Haloo. Saya kembali meneruskan fic ini ;D . Senangnya kalo bisa update fic tepat waktu beginih. #tsssah

Dibacalah chapter 3 ini. Nanti anda akan mengerti begitu sudah membaca chapter 5 dan 6 ;)

Okedeh, enjoy, minna-san!


The Book of Love Story

a VOCALOID FANFIC

By : YandereHachan24

Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media

Kaito x Miku


WARNING!

Dramatically Romance, full of abalness, etc

DON'T LIKE DON'T READ!

3 of 8

.

.

.

.

.

Detikan jarum jam itu belum juga berhenti bahkan saat pukul 11 malam ini. Kali ini, mata dengan iris samudra pasifik itulah yang menatap langit-langit kamar yang bisu.

Bayang-bayang seorang pemuda Sapporo itu terbayang-bayang di kepala Miku sejak tadi. Dia benar-benar tak bisa melupakan senyuman Kiyoteru Hiyama. Bagaimana laki-laki itu memanggil namanya, bagaimana laki-laki itu berkonyol-konyol-ria dengan teman-temannya... dan bagaimana laki-laki itu menimbulkan perasaan aneh pada hatinya.

Oh, apa ini?

Gadis mungil itu memegangi dadanya sendiri yang tiba-tiba berdegup karena detakan jantung yang cepat menguasai dirinya. Miku menghela nafas panjang.

Ada yang aneh. Sungguh. Perasaan apa ini?

Miku lalu menatap jam dinding yang ada di depan tempat tidurnya. Dia menatap ke kanan dan mendapati seorang pemuda berambut biru gelap acak-acakan sedang tertidur membelakangi dirinya. Miku menghela nafas menatap punggung tegap itu. Sudah dua tahun berlalu dia lalui bersama Onii-san tercintanya itu.

Belum pernah Miku termukan laki-laki yang begitu baik dan penuh kehangatan seperti sosok Kaito Shion yang selama ini menghidupinya tanpa pamrih. Tak peduli banyak yang bilang bahwa Kaito adalah sosok yang kejam—apalagi saat dia berada di penjara untuk pekerjaannya sebagai polisi. Jelas ini semua tuntutan profesi.

Walau Miku sendiri tak pernah ingat bagaimana bisa dia berada di sini—di kota yang ramah lingkungan bernama Tokyo yang dingin dan sepi. Dalam mimpi saja, dia tidak bisa ingat bagaimana bisa dia ada di sana kala itu. Sendirian, lusuh dan tanpa uang sepeserpun. Begitu ia membuka matanya, ia hanya mendapati seorang Kaito Shion menatapnya dengan raut khawatir dan begitu dia memejamkan matanya dalam sekejap, dia sudah berada dalam rumah sepi milik Kaito.

Sebelah tangannya terangkat untuk memegangi bekas lebam biru keunguan yang ada di dahinya. Dia meringis kecil. Walau sudah dua tahun berlalu, bekas itu masih juga ada. Entah dengan apa Miku dipukul hingga meninggalkan bekas yang menyakitkan begitu.

"Apa-apaan kau!? Kenapa lama sekali?!"

"Sabar! Aku juga sedang berusaha!"

"Cepat ambil uangnya!"

"Aku berusaha! Gadis ini keras kepala!—SIAL! Dia menggigitku!"

"Pukul saja kepalanya! Pukul!"

"Tapi… dia 'kan—"

"PUKUL!"

DUUUUAAAAAAAAAKKKKK!

Kepalanya terasa menyakitkan dan berputar mengingat sepenggal dialog dan dua orang pemuda yang sedang mengepung dirinya yang kecil saat itu. Siapa mereka? Hanya bayang samar-samar hitam-putih yang terbayang di benaknya.

Kejadian apa itu...?

"Miku?" suara hangat dan dikenalnya dengan sangat dekat membuat gadis itu menoleh ke kanan. Kaito Shion menatapnya dengan tatapan heran bercampur khawatir.

"Kau kenapa?"

"A-aku tidak apa-apa, Onii-san..." kata Miku sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing bukan main.

