Akhirnyaaaa! Saya senang sekali bisa update tepat waktu sesuai jadwal yang direncanakan! Bener-bener seneng rasanya. Padahal saya udah khawatir banget gabakal bisa update lembar terakhir ini gegara CPU saya yang lama di ganti sama papa =_= untung adek saya berbaik hati mau masangin CPU lama saya. Yah, takdirnya saya harus update hari Minggu ya gak ya gak #jder.
Okeh, saya ucapkan banyak terima kasih untuk readers sekalian (baik yan mereview atau hanya jadi silent reader) yang telah membaca "The Book of Love Story" sampai lembar terakhir ini! Hontou ni arigatou gozaimashu!
Enjoy the LAST chapter of "The Book of Love Story", minna-san!
The Book of Love Story
a VOCALOID FANFIC
By : YandereHachan24
Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media
Kaito x Miku
WARNING!
Dramatically Romance, full of abalness, etc
DON'T LIKE DON'T READ!
8 of 8
.
.
.
.
.
Kaito Shion menatap tembok di hadapannya dengan tatapan menerawang. Cat tembok itu sudah kusam dan dindingnya sudah koyak di sana-sini karena perlakuan kasar para tahanan. Dia sama sekali tidak bicara banyak sejak seminggu kemarin. Pikirannya masih disibukkan dengan sosok Miku, Miku dan Miku lagi. Ah… sedang apa gadis itu?
Apakah gadis itu memikirkannya juga?
Sembari menghela nafas panjang, laki-laki berambut biru itu memejamkan matanya. Rasa rindu, khawatir dan tersiksa menjadi satu. Sehingga dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Sungguh.
"Kau ini kenapa, Nak?" suara berat teman satu selnya membuat Kaito menoleh. Seorang kakek tua menatapnya. Rambutnya sudah memutih hampir seluruhnya, tubuhnya kurus dan wajahnya tirus. Matanya menampakkan banyak pengalaman dan penyesalan nyaris seumur hidupnya.
"Dari kemarin, tak ada sepatah katapun kau ucapkan… padahal dulu kelihatannya kau banyak bercanda," kata kakek itu. Kaito menghela nafas lagi dan memalingkan wajahnya. Banyak yang terjadi. Bagaimana bisa dia banyak bercanda dan tertawa seperti dulu?
"Banyak yang terjadi. Tapi kau harus tegar," seperti bisa membaca isi hati Kaito, kepala biru itu menoleh dan mendapati kakek itu tersenyum pengertian.
"Aku mengerti perasaanmu. Aku juga dulu mengalaminya," kakek itu lalu menatap Kaito yang masih membisu.
"Dulu, aku ditinggal istriku karena aku pemabuk. Sejak itu, aku mulai melakukan transaksi narkoba kemana-mana…" kakek itu mulai bercerita tentang hidupnya. Kaito hanya menatapnya datar. Jelas dia tahu kakek itu sudah nyaris mencemari anak-anak muda di Jepang.
"Kau kesepian, Nak…," kata kakek itu lagi. "dan hanya kau yang tahu apa yang seharusnya kau cari untuk mengobati rasa kesepianmu itu,"
Kaito tertegun mendengarnya. Tentu saja dia membutuhkan Miku di sisinya sekarang.
"Kesepian itu berbahaya. Iya 'kan?" tanpa meminta jawaban dari Kaito, ia kembali melanjutkan.
"Kau bisa membahayakan dirimu sendiri, atau orang lain dengan merasa kesepian. Karena sebenarnya kau tidak mau sendiri," tutur kakek itu. Senyumannya berubah bijak.
"Mungkin agak aneh jika kau mendengarkan ini semua dari mantan kriminal macam aku. Tapi, kalau kau mempunyai impian, kejarlah impian itu. Mencintai seseorang dengan caramu sendiri takkan menyelesaikan masalah. Takkan mengubah apa-apa. Hanya sakit yang didera," kata kakek itu.
"Cintailah dia… dengan melindunginya, dengan ragamu," katanya. Lalu tatapannya lurus pada Kaito.
