Maaf aku baru update, aku bener-bener sibuk minggu ini, nah langsung saja, check this out... :)
Title: Malaikat Jatuh
Disclaimer: CS lewis...
...
Normal POV
Miraz menangkap burung-pengantar-surat dan membacanya, selesai membaca surat itu dia mengerutkan kening tanda tidak mengerti. "Bagaimana dia tahu tentang ramalan Aslan?" Seketika pengawal yang penuh luka compang-camping mengangguk ketakutan.
"Maaf yang mulia, Pangeran Edmund mengetahuinya dari pesuruhnya, para maugrim. Saya sedikit mendengar pembicaraan mereka bahwa ketiga anak tersebut telah bertemu dengan Douglas."
Miraz meremas surat tersebut lalu membuangnya ke perapian. "Siapkan para prajurit, aku akan menemui anakku segera..."
"Ba..baik...yang mulia..."
Miraz menatap tajam pada pengawal tersebut."Dan kau...! Jangan perlihatkan wajahmu di depan anakku, jangan sampai dia mengetahui kau masih hidup." Pengawal itu kembali mengangguk lalu pergi menjalankan perintah Miraz.
Mata Miraz tertutup rapat, mencoba mengingat isi dari ramalan Aslan. "Ketika satu anak adam dan dua anak hawa datang ke Narnia, kerajaanku dan Jadis akan runtuh tergantung akan nasib mereka. Namun satu anak adam tersebut telah tewas di tangan Edmund, berarti tersisa dua anak Hawa... Bagaimana cara mematahkan ramalan Aslan?"
Miraz menghela napas panjang, sepanjang ini anaknya telah menjalankan tugasnya dengan baik. Tetapi Miraz khawatir dengan Edmund, kemiripan dirinya dengan ibunya begitu nyata. Ia tahu tidak akan mudah mengatur Edmund menjadi seperti yang dia inginkan. Edmund terlalu cerdik untuk itu, dan sebenarnya Miraz bangga, tetapi tetap kekhawatiran melanda hatinya. Apalagi kedatangan penyusup ke tanah Narnia menghancurkan rencana-rencananya. "Semestinya aku tidak menyetujui kepergian Edmund..." Miraz mengguman menyesal lalu duduk di meja kerjanya untuk membalas surat Edmund
Edmund tersenyum melihat perkamen di tangannya, lalu memasukannya ke dalam tas. "Sudah aku duga ayah tidak tahu cara mematahkan ramalan itu. Rencanaku sempurna."
Beberapa jam kemudian Miraz datang bersama pasukannya, Edmund membungkukkan badan sebagai penghormatan. Miraz turun dari kudanya dengan ekspresi kesal.
"Jadi apa anak hawa itu kabur? Dan kau membiarkannya?"
"Tidak ayah, kita tidak bisa membunuh mereka." Tukas Edmund tenang.
Miraz mentap Edmund tajam, "Apa maksud perkataanmu..."
"Aku tahu cara mematahkan ramalan itu." Edmund tersenyum dalam hati melihat keterkejutan ayahnya.
"Benarkah? Bagaimana caranya?" Desak Miraz tak sabar.
"Caranya adalah menikah dengan salah satu dari mereka..." Ekspresi Edmund tetap dingin dan datar, Ayahnya menatap Edmund tidak percaya.
"Menikah dengan salah satu dari mereka? Maksudmu kau dengan...salah satu dari mereka?" Miraz kurang menyukai ide tersebut. Tadinya dia akan menikahkan Edmund dengan salah satu anak sahabatnya, sehingga Edmund bisa dikendalikan sebagai boneka.
"Ya...aku baru mengetahui caranya setelah mendengar dari Douglas "Sang Bapak Natal", dia mengatakan cara mematahkan ramalan Aslan adalah bila keturunan Jadis dan Miraz menikah dengan dengan salah satu dari mereka, yang tidak lain adalah aku."
Sesaat Miraz berpikir cermat, "Apa benar yang dikatakan Edmund? Bagaimana bila dia berbohong padaku? Tapi...tidak ada keuntungan yang bisa dia dapat dengan berbohong seperti itu..." Berbagai spekulasi bermunculan di kepala Miraz, dan akhirnya dia mengambil keputusan.
