Hualoo saya kembali mengapdet fic ini sesuai dengan janji dan jadwal kan? #terusngape #dor
Ehem... Membuat Bagian Empat ini adalah bagian yang entah kenapa, saya geregetan sendiri ngeliat KiyoMiku. Kalo diliat-liat, mereka emang cocok lho! #malahpromosi.
Di chap ini, saya akan lebih menjelaskan perasaan Kaito yang sebenarnya ;) semoga cukup berkenan!
Sip. Happy reading, minna-san!
The Book of Love Story
a VOCALOID FANFIC
By : YandereHachan24
Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media
Kaito x Miku
WARNING!
Dramatically Romance, full of abalness, etc
DON'T LIKE DON'T READ!
4 of 8
.
.
.
.
.
Hari pertama di musim panas.
Daun-daunan mulai kembali tumbuh menampakkan kemilau hijau yang telah tumbuh di musim semi sebelumnya. Tiba saatnya musim panas yang membakar datang. Belahan bumi Asia Timur untungnya tidak sepanas belahan bumi bagian Tenggara yang nyaris menyentuh garis khatulistiwa—tempat di mana matahari melakukan rotasi pada porosnya setiap hari.
Plang-plang besar pertokoan di sepanjang distrik itu mulai diganti dari kalimat 'Diskon musim semi' menjadi 'Diskon musim panas' dan beberapa orang mulai mengganti gaya berpakaian mereka yang kemarin serba tebal dan tertutup kini menjadi agak lebih terbuka dan berbahan katun menyerap keringat.
Hal itu juga yang dilakukan Kaito dan Miku. Kakak beradik angkat yang sudah menjalani hidup mereka selama hampir tiga tahun terakhir.
"Musim panas datang!" seru Miku saat melihat daun-daun mulai tumbuh lebih lebar dibanding musim semi kemarin. Matanya berbinar-binar menatap mentari yang kini tak malu-malu lagi menampakkan dirinya yang menyinari seluruh pemukaan bumi yang masih berputar pada porosnya.
Kaito menikmati segelas teh hangat yang tersedia di meja makan sambil memperhatikan sang adik angkatnya yang masih berayik-masyuk menyaksikan langsung keindahan kota Tokyo yang selalu bersih itu. Ditambah inilah ketiga kalinya musim panas mereka sejak dua tahun lalu mereka bersama 'kan?
"Onii-san!" panggil Miku. Kaito mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban.
"Nanti kita jalan-jalan, ya! Onii-san libur 'kan?" tanya Miku penuh harap. Kaito terdiam sesaat.
"Maafkan aku, Miku. Hari ini aku ada shift siang hingga malam...," kata Kaito. Mata sendu Miku yang digeluti kekecewaan membuat hati Kaito mencelos. Namun dia pura-pura tidak tahu dan malah kembali menundukkan wajahnya pada segelas teh yang kini dia nikmati.
"Ah, rupanya begitu...," Miku mengangguk-angguk sambil tersenyum lemah. Tatapannya penuh pengertian membuat Kaito merasa senang dan tidak berguna di saat yang bersamaan.
Entah kenapa, Miku yang begitu manis di matanya kini terlihat meredup. Apa itu semua ulahnya?
Kaito menghela nafas lalu berdeham. Memberanikan diri untuk bicara.
"Bagaimana... kalau besok?" ajak Kaito dengan nada yang berusaha datar. Sesungguhnya, dalam hati dia benar-benar malu. Dan gugup luar biasa.
Miku seolah tak memercayai pendengarannya. Kaito mengajaknya pergi duluan? Padahal, biasanya Miku yang selalu punya ide kemana mereka hari itu dan akan melakukan apa. Namun tidak kali ini. Kaito mengajaknya pergi dan itu... sungguh manis, dan merupakan kejutan untuknya.
"T-tentu saja, Onii-san! Tentu saja!" angguk Miku cepat-cepat saat Kaito menampakkan raut akan berubah pikiran.
"Be-benarkah? Kau tidak marah?" tanya Kaito sangsi sambil menatap Miku.
"Mana pernah... aku marah padamu, Onii-san?" tanya Miku balik. Gadis itu mendekatkan diri pada Kaito. Direngkuhnya leher pria yang selama ini menghidupinya. Didekapnya Kaito dengan intens membuat laki-laki itu nyaris lupa bagaimana caranya bernafas.