"Sekalipun mengorbankan nyawa, seharusnya tiada yang perlu ditakutkan selama kau melakukannya demi orang yang kau sayangi." lanjutnya lagi.
DEG.
Kaito menundukkan wajahnya. Selama ini dia sudah berusaha… selalu berusaha.
"Ah, lelahnya… sepertinya aku butuh istirahat," kata kakek itu sambil merenggangkan otot pinggangnya. Dia lalu beranjak menuju ranjangnya.
"Ah, tunggu…" kata Kaito saat kakek itu berbalik. Sedikit ragu, Kaito tersenyum singkat.
"Terima kasih."
Kakek itu hanya tersenyum lalu memejamkan matanya begitu kepalanya menyentuh kasur yang keras itu.
"Apa…?" hanya itu yang terucap dari Tuan dan Nyonya Hatsune begitu mengetahui apa yang terjadi pada putri mereka. Dengan tidak percaya, ditatapnya hasil rontgen Miku di atas meja kayu itu dengan kaget dan tidak percaya.
"Dokter. Jangan bohong! Putri kami tidak mungkin mengalaminya!" Nyonya Hatsune menunding si Dokter yang tampak menyesal.
"Saya tidak berbohong, Nyonya. Saya sudah menjadi dokter jantung selama tujuh tahun lamanya… dan saya yakin betul analisis saya tidak salah," kata dokter tersebut. Perlahan, air mata Nyonya Hatsune mulai terjatuh membasahi kedua pipinya. Bersandar pada bahu suaminya.
"Tidak mungkin…," lirihnya. Tuan Hatsune menepuk bahu istrinya untuk menenangkannya. Dengan hati yang lebih tegar dibanding istrinya tersebut, sang Tuan Hatsune menatap si Dokter.
"Apa yang harus kami lakukan?" tanyanya dengan suara berat.
Lalu si Dokter meraih beberapa hasil ronsen Miku dari beberapa sisi. Begitu menemukan foto ronsen jantung Miku dari dekat, dia segera menunjukkannya pada Tuan Hatsune.
"Seperti yang anda lihat," Dokter menunjuk sesuatu yang terlihat ganjil di foto ronsen jantung Miku. "Serambi kanannya bocor. Sementara kadar karbon dioksida dalam kandungan darah katup jantung sebelah kanan lebih banyak dibanding sebelah kiri. Jika dibiarkan, lama kelamaan darah kotor tersebut dapat menggumpal dan menutup katup-katup jantung yang lain…" agak ragu-ragu si Dokter lalu melanjutkan.
"… Dan… menyebabkan kematiannya."
Pasangan Hatsune itu membisu. Kematian…?
"Apa…?!" Nyonya Hatsune semakin histeris mendengarnya. Tak dibayangkan putri semata wayangnya harus…
Suara isakan pilu Nyonya Hatsune kembali terdengar.
"Jadi…?" Tuan Hatsune juga mati-matian menahan air matanya. Si Dokter menghela nafas lalu meletakkan hasil rontgen itu kembali pada tempatnya.
"Ada dua pilihan," jelas si Dokter.
"Pertama, kita dapat melakukan operasi. Namun resiko kematiannya sangat tinggi. Dengan tingkat keparahan seperti ini, saya khawatir bukannya tertambal, malah akan semakin melebar…," kata si Dokter. Kengerian luar biasa segera menghantui pasangan tua Hatsune tersebut.
"Pilihan kedua, kita dapat melakukan transplantasi jantung," jelasnya lagi. "Saat ini, hanya ini yang dapat kami lakukan. Karena jantung asli putri anda telah rusak. Kalau tidak, saya tidak yakin putri Anda sanggup bertahan sampai setengah tahun ke depan," kata si Dokter dengan nada menyesal.
"Saya turut prihatin." katanya lagi.
"Berapa persentase keberhasilannya?" tanya Tuan Hatsune parau.
