DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Catatan Author: Akhirnya saya punya waktu lagi untuk mengupdate fic ini! \(^o^)/
Duh, tapi maaf yang sebesar-besarnya ya, karena update yang satu ini sempat ditunda gara-gara jadwal kerja saya yang hari ini mendadak berubah dan membuat saya jadi nggak bisa mengupdate fic ini dihari Sabtu, seperti biasa. Mudah-mudahan sih, yang seperti ini nggak akan terjadi lagi.
And now, let's we go to the fic!
Hazuki's Life
.
Chapter 5 – The Blue Magic Rose and the Witch Baby
'Setelah malam ini, semuanya akan benar-benar berakhir...'
Seorang gadis berkacamata sedang berjalan sendirian saja menuju ke sebuah toko yang sebentar lagi akan benar-benar tutup untuk selamanya: Maho-dou. Ia pergi kesana malam ini untuk mengucapkan 'selamat tinggal' kepada Majorika dan Lala yang akan pulang kembali ke Majokai.
'Majorika dan Lala akan kembali ke Majokai membawa Rere-tachi, dan setelah itu, selesailah semuanya. Setelah ini, kami benar-benar akan kembali menjalani hidup dengan normal... tanpa sihir...' Hazuki menghela napas, 'Untungnya walaupun begitu, aku dan yang lainnya masih akan bisa terus bersama, jadi kami masih bisa saling menguatkan satu sama lain jika nanti ada diantara kami yang merasa sedih karena apa yang terjadi hari ini...'
Di tengah perjalanan, Hazuki bertemu dengan Aiko dan Onpu yang juga sedang berjalan menuju ke Maho-dou. Mereka lalu berjalan bertiga kesana.
Mereka menghentikan langkah mereka didepan sebuah tangga, dimana seorang gadis berambut merah odango sedang duduk sambil menatap kearah sebuah bangunan didepannya.
Aiko berkata kepada gadis itu, yang ternyata adalah Doremi, "Baiklah, sekarang sudah malam..."
"Poppu wa?" tanya Hazuki
"Dia terus-terusan menangis di rumah, sampai dia tertidur. Dia tak ingin 'Bunyu-chan'nya pergi," jawab Doremi, "Yah, tapi kalian tahu sendiri kan, aku tidak bisa membangunkannya kalau dia sudah tidur."
'Kasihan, Poppu-chan. Dia pasti masih belum rela melepas kepergian Majorika ke Majokai...' pikir Hazuki yang akhirnya berkata, sambil menitikan air matanya, "Kawaiso... Poppu-chan, kawaiso..."
"Dame da yo, Hazuki-chan," sahut Onpu, "Bukankah kita sudah berjanji kepada Majorika dan Lala kalau malam ini kita tidak akan menangis?"
"Sou da ne," tambah Doremi, "Kita harus mengiringi kepergian mereka dengan senyuman."
"Iko," ajak Aiko, "Mereka sudah menunggu."
Tapi tiba-tiba, Aiko terkejut mendapati bahwa papan nama Maho-dou yang tahun lalu dibuatnya bersama Doremi dan Hazuki menghilang.
"Ah!" seru Aiko sambil menuruni tangga menuju ke depan pintu masuk Maho-dou.
"Ai-chan?" tanya Doremi bingung.
"Papan namanya tidak ada!"
Mereka berempat lalu bergegas memasuki Maho-dou, hanya untuk mendapati bahwa bangunan itu telah kosong. Majorika dan Lala telah pergi ke Majokai dengan membawa peri mereka, tanpa mengucapkan kata pamit kepada mereka berempat dan hanya meninggalkan sepucuk surat berisi permohonan maaf karena sudah pergi tanpa pamit.
Saat mereka larut dalam kesedihan, tiba-tiba Onpu mendengar sesuatu yang terjatuh dibelakang mereka, yang ternyata adalah hair dryer milik Majorika. Saat itulah sebuah ide muncul di benak Aiko. Ia berseru, "Yossha!"
"He?" sahut Doremi yang bingung mendengar seruan Aiko.
"Kita bisa menjadikan itu sebagai alasan untuk menyusul mereka. Ayo kita ke Majokai."
"Tidak mungkin kita bisa kesana," sahut Onpu.
"Nande?"
"Pintu ke Majokai nggak bisa dibuka."
Doremi yang tidak terlalu yakin dengan perkataan Onpu kemudian mengecek pintu yang dimaksud, dan ternyata, ia malah menemukan sebuah kunci tergantung di lubang kunci pintu itu.
Setelah Doremi membuka pintu tersebut, mereka lalu berlari memasukinya, menuju ke dunia yang biasa mereka sebut dengan Majokai.
Secara perlahan, mereka memperlambat laju berlari sampai akhirnya mereka hanya berjalan disana.
"Tapi ngomong-ngomong, kota kodok sihir itu dimana ya?" tanya Aiko.
Mereka lalu sampai di depan sebuah peta besar yang tertulis diatas sebuah batu besar. Peta itu ditulis dalam bahasa yang sangat unik dan asing bagi mereka yang lebih terbiasa membaca huruf hiragana, katakana atau kanji.
"Rumit sekali peta ini..." keluh Hazuki.
"Kita tidak bisa membaca tulisannya," sahut Aiko.
Onpu yang bersikap tenang lalu berkata, "Kota itu berada di belakang taman kerajaan."
Ternyata, saat Onpu masih menjadi majominarai, Majoruka sempat mengajarinya membaca beberapa huruf sihir, jadi ia tidak kebingungan membaca apa yang tertulis di peta besar itu.
"Sugoi!" seru Doremi dan Hazuki.
