Ohayo, konnichiwa dan konbawa di manapun anda duduk sekarang ini! XD Terima kasih sudah membuka halaman ini, yaa~!

Haah, akhirnya mood saya balik ke mood lawak seperti biasa. Okelah kalaw begitu, (semoga) gaada lagi masalah gapenting menerpa, yaa :)

Jadi, lembar ketujuh ini adalah lembar selesainya konflik. Walau masih ada beberapa konflik di dalam lembar ini, konfliknya nggak sebanyak di lembar keenam kok :)

Okedeh, selamat membaca lembar ketujuh!

Enjoy, minna~!


The Book of Love Story

a VOCALOID FANFIC

By : YandereHachan24

Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media

Kaito x Miku


WARNING!

Dramatically Romance, full of abalness, etc

DON'T LIKE DON'T READ!

7 of 8

.

.

.

.

.

Putih.

Itu yang pertama kali dilihat Kaito. Langit-langit putih polos yang setahunya bukan kamarnya. Iris biru kristal itu menyipit lantaran merasakan sakit yang teramat sangat pada seluruh tubuhnya. Diedarkan pandangannya pada seluruh tubuhnya yang nyaris dibalut sempurna dengan perban putih. Lalu dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya sampai-sampai tubuhnya babak belur begitu…

"Kau… MATI SAJA!"

BRAK!

"Jangan bergerak! Polisi!"

Ingat.

Dia ingat insiden malam itu. Saat dia sudah setengah sadar dalam menghadapi Gumo dan Ted yang menyerangnya dengan pisau belati berbahaya. Dia ingat Miku yang menangis dalam pelukannya…

Miku!

Sontak mata Kaito melebar lalu mengerjap. Gadis itu! Bagaimana keadaannya?!

Diliputi kepanikan yang luar biasa, Kaito menggerak-gerakan tubuhnya dengan gelisah. Namun tetap tidak bisa leluasa. Salah bergerak sedikit, bisa-bisa rasa sakit luar biasa akan menderanya.

Kriieet…

Suara pintu dibuka membuat Kaito mendongak mendapati seorang laki-laki berambut kuning dikuncir dan yang satunya laki-laki berambut serupa namun tidak dikuncir. Mengenali sosok mereka adalah Len Kagamine dan Leon Koejima, Kaito mendesah pelan.

"Oh, kau sudah sadar?" Len tersenyum simpul. Kaito terkekeh pelan lalu segera mengaduh saat merasa rahangnya sakit.

"Jangan tertawa dulu, dong. Kau ini bodoh, ya?" gerutu Leon sambil mencibir. Dia lalu meletakkan beberapa buah-buahan di plastik di sisi meja sebelah ranjang Kaito.

"Dari teman-teman kantor," kata Leon saat Kaito menunjukkan ekspresi bertanya.

"Oh," Kaito mengangguk.

"Dan… oh, ya. Kau dapat salam dari Meiko. Katanya di kantor jadi nggak ada sosok tampan, begitu," kata Leon setengah tidak ikhlas lalu bergumam. "Aku juga nggak kalah tampan kok…"

Kaito tidak mengindahkan perkataan Leon lalu menatap Len sambil menaikkan kedua alisnya.

"Aku penasaran. Darimana kau tahu aku ada di sana tengah malam?" tanya Kaito. Len meneguk jus jeruk kalengannya lalu nyengir.

"Kau terlalu meremehkanku, Kawan. Dan, sepertinya si Kriminal agak terburu-buru meninggalkan jejak dengan serampangan begitu. Kukira dia se-profesional itu," kata Len menyeringai. Kaito mendengus. "Iya, deh…"

"Lalu… Kapan aku boleh pulang?" tanya Kaito. Len menarik kursi di belakangnya dan duduk di samping ranjang Kaito.

"Jika besok kau sudah membaik, mungkin lusa kau bisa pulang, Kawan. Untungnya tidak ada luka serius," cengir Len. Kaito mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Aku curiga, darimana kekuatan inhuman-mu itu datang?" cecar Leon. Kaito meringis.

"Kau bodoh. Siapa juga yang punya kekuatan inhuman?" kekeh Kaito pelan.

"Kau digebuki, ditendangi, disayat-sayat. Tapi nggak mati," kata Leon dengan nada menggantung.

"Entah dosamu yang terlalu banyak sampai-sampai tidak bisa mati, atau memang kau ini sejenis dengan vampir?" Leon terlihat serius. Kaito meringis geli.

