DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Akhirnya saya punya hari off kerja selain hari Sabtu & Minggu! \(^o^)/

Seperti apa yang tertulis di tweet saya tadi pagi, chapter ini akan menceritakan tentang apa yang terjadi di season 1 episode 2-4, saat Hazuki mengetahui tentang rahasia Doremi sebagai majominarai dan akhirnya ikut menjadi majominarai bersama Doremi dan Aiko.

Then, here we go!


Hazuki's Life

.

Chapter 3 – Switch and the Witch


'Hah, kenapa aku tidak bisa melakukan apa saja sesuai keinginanku?'

Seorang gadis berambut brunette berjalan pelan menuju sekolahnya sambil berpikir tentang kehidupannya yang berjalan datar-datar saja.

'Segala sesuatunya harus mama yang atur. Bahkan, mama pula yang awalnya menyuruhku belajar biola, walaupun sekarang aku memang menyukainya, tapi...' gadis itu menghela napas, 'Kapan ya, aku bisa memutuskan semuanya sendiri?'

"Hazuki-chan, ohayou!"

Seseorang memanggil gadis itu dan menghampirinya, membuyarkan pikirannya tadi.

Hazuki menoleh kearah orang yang memanggilnya tadi, Doremi, "Ah, Doremi-chan, ohayou."

"Ne ne, Hazuki-chan, sekarang aku jadi majo-"

"Majo?" tanya Hazuki. Ia merasa bingung karena Doremi tidak meneruskan apa yang dikatakannya.

"Ma-maksudku... keberanian majo... hahaha..." sahut Doremi dengan gugup, tapi masih menampakkan keceriaannya.

"Setiap hari, Doremi-chan selalu bisa ceria ya?" gumam Hazuki, "Aku jadi iri."

"Harusnya aku yang iri sama kamu, Hazuki-chan. Kau kan pintar. Ibumu seorang desainer interior. Ayahmu seorang sutradara film terkenal. Keluargamu juga kaya. Aku ingin jadi seperti Hazuki-chan."

"Doremi-chan, kau tidak mengerti..."

"Tidak juga. Di mata sekai ichi fuko na bishoujo seperti aku ini, kehidupanmu itu baha-"

"Cukup!" potong Hazuki pelan, tapi tegas. Ia lalu mendahului Doremi berjalan menuju sekolah mereka, SD Misora.

Di dalam kelasnya, kelas 3-2, Hazuki terus saja memikirkan tentang apa yang ia pikirkan tadi pagi, saat ia berjalan menuju sekolah, dan membuatnya tidak terlalu fokus terhadap pelajaran yang ia ikuti di kelasnya tersebut.

Doremi, yang merasa bahwa kata-katanya tadi pagi telah menyinggung perasaan Hazuki lalu mengajak Hazuki ke depan ruang olahraga sesaat setelah bel pulang berbunyi. Ia meminta maaf.

Hazuki yang kemudian menyadari bahwa tingkahnya tadi pagi membuat Doremi mengira bahwa ia marah kepada sahabatnya itu lalu menggeleng dan berkata, "Justru aku yang salah karena tiba-tiba sedih begitu. Gomen nasai."

"Jaa, kalau begitu, kita berbaikan sekarang."

"Iya."

Tiba-tiba Doremi bertingkah aneh dengan melihat-lihat ke sekeliling, seperti tidak ingin ada seorangpun yang memperhatikan mereka berdua disana.

Ia lalu berbisik kepada Hazuki, "Jadi, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu sekarang?"

Hazuki menghela napas, "Terima kasih telah khawatir padaku, tapi sebenarnya... apa yang kuinginkan sekarang hanya akan bisa terwujud kalau ada sihir."

"Sihir?" seru Doremi tiba-tiba, "Ne ne ne ne, memang kalau ada sihir, Hazuki-chan mau apa?"

"Apa ya? Rasanya aku ingin jadi sepertimu, Doremi-chan."