"Sungguh? Wajahmu pucat... Lalu, kenapa dengan kepalamu? Sakit?" Kaito mendekati Miku. Wajahnya mulai khawatir dikala sang adik angkatnya itu menampakkan wajah kesakitan yang ditahan-tahan.

"Aku tidak apa-apa... sungguh," kata Miku saat Kaito mengecek keadaannya dengan memegangi kepala adik angkatnya itu dengan intens. Kaito mengernyit lalu menyentuh bekas lebam di kepala Miku dengan hati-hati.

"Sakit, ya? Sudah kubilang seharusnya kau diperban...," kata Kaito. Miku menggeleng lalu menjauhkan tangan Kaito dari dahinya.

"Tidak separah itu, kok... kau tenang saja, Onii-san...," kata Miku. Kaito menghela nafas lalu mengangguk.

"Terserahmulah," Kaito menggedikan bahu dan kembali ke ranjangnya sendiri.

"Sebaiknya kau tidur. Besok kau harus sekolah 'kan?" suara Kaito terdengar menuntut agar adik angkatnya itu cepat-cepat tidur. Miku terdiam sebelum mendekati ranjang Kaito dan duduk di sebelahnya.

"Aku... ingin tidur di samping Onii-san... boleh?" tanya Miku dengan wajah malu-malu. Kaito mengerjap berulang kali. Apa katanya tadi?

"Hah?"

"Aku ingin tidur di sampingmu... malam ini saja. Boleh, ya?" pinta Miku. Kaito merasa nafasnya tertahan. Dadanya terasa hangat... dan berdegup kencang karena jantungnya yang berdentang-dentang serasa dipukul dengan suatu tongkat tak kasat mata... membuatnya malah semakin lebih gugup dari biasanya. Cih, ayolah Kaito! Dia itu adik angkatmu!

"B-baiklah... tapi kau tahu, tidak akan terlalu lelu..." perkataan Kaito berhenti begitu melihat Miku membaringkan diri di pinggiran ranjang sebelah kanan dan tersenyum menatapnya.

"... asa...," lanjut Kaito. Dia menelan ludahnya. Jangan berpikir macam-macam, Kaito! Fokus!

"Ayo tidur, Onii-san...," ajak Miku sambil menepuk pinggiran ranjang Kaito sebelah kiri dengan tangan mungilnya. Kaito tentu tak bisa menolaknya. Akhirnya dia menghela nafas dan menidurkan diri di samping kiri Miku. Dia tak pernah merasa begitu sedekat ini dengan Miku. Dia bahkan dapat merasakan hangat tubuh adik angkatnya itu. Menghirup aroma tubuh Miku yang begitu menenangkan...

Malam ini dingin. Tapi Kaito merasa kepanasan bukan main. Bahkan keringatnya menetes dari dagu dan kepalanya.

Ah, betapa malam ini terasa amat panjang bagi seorang Kaito Shion…


Miku melangkahkan kakinya di sepanjang koridor sekolah yang panjang. Langkah kakinya yang mungil diikutsertakan dengan gemeletuk sepatu hitam pantofelnya. Sambil bersenandung, Miku mulai berbelok untuk memasuki ruang kelasnya yang berada di pojok koridor panjang ini.

BUGH!

"Auw... ma-maafkan a—" suara Miku terputus begitu melihat siapa yang ditabraknya. Seorang laki-laki berambut coklat, dengan iris mata sewarna yang dihalangi frame kacamata tengah menatapnya lembut. Badan tegap itu membungkuk sedikit untuk berdeku dan menatap wajah Miku.

DEG.

"Bukan salahmu. Ini salahku karena aku tidak melihat ke depan tadi," kata laki-laki itu. Senyuman lembut terkembang di bibirnya. Miku merasakan detak jantungnya lebih cepat dari biasanya.

"Sini, aku bawakan...," Hiyama Kiyoteru mengambilkan tas mungil Miku yang tergeletak di lantai lalu menggendong tas itu di bahu kirinya. Selanjutnya, Kiyoteru mengulurkan tangannya pada Miku yang masih terpaku dengan kejadian barusan.

