Nah,akhirnya sampai juga chapter ke 5 :D

Sebenarnya saya bingung dengan ending cerita ini, berakhir happy ending atau tragis? Bagaimana menurut kalian

Oke, kalian mungkin bosan dengan ocehan saya, jadi silahkan membaca :D

Title: Malaikat Jatuh

Disclaimer : CS Lewis...

...

Normal POV

Miraz menatap Susan dengan seksama, mengamati wajah Susan dengan detail. "Siapa namamu anak hawa?" Tanya Miraz arogan.

"Susan Pevensie tuan..." Jawab Susan sopan, dia tahu bertindak kurang ajar tidak akan berakhir baik.

"Sebenarnya aku yakin Edmund dapat menemukan adikmu, walau sebenarnya kami hanya butuh salah satu dari kalian."

Susan menatap bingung ke arah Miraz. "Apa maksud perkataan tuan?"

Miraz mendecak kesal, "Kau tentu sudah tau tentang ramalan itu bukan? Dan hanya satu yang bisa mematahkan hal tersebut, yaitu puteraku harus menikah dengan salah satu dari kalian."

Susan tercengang dengan apa yang didengarnya, jadi mereka dibiarkan hidup untuk mematahkan ramalan itu sendiri? Tapi mengapa harus dengan menikah? Ini pasti rencana Edmund untuk mendapatkan Lucy. Susan sebenarnya mengetahui bahwa Edmund menyukai adiknya, perasaan Edmund sangat terlihat saat Edmund mengacuhkannya untuk mengejar Lucy. Bila Lucy yang menjadi pilihan Edmund, semakin sulit mereka merencanakan kembali untuk melarikan diri.

"Ini semua tergantung pada Edmund, tapi aku lebih suka denganmu. Kau penurut dalam beberapa hal, berbeda dengan adikmu." Susan menggeram marah namun segera menutupinya. Kata-kata Miraz memberinya sebuah ide.

"Kalau begitu dengan segala hormat yang mulia, biarkan aku menikah dengan putera tercinta anda." Rayu Susan dengan suara yang dibuat-buat.

Miraz menatap curiga kepadanya, "Apakah kau mencintai Edmund? Aku melihat dia lebih memilih adikmu dibandingkan denganmu?" Tanya Miraz menguji.

Susan tersenyum simpul, "Cinta bisa datang kapan saja tuanku, dan menurut pendapatku hanya aku yang pantas mendampingi puteramu dibandingkan adikku, dia begitu sembrono dan juga naif."

Miraz tertawa senang mendengar jawaban Susan, Miraz melihat kecerdasan Susan dalam perkataannya dan berpikir dapat menggunakan Susan untuk mengatur Edmund bila mereka menikah.

"Kau cocok dengan Telmar, licik dan arogan, kau sangat pantas mendampingi puteraku. Akan kuusahakan puteraku menikah denganmu."

Susan mengangguk dan tersenyum palsu, setidaknya rencana yang baru dia buat berhasil. Begitu mudah mengambil hati Miraz, dan Susan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Beberapa menit kemudian Edmund datang sambil menggendong Lucy, membawa turun Lucy dengan hati-hati. Susan tidak suka melihat hal itu, bukan karena cemburu pada kedekatan mereka. Tapi rahasia yang di simpannya selain rencana melarikan dirilah yang membuatnya tidak suka dengan kedekatan mereka. Setelah turun, Lucy melihat Susan lalu memeluknya erat. Miraz menatap Susan tajam, karena baru saja dirinya begitu menghina adiknya tetapi sekarang malah terlihat akrab. Akhirnya Susan mengambil keputusan untuk berakting kejam pada Lucy.

"Lepaskan pelukanmu Lu, jangan seperti anak kecil. Dan berilah hormat pada tuan Miraz." Omel Susan sambil melepaskan pelukan Lucy. Lucy menatap Susan tidak percaya, mengapa tiba-tiba kakaknya menjadi sangat kasar? Edmund juga merasakan hal yang aneh dengan perilaku Susan. Sedangkan Miraz menyeringai mendengar omelan Susan.

"Tidak perlu sayangku... adikmu ini masih muda dan tidak bijaksana, jangan terlalu dipikirkan." Edmund berjengit mendengar kata sayang untuk Susan dari ayahnya. Apa yang sebenarnya ayah pikirkan? Tanya Edmund dalam hati.

"Edmund, ikut aku ke dalam tenda, ada yang mesti aku bicarakan padamu..." Edmund mengangguk patuh dan mengikuti ayahnya. Sedangkan Lucy masih syok dengan perilaku Susan.

"Su...apa yang salah denganmu? Mengapa kau begitu hormat pada Miraz?" Susan menghela napas panjang.