"Wakatta! Chotto matte ne?" Doremi lalu berlari menjauhi Hazuki menuju ke taman sekolah.

"Eh?" Hazuki kebingungan melihat gerak-gerik sahabatnya yang menjadi semakin aneh, 'Apa yang ingin dilakukannya?'

Selama beberapa menit, Hazuki menunggu disana, sampai akhirnya datang sosok seorang penyihir cilik berkostum merah muda mendatanginya dan memanggilnya, "Hazuki-san."

Hazuki menoleh kearah penyihir itu, dan ia mengenali bahwa penyihir itu adalah Doremi, tapi sosok di depannya itu tetap tidak mengakuinya (padahal sudah jelas kalau itu dia). Ia hanya mengaku bahwa ia adalah seorang penyihir yang juga teman Doremi.

Tanpa membuang banyak waktu, penyihir itu mengayunkan sebuah tongkat berbentuk seperti pedang kecil berisi bola-bola kecil yang dibawanya kemudian berkata, "Pirika Pirirara Poporina Peperuto! Ubahlah Hazuki-chan menjadi Doremi-chan!"

Seketika, penampilan Hazuki pun berubah. Ia sampai terkejut mendapati bahwa penampilannya berubah menjadi seperti Doremi.

Penyihir itu lalu mengeluarkan sapu terbangnya yang kemudian dinaikinya dengan susah payah. Ia berkata kepada Hazuki, "Sekarang aku akan mengubah Doremi-chan menjadi kau. Sampai jumpa."

'Eh, jadi yang tadi itu benar-benar penyihir ya?' pikir Hazuki, 'Doremi-chan, Majo-san, arigatou.'

.

Dengan posisi mereka yang sudah bertukar, Doremi dan Hazuki pulang sekolah bersama-sama. Hazuki membawa tas ransel milik Doremi di punggungnya, sementara Doremi membawa tas ransel milik Hazuki.

Hazuki merasa sedikit tegang saat ingin memasuki rumah Doremi, tapi kemudian, ketegangan itu pergi begitu saja. Ia senang sekali saat bertemu dengan Pop, adik Doremi.

Hazuki memang baru pertama kali bertemu dengan Pop, tapi bukan berarti ia belum kenal Pop. Doremi sering bercerita padanya tentang gadis kecil yang baru beberapa minggu ini masuk TK Sonatine itu.

Diluar dugaan, pertukaran posisi antara Hazuki dan Doremi justru membuat situasi di rumah mereka menjadi kacau. Orangtua Doremi, Tuan dan Nyonya Harukaze, juga Pop menganggap tingkah laku 'Doremi' (Hazuki) menjadi sangat aneh hari ini, karena ia bisa membuat origami yang sempurna dan tanpa cacat (sedangkan Doremi tidak), juga bersedia membantu ibunya mengerjakan apa saja (sedangkan yang biasanya terjadi, Doremi tidak akan mungkin mau melakukannya tanpa ada maksud yang tersembunyi).

Dan yang paling mengejutkan, ia juga mengaku bahwa ia tidak terlalu suka steak!

Mereka lalu membawa 'Doremi' masuk ke dalam kamarnya, dan saat mereka meninggalkannya sendiri di dalam kamar, penampilan Hazuki berubah kembali menjadi normal. Ia kembali menjadi Hazuki saat ia mengerti bahwa lebih baik menjadi dirinya sendiri daripada harus berpura-pura menjadi orang lain dan menipu orang lain.

Saat Hazuki menyadari bahwa penampilannya sudah berubah kembali, ia merasa khawatir kalau-kalau kedua orangtuanya menyadari bahwa sekarang ia tidak berada di rumahnya, dan secara kebetulan, penyihir berbaju merah muda yang tadi siang mengubahnya menjadi Doremi mendatangi Hazuki di kamar Doremi.

