Chapter 5
Servant
By : AkinaYuki
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate M
Warning AU, OOC and lime (?)
Author Note : Wah! Sankyuu atas review kalian yang menghantui Aki sepanjang malam. HAHAHAHAHA~ *gila* Oke, ada yang minta perincian umur ya?
Sasuke, Sakura dan lain-lainnya yang sepantara dengan dia itu semuanya berumur 16 tahun ke 17 tahun. Sedangkan Sasori itu 17 ke 18 tahun. masalahnya disini adalah Sakura adalah murid akselerasi. Jadi meskipun umurnya sama dengan Sasuke dan lain-lain, bisa dibilang dia itu senior karena bisa dikatakan Sakura sudah kelas tiga seperti Sasori. *narik nafas*
Enjoy the story!
"Ohayou Danzo-sama!" Sakura tersenyum lebar ketika dia melihat sosok pria tua yang menjabat sebagai kepala pelayan keluarga Uchiha tengah berdiri diam di taman tengah. Sepertinya Danzo sedang mengawasi seseorang berambut biru memetik bunga yang ada di taman itu.
"Ohayou nona Sakura," balas Danzo dengan senyuman khasnya. Dia mengalihkan pandangan perfeksionisnya dari pekerjaan wanita itu menuju sosok Sakura yang berjalan mendekatinya.
"Sedang apa?" Mata Emerald Sakura melirik wanita yang sibuk memilih mawar-mawar pilihan dengan berbagai warna. Jujur saja, mawar-mawar itu sudah sangat indah dan memukau. Tanpa dipilih pun pastinya sudah bisa menghiasi setiap ruangan dengan sempurna.
"Memilih bunga untuk pesta akhir tahun. Meski masih beberapa hari lagi, tuan besar Fugaku ingin agar rumah ini sudah siap dengan baik."
"Aa.." Sakura mengangguk sekilas mendengar penjelasan Danzo. "Mawarnya bagus semua! Mekar sempurna dan warnanya indah. Sepertinya dirawat dengan bagus. Jumlah kelopaknya juga banyak," kata Sakura lagi sambil mendekatkan wajahnya menuju salah satu bunga mawar itu. "Dan harum sekali! Pasti diberi perawatan yang baik."
"Ah, kau tahu banyak rupanya." Wanita yang daritadi memotong mawar itu akhirnya berbicara dan memandangi Sakura. Rambut birunya yang pendek dengan hiasan bunga origami di pinggir rambutnya membuat wanita itu terlihat cantik dan dewasa.
"Ayahku seorang florist, dia mengajariku banyak hal."
"Benarkah?" Wanita itu tersenyum dan memandangi salah satu mawar di depannya.
"Hehehe begitulah. Ayahku pernah bilang bahwa mawar itu adalah lambang cinta yang paling baik. Terlihat-"
"Indah dan memukau, namun ketika dijelajahi akan terasa menyakitkan dan menimbulkan kesedihan." Perkataan wanita itu melanjutkan kalimat Sakura. Dia menghela nafas singkat dan tersenyum kembali ke arah gadis berambut merah jambu di sampingnya. "Aku jadi ingin bertemu ayahmu. Ah, namaku Konan. Tukang kebun disini."
"Namaku Sakura. Aku pelayan Sasuke-sama."
"Aku tahu." Konan mengerlingkan sebelah matanya membuat Sakura memandanginya dengan bingung. "Gosipmu beredar dengan cepat." Dia memajukan wajahnya dan berbisik sesuatu di telinga Sakura. "Berusahalah Sakura-chan, taklukkan laki-laki manja itu."
"EH?" Wajah Sakura memerah. Dengan cepat dia menggerak-gerakkan kedua tangannya. "Kau salah paham Konan-san! I-itu tidak seperti yang digosipkan."
Konan hanya tertawa keras. "Anak muda memang menarik. Iya kan Danzou?" Dia merilik Danzou yang hanya terdiam dan tersenyum kecil. "Aku jadi merindukan Pain. Yap! Selesai."
"Tolong kau bawa bunga mawar itu ke ruang tengah," perintah Danzou kepada Sakura. "Tuan muda Sasuke juga berada disana."
"Baik." Sakura mengambil vas yang berisi bunga mawar berwarna merah darah dari tangan Konan dan segera meninggalkan taman itu setelah memberikan senyuman lebar kepadanya.
'Dimulai lagi hari menyebalkan dengan Sasuke,' batin Sakura dengan sebuah dengusan kesal dari bibirnya. Sudah lebih dari seminggu Sakura bekerja sebagai pelayan pribadi dari Uchiha Sasuke. Awalnya terasa sangat berat, apalagi Sasuke sering melakukan hal-hal yang tidak senonoh dan menjurus ke tindakan mesum kepadanya. Tapi toh, seiring waktu sepertinya Sasuke mulai mengurangi frekuensi kenakalannya itu.
Bahkan kemarin tidak terjadi apa-apa yang menimpanya. Hebat bukan? Ya! Beruntung sekali dia.
Tapi—
Entah kenapa justru dia bingung melihat sikap Sasuke yang aneh itu. Bukan soal berhenti melakukan kegiatan mesumnya. Pria pantat ayam itu tetap melakukannya dengan para gadis. Apa kata dunia Sasuke berubah menjadi pria suci yang jauh dari hal-hal semacam itu? Tidak mungkin. Hanya saja, kelihatannya dia lebih sering terdiam dan melamun.
Apa dia ada masalah?
"AH!" Sakura menjentikkan jarinya dan berekspresi seolah menemukan jawaban dari soal fisika yang sangat rumit.
Ini pasti ada hubungannya dengan Hinata. Ya pasti!
Sasuke menyukai Hinata. Tapi menurut pengamatan Sakura, Hinata bukanlah tipe wanita yang menyukai bad boyseperti Sasuke. Satu banding tidak terhingga kalau itu terjadi. Lagipula setahu Sakura, Hinata itu sangat menyukai Naruto. Teman bodohnya yang memang benar-benar bodoh itu.
Dulu Sakura sering bertanya-tanya kenapa Hinata yang bak putri khayangan itu bisa menyukai pria seaneh dan sebodoh Naruto. Tapi sekarang, dia mengerti kenapa.
Lebih baik Naruto daripada pria semacam Sasuke yang playboy dan God of Sexitu bukan?