"A—Arigatou...," Miku menerima uluran tangan itu lalu sekejap kepalanya kembali terasa pusing. Banyak adegan aneh berputar di kepalanya.

"Genggamlah tanganku...,"

Tangan itu…

"... Kemarilah..."

Apa…?

"Bagaimana menurutmu? Kau suka cincinnya?"

Cincin?

"Kita akan menikah bulan depan 'kan? Bagaimana dengan nama..."

Menikah? Siapa… dengan siapa?

"Mari jalan-jalan! Akan kutunjukkan kota yang kusebut-sebut indah itu!"

Hah?

"... Aku..."

Dialog-dialog aneh berkelebat dalam kepalanya secara tiba-tiba. Lalu mendadak, dia merasa asam lambunnya naik hingga ke tenggorokannya. Demi Tuhan… Apa itu?

"Miku?" suara Kiyoteru membuat Miku tersadar. Gadis itu mengerjap dan mendadak dunia terasa berputar. Bahkan tanah yang dipijaknya terasa miring.

"Lho, Miku? Kamu kenapa? Wajahmu pucat!" Kiyoteru agak kepanikan saat Miku hampir jatuh tersungkur kalau saja dia tak menahan gadis itu.

"A-aku tidak apa-apa... Kiyote… ru," kernyitan dahi Miku menandakan bahwa gadis itu memang tidak baik-baik saja dan menahan sakit yang teramat sangat di kepalanya.

"Kau sakit? Aku antar ke Ruang Kesehatan, mau?" tanya Kiyoteru. Nada khawatir itu...

"Kau kenapa?!"

"Istirahatlah...,"

"Istirahatlah...," pinta Kiyoteru

DEG.

Ada yang salah. Jelas ada yang salah... suara itu… saran itu… di mana dia pernah mendengarnya?

Ah… Pasti hanya kebetulan saja…

"Ukh, aku tak apa. Sungguh. Biarkanlah aku ikuti pelajaran hari ini...," pinta Miku balik. Kiyoteru tertegun sesaat lalu menghela nafas mengalah. Dia mengangguk.

"Baiklah... tapi aku akan mengantarmu sampai ke kelasmu." Ultimatum Kiyoteru tentu tak bisa ditolak oleh Miku. Bagaimanapun laki-laki itu...

Telah menimbulkan perasaan aneh yang hangat di dadanya...


Kaito menatap lekat-lekat data yang ada ditangannya. Matanya menyipit membaca laporan yang diterimanya tadi siang. Rasa-rasanya nama yang ada dalam data itu tidak asing untuknya. Tapi siapa, ya? Agaknya dia pernah mendengar nama yang disebut-sebut dalam laporan itu.

"Bagaimana, Kaito?" tanya seorang laki-laki bertubuh tegap di depannya. Laki-laki itu berseragam hitam dengan dua bintang kepolisian dan logo pangkat Letnan Jendral di kerah bajunya terjahit sempurna seolah-olah dia memang layak mendapatkannya. Badge bertuliskan 'Rei Kagene' tertera di dadanya. Tatapan tegas itu menatap lurus ke arah Kaito yang masih menimang-nimang.

"Rasa-rasanya aku pernah mendengar nama ini akhir-akhir ini," suara Kaito terdengar melamun. Dan ragu.

"Coba diingat-ingat lagi kapan," suara seorang yandere yang biasa dikenal akan kekejamannya itu angkat bicara membuat suasana ruangan agak lebih dingin dari biasanya. Senyum laki-laki itu terkembang lantaran Kaito yang belum juga menjawab. Handgun milik seorang Gumone Kojiro yang digerak-gerakannya ke kanan dan ke kiri sebagai ancaman secara tidak langsung.

"Aku sungguh pernah mendengarnya. Tapi... aku lupa. Kapan, ya?" gumam Kaito. Rei yang lebih sabar menghela nafas lalu berpaling pada Gumone yang terlihat tenang-tenang saja. Namun dia tahu Gumone tak pernah benar-benar sabar menunggu. Selama sepuluh tahun dia bekerja bersama orang berdarah dingin itu, dia tahu betul Gumone tak segan-segan menyiksa, memeras dan bahkan membunuh—secara hukum, tentu saja— jika dirasanya perlu.

