A/N: cerita ini akan sangat membingungkan sebagai awal, tapi saya memang sedang berusaha menciptakan nuansa 'weird' tentang Sora dan Riku.
"W-ah!" Seruan sebareng hempas selimut, dan —
"GABRUK!"
"Ouch-ouch-ouch..." erangan sesosok pemuda ceking yang beranjak bangun dari lantai, dan —
"JDUG!"
Meja belajar sedikit terdorong oleh efek momentum, berbagai pajangan action figure pada rak yang tersambung meja pun bergoyang dan sebuahnya jatuh tergeletak di permukaan meja.
"OUH!" Suara erangan yang sama.. milik Sora, dan tubuh ceking itu meringkuk seraya jemari kedua tangan memegangi kepala yang tadi terjedut pinggiran meja. "Aaarghhh..." erangan panjang sekali lagi berkumandang akibat sakit cenat-cenut sekaligus kesal karena bisa-bisanya saja pakai acara jatuh ke lantai.
Setelah berusaha hati-hati terhadap benda-benda di dekatnya, Sora kini memperjelas fokus di tengah suasana remang.. ruangan yang tidak asing segera mengisi bingkai pandangannya — tentu saja tidak asing, INI kamarnya!
"Haaa..." Sora berakhir menghela nafas panjang, entah lega.. namun anehnya jemari tangan kanannya secara absen mulai mengelus dadanya yang terkesan perih.. jauh.. jauh di lubuk hati. Semakin aneh, sengalnya masih memburu, dan tadi.. rasanya seolah-olah nyata, meski sejelasnya.. kepastian di detik SEKARANG...
Oh ya, mimpi?
Sora pun duduk mencari relaxasi, juga menenangkan nafas dan menatap jendela di sebelah ranjang. Gorden yang tidak tertutup sempurna menampilkan suasana malam yang masih pekat, dan disana.. sebuah bulan sabit berwarna perak tersemu dalam pergerakan awan-awan hitam.
Bila merekon penampilan perak.. pada sejenak detak, sesuatu yang janggal terbesit di benak.
Sora sejujurnya tidak pernah berpikiran serius tentang apapun versi kembang tidur. Tapi yang barusan terpapar SERIUS memberikan pertanyaan, karena DIA.. SIAPA DIA? —
Kenapa Sora merasa SANGAT mengenal pemuda itu?
...
"I've been having these weird thoughts lately...
...like is any of this for real or not?"
Bab I. HIM.
"Ne, Kairi,"
Suara Sora membuat gadis berambut merah yang duduk di sebelah Sora mengguman "hm?" walau tatapan terkunci pada lembaran buku yang berada di atas meja.
"Menurutmu, mimpi.. mungkinkah menandakan sesuatu?"
Pertanyaan Sora terdengar mengambang, namun Kairi berakhir menoleh dan menyempatkan berpikir, lalu mengemukakan jawaban beralur canda. "Tergantung sama yang digantung. Temanya apa dulu?"
"Mm..." guman Sora, masih terkesan mengambang dan sarat menjurus pada pertimbangan pribadi. Bagi Kairi yang mengenal Sora semenjak usia TK, sudah barang tentu kali ini memberikan perhatian eksklusif.
"Tidak biasanya bersikap suntuk untuk sekedar mimpi," komentar Kairi sembari menopangkan pipi kiri pada telapak tangan kiri, sementara jemari tangan kanan mengangkat ponsel sejenak.. hanya untuk menatap jam digital yang tertera di layar. "Memangnya mimpimu sebegitu buruk?" Pembahasan lanjutan agar pertunjukan atensi dapat membuka apa yang menjadi pelik pikiran di kepala berambut spiky di sebelahnya ini.
"Dibilang buruk sih.. sebenarnya tidak juga," utaraan Sora sesaat tatapan tertuju pada sekumpulan siswa-siswi berseragam yang asik bersenda-gurau tidak jauh dari meja ini berada. Kafetaria ini sendiri sudah tidak lagi terasa ramai, pertanda bahwa sebentar lagi bel masuk sekolah akan berbunyi.
Sejalan melihat-lihat nuansa ruangan sebesar lapangan tenis ini, Sora sedang berusaha mengingat bab mimpinya sekaligus mencoba menerangkan untuk sekedar acuan ilustrasi. "Rasanya seperti terjatuh dalam kegelapan. Yang aku bingung.. seorang sosok memanggilku dengan panik, seolah-olah mengenalku dan berusaha.. menyelamatkanku? Entahlah, Kai. Pastinya aku tidak mengerti apa yang terjadi disana."
