Sebuah kisah cinta segitiga diantara dua hubungan yang telah terjalin sebelumnya (kakak-adik dan persahabatan). Ketika kau berada di tengah, haruskah mengalah dan membiarkan jalinan hubungan itu tetap utuh, yang berarti menyakiti diri sendiri. Ataukah mementingkan ego dan mengorbankan keutuhan hubungan sebelumnya? Dengan konsekuensi menyakiti orang lain yang kau sayangi. Mana yang kau pilih?

.

.

.

Hurts

This story purely mine

Naruto Masashi Kishimoto

Pairing : SakuKakaHina

Genre : hurt/comfort, angst, romance, friendship

Warning: OOC, gaje, miss typo, dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Tidak terima flame yang menyangkut PAIRING. Kalau tak suka dengan pairingnya silakan tekan tombol back. :D

DLDR!

.

.

Happy Reading! ^^

.

.

Chapter 2

.

.

Sakura terus berlari sambil menitikkan air matanya. Melewati tangga samping rumah yang sedikit sepi. Tentu saja untuk menghindari berpapasan dengan para pelayan yang disewa untuk persiapan pernikahan kali ini.

Genangan air mata di matanya mengakibatkan pandangan sedikit kabur. Sesampainya dianak tangga terakhir kakinya sedikit terpeleset.

"Kyaa!"

Tapi untunglah otaknya masih cukup normal dan tanggap, tangannya masih sempat meraih pegangan tangga, hingga dia pun tak perlu lagi merasakan 'sakit' yang lainnya saat ini.

"Sakura, kau tak apa?"

Suara bariton yang sarat akan kecemasan dari ujung tangga yang lain menyadarkan Sakura tentang keadaannya. Buru-buru jemarinya mengusap jejak aliran air mata diwajahnya. Kelopak matanya mengerjap dengan cepat. Berusaha agar cairan menyedihkan ini tak terlihat oleh laki-laki itu.

Sakura membalik badannya dan menengadahkan wajah agar dapat melihat sang pemanggil tadi. Seulas senyum paksa tergambar bibirnya. Tak sadarkah ia bahwa senyumnya itu terlihat mengerikan?

"Itachi-nii? Oh, tenang saja. Aku tak apa." Kembali senyum paksa itu terukir.

Itachi segera melangkah menuruni tangga. Rambut hitamnya yang panjang dan dikuncir sedikit bergoyang saat tertabrak angin. Sepasang iris malamnya menatap tajam pada gadis diujung tangga sana.

Sakura sedikit kikuk saat Itachi mendekat. Ia takut pemuda itu menyadari matanya yang masih sembab.

"Kau menangis." Itachi tak bertanya, ia hanya mengungkapkan.

"Haha.. Kau bercanda Itachi-nii. Aku hanya sedikit shock tadi karena hendak terjatuh." Sakura berusaha tertawa. Meski ia tahu tawanya terdengar hambar.

"Kau tahu maksudku. Aku melihatnya tadi." Itachi tetap tak mengalihkan iris onyx-nya dari ekspresi Sakura.

Tubuh Sakura sedikit menegang. Mungkinkah Itachi meliatnya menangis setelah kaluar dari ruangan Kakashi? Apakah ia tahu tentang perasaannya untuk Kakashi? Ah, sepertinya itu hanya perasaannya saja. Sakura menutup sejenak kelopak matanya dan tersenyum, dengan mengendikkan bahu.

"Ah, bagaimana keadaanmu? Ada yang terluka?"

"Seperti yang kau lihat, aku tak terluka sama sekali kan?" Sakura menjawab dengan ceria persis seperti gadis lima tahun yang mendapatkan hadiah. Berbeda 180 derajat dengan senyuman yang tadi.

Itachi mengangguk. "Hn."

"Luka didalam itu tak terlihat, tapi terkadang sakitnya melebihi yang diluar. Bukan dokter ataupun orang lain yang bisa menyembuhkan luka itu. Tapi dia sendirilah yang harus mencari obatnya. Karena hanya dia yang tahu apa yang bisa memperparah lukanya atau menyembuhkannya."