"Lebih baik Sasori-senpai sih," ucap Sakura lagi dengan sebuah kekehen kecil. Sasori itu lebih baik daripada mereka berdua. Sangat sopan dan sangat baik, penampilannya juga tidak meragukan. Senyumannya manis dan matanya begitu teduh. Membayangkannya saja bisa membuat Sakura bergerak-gerak aneh di tempat.
"Hei? Kau gila?"
Suara Sasori tidak senyaring itu. Suaranya lebih lembut dan halus. Benar-benar meneduhkan hati.
"Hei gadis aneh."
Bahkan Sasori tidak akan pernah memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
"Kau mau aku cium?"
Sasori tidak mungkin berkata seperti itu. Pertanyaan itu lebih pantas diucapkan oleh Sasuke. Eh? Sasuke?
Sakura kembali dari alam sadarnya dan mendapati Sasuke tengah berdiri di depannya dengan sedikit membungkuk. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana hitamnya dan wajahnya sangat dekat dengan wajah Sakura saat itu.
Mata Sakura membulat dan mengerjap berkali-kali. "Sudah selesai memikirkanku?" tanya Sasuke dengan seringai kecilnya.
Kaki Sakura segera bergerak dengan cepat menciptakan jarak yang cukup di antara mereka. "Kau mengagetkanku!" Jari telunjuknya mengarah ke sosok Sasuke yang hanya berdiri tegap menatapnya.
"Kau melamun di tengah jalan." Sasuke berjalan pelan menuju sebuah kursi putih dengan ukiran klasik. "Kalau tidak ku sadarkan, kau bisa terjun ke beranda depan." Telunjuk putih Sasuke mengarah ke pintu kaca ganda yang tengah terbuka lebar tak jauh dari Sakura.
"Aa.." Sakura hanya mengangguk singkat dan segera meletakkan vas cantik itu di meja tengah.
Jemarinya bergerak pelan menata mawar-mawar itu kembali agar terlihat rapi dan semakin indah. Sesekali mata Emeraldnya melirik sosok majikan mudanya yang tengah duduk sambil meminum kopi tanpa gulanya dengan tenang.
'Tuh kan dia aneh..' Sebuah dengusan kecil terdengar keluar dari mulut Sakura. Setelah dia yakin atas pekerjaannya, dia berdiri sebentar dan menatap sosok Sasuke dengan penasaran. Merasa dirinya diperhatikan, laki-laki raven itupun mengangkat sedikit wajahnya dan membalas tatapan Sakura dengan sebuah seringai kecil di wajahnya.
"Aku tahu kalau wajahku ini sempurna," ucap Sasuke pelan sembari meletakkan cangkir kopinya di depan meja kecil di depannya. Dia menyandarkan punggungnya lebih dalam dan menyangga kepalanya yang sedikit miring ke kanan dengan tangan kanannya. "Tidak perlu menatapku seperti itu, gadis jelek."
Decihan kecil keluar dari bibir pink Sakura. Kedua mata emerald itu berputar dan kedua tangan gadis itu bertengger sempurna di pinggang rampingnya. "Jangan mulai ya.."
"Kita belum memulai apapun." Sasuke memasang wajah polosnya yang terlihat dibuat-buat. "Apa kau ingin memulai sesuatu, Hm?" Sebelah alisnya terangkat sempurna membuat Sakura reflek menepuk jidatnya yang agak lebar itu.
"Aku dengar akan ada pesta akhir tahun di rumah ini," kata Sakura yang mencoba berbicara agak serius. Sasuke hanya menggumam kata khasnya dan mengangguk sekilas. "Well, apa itu berarti tidak ada libur akhir tahun?"
Sasuke terdiam sejenak mendengar pertanyaan pelayannya itu. "Kalau kau bekerja saat itu, mungkin itu bisa dihitung sebagai overtime. Upahnya berbeda."
"Benarkah? Sepertinya lumayan!" Sakura tersenyum senang dan mata hijau beningnya terlihat berbinar-binar bahagia. Kalau yang dikatakan Sasuke itu benar, tentu saja dia tidak perlu repot-repot mencari kerja paruh waktu akhir tahun yang sering dilakukannya selama ini. Lagipula, dilihat dari gajinya, mungkin bayaran overtime itu jauh melebihi upah paruh waktu.
"Kau senang sekali.."
"Tentu saja! Aku bisa mendapatkan banyak uang untuk awal tahun kalau yang kau katakan itu benar."
"Kau benar-benar gila uang, gadis aneh."
"Hei! aku tidak gila uang. Dan jangan memanggilku dengan sebutan gadis aneh!" Sakura memajukan bibirnya dan dahinya mengerut mendengar perkataan Sasuke yang sangat menyinggungnya. "Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup dengan baik."
"Oh.." Sasuke menggumam pelan dan mengambil kembali cangkir kopinya. Dia mengamati permukaan kopi itu dan mengikuti ampas-ampas kopinya berhenti di pinggiran cangkir. "Dengan uang?"
"Yup. Kalau aku mempunyai banyak uang, kurasa itu sudah cukup membuatnya berpikiran bahwa aku hidup dengan baik," sahut Sakura yang memegang dagunya sambil melihat langit-langit ruang tengah yang dihiasi oleh lampu-lampu klasik mewah nan berkilau. "Sejujurnya aku tidak suka melakukan ini."
"Hn?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya lagi dan meneguk kopinya.
"Menurutmu kehidupan yang baik itu seperti apa?"
"Banyak wanita.."
"Ayolah! Jawab yang serius."
Sasuke mengangkat ujung bibirnya melihat ekspresi kesal Sakura di depannya. Dia memangku cangkirnya dan menatap pemandangan luar yang dapat terlihat dari balik pintu kaca beranda yang terbuka lebar. "Hidup dengan orang-orang yang aku cintai."
Ah, sepertinya Sasuke kerasukan sesuatu. Jawaban yang keluar dari mulutnya itu benar-benar tidak terduga dan membuat jantung Sakura terkena serangan mendadak di tempat. Sebenarnya tidak separah itu. Mungkin hanya membuat gadis berambut pink itu menggumam kata 'woaah' dan menatap Sasuke dengan mata yang sedikit membesar.
"Kau bisa mengucapkan perkataan seperti itu? Tidak kusangka! Hebat!" Sakura berpura-pura memberi sambutan meriah dengan memberikan tepukan tangan yang terlihat sebagai sebuah ejekan sempurna untuk Sasuke.
"Jangan meledekku."
