"..NGGHHH!"

Kain lepek terus digerat oleh baris gigi, air ludah mengalir dari bibir Riku.. sementara suara gerakan berulang kali berpadu suara "ngik!" dari siku-siku ranjang berbingkai besi.

Tubuh Riku meringkuk berposisi 'doggy style' tanpa tumpuan tangan, dimana bidang dada merata pada permukaan ranjang dan otot-otot sekujur tubuh secara konstan mengejang dan merenggang selama hentakan.

"..HAA- NNHH-.. MMMMFF...!" Erangan Riku terlalu patah tersebab dari air mata tidak berhenti mengalir, juga diperparah oleh situasi lubang kiri hidung tidak berhenti meneteskan darah sehingga bercak-bercak merah terdapat pada kain seprei yang kisut.

Sepanjang itu, pemuda berambut spiky merah api tidak berhenti mencium, mengulum, menggigit kulit punggung Riku.. jemari tangan kiri meraba, mengeruk, mencakar.. sementara jemari tangan sepasang meremas rambut perak dan menjambak sekaligus menekan kepala Riku selama memaksakan gerakan — cepat-cepat-cepat dan dalam.

"..MMMHH! NGGH...!" Erangan Riku terus mengiringi setiap laju irama maju-mundur dari pasangan intimasi.. Axel berposisi berlutut di belakang Riku, dan Riku melayang dalam gelora kenikmatan gesekan yang terus terjadi dalam liang duburnya, meski bagi Riku SEMUA terasa rancu oleh pengaruh napza yang perlahan demi perlahan memudar, dan Riku tidak sanggup menikmati mereka menjamah sekujur tubuhnya — mencium, mengulum, menggigit, meraba, mengeruk, mencakar, meremas, menjambak.. membawanya tenggelam dalam awang-awang sukma...

"..AANH-.. HAA!"

Riku bahkan tidak sanggup memejam seketika mereka mengelilinginya, mengerubunginya.. terus.. terus.. terus...

Axel mendadak mendesis sepatah kata "fuck...!" berbarengan jemari kedua tangan menarik kedua lengan Riku. Tubuh Riku mengejang syok sewaktu terbawa kasar ke posisi duduk pada pangkuan Axel, dan Riku spontan membelalak atas ukuran panjang yang mengenainya telak.. sangat dalam sekaligus MEMENUHINYA —

"HAGH-.. AKH...!" Riku pun merintih seketika Axel menekankan LEBIH atas momen ejakulasi, dan sekejap ganjalan KUAT mendesak prostat...

...Riku sungguh —

"NNNGGHH!" Erangan tertahan terlepas dari mulut Riku yang sedari tadi ter-gag oleh saputangan, dan Riku merenggang reflek begitu air mani miliknya melesat.. bertepatan bingkai pandangannya mendapatkan ilustrasi mereka tiba-tiba serempak bergerak distorsi — berteriak di seputarnya, berusaha berpaut padanya, mengekang brutal, menarik bagian-bagian tubuhnya dari semua penjuru arah.. TERUS.. TERUS.. TERUS.. sepelik kemarahan...

MEREKA —

MELEMPARNYA keluar dari perbatasan abstrak dan membawanya pada FAKTA wahana...

...bahwa dirinya kehilangan Sora.

...

"...That's why we need to go out there and find out. Just sitting here won't change a thing."

Bab III. FALLING.

"PRANG!"

Seluruh siswa-siswi yang berdiri dalam lab kimia menoleh ke tabung kaca berukuran 19 centi yang pecah di lantai. Sedangkan pemuda berambutspiky pirang.. Roxas di samping Sora kini memandang dengan terkejut, sementara Sora secara reflek buru-buru memungut, dan —

"OUCH!" Seru Sora seketika potongan kaca menyobek kulit telunjuk tangan kanan, dan sekejap darah mengalir ke sepanjang jari.. butiran merah yang menetes membawanya pada kilas gambaran kubangan darah dan nuansa tempat berbeda...

"..Sora... aku disini-.. aku disini, Sora..."

