DISCLAIMER: TOBOSO YANA-sensei.


Previous Story:

"Apa kabarmu, Alois?"

Senyum yang sama seperti dulu yang khusus ditunjukkan padaku.

"Claude..?"


NORMAL POV

Alois masih terdiam menatap pemuda di hadapannya dengan tatapan yang sulit untuk di terka. Seperti ada kilat rasa tak suka namun ada rasa yang lebih besar dari itu. Rindu? Senang? Entahlah. Masih dengan keraguan, ia perlahan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan tamunya itu. Senyum Claude masih terkembang meskipun sang tuan rumah tak tampak menyambutnya dengan baik. Ia sangat mengerti sifat dan tabiat anak lelaki di hadapannya itu. Justru ia akan terkejut jika Alois bersikap biasa padanya. Jadi, Claude diam saja tanpa berkata apa-apa.

"Ehm.. kabarku baik. Terima kasih. Silahkan duduk." Alois yang telah menguasai dirinya lalu menjabat tangan Claude singkat dan mempersilahkan Claude untuk duduk kembali sementar dirinya juga mengambil tempat duduk di kursi besar di ujung meja, sedikit menjaga jarak dengan tempat duduk Claude. Claude hanya menatapnya dalam diam di balik kacamata tanpa bingkainya itu. Membuat Alois semakin gugup dan entah ia merasa gerah di ruangan ber-AC itu. Ia tanpa sadar mengusap dahinya dan membetulkan poninya untuk mengurangi rasa gugup. Detak jarum jam yang ada di ruangan itu merupakan satu-satunya suara yang terdengar di dalam ruangan itu. Hampir tak ada yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Claude masih menatapnya tanpa sepengetahuan Alois dengan berpura-pura meminum tehnya. Entah memang dia sedang minum atau berpura-pura namun Alois tahu bahwa sepasang mata emas itu tengah mengawasinya. Memperhatikan pada apa yang akan Alois lakukan berikutnya. Mata biru Alois terkadang bertemu pandang dengan mata emas Claude, yang membuat Alois berpaling untuk menghindari tatapan Claude. Andai saja mereka punya bahan pembicaraan..

"Uhm.. Ada perlu apa hingga anda datang kemari, tuan Claude" Ia memutuskan untuk menggunakan kata 'tuan' sebagai sapaan hormat karena ia tak ingin memandang Claude seperti yang dulu lagi. Hubungan mereka sudah berbeda sekarang. Itulah keputusan Alois.

"Tak perlu terlalu sopan begitu. Panggil saja aku seperti biasa kau memanggilku." Claude menjawab segera setelah Alois selesai bertanya. Bahkan Alois belum sempat menarik nafas untuk meredakan kegugupannya. Alois mengarahkan tatapannya kembali ke mata Claude. Pemuda itu kini dengan jelas menatap Alois. Mata emas yang tajam itu serasa menusuk tepat ke dalam hati Alois, seperti mencari keberadaannya di dalam hati bocah lelaki itu. Seakan pemuda itu tahu bahwa ia adalah orang spesial bagi Alois. Alois tak pintar menyembunyikan sesuatu dari Claude dan Claude terlalu pintar untuk menebak apa yang dirasakan oleh anak lelaki itu. Rasanya sia-sia jika Alois harus berusaha keras mencari-cari alasan atau berkilah karena Claude tahu semua tentang dirinya. Alois menunduk sambil menelan ludah. Merasa Alois telah mengerti apa maksud dari kata-katanya, Claude lalu menjawab pertanyaan Alois tadi.

"Tidak ada. Aku hanya ingin mengunjungimu, sekaligus untuk melihat bagaimana kondisimu setelah menjadi bagian dari keluarga Burnett. Madam red wanita yang baik dan bisa diandalkan. Ia pasti bisa merawatmu dengan baik." Claude lalu kembali menyesap tehnya namun ia sudah tak menatap Alois lagi. Matanya tertutup seakan menikmati earl grey tea yang disajikan. Alois masih tak mengangkat wajahnya. Jawaban Claude makin membuatnya kehilangan ketenangan yang sedaritadi berusaha ia bangun. Tangannya terkepal erat diatas lututnya. Mulutnya tertutup rapat karena ia kehabisan kata-kata untuk membalas kata-kata Claude.

"Seperti yang anda lihat, Aku baik-baik saja. Terima kasih telah mengkhawatirkanku." Ucapnya pelan. Ia tak peduli apakah Claude bisa mendengarnya atau tidak. Ia tak ingin Claude tahu bahwa suaranya sedikit bergetar. Ia tidak menangis, tapi entah mengapa ia tak bisa tenang seperti biasa. Hanya di hadapan orang ini ia terlihat lemah seperti anak yang tak bisa apa-apa. Meski Claude tak pernah menunjukkan hal itu.

"Sudah ku bilang, pang-.." Alois langsung memotong kata-kata Claude tanpa sempat Claude menyelesaikan kalimatnya.

