A/N: Riku dan Axel di cerita ini kelas senior dan lumayan bersituasi 'kacau' (untuk Axel, saya sejujurnya mau memakai nama 'Lea' semenjak mode para karakter yang saya bayangkan adalah KH:3D non-dream).
Terpecah dari pembahasan warna...
Putih selalu menjadi pokok fluktuasi. Mungkin didasari dari ironi karena putih.. berarti mati.
Tidak ada yang mengerti setiap sisi, begitu juga pemuda bertubuh atletis yang terfavorit para gadis — Riku PUN berharap bisa mengerti kenapa berdiri begini.
...
"At least the waves sound the same..."
Bab II. EDGE.
"...A-.. Ax-..."
Suara Riku terpatah-patah oleh sengal, meski begitu sekujur tubuh berupaya menyembunyikan gemetar. Sedangkan pemuda berambut spiky merah api yang berposisi di antara kedua kaki Riku merespon "hm?" tanpa menghentikan gerakan lidah melulur permukaan benda berukuran panjang 8,7 inci.. berlanjut memfleksibelkan rahang kala mulut menelan diameter 2,8 inci.
"Oh-.. oh...!" Riku memejam erat seketika mendongak. "Oh, fuck-.. ngh-..." erangan Riku pekat tersamar engah bertepatan ujung kepala penis mencapai pangkal kerongkong Axel, dimana efek tekanan ketat plus vibrasi kehangatan semakin memperparah tingkat sambaran mirip tersetrum akibat temperaturnya yang meriang tidak karuan.
"Ax-.. ah, bangsat-..." sumpah-serapah bersama erangan kacau terus-menerus terangkai dari mulut Riku. Indera perasa Riku benar-benar berantakan selama tiga jari Axel beraksi sekasar mengobok-obok — menggesek dinding anusnya sekaligus memaksa kualitas rangsangan yang berulang kali terdefinisi bentrok.
Riku stres tersebab limit, namun minus kategori seksual.. walau penisnya bereaksi akibat stimulasi yang diberikan Axel dan memperkeruh campur-aduk ngilu baik pada tulang beserta persendian, perih dan perih.. sampai Riku tidak kuat lagi sewaktu meringkuk, menggigit bantal disertai erangan keras yang tertahan dan sepenuhnya berkadar meminta.
Axel sendiri masa bodoh sewaktu rintihan Riku bertambah keras. Dengan kondisi Riku, dimana terbaring di ranjang dengan porsi kemeja tidak terkancing dan tanpa kenaan bawah, juga kedua lengan di belakang tubuh terikat sabuk dan kedua pergelangan kaki terikat lilitan kain perban.. sejelasnya Axel bebas memperagakan apapun. Sedari tadi jemari tangan kirinya mencengkeram paha kanan Riku agar lowong tetap terbuka baginya, sementara permainan oral dan kegiatan ketiga jarinya berjalan tanpa jeda.
"...aaaaahh! Ax-.. aahhh-.. sedikit KUMOHON...!"
Teriakan frustasi Riku membuat Axel SEKALI LAGI menelusurkan raupan mulut mencapai pangkal penis, kemudian kembali ke pucuk. Begitu bibir melepaskan apit, batang tegang itupun meloncat dari katup mulut disertai efek suara "pop!", dan Riku mengejang sesaat ketiga jari dikeluarkan tanpa konsiderasi.
Axel kini maju merangkap tubuh Riku seraya menanggapi secara tingkah kesal. "TIGA minggu, Ri! Posisiku SAMA denganmu. Semenjak pertama aku berbagi, ITU untuk menyamankan apapun perasaanmu. Kenapa harus ditambahkan begini, huh? Lihat dirimu!" Utaraan tertuju pada kulit putih sepucat kanvas yang minus pengertian mulus karena banyaknya bekas-bekas luka sayatan, baik lama beserta baru —
Oh ya, Riku SERIUS dengan semua itu DAN Axel JUGA stres menyaksikan sisi destruktif yang dilakoni Riku sebagai pelarian.
"Ide fuck buddies, sampai rasionalmu yang tinggal sebatas garis — oh, ITU harafiah. Aku berusaha move on, brengsek! Dan Aku. SUNGGUH. Menyukaimu. Karena itu kalau aku bilang TIDAK, berarti: Tidak. Lagi. Bisa mengingat itu?" Lanjut Axel.
