Kalo boleh jujur, saya nulis lembar keenam ini dengan sedikit malas mengingat UAS tinggal tiga hari lagi dan saya belom belajar apa-apa. Haha.

Tapi yah... akhirnya... saya berhasil update tepat waktu. Walau didera masalah yang SANGAT banyak dan berkepanjangan serta menimbulkan stress, tertekan dan sakit batin, ternyata saya nggak semenyedihkan itu juga deh untuk tidak menepati jadwal update saya ;) #napacurhat.

Okeh... lembar ini adalah lembar terpanjang.

so... happy reading :)


The Book of Love Story

a VOCALOID FANFIC

By : YandereHachan24

Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media

Kaito x Miku


WARNING!

Dramatically Romance, full of abalness, etc

Pergantian rate dari T ke M untuk bahasa kasar.

DON'T LIKE DON'T READ!

6 of 8

.

.

.

.

.

Malam temaram menunjukkan pukul 10 tepat. Waktu yang seharusnya dipakai manusia untuk tertidur lelap dalam naungan gelap langit tanpa bintang. Namun laki-laki berambut biru itu baru memberesi barang-barangnya sendiri di ruangan remang-remang karena listrik yang nyaris dimatikan. Kaito Shion mengambil tasnya sendiri setelah semuanya selesai.

"Kau mau pulang sekarang?" suara Len Kagamine membuat Kaito menoleh. Pemuda biru itu lalu menutup tasnya dengan resleting yang ada.

"Seperti yang kau lihat," Kaito menggedikan bahunya. Len bersandar di ambang pintu.

"Kita punya kemajuan tentang kasus Hiyama. Aku baru dapat informasinya," Len menggoyang-goyangkan secarik kertas di tangannya. Kaito sontak menghentikan aktivitasnya lalu menatap Len dan kertas itu.

"Apa? Akhirnya setelah setengah tahun kita menyelidiki, akhirnya ada sedikit informasi tentang dia?" Kaito mengerjap tak percaya. Rasa-rasanya seperti mimpi. Sungguh.

"Iya," cengir Len. "Bagus 'kan? Dengan begini, jabatanmu akan cepat naik,"

"Kau benar." Kaito membalas cengiran Len.

"Boleh aku lihat datanya?" tanya Kaito. Len mengangguk lalu memberikan secarik kertas itu pada Kaito. Jemari Kaito meraih untuk menerimanya lalu mendadak jantungnya serasa berhenti.

Foto 'Hiyama' yang selama ini dicari-cari akhirnya terkuak. Laki-laki itu… berambut coklat, berkacamata dan begitu Kaito melihat kolom namanya…

Kiyoteru Hiyama.

Mendadak kepalanya pusing bukan main. Bagai disambar petir, Kaito hampir lupa caranya bernafas. Wajahnya terasa ditarik dari depan. Demi Tuhan! Dia benar-benar mengenali sosok itu!

Keringat dingin mulai mengaliri telapak tangannya. Tanda dia kaget luar biasa.

"Ternyata dia itu melakukan tindakan kriminalnya setelah beberapa kali operasi plastik. Nih lihat," Len tampaknya tidak terlalu sadar dengan perubahan mimik Kaito yang kaget dan syok bukan main. Len lalu memberikan beberapa lembaran dari sebelah tangannya.

"Lihatlah. Dia berbeda sekali bukan?" Len menyodorkan tiga kertas dengan foto laki-laki yang berbeda. Foto pertama, tampaknya seorang Kiyoteru Hiyama yang asli karena wajahnya tidak setampan sekarang dan masih banyak cacatnya. Kaito mengernyit menatap foto kedua. Laki-laki itu sudah berganti wajah menjadi sosok yang agak berbeda namun masih dapat dikenali dengan rambut hitam yang masih sama dengan sosok aslinya pada foto pertama. Kaito lalu menatap foto ketiga.

