DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Sudah di chapter 7! \(^o^)/

Karena minggu ini saya dapet libur kerja di hari Rabu, jadi saya mulai mengetik dan mengupdate chapter yang satu ini Selasa malam. Chapter ini akan menceritakan tentang episode-episode awal Motto dan juga, apa yang terjadi di Ojamajo Doremi Naisho episode 11.

Tanpa buang waktu, ini dia.


Hazuki's Life

.

Chapter 7 – Sweet Memories with the Egg and the Chocolate


'Duh, aku gugup sekali. Kali ini, kami memang diberi kesempatan untuk menjadi majominarai lagi, tapi… rasanya aku takut kalau nanti kami tidak bisa mengikuti patissier shiken dengan baik. Baru kali ini aku dituntut untuk bisa membuat kue…'

Hazuki menghela napas. Ia tahu bahwa ia seharusnya merasa senang karena ia, juga Doremi, Aiko dan Onpu diberi kesempatan lagi untuk menjadi majominarai agar bisa mendapatkan kristal sihir baru, tapi ia juga kebingungan karena mereka harus mengikuti tes dimana mereka harus bisa membuat kue.

Tapi kemudian, Hazuki teringat bahwa kali ini, ada seorang majominarai baru yang akan bergabung dengan mereka berempat, dan juga, akan mengajari mereka membuat kue: Asuka Momoko.

'Sou ka. Momo-chan bisa mengajari aku juga yang lainnya untuk membuat kue,' pikir Hazuki. Ia tersenyum, 'Kurasa, dia bisa mengajari kami dengan baik. Aku benar-benar ingin belajar darinya.'

Dalam keseharian mereka, Momoko adalah teman sekelas baru Doremi di kelas 5-1, sedangkan Hazuki, Aiko dan Onpu berada di kelas 5-2.

'Hah, coba kalau kami semua bisa belajar di satu kelas bersama-sama… pasti akan sangat menyenangkan ya?' Hazuki masih berpikir, 'Yah, sekarang… kami hanya bisa bertemu di waktu istirahat saja di sekolah…'

'Tapi paling tidak, kami juga bisa bertemu di Maho-dou.'

Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka selalu mendatangi Maho-dou setiap hari, sepulang sekolah, untuk mempersiapkan pembukaan toko itu yang akan dibuka kembali sebagai Sweet House Maho-dou.

Mereka memang harus mempersiapkan pembukaan toko itu secara matang kali ini, karena mereka sendiri pulalah yang harus memasak sendiri kue, coklat dan permen yang mereka jual disana.

Suatu hari, Momoko memberi pengarahan kepada yang lain tentang pentingnya ukuran bahan yang tepat dalam membuat kue. Setelah itu, ia membagi tugas untuk yang lainnya: Aiko mengayak tepung, Doremi menyalakan cooking stove, Hazuki menyiapkan telur dan Onpu memotong coklat masak.

Masalahnya, Hazuki baru pertama kali ini memecahkan telur, jadi ia masih melakukannya dengan takut-takut dan malah membuat kulit telur yang dipecahkannya ikut masuk ke dalam wadah yang ia gunakan untuk mengumpulkan isi telur itu.

"Jangan-jangan, Hazuki-chan belum pernah melakukan ini sebelumnya ya?" tanya Momoko.

"Iya," jawab Hazuki.

"Ini pengalaman pertamanya, jadi… apa boleh buat," tambah Doremi.

"Kalau begitu, seharusnya kaubilang dari tadi kalau kau belum bisa melakukannya, jadi aku tidak akan menyuruhmu," tegur Momoko dengan tegas, "Kalau begitu, sekarang lebih baik kau bersih-bersih saja, tidak perlu bantu-bantu di dapur dulu."

Teguran Momoko tadi terasa sangat kasar bagi Hazuki, jadi ia menangis lalu pergi meninggalkan Maho-dou menuju ke rumahnya.

'Kasar. Aku tahu memang aku yang salah karena aku belum bisa memecahkan telur-telur itu dengan baik, tapi kenapa dia sampai berkata begitu sih?' pikir Hazuki sambil berlari.

"Hazuki-chan!"

"Eh?" Hazuki menoleh ke belakang saat ia menyadari bahwa ada yang mengikutinya dan memanggilnya, "Doremi-chan?"

"Kau pasti kabur dari Maho-dou karena perkataan Momo-chan tadi ya?" tanya Doremi yang kemudian berjalan bersama Hazuki menuju ke rumah Hazuki.

Hazuki mengangguk, "Kau juga tahu sendiri kan, Doremi-chan, kalau aku juga ingin membantu kalian semua di dapur? Aku ingin ikut bersama kalian belajar membuat kue, tapi kenapa Momo-chan malah menyuruhku bersih-bersih saja?"

"Yah, kurasa… itu karena…"

"Pasti itu karena aku masih belum bisa memecahkan telur dengan benar kan?" Hazuki menerka-nerka jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan oleh dirinya sendiri.

"Ayolah, Hazuki-chan. Ini kan baru yang pertama kalinya kau mencoba memecahkan telur itu, jadi wajar saja kalau kau masih belum bisa melakukannya." Doremi mencoba menghibur sahabatnya itu, "Lagipula, kalau memang Momo-chan mengatakannya hanya karena itu, kurasa kau masih bisa ikut belajar membuat kue. Bagaimanapun, kau kan juga harus ikut patissier shiken bersama kami."