Tatapan nanarnya lalu tertuju pada Leon yang berdiri di samping Kaito.

"Bagaimana denganmu? Kau pernah mendengar nama ini?" tanya Rei. Leon menggeleng.

"Aku mendengar banyak sekali nama itu. Namun aku tak tahu dia yang mana," cenung Leon.

"Kasus ini cukup berat," kata Rei dengan nada murung. Dia menghela nafas dan melempar data yang dipegangnya ke depan meja Kaito. Dia menatap anggota kepolisian yang ada di sana satu persatu.

"Dia ini, telah melakukan beberapa kasus pencurian dan penculikan saat ini. Dan asal kau tahu, bukan hanya sekali dua kali. Dia bahkan berdarah dingin menghabisi semua tahanannya jika tak mendapat uang tebusan. Dia melakukan kriminalitas ini kira-kira setahun sampai tiga tahun lalu." kata Rei menjelaskan. Dia menatap partner kerjanya yang masih sibuk memandangi handgun keperakannya.

"Gumone. Sepertinya kita harus melakukan penyelidikan di seluruh penjuru Jepang mulai saat ini," gumam Rei. Gumone mengangkat kedua alisnya.

"… Sampai kita dapat laporannya. Orang ini tidak bisa ditangkap oleh sembarang orang," tangan Rei mengepal dengan marah. Marah, karena selama setahun penuh dia menyelidiki 'orang itu', dia tak juga memecahkan kasus itu. Seolah-olah jabatan Letnan Jendral yang diperoleh Rei tak lebih dari sekedar penghias saja.

Gumone menatap partnernya itu dengan senyuman kecil khasnya.

"Dimengerti."

"Dan Kaito," Rei berpaling pada laki-laki berambut biru gelap itu yang masih nampak mengingat-ingat.

"Informan baik sepertimu… cobalah diingat-ingat kembali. Kau ikut bertugas kali ini," kata Rei. Kaito mengangkat kepalanya dengan tatapan kaget.

"Aku... diikutsertakan tugas?" dia menunjuk dirinya sendiri. Rei mengernyit.

"Ada yang salah?"

Sesaat Kaito tak bisa berkata-kata. Gila. Shiftnya saja belum menentu... dia memang pernah diikutsertakan dalam beberapa tugas. Namun rata-rata hanya tugas-tugas di kasus yang biasa-biasa saja. Seperti pencopetan, pemerkosaan dan kecurangan. Tak pernah dihadapkan pada tugas dengan kasus menangkap orang dengan kriminal tingkat atas seperti itu.

"T-tidak ada," balas Kaito. Dalam hati, sungguh ia senang bukan kepalang. Ini berarti dia akan mendapat pangkat yang lebih tinggi dibanding anggota biasa 'kan? Artinya gajinya akan bertambah dua kali lipat dari biasanya!

"Baguslah," Rei mengangguk lalu berbalik bersiap meninggalkan kantor polisi itu diikuti Gumone di belakangnya.

"Penyelidikan aku serahkan pada kalian~" Gumone melambai dan keluar bersama Rei.

"Ciee yang bentar lagi naik pangkat," cengir Leon sambil menepuk pundak Kaito yang mendengus tertawa. Dia lalu mencermati data penjahat tadi yang dia ambil lewat Rei. Tapi... kenapa tidak ada foto?

Kaito menatap kolom nama penjahat itu.

Hiyama… Sungguh. Pernah kudengar nama ini... tapi di mana, ya….?

To Be Continue

Perasaan saya aja atau emang chapter ini lebih pendek dibanding sebelum-sebelumnya, ya? Haha. #plak

Ayo, silakan tebak endingnya bakalan gimana ;) berandai-andai boleh kok... hohoho.

Akhir kata.

Reviewmu, Kebahagiaanku! X'3

So, review, please? :'3

V

v