Halooo akhirnya saya berhasil mengapdet bagian 2 ini :3 dengan sedikit perjuangan tentu saja. Abisnya susah loh nyari waktu luang di minggu ulangan gini T.T #curhat dulu #plak

Tentang chapter ini, konflik belum nongol tapi kalo kalian baca chapter ini, dijamin chapter-chapter kedepannya kalian akan mengerti tentang tindakan-tindakan semua tokoh~

Siplah, happy reading ya, minna-san!


The Book of Love Story

a VOCALOID FANFIC

By : YandereHachan24

Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media

Kaito x Miku


WARNING!

Dramatically Romance, full of abalness, etc

DON'T LIKE DON'T READ!

2 of 8

.

.

.

.

.

Pagi berembun membuat indera penciuman bernama hidung menghirup dalam-dalam aroma pagi yang menyegarkan dan segera membangkitkan semangat untuk beraktivitas hari itu. Begitu pula kedua orang yang tengah berdiri di depan rumah berkayu yang tidak terlalu besar. Kaito dan Miku berjalan keluar rumah, menutup pagar dan melangkahi jalan setapak yang menghubungkannya dengan kota.

"Pagi ini indah sekali, Onii-san!" kata Miku sambil tertawa girang. Kaito hanya membalasnya dengan cengiran miring khasnya. Sudah dua tahun mereka bersama-sama sebagai kakak beradik angkat yang tak punya hubungan darah barang setetespun.

"Onii-san tak punya rencana hari ini?" tanya Miku. Kelereng mata samudera pasifik itu menatap lurus kelereng mata biru kristal milik Kaito yang tentram. Kaito berdeham sedikit lalu mengangkat kedua bahunya.

"Bekerja seperti biasa... mungkin?" katanya. Miku tertawa kecil lalu mengangguk.

"Aku mengerti," katanya. Miku menolehkan pandangannya pada sekitar taman bunga sakura yang terlihat indah. Matanya membesar lalu berlari ke arah taman itu.

"Astaga! Aku lupa ini adalah awal musim semi. Waktu benar-benar terasa cepat berlalu ya, Onii-san?"

Ya... sangat cepat berlalu...

Senyum Miku membuat Kaito ikut bergabung dengan adik angkatnya itu menuju taman bunga sakura yang secantik Miku di mata seorang Kaito Shion. Ditatapnya bunga-bunga sakura yang baru tumbuh kuncupnya itu bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti irama semilir angin yang sejuk.

"Aku paling suka melihat bunga sakura di pertengahan musim! Indah sekali. Iya 'kan Onii-san?" Miku menoleh ke arah Kaito meminta persetujuan. Laki-laki itu tersenyum lalu mengangguk.

"Haa, aku selalu membayangkan diriku memakai kimono yang sewarna dengan bunga sakura saat pernikahanku nanti. Menurutmu, apakah hal itu bisa terwujud?" Miku mengangkat kedua alisnya lalu tertawa melihat Kaito yang diam saja memandangi gadis itu.

Sebenarnya, Kaito sibuk membayangkan Miku yang memakai kimono pernikahan. Ah, betapa cantik—

"Onii-san jangan diam saja dong…,"

"Ah… maaf," Kaito lalu menatap wajah Miku yang kini tersenyum lembut. Gadis itu… begitu putih, begitu cantik dan begitu polosnya…

"Kenapa Onii-san memandangiku terus sih?" Miku mengangkat kedua alisnya menyadarkan Kaito yang kini berdeham.

Karena kau lebih cantik dari bunga sakura…

"Karena... karena... yah, tidak tahu. Memangnya… tidak boleh, ya? Hahaha," tawa kering Kaito membuat Miku ikut tertawa walaupun tawa gadis itu lebih lepas dibanding Kaito yang kini merutuki diri sendiri dalam hati.

"Onii-san kaku sekali," kata Miku membuat Kaito mendelik. Gadis itu lalu beranjak dan menatap Kaito dalam-dalam.