"Onii-san meluangkan waktu untukku saja sudah lebih dari cukup... tidakkah Onii-san tahu hal itu?" bisik Miku yang lagi-lagi membuat Kaito tak berdaya. Sesungguhnya, dia adalah orang yang paling jahat karena dia tidak pernah mau mengembalikan Miku pada keluarga aslinya.
Dia sudah berbohong…
Sontak perasaan itu membuat Kaito tambah merasa bersalah. Dengan kaku, dibalas pelukan sang adik sambil menepuk punggung mungil itu dan menjauhkan diri darinya.
"S-sudahlah. Aku harus berangkat sekarang," Kaito memalingkan wajahnya yang agak memerah sambil berdeham untuk menutupinya. Kaito Shion yang gagah terlihat malu-malu begini? Di depan adik angkat sendiri, lagi!
Kaito lalu meraih jaket seragamnya dan mengenakannya. Mengambil rifle kesayangannya dan memakai topi kepolisiannya. Tanpa mengatakan apa-apa dia berjalan keluar rumah.
"Daaah, Onii-san!" Miku melambaikan tangannya dari jendela. Kaito hanya membalasnya dengan lambaian singkat tanpa menoleh. Dia tidak mau Miku tahu wajahnya memerah total.
Sial.
Kaito menghela nafas panjang saat sudah agak jauh.
Dia itu sebenarnya kenapa? Kenapa jantungnya berdebar tiga kali lebih cepat dibanding biasanya dengan perlakuan Miku tadi?
Kenapa… darahnya berdesir ketika merasakan sentuhan Miku?
Miku menatap punggung Onii-san-nya yang semakin menjauh. Dia menghela nafas lalu tersenyum lemah. Dia mengangkat kedua bahunya.
"Mau bagaimana lagi? Aku jalan-jalan sendiri saja, deh musim panas tahun ini...," gadis itu lalu beranjak menuju kamar yang biasanya dia tempati bersama Kaito tiap malam. Dia lalu membuka lemari pakaiannya sendiri dan mengganti baju tidurnya dengan setelan baju terusan berwarna krem tanpa lengan dipadukan dengan cardigan putih kesayangannya. Dia lalu memakai topi bundar untuk menutupi pandangannya dari sinar matahari yang nanti akan menyengatnya.
Dia lalu mengenakan sepatu hitamnya dan berlari keluar rumah. Tak lupa mengunci pintu dan pagar.
Miku lalu menelusuri jalan setapak di depannya. Iris samudra pasifiknya menatap semua keindahan yang Tuhan ciptakan lewat kota bernama Tokyo ini. Burung-burung berkicauan seolah-olah saling menyahuti satu sama lainnya. Beberapa lalu lalang dan orang-orang yang tengah berbincang-bincang menjadi daya tarik suasana yang indah itu.
Ia menghirup nafas dalam-dalam. Panas mulai menjalari tubuh mungilnya.
Dia teringat tahun pertama musim panas yang ia lalui bersama Kaito. Laki-laki itu dengan sabar berusaha mengingatkannya tentang bunga-bungaan yang tumbuh di musim panas kala itu. Dan Miku dengan polosnya juga sering bertanya hal yang sama. Seperti mengajari anak umur lima tahun, Kaito selalu menjawabnya. Bahkan membuat kondisi ingatan Miku semakin lama semakin membaik saja berkat Kaito.
Lalu dia juga teringat musim panas kedua yang dia lalui bersama Kaito. Laki-laki itu lebih banyak diam dan mendengarkan semua cerita Miku tentang sekolahnya. Bagaimana dia menghadapi teman-teman barunya, guru-guru baru... walaupun dia dengan cepat menyerap semua pelajaran itu, Miku tetap merasakan ada kejanggalan dalam dunianya. Mimpi yang sama terus saja berputar-putar dalam tidurnya. Dan hal itu malah membuatnya semakin sakit kepala.
Dan lagi-lagi, Kaito menenangkannya dan membuat perasaannya lebih rileks. Tak ada yang bisa membuat dia lebih tenang dibanding tutur kata Kaito dan pelukan hangat darinya.
"Miku?" suara itu menyadarkan lamunannya. Gadis itu mengerjap lalu berusaha mencari tahu dari mana asal suara itu.
"Hei ini aku...," panggil suara itu lagi. Kali ini sebuah tepukan terasa dipundak kecilnya. Miku berbalik dan mendapati seorang laki-laki berwajah tampan yang amat dikenalnya.
"Kiyoteru...?" panggil Miku mengenali sosok itu. Senyuman terkembang di bibir laki-laki itu.
"Hai," sapanya lagi.
