Huft...akhirnya sampai juga ke chapter 6 dan saya masih bingung dengan ending cerita ini :(

Tapi saya akan berusaha untuk membuat cerita ini menjadi lebih baik dari sebelumnya, nah tunggu apa lagi? Lets reading...

Title: Malaikat Jatuh

Disclaimer: CS Lewis selalu :)

:

:

:

Normal POV

Matahari pagi mulai menampakan cahayanya menembus masuk ke dalam kamar Lucy. Mata Lucy terbuka, mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk lewat jendela. Dilihatnya sebuah gaun berwarna hijau keemasan tergantung tak jauh dari tempat tidurnya. Dengan heran Lucy menghampiri gaun tersebut dan menemukan sebuah memo kecil di sudut meja kamarnya.

Pakailah gaun ini sebagai hadian aku sesuaikan dengan ukuran tubuhmu tadi malam.

-Edmund-

Mata Lucy melebar membaca memo dari Edmund. Apa? Semalam dia kemari dan dengan seenaknya mengukur ukuran tubuhnya? Refleks Lucy merangkul tubuhnya dengan kedua tangannya, pikiran negatif melayang di kepalanya.

"Dasar Brengsek..." Gumam Lucy pelan.

"Kau tidak bisa menyebutku seperti itu Lucy Pevensie." Sebuah suara yang sangat familiar mengagetkannya, siapa lagi jika bukan Edmund.

"Pangeran Edmund...tak bisakah kau memberiku sedikit privasi? Mengukur tubuhku? Ini gila!" Jerit Lucy frustasi campur malu.

Edmund menyeringai puas lalu mendekati Lucy. Lucy melangkah mundur, takut Edmund mencoba sesuatu yang mengerikan padanya. Namun sial, punggungnya membentur tembok, tidak memberinya kebebasan. Edmund terus mendekati Lucy hingga dahi mereka menempel satu sama lain. Lucy memejamkan matanya berusaha tidak melihat mata hazel Edmund yang menggodanya. Samar tercium aroma Edmund, masih aroma embun segar pagi. Napas Edmund mengelitik wajahnya.

"Kau harus terbiasa putri...hanya tinggal menunggu waktu kau menjadi istriku." Bisik Edmund mesra di dekat telinga Lucy bergidik dengan panggilan baru Edmund.

"Aku tahu Edmund...kau hanya memanfaatkanku dan kakakku untuk mematahkan ramalan Aslan." Ujar Lucy sinis, di sambut senyuman kecil dari Edmund.

"Kau tahu...semua adalah kebohonganku." Lucy membuka matanya lebar, menatap langsung mata hazel Edmund.

"Apa kau bilang? Jadi..kau-..."

"Ya, semua adalah kebohonganku. Ayahku begitu percaya padaku Lucy, tapi semua sia-sia sekarang. Jadi kita lihat siapa yang menang pada akhirnya, aku atau kau dengan kakak tersayangmu itu?" Terlihat kilatan amarah dari mata Edmund, Lucy masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Edmund. Merasa heran padanya, mengapa dia begitu menginginkan dirinya? Lucy bukanlah wanita yang sempurna dengan kecantikan luar biasa dan pintar seperti Susan. Jadi mengapa?

"Tapi mengapa? Mengapa kau begitu menginginkan diriku Edmund?" Tanya Lucy pelan.

Sorot mata Edmund berubah menjadi lembut lalu tangannya membelai wajah Lucy. "Karena...kau adalah segalanya tidak perduli semua orang menentangku untuk mendapatkanmu Lucy, aku tidak bisa menyerah padamu. Kau adalah milikku..."

Lucy mengalihkan pandangannya dari Edmund, tidak tahan melihat matanya. Lucy takut, bukan takut pada Edmund, tapi takut pada semua kata-katanya, takut semua adalah kejujurannya yang selama ini dia ragukan.

"Bersiaplah Lucy...sebentar lagi ayahku akan mengumumkan sesuatu, kau harus hadir di sana." Edmund melangkah pergi dari kamar Lucy, meninggalkan Lucy dengan segala kemelut hatinya.

Setelah bersiap-siap di bantu oleh pelayan Edmund, Lucy berjalan menuju altar istana. Di sana semua orang menatap padanya, sampai di ujung altar Lucy melihat Susan dengan segala kecantikannya. Susan mengenakan gaun beludru biru, cocok dengan tubuhnya yang semapai. Rambutnya di tata rapih seperti bangsawan Inggris. Di lehernya tergantung kalung emas bertahtakan berlian. Berbeda jauh dengan Lucy yang hanya mengenakan gaun dari Edmund, tanpa riasan apapun dan rambutnya terurai tanpa di tata. Miraz menatap rendah pada Lucy, seolah-olah Lucy sesuatu yang tidak pantas berada di istananya. Lucy menyadari tatapan Miraz mencoba menguatkan hati duduk di samping Susan. Terompet kerajaan berbunyi, menandakan Miraz akan mulai memberikan pengumumannya.

"Rakyatku yang tercinta...anakku Pangeran serta Raja masa depan Telmar sudah beranjak menuju usia pernikahan. Aku ingin mengumumkan calon mempelai wanita yang akan menjadi Ratu masa depan Telmar." Susan menggenggam tangan Lucy kuat dan tersenyum penuh kemenangan. Tapi Lucy mengekspresikan wajah gugup serta ketidakyakinan.

"Wanita tersebut merupakan kehormatan bagi kerajaan Telmar. Dia sangat cocok menjadi menantuku." Lanjut Miraz dengan suara tegas.

Lucy melirik sekitarnya, mencari keberadaan Edmund. Namun Lucy tidak melihat Edmund dimanapun.

"Wanita itu adalah-..." Tiba-tiba suara Miraz terhenti, wajahnya pucat, tangannya gemetar, lalu tumbang seketika. Seluruh orang di altar tersentak kaget dan mulai mengerubungi raja mereka. Pengawal Miraz yang panik segera membawa raja mereka. Susan menatap khawatir, sementara Lucy menangkap sosok seseorang di tengah kerumunan menyeringai kejam lalu meninggalkan altar. Dia tahu siapa orang tersebut...Edmund

OMG apa yang dilakukan Edmund pada Miraz? Segila itukah cinta Edmund pada Lucy?

Review Please...