Ya. Aku kembali dengan chapter dua "Contact". Seperti yang sudah kukatakan di chapter satu, di sini aku akan mengulas dari sudut pandang Giotto.
Semoga kalian menyukai cerita sudut pandang Giotto mengenai tatap matanya dengan Tsuna. :)
Chapter 2: JooYeong – Same As You
Giotto del Vongola. Nama Italia itu terdengar sangat hancur begitu dia datang ke Jepang. Tidak ada orang yang bisa mengucapkan 'del Vongola' dengan benar. Kecuali memang orang yang fasih dalam bahasa asing. Dan itu hanya berlaku untuk sebagian orang. Sesungguhnya Giotto tidak menyukai suasana di Jepang. Banyak sekali orang lokal yang menatapnya. Tatapan-tatapan penasaran, dingin dan berbagai perasaan campur aduk menusuk Giotto.
Perjalanan setiap hari ke sekolah dengan kereta membuatnya kesal. Sudah dihimpit banyak orang, berdesakan, susah bernapas, kakinya diinjak, bersentuhan dengan orang yang berkeringat, semua sangat menyebalkan bagi Giotto. Masih ditambah lagi tatapan orang Jepang yang membuatnya kesal. Orang Jepang terkadang menyebalkan karena mereka hanya bisa menatap dengan penasaran, menilai secara kasat mata. Giotto sangat tidak menyukai hal itu.
Tapi untunglah SMA Namimori bukan tempat yang penuh dengan orang seperti , setidaknya untuk sebagian orang. Sudah satu tahun dia menjalani masa SMA-nya. Teman-temannya banyak dan gampang diajak berkumpul bersama Giotto. Giotto memasuki tahun kedua di SMA tanpa ada perubahan sama sekali. Semuanya sama. Teman-teman dekatnya yang di sekolah ini ada dua orang, Ai dan Gin. Keduanya ceria dan bersemangat. Mirip sekali dengan G. dan Ugetsu, kedua sahabatnya yang berada di Italia.
Sahabatnya yang ada di luar negeri itu juga tidak berubah. Mereka masih sering saling memberi kabar dengan skype. Giotto terkadang rindu juga kalau melihat keduanya di sana. Giotto merindukan Italia, tanah kelahirannya. Tapi apa boleh buat. Pekerjaan orangtuanya membuatnya harus menerima kepindahan ini.
Tahun keduanya hidup di Jepang membuat Giotto terbiasa dengan segala hal umum. Tapi tidak untuk hari ini.
Saat itu Giotto sedang mencuci mukanya di toilet. Cuaca hangat di bulan April membuatnya jatuh tertidur di kelas. Untung saja dia duduk di kursi paling belakang dekat jendela. Giotto segera menuju toilet ketika dia terbangun, mendapati bel istirahat baru saja berbunyi. Tidak biasanya dia jatuh tertidur seperti itu. Giotto merasa ini tidak seperti dia yang biasanya. Selesai mencuci mukanya, Giotto melap dengan tisue dan segera keluar dari toilet.
Poninya yang terkena air masih sedikit basah, Giotto menunduk sambil berusaha mengeringkan poni itu. Mengetahui usahanya tidak ada hasil, dia menyerah dan mendongakkan kepalanya. Saat itu matanya mendapati seseorang menatapnya. Berjarak beberapa meter dari Giotto. Sangat mungil. Berambut coklat dan postur tubuhnya kecil. Anak kelas satu itu menatap Giotto dengan penasaran. Tatapan yang tidak disukai Giotto.
Tapi entah kenapa Giotto malah balas menatap pemuda itu. Giotto melakukan hal yang dia sendiri tidak sukai. Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa dia ingin melihat pemuda itu. Mata mereka terikat selama beberapa detik.
Entah mengapa Giotto merasa waktu berlalu begitu lama. Rasanya semua berjalan begitu pelan. Antara dia dan anak kelas satu ini. Rasanya ada sesuatu yang mengikatnya. Entah apa. Giotto terus memandangi anak kelas satu itu tanpa henti. Tapi akhirnya tubuh Giotto melewati pemuda itu juga. Rasanya hatinya sedikit sakit saat melewati anak itu begitu saja. Tanpa percakapan. Tanpa sempat mengamati lebih jauh lagi.