Saat penyihir itu bersiap ingin mengucapkan mantranya lagi, Hazuki mencegahnya dan memutuskan untuk tidak lagi menjadi Doremi, karena ia menyadari bahwa ia lebih baik berkumpul bersama keluarganya daripada harus membohongi keluarga orang lain.

Tanpa diduga, penyihir itu berkata bahwa Doremi merasakan hal yang sama dengan yang Hazuki rasakan. Mereka sama-sama menyadari bahwa mereka harus mensyukuri apa yang mereka miliki selama ini: tinggal bersama dengan keluarga masing-masing. Keluarga yang peduli dengan mereka dan memahami betul sifat mereka.

Pada akhirnya, penyihir itupun mengantar Hazuki pulang ke rumahya.

Keesokan harinya, Hazuki dan Doremi berangkat sekolah bersama-sama sambil membicarakan tentang apa yang mereka lakukan kemarin. Doremi merasa kecewa karena jatah steak untuk makan malamnya kemarin (yang tidak dimakan oleh Hazuki) malah dihabiskan oleh keluarganya. Hazuki hanya tertawa kecil saat mendengar Doremi meratapi jatah steaknya itu.

Tiba-tiba, seseorang berseru dibelakang mereka, "Ah, onee-chan, celana dalammu kelihatan!"

Merasa bahwa ia memakai rok, Hazuki berteriak sambil memegangi roknya. Tanpa diduga, Doremi juga memegangi celana pendek yang ia kenakan (padahal semua orang juga tahu kalau tidak akan ada seorangpun yang bisa melihat celana dalamnya saat sedang memakai celana pendek).

Mereka lalu menoleh ke arah orang yang tadi berseru itu, yang berlari mendahului mereka saat mereka sedang berteriak. Ternyata ia adalah seorang gadis berambut biru yang kelihatannya sebaya dengan mereka. Ia berhenti berlari lalu menengok kearah mereka, lalu berkata kepada Doremi, "Bodohnya. Kau kan pakai celana pendek, jadi celana dalammu tidak mungkin kelihatan."

Doremi menanggapinya dengan melakukan gerakan 'khas'nya, "Puu puu no puu!"

Gadis berambut biru itu hanya tersenyum dan berkata, "Reaksi yang aneh. Hora, o-saki!"

"Chotto, machinasai yo!" geram Doremi, tapi gadis itu tidak memperhatikannya dan hanya berlari menjauhi mereka.

"Kenapa anak itu?" ujar Doremi kesal.

"Rasanya aku belum pernah lihat anak itu..." sahut Hazuki.

"Mou!"

.

Sesaat setelah bel masuk berbunyi di SD Misora...

Wali kelas 3-2, Seki-sensei memasuki ruangan kelas yang juga merupakan kelas dari Doremi dan Hazuki tersebut. Ia mengumumkan bahwa mulai hari ini, kelas mereka kedatangan murid baru.

Saat Hazuki melihat siapa murid baru tersebut, ia berbisik kepada Doremi, "Doremi-chan, Doremi-chan, mite." (mite: lihat)

Doremi terkejut melihat anak baru itu. Jelas saja, karena ia adalah gadis berambut biru yang tadi bertemu dengannya di jalan. Doremi berteriak sambil menunjuk gadis itu, "Ah!"

Gadis itu menoleh kearah sumber teriakan itu, "Ah, ternyata kau sekelas denganku."

"Ada apa? Kalian sudah berteman?" tanya Seki-sensei.

"Chigaimasu," Doremi menggeleng dengan cepat, "Kami hanya sempat bertemu sebentar tadi pagi."

"Baiklah, perkenalkan dirimu," perintah Seki-sensei kepada gadis itu, yang kemudian memperkenalkan dirinya di depan kelas.

Ia bernama Senoo Aiko, yang baru saja pindah dari Osaka ke Misora beberapa hari yang lalu. Dalam perkenalannya, ia juga bercerita tentang hal-hal yang ia sukai. Hazuki sangat antusias menyimak perkenalan Aiko, sementara Doremi hanya bertopang dagu, masih kesal dengan apa yang dilakukan Aiko di jalan tadi. Bahkan, Doremi tidak ikut bertepuk tangan saat yang lainnya bertepuk tangan setelah mendengar perkenalan Aiko, termasuk Hazuki.

