Ada yang bertanya apa ini kali pertamanya aku nulis dan publish cerita. Kalau aku jawab ini bukan pertama kalinya aku nulis dan memang pertama kalinya publish cerita, percaya nggak kira-kira? :) Dan terima kasih untuk kalian semua yang sudah mereview, fave, alert pada chapter lalu. Rasanya seneng banget karena ada yang peduli dgn cerita ini. —Baka
Disclaimer: Bleach is not mine.
Thank yous Corner: Grazee - Zanpaku Nightfall Akenomyosei - astia aoi - Megumi Kei - seakey07 - Aoi LawLight - widi orihara - jigoku no hime - dame-an - Tidus arrain gizamaluke grotto - Aoi Namikaze - Kai Shadowchrive Noisseggra
Every Little Thing
Chapter 2.
"Every morning when the day begins
I make up my mind but change it back again
I'm a shifter of the shape I'm in
Who did you think I was."
—John Mayer 'Who Did You Thing I Was'
Fucking Hell.
Bitch.
Motherfucker.
Oh, ia ingin sekali tahu ada berapa sebenarnya umpatan yang ada di dunia ini. Mungkinkah sudah ia lontarkan semuanya, dan akhirnya ia akan mendapatkan peringkat tertinggi di dunia sebagai orang yang mengumpat paling banyak dalam kurun waktu satu menit?
Alangkah indahnya dunia jika benar.
Mungkin bisa menurunkan sedikit intensitas kekesalan yang tengah dirasakannya saat ini.
Seharusnya ia bisa menebak bahwa dirinya akan terlibat sampai sejauh ini, mengingat kalau murid yang menjadi sasaran bentakan guru sejarah di kelas tadi adalah temannya tercinta, Szayel—fucking—Aporro. Si Okama setengah mateng itu adalah anak lelaki yang kurus, memiliki rambut berwarna pink—PINK! Padahal dia kira warna rambutnyalah yang paling 'ngaco' di dunia ini—selalu meni-pedi pada jam istirahat, dan tidak suka kalau pakaiannya sampai ternodai atau rusak.
Anak seperti itulah yang dimintai tolong oleh Takiyama-sensei untuk mengangkat murid yang pingsan di lapangan gara-gara hukuman. Tanyakan pada rumput yang bergoyang kenapa guru itu meminta tolong pada seseorang yang sudah jelas terlihat kesusahan mengangkat tasnya sendiri, apalagi bobot tubuh orang yang bisa saja beratnya sampai 60an kilogram.
Kalau bukan buta, berarti guru sejarahnya itu punya katarak.
Tapi, kalau bicara soal bobot tubuh, ia sama sekali tidak merasa terbebani ketika membawa Kurosaki sampai UKS tadi. Ia bahkan sempat ragu apa benar tadi ia tengah membawa benda di tubuhnya itu atau tidak.
Kurosaki ringan bagaikan anak ayam.
Pergelangan tangannya pun besarnya tidak jauh dari setengah pergelangan tangan miliknya. Kurus. Membuatnya ragu kalau teman sekelasnya itu pernah memasukkan makanan ke kerongkongannya.
Tinggi badan mereka mungkin memang berbeda jauh. Sekitar 15 hingga 20 sentimeter.
Tapi...
It's just ridiculous.
... Buat apa ia peduli, dan pusing-pusing memikirkan berat badan orang lain?
"You done raping him yet, Grimmjow?" Szayel Aporro bertanya dengan pita suaranya yang bagaikan anak cewek itu, dan Grimmjow dibuat menyadari apa yang sebenarnya tengah dilakukan tangannya ketika tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Ia menggenggam pergelangan tangan Kurosaki.