...ITU tidak urung membuatnya tertegun karena wajah pemuda berambut perak — wajah panik yang sama saat di dalam mimpi, lalu tangan bersimbah darah yang hendak meraihnya; DIA terlihat di antara potongan-potongan klise selayaknya nyata.

"Hei, kamu tidak apa-apa?"

Suara menyela, Sora pun mengalihkan fokus ke sumber suara, dimana Roxas tahu-tahu memegang pergelangan tangan kanannya agar dapat melihat lukanya. Sora segera tersenyum untuk menandakan bahwa semua baik-baik saja.

"Hanya tergores kok," kata Sora sembari berdiri.

Roxas menggeleng sesaat. Pastinya lab kimia dan luka bukan kombinasi, maka Roxas menyarankan. "Sebaiknya itu dibersihkan dulu, biar aku yang membersihkan ini."

"'Kay. Kalau 'gitu aku ke UKS dulu," sahut Sora.

Setelah meminta ijin pada guru kimia yang menyempatkan diri melihat apa yang terjadi barusan, Sora berjalan keluar ruangan.

...

Dalam ruangan UKS...

"AAAAAAAAGGHH!"

Suara jeritan di balik sumpal.. Axel langsung menahan Riku yang mendadak berontak seperti menggila. "RI! Hoi, RIKU!" Seruan Axel tidak menjangkau kesadaran Riku. Axel pun terpaksa memisahkan kontak intimasi secara kasar sekaligus membalikkan tubuh Riku dan melimpahkan bogem sekeras mungkin pada pipi kiri Riku, dan sedetik itu...

...Riku terisak, menggigit kain saputangan penuh frustasi.

18 Menit untuk seks.. dan 5 menit berikutnya sekujur tubuh Riku sudah gemetar dengan nafas memburu seiring kontraksi rangka dada kembang-kempis secara berat, juga kedua pupil mata itu tampaknya membesar tanpa pengelihatan padat. Axel sadar kalau fuck buddy-nya SEKALI LAGI kembali ke ambang sakauw. Jika Riku memakai sesuai takaran standar, tingkat adiktif tidak akan terlalu kental mempengaruhi rasional. Riku sejelasnya menunjukkan tanda-tanda schizophrenia. Tapi terlambat, bukan?

INI sungguh shit.

Begitu Axel melepaskan gag, Riku sedikit terbatuk oleh kualitas udara segar.. berlanjut terisak dan melantur mirip orang tidak waras. "Ax-.. jatuhkan aku.. jatuhkan aku kesana.. kembalikan aku ke mereka.. kembalikan aku ke Sora..."

Dengan penyebutan nama 'Sora', Axel langsung menjambak rambut Riku dan mencium mulut Riku, menekankan dominasi sekaligus meletakkan provokasi jiwa. Tiga minggu begini.. memang sedikit 'maksa. Seandainya seminggu lagi sukses dijalani.. pastinya Axel bakal memilih memakai lebih dari takaran standar DEMI resonansi — mungkin.

Oh ya, shit.

Saat Axel mengakhiri ciuman dengan jilatan pada bibir atas Riku, lalu mengecup ujung kiri mulut yang mengalirkan darah akibat pukulannya tadi.. Riku kini bersandar lemas, mencari pegangan kesadaran dari efek depresi.

"Dengar, aku akan membawamu jatuh kesana setelah aku menulis ijin untukmu. Karena itu ambil obatmu, bersikaplah seperti anak pintar dan bertahanlah sebentar oke?" Setiap bisikan kata dilantunkan bak serenade selama Axel membuka simpul saputangan, kemudian memakainya untuk mengelap darah yang keluar dari lubang kiri hidung Riku.

"'Kay..." guman Riku dengan raut stres.

"Anak pintar," ucap Axel sembari beranjak membuka ikatan sabuk beserta memutus kain perban. Jemari tangan kirinya sempat mengelus rambut perak lepek kala si pemilik rambut merangkak mendekati kepala ranjang.