"Sekitar 95% akan berhasil," jawab si Dokter. "Tapi masalahnya, siapa yang mau mendonorkan jantungnya? Bisa saja terjadi penolakan dari tubuh putri Anda saat benda asing dimasukkan kedalam tubuhnya… namun kemungkinannya masih 29% dari pengalaman saya selama ini," kata si Dokter lagi.
"Apa… yang harus kita lakukan…?" Nyonya Hatsune menatap kelereng mata suaminya yang terdiam.
Tuan Hatsune menghela nafas lalu memejamkan matanya. Setitik air matanya terjatuh.
Aku juga tidak tahu…
Kaito Shion menyeruput teh pesanannya dari Len dengan khidmat. Sudah lama dia tidak mau meneguk apapun barang setitik saja. Apalagi menyantap apapun. Walau kini, akhirnya dia sanggup juga menerima segala macam makanan yang masuk ke mulutnya.
Di seberang sel, dilihatnya Hiyama Kiyoteru dan dua anak buahnya. Mereka sama-sama diam. Sejak masuk penjara, ketiganya tak banyak bicara dan tidak sombong seperti yang Kaito tahu sebelumnya. Kaito tersenyum simpul. Baguslah.
Suara langkah kaki seseorang membuat Kaito menoleh dan mendapati Len Kagamine tengah berjalan ke arahnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang aneh. Sungguh tidak bisa ditebak. Namun Kaito dapat merasakan laki-laki itu tengah frustrasi. Bibirnya terkatup rapat dan bola matanya bergerak-gerak gelisah. Kaito mengernyit.
"Kau kenapa, Len?" tanya Kaito begitu Len berdiri tepat di hadapannya—walau tetap dihalangi oleh jeruji besi yang dingin. Kaito lalu menundukkan wajahnya menatap tangan Len yang terkepal.
Ada apa?
"Len?" panggil Kaito lagi. Si Kagamine belum mendongak. Tubuhnya sedikit bergetar dan Kaito yakin bukan karena udara dingin di luar sana.
"Hei, kalau kau tak beritahu aku apa masalahmu, aku takkan bisa tahu, lho," kata Kaito dengan nada khawatir. Ada yang salah. Jelas ada yang salah.
"Kaito…" panggil Len lirih. Iris biru lautitu kini menatap kelereng biru kristal di hadapannya dalam-dalam.
"… Miku…" Len mengigit bibir bawahnya. Kaito terbeliak mendengar nama yang sudah hampir satu bulan ini tidak di dengarnya. Nama gadis yang dicintainya. Nama gadis yang dirindukannya…
"Apa? Kenapa?! Miku kenapa, Len?!" suara Kaito terdengar mendesak saat Len kembali mematung. Laki-laki berambut biru itu menatapnya dengan tidak sabar.
"Dia kenapa, Len?!"
Tetap tidak ada jawaban.
"Len!" panggil Kaito dengan keras. Len yang diam malah membuatnya khawatir setengah mati. Len lalu memejamkan matanya. Dia menggigit bibirnya sendiri untuk meredam perasaam emosionalnya.
"Dia…," Len sendiri dapat mendengar suaranya bergetar. "Koma."
Bagai disambar petir, Kaito sampai tak sanggup berkata-kata. Koma…?
"Apa?! Kau—jangan bercanda!" sentak Kaito kaget. Len menggeleng lalu menatap Kaito serius.
"Aku tidak bercanda, Kaito." Len menghela nafas. Sesaat Kaito tidak dapat berkata-kata.
Kenapa…?
"Jantungnya bocor…" suara Len terdengar semakin lirih seperti bisa membaca pikiran Kaito.
Kaito lalu merasa asam lambungnya naik hingga ke kerongkongannya. Tiba-tiba matanya memanas dan keringat dingin membanjiri tubuhnya yang tegap. Nafasnya memburu dan tidak tenang.
Apa…?
"Apa…?" Kaito merasa lututnya lemas lalu berpegangan pada jeruji besi dingin di hadapannya. Tatapannya kosong menunduk ke bawah. Tidak menatap Len yang juga membuang wajahnya.
