semakin merasakan aura Sakura mulai menusuk-nusuk pori tubuhnya dan membuat bulu kuduknya berdiri. Ini semua membuat gadis itu merasa bersalah dan ketakutan. Hei? dia cuman ingin membantu sahabat terbaiknya itu. Tidak ada maksud sama sekali untuk membuat Sakura berada diposisi seperti sekarang.

Terjebak dengan majikan tampan.

"Sasuke, bisa lain kali kita melanjutkan pembicaraan ini. Kami sebenarnya sedang terburu-buru ke toilet," sela Ino dengan cepat sembari menunjukkan senyuman mohon maklum. Dia tidak ingin berakhir di ruang kepala sekolah atau dikenal sebagai ruangan penghuni Neraka -Tsunade maksudnya- akibat kericuhan yang terdektesi akan terjadi beberapa menit lagi.

"Dia pelayanmu atau pelayanku Yamanaka?" tanya Sasuke dengan nada mengintimidasi Ino.

"Pe-pelayanmu, tapi dia sahabatku."

"Dia melayaniku atau melayanimu?" Sasuke masih bertanya tanpa memperdulikan jawaban Ino tentang sahabat.

"Melayanimu, tapi-"

"Jadi Sakura harus menemanimu atau menemaniku?"

Ino menelan ludahnya yang tertahan di tenggorokan kecilnya. Berdebat dengan anggota Uchiha itu sangat sia-sia, mereka ada pemenang dari awal. Dan sungguh, ternyata orang ini benar-benar menyebalkan.

"Sudahlah Ino, lebih baik kau pergi sendiri ke toilet." Akhirnya Sakura mengeluarkan suara yang menyetujui pertanyaan-pertanyaan Sasuke tadi. "Sepertinya Tuan muda tampan ini memerlukan bantuanku." Mata emerlad itu menyipit dan memandangi sosok Sasuke sedang tersenyum puas penuh kemenangan.

"Kau yakin Sakura?"

"Kau kira aku siapa? Sudahlah, aku baik-baik saja."

"Um... baiklah."

"Bisa titip ini? Tolong kasih ke paman Tetsu." Sakura memberikan perlengkapan kebersihan yang tadi digunakannya kepada Ino. "Jangan lupa ucapkan terima kasih juga," lanjut Sakura mengingatkan dan dibalas anggukan kecil dari Ino.

"Sampai jumpa nanti Sakura," ucap Ino pelan dan berjalan menjauh dari Sasuke dan Sakura. Dia sempat berhenti dan melihat Sakura yang akan menjalani hari ini dengan Sasuke, lagi. "Semoga dia baik-baik saja." Setelah menghela nafas singkat, dia pun pergi menuju gudang yang terletak di gedung sebelah.

"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang huh?" Sakura menatap Sasuke dengan pandangan kesal. Ingin sekali dia mencubit seluruh tubuh pemuda itu kemudian membuangnya di tempat sampah.

"Masuk ke dalam kelas." Ah, syukurlah. Itu perintah yang terdengar normal. "Ke dalam kelasku," lanjut Sasuke lagi dengan seringai tipis di wajahnya. Dia berjalan santai menuju kelasnya diikuti oleh beberapa gadis cantik yang setipe dengan Karin.

Oh Tuhan. Kenapa Sasuke selalu saja didekati gadis-gadis yang melanggar peraturan itu.

"Tapi aku harus mengikuti pelajaran di kelasku! Bukan di kelasmu," ucap Sakura yang segera menyusul Sasuke dengan langkah cepat. Dia menekan setiap kata 'kelas' dan membesarkan suaranya agar Sasuke yang berada beberapa langkah di depannya dapat mendengar jelas suaranya itu.

Namun Sasuke seakan-akan tidak peduli dan pura-pura tidak mendengarnya. Dia tetap berjalan menuju kelasnya sembari bercanda kecil dengan gadis-gadis yang mengikutinya.

'Dasar laki-laki egois tidak tahu diri.'

"Ohayou Sakura-chan!" Suara riang Naruto membuat Sakura menoleh ke dalam kelas Sasuke. Segera dia merubah raut wajah kesalnya menjadi raut wajah yang biasa-biasa saja. Toh, itu dapat membuat awet muda bukan?

"Ohayou Naruto." Meski dia membalasnya ogah-ogahan, Sakura mendekati Naruto yang duduk di atas mejanya. Menatapnya penuh arti dan sebuah cengiran lebar didapatnya dari laki-laki berambut pirang itu.

"Go-gomen..." Pelan-pelan Naruto turun dari atas meja dan berdiri di sampingnya. "Ada apa kau kemari Sakura-chan?" tanya Naruto heran dengan kehadiran gadis berambut merah muda itu di kelasnya.

