Servant
By : AkinaYuki
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate M
Warning AU, OOC dan tidak ada hal-hal berbau lemon untuk chapter ini.
Author's Note : Maaf! Hanya itu yang bisa Aki ucapkan saat ini. Sekali lagi Aki meminta maaf karena telah mentelantarkan fic-fic Aki akibat kesibukan lain. Mohon pengertiannya =_= disaat sibuk dan kelelahan, ide dan minat untuk mengetik langsung hilang seketika, hahahaha.
Terima kasih atas semua review yang ada, bahkan disaat Aki tidak mengupdate fic ini, tetap saja ada yang mereview. #nangislebey. Baiklah tanpa banyak bacot lagi, silahkan membaca!
(===)
"Hhh…" Kedua tangan mulus itu terangkat sempurna dan tertarik keatas. Matanya tertutup rapat dan hembusan nafas berat keluar dari mulutnya. Pinggangnya terlihat bergerak ke kiri dan ke kanan dalam tempo yang lambat. Dan tak beberapa lama dia membuka matanya, menatap plafon kelas yang berwarna putih keabu-abuan dengan malas.
Hari terakhir masuk sekolah benar-benar membuatnya menjadi pemalas saat ini. Guru yang mengajarpun hanya berceramah tidak jelas dan menjelaskan materi-materi persiapan untuk semester mendatang.
Beginilah kalau kau berada di kelas akselerasi. Guru-guru tak pernah meragukan nilaimu dan selalu menuntut untuk jauh lebih baik dari sebelumnya. Harga dirimu dipertaruhkan di kelas ini. Nilai memburuk, silahkan angat kaki dari kelas ini.
"Hei.."
Sebuah suara tak asing mengalihkan pandangannya dari abu-abu itu menuju ke sebuah wajah seorang laki-laki yang tengah berdiri di samping bangkunya. Rambut nanasnya dan mata sipitnya membuatnya sangat mudah dikenali sebagai ciri khas seorang Nara.
"Ada apa Shika?"
Dia menguap sejenak dan menggaruk-garuk rambutnya dengan malas. "Kau tak mau melihat pengumuman nilai ujian musim dingin?"
"Nanti saja, kakiku sedang malas."
"Tidak seperti biasanya, kau sakit Sakura?" tanya Shikamaru yang kini duduk di pinggiran meja Sakura. "Wajahmu pucat."
"Oh? Benarkah?" tanya Sakura balik dan memegang kedua pipinya pelan. "Suhu tubuhku sedikit menghangat hari ini. Mungkin sedang beradaptasi."
"Mungkin."
"Lalu, kau sudah melihatnya? Bagaimana nilaimu?"
"Begitulah.."
"Indah seperti biasanya?" tebak Sakura sambil menatap Shikamaru dengan sinis. "Kalau begini terus bisa-bisa lulus dari sekolah, wajahku akan tua seperti nenek-nenek." Sakura memajukan bibirnya dengan kesal dan meluruskan kedua tangannya ke depan.
"Apa maksudmu?"
"Selama dua tahun ini posisiku sebagai penerima beasiswa selalu terancam gara-gara dirimu. Apa kau tidak menyadarinya sama sekali?"
"Oh, tak perlu kau pikirkan. Aku menolak beasiswa itu setiap semester."
"Kau menginjak harga diriku."
"Jangan berlebihan," ucap Shikamaru pelan dan tersenyum kecil. "Lebih baik kau lihat hasil ujianmu."
"Baiklah baiklah.." Sakura bangkit dari duduknya dengan malas dan merenggangkan badannya sekali lagi. "Oh ya Shika, sampai bertemu tahun depan."
"Hm? Sampai bertemu." Shikamaru mengangguk kecil dan memperhatikan sosok Sakura yang keluar dari kelas mereka. Dia diam sejenak dan menguap kecil kembali. "Di kelas yang berbeda."
.
.
.
.
.
.
Lorong sekolah di lantai dua begitu ramai dan sesak. Tentunya itu akibat sebuah papan besar yang berisi hasil ujian musim dingin para siswa yang ditunjukkan secara terang-terangan. Beberapa siswa terlihat bahagia dan berteriak gembira, ada juga yang memasang raut kecewa dan cemas menanti omelan orang tua saat mereka pulang nanti.
Sedangkan Sakura hanya menatap papan pengumuman itu dengan datar. Tak ada yang berubah sama sekali sejak dahulu kala. Shikamaru Nara dengan otak super jeniusnya selalu menempati urutan pertama dan dirinya berada di posisi kedua.
Mata emeraldnya beralih menuju barisan nama yang agak jauh dari deretan namanya. Mencari nama Ino yang berada di peringkat 62 dan Naruto Uzumaki yang berada di urutan 97. Kenapa kecerdasan anak bodoh itu tidak meningkat sedikitpun?
Dan Uchiha Sasuke berada di peringkat—
"Satu!" Sakura berteriak kencang ketika dia melihat nama Uchiha Sasuke berada di peringkat satu dalam deretan kelas reguler. "Memang tidak bisa diremehkan."
"Ohayou Forehead!" Panggilan nista selalu menghantui hidup Sakura terdengar kali ini. Pemilik suara itu tengah berjalan mendekatinya dan tersenyum lebar seperti biasa.
"Ohayou Pig," balas Sakura sinis dan melirik gadis itu. Tak lupa dia juga menyapa Deidara yang ternyata berada di belakang Ino. "Selamat naik dua tingkat."
"Thanks! Dan selamat menjadi peringkat dua lagi." Ino memperlihatkan cengiran menyebalkannya membuat Sakura hanya mendengus kesal. Gadis berambut pirang itu tahu betul bahwa Sakura sangat benci dengan julukan peringkat dua itu. "Ayolah, peringkat dua di kelas akselerasi itu menakjubkan!"
"Tidak semenakjubkan Shikamaru."
"Itu mengerikan bukan menakjubkan," balas Ino cepat dan memainkan matanya dengan dramatis. "Kejeniusan tanpa sebab adalah hal paling mengerikan."
"Jangan mengarang pepatah yang tidak benar."
"Aku setuju," sahut Deidara menganggukkan kepalanya. Terkadang adiknya suka sekali membuat pepatah atau peribahasa yang sebenarnya tidak dipahaminya.
"Hei! Menjawab seluruh soal dengan benar tanpa cacat padahal selalu tertidur dalam kelas itu disebut menakjubkan? Itu mengerikan Sakura! Itu sama sekali bukan ciri manusia hidup!"
"Shikamaru makan, bernafas, berkembang dan tumbuh. Itu ciri manusia hidup."
"Eh lihat!" Jari telunjuk Ino teracung dan menunjuk sebuah tulisan yang ada di papan pengumuman tersebut.
"Dia mengalihkan pembicaraan," ucap Deidara menggelengkan kepalanya dan melirik kearah Sakura.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan, Ino!"
"Hei ini serius! Coba lihat ini! Mulai semester depan, Nara Shikamaru keluar dari kelas akselerasi."