"Baiklah...aku percaya padamu. Kita harus menemukan dua anak hawa sekarang. Pengawal dan Prajurit! Tangkap mereka hidup-hidup, jangan sampai mereka terluka." Pengawal Miraz mengangguk dan segera memacu kuda mereka dan Edmund diperintahkan untuk memimpin mereka.
Lucy POV
Aku dan Susan terus berlari ke dalam hutan, tidak memperdulikan keadaan kami yang kotor dan letih. Kami berdua terus berlari sampai akhirnya aku dan Susan jatuh terjerembab jatuh ke tanah. Ketika kami mendongak, kami dikelilingi banyak sekali prajurit berpakaian baju perang. Oh...apakah mereka prajurit Miraz? Apakah kami sudah di temukan? Seseorang mendekati kami, seorang pria tua yang terlihat bijaksana dan kuat. Sepertinya dia adalah pemimpin dari prajurit itu dan aku yakin mereka bukanlah Prajurit Miraz .
"Siapa kalian berdua? Bagaimana kalian bisa mengetahui persembunyian kami?" Tanya pria itu hati-hati.
"Kami tersesat, kami ti..tidak tahu apa yang mesti kami lakukan..." Jawab Susan terengah-engah diikuti aku yang mengangguk.
Pria itu terlihat khawatir lalu memerintahkan kepada prajurit yang lain untuk membawa kami ke dalam sebuah pondok kecil. Di sana aku dan Susan di beri makan dan minum sampai tenaga kami pulih kembali.
"Jadi, bisa kalian ceritakan mengapa kalian bisa sampai kemari?" Pria itu bertanya kembali pada kami. Aku yang masih syok dengan kematian Peter hanya bisa terdiam, Susan yang mengetahui kesusahanku akhirnya berbicara, menceritakan kejadian yang kami alami secara rinci. Selesai Susan bercerita, nampak pria tersebut begitu terkejut.
"Demi Aslan, kalian ternyata adalah salah satu dari ramalan Aslan. Tapi sayang kakak kalian telah meninggal dalam kecelakaan yang mengerikan, aku memang pernah mendengar disana terdapat banyak serigala buas, aku turut berduka cita...Dan perkenalkan namaku adalah Drinian. Kami semua disini adalah pemberontak kerajaan Narnia dan Telmar, The Threader."
Aku dan Susan saling berpandangan tanda tak mengerti. "Pemberontak? Mengapa di Narnia ada pemberontakan?" Tanya Susan polos.
Drinian mendesah berat. "Kami adalah orang-orang yang tertindas oleh Miraz, kami dari kalangan budak yang teraniaya. Di saat tertentu aku dan kawananku tidak tahan dengan kekejaman pejabat dan Miraz terhadap kami. Akhirnya kami membentuk sebuah kawanan pemberontakan yang kami namai The Threader..."
Refleks aku menggenggam tangan Drinian, Menyampaikan rasa prihatinku padanya, Drinian mengangguk tersenyum sambil membalas genggaman tanganku. "Kami tidak akan membiarkan mereka membunuhmu dan saudaramu, musuh Miraz adalah teman kami..."
"Terima kasih Drinian, kami tidak tahu bagaimana membalas kalian.." Tukas Susan sedih.
"Aku dan kawan-kawanku akan sangat senang jika kalian bisa kembali ke rumah kalian. Aku prihatin pada kalian, kalian masih muda dan berharga untuk mati di tangan Miraz. Kami akan mencoba menghalangi mereka membawa kalian."
"Tapi bukankah berbahaya bagi temanmu dan dirimu?" Tanya Susan khawatir.
"Kami bukan melakukan hal ini untuk kalian saja, tetapi kami melakukan hal ini untuk kebebasan kami juga. Kami sudah muak dengan pemerintahan Miraz." Tegas Drinian pada kami berdua.
Susan menunduk sedih, "Dan apa yang kini kau rencanakan Drinian?"