"Ibu sedang berada di rumah sakit. Ia baru akan kembali ke rumah sore hari nanti." Claude terdiam sambil memperhatikan Alois yang tampaknya memang sengaja memotong pembicaraan. Tatapan bocah di depannya itu tak tertuju padanya. Mata biru itu kini menatap tak fokus ke sekelilingnya. Sengaja untuk menghindari tatapan Claude. Namun Claude tahu apa yang bisa merebut perhatian bocah lelaki berambut pirang itu.

"Aku datang untuk menemuimu. " Kalimat singkat tadi cukup membuat mata biru terang itu kembali menatap mata emasnya. Wajahnya tampak terkejut. Seperti yang ia duga.

"Ka-kau tak perlu repot-repot untuk itu. Aku baik-baik saja, tak perlu mengkhawatirkanku." jawab Alois lirih sambil mengalihkan pandangannya lagi. Ia hanya bisa menatap punggung tangannya yang berada di atas lututnya. Ia tak ingin melebarkan arah pembicaraan mereka. Keberadaan Claude saja cukup untuk membuatnya diam seribu bahasa. Ia tak mau membuat Claude tahu apa yang dirasakannya saat ini.

"Alois."

Mata Alois terbelalak ketika jemari Claude berada di bawah dagunya untuk mendongakkan wajahnya agar menatap lurus ke mata emas milik Claude. Kini perhatian Claude sepenuhnya tertuju pada Alois seorang. Claude kini berdiri tepat di depannya dengan sedikit membungkuk untuk mensejajarkan dirinya dengan Alois yang tengah duduk dan tatapannya berubah serius. Ia tahu bahwa Claude paling tidak suka jika ia tak memperhatikannya terlebih jika ini menyangkut hal penting. Tapi Alois beranggapan bahwa ia tak seperti yang dulu lagi. Ia tak harus mematuhi apa keinginan Claude, meski itu hanya sekedar memperhatikannya saat berbicara atau tidak.

"A-apa?" tanya Alois sambil membangun rasa berani dalam dirinya. Mengapa ia harus gugup menghadapi orang ini? Sungguh tak beralasan!

Namun kepercayaan diri Alois musnah ketika Claude dengan sengaja mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Alois dan Alois bisa merasakan hembusan nafas Claude di telinga kanannya. Alois menutup mata sambil menahan agar dirinya tak terhanyut oleh kondisinya dan Claude saat ini. Wajahnya memerah seraya ia menahan nafas tanpa ia sadari.

"Kau tahu kalau aku tak suka diacuhkan, bukan?" Bisikan Claude terngiang di telinga Alois dan Alois masih menahan nafasnya. "Danna-sama..?" lanjut Claude yang sontak membuat Alois menyadari bahwa nafasnya tertahan dan ia kontan membelalakan matanya. Alois menolehkan kepalanya ke arah wajah Claude berada. Kini mata biru itu terkunci di mata emas Claude. Mereka tak bicara sepatah kata pun. Alois yang tersadar lalu menelan ludah karena gugup dan mengalihkan pandangannya dari Claude. Ia tak tahu bahwa suaranya terdengar serak dan bergetar.

"Jangan panggil aku Danna-sama." katanya pelan. Claude hanya menatapnya sesaat sebelum pemuda itu menutup matanya dan menegapkan tubuhnya dari posisinya yang tadi membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Alois. Ia tersenyum simpul ketika melihat wajah Alois yang tampak tak nyaman.

"Baiklah." jawab pemuda berambut hitam itu seraya berjalan ke arah pintu ruang tamu itu. "Ijinkan aku ke belakang sebentar. Aku tahu letaknya, permisi." lalu Claude menganggukkan kepalanya pada Alois tanda ia meminta diri untuk pergi ke kamar mandi. Alois yang baru akan beranjak untuk mengantarkannya membatalkan niatnya setelah mendengar perkataan Claude tadi dan ia kembali duduk di kursinya. Degup jantungnya masih tak karuan. Dengan kepergian Claude dari ruangan itu membuat Alois bisa bernafas sedikit lebih lega. Ia masih belum terbiasa untuk berhadapan langsung dengan pemuda itu, pemuda yang amat berarti baginya. Ia berhutang nyawa pada pemuda berkacamata itu, meski mati-matian Alois selalu menepis kenyataan itu dalam benaknya. Seharusnya Claude tidak se-spesial itu baginya. Seharusnya ia menyalahkan pemuda itu...

...tapi ia tahu ia tak bisa. Ia takkan pernah bisa.

"Aarrggaahh..!"

Alois mengacak-acak rambutnya karena frustasi dan menundukkan kepalanya diantara kedua lututnya. Tangannya mengepal karena gusar pada dirinya.

"Kuso..."


A/N: Akhirnya selesai juga chapter ini. maaf menunggu lama :)

Jujur, saya suka sekali menulis chapter ini, ga berhenti fangirlingan XD #mimisan

selamat membaca dan jangan lupa review :)