"Dia harus operasi," jelas Len lagi. Suara Len sedikit gemetar. "Dengan resiko kematian yang tinggi." Lanjutnya lagi. Namun sanggup membuat Kaito kesulitan bernafas. Kematian?
"Kematian?" bisik Kaito menyuarakan isi hatinya.
"Atau transplantasi jantung," jelas Len lagi. Dia menatap Kaito dalam-dalam. "Resiko kematiannya hanya lima persen. Itu yang aku dengar," lanjut Len. Kaito terdiam.
"Sejak kapan?" tanya Kaito.
"Tiga hari yang lalu. Kupikir, kau harus tahu keadaannya," kata Len lagi sambil menggigit bibirnya. "Walaupun Leon tidak suka dengan ide itu,"
Kaito tidak mendengarkan. Pikirannya disibukkan sesuatu.
"Kesepian itu berbahaya. Iya 'kan?"
Tiba-tiba Kaito mendengar suara si Kakek di kepalanya.
"Kalau kau mempunyai impian, kejarlah impian itu. Mencintai seseorang dengan caramu sendiri takkan menyelesaikan masalah. Takkan mengubah apa-apa. Hanya sakit yang didera,"
Begitukah…?
"Cintailah dia… dengan melindunginya, dengan ragamu…"
"Sekalipun mengorbankan nyawa, seharusnya tiada yang perlu ditakutkan selama kau melakukannya demi orang yang kau sayangi."
Jemari Kaito menggenggam erat jeruji besi dingin itu. Bahkan buku-buku jarinya sampai ikut memutih saking kerasnya Kaito berpegangan. Dia mendongak lalu menatap Len. Kini dia tahu apa yang harus dilakukannya.
"Len. Bisakah aku meminta surat izin pergi sesaat?" tanya Kaito tiba-tiba. Len mengangkat kedua alisnya dengan kaget.
"Apa?"
"Kau pergi denganku. Sekarang." tukas Kaito tanpa mempedulikan wajah Len yang kebingungan. Len mengernyit.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Len tak mengerti. Kaito merapatkan rahangnya.
"Antar aku kesana, Len. Ada yang harus kulakukan," Kaito menatap Len yang terdiam. Lalu dia menatap Kaito dengan tatapan kaget sepenuhnya. Sepertinya tahu maksud Kaito.
"Kaito, kau—"
"Dan jangan cegah aku," potong Kaito. "Karena aku mencintainya… aku akan melindunginya."
Tuan dan Nyonya Hatsune masih duduk di kursi pengunjung. Miku belum boleh dijenguk. Keadaannya masih sangat memprihatinkan dengan alat bantu pernafasan dan selang-selang yang menusuk kulit putihnya yang halus.
"Apa yang harus… kita lakukan…?" tanya Nyonya Hatsune. Sedari tadi, hanya itu yang ditanyakannya. Tuan Hatsune menghela nafas.
Dia juga tidak tahu. Sungguh.
Suara langkah kaki membuat keduanya mendongak. Lalu tatapan Nyonya Hatsune segera berubah seratus delapan puluh derajat melihat siapa yang datang.
"Kau…!" dia berdiri. Menghampiri sosok Biru yang menundukkan wajahnya. Di sebelahnya, Len Kagamine masih memakai seragam kepolisiannya hanya menatap mereka berdua dengan tatapan khawatir.
Drama apa lagi yang akan diberikan Tuhan…?
"Kau! Gara-gara kau, anakku jadi seperti ini…! Kau… kau brengsek! Bajingan! Keparat!" sentak Nyonya Hatsune berapi-api sambil menyerang Kaito dengan berbagai pukulan. Yang tidak dilawan oleh Kaito. Di sebelahnya, Tuan Hatsune menenangkan istrinya yang teredam amarah itu.
Terjadi keheningan sesaat karena tak ada yang bicara. Kaito lalu mendongakan wajahnya. Menatap pasangan Hatsune tersebut.