Sakura adalah murid yang sangat pintar. Dia dan Shikamaru -juara umum sekolah- menempati sebuah kelas khusus yang dikenal sebagai kelas akselerasi. Dan kelas itu sangat jauh dari kelas Naruto. Berbeda gedung, dari pojok ke pojok. Jadi, suatu keanehan kalau sosok Sakura berkeliaran di kelas ini tanpa tujuan tertentu.

"Aku yang menyuruhnya dobe." Belum sempat Sakura ingin menjawab pertanyaan itu, Sasuke sudah mendahuluinya sembari merangkul Sakura.

"Hah? Untuk apa?"

"Bisa kau jelaskan nona Haruno Sakura?" tanya Sasuke yang tersenyum penuh arti. Lagi-lagi dia mulai menggoda Sakura.

"Begini." Helaan nafas terdengar dari mulut tipis Sakura. "Aku adalah pelayan pribadi Sasuke.."

"Aa.. sepertinya aku harus menelepon ayahku."

"Eh maksudku, tuan muda tampan Sasuke Uchiha."

"APA?" Betapa terkejutnya Naruto mendengar hal itu. Mulutnya terbuka lebar dan bola matanya hampir keluar akibat syok batin di pagi hari ini. Tapi bukan itu yang membuatnya semakin syok. Bukan karena Sakura adalah pelayan pribadi Sasuke. Melainkan karena Sakura menyebut teman menyebalkannya itu dengan sebutan tuan muda tampan. Oke, sepertinya ada yang salah disini.

"Tu-tuan muda tampan Sa-SASUKE?" Jari telunjuk Naruto bergerak maju dan mundur menunjuk sosok laki-laki berambut raven itu. "Kau diancam dibunuh sama Sasuke, Sakura-chan? Bilang saja padaku. Tidak apa-apa," bisik Naruto pelan yang segera mendapat sebuah pukulan keras di bahunya.

"Kalau diancam dipecat sih iya," jawab Sakura kesal sambil memutar kedua bola matanya.

"Berhenti saja dari sana. Kau bisa menjadi pelayan pribadiku.." Naruto tersenyum sumringah. Lebih kearah mencurigakan tepatnya.

"TIDAK." Sakura menggelengkan kepalanya dan menolak tawaran Naruto dengan tegas. Bisa-bisa rambutnya yang merah muda itu akan berubah menjadi putih akibat mengurusi tingkah laku Naruto yang bodoh. "Oke, tuan muda tampan Sasuke. Sepertinya di sini tidak ada bangku yang kosong. Jadi sebaiknya aku per—"

"Siapa bilang?" Sebelah alis Sasuke terangkat. Dia duduk di bangkunya dengan santai dan seringai licik timbul di wajahnya. "Masih ada tempat, di sini."

Kedua orang itu terdiam melihat tempat yang ditunjuk oleh Sasuke. Lebih tepatnya mereka membatu dan tidak dapat berkata apapun lagi. Yah, seorang Uchiha memang selalu mempunyai cara untuk memberikan kejutan bukan?

(===)

"Ohayou minna."

Seorang guru berambut perak menjulang tinggi ke atas memasuki kelas Sasuke tanpa memasang wajah bersalah. Padahal dia sudah terlambat setengah jam dari waktu mengajarnya. Tapi itu memang ciri khas dari Hatake Kakashi. Guru matematika Konoha Gakuen yang selalu memakai masker berwarna hitam untuk menutupi wajahnya. Tapi Sakura yakin, itu semua hanya penutup bercak-bercak merah yang dia dapatkan dari gadis-gadis setiap malamnya.

Kakashi itu Sex addict. Lihat saja buku kecil yang dia bawa kemana-mana itu. Itu buku mature dan penuh dengan hal-hal vulgar.

"Ohayou.." balas semua murid yang segera memperbaiki posisi duduk mereka menghadap guru itu. Perhatian mereka teralih dari dua sosok di belakang kelas ke guru yang berada di depan kelas. Justru Kakashi-lah yang sekarang mengamati kedua sosok itu dengan dahi yang berkerut.

Di pojok kelas, seharusnya hanya ada sesosok laki-laki bernama Uchiha Sasuke. Yang selalu mengacuhkannya dan lebih senang mendengar musik daripada penjelasan aljabarnya. Dan hari ini berbeda, ada sesosok gadis yang dikenal Kakashi bernama Sakura.

Ketua Komisi kedisplinan di sekolah ini. Anak kebanggaan Kepala Sekolah dan apa benar yang dilihatnya saat ini? Sakura duduk satu bangku dengan Sasuke!

Lebih baik dia tidak memprotesnya. Daripada dia di pecat dan tidak bisa bekerja di mana-mana. Kau tahu kan Uchiha itu seperti apa? Mengerti?

"Nah nah, Hajimemashou," ucap Kakashi pelan dan pura-pura mengacuhkan apa yang telah terjadi.

Sementara Sakura sudah sangat risih dengan posisi-nya saat ini. Oke dia duduk di bangku dan tidak berdiri. Tapi ini namanya sudah keteraluan. Dia harus berbagi bangku yang cukup satu orang dengan majikannya, Sasuke.