Pertanyaan berupa pernyataan khas Axel benar-benar berinti ultimatum. Tapi Riku MASIH merintih seiring menghibahkan tatapan sayu.
"Please, Ax..."
Sejauh Axel menolak bersikap 'mister nice guy', namun di detik melihat lubang kiri hidung Riku mengeluarkan lelehan darah yang mengotori kain bantal...
...Axel pun menghela nafas panjang.
"Shit.. huh? Kamu — KITA sungguh fucked up," ucap Axel saat duduk meraup wajah, berikutnya mendesah lelah kala mengambil sebuah plastik kecil dari saku celana dan menunjukkannya ke Riku disertai wanti-wanti. "Sekali ini. HANYA sekali. Setelah ini.. kalau sampai aku melihatmu memakai lagi di luar aturanku, atau melukai dirimu sendiri.. aku akan memborgolmu di kamar mandi dan mengguyurmu dengan air shower satu hari penuh — Hell, mungkin satu minggu kalau perlu!"
Axel kemudian membuka penutup plastik dan menjumput sedikit isi berupa bubuk putih untuk dihisap oleh hidung Riku. Begitu menerima incip, zat adiktif membuat Riku tidak sabar dan berusaha mengendurkan ikatan sabuk.
"Hei, tahan sampai jam pertama selesai oke," bisik Axel sewaktu plastik diletakkan di atas meja di samping ranjang, berikutnya Axel mencium mulut Riku sembari jemari kedua tangan bekerja mengambil satu sachet kondom dari saku celana dan menyobek pembungkus menggunakan bantuan gigi.. lalu membuka sabuk sekaligus celana panjang seragam, diteruskan memasang kondom pada penis sepanjang 10 inci miliknya.
Sementara Axel menyibukkan diri mempersiapkan segalanya, Riku mulai mendapatkan sensasi berdiri sejarak jengkal dari buaian euphoria — HANYA sejumput rasa sama sekali TIDAK memenuhi, namun cukup menenangkan gemetar dan ngilu. Riku pun mencoba bersikap manis dengan menanggapi, juga mengembalikan suguhan berperforma tidak kalah sensual.
Menyaksikan Riku mempertontonkan tingkat antusias sejalan fase rileks, Axel tersenyum arti atensi kala menempatkan kepala penisnya dan memasukkannya perlahan demi perlahan ke dalam liang dubur Riku.
"Mmmh.. hot..." Riku mendesah nikmat bertepatan momen rangsangan 'penuh' dari segi ukuran dan segi temperatur menjalar ke seluruh syaraf tubuhnya.
Axel sepenuhnya sadar bahwa INI — memperpanjang situasi dari apapun makna, sampai perlakuan intimasi adalah kesalahan TOTAL. Setidaknya INI jauh lebih baik ketimbang Riku memilih memotong nadi, atau meloncat dari gedung tertinggi.
Bagian terbaik dari tiga minggu INI? Axel menerima banyak keuntungan dari sisi perlakuan 'harga', dan luar biasa.. berakhir jatuh cinta di ambang putus asa — KEDUANYA. Riku sendiri beradaptasi tanpa faktor logika karena Axel tidak sekali untuk urusan berbagi, atau meniduri, atau mengultimatum, atau terkadang menghajar, atau bahkan mengikatnya dan membiarkannya dalam keadaan sakauw berhari-hari.
Pastinya baik sisi Riku, maupun sisi Axel.. keduanya tidak ada yang perlu merasa tanggung untuk memanfaatkan masing-masing sisi.
Dan INI merupakan penantian Riku, dimana fungsi napza berbaur aktif dalam intensitas ekspresionis pada setiap gesekan, setiap ritme gerakan memacu, setiap intonasi suara — SEMUA terjabar dalam warna...
...putih.
Jika berpadu pemandangan serba putih dari ruangan UKS ini.. BEGINI; menjadikan diferensiasi rona dan penampilan bayangan terasa nyata, timbul dan berada disana.
Mereka adalah imajinasi fakta.. mimpi buruknya; bagian dari dirinya karena hitam selalu membawa satu cerita.
Sora.
...