"Hai...," balas Miku dengan nada melamun. Masih tak memercayai pandangannya.
"Sedang menikmati hari pertama di musim panas, hm?" tanya Kiyoteru sambil mendekat ke samping gadis itu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam celana bahan santai coklat yang ia kenakan. Miku bahkan bisa menghirup aroma parfum yang dikenakan oleh Kiyoteru membuat wajahnya memerah sedikit.
Tapi... bau itu...
Rasa-rasanya dia mengenalinya… lebih lama dari yang ia kira. Sekelebat bayangan muncul di kepalanya. Samar-samar… wajah itu…
"Miku?" gadis itu sontak menghentikan lamunannya dan mendongak menatap laki-laki itu dengan pandangan gugup.
"I-iya begitulah," Miku mengangguk saat Kiyoteru memberikan tatapan bertanya.
"Aku juga. Mau jalan-jalan bersama?" ajak Kiyoteru sambil tersenyum lembut. Miku mengerjap. Apa katanya tadi?
"Hm?" Kiyoteru mengangkat kedua alisnya meminta persetujuan. Lama Miku terdiam akhirnya gadis itu mengangguk dengan wajah sedikit merona.
Miku menahan nafasnya saat merasakan tangan Kiyoteru mengamit tangannya sendiri tanpa malu-malu. Dan tanpa alasan yang jelas, Miku tak sanggup menolaknya. Dia malah membiarkan hangat jemari Kiyoteru menyentuh permukaan kulitnya yang agak dingin. Sontak Miku menundukkan kepalanya untuk sembunyikan wajahnya yang makin memerah. Dia bahkan bisa mendengar deru nafasnya sendiri.
"Cantik sekali bunga mawar ini," Kiyoteru memetik sekuntum mawar merah yang ada di sekitar sana lalu memberikannya pada Miku. Dengan senyuman khasnya, Kiyoteru tertawa kecil.
"Seperti kamu." Kiyoteru mengedipkan sebelah matanya.
DEG.
Miku memegangi dadanya yang berdegup dengan sebelah tangan. Tiba-tiba dia berdebar-debar. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sungguh. Ini perasaan bahagia yang familier…
Sungguh... apakah... ini cinta?
Kaito tidak bisa melupakan apa yang dilihatnya tadi.
Dia tidak benar-benar pergi sejauh yang dia kira. Diam-diam dia bersembunyi di balik dahan pohon yang besar di sakitar sana. Dia menyaksikan sendiri Miku yang berjalan keluar rumah dan berjalan-jalan sendirian. Sebenarnya betapa ingin Kaito menemaninya. Namun apa daya pekerjaannya menghalangi. Apalagi dengan tugas barunya. Di tahun-tahun sebelumnya, Kaito memang belum mendapat job hingga setinggi itu.
Dan dia ingat bagaimana seorang laki-laki berambut coklat, beriris mata layaknya warna kayu jati yang tua dan juga berbadan tegap menggandeng tangan adik angkat kesayangannya itu—menimbulkan semacam perasaan aneh pada dada Kaito.
Sakit.
Sakit bukan main.
Saat Miku bukannya menarik diri, gadis itu malah agaknya terlihat salah tingkah dengan perlakuan pemuda berambut coklat tadi. Membuat hati Kaito mencelos. Bagaimanapun, sentuhan Miku seharusnya sudah biasa ia hadapi. Namun kenapa dia lebih gemetar dan salah tingkah dibandingkan laki-laki itu? Kenapa?
Tanpa sadar, Kaito mengepalkan tangannya. Gusar. Itulah yang dirasakannya sekarang.
"Oi, Kaito," panggilan itu membuatnya sadar dari lamunannya. Dihadapinya seorang laki-laki berambut blonde dikuncir, bermata biru laut dengan badge nama 'Len Kagamine' menatapnya dengan tatapan bertanya. Kaito mengangkat kedua alisnya dan berusaha terlihat stabil walau dia sedang kacau.
"Apa?" wajah dingin Kaito kembali terpampang. Laki-laki yang bernama Len tadi mengernyit dan menyilangkan tangan di dada.
"Aku sudah memanggilmu lima kali tepat di hadapan wajahmu dan tidak mendapat respon. Kenapa kau? Tidak biasanya kau melamun begini saat jam kerja," sebelah alis Len terangkat. Kaito menghela nafas.
"Bukan apa-apa. Ada apa?" dia mengulang pertanyaannya. Len lalu memberikan secarik kertas pada Kaito.