Setelah perkenalan Aiko selesai, Seki-sensei menyuruhnya untuk duduk di kursi yang berada di belakang kursi Doremi.

Saat Aiko duduk di kursinya, Doremi menoleh kearahnya.

"Anta Doremi ya?" tanya Aiko, "Gaya rambutmu unik, dan... namamu lucu juga."

"Heh?" Doremi menggeram.

Seketika, Hazuki memanggil Aiko, "Senoo-san?"

"Eh? Ai-chan saja juga boleh kok," sahut Aiko.

"Jaa Ai-chan, perkataanmu kepada Doremi-chan tadi kasar sekali."

"Benarkah? Kalau begitu, aku minta maaf." Aiko lalu bertanya, "Tokoro de anta..."

"Watashi? Fujiwara Hazuki dakedo." Hazuki menjawab.

"Hazuki-chan! Memangnya kapan kita pernah bertemu?"

"Kau tidak melihatku berjalan bersama Doremi-chan tadi?" sahut Hazuki kaget.

"Benarkah? Impact-nya Doremi-chan terlalu hebat, jadi aku tidak memperhatikanmu tadi."

Hazuki lalu menangis saat mengetahui kalau ternyata Aiko benar-benar hanya memperhatikan Doremi saat mereka bertemu di jalan tadi.

"Donai shita?" tanya Aiko.

"Maksudmu, kau hanya menganggapku sebagai bayangannya Doremi-chan?"

"Gaya berpakaian dan gaya bicaramu itu mungkin memang membuatmu terlihat seperti itu."

"Hitoi wa."

"Chotto! Kau sudah berlebihan!" sahut Doremi membela Hazuki.

Seki-sensei yang mendengar suara Doremi lalu berbalik sambil melempar sebatang kapur yang tadi digunakannya untuk menulis ke arah Doremi.

"Soko urusai!" teriaknya.

"Hyaaa!" Doremi menghindari lemparan tersebut, dan kemudian Aiko berhasil menangkap lemparan itu. Seisi kelas terkejut melihatnya, karena baru kali ini ada yang bisa menangkap 'lemparan kapur maut' Seki-sensei.

Tak hanya itu. Mereka (kecuali Doremi, Hazuki dan Tamaki) juga mengagumi keahlian Aiko dalam berolahraga. Bisa dibilang, Aiko menjadi populer di kelas 3-2.

Saat pulang sekolah, Hazuki dan Doremi membicarakan tentang ketidaksukaan mereka terhadap Aiko.

Setidaknya, itu yang mereka rasakan sampai keesokan harinya, Doremi bercerita kepada Hazuki tentang keluarga Aiko saat mereka berangkat sekolah.

"Eh, jadi ternyata sebenarnya Ai-chan tidak seburuk yang kita kira ya?" ujar Hazuki setelah mendengar cerita Doremi tentang Aiko, "Kemarin kau sempat ke rumahnya, Doremi-chan?"

"Iya. Dia itu hebat, lho. Ayahnya juga baik. Kemarin aku dibuatkan takoyaki yang rasanya enak sekali."

"Begitu ya? Kapan-kapan ajak aku ke rumahnya dong. Aku jadi penasaran."

"Oke. Lain kali kita sama-sama kesana." Doremi lalu menyadari bahwa Aiko sedang berjalan didepan mereka, "Eh, itu Ai-chan."

Hazuki dan Doremi kemudian memanggil Aiko, "Ai-chan, ohayou!"

Aiko menoleh, "Ohayou, Doremi-chan, Hazuki-chan!"

Hazuki dan Aiko lalu saling bermaafan atas apa yang terjadi kemarin.