Drinian tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya, "Hanya ada satu rencana dan kita harus melakukannya dengan cepat saat matahari mulai terbit besok. Karena perkiraanku, pasukan Miraz besok akan tiba disini. Sekarang beristirahatlah, persiapkan energi untuk besok." Drinian meninggalkan aku dan Susan berdua, sesaat keheningan melanda kami.
"Kita beruntung bisa bertemu dengan Drinian..." Susan mengelus kepalaku lembut. "Percayalah Lucy, tidak akan ada yang menyalahkanmu atas kematian Peter." Air mataku mengalir pelan dan mulai terisak.
"Semestinya aku saja yang mati, aku bukan siapa-siapa..." Susan memotong perkataanku. "Ssttt... kau adalah adik kami, cahaya kami, kau bukan orang lain. Kau adalah Lucy Pevensie, salah satu anak bungsu keluarga Pevensie. Aku yakin ibu dan ayah akan bangga mendengar Peter melindungi kita walau nyawa taruhannya. Tegarlah Lucy, aku yakin Peter mencintai kita berdua dan ingin tetap kita berdua hidup."Aku mendongak melihat wajah Susan yang memerah menahan tangis. Seketika rasa bersalah merasukiku.
"Maaf Susan, aku tidak tahu kau juga begitu sedih atas kematian Peter. Kau juga berusaha kuat dan tegar, tapi aku malah jatuh dan rapuh seperti ini..."
Susan tersenyum lembut, "Tidak Lucy, itulah tugas seorang kakak, bagaimanapun juga kau adalah adikku yang harus aku lindungi."
Aku memeluk Susan sekali lagi sebelum akhrinya kami berdua jatuh tertidur. Drinian benar, kami harus istirahat untuk mempersiapkan tenaga kami besok.
Normal POV
Lucy dan Susan terbangun mendapati Drinian membawa baju baru untuk mereka kenakan.
"Maaf, hanya ini baju yang ada untuk kalian. Ini baju bekas adikku dan kakak temanku. Semoga cukup untuk dipakai."
"Terima kasih Drinian, ini sudah lebih dari cukup." Drinian lalu mengantar kami untuk membersihkan diri. Setelah kami selesai berpakaian, Drinian dan kawan-kawannya juga pasukannya membawa seekor kuda perang yang kuat.
"Ini adalah kuda tercepat yang kami dapatkan. Semoga ini bisa membantu kalian cepat menemukan portal menuju dunia kalian."
Lucy dan Susan mengangguk hormat lalu memeluk Drinian dan kawan-kawannya. Tidak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka semua. Lucy dan Susan naik ke atas kuda sebelum akhirnya terdengar bunyi lonceng besar yang memecah keheningan. "Susan, Lucy, cepatlah kalian pergi, pasukan Miraz telah tiba di sini, kami akan mencoba menghalangi mereka!" Perintah Drinian panik.
Tanpa pikir panjang, Susan memacu kuda dengan kecepatan tinggi menuju tempat pertama kali Lucy tiba di Narnia, Hutan Utara.
Edmund dan pengawalnya terkejut mendapati pasukan pemberontakan secara tiba-tiba. Mereka kewalahan dengan perbandingan jumlah yang sangat Edmund dan beberapa prajurit berhasil lolos dari para yang mengetahui hal itu mencoba mengejar, "Tahan dia! Jangan sampai dia mengejar ke Utara!" Tetapi sayangnya Miraz yang memang sudah mengetahui pemberontakan The Threader sejak lama telah mengirim pasukan dalam jumlah besar. Perhatian Drinian teralihkan pada pasukan Miraz yang datang. Edmund menyeringai senang, "Utara ya?" Gumam Edmund pelan sebelum memacu kudanya bersama beberapa prajurit.
Susan terus memacu kudanya dan sesekali memerintakan Lucy melihat keadaan di belakang. Namun, keadaan seperti itu tidak berlangsung lama, mata Lucy terpaku melihat beberapa prajurit mulai mengejar mereka.
"Susan, mereka hampir mengejar kita..." Seketika wajah Susan pucat, mengapa bisa begitu cepat pasukan Miraz mengejar? Susan lalu teringat panah yang kini ia bawa, sebuah ide gila melintas dipikirannya. Susan segera menghentikan kudanya lalu turun dan menyiapkan busurnya. Lucy tercengang dengan apa yang Susan lakukan.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau turun di sini?"