Laki-laki itu duduk di belakangnya dengan membuka lebar kedua kakinya. Sementara Sakura duduk di sela kosong yang ada di antara kedua kaki laki-laki itu. Jadilah mereka seperti orang yang berbuat mesum. Dada Sasuke dapat menyentuh punggung Sakura dan kaki Sasuke dapat mengapit pinggul Sakura. Bahkan Nafas Sasuke dapat dirasakan di leher Sakura ketika dia sedikit menunduk untuk menulis materi yang ada di papan. Terkadang bibir simetris yang lembut itu terasa di kulit leher Sakura membuat bulu kuduk Sakura berdiri dan merinding.

Ini sudah cukup.

"Biar aku saja yang menulis!" kata Sakura cepat sambil merebut pulpen Sasuke dari tangan laki-laki itu. Dia berusaha menulis dengan biasa meski tangannya sedikit gemetar. Pikiran gadis itu berusaha menghiraukan yang terjadi dan fokus ke rumus-rumus yang sebetulnya telah di pelajarinya sebulan yang lalu.

"Tulisanmu rapi juga," ucap Sasuke pelan masih menunduk melihat kearah bukunya. Dadanya semakin menempel erat dengan punggung Sakura. Bahkan Tangan kanannya mulai melingkar di pinggang ramping Sakura.

"Ap-apa yang kau lakukan?"

"Hn, tidak ada."

Tangan kiri Sasuke mulai meraba paha mulus Sakura membuat mata emerald itu sedikit terkejut. Dia berhenti menulis dan melirik ke sosok pemuda itu. "He-hentikan Sasuke."

"Pelayan tidak bisa memerintah majikan." Seringai Sasuke terlihat kembali. Tangannya mulai masuk ke dalam rok Sakura yang berwarna biru tua itu dan berhenti di sebuah tempat yang sangat privasi bagi gadis itu. "SA-"

"Kau tidak ingin membuat kehebohan bukan?" tanya Sasuke lagi. Dia memasang wajah datarnya dan bersikap biasa saja agar tidak ada satupun orang di kelas itu mencurigai apa yang sedang dikerjakan oleh tangannya itu.

Sakura terdiam. Dia berusaha menahan jari-jari Sasuke yang memberikan sentuhan liar di titik pribadinya yang masih terbalut oleh kain tipis itu. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Oke, jujur saja dia sangat takut bahwa seluruh murid termasuk Kakashi akan memergoki mereka dan berita ini pasti menjadi gosip utama sekolah.

Bagaimana caranya agar Sasuke menghentikan ini semua?

"Ughh... Sa-sasuke," desih Sakura pelan saat jari telunjuk Sasuke mulai masuk menembus kain tipis itu. Menyentuh langsung daerah itu dan memberikan sensasi lebih untuk saraf Sakura."Ku-kumohon hentikan.." Mata Sakura mulai menyipit, pandangannya mengabur akibat tak kuasa menahan rangsangan yang ada.

Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi melebihi ini..

Tok Tok..

Kakashi menghentikan coretan spidolnya di papan. Dia menoleh kearah pintu kelas melihat sebuah bayangan terpantul di kaca pintu itu. "Masuklah."

"Sensei, sumimasen." Pintu itu bergeser pelan dan menampilkan sesosok laki-laki yang sangat dikenal oleh Sakura dan Sasuke. Rambut 'shaggy' merah-nya. Mata caramel dan senyuman manisnya. Itu Sasori.

Kenapa semua hal selalu terjadi terbalik dengan permohonan Sakura?

"Silahkan Sasori-san." Kakashi tersenyum ramah dan menyuruh Sasori untuk mendekatinya. "Ada apa?"

"Saya sebagai perwakilan dari OSIS ingin mengumumkan sesuatu. Boleh saya minta waktunya sebentar Kakashi-sensei?" tanya Sasori menggunakan senyum andalannya membuat hampir sebagian siswi di dalam kelas itu terpesona.

"Oh... Silahkan." Kakashi bergeser dan duduk di kursi guru yang terletak di pojok depan kelas. Tak beberapa lama muncul sosok lain masuk ke dalam kelas Sakura. Ah, ini semakin buruk. Sosok itu juga sangat dikenal oleh Sakura. Rambut kuningnya yang panjang dan wajahnya yang hampir selalu dilihatnya.

"Itu Deidara-senpai!" bisik-bisik murid perempuan mulai terdengar memenuhi kelas. Bisa dikatakan bahwa Deidara itu termasuk kakak kelas yang digandrungi oleh adik kelasnya. Yah, wajarlah dengan wajah yang cukup tampan dan kekayaannya. Pantas saja kan?