"Saya… meminta maaf atas apa yang saya lakukan terhadap…," Kaito mengepalkan tangannya. "… Miku." dia menyayangi gadis itu. Sungguh.
"Maaf?!" suara Nyonya Hatsune meninggi. "Maafmu itu takkan membuat anakku sembuh, dasar tolol!"
"Sudah, sudah," Tuan Hatsune menenangkan istrinya. Dia lalu menatap pemuda berambut biru itu dengan tenang. "Ada apa?"
Melihat orang yang diajak bicara kini sepertinya dapat mendengarkan, Kaito memantapkan hatinya sesaat lalu menatap lurus ke mata ayah gadis yang dicintainya.
"Mungkin semua ini agak terburu-buru… dan mungkin juga saya tidak pantas meminta apa-apa lagi pada Anda berdua…," kata Kaito pelan.
"Tapi saya ingin melakukan sesuatu untuk Miku…" kata Kaito dengan nada menggantung.
"Jangan berbelit-belit," Tuan Hatsune berkata dengan nada berat. "Apa keinginanmu?"
Terjadi keheningan sesaat saat pertanyaan itu dilontarkan dari bibir Tuan Hatsune. Kaito lalu memejamkan matanya dengan singkat lalu menarik nafas untuk memberanikan diri. Dengan yakin, ditatapnya kedua orangtua Miku.
"Saya ingin mendonorkan jantung saya… untuk putri Anda berdua," kata Kaito. Nyonya Hatsune lalu menatapnya tak percaya—begitupun Tuan Hatsune yang kaget mendengarnya.
"Apa?" Len tak bisa menahan dirinya untuk tidak membeliak tak percaya. Dia tahu Kaito nekat. Tapi…
Mengorbankan nyawa…?
"Kaito!" seru Len kaget dengan nada protes keras yang nyata. Namun tidak mendapat reaksi dari yang memiliki nama.
"Kau tidak salah dengan keputusanmu?" tanya Tuan Hatsune. Nadanya lebih skeptis dibanding sebelumnya. Kaito mengangguk mantap.
"Saya yakin. Seyakin-yakinnya," jawab Kaito.
"Kaito. Pikirkanlah dulu… kau gegabah! Jangan konyol!" seru Len cepat—bahkan terlalu cepat.
"Aku sudah memikirkannya, Len," Kaito tersenyum singkat.
"Aku rela mengorbankan hidupku untuknya," Kaito menatap Miku dari balik jendela kamarnya. Seulas senyuman lembut terlukis di wajahnya yang tampan.
"Tapi ini masalah hidup dan mati, Kawan! Kau bahkan belum melaksanakan semua impianmu 'kan? Ayolah...," Len bisa merasakan matanya sendiri berkaca-kaca melihat Kaito yang tekadnya bulat tersebut. "Kau tidak serius melakukannya 'kan?" Len menelan air matanya saat Kaito menatapnya lurus. Dengan kobaran tekad yang bulat dan pasti di dalam kubangan biru kristal itu.
Dia serius.
Kaito Shion serius.
"Aku akan melaksanakan impianku beberapa saat lagi, Len," katanya dengan nada tenang. "Saat aku mengorbankan hidupku untuknya. Karena dialah yang lebih pantas hidup."
Len mengerjap. Membeliak tak percaya lalu membuka mulutnya.
"Tapi—"
"Karena… dia segalanya untukku," potong Kaito.
Karena aku mencintainya…
Kemudian Len menundukkan kepalanya. Air matanya sudah menumpuk di sudut matanya. Ia ingin mencegah Kaito, namun dia tahu, kebahagiaan Kaito adalah keputusannya saat ini…
Terjadi keheningan yang panjang. Sebelum Nyonya Hatsune kembali tersedu lalu menatap Kaito dengan mata bersimbah air mata.
"Terima kasih…," lirihnya. "Terima kasih…," lalu terdengar isakan panjang dari wanita paruh baya itu.
Kaito membungkukkan badannya lalu kembali menatap gadis pujaannya dari balik jendela. Miku yang belum sadar dari komanya. Sebuah senyuman penuh cinta terbentuk di kurva bibirnya.
