Yosh! Bisa update tepat waktu sesuai jadwal (lagi) X'D syukurlah... Padahal saya sedang di dera ulangan dan tugas seabrek-abrek layaknya gunung Fuji =_= #ngapalebaysih.

Okeh. Segitu aja curcolnya. Mari monggooo silakan dibaca Lembar Kelima ini X'3

Enjoy, minna-san!


The Book of Love Story

a VOCALOID FANFIC

By : YandereHachan24

Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media

Kaito x Miku


WARNING!

Dramatically Romance, full of abalness, etc

DON'T LIKE DON'T READ!

5 of 8

.

.

.

.

.

Kaito menatap lembaran data yang ada di tangannya. Sudah lebih dari tiga jam dia membaca dan mengerjakan data-data yang diberikan Gumone tadi pagi. Dengan cemas dia menatap jam yang ada di meja kerjanya. Dia ada janji ingin jalan-jalan dengan Miku hari ini 'kan? Tapi dengan kerjaan sebanyak ini…

Dia lalu menghela nafas dan melempar semua data itu. Menimbulkan suara gaduh namun tak dipedulikannya. Dia hanya menatap langit-langit yang bisu balik menatapnya.

"Kau kenapa lagi?" suara Len membuatnya menoleh dengan tatapan datar. Kaito menghela nafas lalu memejamkan matanya.

"Memikirkan gadis pujaanmu itu?" tanya Len dengan nada random namun entah mengapa tepat menohok hati Kaito.

"B-berisik," desis Kaito salah tingkah. Dia menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya. Len menghela nafas panjang. Kaito Shion memang tidak pernah begini sebelumnya. Uring-uringan dan lain sebagainya, jelas bukan imejnya.

"Hubungi dialah," saran Len akhirnya. Kaito menatap datar wajah temannya itu. Len tidak mengerti situasinya. Dan seharusnya dia tahu itu.

Laki-laki berambut biru itu menghela nafas panjang. Dia mendongakan kepalanya—menatap langit-langit sebagai atap ruangannya. Seketika kelebat bayangan Miku yang tersenyum menari-nari di kepalanya. Tanpa henti. Membuat hatinya terasa menghangat dan senyuman tipis terkembang di bibirnya. Kaito sungguh tahu bahwa hanya dengan membayangkannya saja, dunianya akan dipenuhi sejuta kenangan bersama gadis pujaannya itu.

Perasaan kompleks yang rumit untuk dijelaskan.

Cinta.

Perasaan yang baru saja dia sadari tadi malam…

"Kaito," suara Len membuat Kaito menoleh lalu mengangkat kedua alisnya dengan sikap tidak senang karena acara berkhayalnya diganggu.

"Kau melakukannya lagi." Len memutar kedua bola matanya. Secangkir teh panas yang ada di tangannya mengepul. Len lalu menyesapnya.

"Melakukan apa?" tanya Kaito bingung. Pelototan dari Len kini tertuju padanya.

"Melamun. Kau sering melakukannya akhir-akhir ini." Dengan sikap prihatin, Len memberikan secangkir teh panas pada Kaito dan meletakannya di meja temannya yang tengah risau itu. Len menatapnya serius.

"Demi Tuhan, Kawan. Kau harus bertemu dengan gadismu itu. Atau aku bisa gila melihatmu uring-uringan begini," cetus Len membuat Kaito mengerjap. Kaito tahu betul itu. Dan dia juga ingin bertemu Miku sekarang. Dia tahu dia tengah berjanji pada adik angkatnya itu untuk jalan-jalan di musim panas hari ke tiga ini.

"Apa maksudmu kalau aku ini uring-uringan?" tanya Kaito tak senang.

"Berkacalah,"

Kaito tidak menggubrisnya. Namun pandangannya kembali bertemu dengan kertas-kertas yang ada di hadapannya. Ia menghela nafas.

"Tapi… kerjaanku ini bagaimana?" tanya Kaito putus asa.