"APA!? jangan bercanda!" Sakura berteriak lumayan keras dan segera menyusul Ino mendekati tulisan kecil yang berada di pojok bawah papan pengumuman itu. Dibacanya tulisan itu dengan lekat. "Nara Shikamaru dipindahkan ke kelas reguler mulai semester depan dan sebagai gantinya akan direkrut seorang murid dari kelas dua reguler untuk masuk ke dalam kelas akselerasi. Pengumuman selanjutnya akan dipasang saat awal semester baru.."
"Selamat berlibur dan tahun baru. Kau belum membaca itu juga," lanjut Ino santai dan segera dibalas pelototan tajam dari Sakura. "Hei! Jangan memandangiku seperti itu. Pindah ke kelas reguler bukan berarti mati!"
"Yah, setidaknya sainganmu berkurang Sakura." Deidara mengangkat kedua bahunya dan memandangi gadis berambut pink itu mengigit pelan bibir bawahnya. "Atau justru kepindahan Shikamaru itu akan membawa masalah untukmu.."
Sakura menatap Deidara penuh arti seakan mengatakan 'Kau tahu kan apa pikiranku?'
"Memangnya kenapa?"
Deidara menghela nafas dan menunjuk nama Uchiha Sasuke yang berada di deretan pertama kelas reguler. "Orang itu adalah calon pengganti Shikamaru. Berani taruhan?" tanya Deidara dengan sebuah cengiran manis miliknya.
"Oh? Tidak terima kasih niichan. Aku juga berpikiran hal yang sama." Ino menggeleng pelan dan melirik Sakura dengan cemas. "Well Sakura, sepertinya kau harus bersiap-siap."
"Argh! Kenapa dia harus pintar sih?" Sakura berteriak frustasi dan menjambak rambutnya dengan pelan. Dia menggerutu tidak karuan dan berhenti seketika membuat Ino dan Deidara mengerutkan dahi melihat tingkat teman mereka yang satu itu. "Bagaimana dengan Hyuuga Neji? atau yuuga Hinata? Nilai mereka kan juga bagus."
"Tidak sesempurna Uchiha Sasuke," ucap Ino dan Deidara bersamaan membuat Sakura mendengus kesal.
"Hei gadis aneh."
Sakura berbalik menghadap sumber suara yang sangat dikenalinya itu. Matanya menyipit dan bibirnya melengkung ke bawah. "Apa?" Dia membalas sapaan itu dengan nada yang dibuat sesinis mungkin.
"Ekspresi apa itu?"
"Ini namanya ekspresi reflek terhadap sesuatu yang dibenci," terang Sakura sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau semakin galak hari ini. Pacarmu mengeluh soal dada mu yang kecil?" Pertanyaan itu sukses membuat Sakura semakin mengerutkan alisnya dan menggeleng pelan. "Dan kau belum menyapa majikanmu hari ini."
"Selamat pagi tuan muda tampan, kau puas?"
"Aku bukan laki-laki yang puas hanya dengan kata-kata." Akhirnya sebuah seringai kecil yang selalu terbentuk di wajah lelaki itu keluar juga. Dia maju perlahan mendekati Sakura dan mengecup bibirnya sekilas sebelum semua mata menyadari kehadiran pria tampan yang bernama Uchiha Sasuke itu.
Kaki Sakura bergerak secara reflek untuk mengambil beberapa langkah menjauh dari pemuda berambut aneh tersebut. Dia memegang bibirnya dan menatap kesal kearah Sasuke. "Kenapa kau selalu melakukan hal-hal aneh!?"
"Mencium adalah hal yang wajar di dunia ini." Sasuke hanya menjawab dengan senyuman menyebalkannya -bagi Sakura- dan mengalihkan pandangannya ke arah papan pengumuman hasil ujian tersebut. Tak beberapa lama sebuah decihan kecil keluar dari mulutnya. "Sudah kuduga tidak ada yang berubah."
"Apa maksudmu? Jangan menghinaku!" ucap Sakura sebal sambil menunjuk Sasuke. Dia tahu kalau perkataan Sasuke barusan tentu saja menyangkut peringkat dua miliknya yang tidak pernah berubah sejak masuk ke sekolah ini.
Sementara Sakura telah mengerutkan dahinya dan menyipitkan matanya sesipit mungkin. Sasuke hanya melihatnya dengan sebuah kerutan di dahi yang sama dengan gadis rambut merah muda itu. "Hei, kau salah minum obat?"
"Untuk apa aku minum obat, aku tidak sakit!"
"Hn, aku tahu. Tapi kewarasanmu mulai menipis nona," sahut Sasuke lagi dengan nada yang mulai terlihat kesal.
"Dan sebaiknya kau jangan menghinaku karena aku tetap berada di peringkat dua."
"Siapa yang ingin menghinamu?" tanya Sasuke tak mengerti. "Oh, apa kau ini sebenarnya sedang memamerkan peringkat dua mu secara tidak langsung?"
"Apa maksdumu?"
"Maaf, aku tidak tertarik dengan gadis peringkat dua."
"Ka-"
"Sudahlah Sakura." Akhirnya seorang gadis yang telah terlupakan kehadirannya selama beberapa menit mulai angkat bicara. Dia berusaha menarik lengan sahabatnya dan mengajaknya pergi dari hadapan Sasuke. Namun sepertinya kekuatan Sakura telah meningkat drastis hingga gadis berambut pirang itu tak mampu menggerakkannya se-senti pun. "Kumohon?"
"Berikan aku alasan baik kenapa aku harus mengalah darinya?"
Ino menggigit bibir bawahnya dan sedikit menarik ujung bibir tipis itu hingga membentuk sebuah cengiran ragu. "Karena kau bekerja di rumahnya?"
Mata Sakura menyipit dan dia mendengus kesal. Jawaban yang sangat tepat dilontarkan oleh sahabat dekatnya sungguh ingin memaki dirinya sendiri.
Sial Sakura.
"Baik." Sakura mundur selangkah dan terlihat memandangi Sasuke langsung ke arah matanya. Sedangkan pria itu tetap bertahan dengan senyuman sinisnya yang sangat menjengkelkan. Dia mengangkat kedua alisnya sedikit tinggi dengan tatapan meremehkan ke arah Sakura yang tentu saja lebih pendek darinya.
"Sepulang sekolah kau harus ke kelasku," perintah Sasuke tanpa peduli bahwa saat itu Sakura sedang kesal kepadanya. Hei? bahkan dia tidak tahu kenapa gadis berambut pink itu tiba-tiba marah dan kesal kepadanya.
"Te-"
Dalam beberapa detik, Sakura merasa sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya dengan cepat. meski sekilas tapi dia tahu bahwa saat itu dirinya sedang diberikan sebuah ciuman dari pria yang berdiri di depannya. Kalian tahu siapa kan? Tentu saja Uchiha Sasuke.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Ciuman perpisahan." Sasuke menjawabnya enteng dan berlalu begitu saja dari pandangan Sakura. Sementara Ino dan Deidara hanya terdiam dengan tatapan tidak percaya.