Foto Kiyoteru Hiyama yang sekarang.

Kiyoteru Hiyama… yang disukai Miku.

Tidak.

Astaga.

Kaito bersumpah lututnya terasa bergetar dan lemas. Mendadak seluruh syarafnya menjadi bebal tidak bisa berfungsi apa-apa. Tatapannya kosong. Pikirannya bercampur aduk.

"Polisi… menarik,"

Bayangan Kiyoteru yang bertemu dengannya tadi kembali terbayang. Dia ingat betul bagaimana laki-laki itu menatapnya sinis—walau Kaito sedikit merasakan bahwa laki-laki itu agak tegang dan ada raut gelisah pada air mukanya begitu Miku menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang polisi.

"Seharusnya kau tahu siapa aku."

Kata-kata bernada mengancam yang aneh terngiang dikepalanya. Pantas saja… pantas saja laki-laki itu tidak menyebutkan nama keluarganya!

"Onii-san… aku jatuh cinta pada Kiyoteru…"

Tidak. Tidak bisa!

Kaito lalu merasa dunianya runtuh. Miku dekat… dan jatuh cinta dengan si Serigala berbulu domba itu!

"Kabarnya," Len bersuara lagi ketika tidak mendapat tanggapan dari Kaito yang syok itu.

"Mungkin saja dia ini adalah tunangan dari anak hilang dua tahun lalu dari keluarga Hatsune. Keluarga itu cukup jauh dari sini, kau tahu," Len kembali berkelakar. Dia lalu menarik salah satu lembar foto yang ada di balik file yang dibawanya. Lalu ditunjukkannya pada Kaito.

"Dia ini tunangan si Hiyama itu." Jelas Len. Dengan gerakan lambat, Kaito memerhatikan wajah gadis yang ditunjukkan Len pada foto itu.

DEG.

Jantung Kaito bagai nyaris tercopot dari tempatnya. Dilihatnya seorang gadis berambut hijau tosca dengan iris samudra pasifik yang amat dikenalnya… hanya saja, gadis itu berambut pendek.

Dunia…. Oh, dunia.

Dengan nafas memburu, Kaito mulai merasa tanah pijakannya memiring sembilan puluh derajat dari tempatnya sekarang. Keringat dingin semakin membanjiri tubuhnya. Jadi… selama ini…

Miku adalah tunangan hilang Hiyama si Kriminal itu?

Pantas saja.

Tangan Kaito terkepal. Marah, gelisah dan kalut semuanya menjadi satu.

Pantas saja laki-laki itu terlihat sudah sangat terbiasa menyentuh Miku, sudah tahu semua sifat Miku dan mengetahui segala tentang Miku.

Pantas saja.

Miku merasa sudah mengenal laki-laki itu lebih lama dari yang dibayangkannya…

Ternyata…

"Hey, tunggu," Len mengernyitkan dahi memerhatikan foto itu.

"Sepertinya dia mirip dengan—"

"Len. Aku harus pergi. Miku sendirian di rumah." Lalu Kaito segera berlari begitu saja dengan panik meninggalkan Len yang cengo.

"Kenapa dia?" Len mengangkat sebelah alisnya. Lalu kembali menatap foto gadis dalam genggaman jemarinya.

"Mirip sekali dengan Mikunya Kaito…," gumamnya heran. Dari awal, sebenarnya Len sudah curiga dengan kebohongan Kaito yang mengatakan bahwa Miku adalah adiknya. Adik darimana?

Len mengernyit.

Mendadak Len teringat semua tindakan-tindakan Kaito sejak dua tahun lalu dengan pandangan yang berbeda. Dia mulai mengambil sudut pandang insting seorang polisi. Dua tahun lalu, Kaito tiba-tiba mengambil banyak shift tanpa alasan yang jelas. Selain itu, pemuda itu juga sering tampak gugup jika rekan kerjanya bertanya soal Miku. Seperti maling yang takut ketahuan tindakannya. Seperti menyembunyikan sesuatu.