"Kau polisi, lho. Berkatalah sesuatu yang lebih masuk akal," protesnya. Lalu mendadak ia teringat sesuatu.

"Miku! Bagaimana keadaannya?" belalak Kaito panik. Len dan Leon saling melirik penuh arti lalu menatap Kaito berbarengan.

"Dia baik-baik saja," ujar Leon dengan nada ringan membuat Kaito bernafas lega. Setidaknya, gadis itu tidak apa-apa…

"Tapi, Kaito," suara Leon membuat pemuda itu menoleh dan mendapati ekspresi serius dari kedua rekannya itu.

"Ada yang ingin… kami tanyakan... tentang Miku dan hubungannya dengan kasus orang hilang dua tahun lalu."


Iris mata samudra pasifik itu menatap lurus tembok putih itu. Tatapannya kosong—tidak fokus terhadap apapun. Tidak mendengarkan apa yang dikatakan orang di hadapannya yang menatapnya gemas. Hatsune Miku, sama sekali tidak menjawab semua pertanyaannya. Bahkan terkesan tidak mendengar. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya lalu kembali menatap kosong semua yang ada di depannya. Seolah dia berada di dunia lain.

"Hatsune Miku," panggil sosok berambut perak dengan mata biru itu. Gadis itu mendongak sesaat. Badge nama yang terpampang di dada kiri laki-laki itu adalah 'Piko Utatane' ditulis dengan huruf kanji. Laki-laki itu menatapnya tak sabar.

"Kau tidak mendengarkan pertanyaanku, ya?"

Lagi-lagi tidak ada jawaban. Miku masih saja melakukan hal yang sama—menatap kosong semuanya. Akhirnya, Piko menghela nafas putus asa.

"Kalau kau tidak menjawabku, informasi yang kami miliki akan kurang akurat untuk memenjarakan Kiyoteru Hiyama," kata Piko berusaha menjelaskan situasinya. Miku kini menatapnya datar.

"Kemana Onii-san?"

Piko mengernyit. Kenapa tiba-tiba gadis itu bertanya tentang Kaito?

"Di Rumah Sakit. Tentu saja," jawab Piko. Miku menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Wajahnya pucat bak pualam membuat Piko sedikit khawatir. Apa gadis ini terguncang jiwanya?

Tapi, bagaimanapun, tugas Piko Utatane adalah menginvestigasi dan menginterogasi. Itu sudah tanggung jawabnya selama bekerja di kepolisian Tokyo. Selama enam tahun terakhir, Piko memang sudah menjabat posisi tersebut. Tentu saja karena dia dipercaya dan mampu membuat orang berkata jujur. Mengupas semuanya. Sedetil-detilnya.

Namun gadis di hadapannya ini terlihat begitu terpukul.

Dan rapuh.

"Begini saja," Piko menghela nafas. "Aku akan pertemukan kau dengan Kaito, tetapi setelahnya, berjanjilah untuk menceritakan semuanya padaku," kata Piko membuat perjanjian. Binar mata samudra pasifik itu langsung menatapnya tertarik. Piko tersenyum dalam hati. Berhasil, ternyata.

"Benarkah?" tanya Miku tak percaya.

"Kau boleh pegang kata-kataku," senyum Piko. "Asal kau berjanji akan memberitahu informasi yang kuinginkan. Deal?" tanya Piko. Miku mengangguk-angguk menyanggupi.

"Baiklah."


Ketiga orang dalam ruangan itu membisu. Tak ada satu suarapun terdengar. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya deru AC yang menjadi sumber keberisikan yan tercipta di ruangan itu.

"Kenapa…" suara Leon terdengar membuat dua pasang iris lainnya menatap dia. Leon kini menatap Kaito tajam.

"Kenapa kau melakukannya?! Kau ini polisi, Kaito!" Leon nyaris berseru kalau tak ingat ia berada di Rumah Sakit sekarang.

Kaito Shion menunduk dalam diam. Rambut birunya menutupi wajahnya—sehingga tak seorangpun tahu ekspresinya dan apa yang dia pikirkan.

"Kau ini sadar tidak, sih. Kau melakukan penculikan!" Leon menggeleng-gelengkan kepalanya dengan menekankan nada pada kata 'penculikan'. Lalu kedua tangannya menggapai putus asa. "Dan kau seharusnya malu. Malu, Bodoh!"