Yang pasti, ia sendiri tidak tahu semenjak kapan. Asumsinya adalah bahwa tangannya itu bergerak semaunya sendiri, yang bisa saja ternyata kerasukan roh yang kebetulan lewat. Karena apa pun yang terjadi pada dunia ini, perang, tsunami, atau lebih jeleknya; kiamat, tidak akan mungkin terjadi seorang Grimmjow Jaegerjaquez menggenggam pergelangan musuh bebuyutannya kalau bukan untuk melukai.
"Che." decakan, dan dengan sangat tidak gentle, Grimmjow melepaskan genggamannya. "Sampai kapan sebenarnya kita harus berada di sini?"
"Takiyama bilang, sampai dokter UKS kembali dari urusannya sekitar..." membiarkan kedua irisnya menatap ke arah kukunya yang tadi pagi baru saja ia bersihkan, Szayel Aporro kemudian menatap jam di tangan kirinya, "... Harusnya sih sekarang."
Great. Too fucking great.
Mungkin Takiyama-sensei melihatnya juga tertidur di kelas tadi makanya ia jadi menadapat hukuman semacam ini. Sudah diharuskan membopong orang yang setiap hari selalu membuatnya sebal, sekarang diharuskan menunggu di UKS sampai dokter sekolah datang. Akan ia catat kalau Kurosaki berhutang besar padanya.
Menghela nafas, Grimmjow menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas kursi yang berada tepat di samping ranjang UKS.
Padahal saat itu jendela UKS terbuka lebar, memperlihatkan lapangan bola yang penuh dengan murid-murid kelas 2 sedang melaksanakan kelas olahraga. Artinya, banyak cewek yang memakai pakaian seragam olahraga Karakura yang mini itu. Sasaran yang tepat untuk cuci mata, drooling, berlagak bagaikan pencuri pakaian dalam yang menemukan bra Paris Hilton.
Di atas semua pemandangan indah, kenapa... Kenapa kedua matanya malah langsung tertuju kepada wajah Kurosaki yang tengah tidak sadarkan diri? ! Memperhatikan kedua bulu mata orange-nya yang ternyata lebih panjang daripada dugaannya selama ini.
Bibir berwarna pink pucat yang sedikit terbuka...
Dan Grimmjow pun melompat dari tempat duduknya, sesaat setelah terdengar suara deheman tepat di telinganya.
Fuck. "APA? !" hardiknya. Kekesalan yang dirasakannya kala itu, bukan karena ada orang yang dengan seenaknya menginfasi jarak pribadinya, bukan pula karena Szayel kini terkikik akibat melihat tingkahnya barusan, tetapi karena ada rasa panik di dalam dirinya. Kepanikan kalau-kalau barusan dirinya ketahuan tengah memperhatikan wajah Kurosaki, dan disangka memiliki niatan untuk mencium sang remaja bersurai orange bagaikan pangeran yang membangunkan sang putri dari tidurnya.
... Dia sama sekali tidak berpikir ke arah situ...
... Yakin...
"Oh, baguslah. Kupikir barusan kau pingsan juga," membenahi posisi kacamata putihnya, Szayel kemudian berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar, "Guru UKS sudah datang dan siap untuk memeriksa kondisi Kurosaki, Grimmjow. Kecuali kau masih mau berada di sini, aku kembali ke kelas lebih dulu." dan dengan itu, Szayel pun keluar, menutup pintu tanpa mengeluarkan suara yang tidak perlu.
Grimmjow menoleh ke sebelahnya, mendapatkan sebuah senyum terarahkan padanya. Guru UKS memang sudah datang. Sang dokter sekolah kini beranjak mendekati Kurosaki dan memeriksa apa pun itu yang harus diperiksa.
Mengangkat bahu, lebih baik ia ke atap sekolah sekarang dan membolos hingga jam istirahat tiba.
Ia sedang malas memikirkan mengenai algoritma yang ia yakin tengah diteskan di kelas saat ini.
Tarikan nafas, helaan nafas.
"Kau sedang tidak enak badan, Kurosaki-kun?"