"Aku tidak meledekmu. Kau memang hebat tuan muda tampan!" ucap Sakura lagi diiringi kekehan kecil darinya. "Setidaknya kau tahu hidup bahagia versimu seperti apa. iya kan?"
"Versimu?"
"Hmm.." Sakura memasang pose berpikir agak lama. Wajahnya terlihat serius dan matanya sedikit menyipit. Dia melirik kearah Sasuke dan sebuah cengiran lebar terbentuk di wajahnya. "Aku kalah darimu hehehe.."
Sasuke mengerutkan dahinya dan memandangi Sakura dengan bingung. "Maksudmu?"
Helaan nafas terdengar lagi dari bibir gadis itu. Mungkin kali ini terdengar agak panjang dan sedikit berat. Jemarinya menelusuri lekuk bunga mawar itu kembali dan memainkannya agak lama. "Aku belum menemukan versi hidup baik ku."
"Oh." Hanya sebuah anggukan singkat diberikan oleh Sasuke dan ruangan itu kembali sunyi.
"Hei." Suara Sakura memecah kesunyian itu dan membuat Sasuke kembali fokus dengan kehadiran pelayannya itu. "Kau suka Hinata ya?"
"Bisa kau ulangi pertanyaanmu?"
"Kau suka Hyuuga Hinata ya?" tanya Sakura lagi dengan suara yang lebih dikeraskan.
"Maaf?" Sasuke menyipitkan sebelah matanya dan mencondongkan telinga kirinya ke arah Sakura.
"Sasuke!" teriak Sakura yang sudah jengkel dengan respon laki-laki jahil itu. "Jangan menguji kesabaranku! Kau-suka-Hyuuga-Hinata kan?"
"Kau dapat info darimana.. Naruto?"
"Er- sudahlah! jawab saja apa susahnya sih. Iya atau tidak?"
"Akan kuhabisi dia."
"Hei!" Sakura menghentakkan kakinya dengan kesal. Tapi tiba-tiba dia menyadari sesuatu dan menatap Sasuke penuh arti, "Tunggu tunggu.. jadi kau suka Hinata? iya kan?"
"Setelah itu aku akan 'menghabisimu'."
"Ayolah Sasuke, Kalau kau jujur kan aku bisa—"
"Meledekku? Tidak."
"Kau ini pikirannya buruk semua ya." Sakura menatap sinis pria berambut raven itu. Dia mengangkat kedua bahunya dan menghela nafas singkat. "Yah mungkin saja aku bisa membantumu. Hinata kan teman dekatku!"
Sasuke meliriknya dan seakan-akan memperhatikan perkataan gadis itu. Sakura hanya tersenyum lebar dan menggaruk-garuk kepalanya pelan, "Tidak gratis sih."
"Tidak perlu," ucap Sasuke pelan dan mengalihkan pandangannya keluar beranda. "Mustahil dia menyukaiku."
"Makanya kubantu." keluh Sakura yang masih tetap memaksa Sasuke.
"Memang kau apa? Malaikat? Jadi manusia saja jelek."
Perkataan Sasuke langsung membuat ekspresi wajah Sakura berubah masam. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menarik salah satu ujung bibirnya hingga sebagian gigi rapinya terlihat. "Tolong jangan mengejekku ya."
"Aku berbicara kenyataan." Senyuman menyebalkan menghiasi wajah tampan Sasuke. Dia menyandarkan punggungnya lebih dalam di sofa empuk itu dan melirik Sakura. "Aku sudah tidak menyukainya lagi."
"Eh kau menyerah? Kenapa?"
"Kau mau tahu?" tanya Sasuke dengan menaikkan sebelah alisnya. Jari telunjuknya terangkat dan menunjuk bibir tipisnya. "Cium aku."
Mata Sakura melotot dan memasang ibu jempolnya terbalik di depan Sasuke. "Pergi ke neraka."
"Kemanapun asal bersamamu, honey."
Sakura semakin membelalakkan matanya dan memasang ekspresi jijik, "Yaikz! Kenapa kau memanggilku honey!"
"Kau tidak suka aku memanggilmu gadis jelek bukan?" tanya Sasuke lagi.
"Honey itu lebih buruk!"
"Darling?" tawar Sasuke sambil memiringkan kepalanya.
"Dalam mimpimu!" Mata Sakura menyipit memandangi majikannya itu.
"Baby?"
"Mati saja kau!" teriak Sakura frustasi.
Sebelah alis Sasuke terangkat, "kau mengumpatku."
"Itu pantas untukmu.."
"Ayah.." Sasuke memasang pose memanggil ayahnya. Meskipun dia tahu bahwa ayahnya tidak mungkin mendengar panggilannya itu, toh tetap saja tuan Fugaku sedang berada di dalam rumah. Tidak menutupi kemungkinan bahwa Fugaku tiba-tiba ada disitu dan mendengarnya bukan?
"EH! maaf-maaf!" Sakura berjalan dengan cepat mendekati Sasuke dan berpura-pura memijat bahu Sasuke. Sebuah senyuman kemenangan terlukis di wajah itu. Dia diam sejenak memberi waktu menikmati pijatan pelan dari Sakura yang terkesan asal-asalan itu. Hingga muncul kehadiran yang tak terduga.
"Sasukeeee-kuuun!" teriakan seorang gadis yang cukup nyaring terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan. Tak lama setelah suara itu terdengar, sosok seorang gadis dengan dandanan serba bermerk muncul dari balik pintu ruang tengah. Rambut coklat shaggy pendeknya bergerak melambai seiring langkah agresif-nya mendekati Sasuke.
'Gadis baru?' Sakura hanya bisa melirik gadis itu dan memperhatikannya yang tengah memeluk Sasuke dan menjatuhkan dirinya di pangkuan Sasuke. Kedua tangannya terulur untuk meraih leher laki-laki itu dan kepalanya bersandar di dada bidangnya.
"Ohayou.." Dia tersenyum manis dan menngecup bibir Sasuke sekilas.
"Ohayou."
"Aku merindukanmu Sasuke-kun!"
"Hn, aku juga."
'Ih gombal!' Sakura mendengus kecil dan memutar kedua bola matanya mendengar jawaban Sasuke. Sudah tidak bisa dihitung berapa gadis yang dia berikan jawaban seperti itu. Sepuluh? Teralu sedikit! Mungkin lima puluh atau bahkan satu Konoha city. Wow!