"Maaf Lucy, tetapi kau harus pergi sendirian. Tetaplah hidup Lu..." Ucap Susan lalu menepuk keras kuda mereka agar segera berlari. Lucy memandang sedih pada kakaknya sampai akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Susan. Setelah memastikan Lucy sudah pergi jauh, Susan menguatkan hatinya dan menarik busur, bersiap-siap dengan kedatangan pasukan Miraz. Beberapa prajurit mulai terlihat dan saat itulah Susan menembakan panahnya dengan tetap sasaran. Satu persatu prajurit mulai tumbang namun sialnya Susan terlambat mengambil panah dan terjengkang ke bawah tertabrak kuda salah satu prajurit. Para prajurit mengarahkan pedang ke arahnya dan Susan tersentak melihat Edmund melewatinya, mengejar Lucy. Kini Susan hanya bisa berharap semoga Lucy dapat menemukan Portal dan tidak tertangkap.
Edmund memacu kudanya dengan cepat, mencari Lucy dengan mengikuti jejak kudanya. Edmund tersenyum senang melihat silue Lucy. Lucy ternyata menyadari ada seseorang yang mengejarnya memacu kudanya sekencang mungkin, berharap orang tersebut tidak berhasil mengejarnya. Edmund merengut kesal saat Lucy semakin menjauh darinya dan teringat busur panah pada pelana kudanya. Tanpa buang waktu, Edmund mengambil busur tersebut dan mengarahkanya membidik kuda Lucy, setelah yakin dengan bidikannya, Edmund menarik pelatuk lalu busur menembak tepat mengenai kuda Lucy. Kuda Lucy meringik kesakitan membuat Lucy terjatuh ke tanah. Kuda tersebut kemudian ikut terjatuh dan mati beberapa detik kemudian.
Lucy kaget melihat Edmund-lah yang melakukan ini semua, tanpa pikir panjang, Lucy bangkit dan berlari menjauh dari Edmund, Edmund yang melihat hal itu segera turun dari kudanya dan mengejar Lucy. Namun sial bagi Edmund karena Lucy telah bersembunyi di balik salah satu pohon. Sementara itu Lucy menutup mulutnya, berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.
"Dimana kau Lucy? Perlihatkan dirimu dan hadapilah aku..." Ucap Edmund tenang dan menakutkan.
Lucy POV
Aku tetap dalam posisiku, diam tidak bersuara. Tuhan, tolong aku untuk sekali lagi, biarkan Edmund pergi. Aku mencoba mengintip untuk melihat posisi Edmund, tetapi sial...aku menginjak ranting pohon dan panik melihat ke arah Edmund untuk memastikan dia tidak mendengar suara yang aku timbulkan. Namun Edmund tetap dalam posisinya dan beberapa menit kemudian melangkah maju ke depan. Setelah lama tidak terlihat, aku mendesah lega...dia sudah pergi.
"Merindukanku Lucy?" Sepasang tangan memeluk pinggangku erat, aku mencoba berteriak namun tangannya dengan cepat membungkam mulutku. "Sudah kubilang pergilah jauh dariku karena saat kita bertemu lagi, aku tidak akan segan-segan." Suaranya yang berat itu menggelitik leherku. Tuhan...mengapa aku harus begitu bodoh mengira Edmund telah pergi, semestinya aku tahu dia mendengar suara ranting tadi dan akan menjebakku. Aku berusaha melepaskan cengkraman tangannya dari mulutku dengan mengigitnya keras, dia melepas pinggangku namun sebelum aku lepas dari cengkramannya, dia menahan tanganku erat. Sesaat aku melihat wajahnya tetap tenang dan dingin, tidak menunjukan kesakitan, padahal aku baru saja mengigitnya sangat keras. Tiba-tiba aku merasakan rasa besi dan amis di lidahku lalu melihat bekas gigitanku di tangannya mengalirkan darah segar. "Terkejut Lucy? Tapi tidak apa-apa, ini merupakan tanda bukti bahwa aku telah menemukanmu, bertemu lagi denganmu setelah sepuluh tahun aku menunggu." Dia melepaskan tanganku tapi tetap mengawasi gerakanku. Aku hanya diam menanggapi ucapan Edmund. Mengapa ekspresinya begitu tenang menghadapi kebringasanku? Aku sendiri tidak mengerti,takut dengan kelakuanku yang tidak pernah terkontrol seperti aku mencoba untuk tetap tenang, menaikkan daguku agar terlihat berani, aku tidak sudi Edmund melihat ketakutanku.