"Maaf mengganggu kalian semua. Kami dari OSIS ingin memberitahukan sesuatu yang berkaitan dengan acara tahun baru." Sasori mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas dan berhenti tepat di bangku Sasuke. Sebelah alisnya sedikit terangkat karena mata karamel-nya juga menemukan seorang gadis yang sedikit menarik perhatiannya akhir-akhir ini.

"Seperti tahun-tahun kemarin, Konoha Gakuen akan menyelenggarakan— Eh Sakura?" Deidara melanjutkan ucapan Sasori dan segera memotongnya dengan keterkejutan pemuda itu dengan sosok Sakura yang berada di dalam kelas ini. Apalagi dengan posisi duduk yang 'wow'.

Sial!

Sakura menutup matanya dan menunduk lebih dalam. Jangan sampai semua mata memandang kearahnya. Dengan ragu-ragu dia memandangi kedua senpai itu dan tersenyum memaksa.

"Ha-Hai.."

Susah sekali mengatakan kata itu. Apalagi Sasuke semakin gencar memainkan jari-jarinya di bawah sana. Nafas Sakura memberat dan tangannya menggenggam erat bolpoin Sasuke yang berwarna biru tua.

"Kok kamu bisa disini?" tanya Deidara lagi. Dia tersenyum kaku dan hampir menggaruk-garuk rambutnya bingung.

"Ha-hah? itu.." Sakura menundukkan kepalanya dengan segera ketika ia merasakan jari telunjuk Sasuke memasuki sebuah lorong kecil di tempat itu. Menyentuh daerah di dalamnya yang lembab dan mengaktifkan saraf-saraf Sakura di daerah itu.

"Apa kau baik-baik saja?" Sasori bisa menyadari tingkah laku Sakura yang sangat aneh itu wajahnya memerah dan tubuhnya sedikit gemetar. Bahkan dahi Sasori masih saja mengerut ketika Sakura mengangkat kepalanya dan tersenyum kearahnya.

"Aku baik-baik saja..."

"Baiklah. Oleh karena itu, Konoha Gakuen akan mengadakan Bounenkai. Jadi kami mengharapkan perwakilan dari setiap kelas sekitar lima orang untuk menjadi panitia atau pengurus acara ini," ucap Sasori lagi dengan senyuman manisnya meski ekor mata caramel itu masih tertuju ke Sakura.

"Kami sangat mengharapkan partisipasi dari junior seperti kalian. Dan setelah sekolah ini berakhir, semua perwakilan diwajibkan berkumpul di ruang rapat OSIS. Kami rasa itu saja, terima kasih banyak atas waktunya. Arigatou.." Deidara mengedipkan sebelah matanya membuat beberapa gadis berteriak histeris.

'Bagus! cepatlah pergi' Sakura sudah tidak tahan lagi. Saat ini jari tengah Sasuke telah menyusul temannya untuk bermain-main di dalam lorong itu. Menggeliat pelan dan keluar masuk layaknya anak kecil memainkan pintu kamarnya.

"Aku mau bertanya." Sasuke mengangkat tangan kanannya keatas dan menarik perhatian kedua kakak kelas itu. Sakura hanya dapat merutuki pemuda itu dalam hati dan bersumpah tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki macam Sasuke untuk kehidupan yang kedua.

"Apa yang ingin kau tanyakan Sasuke?"

"Bounenkai ini bersifat wajib?" Pertanyaan Sasuke lebih menyerupai sebuah keluhan. Dia menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sandaran kursinya tanpa menghentikan kegiatan jari-jari kirinya. "Kau tahu kan? Aku sudah mempunyai janji dengan beberapa wanita hari itu."

Oh Sasuke! Bahkan alasannya itu pun menjurus kearah 'Wanita'.

Sasori tertawa kecil sementara Deidara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mungkin kau bisa meminta ijin nanti Sasuke. Itu hal yang gampang. Setidaknya, kau bisa berbohong sedikit untuk alasannya. Tsunade-sama pasti akan menolaknya habis-habisan kalau alasannya seperti itu," jelas Sasori panjang lebar.

"Hn, aku mengerti." Sasuke mengangguk pelan dan menyeringai kecil. "Kau tidak ingin bertanya, gadis jelek?"

"Apa maumu hah?" bisik Sakura pelan dengan nada yang menusuk. Dia menoleh kearah Sasuke dan memandangi laki-laki itu dengan kesal.

"Kau ingin bertanya Sakura-chan?"

Jari manis Sasuke pun akhirnya ikut memasuki lorong itu dengan tempo yang semakin cepat. "Argh!" teriakan kecil Sakura terdengar samar-samar.

"Kau yakin tidak apa-apa Sakura-chan? Kau terlihat aneh," kata Sasori yang semakin kuatir dengan gadis itu. "Perlu aku membawamu ke U-"

"Tidak!" Penolakan Sakura terdengar lantang saat Sasori hendak mendekati bangku Sakura. Dia terlihat sedikit panik dan berusaha memikirkan sesuatu. "Itu—itu.. aku baik. Ugh, baik saja.."