Selain itu…

Len menahan nafasnya.

Jangan-jangan…

"Tidak salah lagi," gumam Len.

Tanpa pikir panjang, Len segera meraih jaketnya dan berlari keluar dari kantor polisi.


Gadis berambut hijau tosca itu melepas kunciran rambutnya dan menggerainya di depan cermin. Dia lalu mengambil sebatang sisir dan menyisir rambutnya yang panjang. Mata samudra pasifiknya menatap jam dinding yang ada di atas cermin itu. Sudah pukul setengah sebelas. Kemanakah Kaito? Apakah dia ambil jam lembur lagi?

Miku menghela nafas lalu menatap jendela di sampingnya. Langit malam tanpa bintang memang menyeramkan. Namun lampu-lampu rumah seberang yang masih menyala membuat suasana terasa hangat. Miku tersenyum simpul.

Gadis itu lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya sendiri dan memejamkan matanya. Dia mengantuk. Tetapi dia harus menunggu Kaito pulang. Nanti laki-laki itu tidak makan sama sekali dan akhirnya jatuh sakit. Kaito memang selalu memaksakan dirinya sendiri demi Miku. Kadang, gadis itu merasa seharusnya Kaito tidak perlu segigih itu melindungi dan mengorbankan semuanya demi dia… bahkan Miku tidak dapat membalasnya kecuali dengan cara menuruti semua permintaan Kaito yang sangat jarang terlontar dari bibir tipis laki-laki berambut biru itu.

Mendadak ia merasa ingin bertemu Onii-sannya itu.

"Onii-san… kemana sih?" gumam Miku pada dirinya sendiri.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membuat Miku membuka kedua matanya. Ah, Onii-san pulang!

Miku lantas berlari kecil keluar kamar dan menuruni anak-anak tangga kayu yang sudah mulai reyot. Dia lalu mengambil kunci rumah yang ada di balik karpet lalu memutarkannya pada lubang kunci. Miku lalu memutar kenop pintunya.

"Selamat datang, Onii—" ucapan Miku terhenti ketika melihat sosok laki-laki berambut coklat dan berkacamata tengah menatapnya. Namun tatapannya bukanlah tatapan lembut seperti biasanya. Tatapan itu sinis—meremehkan. Miku bisa merasakan aura negatif terpancar darinya.

"Ki—yoteru?" panggil Miku. Laki-laki itu tersenyum sinis.

"Hai." Senyuman Kiyoteru tak mencapai matanya. Hal itu membuat perasaan Miku tak enak.

"Halo… Miku Hatsune," cengirannya begitu dingin membuat Miku merasa setitik keringat dingin menetes dari dahinya. Sedikit, dia dapat merasakan ketakutannya memuncak.

"Apa kabar, hmm?"

"Siapa…?" Miku mengerjap. Nadanya tak terkendali. Kiyoteru menginjakkan kakinya dengan satu langkah ke depan.

"Apa kabar… tunanganku yang hilang?" seringai mengintimidasi Kiyoteru semakin membuat Miku merasa takut. Nafasnya tercekat. Apa…?

"A-apa…?" Miku menatapnya tak percaya. Hatsune? Siapa itu?

"Kau tidak ingat padaku?" Kiyoteru menatapnya dengan tatapan sedih yang dibuat-buat. Tidak ada jawaban dari Miku. Kiyoteru lalu menoleh ke belakang. Seperti memberi isyarat.

Lalu dua orang pemuda masuk. Yang satu berambut merah dan yang satunya berambut hijau. Wajah mereka menyeramkan—seperti preman, atau sesuatu yang kriminil. Lalu Miku tercekat dan jantungnya terasa berhenti.

Tapi bukan itu yang Miku takuti. Kedua laki-laki itu…


Flash Back

"Ambil saja uangnya!" seorang laki-laki berambut hijau mendesak temannya yang tengah berusaha meraih kalung emas seorang gadis berambut hijau tosca di pinggiran jalan yang tertutup oleh tong sampah dan dinding tinggi.