"Terima kasih, Onii-san...," senyuman lembutnya membuat dada Kaito terasa menghangat.

"Untuk apa?" tanya Kaito. Namun Miku tak langsung menjawabnya. Gadis itu malah menjatuhkan diri ke dalam pelukan Kaito. Menghirup aroma tubuh Kaito yang khas bercampur dengan aroma bunga sakura kuncup yang ada di sekitar mereka.

"... atas segalanya...," bisik Miku membuat Kaito menahan nafasnya karena kegugupan luar biasa yang menguasai dirinya. Namun tiba-tiba perasaan yang menyadarkannya bahwa selama ini dia bersikap egois dengan menahan Miku bersamanya membuatnya merasakan perasaan janggal lain. Merasa bersalah... Bahwa secara tidak langsung, dia sudah membohongi Miku selama ini... Lantas, dengan kaku, dibalasnya pelukan itu. Dia menepuk-nepuk punggung kecil Miku yang terasa hangat dalam syaraf sentuhannya.

"Kau... kau… uh, jangan melankolislah," kata Kaito dengan nada malu-malu khasnya sambil melepaskan pelukan Miku. Gadis itu tertawa pelan.

"Maafkan aku, Onii-san. Aku sayang sekali padamu!" kata Miku. Kaito tersenyum lalu meraih kuncup bunga sakura yang ada dalam genggaman Miku. Lantas dia memakaikannya pada sisi telinga adik angkatnya itu. Mengusap wajahnya perlahan.

Di tatapnya wajah mungil dalam genggaman kedua tangan yang menyelubungi pipi putih gadis itu.

Seharusnya aku yang berterima kasih...

Karena kau yang mengisi kekosongan diriku yang kesepian ini...


BRAK! BRAK!

"Tolonglah... Biarkan kami istirahat sejenak!"

"JANGAN MANJA!"

CTAAAARR!

"Tunggu apa lagi?! ANGKAT BOKONG MALASMU ITU!"

Suara batu dihancurkan terdengar dari seluruh penjuru ruangan. Suara teriakan-teriakan orang-orang yang melepas lelah karena pekerjaan mereka juga terdengar—yang langsung disahuti bentakan-bentakan dan cambukan yang kurang manusiawi yang dilakukan orang-orang berseragam biru berbadan tegap. Wajah mereka semua ganas seperti biasanya.

Suasana hiruk-pikuk itu sudah biasa dihadapi Kaito setiap harinya. Laki-laki berdarah Jepang-Russia itu berjalan menuruni anak-anak tangga. Beberapa sipir tampak sedang meneriaki tahanan yang terpisah oleh jeruji besi yang dingin di sisi lain.

"Jangan membantah terus, Bodoh! Dari tadi kau hanya mengeluh saja!" bentak seorang sipir berambut blonde dengan badge nama 'Leon Koejima' dengan dua pin yang menandakan bahwa dia bekerja di kepolisian. Di tangannya terdapat sebuah cambukan yang terlihat mengerikan. Si Tahanan nampak meringis mendengar bentakan si Blonde.

"Apa lihat-lihat?! Sudah sana kerjakan pekerjaanmu!" bentak Leon lagi sambil menunjuk batu-batuan besar di belakang yang harus dikerjakan semua tahanan secara rodi. Tanpa ba-bi-bu lagi, si Tahanan yang dibentak tadi bergegas mengambil palunya dan memukulkannya berkali-kali pada batu-batuan besar itu—bergabung dengan teman-teman tahanannya yang lain.

Kaito menyaksikan adegan tadi dengan wajah biasa-biasa saja. Dia sudah terbiasa melihat perilaku Leon dan sipir-sipir lainnya yang kejam terhadap tahanan—walau tidak separah tekanan dari Kojiro Gumone, si Kolonel yang baru-baru ini mendapat penghargaan atas kasus penemuan gudang ganja bersama Rei Kagene yang merupakan Letnan Jendral—membawa nama mereka melambung tinggi di dunia kepolisian. Membuat atasan teratas mereka, Mayor Gakupo Kamui amat bangga atas prestasi yang mereka raih.