"Kau yakin?" Sebelah alis Sasori terangkat. Dia mulai curiga dengan tingkah laku Sakura.

"Aku sangat yakin." Sakura tersenyum lebar demi menyakinkan seniornya itu. "Dan aku tidak ada pertanyaan, senpai."

"Baiklah. Kalau begitu kami permisi." Deidara membungkuk hormat ke Kakashi dan segera mengajak Sasori keluar dari kelas itu. Dari tadi dia sudah merasa gerah dengan tatapan para siswi di kelas itu. Sangat menusuk dan mengerikan. Layaknya seorang penguntit.

"Hampir saja—ahh, Sa-sasuke.." Tangan Sakura meninggalkan bulpoin itu di atas meja. Dia meremas kuat roknya seiring perasaannya yang mulai tidak karuan. Perutnya sekakan-akan digelitiki oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari. Ada sesuatu yang tidak dapat ditahannya lebih lama lagi. Begitu menyiksanya dan membuat tubuhnya memanas,

Sebentar lagi dia akan mencapai titik itu. Ya, sebentar lagi dan—

"Sepertinya aku mulai mencatat lagi." Dengan cepat Sasuke menarik ketiga jarinya dari dalam lorong itu. Menjauhi daerah intim Sakura dan mengambil bulpoin birunya. Berpura-pura seperti tidak pernah melakukan sesuatu dan mencatat rumus-rumus di depan tanpa dosa.

Nafas Sakura masih memburu. Tadi benar-benar ending yang mengantung. Sasuke menggodanya sekarang. Membuatnya tidak tenang dan ingin mengakhiri perasaan tadi. Bagaimana ini? kenapa ada sebuah keinginan di benak Sakura dan keinginan itu tidak pernah terbayang akan tercipta di otaknya.

Keinginan untuk melanjutkan hal tadi.

Keinginan untuk disentuh oleh Sasuke.

Keinginan untuk— cukup Sakura! Dia terlihat bodoh sekarang.

'Uchiha sialan!' Sakura menggelengkan kepalanya cepat dan menggeram kesal sementara Sasuke hanya tersenyum kecil seperti sedang merayakan kemenangan besarnya.

Selamat Sasuke, Kau berhasil!

(===)

"Jadi sudah diputuskan. Perwakilannya adalah Hyuuga Neji, Hyuuga Hinata, Uzumaki Naruto, Inuzuka Kiba dan Aburame Shino," kata Neji sang ketua kelas dengan lantang sembari menatap secarik kertas di tangannya. "Setelah sepulang sekolah ini, segera ke ruang rapat. Mengerti?" Matanya yang keputihan itu memandangi ke-empat anak lainnya dengan ekspresi datar. Tapi dapat dilihat disitu ada sebuah paksaan yang harus dituruti. Dia seorang Hyuuga, berani melawannya?

"Kau tidak ikut kan?" tanya Sakura yang memandangi Sasuke tengah merapikan bukunya. "Kalau begitu sore ini aku tidak bisa langsung ke rumahmu. Aku jadi perwakilan dari kelasku."

"Darimana kau tahu?" tanya Sasuke balik memandangi Sakura dengan ekspresi datarnya.

"Shikamaru mengirimkan sms tadi." Tangan kanan Sakura menggoyang-goyangkan ponselnya.

"Hn, baiklah." Sasuke mengambil tasnya dan menaruhnya di bahu kirinya. "Sayang sekali, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan yang tadi dengan segera." dia menyeringai licik dan berlalu melewati Sakura.

"APA! Aku tidak sudi melanjutkannya!"

"Sudahlah. Aku mengerti, kau tidak perlu berbohong. Sampai jumpa, gadis jelek." Sasuke melambaikan tangannya tanpa menoleh kearah gadis itu. Di depan pintu kelas sudah ada Karin, Tatsuya dan beberapa gadis yang Sakura kenal sebagai biang onar, langsung berhambur kearah Sasuke. Merangkulnya, memeluknya dan bahkan hampir menciumnya.

"Kenapa Tuhan bisa menciptakan manusia seperti dia.." keluh Sakura menepuk jidatnya. Untuk ketampanan, Sasuke adalah maha karya yang sangat indah. Untuk sifat? sangat cacat! Memang dibalik keindahan ada perangkap yang sangat keji, percayalah!

"Sakura-chan!" Naruto menepuk pundak Sakura perlahan, membuat gadis itu menoleh kearahnya. "Bareng ke ruang rapat yuk?"

"Oke!" Sakura mengangguk cepat dan segera berjalan keluar kelas bersama Naruto menuju ruang rapat OSIS yang terletak di tengah gedung sekolah.

"Aku tidak menyangka kalau Sakura-chan mau menjadi perwakilan kelas. Biasanya kan Sakura-chan selalu bekerja setiap tanggal tiga puluh satu."