"Benarkah?" Mata gadis itu terlihat berbinar dan dia mengganti posisi duduknya di pangkuan Sasuke. Kedua kakinya melingkari pinggang Sasuke dan wajahnya menghadap pria itu.
"Tentu saja, Megumi."
"Aku rindu ciumanmu.." Gadis yang ternyata bernama Megumi itu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Sasuke perlahan. Tak perlu menunggu lama hingga Sasuke membuatnya menjadi lumatan-lumatan kecil yang menggairahkan. Membuat Megumi membuka mulutnya lebih lebar hingga mempertemukan lidah-lidah mereka diiringi desahan yang keluar.
Sakura hanya terpaku melihatnya. Ludahnya sudah tertahan di tengah-tengah kerongkongannya dan sangat susah untuk ditelan. Apalagi setelah ciuman iu terlepas, Sasuke beraksi menjilati dan mengigit kecil daerah di sekitar leher putih Megumi.
Gadis yang mungkin masih berumur empat belas tahun atau lima belas tahun itu mengerang selaras dengan bekas-bekas merah yang ditinggalkan oleh Sasuke. Ah, ingin sekali Sakura menutup telinganya yang mulai memanas itu. Pemandangan di depannya ini teralu vulgar untuk ditonton pagi-pagi.
Sakura menggigit bibir bawahnya pelan dan menatap kearah sosok Sasuke yang masih asyik dengan kegiatannya. Bahkan tangannya mulai menembus baju terusan Megumi yang berenda-renda, mengelus punggungnya atau bahkan membuka pengait yang ada disana.
"Kau mau melihatnya sampai habis?" tanya Sasuke pelan ketika matanya menatap Sakura dengan sebuah seringai menggoda di wajahnya. "Atau kau mau ikut?"
"I-itu.. Aku pergi!" Dengan cepat Sakura berbalik dan menuju pintu keluar dari ruangan itu. Dia membukanya dengan terburu-buru dan menutupnya dengan keras. Susah payah dia mengatur nafasnya dan mengelus-elus dadanya perlahan. "Dasar pantat ayam sialan!"
"Kau.."
Sakura segera berbalik ketika dia mendengar suara seorang laki-laki yang khas dengan bariton beratnya. Suara yang terdengar dingin dan begitu menekan. "Selamat pagi, Fugaku-sama," ucap Sakura pelan dan membungkuk hormat ketika Fugaku berdiri di hadapannya.
"Hn, Sasuke di dalam?" Fugaku memandangi Sakura tanpa ekspresi. Mata Onyx-nya begitu kelam dan mampu membuat rasa takut menyerang di hati siapapun. Bahkan keringat dingin akan mengalir di pelipis Sakura.
Oke, Sasuke memang di dalam. Tapi kalian tahu kan? Apa yang tengah dilakukan majikan mudanya itu di dalam ruang tengah dan dia akan membiarkan Fugaku masuk? Apa kau ingin mati muda Sakura?
"I-itu.." Sakura meremas roknya kuat-kuat. Dia memandang kaki Fugaku dengan panik dan otaknya tengah berpikir keras untuk menghasilkan sebuah alasan yang masuk akal dan sangat tepat hingga tuan besarnya itu mengerti. "Tuan muda Sasuke sedang mengerjakan tugas sekolah bersama temannya. Saya rasa dia tidak bisa diganggu."
Sebelah alis Fugaku terangkat. Dia memandangi Sakura dengan tatapan mengintrogasi dan penuh kecurigaan. "Tugas?"
"Iya Fugaku-sama," sahut Sakura masih menundukkan wajahnya. "Tu-tuan muda sedang mengerjakan tugas kelompok untuk akhir semester yang akan dikumpulkan besok. Jadi saya rasa dia tidak bisa diganggu."
"Hmm.." Fugaku menggumam pelan. Dia sepertinya berpikir mengenai sesuatu dan semoga itu bukan kecurigaannya terhadap alasan Sakura. "Baiklah, kalau begitu kau saja."
"Maksud Fugaku-sama?" Sakura mendongakkan kepalanya dan menandangi Fugaku dengan tatapan tidak mengerti.
"Sebenarnya aku ingin menyuruh Sasuke mengantarkan berkas ini kepada Itachi di rumah sakit," ucap Fugaku lagi sambil memberikan sebuah amplop coklat tua berukuran sedang kepada Sakura. "Kau saja yang mengantarkannya."
"Ba-baik."
"Aku akan menyuruh Haku untuk mengantarmu—"
"Tidak perlu paman." Seseorang menyela perkataan Fugaku dan memperlihatkan sosoknya yang muncul tiba-tiba dari ujung lorong. "Biar aku saja yang mengantarkannya." Orang itu tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya kearah Sakura.
"Sa-sasori.."
"Hn, baiklah," ucap Fugaku menyetujui perkataan Sasori. "Bekerjalah dengan baik." Fugaku menepuk kepala Sakura pelan dan pergi berlalu meninggalkan mereka.
Sakura sedikit terkejut dengan tindakan Fugaku yang menepuk kepalanya pelan. Ternyata, laki-laki tua yang kelihatan menyeramkan dan dingin itu tidak separah yang dia kira.
"Kaget?" Sasori tertawa kecil melihat Sakura yang masih mematung sambil memegang bekas tepukan Fugaku di kepalanya. "Fugaku itu bukan dewa neraka Sakura! Dia itu sebenarnya sangat baik."
"Aa.." Sakura mengangguk kecil dan tersenyum.
"Oke, mumpung Sasuke sedang sibuk mengerjakan 'tugas akhir semesternya' sebaiknya kita manfaatkan itu baik-baik," ucap Sasori lagi dan segera menarik lengan Sakura untuk mengikutinya menjauh tanpa menyadari bahwa sebenarnya Shion tengah berjalan ke arah mereka dan ingin menyapa Sakura.
"Ah! Yah dia pergi!" gerutu Shion yang pasrah melihat sosok Sakura dibawa pergi oleh Sasori. "Padahal aku mau minta tolong menyerahkan ini kepada Sasuke-sama." Shion menghela nafas pelan melihat undangan yang ada di tangannya.
Dia mengetuk pintu di depannya dengan pelan dan mendapatkan jawaban untuk masuk. Dengan pelan dia membuka pintu itu dan menemukan sosok Sasuke dengan kemeja yang berantakan duduk di sebuah kursi beserta seorang gadis yang dia kenal sebagai nona Megumi dipangkuan Sasuke.