"Ja-jadi hubunganmu dengan Sasuke itu seperti itu?" ucap Ino tak percaya dan melirik Deidara begitupula sebaliknya. "Wooh.." Ino hanya bergumam tak jelas. Entah itu menunjukkan bahwa dia sedang terpukau, kagum atau justru berpikir 'ini keren'.
"Kalau kau berpikir ini akan menjadi gosip yang bagus, kau akan mati." Sakura melirik Ino tajam membuat gadis itu sedikit meringis dan mengibas-kibaskan tangannya pelan. Gadis berambut merah muda itu hanya menghela nafas dan kembali mengedarkan pandangannya ke papan pengumuman. Meneliti apapun yang menurutnya menarik dan menemukan nama seseorang yang dekatnya dalam beberapa hari ini.
"Oh Sasori-senpai ternyata pintar juga."
"Siapa?" tanya Deidara yang kini berdiri di samping Sakura.
"Sasori-senpai, ternyata seperti dugaanku." Deidara mengangguk ringan. "Deidara-senpai bukannya selalu bersama Sasori-senpai?"
Deidara terdiam sejenak. "Ya, secara dia adalah ketua dan aku adalah wakilnya. Tentu saja kami dekat."
"Menurutmu Sasori-senpai itu orang yang seperti apa?"
"Apa ya?" Lelaki berambut pirang panjang itu terlihat berpikir. "Kalau kubilang dia biasa, kurasa dia tidak biasa. Kalau kubilang dia baik, dia juga tidak terlalu baik. Terkadang dia bisa menjadi seseorang yang tidak kau kenal."
"Hah? Penjelasan macam apa itu?" Dahi Sakura berkerut mendengar perkataan Deidara sedangkan lelaki yang model rambutnya hampir menyerupai Ino itu hanya bisa tersenyum dan mengangkat bahunya pasrah.
"Kau tidak akan mengerti sebelum mengetahuinya sendiri." Sakura melihat Deidara sekilas, perkataan senpainya itu hampir mirip dengan apa yang dikatakan oleh kakak Sasuke waktu itu. Sasori bisa menjadi seseorang yang tidak dikenali. Apa jangan-jangan Sasori itu berkepribadian ganda?
"Ngomong-ngomong, kau panitia dekorasi Bounenkai kan? Hari ini ada pertemuan khusus antara ketua panitia dengan bagian dekorasi." Deidara tersenyum tipis dan dibalas anggukan kecil dari Sakura. "Eh, tapi kan tadi Sasuke menyuruhmu menemuinya saat pulang nanti."
Sakura mendongak dengan mata yang membulat, perkataan Deidara tadi menyadarkannya mengenai perintah majikan mudanya. "Ah, sial!" Dia menggerutu pelan dan memasang wajah kesal.
Deidara tertawa kecil, ditepuknya pundak gadis itu pelan dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Sakura. "Urusan Bounenkai, biar aku yang urus."
"Ah, arigatou Senpai!" ucap Sakura senang dan sedikit membungkuk.
"Saat kau memanggilku senpai, entah mengapa aku merasa dipermalukan."
"Eh? Kenapa?" Sakura memandangi senpainya dengan bingung.
"Tentu saja dia malu Sakura," sahut Ino yang mulai terdengar suaranya lagi. Entah tadi dia habis menghilang kemana dan sekarang ratu gosip itu telah kembali di antara mereka berdua. "Secara kalian berdua itu sama-sama kelas tiga sekarang dan kau memanggilnya senpai, niichan pasti merasa sudah sangat tua!"
Ino menyeringai kecil dan melirik kakaknya dengan penuh tatapan mengejek. Sementara Deidara mengerutkan dahinya dan memaksakan diri untuk ikut tersenyum. "Sialan kau, Imouto."
"Kau juga sialan, niichan," balas Ino tak mau kalah. "Jadi teringat sesuatu! Sebentar lagi pergantian tahun dan kalian akan lulus. Aku akan sendirian dong." Dengan cepat Ino merubah ekspresi wajahnya. "Kenapa kau harus masuk kelas akselerasi sih, Sakura?"
"Well, setidaknya di saat kami tidak ada nanti kan masih ada-"
"Naruto? Kau gila?" Ino melotot dan membuka mulutnya berlebihan. Sakura hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain seakan tidak peduli dengan ekspresi buatan itu. Bagaimana bisa Ino mengetahui nama yang akan disebutnya? Temannya ini memang hebat.
"Baiklah baiklah, kurasa Shikamaru akan menemanimu," sahut Deidara tak mau kalah dari Sakura yang kini menahan tawa membayangkan Ino dan Shikamaru bersama. Semua orang di sekolah ini tahu bahwa mereka berdua itu sangat tidak akur. Dan lihat ekspresi Ino saat ini!
"Kalian menyuruhku bersama dengan mahkluk mengerikan yang tidak memiliki ciri mahkluk hidup itu?"
"Iya, dia teman masa kecilmu bukan sih?"
"Oh, sekali lagi. Shikamaru bernafas, tumbuh, makan dan berkembang. Dia memiliki ciri mahkluk hidup pada umumnya," tambah Sakura dengan menggerak-gerakkan jari telunjuknya. Ino hanya menggerakkan matanya dramatis dan mengibas-ngibaskan tangannya pelan.
"Yang pasti aku tidak akan mendekatinya."
"Terserah kau saja Pig." Sakura tertawa kecil dan melirik jam tangannya. Alis sebelah kirinya terangkat dan dia memandang sekitarnya. Murid-murid mulai berkurang dan lorong kelas mulai terlihat sepi. Dialihkan bola mata Jade-nya kearah Deidara dan Ino. "Hei, lima menit lagi kalian harus masuk kelas. Kalian tidak mau kena hukuman dariku kan?"
Dengan cepat Ino dan Deidara berlari meninggalkan Sakura menuju kelas mereka yang letaknya agak jauh dari papan pengumuman itu. Di samping ancaman Sakura tadi, hari ini mereka berdua mendapat kelas yang diajar oleh guru-guru galak tanpa ampun. Orochimaru-sensei dan Ibiki-sensei.
"Sial!"
(===)
"Sekian pelajaran hari ini dan sampai jumpa tahun depan anak-anak." Kurenai-sensei tersenyum lembut kearah murid-muridnya dan berlalu meninggalkan kelas itu dengan langkah anggun setelah semua murid memberikan salam perpisahan secara serempak.
Tak perlu waktu lama hingga kelas itu kini terisi oleh beberapa siswa yang dapat dihitung oleh jari. Entah mereka masih membicarakan sesuatu yang agaknya penting, malas pulang ke rumah seperti biasanya atau mungkin menunggu seseorang seperti yang dilakukan oleh Uchiha Sasuke saat ini.
Earphone putih miliknya masih terpasang manis di telinganya dan kedua matanya masih tertutup rapat. Sesekali angin siang hari menerpa wajah tampannya dan memainkan helaian-helaian rambutnya yang halus.