Rahang Kaito mengeras. Dia tahu. Dia tahu betul itu.

"Kau tidak mengerti situasinya, Leon…"

"Apanya?!" tuntut Leon berani. Dia menatap laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya selama hampir lima tahun ini.

"Apanya, Kaito? Apa yang tidak kumengerti?! Sikap egoismu ini… seperti bukan kau, Kaito!"

"Seperti bukan aku…?" Kaito mendesis. "Seperti bukan aku?" ulangnya. Kali ini suaranya sedikit menuntut. "Memangnya sejauh apa kau mengenalku, Leon?!" kini Kaito yang menunding Leon dengan berani. Biru kristal itu menatap biru marine di hadapannya.

"Dari lima tahun pertemanan kita, begitu?" kata Kaito sinis. Dia mendengus. Tidak mengindahkan ekspresi Leon yang kecut dan Len yang tegang.

"Kau," desis Kaito. "Tidak mengerti apa-apa… kau tidak mengerti sakitnya rasa kesepian, Leon!"

"Kau tidak mengerti penderitaan macam apa itu sendirian! Kau tidak merasakannya! Kau tidak tahu rasanya kehilangan orangtua, bahkan sekaligus ketika kau masih berumur tiga belas tahun! Kau tidak tahu rasanya hidup bagaikan orang linglung yang tak punya tujuan dan arah yang jelas! Melakukan apapun demi bisa menyuap sesendok nasi. Kau tidak tahu rasanya! Mau tahu kenapa?!" sentak Kaito dengan nada menuntut diredam amarah.

"Karena kau punya segalanya! Keluarga, pacar, teman… kurang apa, Leon? Apa pantas kau yang punya segalanya bertingkah seolah-olah aku ini hanyalah onggokan sampah? Kau naïf!" seru Kaito lagi.

Hening.

Len Kagamine menatap kedua temannya itu dengan tatapan khawatir. Jelas-jelas tatapan dingin yang dilemparkan masing-masing manik mata mereka nyaris membuat perseteruan. Dia memang berniat membicarakan ini dengan Kaito. Tapi nanti, begitu Kaito sudah pulih dan bisa diajak bicara. Namun rupanya Leon tidak memiliki pemikiran yang sama dengannya.

"Aku memang tidak mengerti," suara Leon kembali terdengar. "Tapi setidaknya, aku tahu posisi dan tanggung jawabku sebagai polisi! Yang seharusnya menjaga dan mengabdi demi keamanan warga negerinya!"

"Diam!" suara Kaito meredam suara Leon bahkan sebelum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya.

"Aku egois! Ya! Benar… Aku egois karena aku menyayanginya…," suara Kaito terdengar lebih lembut.

"… Karena aku mencintainya…"

Apa?

Leon dan Len terbelalak. Kaito… mencintai…

"Jadi… gadismu itu—"

Tok tok tok.

Sontak ketiga kepala itu menatap ke arah pintu dan menatap sosok yang masuk ke dalamnya.

Sosok laki-laki berambut perak dan sosok gadis berambut hijau tosca berdiri di sana. Keduanya menunjukkan ekspresi yang berbeda. Piko Utatane yang datar dan Hatsune Miku yang terlihat agak sedih. Leon dan Len lalu berpandangan.

"Piko? Miku?"

"Ayo keluar," suara datar Piko terdengar. "Mereka butuh privasi. Kurasa,"

Kaito terdiam saat tiga temannya itu berjalan keluar kamarnya dan menyisakan dia dan Miku—si Malaikat cantik yang selama ini menemaninya.

Sesaat, keheningan menyelimuti mereka. Iris samudra pasifik Miku menatap lurus biru kristal di hadapannya. Tanpa suara, gadis itu tersenyum lembut. Senyuman yang selalu membuat Kaito merasa nyaman dan senang.

Membuatnya jatuh cinta pada gadis itu.

"Onii-san…," panggilan lirih itu membuat Kaito nyaris menjatuhkan air matanya kalau saja Miku tidak memeluknya secara tiba-tiba. Merasakan gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Kaito. Menciptakan suasana hangat yang selalu dirindukan Kaito darinya. Tanpa ragu, Kaito balas memeluk punggung gadis itu.