'Pasti habis itu..' batin Shion ketika melihat baju Megumi juga sedikit berantakan dan peluh keringat menghiasi tubuhnya. Wajahnya terlihat lemas dan ada rona-rona merah di sekitar wajah dan lehernya.
"Ada apa?" Sasuke memandang tajam ke arah Shion.
"Maafkan saya mengganggu Sasuke-sama. Saya hanya ingin memberikan titipan dari keluarga Hyuuga," ucap Shion pelan dan segera menyerahkan sebuah undangan berwarna lavender dan pita emas mengikatnya.
"Undangan Hyuuga?" Sasuke meraih undangan itu dan membukanya. Ternyata itu adalah undangan pesta akhir tahun yang diadakan sehari sebelum pesta tahun baru keluarga Uchiha.
"Ah, aku juga menerima undangan itu!" seru Megumi yang menyadari bahwa undangan itu sama persis dengan undangan yang datang ke rumahnya tadi pagi. "Kau datang Sasuke-kun?"
"Tidak."
"Ahh.. masa kau tidak datang? Yah tidak seru deh!" kata Megumi manja dan mengerucutkan bibirnya ke depan. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke dengan kedua tangan memeluknya erat.
"Kau boleh pergi." Sasuke melirik Shion yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Baik Sasuke-sama.."
"Tunggu." Shion berhenti ketika Sasuke memanggilnya lagi. Dia menoleh dan menatap pemuda tampan itu.
"Ya Sasuke-sama?"
"Dimana Sakura?"
"Ah, tadi saya melihatnya pergi bersama dengan Sasori-san," jawab Shion dengan senyuman kecilnya.
"Pergi bersama Sasori? Kemana?" tanya Sasuke lagi.
"Saya tidak tahu Sasuke-sama."
"Kau boleh pergi." ucap Sasuke sambil mengibas-kibaskan tangannya dan tak lama sosok Shion telah menghilang di dalam ruangan itu. "Kau tidak pulang Megumi? tanya Sasuke datar dan dia merasakan kepala gadis itu menggeleng kecil dan tak lama getaran kecil terasa di kantong celana kainnya.
Dia meraih Handphone mahalnya dan membaca pesan yang masuk.
"Pulanglah, aku ada urusan." Sasuke bangkit dari duduknya membuat Megumi mau tidak mau ikut berdiri. Dia meninggalkan gadis itu dengan cepat tanpa mengucapkan hal lain lagi.
Yah, itulah Sasuke.
(===)
Mata Emerald Sakura memandangi jalanan yang tampak ramai dari kaca mobil Sasori. Hari ini memang hari minggu dan banyak orang tengah menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di luar. Tidak seperti Sakura yang selalu bekerja setiap hari demi mengumpulkan banyak uang.
Ya, banyak uang.
Dengan uang-uang itu, dia pasti bisa membuktikan sesuatu. Kepada seseorang yang beranggapan bahwa hidup yang baik adalah mempunyai uang yang banyak. Terkesan serakah bukan? Entah mengapa orang itu beranggap bahwa uang adalah segalanya. Tapi yang jelas dia sangat menyayangi orang itu.
"Hei, jangan melamun." Suara Sasori membuyarkan lamunan Sakura. Dia menoleh untuk memandangi sosok laki-laki super manis itu tengah menyupir dan tersenyum kecil.
"Aku tidak melamun!"
"Benarkah?" tanya Sasori lagi. "Kalau kau tidak melamun, harusnya kau sadar kalau kita sudah sampai Sakura-chan." Sasori tertawa kecil ketika Sakura segera melihat kedepan dan menemukan bahwa mobil itu telah terparkir sempurna di parkiran rumah sakit Konoha.
"Err- hehehe.." Dia hanya bisa memberikan kekehan kecil mohon maklum kepada kakak kelasnya itu.
"Sudahlah ayo turun." Sasori membuka pintu mobilnya dan segera disusul oleh Sakura. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit dan mencari kamar yang dihuni oleh Itachi.
"Oh iya! kenapa Sasori-senpai bisa ada di rumah Sasuke?" tanya Sakura yang memulai pembicaraan dalam perjalanan mereka menelusuri lorong rumah sakit yang begitu panjang. Terkadang beberapa perawat ataupun dokter-dokter menyapa dan memberikan hormat kepada Sasori alias anak dari pemilik rumah sakit ini.
"Ah, sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan. Kau mau kan?" tanya Sasori dengan senyuman manisnya.
"Tapi aku kan sedang kerja."
"Aku sudah bilang Sasuke kok, lagipula setiap hari minggu itu dia pasti keluar. Jadi intinya aku menyelamatkanmu dari kesendirian dan kebosanan. Harusnya kau berterima kasih kepadaku," balas Sasori lagi dengan memasang tampang bangga. Sedangkan Sakura hanya berkata 'huuuh' dan tertawa kecil.
"Memangnya Sasuke itu pergi kemana? aku baru sadar kalau setiap hari minggu dia tidak ada dari siang sampai sore."
"Rahasia. Kenapa tidak tanya sendiri?" Pertanyaan Sasori hanya dibalas dengusan kecil dari Sakura. "Kita sampai, kamar 305."
'Jadi ini kamar Itachi. Kira-kira seperti apa ya orangnya?' batin Sakura berdebar-debar. Dia menelan ludahnya yang tertahan di tenggorokan dan menatap pintu itu dengan antusias.
Sasori mengulurkan tangannya dan memutar kenop pintu itu. "Itachi, aku datang!" teriak Sasori yang mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam bersama Sakura. Dia menutup pintu itu pelan dan berjalan pelan menuju tempat tidur Itachi yang ada di ruangan sebelah.
Kamar itu begitu besar dengan ruang tamu, kamar mandi dan sebuah ruang santai yang sangat bagus. Bahkan terdapat vas-vas cantik beserta televisi canggih dan aksesoris lainnya yang menunjang kamar pasien VVIP itu.
"Sepertinya dia tidak ada di kamar." Sasori menatap Sakura saat mereka menemukan tempat tidur itu kosong. Di ruangan lainpun tidak ditemukan sosok Itachi. "Tunggulah disini, aku akan menanyakannya kepada perawat."