"Ah, tidak tidak. Aku akan membantu mereka sebelum tanggal itu." Jari telunjuk Sakura berayun ke kiri dan ke kanan menolak pernyataan Naruto. "Saat hari 'H'-nya aku akan ijin."

"Oh, apa jangan-jangan kau janjian dengan teme ya?" goda Naruto dengan cengiran anehnya. Dahi Sakura berkerut dan sebuah death glare tertuju ke bocah pirang itu.

"Kau ingin kujadikan 'Naruto' yang sesungguhnya, huh?"

"Aku kan hanya bercanda," jawab Naruto gugup sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan Sakura."Tapi tidak terasa ya? sudah akhir tahun. Beberapa minggu lagi tahun berganti."

"Hm." Sakura mengangguk sekilas. Dan di akhir tahun dia mengenal sosok bernama Uchiha Sasuke. Pertanda buruk untuk mengakhiri tahun ini.

"Apa harapanmu untuk tahun kedepan Sakura-chan?"

"Eh?" Sakura terdiam. Dia memandangi lorong kelas yang masih ramai dengan kesibukan murid-murid untuk segera pulang ke rumah masing-masing.

"Sakura-chan sudah cantik, jenius, ketua komisi kedisplinan, hidup juga tidak kekurangan kan? Rasanya sudah sempurna."

"Tidak, ada yang kurang. Hidupku itu kacau," gumam Sakura masih menatap lurus ke depan. Sepertinya dia sedang melamunkan sesuatu dan membuatnya dengan spontan menyanggah perkataan Naruto.

"Maksudnya?"

Sakura tersentak dari lamunanya. "Ah tidak tidak. Aku tadi hanya asal bicara saja. Lupakan." Dia menggaruk-garuk rambut pink-nya dengan pelan.

"Oh, kalau aku sih semoga aku lulus ujian Ibiki-sensei saat kenaikan kelas nanti. Kau tahu kan betapa mengerikannya dia? Soalnya saja mengerikan, apalagi gurunya." bibir Naruto terlihat mencibir dan sedikit maju kedepan. Selama ini dia selalu takut dengan ujian dari guru Fisika-nya itu. Sangat mengerikan!

"Kalau kau mau mengikuti nasihatku sih itu hal yang gampang!" Tangan Sakura memukul kecil bahu Naruto, sekedar untuk menyemangati anak didiknya itu.

"Yosh Sakura-sensei!" ucap Naruto semangat mengepalkan tangannya dan memandangi Sakura penuh arti. Kemudian dia kembali ke sikap semula dan menghela nafas singkat, "Kalau Teme sih, pasti harapannya cuman satu."

"Apa?"

"Dia pasti berharap agar Hinata-chan mau menerimanya. Teme kan menyukai Hinata-chan.." Perkataan Naruto membuat langkah Sakura terhenti. Ditatapnya Naruto yang terus berjalan dengan sangat tidak percaya.

"HAH? masa! Orang playboy seperti dia suka Hinata?"

"Ehh?" Langkah Naruto ikut terhenti mendengar pertanyaan Sakura yang sedikit memekikkan telinga, "Sakura-chan baru tahu? Hinata-chan itu teman masa kecil kami. Dan dia menyukai Hinata-chan hm..." Naruto terdiam sejenak, dia terlihat berpikir keras untuk mengingat kembali. "Sejak kelas tiga sekolah dasar."

"Lama sekali. Tapi kenapa Sasuke malah bersikap seperti itu? Mana mungkin Hinata menyukai pria seperti itu. Yah, kau tahu kan? Sasuke itu suka tidur dengan wanita-wanita lain." Tangan kiri Sakura berayun-ayun menjelaskan betapa 'playboy' nya Sasuke itu.

"Teme jadi seperti itu sejak ibunya meninggal tiga tahun yang lalu. Kakaknya Itachi melepas kewajibannya sebagai Uchiha dan pura-pura mengidap sakit parah. Ide pasaran, tapi cukup efektif," jelas Naruto dengan dahi yang mengerut.

"Fugaku-sama juga sering sakit-sakitan sejak istrinya meninggal. Akhirnya Teme-lah yang sering mengurusi perusahaan Uchiha. Hebat sekali dia, aku saja sudah ngeri melihat proposal ayahku," lanjut Naruto bergidik ngeri dan mengangkat kedua bahunya dengan cepat ketika membayangkan betapa rumitnya proposal itu melebihi rumus fisika Ibiki.

"Oh." Sakura hanya mengangguk mengerti kemudian melanjutkan langkahnya kembali yang segera disusul oleh Naruto. Pantas saja Sasuke pernah berkata bahwa Sakura tidak pernah tahu mengenai kehidupannya. Rupanya laki-laki menyebalkan itu mempunyai kehidupan yang bermasalah dan sangat rumit

"Eh Sakura-chan?"

"Hm?"