"Formulir itu harus kau isi. Kau akan naik jabatan kalau kasus penangkapan si Kriminal itu berhasil kau laksanakan bersama Gumone dan Rei," kata Len. Kaito menatap lembar kertas yang terdiri atas kolom nama, umur, alamat dan foto hitam-putih yang harus diisinya. Dia menghela nafas. Tiba-tiba saja tidak terlalu bersemangat dengan ini semua. Semuanya tiba-tiba terasa sangat hambar.
"Oh."
Len kini melempar tatapan bingung. Kenapa Kaito tidak terlihat bahagia dan antusias atas kesempatan yang jarang-jarang ini?
"Kau punya masalah, Teman. Dan seharusnya kau menceritakannya," kata Len dengan nada mendesak.
"Aku tidak punya masalah apa-apa. Berhentilah bersikap seolah-olah kau tahu segalanya," desis Kaito dengan nada tidak senang. Len menggedikan bahunya dan bersiap meninggalkan Kaito.
Kaito sesaat terdiam menatapi lembaran formulir tadi. Namun tak dibacanya semua huruf yang tertera di sana. Sekelebat bayangan Miku dan laki-laki berambut coklat yang tidak dikenalnya membuatnya merasa… aneh.
"Hei… Len?" panggil Kaito. Langkah kaki pria berambut blonde itu terhenti dan memiringkan kepalanya ke arah Kaito yang terlihat ragu-ragu.
"Apa?"
Kaito terdiam sesaat lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Jatuh cinta itu… seperti apa?" tanya Kaito. Wajahnya agak memerah saat bertanya.
Len Kagamine nyaris tak mempercayai apa yang didengarnya. Seorang Kaito Shion kesambet apa tiba-tiba jadi membahas hal-hal emosional yang jarang dipertontonkannya.
"Hah?"
"J-jawab saja! Aku hanya bertanya, tahu!" Kaito terdengar salah tingkah saat Len memasang wajah aneh yang benar-benar membuat Kaito malu. Sungguhpun dia tak pernah terpikir akan bertanya soal hal ini pada Len.
Si Blonde terdiam sesaat sebelum membuka setengah mulutnya.
"Jatuh cinta… itu, sesuatu yang rumit untuk dijelaskan," kata Len sambil mengusap dagunya. Tanda berpikir.
"Apa ada yang bilang cinta~?" tiba-tiba suara nyaring bunyinya membuat Kaito dan Len terlonjak. Seketika mereka mendapati polisi paling narsis dan… 'unik' sepanjang masa. Laki-laki itu berbadan tegap namun kurang pas karena dia memegangi bunga mawar merah yang menggoda. Lalu dia menatap Kaito dan Len dengan latar belakang bunga mawar.
"Kau berada pada orang yang tepat, Kawan," laki-laki dengan badge nama di dada betuliskan 'Akita Nero' terlihat berkilauan. Senyumnya terkembang memperlihatkan gigi-gigi putih laki-laki supernarsis itu.
Seketika Kaito dan Len ber-sweatdrop-ria.
"Aku tadi tidak bertanya padamu," suara blak-blakan Kaito membuat latar belakang bunga mawar Nero rontok.
"Tapi bertanya pada makhluk kuning seperti dia, tidak akan menyelesaikan masalah," Nero menunjuk Len yang merasa tidak senang diperlakukan tidak sopan.
"Rambutmu juga kuning, dasar bodoh," Len menggerutu.
"Terserahmulah… jawab saja pertanyaanku tadi," Kaito memalingkan wajahnya yang merona.
"Hahaha, apakah hati keras Kaito Shion bisa ditaklukan juga? Hebat benar wanita itu," Nero berdecak. Lalu tatapannya langsung horror begitu Kaito mengacungkan moncong riflenya yang mematikan tepat di depan mata Nero.
"Jangan menggodaku," wajah dingin itu kembali terlihat. Nero mundur beberapa langkah lalu nyengir tidak bersalah.
"Maaf, maaf," ujar Nero. Gila… bisa gawat kalau kau membuat Kaito mengamuk di sini bersama rifle nya.
"Kau ini berniat menjawab pertanyaanku atau tidak?" desisan suara Kaito membuat Nero tersadar. Dia lalu memutar kedua kelereng bola matanya ke atas. Tanda berpikir.
"Jatuh cinta itu… ketika kau bersentuhan dengan wanita yang kau sayangi, kau akan merasa jantungmu berdebar-debar… dan kau akan merasa bahwa dunia hanya milikmu dengan dia," kata Nero menjelaskan. Kaito mendengarkan lalu tanpa sadar memegangi dadanya.