Pulang lebih cepat memang menyenangkan. Dia mendapatkan waktu luang lebih dari hari biasanya dan bisa bersantai tanpai harus memikirkan tugas-tugas yang sebenarnya dapat dikerjakan dalam waktu singkat mengingat kemampuan otaknya yang jenius.
Lalu, ada juga yang dia benci dari pulang lebih awal ini.
"Tch!" Dengan kasar Sasuke menarik earphone-nya dari kedua telinganya dan mengambil I-phone yang ada di saku celananya. Dari tadi bunyi ringtone pesan singkat dan beberapa panggilan telepon mengganggu musik yang dia dengar.
Ditatapnya datar layar I-phone nya dan menemukan beberapa SMS serta pemberitahuan panggilan tak terjawab dari teman wanitanya seperti Karin, Megumi, Tayuya dan beberapa yang lain. Bahkan ada beberapa nomor tak jelas yang sama sekali dia tidak kenal.
"Mengganggu." Tanpa ragu, Sasuke mematikan I-phonenya dan melihat jam tangan mahalnya. "Lama sekali." Jemari-jemari panjang di tangan kanannya bergerak seirama mengetuk-ketuk meja di depannya hingga membuat nada yang beraturan selama beberapa detik. Tak lama, terdengar langkah kaki mendekati kelasnya, disusul suara pintu kelas yang digeser keras dan suara tarikan nafas tak beraturan dari seorang gadis.
Sasuke memandangi sosok itu dan menyeringai kecil. Akhirnya yang ditunggu sudah datang, pelayan pribadi kesayangannya yang akan mengisi waktu luangnya kali ini. "Kemari." Dia menggerakkan tangan kanannya untuk menyuruh gadis berambut pink itu mendekatinya.
Ditatapnya mata Jade jernih gadis itu saat sudah berada di depannya. Dengan gaya seorang Uchiha dia berdiri dan mendahuluinya. "Bawa tasku."
Sasuke bisa merasakan bahwa gadis itu masih terdiam dan memandanginya. "Kita akan pulang?"
"Kau sudah makan siang, Sakura?" Tanpa peduli pertanyaan yang dilontarkan oleh Sakura, dia tetap berjalan pelan keluar dari kelas.
Sakura segera mengambil tas hitam Sasuke, mendekapnya dan agak berlari kecil untuk menyusul Sasuke yang sudah berada di luar kelas. "Belum, tapi setelah ini aku ada pertemuan."
"Kita akan makan siang di luar kali ini." Lagi-lagi dia tidak menghiraukan perkataan Sakura. Dengan seenaknya dia memutuskan semua hal yang berkaitan dengan gadis berambut merah muda itu. Ah, wajar kan? Sakura adalah pelayan pribadi yang diwajibkan untuk mengurusinya selama dia masih dibayar.
"Tapi setelah ini aku harus rapat untuk malam tahun baru!" sahut Sakura yang tidak mau kalah.
"Telat makan itu tidak baik." Sasuke tetap melanjutkan perkataannya dan kini dia berjalan menuruni tangga sekolah. Dia dapat dengan jelas mendengar gadis itu menggerutu pelan dan mendengus kecil di belakangnya.
"Terima kasih sudah memperhatikanku, Tuan muda tampan! Tapi aku harus rapat sekarang, kau bisa kan makan siang bersama orang lain dan aku juga akan dapat makan siang saat rapat nanti." Sakura berusaha mengucapkannya dengan penuh penekanan agar tuan mudanya itu mau mengerti. Dan sepertinya dia berhasil!
Sasuke menghentikan langkahnya dan terdengar tawa kecil dari mulutnya. Lebih menyerupai tawa yang ditahan dengan sedikit nada merendahkan di dalamnya. Sakura reflek ikut berhenti dan sedikit melangkah mundur menyadari keanehan yang ada pada sikap Sasuke.
"Kau lupa lagi, Sakura." Sasuke menoleh ke belakang tepat untuk melihat lurus ke arah Sakura dengan mata onyx-nya yang dingin. "Kau adalah pelayanku, bukan pelayan mereka. Dan kau dibayar atas itu. Jadi aku tidak perlu memberitahumu siapa yang harus kau prioritaskan bukan?"
Tanpa sadar Sakura menganggukkan kepalanya hingga sebelah ujung bibir Sasuke sedikit tertarik.
"Bagus." Kaki panjang Sasuke kembali bergerak dan menuruni tangga lagi. Namun, saat kaki itu hampir menyentuh lantai koridor sekolah, tiba-tiba dia berhenti hingga Sakura yang tadinya sedang sibuk mengirimkan pesan kepada Deidara lewat handphone-nya pun menabrak punggungnya yang lebar.
Sakura meringis sambil mengelus dahinya yang lumayan lebar itu. Mulutnya mulai terbuka, bersiap untuk memarahi tuan mudanya. Namun, tak ada sepatah patahpun yang keluar dari bibirnya ketika dia melihat arah pandangan Sasuke saat itu.
Dua sosok yang tengah bercanda dan tertawa lebar tengah bersiap untuk keluar dari Sekolah. Seorang laki-laki berambut pirang dan satunya lagi berambut lavender. Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata.
Sakura melirik ke arah Sasuke yang masih terdiam. Sepertinya dia terjebak di dalam sesuatu yang harusnya bukan urusannya. Bagaimana dia harus merespon sekarang? Haruskan dia menunggu Sasuke yang hanya terdiam dan mematung? Tapi, dia juga tidak berani untuk menegur Sasuke saat ini.
"Ah! Sakura-chan!" Suara nyaring Naruto terdengar jelas di telinga Sakura, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Naruto yang kini melambai semangat kearahnya. Tak perlu waktu lama hingga Naruto berlari kecil menuju tempatnya berdiri saat ini disusul Hinata yang hanya berjalan biasa. "Kau juga pulang lebih awal hari ini? Tidak ikut rapat?"
"Er- tidak." Sakura hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melirik Hinata. Gadis itu hanya tersenyum lembut dan menyapanya. "Ngomong-ngomong Naruto, kenapa peringkatmu dalam ujian tahun ini hanya seperti itu?"
"Hanya seperti itu?" Naruto mengerutkan alisnya, "Aku sudah berjuang keras."
"Aku tahu, selamat atas kenaikan peringkatmu," balas Sakura dengan senyum memaklumi. Yah, setidaknya usahanya mengajar Naruto membuahkan hasil yang lumayan. "Dan selamat atas nilai-nilaimu, Hinata!"
"A-arigatou Taichou. Selamat atas nilai Taichou yang menakjubkan." Hinata tersenyum lembut dan membungkukkan badannya sedikit di depan Sakura. "Selamat untuk peringkat satumu, Sasuke."
"Hn."
"Jadi Kalian tidak ada acara?" Mata Aquamarine itu menatap Sakura dan Sasuke dengan penuh arti. "Aku dan Hinata sebenarnya ingin ke Konoha Land, kalau kalian tidak ada acara, bagaimana kalau ikut kami saja?"