Ia menoleh, memandangkan kedua iris cinnamon-nya tepat pada sepasang iris keabuan seorang Orihime Inoue yang menatapnya dengan pandangan khawatir. Gadis bersurai orange kecoklatan itu satu kelas dengannya, dipastikan tahu apa yang terjadi padanya saat di kelas tadi.
Kalau menghitung, sudah kelima kalinya Orihime mempertanyakan hal yang sama padanya semenjak masih di sekolah tadi.
"Yeah, Ichi, aku cukup kaget ketika tahu kau tumbang begitu saja saat hukuman."
Tersentak kecil.
Tubuhnya selalu tergerak otomatis untuk berjengit atau menyentak saat ada seseorang yang menyentuh tubuhnya. Walau sentuhan itu hanya sentuhan ringan seperti yang dilakukan oleh teman semenjak kecilnya, Renji, yang hanya melingkarkan lengan kekarnya di pundaknya. Sebuah gestur persahabatan yang sebenarnya sudah sering mereka lakukan semenjak dulu.
Hanya beberapa bulan terakhir ini sajalah tubuhnya tidak bisa mentolerir hubungan badan sekecil apa pun.
"Hn..."
Ichigo memberikan jawaban dengan gumaman. Tidak yakin dengan alasan apa yang harus ia berikan agar kedua sahabatnya tidak mempertanyakan lebih jauh lagi.
Ia tidak biasa berbohong, kau tahu?
Ia geserkan tubuhnya agar lepas dari dekapan Renji. Berpura-pura mengambil iPod di dalam tasnya, agar teman bersurai merahnya itu tidak curiga dengan dirinya yang menarik diri. Dan kelihatannya berhasil karena Renji kini beralih mengobrol bersama Orihime. Ia hanya menangkap kata "menu" dari apa pun yang keduanya bicarakan, sebelum ia memasang earphone di kedua telinganya. Memilih lagu yang tidak terlalu nge-beat dari iPod-nya, demi menenangkan diri.
Karena bisa ia rasakan jantungnya yang semakin bergemuruh ketika langkah kakinya semakin lama semakin mendekati rumahnya.
Ia kesal karena sekolah hari ini terasa begitu cepat selesai.
Ia masih belum mau pulang ke rumah.
Kalau bisa, ia tidak pernah mau pulang lagi ke rumah itu.
Tapi, di saat yang bersamaan, ia tahu kalau dirinya tidak bisa meninggalkan ibu dan kedua adiknya begitu saja. Tidak dalam kondisi rumahnya yang seperti sekarang ini. Di mana ia tidak bisa meyakinkan diri kalau mereka bertiga akan baik-baik saja tanpa kehadiran dirinya.
Langkahnya terhenti tepat di depan pagar berwarna putih. Kedua irisnya bergerak, menyisik ke arah di mana garasi rumah berada, dan bisa ia rasakan lambungnya berkontraksi pada apa yang ia lihat. Mobil Ford yang biasa digunakan sang ibu tidak ada, menandakan keabsenan wanita bersurai orange panjang itu dari rumah. Tidak salah lagi tengah menjemput kedua anak gadis kembarnya di sekolah, sebelum kemudian mengantarkan keduanya ke tempat les. Sebagai ganti dari mobil Ford, terdapat sebuah Audi berwarna putih tulang yang nampak begitu berkilau.
Orang itu ada di rumah.
Dan ia hampir saja mengeluarkan ringisan dari sela-sela bibirnya kalau saja Renji tidak angkat bicara saat itu.
"Ichi, kalau ada sesuatu, kau tahu kalau kau selalu bisa mengatakannya pada kami." Tidak diragukan, pemuda bersurai merah dan gadis di sebelahnya itu mengetahui ada sesuatu yang dirinya sembunyikan. Ekspresi wajah keduanya menatapnya dengan tatapan khawatir dan penuh rasa peduli.