Terima kasih, Miku…
Kaito memejamkan matanya lalu setitik air matanya yang terakhir terjatuh.
… dan selamat tinggal…
*OWARI*
Eits, jangan marah dulu. Ada epilognya nih ;)
The Book of Love Story
a VOCALOID FANFIC
By : YandereHachan24
EPILOG
.
.
.
.
.
Gadis berambut hijau tosca itu menatapi buku di hadapannya. Sebenarnya buku itu sudah usang sejak lima tahun lalu tak pernah dibukanya lagi. Namun gadis itu ingin kembali pada masa lalu. Masa-masa menyenangkan… pahit-manisnya cinta yang dia rasakan…
Diusapnya permukaan buku berwarna putih dengan gembok hati di tengahnya. Buku tersebut memang sudah kusam dan usang karena dimakan usia, namun Miku Hatsune, nama gadis itu tersenyum kecil menatapnya. Buku ini indah. Selalu indah di matanya.
Dia lalu membuka halaman demi halaman.
[Foto Pertama, Miku sedang tidur dengan tenang]
Miku tidak tahu kapan Kaito memotretnya ketika dia sedang tidur. Dia lalu membaca kalimat di bawah foto itu.
Malaikat sedang tidur.
Miku tertawa kecil membacanya. Semburat wajahnya yang memerah terlukis di kedua pipinya.
[Foto Kedua, Miku di taman bunga]
Bunga sakura yang bermekaran di mana-mana seakan mengisap Miku kembali pada masa itu. Dia lalu menghela nafas dan membaca tulisan di bawah foto itu.
Dia bilang, dia suka sekali bunga sakura di pertengahan musim.
Memang. Bisik Miku dalam hati.
[Foto Ketiga, Miku sedang menyantap ramennya dengan lahap]
Miku tertawa kecil melihatnya. Dia memang ingat, Kaito sempat memotretnya ketika dia makan dengan lahap. Tapi dia tak menyangka sudut yang di ambil Kaito ternyata sanggup membuatnya terlihat seperti busung lapar.
Lapar? Hehe.
Miku tersenyum simpul membaca kalimat sederhana Kaito di bawah foto tersebut.
[Foto Keempat, Kaito dan Miku di depan kantor polisi]
Miku ingat, Len yang memotret mereka. Ketika itu, Miku tengah mengantarkan makanan pada Kaito. Saat itulah Len muncul dan memotret mereka berdua. Dengan candid tentu saja. Karena Kaito tidak suka difoto.
Sebenarnya aku tidak suka difoto. Tapi aku suka foto ini.
Miku tersenyum. Aku juga.
[Foto Kelima, Miku sedang cemberut]
Kapan Kaito memotretnya?
Miku tertawa menatap dirinya sendiri yang terlihat lucu dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut karena kesal. Gara-gara apa, ya? Ah, dia sendiri lupa.
Malaikat bisa cemberut juga. Tapi tetap cantik di mataku.
Miku menghela nafas pelan. Lalu tersenyum dalam hati.
[Foto Keenam, Kaito dan Miku makan es krim]
Miku baru tahu kalau Kaito itu maniak es krim. Terbukti saat Onii-sannya itu menyantap lebih dari tiga mangkuk es krim dengannya. Miku tertawa melihatnya kala itu. Kaito begitu diluar dugaannya…
Menikmati beberapa mangkuk es krim dengan gadis semanis ini. Hidup itu indah.
"Gombal!" decak Miku sambil tersenyum. Lalu gadis itu membuka halaman terakhir. Foto yang paling disukainya.
[Foto Ketujuh, Kaito dan Miku memandang sunset dari tepi pantai]
Miku tersenyum manis menatap foto itu. Mungkin Kaito memotretnya menggunakan self timer? Mungkin saja.
Matahari terbenam yang cantik. Secantik malaikat yang ada di sebelahku.
Miku tersenyum kecil lalu menarik secarik kertas yang terselip di halaman paling belakang. Ditatapnya tulisan tangan Onii-sannya itu.