"Lalu mengapa kau diam saja? Apa yang kau tunggu? Bukankah kau sangat ingin membunuhku dan juga saudaraku?" Suaraku tertelan pahit mengatakan kata "saudaraku". Aku belum tahu apa Edmund telah membunuh Susan, dan aku harap belum.
Edmund menyeringai lalu tertawa kecil seperti kata-kataku barusan adalah sebuah lelucon yang mengerikan. "Aku tidak ingin membunuhmu dan saudaramu Lucy..."
"Kau berbohong! Kau yang menyebabkan semua ini terjadi, kaulah yang membuat Peter mati!" Aku berteriak kehilangan kontrol dan mulai menyalahkan Edmund.
"Jangan menyalahkan kematian kakakmu kepadaku." Jawab Edmund tajam tetapi terdapat ketenangan yang mengerikan.
Aku menutup wajahku mencoba agar tidak menangis, tapi air mataku mulai menetes satu persatu tanpa dikomando, aku merasa hancur, terluka, lelah, berpikir memang lebih baik Edmund membunuhku sekarang. Perlahan Edmund mendekatiku lalu menarikku ke dalam pelukannya. Dia mengelus kepalaku penuh rasa sayang, aku memejamkan mata merasakan kehangatan tubuhnya, mengirup aroma tubuhnya yang berbau segar embun pagi,aku mulai bertanya-tanya mengapa aku begitu nyaman berada dalam pelukannya?
"Ed..edmund...a...aku..." Aku menarik diri darinya dan ingin mengucapkan sesuatu tetapi suaraku tertelan saat Edmund mencium bibirku dengan lembut, menarik pinggangku ke dalam pelukannya. Awalnya aku terkejut karena ini adalah ciuman pertamaku dan mencoba tidak membalas ciuman Edmund. Tetapi Edmund menggigit bibir bawahku tanpa ragu sehingga mau tak mau aku membuka mulutku, dengan cepat Edmund memasukan lidahnya posesif, menuntut lebih. Akhirnya aku menyerah dan mengikuti permainan Edmund. Kami saling menggigit, menghisap dengan liar, dan beradu saliva sampai aku tak sadar melingkarkan tanganku pada lehernya, seolah aku menikmati ciumannya, sampai menit terakhir akhirnya kami melepaskan diri satu sama lain karena kehabisan udara. Kami berdua terengah-engah, perlahan semburat merah di pipiku muncul, menunjukan bahwa aku malu. Dengan agak takut aku mendongak melihat wajah Edmund dan melihatnya tersenyum tulus. Senyuman yang dulu pernah aku lihat saat pertama kali kami bertemu.
"Kau cantik Lucy, sama seperti pertama kali kita bertemu..." Gumamnya halus lalu memakaikan sesuatu di rambutku. Waspada,aku mengambil benda itu dari rambutku.
"I..ini..." Aku melihat sebuah jepitan berwarna cokelat di tanganku, jepitan yang ku kenakan saat pertama kali pergi ke Narnia.
"Ya...ini adalah milikmu, aku menemukannya saat kau pergi dan menyimpannya." Aku mendongak tidak mengerti. "Untuk apa? Mengapa kau menyimpannya?"
"Karena aku yakin kau akan kembali Lucy, aku yakin kau akan menepati janjimu padaku." Edmund lalu memelukku dengan lembut. "Menikahlah denganku Lucy...".
Bagaimana? Terkejut bukan Edmund melamar Lucy, dan apa jawaban Lucy?
Aku tidak ingin terburu-buru Lucy tahu kematian Peter adalah salah Edmund, poor Lucy, maaf aku agak sedikit kejam, hha#evil smile
Review Please... :)