Riku merentangkan tangan kanan ke bawah mencari dompet dari celana panjang yang tergeletak di lantai. Setelah menemukan, kartu pelajar diambil.. berlanjut membuka bungkus plastik dan menumpahkan semua isi ke permukaan meja kecil di samping ranjang. Jemari kedua tangan Riku gemetar, namun tetap fasih menyatukan bubuk menggunakan kartu.. menata bubuk menjadi porsi segaris.

Beberapa kali Riku menyeka hidung secara tidak sabar.

Begitu Riku mengambil uang kertas dari dompet dan melintingnya.. Axel merasa tidak perlu memperhatikan banyak selain bergegas membuka kondom dan membersihkan penisnya dari lumuran air mani menggunakan saputangan yang sebagiannya basah oleh saliva milik Riku, lalu menggunakannya kembali untuk membungkus kondom.

Walau Axel berusaha bersikap tutup mata, lirikan sesekali masih tertuju saat menyibukkan diri membenahi lingkar celana panjang beserta mengunci ikatan sabuk.

"Ri, berjanjilah.. jangan hilang dariku," kata Axel.

Riku sedang menghirup bubuk dalam sekali tarikan nafas, tapi indera pendengarannya masih mendengar jelas.. bahkan begitu menyelami tahap mendapatkan sentuhan euphoria baru, dan INI bagi Riku sempurna karena takaran banyak langsung mengisi relung otak sekaligus 'menendang' kesadaran.. berbeda.

"Aku tidak akan hilang jika kamu tidak memasukkanku ke panti rehabilitasi," komentar Riku.

Axel mendesah lega karena suara Riku mulai fix berkeadaan normal dan semua terlihat biasa, meski dari intonasi.. terdengar sedikit 'berlebih' dan terlalu segar. Axel kini mencoba tersenyum seolah-olah rangkaian kata tadi adalah banyolan.

"Apa kamu — KITA merasakan hal yang sama?" Tanya Riku tiba-tiba.

Axel menatap Riku meletakkan lintingan uang kertas sembari bersandar pada kepala ranjang. "Aku memakai agar kehidupanku baik-baik saja tanpa Roxy. Seharusnya kamu JUGA bisa tanpa Sora," sahutnya segera.

Riku terdiam membisu begitu pembahasan kembali membawa nama 'Sora'.

"Ah. Sori. Aku hanya ingin kamu move on, Ri." Axel menerangkannya secara perhatian terbaik sewaktu mendekati Riku, lalu memegang dagu wajah tampan itu.

Kali ini Riku tersenyum. "Oh, Ax. Apa yang bisa kulakukan tanpamu?" Godanya — sejujurnya sarat bertema sarkastis.

"Berlari telanjang mengelilingi sekolah?" Jawab Axel.

Riku melebarkan senyum.

"Aku menuliskanmu ijin dulu, tunggu aku di mobil," ucap Axel seraya menyempatkan diri mengecup bibir Riku, sekalian menaruh kunci mobil di atas meja.

Saat Riku dan Axel bertukar pandang sejenak — sebatas makna pernyataan konvensional bahwa mereka masih saling memiliki...

"KRIET!"

Suara pintu ruangan yang terbuka membuat Riku buru-buru menarik pinggiran kain seprei untuk membersihkan bekas air mani yang melumuri penis beserta sebagian pak otot perut.

...

"..." Sora mengamati sejenak kondisi ruangan UKS berpemandangan serba putih bersih. Ternyata tidak ada penjaga kesehatan yang bertugas disini, dan deret lemari obat berada tidak jauh dari dua ranjang bertempat. Tapi salah satu ranjang tertutup tirai putih. Berhubung ranjang tersebut berada di dekat jendela, penampilan dua bayangan tercetak pada tirai. Mungkin si penjaga sedang merawat seorang murid?

Siapapun itu, Sora tidak terlalu memusingkan sewaktu berjalan menuju lemari untuk memulai pencarian sendiri karena tidak mau mengganggu kesibukan disana. Toh lukanya bukan permasalahan hidup-dan-mati.

"SREK!"