"Baik." Sakura hanya mengangguk kecil dan mengambil posisi duduk yang nyaman di sebuah kursi di dekat tempat tidur. Dia menatap kepergian Sasori dan meneliti ruangan itu dengan seksama. Matanya beralih kearah tumpukan dokumen dan amplop-amplop besar yang ada diatas meja. Laptop mahalnya tengah menyala dan menampilkan diagram-diagram tidak jelas yang Sakura yakini adalah data perusahaan Uchiha.
Bahkan saat sakitpun, dia masih mengurusi pekerjaan. Gadis berambut merah muda itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dan dia tertawa kecil ketika menemukan sebuah foto yang terpigura di dekat berkas-berkas itu. Di foto itu terlihat sosok laki-laki kecil yang mirip dengan Sasuke bersama seorang wanita yang diyakini Sakura sebagai ibu Sasuke.
Satu hal lagi yang Sakura tahu dari Itachi. Pria ini pasti sangat menyayangi keluarganya.
Kreeek~
Pintu ruangan itu terbuka pelan dan ditutup kembali oleh seseorang. "Sudah ketemu Sasori-senpai?" Sakura mengalihkan pandangannya dari foto itu dan menemukan sosok asing yang tengan memandanginya datar.
"Eh-" Mata Sakura membulat melihat sosok itu. Seorang laki-laki tampan dengan kulit yang agak pucat. Tubuhnya agak kurus dan tinggi. Rambut hitamnya terikat kebelakang dan mata onyxnya tajam seperti Fugaku. "Itachi-sama?"
"Siapa kau?"
"Aah!" Sakura bangkit dari duduknya. Dia membungukkan badannya dalam-dalam. "Saya pelayan pribadi Sasuke-sama. Tuan Fugaku menyuruh saya menyerahkan ini kepada Itachi-sama," ucap Sakura sesopan mungkin sambil menyodorkan sebuah amplop coklat kearah Itachi.
Pria itu terdiam sejenak dan mengambil amplop itu. Dia berjalan pelan melewati Sakura dan duduk di atas tempat tidurnya. Sakura menegakkan kembali tubuhnya dan berbalik memandangi Itachi. Dia melihat pria itu sedang memeriksa isi dari ampolp yang tadi diberikannya dengan seksama.
Beberapa menit kemudian dia menaruh amplop itu di atas umpukan amplop yang lainnya. Dia menghela nafas singkat dan mata onyx-nya beralih menatap sosok Sakura yang tak jauh darinya. "Namamu?"
"Haruno Sakura."
"Terima kasih, Sakura." Itachi tersenyum tipis membuat Sakura merasa senang.
"Sama-sama Itachi-sama."
"Kau sendiri kesini?"
"Tidak saya be- ah arigatou.." Sakura mengucapkan terima kasih saat Itachi menawarkannya sekotak coklat. Dia menerima coklat itu dan memegangnya erat. "Saya bersama Sasori-san. Tadi dia mencari Itachi-sama di luar."
"Oh.." Itachi masih memandangi Sakura dengan mata onyx-nya membuat Sakura sedikit gugup. "Makanlah."
"Ah ba-baik.." ucap Sakura terbata-bata dan mengambil sepotong cokelat berbentuk bulat dari dalam kotak itu. Dia memasukkan cokelat itu ke dalam mulutnya dan pipinya sedikit merona. "Enak.."
"Makanlah yang banyak."
"Iya."
"Duduklah," perintah Itachi sambil menunjuk kursi yang berada di dekatnya. Sakura mengangguk kecil dan segera duduk di kursi itu. "Sudah beberapa lama kau kenal dengan Sasori?"
"Hm, hampir satu bulan. Kenapa Itachi-sama?"
Itachi mengalihkan pandangannya dari sosok Sakura. Dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. "Menurutmu dia bagaimana?"
"Dia orang yang baik, ramah dan menyenangkan."
Sakura bisa melihat sebuah senyuman aneh di wajah Itachi.
"Jangan teralu percaya kepadanya."
"Eh?" Sakura menghentikan aktivitas makannya dan menatap Itachi heran. "Kenapa?"
"Aku yang mengenalnya dari kecil saja belum bisa mempercayai orang itu sepenuhnya." Itachi menghela nafas dan kembali menatap Sakura. "Tidak ada orang yang baik sepenuhnya. Bahkan polisi pun bisa saja berbuat jahat."
"Saya mengerti." Sakura masih tidak mengerti perkataan Itachi, tapi tetap saja dia mengangguk dan berusaha untuk menyimak kalimat itu baik-baik. "Tapi, kenapa Itachi-sama menasehati saya seperti itu?"
"Kau pelayan adikku kan?"
"Be-benar.."
"Selama ini adikku tak pernah menerima seorang wanita menjadi pelayan pribadinya." Itachi tersenyum saat mengucapkan itu. Pandangannya berubah menjadi penuh arti dan membuat Sakura tak percaya.
"Itu berarti, kau adalah orang yang spesial untuk adikku."
"Sa-sa.."
"Sakura-chan! Aku ti- eh Itachi!" Kemunculan Sasori menghentikan perkataan Sakura. Laki-laki berambut merah itu mendekati mereka dan meninju lengan Itachi pelan. "Kau darimana saja? Aku capek bertanya kepada perawat-perawat centil itu."
"Aku dari ruangan dokter untuk meminjam mesin fax-nya."
"Oh, aku kira kau sedang menggoda para perawat di luar sana."
"Itu tidak mungkin."
"Kau sudah kenal dengan Sakura-chan?" tanya Sasori sambil menunjuk Sakura. Itachi mengangguk kecil dan mendapatkan tinju kecil lagi dari sahabatnya itu. "Kalian bicara apa saja selama aku tidak ada?"
"Pembicaraan biasa, iya kan Sakura?"
"I-iya.." jawab Sakura pelan melirik Itachi. Pria itu menatapnya tajam dan kembali bercengkerama dengan Sasori. Seakan-akan dia adalah seorang sahabat yang tidak mungkin mengatakan bahwa dia tidak mempercayai sahabatnya sendiri.
Jadi, apa mungkin bahwa Sasori tidak bisa dipercaya?
Memangnya Sasori itu kenapa? Padahal bagi Sakura, Sasori itu sangat baik dan selalu datang disaat yang tepat. Sebenarnya apa yang terjadi?
Ini semakin rumit Sakura. Ya, semakin rumit!
(===)
"Kau, sudah menerima undanganku?" Sasuke melirik sekilas orang yang tengah menanyainya itu. Dia sedang menikmati kopi tanpa gulanya yang telah dia pesan beberapa menit yang lalu di kafe ini. Satu jam yang lalu dia menerima pesan singkat dari seorang gadis untuk bertemu disebuah kafe.