"Tidak sekarang Lu...nanti akan aku beritahu apa masalahnya. Sekarang berpura-puralah kau sakit dan teraniaya dengan sifatku." Lucy mengangguk mengerti. Akan banyak waktu nanti dan Lucy ingin sekali menceritakan kejadian di dalam hutan dengan Edmund.

Ya, Edmund memang telah melamarnya, akan tetapi Lucy belum bisa menjawab lamaran Edmund. Mengingat mereka baru saja bertemu dan umur Lucy yang masih berusia 17 tahun. Edmund tidak keberatan memberikan waktu Lucy untuk berpikir dengan ancaman Lucy tidak bisa kembali ke London, Inggris.

Sementara itu Miraz sedang membahas pernikahan dengan Edmund.

"Edmund, sebagai ayah aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Menurutku Susan cukup baik dan juga cerdas sebagai calon istrimu di masa yang akan datang. Telmar butuh Ratu seperti dia."

Edmund tercengang sesaat sebelum menutup emosinya. Jadi permainan apa ini? Mengapa tiba-tiba ayahnya bisa berpikiran seperti itu?

"Lalu bagaimana dengan Lucy? Dia juga menarik dan pintar..." Sahut Edmund membuat Miraz mendelikan matanya.

"Apa kau mencintai Lucy?" Tanya ayahnya tak sabar, Edmund berusaha mendinginkan kepalanya dari kemarahannya.

"Ya...aku mencintainya dan aku sudah melamarnya terlebih dahulu." Jawab Edmund mantap, dia sudah muak mengikuti kehendak ayahnya. Edmund bisa mentolerir segala tuntutan Ayahnya, tapi tidak dengan keputusannya menikah dengan Lucy, itu sama saja mengambil jiwa dan hidupnya.

"Edmund! Jangan keras kepala seperti ibumu, cinta bisa datang kapan saja dan walau tanpa cinta kita bisa bahagia." Tegur ayahnya tajam, Edmund hanya diam sambil terus memikirkan mengapa ayahnya ingin dirinya menikah dengan Susan? Ini semua sedikit mencurigakan.

"Terserah keputusan apa yang akan ayah berikan, tetapi aku tetap memilih Lucy." Tukas Edmund dingin lalu melangkah keluar. Miraz yang kesal dengan kekurangajaran anaknya membanting gelas kaca di dekat tempatnya berdiri.

Keesokan harinya Miraz beserta rombongannya pergi kembali menuju istana. Susan tetap dengan akting kejamnya sementara Lucy percaya pada kakaknya dan pura-pura terlihat sakit dengan perlakuan Susan. Edmund mulai mencurigai Susan, ia sangat yakin Susan dan Lucy begitu akrab, jadi tidak mungkin Susan memperlakukan Lucy begitu buruk. Selama dalam perjalanan Edmund diam dan menahan diri untuk tidak bicara pada Lucy. Lucy yang tidak tahu apa-apa hanya bisa memandang sedih pada Edmund dan Susan, ada apa dengan mereka berdua sebenarnya? Lucy berharap Susan berhenti dengan sandiwaranya lalu Edmund kembali berbicara dengannya. Tunggu! Kenapa Lucy berharap Edmund mau berbicara dengannya? Lucy menggelengkan kepalanya... terus menyangkal perasaannya pada Edmund. Dia berpikir mungkin pikirannya sedang kacau karena kelelahan dengan semua kejadian yang menimpanya.

Beberapa jam kemudian mereka sampai di Istana Miraz, Susan dan Lucy dipersilahkan masuk ke dalam kamar yang telah di sediakan Miraz. Dan sebagai penutup tidak lupa Susan mengucapkan terima kasih secara berlebihan. Tanpa Miraz dan Susan sadari, Edmund mengawasi kelakuan Susan dari kejauhan, menyeringai licik dan melangkah pergi. Miraz begitu mengagumi tingkah laku Susan, selalu tersenyum melihat Susan. Sedangkan Lucy mendapat cibiran dan tatapan sinis dari Miraz. Setelah Miraz pergi dan tidak terlihat, cepat-cepat Susan menarik Lucy kedalam kamarnya lalu mengunci pintu.

Lucy yang sudah muak dengan sandiwara Susan segera menghujaninya berbagai pertanyaan. "Susan! Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu!" Jerit Lucy frustasi.

"Stt...tenang Lu, baiklah...aku akan menjelaskan padamu sekarang. Aku pikir aman berbicara disini..."

"Kalau begitu ceritakan..." Tuntut Lucy

"Aku mencoba mengambil hati Miraz-...dengarkan aku dulu." Ujar Susan melihat Lucy yang akan memotongnya.

"Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu Lu...kau harus kembali ke London. Miraz memberitahuku bahwa ramalan Aslan hanya bisa dipatahkan bila Edmund menikah dengan salah satu dari kita..."

Lucy tercengang mendengar perkataan Susan. Jadi lamaran Edmund kemarin...