Kairi mengangkat kedua alis, dan mengomentari masih beralur canda. "Dan~ seorang sosok ini.. perempuan kah?"
Kala menoleh ke Kairi, Sora menyunggingkan senyum atas pemilihan inti topik dari kalimatnya tadi. "Kalau iya, berarti kira-kira tandanya apa dong?" Balasan yang dikembalikan sangat berkadar menggoda.
Kairi sebagai kekasih semenjak setahun ini, kini mendesah seraya menutup buku pelajaran yang tadi menjadi fokusnya. "Kuharap tidak cantik. Soalnya sedari tadi, tumben-tumbennya tampangmu serius begitu. Tapi kalau mau mencari tahu arti mimpi, kenapa tidak tanya ke Yuna? Kalau tidak salah tantenya ada yang bisa membaca kartu Tarot."
Merasakan intonasi cemburu di setiap untaian kata, Sora segera merangkulkan tangan kirinya ke pinggang Kairi dan melimpahkan pelukan berpesona cinta sebanyak-banyaknya. "Ya elah, Kai. Tidak seperti aku bakal serepot itu cuma buat arti satu mimpi."
"Ha-ha. Aku ingin melihat apakah satu hari ini kamu masih memikirkannya," timpal Kairi, sedikit berkesan sarkastis, tapi rona canda tetap tergambar pada mimik. Toh Kairi memang SENGAJA mencoba menceriakan suasana hati kekasihnya agar tidak terlalu larut dalam tahayul.
Sora juga berniat menyelesaikan apapun judul pembahasan disini. "Eh Kai, aku mau mencari Tidus dulu. Tadi dia meminjam catatanku," berikutnya mencium pipi kanan Kairi, kemudian beranjak berdiri dari kursi panjang sembari mengalungkan tas ransel. "Sampai ketemu di jam ketiga, 'kay."
Dengan pernyataan salam itu, Kairi hanya membalas "'kay~". Setelah Sora berjalan keluar ruangan kafetaria, Kairi membereskan barang-barang miliknya yang tergeletak di atas meja. Sewaktu beranjak berdiri, Kairi mendengar sekilas rangkaian kata dari sosok yang lewat di belakangnya.
"...Ah brengsek lah, sudah kubilang TIDAK, kan? — HA! Baik, kamu mau bermain sekarang huh Ri?"
Terdapat gelitik terhadap penyebutan 'Ri'. Atas asumsi nama, maka Kairi pun menoleh dan bingkai pandangannya menemukan pemuda jangkung berambut spiky merah api sedang berbicara menggunakan media ponsel — tampaknya siswa senior. Kairi tidak mengenalnya dan merasa tidak perlu menginterupsi apapun semenjak petunjuk nama bukan tertuju untuknya.
Meski begitu, Kairi tidak dapat melepaskan perhatiannya terhadap pemuda jangkung itu karena sekilas terdapat perih di lubuk hati seperti.. sesuatu yang hilang.
Sedetik berikutnya, fokus Kairi teralih bertepatan panggilan dari Naminé.
...
Pada lobby lantai dasar gedung sekolah.. langkah kaki Sora dibarengi beberapa siswa, namun mereka tidak lebih sekedar lalu bersama urusan mereka masing-masing. Sora biasa menyapa ke mereka yang mengenalnya — sejelasnya selalu biasa-biasa saja.. berkategori apa adanya dan tidak pernah berpikir ribet yang tidak jelas juntrungnya.
Tapi kali ini terdapat nuansa yang berbeda selayaknya ada hal salah dengan atmosfer di seputarnya. Mungkin hanya perasaan — terbawa kesan dari mimpi semalam: kegelapan, remang.. atau malah mungkin pertanda?
Yang mana penempatan 'pertanda', Sora berakhir menggeleng pendek dan mendesah lelah.
Ada apa dengannya?
Anehnya Sora tidak bisa melepaskan pertanyaan 'siapa' dan 'kenapa'. DIA — entah kenapa Sora INGIN bertemu dengan pemuda itu kembali. Penasaran? Tidak juga. Gundahnya tersebab karena dirinya positif sewaktu itu.. satu nama hendak keluar dari mulutnya. Nama DIA.
Praduga ono-ini terus bergejolak dalam benak beserta otak sepanjang menaiki anak tangga menuju lantai dua, dimana lab kimia berada...
...bahkan Sora tidak menyadari kalau DIA berpapas dengannya.
...