"Itu urusan gampang. Kau bisa ambil jam kerja lembur hari ini. Tuh, kau tinggal minta izin pada Akaito. Dia yang piket hari ini," Len menggedikan dagunya pada seorang laki-laki berambut merah di ujung ruangan dekat pintu keluar. Laki-laki itu tampak sedang membaca buku dengan headset yang tersumpal di kedua telinganya.

"Kau benar," Kaito tersenyum lalu menaruh topi polisinya di atas meja. Dia beranjak lalu menepuk bahu Len.

"Terima kasih," ucap Kaito.

"Kembali. Dan kau tahu, hal itu sama sekali tidak gratis. Kau harus traktir aku makan siang besok," delik Len sambil nyengir. Kaito membalas cengiran itu sambil mengangkat ibu jarinya. Dia lalu berjalan ke arah Akaito.

"Oi," panggil Kaito. Laki-laki itu mendongak lalu melepas sebelah headsetnya. Dia lalu melempar tatapan bertanya.

"Bisakah kau buatkan surat izin keluar siang hari ini?" tanya Kaito. Lalu bayangan Miku muncul dipikirannya.

"Aku… ada janji dengan seseorang."


Langkah kakinya yang panjang menelusuri jalan setapak di hadapannya. Suasana siang itu memang agak terik sehingga membuat cairan asin keluar dari seluruh pori-pori permukaan kulit. Namun pemuda berambut biru itu tampak tidak peduli. Dia terus saja melangkah di bawah naungan langit biru cerah yang meneranginya saat ini.

Lalu kedua kelereng mata biru kristalnya menatap taman di sebelahnya. Taman itu masih sama seperti terakhir kali dia melihatnya. Dan mungkin akan selalu sama untuk selama-lamanya. Lantas dia melangkahkan kaki ke sana dan duduk di bangku taman tersebut. Picingan matanya memerhatikan beberapa anak kecil berkeliaran dengan gembira kesana kemari. Suara tawa mereka mengundang senyuman bagi siapapun yang mendengarnya. Mereka saling bercengkrama, bermain dan berlari-lari dengan riang.

Kaito Shion lalu memanjangkan lehernya untuk mencari seseorang yang dicarinya. Dia memang janji dengan Miku di taman itu. Setelah Miku pulang sekolah, mereka akan menghabiskan waktu bersama sesuai dengan janji Kaito.

"Onii-san!" panggilan suara yang dikenalnya membuat Kaito menoleh. Dia mendapati seorang gadis berambut twin tails berwarna hijau tosca setengah berlari ke arahnya. Awalnya, Kaito tersenyum melihatnya. Sebelum akhirnya dia melunturkan senyumnya melihat seorang laki-laki berambut coklat berkacamata ada di sebelah Miku. Laki-laki itu…

Yang menemani Miku jalan-jalan kemarin 'kan…?

"Kenalkan, Kiyoteru! Ini Onii-sanku yang kuceritakan itu! Namanya Kaito. Dia seorang polisi, lho!" kerlingan mata Miku membuatnya terkikik sendiri. Namun dia dapat sedikit merasakan tubuh Kiyoteru di sebelahnya menegang dengan tidak wajar. Laki-laki itu lalu memunculkan serawut ekspresi aneh yang tak bisa dibaca.

"Polisi, ya… menarik," Kiyoteru terkekeh kecil. Entah ada yang salah… Kaito tidak menyukai nada laki-laki itu. Terkesan sombong dan arogan. Seolah dia tahu segalanya. Seolah dia sempurna.

"Kaito," laki-laki berambut biru itu mengulurkan tangannya ke arah Kiyoteru. Namun laki-laki berambut coklat itu hanya menatap tangan Kaito yang terhenti di udara dengan tatapan lucu. Di balik lensa kacamatanya, jelas sekali laki-laki itu tak mau membalas uluran tangan Kaito.

"Kurasa kau sudah tahu namaku… tadi," balas Kiyoteru tanpa membalas jabatan tangan Kaito. Laki-laki berambut biru itu lalu menurunkan tangannya. Tatapannya memicing. Sekali lihat, kesan pertama seorang Kiyoteru tidaklah baik di matanya.