Perubahan mendadak yang singkat di hati Giotto. Hanya karena tatapan mata singkat itu. Giotto tidak tahu kenapa hari ini dia begitu berbeda dari biasanya. Dan dia juga tidak mengira dia akan berubah sejak hari itu. Hanya karena pertemuan singkat selama lima detik. Dan segalanya berubah.
-000-
Dari postur tubuhnya, jelas sekali kalau pemuda itu anak kelas satu. Giotto entah mengapa ingat dengan jelas wajah anak itu. Rambut coklat yang terlihat lembut. Pipinya bersemu ketika mereka bertatapan. Bola mata anak itu bulat dan besar. Tatapannya yang lurus dan polos membuat Giotto tertarik. Tapi normalkah dia merasa seperti ini? Giotto tidak merasa begitu. Bagaimana bisa dia tertarik pada seorang laki-laki, bahkan yang lebih muda darinya? Membuat itu lebih parah, anak itu terlihat begitu biasa. Tidak ada yang spesial darinya. Tapi kenapa Giotto senantiasa memikirkannya seperti ini? Sesungguhnya bisa saja Giotto menanyakan ke anak kelas satu yang lain, siapa gerangan anak itu. Tapi Giotto tidak sampai segitunya hingga dia harus tahu siapa orang yang mengganggu pikirannya ini.
Giotto tipe orang yang tidak ambil pusing, kalau dibiarkan juga perlahan-lahan akan hilang dari otaknya... toh, tidak mungkin melihatnya setiap hari di sekolah. Sekolah seperti ini dengan 700 murid di dalamnya. Mana mungkin. Begitulah kira-kira yang dipikirkan Giotto. Tapi ternyata tidak.
Entah bagaimana caranya, setiap hari Giotto selalu bisa melihat anak itu. Entah ketika dia sedang melirik ke luar jendela, kebetulan anak itu juga sedang melirik ke luar jendela. Dan mata mereka bertemu untuk kedua kalinya. Tapi Giotto langsung membuang muka, pura-pura tidak melihat anak itu.
Ada lagi di mana ketika Giotto sedang berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, anak itu sedang menuruni tangga dan mereka berpapasan. Lagi-lagi mata mereka bertemu. Giotto mempercepat langkahnya menaiki tangga. Mendahului anak itu. Selain kejadian di tangga, ada ketika kelas Giotto sedang pelajaran olahraga, Giotto berniat memukul bola yang melambung ke arahnya. Ketika matanya melihat ke atas, sesaat dia melihat anak itu lagi. Dan anak itu juga melihat ke arahnya. Tapi Giotto segera mengembalikan fokusnya ke arah bola. Bola voli itu dipukulnya. Giotto melihat ke arah anak yang tadi melihatnya dari balik jendela. Anak itu ternyata sudah menghilang.
Bila dihitung-hitung, setiap hari Giotto bisa bertemu dengan anak itu. Entah itu bertemu mata atau hanya melihat sosok mungil anak itu. Mungkin karena Giotto tertarik pada anak itu sehingga dia begitu sadar kalau ada anak itu di dekatnya. Padahal temannya sendiri kalau tidak dipanggil, Giotto tidak akan sadar temannya ada di sana. Apa rasa ketertarikan ini sudah begitu besar sampai Giotto selalu mencarinya di saat yang memungkinkan?
-000-
Di minggu ketiga semenjak pertama kali Giotto bertemu mata dengan anak itu, dia kembali berpapasan dengannya.
Saat itu kelas Giotto baru saja selesai pelajaran lab kimia. Ai, teman satu kelompoknya tanpa sengaja memecahkan tabung reaksi. Di dalam tabung reaksi itu sudah tercampur senyawa yang akan dinilai gurunya. Akibatnya mereka terpaksa mengulang eksperimen mereka. Giotto tidak mempermasalahkannya. Memang Giotto orang yang sabar. Tapi Ai begitu merasa tidak enak hingga dia meminta maaf terus-menerus. Gin memperparah dengan terus mengungkit perihal itu. Giotto hanya bisa menghela napas pada mereka berdua.
