Ciel sudah sadar. Tapi ia enggan membuka mata. Takut kalau ia masih ada di raga Kuma. Takut bila ada yang memeluknya secara tiba-tiba lagi, takut ada...

"May I eat you now?"

GRAAAA!

"Aaah, Kumaaa," suara-suara terdengar ceria dan lega memandangnya.

"Ya ampun Kumaaa! Kaget, aku. Kageeet banget. Kirain kamu bakal kenapa-kenapa?" Ai memeluknya.

Ia melihat sekeliling. Sebuah ruang kecil dengan beberapa tempat tidur. Terlalu kecil untuk rumah sakit. Mungkin ruang kesehatan.

"Kamu kenapa sih? Sakit?" Gugun dan seorang gadis mungil disebelahnya memandangnya.

"Tadi Gugun ngasih tau kamu pingsan. Mau pulang aja?" gadis kecil itu memandang khawatir dirinya.

"Telpon rumahnya aja, Na. Bilangin si Kuma pingsan," dan suara-suara yang sibuk menambahkan satu sama lain.

"Tidak apa-apa...aku hanya...",

"Tuh kan, gua bilang! Dia jadi aneh dari tadi. Ngomongnya jadi sopan gitu!" Gugun menunjuk Ciel panik.

Ciel lalu memejamkan mata, terbatuk sedikit dan menambahkan,

"Engg...ekke...gak papa..." dan melambai sedikit.

Bener gak ya? Dan ke khawatirannya terjawab saat hembusan napas lega dimana-mana.

"Yaaah, ekke...tidur aja disini...gityu...".

"Beneran?"

"Iya..."

"Ya udah. Nih habisin teh manisnya. Nanti kita jenguk lagi pas pulang ya,". Mereka berbondong-bondong keluar, meninggalkan Ciel, dan teh manis hangatnya.

.


.

Sudah jam pulang sekolah. Iwan datang menjemputnya, menainya sedikit soal keadaannya, dan bersama-sama keluar dari sekolah.

Mereka menaiki mobil lagi. Kali ini duduk berdesakan dengan orang-orang lain. Berhenti didepan sebuah toko, lalu menyambung dengan kendaraan yang sama tetapi dengan warna yang berbeda. Iwan selalu mengulurkan uang pada supirnya.

"Nanti di rumah ganti," katanya galak.

Mereka meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki hingga rumah. Untungnya badan Kuma cukup kuat, sehingga ia tidak merasa terlalu lelah.

Dan kegiatannya berikutnya. Makan sesuatu bernama rendang yang sangat pedas seperti kari Agni, merapihkan tempat tidur setelah sebelumnya dimarahi oleh mami si Kuma, dan...menyiram garasi.

Ciel menjinjing ember berisi air dan sapu, lalu menuangkannya secara asal membasahi garasi, menyapunya dengan asal juga, dan langsung kena semprot mami lagi. Menyerah, ia berjalan ke keran di belakang, ambil air lagi, siram lagi, ambil lagi, siram lagi.

Ia memandang noda minyak di lantai, dan menyikatnya dengan keras, mendorong air kearah luar, menyiram air untuk mengeluarkan pasir dari bawah rak sepatu.

Ciel mendorong genangan air terakhir dan memandang sekelilingnya. Bersih. Dan tidak seperti yang ia sangka, ia senang dan menikmatinya. Huhuhu. Sepertinya ia bisa berbangga diri didepan Sebastian, dan terutama, Kuma si asnajnsifjnasifnviasjcna.

"Ayo kak, mami tadi beli gorengan sama youghourt." suara mami memanggil.

Ia menggaet ember dan sapu, lalu masuk ke rumah.

Mami sudah menunggu didepan meja dengan makanan yang mengeluarkan aroma manis ditambah dengan segelas minuman berwarna pink beraroma stroberi.

"Taruh embernya dibelakang. Ayo sini makan dulu," mami tersenyum.

Ciel terpaku ditempatnya. Ada perasaan hangat dihatinya.

"Kenapa bengong? Buruan sini. Tuh ada Bubunya Sharini," mami menunjuk kotak kaca bercahaya yang menampilkan gambar pria botak dan wanita bermake up wow.

Ciel berlari kebelakang, menaruh embernya, duduk dimeja makan, mencoba makanan seperti roti kari Sebastian yang berisi pisang dan coklat, dan menemani mami menonton Bubu.

.


.

Ciel merebahkan dirinya di kasur Kuma, memperhatikan adik Kuma berkutat didepan papan-belah-dua seperti milik anak yang...Ciel tidak mau memikirkannya lagi.

Ia tidak pernah punya adik atau kakak, jadi ia tidak tahu apa yang bisa dan bagaimana berlaku pada Iwan.

Iwan tiba-tiba tertawa.

"Kak, liat kesini, geura" Iwan menunjuk layar papan-belah-duanya.