"Aku berusaha, Bodoh! Boss tidak akan senang jika kita mengambilnya setengah-setengah!"

"LEPASKAN AKU!" Gadis itu meronta saat tangan si laki-laki berambut merah berusaha meraih kalung emas peninggalan mendiang neneknya. Miku meronta-ronta. Tak pernah dibayangkannya kencan dengan tunangannya ke luar kota malah membawa petaka begini.

"LEPASKAAAAAAN!" teriak Miku lagi.

"SHIT! Dia berteriak!" laki-laki berambut merah itu terlihat kepanikan saat gadis itu menendang-nendang dirinya. Dengan sigap, laki-laki berambut hijau tadi menutup mulut Miku dengan kasar. Tentu saja gadis itu tidak tinggal diam. Dia menggigit kuat tangan laki-laki itu.

"SIAL! Dia menggigitku!" jerit si rambut hijau. Dengan geram, ditatapnya gadis tak berdaya itu.

"Pukul saja dia!" perintah si laki-laki berambut hijau.

"Apa!? Kau gila, ya?! Dia itu—"

"LEPA—"

"PUKUL SAJA!" seru si laki-laki berambit hijau. Si Merah terlihat sedikit ragu. Namun hanya sesaat. Dia lalu meraih tongkat baseball yang terletak di pinggiran tong sampah. Pupil mata samudra pasifik itu mengecil tanda ketakutan yang teramat sangat saat ujung tongkat baseball itu melayang ke arah kepalanya dengan kecepatan bagai petir… sepintas, dia dapat melihat seorang laki-laki berambut gelap dari balik kaca mobil menatapnya dengan tatapan puas.

"Kiyo…"

DUAAAKKK!

Awalnya, Miku tidak merasakan apapun selain kepalanya yang terasa melayang-layang…

Selanjutnya, semua gelap… dan dia tidak ingat apa-apa lagi…

End of Flash Back


Miku mengatur nafasnya yang memburu ketika akhirnya ingatannya pulih begitu mengingat kedua lelaki tadi. Mereka… orang yang merampoknya!

"Sudah ingat?" melihat raut wajah Miku yang ketakutan membuat Kiyoteru merasa di atas angin. Miku lalu mundur perlahan saat ketiga laki-laki itu berjalan ke arahnya.

"Ayo kita pulang, Sayang… kita seharusnya menikah sejak dua tahu lalu 'kan? Kita akan menikah…," Kiyoteru maju selangkah saat Miku mundur perlahan.

"… lalu kau akan ku bunuh… dan kekayaan keluargamu akan menjadi milikku~! Eheheh," senyuman menyeramkan Kiyoteru membuat Miku menitikan air matanya saking takutnya. Tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin membanjiri tubuhnya.

"Ti—tidak!" Miku meronta saat Kiyoteru mencengkram pergelangan tangannya dengan kasar dan tiba-tiba.

"Lepas! Lepaskan!" seru Miku ketakutan. Kiyoteru lalu mengunci kedua tangan Miku lalu memukul tengkuk gadis itu hingga pingsan. Selanjutnya, dia menatap Gumo dan Ted, anak buahnya yang selama ini menuruti semua perintahnya.

"Siapkan mobil. Dan bawa dia," Kiyoteru memindahkan Miku ke tangan Ted.

"Aku… harus 'mengirim pesan' pada si Polisi penculik itu."


Kaito Shion berlari ke arah rumahnya yang terletak di ujung jalan. Perasaan tidak enak menjalari hatinya seusai membaca data yang diberikan Len padanya.

Kenapa…?