Tepat ketika mereka keluar dari ruangan, Giotto menemukan anak itu. Anak berambut coklat yang menarik perhatiannya. Menyadari ada kedua temannya di sana, Giotto tidak terlalu memerhatikan anak itu.
"Makanya lain kali hati-hati, Ai-chan. Kasihan teman sekelompokmu ini. Ya kan, Giotto?"
"Aduh, aku sudah minta maaf pada Giotto. Kenapa kamu bahas terus sih, Gin?"
Temannya sedang berbicara pada Giotto. Akan aneh kalau Giotto tidak membalas. Pemuda asing itu membalas dengan, "Tidak apa-apa kok Ai, Gin. Lagipula bisa dibuat ulang dan keburu waktu. Toh, aku juga pernah memecahkan tabung reaksi waktu kelas satu."
Giotto mengeraskan suaranya agar lebih bisa terdengar. Seakan memberikan pertanda pada anak itu bahwa dia ada di sana dan berharap anak itu melihatnya. Tapi Giotto tidak juga bisa melirik melihat anak itu. Anak yang kini sudah melewati dia dan kedua temannya.
Betapa hati Giotto saat itu ingin meneriakkan nama anak itu. Agar anak itu berbalik melihatnya. Agar Giotto bisa melihat kedua bola mata coklat itu. Tapi dia tidak tahu nama anak itu siapa. Giotto hanya bisa bungkam. Tanpa ada usaha untuk mengetahui anak itu. Entah mengapa dia merasa dirinya begitu pengecut. Dan saat Giotto menyumpahserapahi dirinya sendiri, dia mendengar seruan seseorang di belakangnya.
"Tsuna!"
Suara seorang anak laki-laki. Memanggil seseorang. Siapa?
"Yamamoto."
Jantung Giotto berdetak kencang. Suara itu. Suara yang baru saja didengarnya. Begitu bening dan tulus. Terdengar hangat dan menyejukkan. Suaranya begitu manis didengar. Giotto segera membalikkan tubuhnya. Melihat ke belakang dan menemukan anak berambut coklat itu sedang berlari menuju seseorang. Seorang anak berambut hitam cepak. Sepertinya teman anak itu... teman 'Tsuna'. Diakah yang memanggil Tsuna? ...Yamamoto?
Dua hal yang didapat Giotto hari itu. Dia mengetahui siapa gerangan nama anak kelas satu itu dan temannya. Oleh karena itu Giotto merasa senang. Hal kedua adalah rasa cemburu yang membakar hatinya. Yamamoto bisa memanggil Tsuna dengan begitu nyaman. Dan Giotto iri. Ingin rasanya Giotto ada di posisi Yamamoto... agar dia bisa memanggil Tsuna berkali-kali. Sebanyak yang diinginkannya.
-000-
Sudah beberapa minggu lewat tapi Giotto tidak bisa mengajak anak itu mengobrol. Mereka masih dalam keadaan bertatap mata saja. Tidak ada kontak yang lebih dari itu. Hanya sampai di situ saja. Dan Giotto semakin lama semakin tidak puas. Tapi Giotto bukan orang yang tidak bisa berpikir rasional. Dia masih bisa mengesampingkan perasaannya dengan tugasnya sebagai pelajar.
Giotto berjalan menuju ruang guru untuk mengumpulkan tugas. Saat dia hendak membuka pintu, pintu itu sudah terdorong lebih dulu dan Giotto tidak sempat menghindar. Orang yang di balik pintu itu menubruknya sehingga beberapa buku terjatuh dari tumpukan yang dipegangnya.
Giotto tertegun. Orang yang menabraknya ternyata adalah si pemuda mungil itu. Rambut coklat pemuda itu yang khas membuatnya mudah dikenali. Sembari memperhatikan Tsuna, Giotto berjongkok dan memungut buku yang jatuh ke lantai. Giotto sedikit melirik melihat Tsuna, namun dia hanya berhasil melihat hingga kemeja seragamnya saja. Giotto kembali menunduk dan mengambil keempat buku yang jatuh.