Kalau memang ia mengatakannya nanti, lalu apa?
Ia tahu kalau apa yang ia katakan akan menghancurkan perasaan sang ibu yang saat ini tengah berbahagia. Sebagai anak, ia tidak mungkin sampai hati melakukannya.
Tidak untuk yang kedua kalinya.
"Kalian berdua terlalu khawatir," Tangannya mengibas, dan ia majukan langkahnya, membuka pagar putih yang tertutup. "Sampai besok, guys." Dan tanpa menoleh ke belakang lagi, ia bergegas masuk ke dalam rumah, menutup kembali pintunya.
Dan susah payah ia menahan keinginannya untuk berlari keluar kembali.
Kuat. Terlalu kuat.
Wangi tubuh orang itu ada di mana-mana, dan selalu sanggup membuatnya merasa mual.
Tarikan nafas, helaan nafas.
Tapi, ia juga tahu kalau tidak akan bisa selamanya ia berdiri di pintu depan, cepat atau lambat, ia harus segera melangkahkan kaki dan menerima apa pun yang menghadangnya nanti.
Karena hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Okaeri, Ichigo-kun."
Nafas tercekat di tenggorokan, bisa ia rasakan wajahnya yang kehilangan warna, serta detak jantungnya yang seolah berhenti. Suhu udara di sekitarnya terasa menurun begitu drastis, membekukan kedua kakinya, membuatnya tidak bisa melangkah maju atau pun mundur.
Ia harap tadi ia menyetel iPod-nya dengan suara maksimal.
Ia harap dirinya masih di sekolah, dan mendengarkan pelajaran yang diberikan para guru.
Ia harap dirinya tidak pernah bertemu pria ini.
Ia harap ibunya tidak pernah memilih pria ini.
Ia harap ia mendengarkan kata-kata sang ayah untuk tidak bermain di tempat tinggi.
Ia harap ayahnya masih hidup.
Ia harap...
Ia harap...
"Ada apa, Ichigo-kun? Kau nampak begitu pucat."
Tarikan nafasnya tajam, bulu kudu di seluruh tubuhnya terasa meremang, dan otot-ototnya nampak begitu tegang, tetapi tidak ada satu pun dari hal itu yang membuat kedua tangan besar berhenti menyentuh tubuhnya. Suara tawa kecil yang menyerang langsung pendengarannya, membuatnya ingin sekali berlari ke kamar mandi dan memuntahkan kembali isi perutnya yang tersisa.
Mual.
"Bagaimana kalau pertama-tama kita lepaskan ini dulu, hm?" Suara berat seorang pria dewasa kembali terdengar di salah satu telinganya, sementara tubuhnya hanya bisa gemetar merasakan earphone yang dikenakannya perlahan dijauhkan dari kedua telinganya.
Earphone yang pertama.
Tas yang kedua.
Disusul satu-persatu dengan lembar demi lembar kain yang menempel di tubuhnya.
Serupa dengan ketika ia tidak menyadari semenjak kapan pria itu menyelinap di belakangnya, ia pun tidak menyadari semenjak kapan dirinya digiring ke kamar, berbaring di atas ranjang dengan sang pria bergerak di atasnya, di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. Menghantam dirinya, menimbulkan bunyi derakan yang memekakkan telinga, bukti protes dari ranjang yang digunakan—ranjang yang sama dengan yang biasa ibunya dan sang pria tiduri setiap malam.
"Haa-aahh—haa!"
Sakit.
Seluruh tubuhnya sakit, rahangnya sakit.
Tapi... Ia tidak bisa membantah kenikmatan yang menyelimuti semua itu. Ia tahu pria itu sengaja. Sengaja membuatnya merasakan rasa sakit, sekaligus bagaimana kenikmatan yang akan didapatkannya dari apa yang tengah ia lakukan. Sengaja karena tahu hal itu akan semakin membuat dirinya merasa terhina.