Malam berhiaskan temaram gundah
Merangkulku dengan angkuhnya
Bergumam dengan nistanya
Suara ringis itu...
Pecahkan sunyi tak berujung
Itulah suaramu
Malaikat dengan sayap-sayap patahnya
Berurai tangis mengharap pelita
Kehilangan arah...
Siapa, di mana, kapan, hanya sebesit hiasan
Inikah buah penantianku?
Inikah jawaban munajatku?
Kan ku jaga dirimu bila benar
Hingga sayap-sayap itu kembali merebah
Ku tanamkan benih sayang di setiap jalanmu
Kau menanam cintamu
Di tanah yang sempat menguburmu dalam kelam
Menghancurkan senyum hingga membias
Memeras ragamu hingga rapuh
Kau pun tak sadar hal itu
Perasaan tak menentu kau guratkan
Saat kau tahu dirinya
Adalah insan yang memupuskan bahagiamu
Yang mematahkan indahnya sayapmu
Namun dialah cahaya selalu kau dambakan
Apa daya waktu pun bergeming
Kau terhanyut dalam luka
Bergulat dalam gulita
Hingga sakit menikam tanpa ragu
Ku persembahkan jiwa raga
Untukmu satu
Satu yang selalu ku rindu
Satu yang selalu ku jaga
Dan satu yang selalu kucintai
Dalam buku bernama "Cinta" kulukiskan rasa ini hanya untukmu
Sekarang dan selamanya.
Aku mencintaimu.
Selalu.
—Kaito Shion untuk Miku—
Miku mendekap buku itu erat-erat di dadanya. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Namun bukan tangisan kesedihan. Melainkan tangisan kebahagiaan yang selama ini selalu dirasakannya saat bersama laki-laki berambut biru itu…
Terima kasih, Kaito…
Aku juga mencintaimu.
Selalu.
OWARI
Okeh. Bentaran "terima kasih-terima kasih dulu" XD .
Special Thanks:
adek saya yang memasangkan CPU lama saya. Tanpamu, aku gabakal bisa update :') #pelukpeluk.
Pak Tohjaya si Polisi kece tetangga saya yang mau-maunya aja saya wawancarain demi referensi fic abal ini. Bwahaha, makasih ya, Pak Polisi! Aku doain cepet naek jabatan, deh!
Bintan yang membuatkan puisinya (dengan sedikit pemaksaan, tentu saja) di bagian epilog. Bwahaha, bales budinya dengan mencantumkan nama kamu di fic aku aja, ya. #kibasrambut.
Adrian yang menyemangati saya selalu dan mau-maunya jadi korban pemaksaan membaca naskah kasar fic ini yang belom jadi di tengah kesibukannya. Gyahahaha, makasih yaa XD ini tanda terima kasihnya. LOL.
mama dan papa yang sering nanya "Kamu ngapain sih di depan komputer tiap hari Minggu?" dan langsung antusias begitu tahu putrinya aktif di dunia fanfic. Love you, mom and dad! :*
Thanks :
untuk Tensaku Natsume, Raikou minato, Aoru Kashiwabara dan sticeberg yang sudah berusaha menebak endingnya dan menebak penyakit Miku :) jujur aku seneng banget! Thanks for you all #pelukciumsatusatu #muntah berjamaah.
untuk semua silent readers dan readers yang mereview, alerting dan fave fic ini! Hontou ni arigatou! :*
dan juga tentunya untuk
KAMU
yang sudah membuka halaman ini! Thanks, all! :** :') aku seneng banget!
Terima kasih banyak semuanya! :'3 Tanpa readers saya nggak bakal semangat mengerjakan fic ini!
Oh ya, mau polling ah sekalian. Apakah saya perlu membuat Sekuel "The Book of Love Story"? ;) silakan polling di review, yaa ;) #malesbikinpoll #plak.
Akhir kata, reviewmu, kebahagiaanku!
Jadi, aku minta reviewnya, please? :'3
V
V