"Umm…," Miku berusaha menetralkan suasana beratmosfer tegang itu dengan melantunkan suaranya.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan bertiga saja? Mau, kan?" Miku menatap keduanya bergantian. Ide buruk. Sangat buruk, Miku.

"Aku tidak bisa," Kiyoteru angkat bicara. Dia membenarkan letak kacamatanya lalu menatap jam tangannya.

"Aku ada janji dengan Luka-chan hari ini. Lain kali saja, ya?" Kiyoteru menatap Miku yang terdiam. Miku menyukai laki-laki itu. Tapi kenapa… Kiyoteru mengatakan dengan mudahnya bahwa dia punya kencan dengan wanita lain… di hadapannya?

"Oh… baiklah," Miku memaksakan senyum ikhlas. Kaito mengernyit tak suka. Perlahan tangannya mengepal tidak suka dengan perkataan Kiyoteru tadi yang membuat wajah Miku menjadi agak sendu.

"Sip. Aku pergi sekarang," Kiyoteru melambai pada Miku lalu bahunya bertemu dengan bahu Kaito. Saat itulah dia merasakan suatu bisikan di telinganya.

"Seharusnya kau tahu siapa aku."

Kaito membeku mendengar bisikan aneh dan dingin dari laki-laki bernama Kiyoteru tadi. Namun Kiyoteru besikap seolah tidak ada apa-apa dan berjalan melewati Kaito dengan tenang. Iris mata biru kristal itu memandangi punggung Kiyoteru dari jauh. Pandangannya menyipit.

Apa maksudnya?

"Onii-san, ayo kita mulai jalan-jalannya!" suara Miku membuat Kaito tersadar lalu perlahan mengikuti gadis itu pergi.


Angin bertiup. Tetapi tidak menimbulkan sensasi dingin yang menyenangkan seperti musim lalu. Kaito dan Miku tengah duduk di sebuah kedai yang menyajikan beberapa minuman dingin dan es krim. Setelah puas jalan-jalan tadi, keduanya memutuskan untuk menikmati makanan dan minuman yang membuat badan mereka menjadi tidak terlalu panas.

"Haa, ini enak sekali, Onii-san!" Miku menyendok es krim green teanya dengan sekali gerakan lalu menyantapnya lagi. Kaito sendiri tengah menikmati semangkuk es krim vanilla yang masih membeku sempurna. Dia tersenyum menatap Miku.

Gadis itu melahap es krimnya dengan puas. Entah siapa di sini yang maniak es krim sebenarnya. Kalau kau tahu maksudku, Kaito jelas menggilai makanan manis dan dingin itu. Namun Miku ternyata sudah tertular untuk terkena 'sindrom es krim' dari Kaito. Tapi gadis itu terlihat manis dengan semua tingkah laku dan kepolosannya membuat Kaito semakin merasa dadanya menghangat tiap melihat Miku.

Tidakkah Miku menyadarinya? Apakah perasaan ini termasuk tabu?

"Onii-san, maafkan Kiyoteru tadi. Dia tidak bermaksud menyebalkan kok. Sungguh. Tidak biasanya dia begitu," Miku membuka topik yang paling Kaito hindari—saat gadis itu kembali membahas Kiyoteru itu.

"Jangan minta maaf atas nama dia. Lagipula, aku tidak ambil hati, kok," tutur Kaito sambil mengangkat kedua bahunya. Miku tersenyum tipis lalu mengerjap.

"Kau baik sekali, Onii-san… Pasti banyak sekali gadis yang jatuh cinta padamu," Miku mengedipkan sebelah matanya. Kaito nyaris tersedak mendengarnya.

"Ha?"

"Gadis yang mendapatkanmu nanti… pasti sangat beruntung!" Miku tersenyum manis tapi perkataan gadis itu malah membuat hatinya mencelos. Kau tahu rasanya… saat gadis yang kau sukai berkata bahwa kau akan bahagia dengan gadis lain? Mau membunuh Kaito, ya?