Kaito menggigit bibir bawahnya dengan perasaan kesal dan marah. Kenapa dia tidak menyadarinya lebih cepat? Kenapa dia tidak mengetahuinya lebih cepat? Kenapa… dia…

Tidak ada waktu menyalahkan diri sendiri, batin Kaito. Yang penting, bagaimana Miku bisa selamat dari ancaman marabahaya yang mungkin saja tengah mengincarnya kali ini.

"Aku baru mengenalnya. Tetapi entah kenapa aku merasa aku telah mengenalnya jauh lebih lama dibanding yang aku tahu."

Karena kau memang sudah mengenal si Brengsek itu, Miku!

Kaito tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang masih terjaga menatapnya dengan aneh—saat seseorang berlari seperti kesetanan malam-malam begini. Bukankah itu hal yang aneh? Kaito tahu itu. Tapi apa pentingnya itu sekarang?

Begitu melihat bangunan yang dikenalinya sebagai rumahnya selama ini, Kaito segera berbelok dan memasuki rumah itu. Dan tidak dikunci.

"Miku?" panggil Kaito. Tidak ada jawaban. Rumah ini sepi sekali. Apa mungkin Miku sudah tidur? Tapi gadis itu tidak pernah tidur sebelum Kaito pulang dan memasakan sesuatu untuknya. Namun tidak ada jawaban. Perasaannya semakin tidak enak saja saat dia menaiki anak-anak tangga secara perlahan-lahan dengan hati berdebar.

Kriieett…

Kaito membuka kenop pintu. Kosong. Tidak ada Miku di sana.

Bahkan kasur Miku masih tertata rapi. Kaito mulai merasakan ketakutan. Kemana Miku?

"Mik—" Kaito berhenti begitu melihat secarik kertas terselip di bantalnya. Dengan cepat disambarnya kertas itu dan dibaca tulisan yang tertera di sana.

Kalau kau ingin Miku selamat, temui aku di Distrik Tokyo Tower lantai 40 malam ini pukul 12. Atau kau akan menyesal.

p.s : jangan bawa gerombolan polisi pecundang itu. Sedikit saja kudengar suara sirene, aku akan membuat jantung gadis kesayanganmu ini terlepas dari tempatnya.

-KH-

"SIAL!" seru Kaito begitu melihat surat ancaman yang diberikan Kiyoteru untuknya. Dia meremas kertas itu lalu membuangnya ke lantai. Ia menghela nafas. Mau tak mau, dia harus melakukan ini.

Demi Miku.


Sedikit tergesa, Len Kagamine berlari menyusuri batu bata merah pijakannya di sepanjang jalan kota Tokyo yang selalu sibuk kapan saja. Nafasnya memburu lalu menatap foto Miku sekilas yang ada di genggamannya. Dia meremas sedikit foto itu.

Dari awal, dia sudah curiga. Sungguh. Namun kenapa perasaannya ragu-ragu?!

Len mendecih kesal. Kesal karena si Kriminal Hiyama yang selalu tak berhasil ditangkap, ternyata melakukan semuanya tepat di hadapan matanya. Dan omong-omong, dia merasa dirinya bodoh bukan main ketika menyadarinya.

Kalau benar… ternyata Kaito… Miku…

Len menggigit bibirnya dengan gelisah lalu memasuki sebuah rumah yan dikenalinya sebagai rumah Kaito Shion, sahabatnya.

Tapi pintu rumah itu terbuka lebar. Pagarnya juga tidak dikunci.

"Kenapa…" Len menggumam lalu mengernyit. Kaito tak biasanya berlaku begitu ceroboh dengan tidak menutup pintu rumahnya sendiri.

Lalu mendadak perasaan Len tidak enak.

Perlahan tapi pasti, laki-laki itu lalu memasuki rumah Kaito dengan perlahan. Rumah itu masih menunjukkan aura kesepian Kaito yang selama ini dikenalnya. Namun agak membaik belakangan berkat seorang Miku—yang dibilang Kaito adalah adik sepupunya.