Hazuki merasa penasaran akan ayah Aiko, setelah mendengar cerita Doremi tentangnya. Doremi berkata kepada Hazuki kalau ia bisa bertemu dengan ayah Aiko dalam pertemuan orangtua di sekolah mereka besok, tapi Aiko berkata bahwa ayahnya tidak bisa datang.

"Otouchan baru saja bekerja disini, jadi tidak mungkin baginya untuk meluangkan waktu walau hanya sebentar," ujarnya.

'Masa sih, tidak bisa?' pikir Hazuki, 'Apa tidak ada satupun cara supaya ayah Ai-chan bisa datang besok?'

.

"Jadi bagaimana, Doremi-chan? Apa yang harus kita lakukan untuk menolong Ai-chan agar ayahnya bisa datang ke sekolah besok?" tanya Hazuki saat ia dan Doremi (lagi-lagi) sedang berjalan pulang dari sekolah bersama-sama.

"Rasanya aku belum punya ide," jawab Doremi, "Kalau menurutmu bagaimana?"

"Hmm... rasanya aneh kalau ayah Ai-chan tidak datang ke pertemuan orangtua murid kalau beliau sudah tahu tentang acara itu," sahut Hazuki, memberikan pendapatnya, "Kelihatannya, Ai-chan tidak memberitahu ayahnya soal pertemuan orangtua murid besok."

"Jadi?"

"Bagaimana kalau kau beritahu ayah Ai-chan tentang besok? Mungkin beliau akan menyempatkan diri untuk datang kalau tahu besok ada pertemuan orangtua murid."

"Tapi kenapa harus aku?"

"Kau kan yang pernah ke rumah mereka dan bertemu dengan ayah Ai-chan. Siapa tahu saja besok ayah Ai-chan punya waktu untuk datang ke sekolah."

"Baiklah. Mungkin akan kucoba, walau kemungkinannya kecil sekali."

Saat mereka tiba di sebuah persimpangan jalan, Doremi berkata kepada Hazuki, "Ah, Hazuki-chan, aku ke sebelah sana ya?"

"Kenapa kau melewati jalan itu? Tumben sekali..." tanya Hazuki, "Biasanya kita baru berpisah di persimpangan jalan yang di dekat rumahku."

"Ngg... ada hal yang harus kulakukan. Mata ashita ne, Hazuki-chan!"

"Ja ne, Doremi-chan! Jangan lupa beritahu ayah Ai-chan soal besok ya?"

"Oke!"

'Mudah-mudahan, Doremi-chan berhasil meyakinkan ayah Ai-chan supaya bisa datang ke sekolah besok... dan membuat Ai-chan senang. Karena aku yakin kalau sebenarnya... Ai-chan menginginkan hal itu...'

.

Keesokan harinya...

"Untunglah, aku tidak telat hari ini," ujar Doremi saat memasuki kelasnya, kemudian duduk di kursinya yang berada tepat di samping kiri kursi Hazuki, "Ohayou, Hazuki-chan!"

"Ohayou, Doremi-chan!" sahut Hazuki, "Jadi bagaimana? Kau sudah memberitahu ayah Ai-chan?"

"Sudah, tenang saja," jawab Doremi dengan penuh percaya diri, "Mungkin ayah Ai-chan tidak akan memberitahu Ai-chan tentang kedatangannya, tapi aku tahu pasti kalau dia akan datang hari ini. Percayalah padaku."

"Yokatta." Hazuki tersenyum, "Ai-chan pasti akan senang mengetahuinya."

.

Hanya tinggal beberapa menit sebelum bel pulang berbunyi...

Hazuki memandangi bagian belakang kelas dengan gelisah. Ia bertanya-tanya tentang ayah Aiko yang masih belum juga datang sampai sekarang.

Ia lalu bertanya pada Doremi, "Kelas akan berakhir sebentar lagi. Mana ayah Ai-chan?"

"Daijoubu. Dia pasti akan datang," bisik Doremi.

Dan tak lama kemudian, ayah Aiko akhirnya datang juga.