Mereka berdua berdiri, Giotto menaruh buku-buku yang dipungutnya di tumpukan paling atas. Keduanya saling terdiam untuk beberapa saat. Giotto cukup bingung kenapa Tsuna tidak menatapnya. Kepala pemuda itu terus tertunduk. Giotto tidak ingin melewati Tsuna begitu saja, tapi sekarang Tsuna tak kunjung memberinya tanda untuk bertindak.
Perlahan, Giotto merasa kepala Tsuna mulai terangkat, entah kenapa Giotto merasa begitu senang. Padahal dia masih belum melihat wajah Tsuna. Dan ketika mata mereka kembali bertemu, Giotto melihat ekspresi Tsuna yang berbeda dari sebelumnya.
Ekspresi yang begitu murni, polos dan menawan. Bola matanya yang besar bertemu dengan bola mata Giotto. Untuk pertama kalinya Giotto melihat Tsuna dari jarak sedekat ini, Giotto tidak bisa menahan perasaannya lagi. Entah mengapa Giotto tersenyum pada Tsuna. Senyuman itu terbentuk begitu saja bahkan tanpa sepengetahuan Giotto. Giotto baru menyadari bahwa dirinya tersenyum ketika melihat ekspresi Tsuna yang begitu terkejut karena melihat senyumannya.
Giotto segera kembali ke kesadarannya dan berjalan melewati Tsuna. Sesaat lengan mereka saling menyapa satu sama lain. Terasa hangatnya dari seragam yang dikenakan mereka. Tapi Giotto berusaha tidak memikirkannya. Dia pun masuk ke ruang guru. Saat pintu tertutup, Giotto merasa dirinya begitu pengecut. Kenapa dia malah melarikan diri dari seseorang yang sudah begitu lama ingin ditemuinya? Tapi bagaimana dia harus bersikap di saat seperti tadi? Giotto tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Tapi dia merasa begitu sakit ketika tidak melihat Tsuna lagi. Dan sekarang hatinya terasa tidak enak karena telah menutup pintu itu. Pintu di belakang punggungnya.
Otak Giotto memerintahkan tubuhnya untuk cepat bergerak. Sebelum Tsuna pergi dari luar sana. Sebelum dia menghilang dari pandangan Giotto untuk yang kesekian kalinya.
Giotto segera membalikan tubuhnya dan mendorong pintu. Pintu terkuak. Sinar matahari menyerang matanya langsung. Giotto melangkah keluar dan menutup pintu. Berharap Tsuna masih ada di sana. Tidak meninggalkan Giotto... ya, Tsuna. Pemuda berambut coklat itu. Masih berdiri di sana. Terpisahkan jarak satu jangkauan lengan dengan Giotto.
Keduanya bertatap mata. Dipenuhi perasaan yang tidak bisa dideskripsikan. Aneh. Tidak nyaman. Tapi entah mengapa mereka menikmatinya. Jantung Giotto berdetak kencang melihat Tsuna yang ada di depannya. Masih menampung tumpukan buku. Tidak bergerak sama sekali. Dalam diam keduanya saling berbicara melalui tatapan mata mereka.
Selama memandangi Tsuna, barulah Giotto sadar. Perasaannya sudah sangat tergerak oleh Tsuna. Tidak ada kata lain yang mampu mengungkapkan perasaan Giotto saat ini terhadap Tsuna selain... 'jatuh cinta'.
.
Begitulah chapter dua selesai. Lanjut lagi di chapter tiga. Di mana aku akan membahas tentang perkembangan hubungan mereka.
Sebetulnya aku kurang fokus ketika mengerjakan bagian akhir chapter ini. Aku merasa dari segi bahasa ada yang kurang. Rasanya tidak seperti biasanya yang kubuat. Mungkin juga karena aku sudah sangat mengantuk saat mengetik chapter ini. Hahaha.
Baiklah, terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di chapter tiga, jangan lupa review ya. Hehe.