Tapi aneh. Rumah ini agak ganjil jika teredam diam dan sunyi seperti itu.

"Kaito?" panggil Len. Hening. Tak ada jawaban. "Miku?" panggil Len. Tetap mendapat respon yang sama.

Len lalu menaiki anak-anak tangga kayu untuk mencapat kamar Kaito. Dengan agak ragu, diketuknya pintu itu.

"Kai—" ucapan Len terputus begitu menyaksikan kamar itu kosong. Bahkan hanya dengan mengetuknya saja, pintu itu langsung terbuka. Perasaan tidak enak Len semakin memuncak saat mendapati secarik kertas yang diremas-remas di lantai. Lalu diraihnya kertas itu. Sontak, iris mata biru laut itu membeliak tak percaya. Kaget dan sangat panik.

Kaito dan Miku dalam bahaya!

Dengan tangan agak gemetar, cepat-cepat diraihnya ponsel yang ada dikantungnya. Terdengar nada sambung sebanyak dua kali.

"Halo, dengan kepolisian Tokyo."

"Akaito. Ini aku, Len!" laki-laki itu meneguk ludahnya untuk menelan rasa paniknya barang sedikit saja. Keringat juga membanjiri tubuhnya.

"Oh, ada apa, Len?"

"Siapkan bantuan nomor delapan belas," kata Len dengan nafas memburu.

"Lalu pergilah ke Distrik Tokyo Tower tengah malam nanti bersama Letnan Gumone… jangan sampai telat. Dan jangan berisik. Mengerti?"


Distrik Tokyo Tower, 11:59 pm

Laki-laki berambut biru itu melangkah pasti begitu memasuki gedung dengan empat puluh lantai itu. Begitu lift terbuka, langsung saja dia keluar dan mendapati empat orang ada di atas gedung tersebut.

"Oh, sudah datang," suara yang dikenalnya terdengar. Lalu terdengar suara bisikan seperti isyarat.

"Keluarkan dia," perintah Kiyoteru.

BRUK!

Ted menjatuhkan sesuatu—atau seseorang—dari tangannya.

Kaito mendapati sosok Miku yang selama ini disayanginya itu meringkuk kaku dengan tangan dan kaki terikat. Mulutnya bahkan ditutup dengan lakban hitam bertubi-tubi. Matanya berkaca-kaca dan setitik air mata terjatuh saat iris samudra pasifik itu menatap Kaito. Membuat hati laki-laki itu mencelos. Lalu tangannya terkepal marah. Dia mendongak, menatap Kiyoteru.

"Lepaskan dia," kata Kaito dengan suara rendah—menandakan bahwa dia sudah dalam tahap kemarahan tingkat akut dan siap meledak kapan saja.

"Tidak semudah itu," suara ringan Kiyoteru membalasnya. Laki-laki itu lalu melangkahkan kakinya mendekati Kaito.

"Akan aku lepaskan dia. Asal, kau keluar dari kepolisian dan menghentikan penyelidikan tentangku," kata Kiyoteru lagi. Diambilnya beberapa carik kertas.

"Kau tahu, hidup dalam kondisi buron sangat tidak menguntungkanku," nada Kiyoteru terdengar gamang dan datar. Tanpa nada sedikitpun. Kaito mulai bertanya-tanya, apa yang dipikirkannya?

"Mungkin," seulas senyuman yang tidak sampai matanya terukir di wajah Kiyoteru. "Harus kulakukan pembunuhan berantai, ya? Agar polisi-polisi sok jagoan seperti kalian lenyap saja dari muka bumi ini!" suara itu terdengar penuh dendam dan kemurkaan. Perlahan, Kaito dapat mendengar degup jantungnya sendiri saat kedua laki-laki berambut merah dan hijau membawa pisau belati yang tampak berbahaya dan mengarahkannya pada Miku. Segera tangan laki-laki berkepala biru itu mengepal keras sampai membentuk guratan-guratan pada permukaan telapak tangannya.