"Memangnya apa sih harapanmu? Soal cinta ya?" Mata Aquamarine Naruto melirik ke sosok Sakura disampingnya.

"Bukan."

"Pasti uang," jawab Naruto menebak-nebak. Sakura kan selama ini selalu mengejar uang. Jadi mungkin saja dia berharap tahun depan mendapat uang yang banyak.

"Salah."

"Lalu?" alis Naruto terangkat bingung. Daritadi dia salah menyebutkan, aneh.

"Rahasia." Lidah Sakura terulur kearah Naruto.

"Sensei pelit ah," sahut Naruto dengan nada yang dibuat-buat. Dia bahkan menggoyang-goyangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan layaknya penari Hawai.

Jitakan kecil mendarat di kepala pirang itu,"bukan urusanmu."

"Iya iya, semoga harapan itu terkabul di tahun mendatang ya! Kita sama-sama berjuang!" Naruto tersenyum lebar, menampilkan gigi-giginya yang tertata rapi. Dia mengepalkan tangannya dan mengucapkan kata-kata penyemangat yang sama sekali tidak digubris oleh Sakura.

"Hm.." Gadis itu hanya mengangguk singkat dan tersenyum kecil. Mata emeraldnya menatap langit-langit sekolah yang berwarna putih terang. Berbagai ingatan terlintas di benaknya. Ingatan tentang masa kecilnya dimana seorang wanita cantik, berambut merah muda panjang dengan mata karamel yang indah.

Dia memandangi Sakura dan tersenyum sedih. Sebuah elusan lembut diberikan oleh wanita itu kemudian dia menghilang di balik pintu. Menghilang dan tak pernah mempelihatkan sosoknya di depan Sakura hingga sekarang.

'Semoga kita bisa bertemu lagi, Okaa-san.'

(===)

Sementara itu, di sebuah toko bunga yang terletak di pertigaan jalan mulai terlihat sepi. Dari pagi toko itu sangat ramai oleh pengunjung hilir mudik untuk membeli bunga-bunga indah nan harum. Tapi entah mengapa sore ini semua mendadak menghilang. Begitu sepi dan begitu tenang.

Di dalam toko itu terlihat sosok seorang laki-laki paruh baya sedang mengatur beberapa bunga lili hingga terlihat menarik. Rambut panjangnya yang berwarna hitam legam terikat satu kebelakang. Mata emeraldnya yang terang dibingkai oleh kacamata rabun jauh tanpa frame. Wajahnya sangat lembut dan tidak terlihat bahwa laki-laki itu sudah berumur tiga puluh lima tahun.

Dan asal kalian tahu, laki-laki itu juga merupakan alasan utama mengapa toko bunga Haruno selalu ramai oleh para pengunjung yang didominasi oleh ibu-ibu atau gadis-gadis muda. Pria idola di pertokoan itu, meski dia telah mempunyai seorang anak bernama Haruno Sakura. Seorang pria yang telah bercerai dengan istri-nya sejak sebelas tahun yang lalu.

Laki-laki itu bernama Haruno Ojita. Ayah Sakura, sekaligus pemilik toko bunga Haruno Florist.

"Kau terlihat cantik sekarang, Lili-san." ucap Ojita dengan senyuman lembut miliknya. Dia memandangi hasil karangan bunga Lili-nya dengan puas dan menyeka keringat tipis yang ada di dahinya.

Krintiiing~

Furin yang tergantung di pintu kaca toko itu berbunyi. Menandakan bahwa toko itu kedatangan seorang tamu. Dengan cepat Ojita menyambut tamu itu dengan senyuman khasnya, namun setelah dia menoleh untuk melihat wajah tamu itu. Senyuman lembut miliknya terlihat mengeras,

"Kau.."

"Lama tidak bertemu Ojita."

"Sudah sebelas tahun," jawab Ojita pelan dan masih memandangi wajah tamunya yang berwujud seorang wanita cantik berambut merah muda seperti anaknya. Dia memakai mantel mahal berwarna putih dengan topi lebar berwarna senada sebagai pelengkap. Matanya tertutup oleh kacamata berwarna pink dan sebuah senyuman terlukis di wajahnya.

Ojita menarik nafasnya dalam-dalam. Tak pernah terbayangkan bahwa dia akan bertemu dengan wanita itu kembali. Seseorang yang pernah menjalin hubungan dengannya, terikat jiwa dan raga. Hingga suatu paham memisahkan mereka dan juga meninggalkan seorang anak bernama Sakura.

"Sungguh suatu kejutan kau datang kemari." Ojita berusaha tersenyum lembut dan mendekati wanita itu. "Ada keperluan khusus.." Dia berhenti sejenak, berusaha menelan air ludahnya yang tertahan. "Hana?" Akhirnya nama itu terucap dari mulutnya. Nama yang sudah lama dirindukannya meskipun masih ada rasa marah di hati pria itu.