"Sebenar-"
"Tidak ada." Sasuke memotong perkataan Sakura dengan nadanya yang khas. Sedangkan Sakura yang kalimatnya telah terhenti hanya melirik Sasuke dengan sebelah alis yang terangkat.
'Bukannya tadi dia memaksaku makan siang bersamanya?'
"Bagus! Ini pasti menyenangkan!" Naruto mengepalkan tangannya dan tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Sakura hanya bisa terdiam dan menatap Sasuke dan Naruto bergantian, ah tentunya tidak lupa Hyuuga Hinata yang daritadi hanya bisa tersenyum manis.
Tanpa disadari, Naruto menarik lengan Sakura dan memaksa agar gadis berambut merah muda itu mengikutinya menuju tempat parkir mobil pribadi tuan muda Namikaze itu. "Hei! Kenapa kau menarikku seperti ini?"
Naruto sedikit mendekatkan bibirnya ke telinga Sakura dan membisikkan sesuatu sembari melirik Sasuke yang berada di belakangnya bersama Hinata. "Sudahlah, kita biarkan mereka bisa bersenang-senang berdua hari ini. Kau mau membantuku kan, Sakura-chan?"
"Ta-tapi.." Pelan-pelan Sakura mencoba melirik ke arah Sasuke. Oh sial! lelaki itu tengah menatap tajam ke arahnya dan sepertinya dia sedang dalam mood yang tidak bagus. "Kelihatannya Sasuke sedang marah," bisik Sakura.
"Setiap hari wajahnya memang seperti itu, Sakura-chan." Naruto tetap membalasnya dalam sebuah bisikan pelan dan Sasuke mulai mengerutkan dahinya ketika menyadari bahwa sahabat dekatnya sedang berbisik-bisikan tidak jelas bersama pelayan pribadinya tepat di hadapannya sambil melirik ke arahnya sesekali.
"Ehem.." Sasuke mengeluarkan sebuah dehaman yang agak berat supaya mereka segera berhenti melakukan hal yang dianggapnya mengganggu. Dan untungnya kedua orang itu sigap menyadari dan menoleh dengan cepat.
"Lebih baik kalian ikut mobilku saja ya?" tawar Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia menekan tombol di gantungan kunci mobilnya dan tak jauh dari tempat mereka berdiri sebuah mobil sedan mewah mengeluarkan bunyi penanda bahwa kunci telah dinon-aktifkan. "Silahkan Sakura-chan!" Naruto membuka pintu paling depan mobilnya dan tersenyum manis kearah Sakura.
"Terima ka- aduh!" Sakura merasa lengannya ditarik paksa oleh seseorang agar tidak masuk ke dalam mobil itu. Sambil meringis dia melirik orang yang menarik lengannya dan memandanginya dengan mata menyipit.
"Dia duduk bersamaku di belakang." Sasuke lagi-lagi menarik lengan Sakura dan menuntunnya untuk duduk di kursi belakang bersamanya. Dengan satu kali ayunan keras dia menutup pintu mobil itu dan melirik ke arah Naruto yang tengah menoleh ke belakang dari kursi supir. "Kenapa kau masih melihat kebelakang? Cepat jalan."
Naruto hanya bisa mendengus kecil dan menoleh kearah Hinata yang sudah mengambil posisi duduk yang nyaman di sampingnya. "Pasang sabuk pengaman yang erat ya, Hinata-chan!" Gadis pemalu itu hanya mengangguk kecil disertai sedikit rona merah di wajahnya.
"Dia sudah bisa memakai sabuk pengaman dengan benar, cepat jalan Dobe!"
Naruto dan Sakura melirik Sasuke dengan sinis ketika mendengar perintah tuan muda Uchiha itu. Tanpa menunggu perintah Sasuke untuk ketiga kalinya, Naruto menjalankan mobilnya menuju Konoha Land.
Bisa dikatakan perjalanan yang tidak mengenakkan bagi Sakura dan Naruto, karena sepertinya dari tadi sang Uchiha muda itu mengeluarkan aura-aura yang tidak mengenakkan untuk mereka berdua.
Entah dia tidak suka dengan acara ini atau mungkin dia sedang menahan perasaan cemburu.
'Dasar Sasuke!'
(===)
Dia menghisap cairan manis dengan sedikit rasa asam itu sekali lagi dan mengulanginya terus menerus dalam beberapa menit sambil mengerutkan alisnya. Pandangannya menuju wahana-wahana menarik yang mengeluarkan suara khas dan orang-orang yang berlalu-lalang di depannya dengan wajah bahagia serta penuh semangat.
Dijauhkannya bibir mungilnya dari sedotan berwarna kuning itu dan menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang sedang dia duduki.
'Ini buruk!'
Bola matanya bergerak pelan ke arah kiri untuk melihat sosok lelaki yang tengah duduk di sampingnya sambil menutup kedua matanya. Kulitnya terlihat lebih putih akibat terkena sinar matahari yang begitu terik, rambut ravennya terlihat bercahaya dan sedikit bergerak karena angin sepoi yang berhembus dan lagi-lagi alisnya bertaut akibat mendengar sebuah suara yang mengganggunya.
"Berhenti menghela nafas berkali-kali, Sakura." Laki-laki itu akhirnya mengeluarkan suara membuat gadis yang duduk disebelahnya kembali ke aktivitas awal, meminum es lemon-nya.
"Behenti menghisapnya kalau minumanmu sudah habis." Sakura berhenti menghisap minumannya yang memang hanya tersisa es batu dengan sedikit sisa-sisa lemon di dalamnya. Gadis itu menghela nafas panjang lagi dan lagi.
"Sudah kubilang berhenti menghela nafas." Akhirnya lelaki itu membuka matanya dan menoleh ke arah sumber pengganggu tidur siangnya saat ini.
"Sepertinya dari tadi kau marah-marah terus!"
"Ya, karena dirimu," jawab Sasuke sekenanya. Dia mengambil botol air mineral yang ada di sebelah kirinya dan meminumnya dengan cepat dalam sekali tegukkan.
"Aku rasa bukan, ini pasti karena Hinata dan Naruto." Sakura menggerak-gerakan gelas lemon tea-nya yang terbuat dari sterofoam dalam pola lingkaran. "Kau masih menyukainya kan?" Sebuah senyuman menggoda terlukis jelas di wajah Sakura saat gadis itu menoleh kearah Sasuke dengan penuh arti.
"Itu bukan urusanmu, gadis jelek."
"Ah, aku yakin kau pasti masih menyukainya," ucap Sakura tak mau kalah. "Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan gadis jelek!"
"Memang kau jelek, kau menyuruhku untuk berbuat dosa dengan berbohong?"
Mata Sakura menyipit dan dia mendecih kecil. "Jangan mengalihkan pembicaraan, tuan." Sakura lagi-lagi menghela nafasnya dan memandangi langit biru yang terlukis jelas di angkasa. "Padahal Naruto sedang membantumu mendekati Hinata saat ini. Harusnya kau memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh temanmu!"