"Akan aku sanggupi. Tapi, serahkan Miku dulu," pinta Kaito menatap tajam Kiyoteru yang menyilangkan tangannya di dada.

"Semudah itu? Bernegosiasi sepertinya bukan keahlianmu, ya,"

"Aku tidak butuh komentarmu, Bangsat." Suara dingin Kaito terdengar meredam marah. Iris biru kristal itu terlihat menyala-nyala seiring perkataannya terucap dari lisannya. Kiyoteru mengangkat sebelah alisnya.

"Kasar sekali," Kiyoteru tertawa meremehkan. "Lepaskan dia," Kiyoteru memberi aba-aba pada Megpoid Gumo—si Rambut Hijau dan Kasane Ted—si Rambut Merah. Segera saja keduanya meraih tubuh Miku lalu melemparkannya begitu saja ke arah Kaito—yang dengan sigap ditangkap oleh si Biru itu.

"Miku…," bisik Kaito. Setetes air mata Miku jatuh dari pelupuk matanya. Gadis itu menggeleng perlahan. Hati Kaito mencelos melihatnya.

Perlahan tapi pasti, segera dilepaskan ikatan yang mengikat tubuh Miku, lalu dilepaskan dengan pelan-pelan lakban yang melarang Miku untuk berbicara dengan bibirnya sendiri. Gadis itu mengatur nafasnya perlahan dengan air mata berurai. Kaito dapat merasakan tubuh gadis itu bergetar hebat.

"O-onii-san…" lirih Miku. Segera Kaito meraihnya ke dalam pelukannya. Dihirupnya wangi tubuh Miku lama-lama. Menimbulkan perasaan protektif yang khusus dia berikan pada Miku. Lalu terdengar seutas isakan gadis itu. Semakin lama semakin keras dan hal itu yang membuat Kaito semakin terluka.

"Sssh…," Kaito menenangkan gadis yang dicintainya itu.

"A-aku… ukh, hiks… a-aku ta-takut, O-onii-san…," tersendat-sendat, Miku membenamkan kepalanya di dada bidang Kaito. Laki-laki itu semakin tak berdaya dibuatnya. Dengan lembut, dikecupnya puncak kepala gadis itu.

"Aku di sini… semua akan baik-baik saja… oke?" Kaito berusaha meyakinkan gadis itu.

Dan juga berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

"Mengharukan sekali," suara sinis Kiyoteru segera merusak suasana. Kaito mendongak. Menatap laki-laki bengis itu dengan tatapan penuh kebencian.

Benci. Karena laki-laki berkacamata itu dengan mudahnya mempermainkan Miku.

Benci. Karena seorang Kiyoteru tidak menghargai perasaan cinta Miku padanya.

Benci. Amat benci karena laki-laki itu… membuat Miku menangis!

"Sudah selesai dramanya?"

"Aku… akan membunuhmu," desis Kaito tajam. Kiyoteru mengangkat kedua alisnya dengan kaget lalu sedetik kemudian merubahnya lagi menjadi tatapan tenangnya.

"Mau melanggar janji, eh?"seringai Kiyoteru. Kaito kini menatapnya berani.

"Kau," tunding Kaito. "Aku tidak takut padamu."

"Aku juga," balas Kiyoteru. Seringainya kembali terkembang dengan dua kali lipat lebih kejam dibanding yang tadi. Dia menatap kedua anak buahnya di belakang lalu kembali menatap Kaito yang teredam amarah itu.

"Kau memutuskan membatalkan janji. Hem, begitu, ya? Baiklah. Kuanggap kau menantangku, Pak Polisi," sinis Kiyoteru sambil menekankan kata 'pak polisi'. Dia menatap Gumo dan Ted yang masih memegangi pisau belati berbahaya itu.

"Bunuh dia," perintah Kiyoteru dengan nada rendah. Lalu ia menatap Miku sekilas. "Lalu bunuh juga yang itu. Tidak berguna,"desis Kiyoteru lalu memalingkan wajahnya.