"Aku hanya ingin mengunjungimu saja dan Sakura.." Wanita yang bernama Hana itu melepaskan kacamatanya dan menatap lurus kearah Ojita. Mempertemukan Emerald dengan karamel yang manis.

"Dia belum pulang."

"Oh.." Hana mengangguk singkat dan berjalan mendekati rangkaian Lili milik Ojita. Tangannya yang terbalut sarung tangan berwarna krem itu menyentuh permukaan kelopak bunga Lili dengan perlahan. "Sepertinya bisnismu lancar.."

"Yah, lumayan." Mata emerald Ojita terus mengamati gerak-gerik Hana, "bagaimana denganmu? Kudengar kau menikah dengan seseorang yang kaya.." Suara Ojita sedikit memberat ketika menyebutkan kata 'kaya'. Ya, itulah yang membuat mereka berpisah. Paham antar dia dengan Hana mengenai Kekayaan sangatlah berbeda jauh.

"Wah wah.. ternyata kau masih perhatian dengan keadaanku." Hana tersenyum kecil. Dia menyandarkan punggungnya di meja kasir dan memandangi Ojita. "Aku menikahi duda kaya yang memiliki beberapa rumah sakit besar di Jepang. Hidupku sangat baik."

"Baguslah kalau begitu."

"Ojita.." panggil Hana pelan. Dia menatap laki-laki itu dengan serius. "Kau masih ingat perjanjian kita kan?"

"Itu.."

"Aku akan membawa Sakura saat hidupku lebih baik dari hidupmu. Kau ingat itu?" tanya Hana lagi membuat Ojita terdiam. "Aku akan membawa Sakura awal tahun nanti. Kuharap kau sudah memberitahukan ini kepada Sakura."

"Hana, bisakah? Kau sudah memiliki segalanya, bisakah—" Ojita memelankan suaranya, dia terlihat menahan nafasnya dan memandangi Hana dengan tatapan nanar. "—Sakura bersamaku?"

Sebuah hembusan nafas panjang dikeluarkan oleh Hana. Dia menggeleng pelan dan tersenyum menyesal, "maafkan aku Ojita. Tapi biarkan aku juga hidup bersama anakku."

"..." Ojita hanya terdiam. Pikirannya galau memikirkan ini semua. Dia sama sekali tidak ingin berpisah dengan anak yang sangat dia sayangi itu. Apalagi dia belum pernah membicarakan hal ini kepada Sakura.

"Sebelas tahun itu bukanlah waktu yang singkat, Ojita.."

"Ta-.."

"Okaasan?" Suara seseorang menghentikan perkataan Ojita. Suara yang bersumber dari seorang remaja laki-laki dengan seragam sekolah yang sama dengan Sakura. Rambutnya yang berwarna shaggy merah terlihat sedikit berantakan dan matanya sama seperti Hana. "Bisakah cepat sedikit? Aku ada rapat setelah ini."

"Ah, aku sampai lupa. Ojita, dia anak tiriku. Namanya Akasuna Sasori," ucap Hana tersenyum senang sambil merangkul Sasori. "Dan tentunya dia akan menjadi kakak bagi Sakura."

"Salam kenal paman, namaku Sasori." Sasori memberikan senyuman manisnya kepada Ojita. Dia membungkukkan badannya sebentar dan menatap sebuah foto yang terpajang rapi di belakang meja kasir. Di foto itu terlihat Sakura bersama Ojita sedang tersenyum lebar dengan sebuah rangkulan yang hangat. "Aku sangat senang mempunyai adik yang sangat cantik seperti Sakura."

Dan inilah awal sesungguhnya dari kehidupan Sakura. Seiring kedewasaan maka masalah yang datang semakin rumit bukan?

"Aku sangat menyukainya."

TBC

A/N : woh! akhirnya chapter 4 keluar! maaf menunggu lama~ Aki memang sedang mengalami masa-masa adaptasi dengan tugas yang banyak. Semua ide yang terlintas harus dikeluarkan menjadi sebuah gambar. Hasilnya? Fic Aki terbengkalai =_=

Terima kasih banyak untuk semua reviewer dan para reader yang selalu mendukung Aki melanjutkan fic ini! benar deh, Aki selalu terhantui untuk menamatkan fic ini hehehe..

Maaf tidak bisa menulis nama reviewers satu-satu. Tapi sungguh! Aki sangat berterima kasih kepada kalian semua yang masih mau membaca fic ini :D

kenapa Masashi-sama tidak pernah memberitahukan nama orangtua Sakura? padahal Sakura itu heroine bukan? =_= dia salah satu tokoh yang penting. Entahlah? apa akan ada chapter dimana Masashi-sama mau menjelaskan asal muasal keluarga Saku? ahahaha. Aki membuat ayah Sakura menyerupai Ayah Sakura di Cardcaptor Sakura. XD

Senang sekali membuat tokoh Ojita hadir di fic ini ahahah~

Nah nah! reviews nyo? :3