"Aku tahu Edmund tertarik padamu, tapi tidak akan aku biarkan dia menyakitimu. Aku berpikir lebih baik aku yang menjadi calon istrinya, setelah aku menikah dengannya aku bisa leluasa untuk membawamu pergi dari sini..."

Entah mengapa tiba-tiba amarah muncul dalam hati Lucy. Edmund...dia kembali membohonginya, dia kembali mengkhianatinya. Padahal Lucy mulai berpikir untuk percaya pada Edmund.

"Su...kau tidak perlu melakukan hal ini. Semestinya kau yang harus pergi dari sini, bukan aku." Ujar Lucy tegas.

"Lucy...kau...kau tidak benar-benar tertarik padanya bukan? Dia hanya memanfaatkan dirimu..!"

"Tidak Su...bukan itu maksudku. Hanya saja rencanamu tidak bisa dilanjutkan, karena...karena..." Lucy memandang ragu Susan sejenak. "Karena Edmund telah melamarku dengan ancaman aku tidak bisa kembali ke London." Susan mengeram marah sambil mengepalkan tangannya.

"Apa? Bajingan sialan itu..." Maki Susan pelan. "Dia tidak akan berhasil Lucy, aku akan berusaha meyakinkan Miraz untuk segera melaksanakan pernikahan antara aku dan dia.." Susan melangkah pergi. "Su...jangan! Edmund bisa berbuat apa saja yang dia mau..." Tapi Susan tidak memperdulikan Lucy dan terus melangkah menuju ruangan Miraz.

Ruangan itu begitu luas, terdapat banyak bendera dan lambang dari negara Telmar berwarna hitam legam dengan ukiran "T" berlapis Susan terhenti melihat seorang pemuda berambut hitam berdiri tepat dihadapannya. Susan melemparkan pandangan menghina padanya yang di sambut dengan seringaian kemarahan.

"Aku tahu kau yang membuat ayahku berpikir agar aku menikah denganmu, ternyata kau lebih licik dari yang ku kira.." Suara Edmund terdengar menyeramkan, membuat Susan bergidik pelan.

"Kau kira dengan melamar Lucy kau akan memilikinya? Asal kau tau Pangeran Edmund, Lucy adalah adikku yang sah dan aku tidak akan membiarkan bajingan sepertimu menjadi suaminya!" Sahut Susan marah.

Edmund terkekeh pelan mendengar ancaman Susan, "Dan kau pikir aku akan diam saja kakak ipar tersayang? Aku peringatkan padamu, hentikan permainan konyol ini, tidak akan bijaksana melawanku dengan menggunakan ayahku." Balas Edmund Sakratis.

Susan menatap Edmund penuh kebencian, dalam hati mengutuk Edmund. "Kau tidak berhak memiliki Lucy, hanya Peter yang berhak memilikinya."

Ekspresi Edmund berubah marah. "Dia sudah mati! Lagipula dia hanya seorang kakak bagi Lucy.."

"Tidak, kalau saja kami tidak pernah kemari, Peter akan hidup bahagia bersama Lucy! Lucy sudah ditunangkan dengan Peter sejak dia datang ke rumah kami- " Ucapan Susan terputus karena tangan Edmund mencekik lehernya kuat, Susan menjerit kesakitan.

"Lucy adalah milikku! Selamanya miliku...bukan milikmu dan juga kakak sialanmu!" Tukas Edmund kasar lalu membanting tubuh Susan ke lantai, Susan mengerang kesakitan sambil terengah-engah mengambil napas. "Berpikirlah dua kali untuk mengalahkan aku, Susan Pevensie..." Edmund lalu melangkah pergi meninggalkan Susan memandangnya ngeri.

Edmund POV

Aku melangkah gusar ke dalam kamarku, menutup pintu dengan kasar. Wanita sialan! Perkiraanku benar, memang dia yang meyakinkan ayah untuk menikahkanku dengannya, brengsek!

Lucy sudah ditunangkan dengan Peter sejak dia datang ke rumah kami

Suara wanita sialan itu menggema di otakku, aku tahu ini adalah ultimatum darinya. "Dia belum memberitahu hal ini pada Lucy, jadi mengancamku menggunakan ini? Bila Lucy mengetahui pertunangannya dengan bocah sialan itu, dia akan merasa bersalah dan menolakku.." Gumamku khawatir. Dan semua itu akan membuat rencanaku sia-sia, aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi, aku harus membungkam mulut perempuan itu.

Tanganku meraih tas-ku kasar dan mengambil botol bening berisi cairan abu-abu yang ada di dalamnya. Aku tersenyum licik memuji kepandaianku sendiri. "Maaf Lucy...kakakmu adalah pengganggu yang menyebalkan."

Whoa...kira-kira hal jahat apa yang akan dilakukan Edmund pada Susan? Apakah Susan akan menikah dengan Edmund?

Review Please