Bagai macan liar yang baru dilepaskan dari kandangnya, kedua laki-laki tadi segera menyerang Kaito secara membabi-buta. Sementara Miku berlindung di belakang tembok kecil yang membatasi mereka. Tangisannya meledak melihat Kaito dikeroyok dengan tidak manusiawi. Sementara tubuhnya semakin bergetar hebat. Sambil membekap mulutnya sendiri, air mata Miku kembali meleleh membasahi kedua pipinya.

Semua terasa bagai mimpi buruk untuknya.

Gadis itu menyandarkan kepalanya ke tembok lalu menoleh sedikit untuk melihat keadaan Kaito. Laki-laki berambut biru itu masih bertahan walau guratan-guratan luka mulai mewarnai kulit pucatnya dan darah segar mengalir ke luar. Namun kedua laki-laki tadi juga kelihatannya sedikit terdesak dengan keadaan mereka. Tapi tetap saja, keadaan tak imbang mengingat Kaito yang bertangan kosong harus menghadapi mereka yang bersenjata berbahaya.

Tuhan, tolong Onii-san…, Miku berdoa dalam hati sambil memejamkan matanya yang bergulir banyak air mata.

BRUK!

Begitu Miku membuka matanya, dan yang dia dapati adalah tubuh Kaito yang jatuh tepat di hadapannya. Keadaannya sudah parah—luka memar, sayatan-sayatan yang mengeluarkan darah merah segar dan lebam di mana-mana. Bahkan Miku dapat melihat bibir laki-laki itu agak pecah.

"Onii-san!" seru Miku kaget. Mata laki-laki itu setengah terbuka. Menandakan keadaannya antara sadar dan tidak.

"Onii-san! Jawab aku! Onii-san!" air mata Miku kembali menyeruak dari kedua pelupuk matanya.

"Mi… ku…," panggil Kaito susah payah. Sebelah tangannya terangkat untuk menghapus air mata Miku yang menjatuhi wajahnya. Seulas senyuman terkembang di bibir tipis Kaito.

"Jangan… me… nangis…," Miku terisak-isak saat mendengarnya. Diraihnya tangan Kaito yang menghapus air matanya.

"Semua… akan… baik saja… Mi… ku…," ujar Kaito. Wajah tampan penuh darah itu menunjukkan ekspresi lembutnya.

"O-onii-san—"

"Jangan bikin sinetron di sini," ujar Kiyoteru sinis. Miku mendongak dan mendapati laki-laki itu membawa bilah pisau yang dia ambil dari Gumo. Seringainya menyeramkan dan mengancam. Lalu dia menginjak tubuh Kaito yang tak berdaya.

"Kau ini terlalu sombong. Kau tahu?" seringai Kiyoteru masih terpajang. Lalu mendadak seringainya menghilang dan menunjukkan ekspresi mengerikan.

"Kau… MATI SAJA!" seru Kiyoteru sambil mengangkat pisau itu tinggi-tinggi dan bersiap mengiris daging Kaito kapan saja. Pupil mata Miku mengecil saking ngerinya. Pisau itu melesat cepat bagai cahaya.

Tidak! TIDAK!

"TIDAAAAK!" seru Miku histeris.

Namun belum sempat pisau itu menyentuh Kaito barang setitikpun, suara pintu didobrak terdengar dari belakang. Lalu kumpulan polisi berkumpul di sana dengan seorang Gumone Kojiro yang memimpin mereka. Tangannya menggenggam sebuah handgun yang terlihat berbahaya.

"Jangan bergerak! Polisi!"

To Be Continue

Selesai. :) konfliknya terasakah?

Ah... saya nggak mau banyak omong deh. Nggak terlalu mood. Hahaha.

Reviewmu, kebahagiaanku!

So, review, please? :'3

V

V