Sebenarnya Sasuke bukanlah seorang pria yang mudah untuk bertemu seorang wanita saat dirinya sedang malas. Namun gadis ini adalah seorang Hyuuga. Lebih tepatnya Hyuuga Hinata. Seorang gadis berparas cantik dan sikap anggunnya, seorang gadis spesial yang mengisi ruang kosong di hati Sasuke sejak dulu kala.
Memang dia berbohong pada Sakura tadi saat mengatakan bahwa dia sudah tidak menyukai gadis di hadapannya ini. Sudah beberapa tahun ini dia berusaha untuk melupakannya. Ya sejak dia mengetahui bahwa Hinata menyukai sahabat baiknya Naruto.
Namun entah mengapa semakin dia ingin melupakan, semakin besar dia menginginkan gadis ini.
"Hn, sudah."
"Kau akan datang, Sasuke?"
Sasuke terdiam. Dia menaruh cangkir kopi itu di atas meja dan memandangi pemandangan yang disuguhkan oleh jendela bening di sampingnya. "Tidak."
"Ke-kenapa?" tanya Hinata pelan. Dia meremas roknya perlahan di bawah meja. Wajahnya sedikit menunduk dan bola matanya sedikit bergetar. "Kau masih membenciku?"
Sasuke tertawa dipaksakan dan membuatnya terdengar seperti sebuah dengusan. "Sejak kapan aku membencimu?"
"Ma-maafkan aku.." guman Hinata pelan.
"Berhentilah meminta maaf padaku!" Sasuke berkata dengan nada yang agak tinggi dan menatap Hinata dengan tajam membuat gadis itu terkejut dengan gumpalan air mata yang tertahan di ujung matanya.
Dahi Sasuke mengerut dan dia menghela nafas panjang. "Aku tidak membencimu Hinata. Percayalah padaku dan jangan meminta maaf seperti tadi." Kali ini dia mengucapkannya dengan nada selembut mungkin.
"Aku hanya merasa bersalah." Hinata memberanikan diri menatap mata Onyx itu. "Aku tidak bisa membalas perasaanmu itu, Sasuke."
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan." Sasuke menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sofa panjang kafe itu. "Kau tidak menyukaiku. Itu hakmu, aku tidak bisa menyuruhmu untuk membalas perasaanku."
"Aku mengerti," ucap Hinata pelan. Tangannya masih sibuk meremas-remas roknya demi menghilangkan kegugupannya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Naruto?"
"A-aku.." Rona merah menghiasi wajah Hinata, membuatnya terlihat semakin manis dan cantik. Andai saja wajah itu merona akibat Sasuke bukan karena pria berambut kuning itu. Sasuke sangat iri kepada Naruto, keiriannya bisa menyaingi tinggi dari Fuji-san. Ya, kira-kira seperti itu.
"Aku belum bisa berterus terang kepada Naruto-kun."
Bahkan Naruto mendapat embel -kun dari gadis itu.
"Sepertinya Naruto tidak menyukaiku."
Bodoh sekali sahabatnya itu. Menolak gadis yang menolak cinta Sasuke? Sepertinya Naruto ingin dibakar saja.
"Kau belum menanyakannya, jangan membuat spekulasi sendiri." Sasuke hanya merespon datar dan kembali meminum kopinya.
"Umm.. tapi Naruto sepertinya menyukai Sakura-taichou. Aku tidak bisa menyaingi taichou."
'Sakura?' Sebelah alis Sasuke terangkat. Sakura dan Hinata itu tidak bisa dibandingkan. Mereka merupakan kedua gadis yang sangat berbeda. Yang satu bagaikan singa betina, yang satu bagaikan kucing persia. Mempunyai daya tarik masing-masing dan kelemahan yang berbeda.
"Seandainya kau ditolak..." Sasuke menghentikan aktivitas minumnya. "Kau harus tahu bahwa aku selalu ada untukmu."
"Sa-sasuke.."
"Meskipun kau menolakku. Aku akan berusaha untuk tetap melindungimu." Mata Onyx itu memandang lurus kearah mata lavender Hinata.
Gadis itu tersenyum lembut. "Terima kasih, Sasuke."
"Dan tidak ada batasan waktu. itu berlaku selamanya." Hinata tertawa kecil mendegar perkataan Sasuke selanjutnya. Meskipun Sasuke terlihat sebagai orang yang acuh dan tak peduli dengan siapapun, sebenarnya dia adalah orang yang paling hangat dan baik yang pernah Hinata kenal.
Sasuke adalah sahabat terbaik yang pernah Hinata kenal. Andai saja Hinata bisa mengubah cintanya untuk Sasuke. Sayang sekali takdir sudah membuatnya untuk terpikat pada pesona teman masa kecil mereka yang satu lagi. Uzumaki Naruto.
"Bagaimana kabar Taichou?"
"Maksudmu Sakura?" Sasuke mendapatkan anggukkan kecil dari Hinata. "Dia baik-baik saja."
"Aku tahu Taichou bisa mengatasimu," ucap Hinata dengan tawa kecilnya. "Jangan teralu mengerjainya, Sasuke. Sakura-taichou itu orang yang sangat baik dan hidupnya sudah cukup penuh penderitaan."
"Seperti sinetron?" tanya Sasuke dengan senyuman sinis miliknya.
"Aku serius. Kau tahu kenapa Sakura-taichou itu berusaha mengumpulkan banyak uang?"
"Hn?"
Hinata mengaduk-aduk teh herbalnya dengan pelan. "Itu karena ibunya meninggalkan dia bersama ayahnya waktu kecil demi menjadi orang kaya."
"Oh.." Sasuke hanya ber'oh' ria dan menatap Hinata yang masih mengaduk-aduk teh nya.
"Dan ibu Sakura-taichou berjanji akan mengambil taichou dari ayahnya saat hidupnya lebih baik daripada mereka." Tangan Hinata berhenti mengaduk tehnya. "Kau masih dekat dengan Sasori kan?"
"Siapa yang bisa melupakan orang menyebalkan itu?"
Hinata tersenyum kecil dan menatap dalam-dalam mata Onyx itu. "Kau tahu kalau ayah Sasori menikah lagi?" Pertanyaan Hinata dibalas dengan anggukkan kecil Sasuke. "Ibu tiri Sasori itu adalah Ibu Sakura-taichou."