Begitu suara tirai dibuka, Sora sedang berposisi membelakangi dan sibuk melihat-lihat deret botol beserta mencari obat merah karena biasanya dimana ada perlengkapan bertema steril.. sudah pasti tempat gulungan perban, atau sachet tensoplast bertempat tidak jauh.

Langkah sol sepatu kini terdengar.

Sora sekilas menoleh, dan bingkai pandangannya mendapatkan seorang pemuda jangkung berjalan menuju lowong pintu yang tadi belum ditutup olehnya.

Pemuda itu memberikan sekejap pandangan, dan tidak ada pertukaran kata selama itu. Tapi Sora termenung karena alunan rambut spiky merah api itu super mencolok untuk dilewatkan. Seketika pemuda itu memalingkan wajah, berlalu dan menutup pintu ruangan UKS.. jemari tangan kiri Sora secara spontan meraba bidang dada karena lagi-lagi pertanyaan timbul di benak — jika penjabaran tidak asing tersebab dari pakaian seragam, sejelasnya bukan. Ini seperti...

Pemikiran tiba-tiba tersela suara pakaian. Sora pun kembali mengarahkan pandangan ke ranjang di dekat jendela, dimana tirai dalam keadaan separuh tersingsing dan menyingkap sebagian tubuh milik seorang sosok.

Saat jemari tangan terlihat sedang menggeser tirai, dan penampilan di baliknya terkuak...

...Sora langsung menganga atas kilau kumpulan-kumpulan helai rambut perak pendek yang lepek, dan wajah itu merupakan sumber dari apapun perasaan aneh di hari ini!

DIA!

Sora nyaris berteriak syok karena perlengkapan seragam sekolah — seragam serupanya! Ternyata selama ini berada sedekat INI!

Tanpa basa-basi Sora menghampiri, dan bertanya saja. "Hei, um.. apa kamu mengenalku? Uh, maksudku.. apa kita saling mengenal? Karena kamu — KITA tampaknya memang saling mengenal." Beberapa detik berikutnya, Sora menggiris karena kalimatnya barusan terdengar penuh kesan 'mengajak berkenalan ke tahap suka'. TAPI kalau membahas soal suka.. wajah semacam itu seharusnya banyak penggemar, kan? Kenapa rasanya tidak pernah terdengar?

Selama ribetnya otak Sora.. sayangnya yang diajak bicara terus bersikap acuh, atau memang tidak mendengar? Karena aktivitas kedua tangan TERUS membereskan barang-barang.

"Hei, halooo?" Tanya Sora sembari melangkah ke hadapan si pemuda untuk mendapatkan perhatian. Anehnya sama sekali tidak terdapat respon. Maka telapak tangan kirinya dilambaikan ke depan wajah tampan itu, namun si pemilik wajah TETAP masih —

Sora kini mengalihkan pandangan ke kartu pelajar yang dimasukkan ke dompet. Mulut secara reflek melafalkan kesatuan huruf yang tertera.

"Riku?"

Yang bernama 'Riku' seketika itu menghentikan kegiatan.

Melihat sedikit respon, Sora memanggil kembali. "Riku?" Kali ini mendekati lebih untuk melihat ekspresi, sementara Riku kini memalingkan wajah.. namun kedua mata indah itu sepertinya berkaca-kaca. Sedetik kemudian mulut Riku mendesah sepatah kata.

"Sora..."

Sora pun tersenyum lebar. "Sudah kuduga! Tapi bagaimana kamu bisa mengenalku? Karena kamu tidak akan percaya kalau aku bercerita-" mulut berhenti mengeluarkan kata saat air mata menetes dari mata kanan Riku.

"Aku tidak bisa terus begini, Sora."

Setelah kalimat pendek itu.. Riku menyeka kedua mata, kemudian memasukkan dompet ke saku celana dan mengambil kunci mobil. Sora terkejut begitu wristband putih di tangan kiri Riku agak terkuak, kulit disana banyak bekas garis-garis sayatan.

"Riku? Apa kamu-" utaraan Sora lagi-lagi berhenti bertepatan suara dering ponsel. Riku merogoh saku celana, lalu mengeluarkan ponsel seraya berjalan...

...menembus tubuh Sora.

...