"Maafkan atas keterlambatan saya," serunya.

"Ah, otouchan!" seru Aiko kaget.

"Yo!"

"Bagaimana otouchan bisa datang kesini? Seharusnya kan otouchan masih bekerja jam segini. Lagipula aku kan tidak pernah memberitahu otouchan tentang pertemuan orangtua murid."

"Doremi-chan yang memberitahu otouchan," jawab ayah Aiko.

"Doremi-chan, kenapa kau memberitahu otouchan?"

"Memangnya... itu salah ya?" tanya Doremi perlahan.

"Atari mae ya! Bagaimanapun juga, ayahku tidak boleh memotong waktu kerjanya begini."

"Aho! Jangan salahkan Doremi-chan. Dia kan hanya mengkhawatirkanmu, makanya dia memberitahu ayah," ujar ayah Aiko membela Doremi.

"Walau begitu kan, tetap saja aku merasa bersalah," sahut Aiko. Air matanya mulai menetes, "Nande? Kenapa air mataku malah keluar?"

Dan akhirnya, Aiko tidak bisa menutupi bahwa ia senang ayahnya bisa datang dalam pertemuan itu.

Setelah semuanya selesai, Aiko dikagetkan oleh sesosok pria yang mirip dengan ayahnya. Pria itu berpenampilan sama persis dengan ayah Aiko, hanya cara bicaranya yang berbeda. Ia mendatangi Doremi dan mengeluh padanya, dan tak lama kemudian, pria itu menghilang.

Akhirnya Hazuki dan Aiko mengetahui apa yang terjadi: bahwa sebenarnya, Doremi adalah seorang majominarai. Setelah ia memberitahu ayah Aiko tentang pertemuan orangtua, ayah Aiko sempat berkata bahwa kemungkinan besar ia tidak bisa datang ke pertemuan itu, karena itulah, Doremi menggunakan sihirnya untuk membuat ayah Aiko menjadi dua, tapi ternyata, salah satu diantaranya tidak berbicara menggunakan Osaka-ben. Ayah Aiko yang datang ke pertemuan orangtua adalah ayahnya yang asli, sedangkan yang baru saja mendatangi Doremi, Hazuki dan Aiko adalah ayahnya yang palsu.

Doremi kemudian mengajak Hazuki dan Aiko ke sebuah toko bernama 'Makihatayama Rika no Maho-dou', dan memperkenalkan mereka kepada seorang penyihir yang membimbingnya menjadi majominarai bernama Majorika, juga perinya, Lala.

'Jadi kemarin Doremi-chan lewat jalan ini karena dia mau kesini... dan sebenarnya... penyihir yang kemarin itu benar-benar dia...' pikir Hazuki.

Majorika dan Lala lalu menjelaskan bahwa Doremi menjadi majominarai karena ia membongkar rahasia Majorika sebagai penyihir, menyebabkan Majorika terkena kutukan menjadi kodok sihir. Agar Majorika dapat kembali ke wujud semula, ia perlu mendidik Doremi menjadi seorang penyihir.

Sebenarnya, tidak boleh ada seorangpun yang tahu tentang identitas Doremi sebagai majominarai, tapi karena Hazuki dan Aiko sudah terlanjur mengetahui hal tersebut, maka Majorika memutuskan untuk menjadikan mereka sebagai majominarai juga, agar rahasia Doremi sebagai majominarai tetap tersimpan dengan baik.

'Dengan begini, aku bisa mendapatkan semua yang aku mau... Aku bisa memutuskan segalanya sendiri...'


Catatan Author: Akhirnya selesai juga... (tumben-tumbenan nih, bisa update siang-siang. Biasanya kan malam-malam, hehehe...)

Bisa ditebak, chapter berikutnya akan bercerita tentang apa yang terjadi di episode-episode terakhir season 1, jadi tunggu updatenya hari Sabtu ini ya?

Yang mau RnR, klik tombol biru dibawah ini ya?