Di dunia ini, banyak orang-orang keras seperti mereka.

"Yo Kaito!" suara kejam Leon segera berubah seratus delapan puluh derajat saat melihat Kaito nongol dari balik dinding tangga. Kaito melambai sekilas ke arahnya.

"Taring Leon Koejima sudah sampai dipermukaan pagi-pagi begini?" tanya Kaito sambil nyengir. Cengiran itu dibahas tawa membahana dari Leon—disambut tatapan bertanya dari tahanan yang sedang bekerja.

"Hahaha! Bisa saja kau Kaito! Dan hey, kau! IYA KAU! Apa lihat-lihat?! Mau kurontokkan semua gigimu?!" pelotot Leon pada semua tahanan yang melihatinya—langsung saja mereka kembali dengan pekerjaan mereka.

"Mereka benar-benar kurang ajar dan sulit diatur. Benar-benar menyebalkan," gerutu Leon. Kaito lalu mencermati data yang dia ambil dari ruangan Gumone. Dia memang disuruh mengambil berkas-berkas itu untuk melihat beberapa kasus data yang akhir-akhir ini terjadi.

"Apa itu?" tanya Leon setelah berhasil meredam amarahnya. Kaito kemudian memperlihatkannya pada Leon.

"Beberapa kasus penculikan...," jelas Kaito. Leon manggut-manggut.

"Akhir-akhir ini banyak kasus seperti itu. Benar-benar manusia-manusia tak berguna," gumam Leon. Dia lalu mendelik ke arah Kaito yang masih sibuk mencermati data itu.

"Kau tahu, hal ini sedikit mengingatkanku pada kasus dua tahu lalu, ada laporan dari keluarga yang lumayan jauh dari sini. Mereka bilang mereka kehilangan putri semata wayang mereka saat putri mereka berpergian bersama tunangannya. Malah kabarnya gadis itu sudah meninggal dibunuh, karena kita saja tidak dapat menemukan keberadaannya. Tragis sekali, bukan?" kata Leon dengan nada simpati yang jarang dikeluarkannya. Kaito mengangguk-angguk. Dia juga tahu ada laporan semacam itu dulu. Namun sekarang mayat si anak mereka belum juga ditemukan—itu kalau benar dia sudah dibunuh.

"Bagaimana dengan Miku-mu itu? Apa kabar dia?" goda Leon membuat Kaito menghentikan aktivitasnya. Sontak mata kristal itu memelototi Leon yang terkekeh.

"Jangan menggoda adikku, dasar bodoh," kata Kaito menunjukkan nada tidak suka yang main-main. Leon mengangkat sebelah alisnya.

"Aku hanya bercanda, tahu! Hey, ada yang membuatku sedikit penasaran… Walau kalian berdua agak mirip, tapi aku merasa ada yang aneh. Sepupu jauhmu tak ada yang punya anak atau saudari 'kan?" kata Leon dengan nada penuh selidik. Kaito terdiam sesaat lalu memutuskan untuk bersikap biasa-biasa saja.

"Diamlah." Kaito memutar kedua bola matanya. Semakin di desak, dia semakin takut akan membocorkan semua keegoisannya untuk menahan Miku bersamanya lebih lama...

"Baik, baik... HEY! Suruh siapa istirahat!? Kerjaanmu belum beres 'kan?!" Leon membentak seorang tahanan yang tampak sedang duduk melepas lelah.

"Oke, Kaito. Aku harus kembali bekerja. Daaah!" Leon lalu melambai pada Kaito dan berjalan ke arah si Tahanan yang tadi beristirahat.