Berdebar-debar?
"Lalu?" Kaito bertanya dengan tidak sabar. Agaknya ia mulai tertarik.
"Kau memikirkannya tiap waktu. Dan dadamu terasa menghangat kalau mengingat senyuman manisnya," jelas Nero lagi. Kaito terdiam lagi lalu manggut-manggut.
Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Bagaimana… kalau kau melihatnya berjalan berdampingan dengan pria lain?" tanya Kaito ragu-ragu. Dia masih jengkel setengah mati membayangkan adegan bergandengan tangan Miku dengan pemuda tadi.
Terjadi keheningan sesaat. Nero dan Len saling melirik penuh arti. Ada yang salah dengan Kaito Shion dan mereka jelas tahu adanya.
"Well… kau akan merasa duniamu runtuh. Dan dadamu sakit bukan main melihatnya. Singkatnya, perasaan semacam itu dinamakan cemburu," kata Nero kembali menjelaskan. Kaito terdiam lalu tatapannya menatap lantai marmer putih yang dingin di bawahnya.
Cemburu…?
Dia… merasa cemburu pada adik angkatnya sendiri? Begitukah?
Kaito menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menepis pikiran yang berkelebat dalam benaknya. Perasaannya semakin tidak enak saat mengingat bahwa tangan mungil adiknya dapat digenggam dengan begitu dekat dengan si pemuda berambut coklat tadi.
"Tapi Kaito," Len tiba-tiba angkat bicara membuat dua pasang mata menatapnya penuh tanya.
"Cinta tak harus memiliki. Ada banyak hal yang dapat menunjukkan cintamu. Walau kau tak bisa memiliki orang yang kau sayangi, berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa kau akan menjaganya. Memberi semua kebahagiaan untuknya… singkatnya, cintailah dia dengan caramu sendiri." filsafah Len disambut wajah cengo dari Nero dan wajah termangu dari Kaito.
Mencintai dengan cara sendiri…?
"Bravo, bravo! Ternyata kau jago berkata-kata dalam masalah percintaan, ya," Nero menepuk bahu Len.
"Tetapi tetap aku rajanya cinta."Juluran lidah Nero disambut pelototan dari Len.
Kaito tidak mendengarkan dialog-dialog kedua temannya tadi. Yang dia pikirkan hanyalah perasaan aneh yang membuncah di dadanya akhir-akhir ini.
"Begitu," gumam Kaito tanpa dia sendiri belum begitu mengerti.
"Ah, tapi kau tahu… wanita itu suka sekali dengan hadiah," kata Nero setelah menghentikan perdebatan tidak pentingnya dengan Len.
"Beri dia sesuatu yang dia sukai. Nanti dia akan tahu perasaanmu!" kata Nero sambil menepuk bahu Kaito.
"Kau mengambil ekskul fotografi waktu SMA 'kan? Kenapa tak kau potret gadis kesayanganmu itu?"
Mata biru kristal itu masih memandangi kotak kayu yang tertutup rapi di laci meja dalam kamarnya. Dia memandangi satu persatu hasil jepretannya sewaktu SMA. Jujur saja, Kaito memang tertarik dengan bidang fotografi dulu. Namun tak lagi dilakoninya lantaran jenuh dan merasa bosan dengan sudut yang itu-itu saja. Ditambah lagi, orangtuanya waktu itu sudah tiada. Sehingga dia tak punya biaya untuk meneruskan hobinya itu.
Tangan Kaito lalu mengambil sebuah kamera digital yang sudah agak berdebu karena jarang digunakan.
Kaito tersenyum kecil saat memandangi semua itu. Sungguh masa-masa menyenangkan…
"Onii-san?" suara lembut itu membuat Kaito menoleh sedikit dan mendapati Miku di ambang pintu. Gadis mungil itu lalu melangkahkan kakinya masuk dan menutup pintu untuk menghampiri Kaito yang sedang bernostalgia itu.
"Apa itu?" tanya Miku. Dia lalu meraih salah satu jepretan rumah tua di dusun desa yang pernah Kaito kunjungi bersama teman-temannya dulu. Miku tertawa kecil.
"Apakah ini Onii-san?" tanya Miku sambil menunjuk salah seorang di foto itu yang paling mirip dengan Kaito. Laki-laki itu berdeham lalu mengangguk.