"Onii-san... Onii-san… hiks…," lalu air mata gadis itu meleleh membasahi pipi putihnya. Membiarkannya membasahi bahu lelaki itu. Isakannya membuat Kaito memejamkan matanya. Menahan segala rasa yang ada di dadanya saat itu. Menahan air mata yang nyaris tumpah saat merasakan kembali hangat tubuh Miku di lengannya.

"Miku…," panggilnya. Tangisan Miku semakin terdengar saat Kaito menyebutkan namanya. Betapa dia membutuhkan laki-laki ini di sisinya… betapa dia sadar laki-laki ini sudah berjuang keras untuknya…

Kaito sadar benar bahwa dia sudah terlalu egois selama ini—seperti yang dikatakan Leon. Namun dia tidak bisa menghapus keegoisannya.

Sampai kapanpun… tidak bisa.

"Maaf," lirih Kaito berbisik.

Karena aku egois…

"Maaf," Lalu isakan Miku semakin terdengar. Kaito memejamkan matanya.

Karena aku membuat Miku menangis lagi…

"Maaf…," bisik Kaito lagi. Lalu setitik air matanya terjatuh.

Karena aku terlalu mencintaimu…


Dua Hari Kemudian…

Gedung Pengadilan Tokyo, 11:15 am

"Kaito Shion, dengan ini, Anda dinyatakan dikeluarkan dari Kepolisian Tokyo dan dinyatakan bersalah atas tuduhan penculikan yang selanjutnya mendapat hukuman selama lima tahun penjara, atau denda minimal sebesar delapan juta yen. Kasus di tutup!"

Tok. Tok. Tok.

Para saksi dan anggota dewan segera membubarkan diri setelah pengumuman keputusan di meja hijau selesai dilaksanakan. Sosok biru yang duduk di kursi tersangka kini digiring oleh teman-temannya dari persidangan menuju ke gedung sel tempat di mana orang-orang sampah ada di sana.

Kaito Shion hanya pasrah saat mendapat tuntutan dari keluarga asli Miku atas tuduhan penculikan yang dilakukannya. Tidak membantah. Tidak mengelak. Tidak membela diri. Hanya diam. Karena hanya itu yang bisa dilakukannya.

Iris biru kristal itu menatap datar koridor panjang gelap dan suram tempat para sampah masyarakat ditahan atas kejahatan kriminal yang pernah mereka lakukan. Kaito menundukkan wajahnya semakin dalam saat Leon—yang ekspresinya mengeras—lalu Meiko—yang ekspresinya iba, bahkan ada air mata menggantung di sudut matanya—serta Akaito yang menatap Kaito dengan sedih, kemudian memejamkan matanya saat Kaito berhenti digiring di depan sebuah sel.

Tatapannya nanar memandang jeruji besi yang ada di hadapannya. Tak dipercaya rasanya, kini dia yang menempati tempat para manusia sampah itu.

Artinya, dia memang sampah.

"Maaf, Kaito…," bisik Len Kagamine membuka kunci jeruji besi itu. Kaito menghela nafas lalu masuk ke dalamnya tanpa perlawanan. Dilihatnya, ada dua orang lain bersamanya di dalam sel itu. Yang satu seorang kakek yang pernah melakukan penjualan narkoba kepada murid-murid SMA, dan yang satunya adalah seorang laki-laki berumur sama dengan dia. Yang seingat Kaito pernah melakukan pembunuhan.

"Aku… sungguh tidak mau melakukan ini," bisik Len semakin lirih. Tangannya agak bergetar saat mengunci dari luar jeruji besi yang ditempati Kaito lalu berbalik tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Dia terlalu takut. Terlalu tidak berani menatap iris mata Kaito yang memandangnya nanar dari kejauhan.

Terlalu takut untuk menangis di hadapan sahabatnya itu.

"Kami pergi dulu, ne Kaito?" Meiko tersenyum sedih sambil melambai mengikuti Len—yang kemudian diikuti Leon dan Akaito yang juga tidak mengucapkan sepatah katapun untuk Kaito.

Seketika, tubuh Kaito merosot dan duduk di lantai penjara yang dingin. Dia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya lalu mengusap wajahnya dengan putus asa. Frustrasi.

Dia pantas mendapatkan ini.

Dan dia tahu itu.


Iris samudra pasifik itu menatap lantai marmer putih di bawahnya. Sembari memeluk kedua lututnya sendiri, dia mulai menghela nafas panjang. Dadanya masih terasa berat setelah mengetahui fakta bahwa Kaito Shion—Onii-sannya itu dipenjara karena dia.