Kaito menghela nafasnya dan menyandarkan kepalanya ke belakang—ke tembok putih yang catnya sudah mulai luntur karena pukulan-pukulan dari tahanan-tahanan yang kesal merasa dirinya tak bersalah dan tak layak berada di penjara.

Dia memejamkan matanya.

Mau sampai kapan dia menutupi ini dari Miku?


Kaito melangkahkan kakinya di sepanjang jalanan sepi yang rindang karena bayang-bayang pepohonan tinggi dipenuhi daun-daunan hijau yang meranggas kini mulai menampakkan dedaunan kemilau hijau yang baru. Beberapa tawa anak kecil membuat suasana semakin indah—suara ring sepeda dan lain sebagainya juga seolah mengiramai suasana agar tidak terlalu sepi.

Kaito lalu duduk di atas bangku taman yang terbuat dari kayu. Dia nampak sedang menuggu sesuatu—atau seseorang.

"Onii-san!" panggil suara lembut membuat Kaito terlonjak dan mendapati Miku, gadis itu tengah berlari kecil ke arahnya. Senyumannya tak pernah lepas dari gabungan mata sayu, bibir tipis dan pipi merah merona. Membuat hati Kaito selalu menghangat tiap menatapnya.

"Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Kaito berbasa-basi saat Miku sudah benar-benar berdiri di depannya. Miku menghela nafas lalu mengerjap-ngerjap.

"Menyenangkan! Hari ini aku banyak bertemu dengan teman baru," jelas Miku. Mereka mulai berjalan menuju rumah saat Miku terus bercerita tentang sekolahnya hari itu.

"Hari ini aku bertemu dengan seorang gadis bernama Aoki Lapis. Namanya lucu 'kan? Rambutnya aneh! Banyak aksen. Antara ungu dan biru, semuanya terlihat sangat cantik dari bergradasi. Ternyata memang rambut alaminya kayak gitu! Unik, ya?" tutur Miku bercerita. Kaito memang tidak menatapnya, namun laki-laki itu mendengarkannya.

"Ternyata dia adik sepupu kak Bruno yang waktu itu ke rumah. Onii-san kenal dia 'kan?" tanya Miku. Kaito mengangguk. Bruno adalah salah satu atasannya setelah Gumone dan Rei. Bruno bertugas di Kepolisian Spanyol sebagai Letnan Kolonel yang sudah cukup terkenal. Tak sembarang kasus dapat dipecahkannya—Bruno sudah mendapat lima penghargaan berturut-turut selama lima tahun pula. Mulai dari mengungkap kasus korupsi terbesar di Pertengahan Eropa, kasus gudang narkoba, pembunuhan berantai, kasus penjualan organ tubuh dari mayat secara illegal, dan lain sebagainya seolah hanya mainan anak-anak di mata seorang Bruno. Tentu saja hal itu membuatnya menjadi jutawan dalam hitungan menit saja per-kasus.

Berbeda dengan Kaito yang merupakan anggota biasa dan juga shiftnya tak menentu.

"Lalu aku juga berkenalan dengan Dell Yowane. Dia itu lucu sekali, lho. Maksudku, wajahnya itu imut sekali, nggak kayak cowok! Walau agak seram sih kadang-kadang… Tapi ternyata dia mau bekerja di kepolisian... seperti Onii-san!" jelas Miku sambil tertawa kecil membuat Kaito tersenyum.

"Yang terakhir... aku berkenalan dengan Hiyama Kiyoteru," nada suara itu agak berbeda—terdengar lebih lembut dari biasanya. Kaito menoleh sedikit ke arah wajah gadis itu. Ekspresinya juga sedikit berubah menjadi lebih manis. Matanya yang sayu tampak menerawang, pipinya bersemu merah.

"Dia... dia pemuda yang tampan. Karismatik, lucu... pokoknya dia benar-benar keren," gumam Miku. Kaito mengernyit. Tak pernah Miku begitu menyanjung seseorang sampai sebegitunya. Lalu iris samudra pasifik itu terlihat lebih bersinar saat menatap Kaito.