Itachi kembali menaiki tangga, meninggalkan Sakura mematung disana. Dia sadar tak seharusnya dia ikut campur.

Tapi dia tak habis pikir melihat kawan peraknya yang selalu mengatakan bahwa ini yang terbaik untuk Sakura. Tak sadarkah ia bahwa cintanya itu tak sendiri? Cintanya sudah bersambut sejak kapan dulu Itachi sadar telah jatuh hati pada Sakura. Tapi dia sadar gadis itu hanya menganggapnya kakak, tak pernah lebih.

Dan demi Tuhan, teman-peraknya-sungguh-tak-peka.

.

.

.

Kakashi hanya memandang kepergian gadis itu dengan diam. Mulutnya mengambil napas dengan rakus untuk menormalkan paru-parunya setelah tanpa sadar ia menahan napas saat adik pink-nya berlari menerjang pintu. Gadis itu pergi meninggalkannya.

Kedua kelopak matanya menutup. Kepalanya kembali berusaha menguak memori enam bulan yang lalu.

.

.

.

Seorang berambut perak terduduk nyaman di sofa samping pintu balkon kamarnya. Menikmati semilir angin musim gugur yang membelai helaian peraknya. Ditemani buku cetak bersampul orange ditangan kanan, sedang tangan kirinya menyangga dibelakang kepala. Waktu diluar memanglah sudah gelap.

Tapi dia tak peduli. Dia terlalu fokus dengan buku dihadapannya hingga tak menyadari penghuni lain dikamar itu tengah menguap bosan.

"Ne, Nii-chan kau pernah jatuh cinta?" suara dari arah ranjangnya memecah konsentrasi sang perak.

"Hm? Apa kau sedang jatuh cinta, Saku?" Kakashi, yang dipanggil nii-chan itu menyahut tanpa melepaskan irisnya dari huruf tersusun dibuku bacaannya.

"Ah! Ti-tidak kok." Jawaban spontan dari Sakura sedikit mengundang perhatian Kakashi. Sakura tak menyadari bahwa Kakashi memperhatikannya. Ia segera membalikkan badannya menjadi terkurap dengan wajahnya yang ia sembunyikan dibalik guling yang sebelumnya ia gunakan untuk menyangga dagunya saat terlentang. Menghindari kalau-kalau Kakashi memperhatikan ekspresinya tadi.

Beberapa saat sakura tak mendengar jawaban dari kakaknya. Ketika mendongakkan kepala merah jambunya ia mendapati kakashi sedang menyimpan buku favoritnya di rak khusus. Dia hanya memperhatikan apa yang Kakashi lakukan.

Bahkan dia hanya menatap kakashi saat berjalan dan berdiri disamping ranjang –tempat ia berbaring. Tangan besarnya mengusap lembut helaian merah muda sakura. Sakura hanya diam menerima perlakuan lembut kakaknya. Kelopaknya matanya turut menutup. Nyaman. Dan merasa dikasihi. Memorinya kembali melayang saat ibunya sering mengusap kepalanya. Nyaman dan am-

"Ough!"

Kakashi terkekeh menyaksikan adik kesayangannya tengah kesakitan akibat sentilannya tepat didahi Sakura.

"Kashi-nii sakit tauk." Tangannya mengusap-usap karya jemari kakaknya. Bibirnya mengerucut. Ngambek.

"Jadi, siapakah yang sudah membuat adik galakku ini jatuh cinta, hm?" Sang pemuda bertanya dengan ekspresi menggoda. Ia menaikkan sebelah alisnya.

"Huh! Bukan urusanmu," Sakura menjawab dengan ketus dan membuang muka kearah yang berlawanan dengan tempat duduk Kakashi.

"O, ya? Palingan dia hanya pemuda yang sangar, sadis, lebih kasar darimu-" "-aku tidak kasar!"

"Ah, oke. Oke. Dia itu-"

" –Dia itu adalah cowok yang menyebalkan, pemalas, dan pengeran-yang-tak-peka. Ups!"

Segera tangannya menutup bibirnya yang dengan kurang ajarnya hingga keceplosan.