"Kau… bisa saja. Miku juga. Miku manis dan cantik. Tak ada laki-laki yang bisa menolakmu," senyuman Kaito terkembang. Wajah manis Miku sedikit memerah. Gadis itu lalu tertawa gugup sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Bahunya bergetar menahan tawa.

"Onii-san! Gombal!" Miku menjulurkan lidahnya masih dengan wajah memerah karena malu. Lalu ia tertawa tertahan. Kaito hanya tersenyum kecil menanggapinya. Dia tidak bermaksud gombal. Sungguh. Yang dia katakan adalah yang sesungguhnya.

"Tapi… sepertinya Kiyoteru tidak memiliki perasaan yang sama denganku, deh…" Miku menggumam lirih. Kaito mengernyit.

"Perasaan yang sama denganmu?" tiru Kaito dengan mengganti kata ganti orang pertama yang digunkan Miku. Gadis itu terdiam sesaat lalu menatap Kaito lama-lama.

"Onii-san. Kau pernah jatuh cinta?"

DEG.

Pertanyaan yang menohok hati. Kaito jelas sedang merasakannya sekarang ini. Jatuh cinta… jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya dia jaga baik-baik di sisinya saat ini, tak seharusnya Kaito yang sudah bersikap egois, malah ingin menjadikan Miku miliknya, bukan? Pikiran semacam itu hanya… terlalu naïf.

Jatuh cinta pada Miku.

"… Tidak tahu. Memangnya kenapa?" jawab Kaito akhirnya. Lalu segera saja dia memaki dirinya sendiri dalam hati. Miku tertawa pelan lalu mengaduk-aduk es krimnya yang hampir cair seluruhnya dengan sendok aluminium yang dia pegang.

"Bagaimana bisa kau tidak tahu? Apa kau tidak pernah berdebar-debar saat berdekatan dengan seorang gadis?" tanya Miku.

Aku merasakannya saat aku bersamamu…

"Tidak... sepertinya." Kaito lagi-lagi memberikan jawaban yang berbeda dengan hatinya. Mengapa dirinya begitu pengecut?

"Hmm… kalau begitu, susah juga, ya…" Miku menopang dagunya dengan telapak tangannya. Sebelah tangannya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan jemari lentiknya.

"Memangnya kenapa?" Kaito mengulang pertanyaan pertamanya. Dia memang merasa Miku agak aneh akhir-akhir ini. Gadis itu sering melamun, terkadang tersenyum sendiri…

"Kurasa… aku jatuh cinta, Onii-san…"

Bagai disambar petir, Kaito sampai tak mampu berkata-kata. Apa katanya tadi…?

Kaito lalu merasakan perasaan yang sangat mengganggu dan tidak enak menyelimuti hatinya. Jantungnya juga ikut berdebar dengan tidak nyaman.

"Apa…?" Kaito menyuarakan isi hatinya dengan nada melamun dan kaget secara bersamaan. Perasaannya mendadak terasa dicampur asam cuka. Tak menentu.

"Aku jatuh cinta," jelas Miku lagi. Wajah gadis itu agak memerah.

"Aku baru mengenalnya. Tetapi entah kenapa aku merasa aku telah mengenalnya jauh lebih lama dibanding yang aku tahu.…," Miku mendongak menatap dalam-dalam biru Kristal di hadapannya. Kaito sendiri menatap lautan samudra pasifik di hadapannya.

"Onii-san…" panggil Miku. Kaito tidak menjawabnya. Dia bahkan men ahan nafasnya.

"Aku jatuh cinta… pada Kiyoteru…"


Buntu.

Itu yang ada di pikiran Kaito saat ini. Setelah pernyataan Miku siang tadi, dia sama sekali tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya. Sering kali dia salah menulis kolom, tabel dan lain sebagainya. Beberapa kali juga dia kena teguran dari Leon yang moodnya sedang jelek hari itu. Entah ada apa dengan hari Leon. Mungkin sama buruknya dengan Kaito.