Tapi kemudian, Aiko mengeluh, "Tapi, kita masih harus berjalan jauh ke kota itu ya..."
Doremi lalu mengusulkan untuk memanfaatkan taman kerajaan sebagai jalan pintas menuju kesana. Pada awalnya, usul itu tidak diterima karena gerbang taman tersebut dijaga dengan sangat ketat, namun saat Doremi menemukan sebuah lubang disisi sebelah kiri taman tersebut, mereka akhirnya masuk ke taman melalui lubang tersebut dan berniat melanjutkan perjalanan mereka ke kota kodok sihir melalui taman kerajaan sebagai jalan pintas, seperti apa yang diusulkan Doremi tadi.
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya mereka sampai ke dalam taman kerajaan. Mereka mengagumi keindahan bunga-bunga yang ditanam disana.
Mereka lalu sampai di depan sebuah terowongan yang dibuat dari tanaman mawar.
"Terowongan mawar ini hebat!" seru Doremi yang kemudian berlari memasuki terowongan itu.
Sementara itu, Hazuki, Aiko dan Onpu berjalan menyusul Doremi sambil membicarakan tentang banyaknya tanaman mawar yang ditanam disana.
"Tapi, aku dengar-dengar bunga mawar berwarna biru jarang sekali ditemukan," kata Hazuki, menjelaskan tentang apa yang ia ketahui dari sebuah buku tentang bunga mawar yang pernah dibacanya.
"Nande?" tanya Aiko.
"Kelihatannya susah untuk membiakkannya," tambah Hazuki.
"He?" Onpu memandang tanaman mawar yang tumbuh disekitarnya, menghiasi taman itu dengan cantiknya.
"Hazuki-chan, katamu bunga mawar biru itu langka," sahut Doremi.
"Iya." Hazuki menjawab.
"Tapi kok disini banyak ya?"
"Eh?" Hazuki terkejut, 'Bagaimana bisa? Masa sih, apa yang tertulis dalam buku yang kubaca itu salah? Mawar biru memang jarang ditemukan kan?'
Ia, bersama Aiko dan Onpu dengan cepat menyusul Doremi yang sudah berada di depan sebuah tanaman mawar dengan beberapa bunga berwarna biru yang indah.
'Ah, ternyata benar!' pikir Hazuki, 'Mawar ini berwarna biru. Indah sekali...'
Tiba-tiba, salah satu kuncup bunga mawar biru yang awalnya tergulung bergerak mendekati mereka. Kuncup bunga itu kemudian mekar dihadapan mereka, dan dari dalamnya, keluar sesosok bayi mungil dengan rambut kuning yang diikat oleh enam buah bola kristal kecil berwarna-warni. Tubuh bayi itu terbungkus kain putih kecil.
Hampir saja bayi itu terjatuh, tapi dengan cepat Doremi menangkap bayi itu sebelum jatuh ke tanah.
Dalam dekapan Doremi, bayi itu membuka matanya, menatap wajah orang yang tadi menolongnya, dan tak lama setelah itu, bayi itu menangis.
Onpu lalu memberitahu mereka kalau bayi itu adalah bayi penyihir, karena penyihir lahir dari bunga mawar. Ia juga berniat untuk menggendong bayi itu, tapi saat ia tahu bahwa bayi itu mengompol dalam dekapan Doremi, ia kemudian mengurungkan niatnya tersebut.
Tak lama kemudian, keberadaan mereka diketahui oleh penjaga taman tersebut. Mereka lalu dibawa ke istana bersama dengan bayi penyihir yang mereka temukan tadi.
Jou-sama kemudian menunjuk Doremi menjadi 'mama' dari bayi tersebut. Dibantu oleh Hazuki , Aiko dan Onpu, ia harus merawat bayi itu selama setahun, dan juga, mereka kembali menjadi majominarai. Jou-sama berjanji akan mengembalikan kristal sihir mereka jika mereka berhasil merawat bayi itu. Hal ini juga membuat Majorika, Lala, juga Dodo, Rere, Mimi dan Roro dapat kembali ke Ningenkai, membuat Majorika dapat berjualan lagi.
Agar bayi itu dapat tumbuh dengan baik, Maho-dou lalu diubah menjadi toko bunga bernama Flower Garden Maho-dou. Tak hanya itu. Doremi juga meminta kepada Jou-sama agar Pop juga bisa kembali menjadi majominarai bersama dengan mereka, yang akhirnya dikabulkan oleh Jou-sama.
Sejak saat itu, mereka menjaga bayi itu sebaik-baiknya, seperti layaknya seorang ibu kepada anaknya. Doremi menamai bayi itu Hana-chan, karena ia lahir dari bunga.
'Hana-chan, kawaii ne?' pikir Hazuki, 'Aku benar-benar menyayanginya... Dia membuatku mempelajari lebih banyak hal.'
Terkadang, Hazuki punya ide untuk membuatkan Hana-chan pakaian yang bagus. Ia membuatnya agar Hana-chan terlihat lebih imut dan cantik, dan seperti memiliki ikatan batin, Hana-chan selalu menyukai baju-baju buatan tangan Hazuki.
'Hana-chan, kau benar-benar bayi penyihir yang pintar. Kau selalu menyukai baju-baju buatanku sendiri. Jangan pernah bosan dengan baju buatanku ya?'
Catatan Author: Baik. Ini sudah yang ketiga kalinya saya menulis tentang ini di fic OLS saya. I hope there isn't any complain about this. XP
Chapter selanjutnya akan saya update dua minggu lagi! Pokoknya ditunggu terus ya?
And now, click the blue button below to RnR.