Kakashi yang tak menyangka Sakura akan sebegini jujurnya menjawab. Lebih dari sepuluh tahun mengenal Sakura tak pernah sekalipun dia menceritakan kepadanya tentang pemuda yang disukainya. Terkecuali saat ini. Dan ini kali pertamanya. Meskipun secara keceplosan.

"Ah, apa aku mengenal pangeran-tak-pekamu itu?"

Meskipun Sakura sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan ini, hatinya tetap belum sanggup untuk mengungkapkannya. Suara ketukan dari pintu setidaknya menyelamatkannya malam ini.

Dengan malas Kakashi menyuruh pengetuk pintu itu untuk masuk.

"Ada apa Ayame?"

Ayame membungkuk sejenak sebelum menyampaikan tujuannya. "Permisi Kakashi-san dan Sakura-san, makan malam sudah siap dan Sakumo-sama sudah menunggu diruang makan."

"Kami segera turun."

.

.

.

"Pangeran-tak-peka, eh?"

Kakashi mendengus sebal. Ternyata dia memang sudah kalah dari dulu-dulu. Mungkin keputusan untuk menerima perjodohan ini adalah yang terbaik. Dengan begini dia tak perlu susah-susah untuk mencari pengganti Cherry-nya. Gadis yang beberapa tahun ini selalu mendiami hatinya. Berada didekatnya. Tersenyum, tertawa berasama. Dan menangis bersama –ah, tidak. Tepatnya hanya gadisnya yang beruarai air mata saat kematian ibunya dan ayah'nya'. Sedangkan dia hanya mendekap erat-erat gadis itu. Meski hatinya saat itu juga menangis.

Sejak kematian ayahnya, Kakashi berjanji akan melakukan apapun untuk membahagiakan Sakura. Walaupun dengan begitu dia harus merelakan Sakura untuk berbahagia dengan siapapun pangeran-tak-peka-nya itu.

Awalnya Kakashi belum menerima perjodohan ini. Sampai sebelum ayahnya meninggal yang memberi pesan untuk menjaga Sakura, dan menerima perjodohan ini. Sakura saat itupun hanya menangis dan meminta Kakashi untuk mengiyakan permintaan terakhir ayahnya.

Sejak saat itu Sakura menyadari bahwa ia telah kehilangan keduanya sekaligus. Ayah yang disayangi dan dihormatinya seperti ayah kandungnya sendiri dan pangeran-tak-peka-nya.

Terlalu terhanyut dalam memorinya hingga ia tak menyadari seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Seorang laki-laki yang berdiri menyender di samping pintu kamarnya. Kedua tangannya melipat didada.

Ketika sepasang heterokromia-nya kembali terbuka langsung disambung sepasang iris malam didepannya. Hening melanda ruangan itu. sama seperti sebelum kakashi melihatnya.

.

.

.

Di kamar yang bernuansa lavender di salah satu sudut di mansion Hyuuga, berdiri seorang gadis beriris lavender tengah menatap kagum pantulan dirinya di cermin. Dia terlihat begitu cantik dengan gaun putih strapless dengan akses permata disamping kiri gaun, dan bagian bawah gaun yang bertumpuk. Gaun yang simple namun tak mengurangi kenggunannya. Kemudian rambut indigonya yang digelung semakin menambah kesan elok padanya. Hasil riasan Ino, sahabatnya yang lain, memang tak perlu diragukan.

Senyum bahagia tak bisa pudar dari bibirnya. Terutama saat memnayangkan bagaimana reaksi Kakashi nanti saat melihat dirinya di altar. Pipinya pun semakin memerah, karena sebelumnya memang sudah memerah karena blush on.

Senyumnya perlahan memudar menatap laci terujung di meja riasnya. Pasalnya sekarang disana tersimpan buku bersampul pink 3dimensi dengan gambar bunga sakura. Kemudian dibagian atas cover terdapat tulisan "The Cherry's Private Journal".

Sekali lihat saja Hinata sudah bisa menebak siapa pemilik buku itu. Yang tak lain adalah salah satu sahabatnya, Sakura.