Teraniaya.
Rasa malu yang teramat sangat akibat merasakan kenikmatan yang sama seperti apa yang ibunya rasakan setiap malam. Dari seseorang yang sama. Dari bagian tubuh yang juga memasuki tubuh sang ibu... seperti dirinya saat ini.
Deru nafas berat terdengar tepat di telinganya, bersamaan dengan rintihan yang ia keluarkan. "Bagaimana dengan namaku, Ichigo-kun?" Panggilan nama yang penuh nafsu dan keintiman, sebelum sebuah gigitan ringan menyerang daun telinganya, membuatnya tersentak kuat karena stimulasi yang berbarengan dengan serangan tepat di sweet spot miliknya yang berada di dalam.
Ia menelan ludah, susah payah di antara nafasnya yang tidak karuan.
Ia tidak ingin memanggil nama pria itu dengan intonasi yang sama dengan yang digunakan sang ibu.
Dengan mengucapkannya saja, ia bisa merasakan rasa pahit di kerongkongannya. Tapi, ia juga tahu apa yang terjadi kalau ia tidak menurut. Karenanya ia tidak punya pilihan lain...
"... So... Sosu—kee...!"
"Tadaima."
Menutup pintu di belakangnya, secara serampangan Grimmjow melepaskan sepatunya. Tidak peduli akan kerapihan karena ia tahu nanti juga akan ada yang merapihkannya.
Berbelok ke salah satu ruangan yang ternyata dapur, ia membungkuk di depan lemari es, menggeledah bagian dalamnya dan menyeringai puas saat menemukan sebotol orange juice segar yang ada di sana. Ia haus. Perjalanan dari sekolahnya menuju rumah di tengah cuaca yang lumayan panas ini cukup membuatnya dehidrasi. Jadi, dalam beberapa teguk saja, minuman di dalam botolnya habis tidak bersisa. Ia buang botol kosong itu dengan cara melemparnya masuk ke dalam tempat sampah, sebelum kemudian kedua alisnya mengernyit mendengarkan sebuah suara.
Uhuk. Uhuk.
Pada awalnya, ia berniat tidak mempedulikan dan langsung mengambil langkah seribu menuju kamarnya. Tetapi, suara batuk itu semakin lama semakin kuat sehingga akhirnya ia mendecak, dan mengambil segelas air putih.
Masuk ke dalam kamar yang berada di ujung salah satu lorong rumah, kedua alis Grimmjow mengerut.
Benci.
Berjalan mendekati ranjang yang berposisi tepat di tengah ruangan, bisa ia rasakan isi perutnya naik, membuatnya menekan bibir dalam satu garis lurus. Dan menahan keinginan memencak ketika sepasang iris kelabu menatap lemah ke arahnya.
Benci.
Ia benci.
Tidak ada sepatah kata pun yang terlontarkan, hanya keheningan. Sosok wanita yang berbaring di ranjang kini berusaha untuk duduk. Nampak kesusahan. Tapi Grimmjow sama sekali tidak tergerak untuk membantu. Ia hanya diam mematung, pandangan mata lurus, tangan menggenggam segelas air putih dengan erat. Dan baru ketika tangan kurus sang wanita terjulur, ia bergerak. Memberikan gelas dalam genggamannya, dan berbalik.
Ia langsung keluar ruangan tanpa menunggu apa pun lagi.
Rasakan.
Ia banting pintu kamarnya, menyetel radionya dengan suara yang maksimal, membiarkan musik Linkin Park membahana di dalam kamar, lalu menjatuhkan diri di atas ranjangnya yang berukuran King size.
Menatap langit-langit kamar dengan tatapan tajam, seolah langit-langit kamarnya telah berbuat sebuah kesalahan yang sangat besar,
Rasakan. Rasakan.
Wanita itu pantas mendapatkan takdir sisa hidup yang tidak sampai satu tahun lagi.
Rasakan.