Ciel turun dari tempat tidurnya dan mendekat.

"Baca," ia menunjuk sebuah artikel berbahasa Inggris. Untuk otak Kuma gak butut-butut amat bahasa Inggrisnya, jadi ia bisa mengerti isi artikel.

Tak lama Ciel tersenyum, cukup lucu.

"Ah, gak rame, si kakak mah." Iwan memukul Ciel.

Ciel memegang bahunya,

"Baca yang ini," Iwan menunjuk sebuah deretan gambar dengan kata-kata dibawahnya.

Lucu. Sekali ini Ciel tertawa kecil. Mungkin Kuma akan memukul Iwan, jadi ditengah tawanya, Ciel memukul bahu Iwan.

"Aduh, sakit, Kak! Kuli, dasar!" Iwan balik menggelitik pinggang Ciel hingga terjatuh.

"Huahaha.." Ciel menendang-nendang melawan, dan tendangannya terkena perut Iwan.

"Oh, udah main kasar, rupanya, Ok, Ok" Iwan makin menusuk pinggang Ciel seperti tadi pagi.

Entah kenapa, tangan Ciel bergerak membalas. Satu tusukan jari buntet Kuma mendarat pinggang Iwan.

Mereka saling berbalas. Ciel tertawa lepas. Mungkin beginilah rasanya mempunyai saudara. Tidak seperti bayangannya, sebenarnya. Contoh kakak adik yang pernah ia lihat adalah Lizzy dan kakak-super-overprotective-menjurus-sister-complex Edward.

"Awas kalo berani-berani mukul lagi," Iwan menjauh dan kembali duduk di depan kotak sambil ber grmbl-grmbl.

Ciel berdiri dan kembali berbaring di tempat tidurnya. Mungkin, ia sebenarnya bisa menikmati ini. Yaa, walau semu. Walau berbeda. Masing masing punya masalah sendiri, dan hiburan tersendiri.

Di sini, ia tidak dapat teh saat morning tea, sebagai gantinya ia meminum teh sehabis pingsan menggunakan gelas sebesar gelas bir Jerman, dan disaat ia seharusnya ia melakukan tea time, ia disuguhi youghort dan roti.

Ia juga harus, hampir, mandi dan memakai baju sendiri, bangun pagi, mengumpulkan tugas, bahkan menyiram garasi.

Tapi, ia jadi tahu rasanya bersama teman-teman seumuran, bagaimana rasanya dipukul sebagai tanda akrab *jangan ditiru*, mempunyai senior, mempunyai junior, mempunyai adik, pergi ke sekolah, berbicara dengan orang yang tidak menahan apa yang ingin dikatakannya.

Mungkin ia harus berterima kasih pada Kuma.

"Kak, Wan, turun dulu minum susu," mami memanggil dari bawah.

"Yooo," Iwan memandang sebentar kotaknya, lalu berjalan ke bawah.

Susu hangat menunggu. Ia mengikuti Iwan yang langsung meminumnya sekali teguk dan mengehelai napas.

"Hah!" benar-benar nikmat, padahal ia yakin, maaf Kuma, kualitas susu dari perteranakannya lebih baik.

"Udah. Tidur sekarang. Besok bangun pagi," mami membereskan meja.

Iwan berlari keatas dengan Ciel mengikutinya.

"Kak?" Iwan memandangnya saat ia sudah duduk di depan papannya lagi.

"Ng?" Ciel cukup senang dengan Iwan, satu-satunya orang yang berani memukul dan menggelitiknya, yaa, selain para penjahat yang mengintainya selama ini...

"Boleh aku ganti wallpapernya?" Iwan menunjuk papannya.

"Wallpaper apa?" Ciel memandang dinding.

"Ini, yang di laptop, lah," Ooo, benda itu bernama laptop.

"Mana?" Ciel melihat wallpaper laptop Kuma.

Ada dia. Dengan kuping kucing, tangan kucing, ekor kucing, muka bersemu merah, dan tulisan 'Nyaang', dan tangan yang memeluknya dari belakang.

"GUA MAKAN LO KUMAAAAAA" Ciel muntah darah.


.

Gimana? geje kan? hoho.

Bagaimana dengan Kuma? hohoho. Cukup saya dan Om Sebas yang tau ~(/./././u/././)~

*ditendang*

Endingnya? yaaa, silahkan ditambahkan sendiri. Kalian boleh kok bikin Ciel balik lagi, eh ketuker sama kalian.

atau apapun :D

Nanti kasih tau ke ekke ya, kita ketawa ketiwi bareng :D. tulis aja di review atau cerita sendiri. ditunggu di tunggu :D:D:D:D

.

makasih udah baca.

dan maaf Ciel.

Ciel : *Back to character* Sebastian, despose her. MEREDA!

Kuma : Kyaaa *berlari dengan jijainya*

.

sekali lagi. Makasih udah baca u_u