Karena dirinya.

Miku mendongak dan mendapati kamar dengan ukuran yang terlalu besar untuk dirinya sendiri itu. Tempat tidur queen size dengan seprai putih-hijau, meja belajar dengan komputer, televisi, AC dan cat tembok putih bersih yang menjadi pelapis kamar itu. Jelas, ruangan itu sangat familier untuknya.

Ini kamarnya.

Tapi kenapa semuanya terasa asing? Bukankah kamarnya adalah kamar sederhana dengan dua tempat tidur dengan satu meja kecil di tengahnya?

Bukankah kamarnya adalah kamar yang dia tempati dengan Onii-sannya?

Bukankah… kamarnya adalah kamar penuh kehangatan yang terpancar dari seorang Kaito Shion?

Tes.

Tes.

Cairan asin yang hangat itu terjatuh dari kedua pelupuk matanya. Sembari terisak, dia mulai membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.

Dia tahu, dia cengeng. Dan dia tidak berusaha untuk merubahnya.

"Onii-san…" panggil Miku dengan lirih. Lalu semakin terisak saat ingat bahwa Kaito tak lagi di sisinya saat ini.

Dia tahu, dia pantas menangis…

Walau Kiyoteru telah di penjara dengan hukuman yang berat, dia tetap tidak merasa senang atau semacamnya. Perasaannya pada laki-laki itu sudah habis. Bahkan sebelum dia menyadarinya. Kini, dia malah rindu setengah mati pada Kaito Shion yang biasanya selalu ada di sisinya.

Ketika Miku bersedih, di sana ada kaito yang menyemangatinya.

Ketika Miku bahagia, di sana ada Kaito yang ikut bahagia bersamanya.

Ketika Miku membutuhkannya… di sana ada Kaito yang mendampinginya.

Kaitonya.

"Kaito… Onii-san…," panggil Miku hampa. Seperti hatinya.

Air matanya terus meleleh. Sudah seminggu lebih dia tidak ingin makan atau semacamnya. Orangtuanya sudah membujuknya mati-matian, namun selera makan gadis itu hilang entah kemana. Dia tidak butuh makan.

Dia butuh Kaito!

"Nona?" suara seorang pelayan membuyarkan lamunan Miku. Lalu sosok wanita berbaju maid memasuki kamarnya.

"Tuan dan Nyonya menyuruh Anda makan…,"

"Aku tidak lapar."

"Tapi—"

Miku membuka mulut untuk membalas perkataan pelayannya. Tapi mendadak kepalanya kembali terasa pusing. Pusing yang teramat sangat. Menyakitkan, seperti dibenturkan dengan tidak manusiawi pada suatu tembok besar tak kasat mata.

Lalu jantungnya berpacu cepat dengan. Ada apa…?

"Nona?" panggil pelayan itu khawatir saat melihat wajah Nona-nya pucat pasi.

Awalnya, Miku hanya merasa pusing. Lalu dia memegangi dadanya sendiri yang masih berdegup kencang. Bahkan dia bisa mendengar pacuan detak jantungnya sendiri. Nafasnya tersengal-sengal. Lalu dia terbatuk dengan hebatnya.

"Uhuk!" Miku menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang pucat. Lalu ditariknya tangannya sendiri dari mulutnya.

Dan mendapati sebercak darah merah segar memenuhi telapak tangannya. Iris pasifik itu membulat sempurna.

Kenapa… ini…?

Tubuh Miku mulai limbung lalu bumi terasa berputar di kepalanya. Tanah yang dipijaknya bahkan terasa miring. Pandangannya kemudian memburam seketika.

Perlahan, tubuh mungilnya jatuh tersungkur. Matanya mulai tertutup rapat saat didengarnya suara samar-samar.

"Nona! Nona!" seru si Pelayan tadi dengan panik. Namun Miku merasa suara itu jauh sekali…

Lalu semuanya gelap…

To Be Continue

Yak, lembar ketujuh selesai juga :) sebenernya ada sesuatu dari Miku di sini, lhoo. Ayo coba tebak Miku kenapa~ yang tau aku kasih hadiah berupa "special thanks" di lembar depan, deh XD #hadiah macem apa.

Siplah. Arigatou untuk kamu yang sudah baca sampai sejauh ini!

Akhir kata.

Reviewmu, kebahagiaanku! X'3

So, review, please? :'3

V

V