"Onii-san bisa tertawa selebar itu ternyata, ya! Hahaha," Miku tertawa membuat Kaito memalingkan wajahnya dengan salah tingkah. Waktu SMA hidupmu tidak sesulit sekarang, tahu? Kau masih bisa tertawa lepas di kala itu.
"Seharusnya Onii-san lebih sering tertawa seperti ini," kata Miku. Dia lalu meletakkan foto itu kembali ke meja.
"Aku baru tahu Onii-san suka dengan fotografi… kenapa tak memberitahuku?" tanya Miku dengan nada murung. Kaito meneguk ludahnya sendiri lalu tertawa kecil.
"Ini hanya kenangan semasa SMA. Masa' harus kuceritakan padamu? Nanti kau menertawaiku seperti tadi," cengir Kaito. Gadis itu tersenyum lalu menggeleng.
"Tentu saja tidak," katanya.
Miku lalu menguap dan menatap jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Pantas ia merasakan kantuk yang teramat sangat.
"Aku tidur duluan ya, Onii-san…," pamit Miku sambil berjalan ke arah ranjangnya sendiri dan membaringkan diri di sana. Ketika kepalanya menyentuh bantal, ia langsung memasuki alam mimpi yang lebih indah dibanding alam nyata sekalipun.
Kaito menatap punggung adik angkatnya itu dalam diam. Lalu dia meraih kamera digitalnya dan membersihkan debu yang ada di sekitar lensa kamera itu dengan sapu tangan dalam kantungnya. Dia lalu memasukkan memory ke dalam kamera itu.
Dia mendekati Miku perlahan lalu menatap dengan lembut wajah mungil tanpa dosa yang tertidur itu.
Jepret!
Satu jepretan tanpa blitz terjadi saat Kaito menempatkan sebelah matanya di belakang lensa kamera dan memencet tombol untuk mengambil gambar seorang Miku yang amat disayanginya itu.
Ditatapnya hasil jepretannya sendiri di layar. Cantik… sungguh cantik.
Tanpa sadar, Kaito tersenyum sendiri. Dia mendekati Miku lalu mengusap dengan sikap sayang kepalanya.
"Onii-san…" lirihan suara Miku membuat Kaito mengerjap.
DEG.
Kaito lalu memegangi dadanya sendiri yang terasa berdegup kencang karena jantungnya berdebar-debar.
"Jatuh cinta itu… ketika kau bersentuhan dengan wanita yang kau sayangi, kau akan merasa jantungmu berdebar-debar… dan kau akan merasa bahwa dunia hanya milikmu dengan dia,"
Dan Kaito merasa berdebar-debar…
"Kau memikirkannya tiap waktu. Dan dadamu terasa menghangat kalau mengingat senyuman manisnya,"
Tentu. Bagaimana bisa Kaito tidak memikirkan senyuman Miku setiap hari? Bagaimana gadis itu berkata-kata, bagaimana gadis itu mengucapkan namanya dengan lembut…
Lalu mendadak Kaito teringat lelaki yang mengamit tangan mungil Miku tanpa malu-malu dan bagaimana laki-laki itu memberikan sekuntum mawar merah yang disambut tatapan tersipu-sipu dari Miku.
Dan Kaito tidak bisa lupa rasa sakit yang mendera dadanya kala itu.
"Well… kau akan merasa duniamu runtuh. Dan dadamu sakit bukan main melihatnya. Singkatnya, perasaan semacam itu dinamakan cemburu,"
Kaito menghela nafas. Semua perkataan Nero cocok dengan apa yang dia rasakan terhadap Miku.
Oh Tuhan.
Kaito memejamkan matanya dengan sikap putus asa.
Dia… jatuh cinta? Pada adik angkatnya sendiri?
"Cinta tak harus banyak hal yang dapat menunjukkan cintamu. Walau kau tak bisa memiliki orang yang kau sayangi, berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa kau akan menjaganya. Memberi semua kebahagiaan untuknya… cintailah dia dengan caramu sendiri."
Seketika kata-kata Len berdenging-denging di telinganya. Dan Kaito tak dapat menyangkal bahwa perkataan itu benar adanya.
Kaito lalu memejamkan matanya.
Tuhan, tolong aku...
Lalu ia menoleh pada wajah Miku yang sedang tertidur.
...aku jatuh cinta pada Miku...
To Be Continue
Perasaan saya aja, apa emang chap ini agak kepanjangan? Eh, apa enggak? #dor
Apakah perasaan Kaitonya "kena"? Kalo iya, syukurlah TwT'' huhu.
Okeh. Reviewmu, kebahagiaanku! X'3
So, review please? :'3
V
V