"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Dia memang begitu kalau moodnya sedang jelek 'kan?" suara wanita berambut coklat dengan baju seragam polisi wanita yang agak ketat tiba-tiba berdiri di depan Kaito. Iris biru kristal itu menaikkan pandangannya ke atas dan mendapati wajah cantik dan cengiran menenangkan yang biasa dilihatnya menatap dia.

"Nih, untukmu," wanita itu memberikan sekaleng kopi dingin. Dia sendiri tengah meneguk kopi dingin kalengan miliknya sendiri. Kaito lalu mengangguk.

"Terima kasih, Sakine-san," Kaito meraih kopi kalengan itu lalu membuka tutupnya dan meneguknya hingga setengahnya.

"Wow. Kenapa kau? Kau terlihat kacau," komentar Meiko Sakine—begitu nama yang ditulis di badge nama wanita itu. Kaito menghela nafas panjang. Dia kacau. Memang sedang sangat kacau.

"Tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah," kilah Kaito. Meiko menatapnya sangsi lalu mengangkat dirinya sendiri untuk duduk di atas meja Kaito. Kaki jenjang dan putihnya terlihat di balik rok biru yang dikenakannya. Dia lalu mengangkat sebelah alisnya.

"Lelah? Pasti Gumone atau Rei yang menekanmu. Kau tahu, aku jarang dapat shift di sini karena kantor kepolisian di Nagasaki lebih membutuhkanku. Tapi… orang lelah fisik dan lelah batin itu berbeda, lho," Meiko menggoyang-goyangkan kopi kalengannya.

"Seperti kau. Kelihatannya kau sedang lelah batin. Iya 'kan?" Meiko menebaknya dengan nada asal-asalan, tetapi entah kenapa hati Kaito tertohok lagi.

"… Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya, Sakine-san. Lagipula…" Kaito memejamkan matanya. "… aku memang lelah…" Kaito menghela nafas lagi saat kembali teringat perkataan Miku siang tadi. Dia menatap jam dinding. Sudah pukul delapan malam.

"Fufufu~ jangan galau begitulah," Meiko nyengir. Meiko Sakine adalah polisi wanita paling cantik di angkatan Kaito. Selain itu, Meiko juga memiliki tubuh semampai yang indah. Kemampuan otaknya terkadang melebihi logika laki-laki pada umumnya. Karena itulah Meiko sering ditugasi di banyak tempat. Tapi Kaito cepat akrab dengan wanita itu. Bagaimanapun, Meiko adalah wanita yang mudah bergaul dan menyenangkan.

"Kau masih punya aku untuk diajak bicara, lho," kerlingan mata Meiko membuat Kaito terkekeh.

"Terima kasih, Sakine-san. Kau baik sekali," Kaito tersenyum tipis.

"Memang," cengir Meiko. "Mau ikut ke klab nanti malam? Siapa tahu vodka dan tequila bisa membantumu untuk rileks sejenak…," Meiko tertawa pelan saat menerima tatapan tak percaya dari Kaito.

"Hanya bercanda," kekeh Meiko lalu turun dari meja Kaito.

"Nah. Sekarang aku balik ke ruanganku dulu, ya. Daah, Tampan!" Meiko mengedipkan sebelah matanya dengan genit lalu terkekeh dan keluar dari ruangan Kaito.

Laki-laki itu kembali dalam naungan kesendirian.

Untuk kedua kalinya, dia merasakan kesepian yang dikenalnya menyelimuti hatinya.

To Be Continue

Selesai! X'D

Jujur, lembar kelima adalah lembar yang paling susah dapet feel buat nulisnya. Soalnya mood saya sedang hancur sekali akhir-akhir ini karena didera masalah yang banyak dan berkepanjangan =_=(m)

Tapi ternyata saya berhasil menyelesaikan lembar kelima ini TwT #gulingguling.

Oke. Akhir kata...

Reviewmu, Kebahagiaanku! X'3

So, review, please? :'3

V

V