Sebelah alis Sasuke terangkat mendengar perkataan Sakura. Tentu saja dia sadar kalau sahabatnya yang bodoh dan ceroboh itu sedang berusaha memberikan kesempatan kepadanya untuk mendekati Hinata. Tapi, apa Naruto tidak menyadari bahwa justru itu akan menyakiti Hinata?
Gadis itu menyukai pemuda berambut pirang itu. Baginya pergi berdua dengan Naruto ke tempat semacam ini adalah sebuah kesempatan yang baik. Dan kenapa tadi dia berkata bahwa dia tidak punya acara lalu menyutujui untuk ikut bersama mereka?
Ini di luar kendalinya. Untuk sesaat dia merasa cemburu dan tidak ingin membiarkan Hinata berduaan dengan Naruto. Lalu, justru sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya duduk berdua di bangku panjang ini bersama dengan pelayan pribadinya yang notabene gadis tidak normal.
"Hei Tuan!"
"Hn?"
"Apa perlu aku mengajak Naruto ke wahana lain supaya kau bisa berduaan dengan Hinata?"
"Tidak perlu."
"Kau yakin?"
"Hn." Sasuke mengangguk dan dia mendengar gadis itu menghela nafasnya lagi. "Berhentilah meng-"
"Iya iya aku tahu! Tapi aku sedang sedih."
Sasuke mengerutkan alisnya. "Kau menghela nafas karena sedih?"
"Hum.. ini pertama kali aku ke Konoha Land dan aku hanya bisa duduk diam disini. Ah, menyedihkan," keluh Sakura. Dia mengerucutkan bibirnya dan memandangi orang-orang yang lewat di depannya. "Aku kasihan sekali ya."
"Tanpa itu pun kau memang patut dikasihani."
Sakura mendengus dan menggumam sesuatu yang tidak jelas sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku gadis itu.
"Kau boleh memainkan semua wahana ini."
"Eh? sungguh? Aku boleh main?" tanya Sakura tak percaya. Dia terlihat bersemangat dan menatap Sasuke dengan mata yang berbinar-binar.
"Hn, asal kau duduk di pangkuanku dan menciumku." Sebuah seringai licik terpampang jelas diwajah Sasuke saat ini.
"Kau gila? Ini tempat umum! Semua orang bisa melihatku!"
"Aku tahu."
Mata Sakura menyipit, "Kau pasti sengaja kan?"
"Kalau kau tidak mau main, terserah." Sasuke mengangkat bahunya ringan dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman di bangku itu. Dia melirik Sakura yang tengah berpikir keras sambil melihat ke arah gelas lemon tea-nya.
Dalam beberapa detik, Sakura akhirnya bangkit dan membuang gelas itu ke tempat sampah. "Baiklah! Tapi kau harus janji kalau aku boleh memainkan semua wahana itu tanpa terkecuali dan kau tidak boleh melarangku atau menyuruhku untuk duduk di bangku ini seperti orang depresi! Setuju?"
"Setuju."
Sakura menelan ludahnya yang tertahan di tenggorokkan. Dia berjalan mendekati Sasuke dan memandangi lelaki itu sudah mempersiapkan pangkuannya dengan sebuah seringai tipis di wajahnya. Ditolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, melihat orang-orang yang sepertinya tak memperhatikan mereka.
Didudukkan dirinya di atas pangkuan Sasuke sambil mengigit bibir bawahnya pelan. Mata Jade-nya masih melirik ke sekitar mengawasi siapa tahu ada yang sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan aneh.
"Mereka tidak mengenali kita."
Sakura memandangi Sasuke dengan sinis. Kenapa lelaki ini bisa dengan santainya berkata dan menyuruhnya melakukan hal memalukan yang tak senonoh?
"Berciuman bukan hal yang senonoh." Seakan bisa membaca pikiran Sakura, Sasuke berbicara pelan tetap dengan seringai kebanggaannya. Kedua lengannya bergerak cepat untuk merengkuh pinggang Sakura agar gadis berambut merah muda itu semakin dekat dengannya.
Wajah Sakura semakin mendekat. Dia mulai menutup matanya terpaksa dan memajukan bibirnya. Jujur saja, melihat hal itu benar-benar membuat Sasuke geli terhadap pelayannya ini. Sepertinya Sakura memang gadis yang polos, lihat dia! Memulai ciuman dengan gaya jaman dahulu. Memajukan bibirnya beberapa senti dan menutup matanya rapat-rapat.
Aroma shampo Stawberry bercampur parfum candy tercium jelas di hidung Sasuke ketika gadis itu semakin mempersempit jaraknya. Sasuke menutup matanya, menghirup aroma manis itu lebih dalam dan tanpa disadarinya dia menyandarkan dagunya di pundak Sakura.
Bau itu membuatnya nyaman dan melupakan emosinya yang daritadi memenuhi kepalanya. Kedua tangannya semakin merangkul erat dan pucuk hidungnya mulai bergerak menuju daerah leher Sakura. Sedangkan gadis itu membuka matanya terkejut dan melirik kepala Sasuke tengah berada tepat di daerah lehernya.
Sakura bisa merasakan ketika hidung Sasuke menyentuh lehernya yang tidak tertutupi kerah kemejanya. Terkadang bibir lembab pria itu ikut menyentuh kulitnya dan jemari panjang Sasuke sedikit menyingkap kerah seragam Sakura agar dia dapat mengeksplorasi lebih.
"Apa yang ka-"
"Baumu enak."
Dahi Sakura tertekuk, majikannya berkata bahwa baunya enak? dia disamakan dengan makanan?
Wajah Sasuke kini turun menuju daerah dada Sakura. Meletakkan kepalanya di antara kedua benda lembut dan menonjol di balik seragam rapi gadis itu. Lelaki itu menggerakkan kepalanya pelan dan menikmati sensai lembut yang tercipta seperti bantal tidurnya yang nyaman.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" Sakura mulai kesal dengan tingkah mesum Sasuke.
"Ternyata ukuranmu lumayan."
"Tentu saja! Jangan mere- Hentikan!" Kedua tangan Sakura berusaha menjauhkan Sasuke dari dadanya hingga pemuda itu mendongak dan menatap lurus kearah kedua matanya.
"Kau menyukai Naruto?"
"Hah?" Kedua alis Sakura terangkat, kenapa lelaki ini tiba-tiba bertanya hal itu. "Tidak, aku hanya menganggapnya sebagai teman saja. Kenapa?"
"Hinata menyukainya." Sasuke berkata pelan dan mengalihkan pandangannya dari wajah Sakura.
"Oh."
"Aku masih belum menerima kenapa Hinata tidak memilihku." Sakura mendelik ke arah lain, dia sadar saat ini dia terjebak dalam topik yang sangat berbahaya dan sensitif. Intinya, dia harus pintar dalam merespon perkataan Sasuke setelah ini.
Tak beberapa lama, gadis itu merasakan bahwa Sasuke menyadarkan kepalanya lagi di dadanya. "Bahkan dia tidak memilihku meski tahu Naruto tidak menyukainya." Sakura hanya diam, dia tidak harus berkata apa dan memberikan jawaban yang pas atas dilema Sasuke saat itu. "Ini menyedihkan."