Sasuke sedikit terkejut dengan perkataan gadis di depannya ini. Jadi Sasori adalah kakak tiri Sakura?
"Apa Sakura tahu tentang hal ini?"
"Tidak. Aku mengetahui ini secara tidak sengaja mendengar pembicaraan ayahku dengan tuan Akasuna." Hinata mengambil cangkir teh nya dan meneguk isinya dengan pelan. "Jujur, aku kuatir dengan Sakura-taichou setelah ini."
"Ada apa?"
"I-ibu Sakura-taichou berencana mengambil taichou saat akhir tahun nanti. Kau tahu kan Sasori itu seperti apa? Aku.." Perkataan Hinata terhenti. Dia terlihat berpikir sejenak sembari melihat wajah pemuda tampan di depannya. "A-aku kuatir kalau Sakura-taichou tinggal bersama dengan Sasori nanti. Sasori itu..."
"Aku tahu Hinata," ucap Sasuke pelan. Dia menutup kedua matanya dan bibirnya tertarik sedikit membuat seringai aneh.
(===)
"Arigatou, Sasori-senpai!" Sakura tersenyum lebar ketika dia telah turun dari mobil Sasori dan memandangi sosok itu dari jendela mobil yang terbuka.
"Sama-sama," balas Sasori dengan senyuman ramahnya. "Ah, minggu depan kau ada acara?"
"Umm.. kurasa aku harus membantu persiapan pesta keluarga Uchiha. Kenapa?"
Sasori menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya ingin mengajakmu keluar. Anggap saja kencan."
"Eh?" Wajah Sakura terlihat merona akibat perkataan Sasori barusan. "I-itu aku.."
"Hahahaha.. tenang saja. Aku tahu! Aku akan mencari waktu lain! Dan kuharap kau tidak menolakku saat itu," ucap Sasori sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sakura tertawa melihat kelakuan Sasori. "Iya iya."
"Kau terlihat cantik kalau tertawa, Sakura-chan."
Pujian itu sukses membuat wajah sang gadis berambut merah muda itu semakin memerah dan salah tingkah.
"Aku pergi ya, sampai jumpa.."
"Ya, sampai jumpa. Hati-hati." Sakura tersenyum dan melambaikan tangan kearah Sasori yang segera memacu mobilnya keluar dari drop out rumah keluarga Uchiha. "Yosh! Ayo kerja lagi Sakura!"
Tangan Sakura terkepal erat dan dia meninju udara dengan semangat. Dengan senyuman yang masih terlukis di wajahnya dia berjalan masuk ke dalam rumah dengan riang. Tanpa mengetahui bahwa majikan mudanya tengah mengamatinya dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua.
Sebuah senyuman sinis menghiasi wajahnya.
"Iblis bertopeng Malaikat."
.
.
.
.
.
Handphone Sasori berbunyi di dalam mobilnya. Dengan malas dia mengulurkan tangannya dan mengambil Handphone-nya yang terletak di atas dashboard. Tanpa memandangi tulisan di layarnya, dia mengangkat panggilan itu.
"Halo? Ah.. rupanya kau ya." Sasori tersenyum sendiri ketika mendengar suara di seberang handphone-nya. "Hm, besok malam? Baiklah, di hotel seperti biasa?"
Dia menggerakkan mobilnya untuk berbelok memasuki parkir bawah tanah sebuah klub malam. "Aku mengerti. Tentu saja aku mencintaimu." Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, dia mematikan mobilnya dan turun dari kendaraan roda empat itu sambil memberantakan rambutnya yang tadi tertata rapi.
"Sampai jumpa besok, sayang." Sasori mematikan panggilan itu dan tersenyum manis saat beberapa gadis dengan pakaian seksinya menyambut Sasori di depan pintu masuk klub. "Selamat malam, ladies." Dia merangkul para gadis itu mendekati tubuhnya dan bahkan memberikan sebuah kecupan singkat kepada mereka.
"Kau darimana saja, Sasori-kun?" tanya salah seorang gadis dengan nada manja. Dia bahkan dengan berani membuka kancing atas kemeja pria berambut merah itu.
"Aku? aku menghabiskan waktu bersama seorang gadis."
"Uhh.." Semua gadis itu memasang wajah tidak suka. "Apa dia gadis yang cantik?"
"Tidak secantik dirimu..." rayu Sasori lagi sambil tersenyum manis. "Tapi dia gadis yang menarik."
"Kau bilang apa Sasori-kun?"
"Ah tidak tidak, ayo bersenang-senang," ajak Sasori yang membawa mereka masuk ke dalam klub lebih dalam. Mengambil duduk di sebuah sofa yang terletak di pojok ruangan dan menerima segelas minuman dari para gadis itu.
Dia menggoyang-goyangkan gelasnya sejenak dengan sebuah senyuman liciknya.
Haruno Sakura. Adik tirinya dan adik kelasnya. Gadis yang menarik baginya dan sebentar lagi pasti akan jatuh ke dalam pesonanya.
"Kau tidak melayani tamumu?" tanya Sasori kepada gadis cantik yang tengah sibuk menciumi lehernya.
"Tidak. Kurasa malam ini aku sudah terjerat dengan pesona iblis sepertimu." Dia menunjuk hidung Sasori dan kemudian turun menelusuri bibir pemuda itu. Tanpa segan dilumatnya bibir menawan itu dan mengecap segala yang bisa dia rasakan. Setelah itu, dia merasakan kelembutan bibir itu menyentuh leher jenjangnya. Merasakan bagaimana bibir itu mengecup kulitnya, menjilatinya dan bahkan saat bibir itu membentuk sebuah senyuman tipis seperti sekarang.
"Aku memang seorang iblis.."
To be Continued
A/N : Woaaaaah! Chapter 5 Update! Maaf telah lama menunggu. Tolong dimaklumi karena tugas Aki itu adalah nukang =_= bahkan saat ini Aki lagi dalam proses buat hiasan taman setinggi 2 meter dan sepanjang 4 meter dari bambu demi UAS. #pingsan
Oke! Terima kasih atas semua masukan dan dorongan dari kalian! Reviewer maupun Reader seperti kalian membuat Aki jadi tidak tega untuk menelantarkan fic ini!
Sekali lagi terima kasih ^^
Kalau ada apa-apa silahkan PM dan wall Facebook Aki saja.
Review nyo?