Hinata beranjak dari tempatnya berdiri menuju tempat buku itu berada. Tangannya sedikit ragu untuk meraih handel laci. Kemudian menariknya perlahan. Rasa penasaran itu mulai menggelitikinya untuk mengetahui isi buku.

Tak sampai semenit kemudian buku pink itu telah beralih keatas meja rias. Perlahan jemari lentiknya membuka lembar sampulnya. Lembar pertama tertulis lagi dengan pena perak lagi tentang kepemilikan buku ini.

Diperhatikan lagi buku ini. Hatinya kembali meragu.

'Sebaiknya aku simpan saja.'

Ketika hendak menyimpannya kembali tak sengaja kakinya tersandung kaki kursi, hingga pegangan pada buku itu terlepas dan jatuh terbuka. Perlu lebih merunduk untuk menjangkaunya. Tanpa sengaja iris lavender miliknya menangkap frasa yang tak asing untuknya.

'Pangeran-tak-peka?'

Mungkinkah ini? Oh.. Hinata menutup bibirnya dengan jemari kanannya.

Ada rasa yang mendorongnya lebih untuk membaca buku itu. Tapi sebagian inner ada yang melarang.

'Ingat, itu privasi orang. Kalau Sakura belum menceritakannya denganku berarti dia belum siap untuk menceritakannya.'

'Kapan lagi aku bisa mengetahui siapa pangeran-tak-pekanya Sakura. Kalau aku tahu siapa dia siapa tahu aku bisa membantu Sakura untuk mendapatkannya.'

'Yah, mungkin tak masalah kalau aku tahu sedikit.'

.

.

.

Mungkin ini konyol. Aku mempunyai sahabat yang baik padaku. Setia kawan, dan kami selalu berbagi apapun. Ya, apapun. Tapi tidak untuk yang ini. Aku belum siap sahabatku tahu.

Sewaktu di kamar Kakashi, aku sempat menceritakan –atau lebih tepatnya keceplosan- tentang pangeran-tak-pekaku itu. Menyebalkan memang. Karena dia memang benar-benar tak peka.

Aku menceritakan tentang seseorang padan orang itu sendiri.

Dan. Dia. Tidak. Mengerti.

.

.

.

Lembar selanjutnya.

.

.

.

Tuhan, tolong tenangkan hatiku kini Tuhan.

Berita yang kudengar dari Ayah sungguh membuatku hancur.

Rasanya perih.

Seolah jiwaku telah pergi separuhnya.

Kakashi, sang-pangeran-tak-pekaku dijodohkan oleh Ayah dengan salah satu putri sari dari keluarga Hyuuga.

.

.

.

Hinata tak sanggup lagi membaca kelanjutnya. Tanpa perlu membaca pun dia sudah mengetahui.

Hinata merasa gagal sebagai seorang sahabat. Dia telah menghancurkan kebahagiaan seseorang yang telah dianggapnya sebagai sahabat.

Dia marah, kecewa, benci, semua bercampur menjadi satu. Kepalanya terasa berat. Hanya satu yang terpikirkan olehnya saat ini. Jemarinya meraih handphone disampingnya. Menekan nomor yang sudah dia hafal diluar kepala. Menekan tombol Dial dan tersambung. Tak menunggu lama seseorang diseberang sana sudah menjawabnya.

"Ino..."

.

.

.

TBC

.

.

.

Big thank saya ucapkan untuk yang sudah review chapter kemaren.

Chapter ini aku persembahkan buat Lucky yang udah nerror aku lewat fb buat update fic ini. Tapi, serius Ky, tanpa terror darimu mungkin ini belum bisa update sekarang. Hehe.. #geplaked. Big thank for you Lucky. #hug.

Dan untuk kalian yang menunggu kelanjutan fic ini. #emang ada? :D

Big thank juga buat yang sudah baca apalagi bersedia meninggalkan jejak. (^_^)

Saya tahu fic ini masih banyak kekurangan, salah ketik juga masih saja nongol. Padahal sudah dikoreksi dan baca ulang. T_T

Review?

Baik berupa kritik dan saran sangat diterima. Flame? Harus dengan alasan yang logis.

Thanks for reading! ^^

Arai Kazura