"Tapi setidaknya kau tidak pantas untuk dikasihan," ucap Sakura seadanya. Sasuke terdiam dan membiarkan bunyi keramaian taman bermain itu mengisi kesunyian yang tercipta di antara mereka berdua.
"Ehem..ehem.." Sebuah suara yang sangat familiar terdengar di dekat mereka berdua. Membuat Sasuke mendongak dan Sakura yang menoleh kearah sumber suara itu. Ternyata Naruto tengah berdiri di samping kursi dengan pandangan kesal beserta Hinata di belakangnya. Gadis itu hanya melihat kearah mereka dengan semburat merah di kedua pipinya. "Sepertinya kalian bersenang-senang sendiri ya."
"Hn? Bukannya kalian sama saja?" tanya Sasuke balik dengan santai. Dia masih tetap dalam posisi yang sama. Kepalanya masih bersender indah di dada Sakura dan kedua tangannya masih merangkul erat pinggang gadis itu.
Bermain-main dengan sahabat karibnya sesekali juga tidak masalah pikirnya. Sasuke sedikit menyeringai kecil ketika pikiran untuk membuat Naruto kesal tersirat di benaknya.
"Ah kau tahu?" Telapak tangan Sasuke kini menempel di salah satu dada Sakura dan digerakkan jemari-jemarinya dalam gerakan meremas yang pelan. "Dada gadis jelek ini mirip bantal tidurku."
Dan saat itu juga, wajah tiga orang sahabatnya memerah seketika. Ckckck, Uchiha Sasuke memang senang membuat sensasi.
(===)
Sakura melangkah dengan sedikit malas ketika dia sudah sampai di depan toko bunganya. Setelah bermain seharian dengan Naruto -tanpa ijin Sasuke- dan itu membuat Sasuke menghukumnya dengan memberikannya tugas-tugas tak masuk akal. Kini saatnya dia bersantai dengan badan yang sudah mencapai limitnya itu.
Dengan pelan dia membuka pintu kaca tokonya dan membuat furin yang tergantung di pintu itu berbunyi. "Tadaima.."
"Okaeri!" Sakura yang tengah berjalan sembari membuka mantelnya terhenti seketika. Suara yang membalas sapaannya itu tidak terdengar seperti suara ayahnya. Justru suara itu lebih mirip dengan suara seseorang yang sangat dikenalnya. "Hari yang melelahkan ya, Sakura-chan?"
Mata Jade itu membulat. "Sa-sasori-senpai?" Dia membuang mantelnya di sofa tamu yang ada di toko dan mendekati pria baby face itu dengan tak percaya. Laki-laki itu hanya tersenyum sangat manis seperti biasa dan memutar kursi bar yang didudukinya hingga badannya menghadap tepat ke arah gadis merah muda itu. "Kenapa senpai bisa disini?"
"Hanya main dan aku ada waktu luang," jawab Sasori sekenanya masih dengan senyumannya. Sakura menatapnya heran dan belum puas dengan jawaban itu. Masalahnya, Sakura tak pernah melihat kehadiran Sasori selama ini di tokonya dan tiba-tiba di suatu malam, laki-laki itu ada dan menyapanya.
Tak lama, sesosok laki-laki dewasa yang dikenal sebagai ayah Sakura muncul dari balik pintu counter dengan membawa nampan yang berisi secangkir teh karamel hangat dan beberapa kue kecil yang menggugah selera.
"Ah, sudah pulang Sakura?" Ayah Sakura tersenyum lembut ke arah anaknya dan meletakkan nampan itu di atas meja. Dia melihat anaknya mengangguk kecil dan melonggarkan dasi sekolahnya. "Kau sudah kenal dengan teman ayah?"
"Sejak kapan ayah berteman dengan Sasori-senpai?"
"Kira-kira dua minggu yang lalu, aku dikenalkan oleh ibuku." Sasori menyahuti pertanyaan Sakura dan memutar kembali kursinya kembali ke posisi awal. "Ibuku sangat dekat dengan Ojita-san."
"Aku tidak tahu kalau ayah punya sahabat wanita." Sakura melirik ayahnya dan mengambil posisi duduk yang nyaman di samping Sasori.
"Hm.. ya, karena ayah belum sempat memberitahumu." Ojita tertawa canggung dan melihat Sasori tengah meniup pelan teh karamelnya. "Apa kau mau dibuatkan sesuatu?"
"Um.. tidak."
"Baiklah. Kebetulan kau sudah pulang. Tolong jaga toko sebentar ya. Ayah mau membeli beberapa pita di toko biasa," ucap Ojita lagi. Dia memakai mantel coklat tuanya dan menatap anak gadisnya yang tengah menyandarkan kepalanya di atas meja. "Tidak apa-apa kan?"
"Serahkan padaku."
Ojita tersenyum lembut. "Maaf Sasori, kutinggal sebentar."
Sasori mengalihkan pandangannya dari cangkir tehnya. "Tidak apa-apa paman, hati-hati di jalan. Aku akan menjaga toko bersama Sakura-chan."
"Terima kasih banyak, kalau begitu Ayah pergi sebentar." Sebuah usapan lembut terasa di pucuk kepala Sakura dan tak lama bunyi furin itu terdengar lagi, menandakan bahwa ayah Sakura sudah pergi dari toko.
"Tadi kau tidak datang saat rapatBounenkai." Sasori memulai percakapan lagi setelah hening beberapa saat.
"Maafkan aku, tadi Sasuke menggeretku ke tempat lain." Sakura menghela nafasnya dan merentangankan kedua tangannya kedepan di atas meja. "Kami pergi ke taman bermain bersama Naruto dan Hinata, tapi Sasuke tidak mengijinkanku bermain satu wahana-pun. Menyebalkan!"
"Benarkah?"
"Iya.." Sakura mengangguk pelan, "Bahkan dia menyuruhku melakukan tugas yang tidak masuk akal ketika sampai di rumahnya."
Laki-laki berambut merah itu hanya bisa tertawa kecil dan meminum teh-nya lagi. "Lain kali aku bisa membawamu ke sana dan tentunya kau boleh bermain sepuasmu."
"Ah terdengar menyenangkan."
Sakura tersenyum kecil dan memilih untuk diam. Kelopak matanya sudah terasa berat dan rasa perih mulai menjalar di permukaan matanya bila dia berusaha membuka lebih lebar. Hari ini memang terasa melelahkan, apalagi memikirkan perasaan Sasuke kepada Hinata. Sebenarnya ini bukan urusannya. Tapi dia pernah mendengar dari Naruto kalau Sasuke menyukai Hinata dari kelas tiga sekolah dasar.
"Memangnya apa yang menarik dari Hinata?"
Sasori menoleh heran mendengar pertanyaan Sakura yang tiba-tiba. Pandangan gadis itu seperti sedang menerawang dan tidak fokus.