"Dia laki-laki dari Sapporo. Tutur katanya sopan. Dia benar-benar gentleman sejati dan dia benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita," jelas Miku lagi. Kaito menelan ludahnya—untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.

"Menurut Onii-san, laki-laki seperti itu pasti bisa membahagiakan semua wanita 'kan?" binar mata Miku membuat Kaito tersadar dari lamunannya. Dia menatap adik angkatnya itu sekilas lalu memalingkan wajah—pura-pura menatap danau di sebelah mereka yang terlihat mengkilap.

"Mungkin...," bisik Kaito. Tak sadar bahwa lirihan suaranya membuat Miku mengernyit.

"Onii-san sakit? Kenapa suaramu serak?" Miku lalu menempelkan telapak tangannya pada dahi Kaito.

"Agak demam, sih... ayo pulang cepat!" Miku menarik tangan Kaito dengan tangan mungilnya. Betapa Tuhan tahu Kaito tak ingin waktu ini cepat berlalu.

Berlalu dan akhirnya tangan mereka harus kembali terpisah...


Suara ceret yang panas membuat suasana rumah tentram itu sedikit berisik. Kesibukan dalam rumah itu ternyata adalah karena Miku yang sibuk menyiapkan teh panas dan juga kompresan dingin yang akan dia tempelkan pada dahi Kaito yang kini berkeringat karena lapisan selimut tebal yang menyelimuti dirinya.

"Onii-san sudah merasa enakan?" tanya Miku sambil menyodorkan gelas teh panas. Kaito bangkit lalu menghirup aroma teh itu sebelum meneguknya. Dia mengangguk.

"Aku tidak apa-apa. Sungguh." kata Kaito berusaha meyakinkan gadis itu. Miku menatapnya sangsi.

"Kau demam. Dan aku tahu itu, Onii-san...," kata Miku membuat Kaito terdiam.

"Tapi aku—"

"Sssh," Miku menutup mulut Kaito dengan jari telunjuknya. Membuat pemuda itu terdiam. Miku menatapnya dengan tatapan lembutnya yang biasa.

"Onii-san harus beristirahat... Onii-san ada shift malam ini? Biar aku yang telpon kantor Onii-san dan mengatakan bahwa Onii-san tak bisa melakukan shift malam ini...," kata Miku. Kaito melotot lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Dia bahkan menggoyang-goyangkan tangannya ke kanan dan kiri tanda ketidaksetujuan.

"Jangan, jangan! Biar aku saja yang hubungi mereka," kata Kaito melarang. Miku menggeleng tegas.

"Tapi kau butuh istirahat. Kalau Onii-san yang menelepon mereka, pasti mereka akan memaksa Onii-san untuk bertugas malam ini seperti waktu itu," kata Miku dengan nada sedih. Kaito menghela nafas tak berdaya jika sudah dihadapkan Miku yang memohon begini.

"Baiklah, baiklah...," Kaito mengangguk. Miku tersenyum senang lalu menaikkan selimut Kaito hingga dagu.

"Aku sayang Onii-san!" kecupan lembut itu mendarat di pipi Kaito. Miku lalu berlari keluar kamar untuk menelepon kantor kepolisian milik kakak angkatnya yang kini memegangi pipinya sendiri. Pipinya itu kini sedikit merona.

Kaito menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran-pikiran aneh yang menyebabkan kulitnya terasa terbakar begitu Miku mengecupnya...

To Be Continue

Bagian dua ini, jujur aja... Ngeditnya agak capek. Semoga aja gak ada typo atau kesalahan fatal salah nulis nama kayak di chapter sebelumnya. X3

Lalu, untuk semua yang sudah mereview, fave, alerting dan membaca fic ini, saya ucapkan banyak terima kasih yaaa~! XD

Akhir kata.

Reviewmu, kebahagiaanku!

So, review please? X3

V

V