"Kenapa Sasuke bisa menyukai Hinata sampai seperti itu?"
"Memangnya kenapa?" tanya Sasori yang kini mulai konsentrasi kepada sosok Sakura. Dia meletakkan cangkirnya di atas meja dan menyangga kepalanya dengan tangan kanannya yang ada di atas meja. Posisinya saat ini sudah sangat pas untuk melihat raut wajah gadis itu yang tengah dalam keadaan setengah sadar.
"Itu tidak mungkin, kurasa yang namanya cinta itu tidak ada."
Pupil mata Sasori sedikit melebar mendengar perkataan Sakura. Tidak ada yang menyangka bahwa gadis seperti Sakura dapat mengatakan kalimat seperti itu.
"Buktinya ibuku meninggalkan ayahku demi uang. Jadi yang namanya cinta itu omong kosong."
Sasori menyeringai kecil, "Kau iri dengan Hinata?"
"Iri," jawab Sakura singkat dengan nada yang semakin rendah. Matanya sudah tertutup dan kedua tangannya telah terlipat di atas meja sebagai alas untuk kepalanya.
"Sakura-chan? Kau tidur?" Sasori bertanya dengan nada pelan sambil melambai-lambaikan tangan kirinya di depan wajah gadis itu dan dia tidak mendapatkan respon yang berarti. "Aa.. kau sudah tertidur rupanya."
Sebuah senyuman tipis menghiasi wajah pemuda manis itu. Dalam beberapa menit dia tetap di posisinya dan memperhatikan wajah gadis di depannya yang sedang tertidur. Tak beberapa lama terdengar nada ringtone handphone dari saku kemeja Sakura.
Gadis berambut pink itu tidak bergerak dan sama sekali tidak terusik dengan nada yang cukup aneh itu hingga Sasori mengambil handphone itu dari dalam sakunya dan melihat nama yang tercantum di layar.
Sasuke Uchiha calling.
Tanpa ragu-ragu Sasori menekan tombol hijau di handphoneitu dan mendengarkan suara pemuda berambut raven itu.
"Hei gadis jelek!"
"Siapa yang kau maksud dengan gadis jelek, Sasuke?"
Sasori menyeringai kecil ketika dia tak mendengar sesuatu sebagai balasan pertanyaannya.
"Kenapa kau yang menjawabnya?"
"Karena Sakura-chan sedang tidur," jawab Sasori dengan nada yang dibuat-buat. Dijulurkan tangan kirinya untuk bermain-main dengan anak rambut Sakura yang terasa halus di jarinya. "Di sebelahku."
"Jangan berbohong."
Sasori tertawa kecil. "Kalau aku berbohong, tidak mungkin aku yang menjawab telepon ini bukan?"
Sasuke lagi-lagi terdiam.
"Kau tahu? Tadi dia berkata bahwa dia iri dengan cintamu kepada Hinata." Sasori menjauhkan tangannya dari kepala Sakura untuk meraih tehnya kembali. Meneguknya sedikit dan merilik Sakura dari sudut matanya. "Katanya cinta itu omong kosong. Kasihan sekali bukan?"
Kali ini tangannya terulur untuk mengambil sepotong kue kering berbentuk bulat yang ada di sebelah cangkir tehnya. "Bagaimana kalau aku merusak hubungan kalian agar Sakura tidak iri dengan cintamu itu? Sebagai kakaknya tercinta, tentu aku harus melindungi adikku tersayang bukan?"
"Apa maksudmu? Jangan berpikir kau bisa melakukan sesuatu dengan Hinata." Perkataan Sasuke membuat Sasori lagi-lagi tertawa kecil.
"Hinata gadis yang cantik, tapi dia bukan tipeku. Lagipula, aku lebih tertarik dengan pelayanmu ini." Sasori menggigit kecil kue itu dan mengunyahnya pelan. "Kau sudah pernah menciumnya Sasuke?"
"Apa bibirnya terasa lembut?" Sasori menaruh sisa kue itu kembali ke tempatnya dan menyentuh bibir Sakura pelan. Ditekannya sedikit hingga membuat gadis itu agak bergerak kecil. "Aa.. bibirnya memang lembut. Lalu bagaimana rasanya? Manis?"
Setelah menyentuh bibir itu, dia kembali menyentuh keramik dingin cangkir tehnya. Mengangkat cangkir itu dari atas meja dan meminum isinya seteguk. "Manis."
"Aku tidak peduli apa yang kau lakukan padanya, katakan padanya bahwa besok dia harus datang jam 4 pagi! Dan aku tidak akan memaafkannya meski telat hanya sedetikpun."
"Baiklah, akan ku-" Sebelah alis Sasori terangkat ketika dia mendengar nada pemberitahuan bahwa panggilan itu terputus. "Dasar pencemburu."
Tanpa perasaan bersalah, Sasori memasukkan kembalihandphoneSakura ke dalam kemeja gadis itu.
"Sasori-senpai?" Gadis itu rupanya terbangun akibat merasakan gerakan Sasori di dekatnya. Dia menguap lebar dan menggaruk-garuk daerah sekitar matanya. "Maaf aku ketiduran."
"Tidak apa-apa." Sasori tersenyum manis dan mengusap kepala Sakura pelan. "Ah tunggu, ada sesuatu di pipimu. Biar aku lihat." Ibu jari Sasori berpindah di ujung bibir Sakura, mengusapnya pelan seiring wajahnya yang semakin mendekat. Lelaki itu memasang tampang serius seakan dia sedang berkonsentrasi menghapus noda yang ada di wajah gadis itu hingga akhirnya dia mempertemukan bibirnya dengan bibir Sakura yang tadi telah dipegangnya itu.
Hanya sekilas dan kecupan singkat itu segera berakhir. Diperhatkannya raut wajah Sakura yang kini berubah drastis disertai rona-rona merah di pipinya dan sebuah tawa kecil keluar dari mulutnya, "Aku berbohong."
"A-aku.." Sakura tiba-tiba berdiri dari duduknya. "Aku mau ke toilet!" Gadis itu berjalan cepat menuju pintu belakang counter dan menghilang dari pandangan Sasori. Sementara, lelaki yang mencuri kesempatan itu hanya menyeringai kecil dan menghabiskan teh karamelnya.
Dia menghapus sisa teh yang ada di ujung bibirnya dengan ibu jarinya dan menjilatnya pelan.
"Ternyata memang manis."
TBC
Author Note lagi : Terima kasih atas semua review dan respon kalian atas fic ini! Yah, meski fic ini rasanya hampir tenggelam dalam jaman #apasih , tapi Aki akan berusaha menamatkan fic ini~
Kalau boleh jujur, hm... entah mengapa Aki gak tega membuat adegan anu anu SasuSaku di fic ini =_= kasihan Sasoriiiii TT^TT #plaaak TAPI! untuk chapter depan akan ada adegan anu2 dan perkembangan yang sangat penting untuk cerita ini XD jadi bersabar yaaaaa~
Baiklah, terima kasih lagi atas semuanya! Sampai bertemu di chapter selanjutnya!