"Aku tidak yakin apa aku masih layak untuk mengikutinya…"

"Hazuki-chan, kau kan juga diberi kesempatan untuk jadi majominarai lagi, sama seperti aku dan yang lainnya. Menurutku, kau masih bisa ikut patissier shiken."

"Tapi aku masih belum bisa…"

"Kalau masalahnya hanya itu saja, kau kan masih bisa berlatih memecahkan telur itu sampai kau bisa melakukannya dengan benar," ujar Doremi, "Aku yakin, Momo-chan pasti akan berubah pikiran jika ia melihatmu sudah bisa memecahkan telur dengan benar."

"Jadi maksudmu, Momo-chan ingin agar aku berlatih dulu sendiri, baru setelah aku bisa memecahkan telur itu dengan benar, aku bisa ikut berlatih membuat kue."

"Ya… kurasa begitu." Doremi lalu teringat sesuatu, kemudian ia menambahkan, "Kauingat kan, waktu pertama kali kita bertemu dengan Ai-chan dulu? Saat itu, dia sama saja seperti Momo-chan sekarang. Mereka sama-sama langsung mengatakan apa yang mereka pikirkan."

"Benar juga ya?" sahut Hazuki, "Saat itu, kita menganggap bahwa Ai-chan bukan anak yang baik karena hal itu, tapi kemudian, kita tahu bahwa ia tidak seburuk itu."

"Kurasa, Momo-chan juga seperti itu. Kalau dia bukan anak yang baik, mungkin saja dia malah tidak mau bergabung dengan kita dan mengajari kita membuat kue saat Jou-sama meminta bantuannya, tapi kenyataannya, dia bersedia ikut mengurusi Maho-dou bersama kita, dan tentu saja, dia bersedia mengajari kita membuat kue."

"Baiklah, kalau begitu… mungkin aku harus berlatih memecahkan telur lebih giat lagi, supaya Momo-chan tahu bahwa aku bersungguh-sungguh ingin ikut belajar membuat kue darinya," ujar Hazuki, "Tapi masalahnya, siapa yang bisa mengajariku? Doremi-chan, kau bisa mengajariku tidak?"

"Ah, aku… rasanya aku juga belum bisa melakukannya…" jawab Doremi.

"Hmm… kalau begitu, susah juga ya?"

Mereka terus berjalan sampai akhirnya sama-sama dikagetkan oleh suara Baaya yang menyambut kepulangan Hazuki, "Okaerinasai!"

"Huwaaa!" teriak Doremi. Ia berpikir, 'Ya ampun. Aku lupa kalau Baaya akan menyambut Hazuki-chan seperti ini…'

"Ta-tadaima, Baaya," sahut Hazuki gugup.

"Ngomong-ngomong, kenapa Hazuki-ojousama pulang cepat begini? Biasanya jam segini, Hazuki-ojousama masih belum pulang dari Maho-dou," tanya Baaya.

Hazuki lalu teringat bahwa Baaya sempat berkali-kali membuatkan kue untuknya, jadi ia berpikir, 'Ah, iya. Kurasa aku bisa berlatih pada Baaya dalam hal ini.'

Hazuki berkata, "Ne Baaya, kau pasti tahu cara memecahkan telur dengan benar kan? Bisa ajari aku tidak?"

"Tentu saja, Hazuki-ojousama. Baaya pasti akan mengajari Hazuki-ojousama dengan senang hati." Baaya tersenyum.

"Anou, aku juga boleh ikut belajar disini kan?" tanya Doremi, "Aku juga ingin tahu caranya. Lagipula… aku juga masih ingin menemani Hazuki-chan disini."

"Tentu saja boleh, Doremi-chan," jawab Hazuki sambil tersenyum, "Ya kan, Baaya."

"Itu pasti, Hazuki-ojousama. Lagipula Doremi-sama itu kan sahabat Hazuki-ojousama sendiri."

Mereka bertiga lalu bergegas menuju dapur rumah keluarga Fujiwara, dimana Hazuki (dan mungkin juga Doremi) berlatih memecahkan telur bersama Baaya.

Usaha merekapun berhasil. Pada akhirnya, Hazuki bisa memecahkan telur dengan benar.

Keesokan harinya, Momoko meminta maaf, tidak hanya dengan Hazuki, melainkan juga dengan Onpu yang kemarin juga belum bisa memotong coklat masak. Rupanya, Momoko juga menegur Onpu dengan kasar karena itu.

Baik Hazuki maupun Onpu sama-sama tidak mempermasalahkan apa yang terjadi kemarin, jadi mereka sama-sama menganggap bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan.

Sorenya, Hazuki dan Onpu sama-sama membuktikan kepada Momoko bahwa mereka akhirnya bisa melakukan apa yang sebelumnya tidak bisa mereka lakukan, dan semua itu (secara tidak langsung) juga dapat terjadi karena teguran dari Momoko kemarin, walaupun pada awalnya mereka tidak menerima teguran itu dengan baik dan menganggapnya kasar.

Sejak saat itu, mereka berlima terus berusaha agar mereka dapat menjadi lebih mampu lagi dalam membuat bermacam-macam kue.


Tanpa terasa, waktupun berlalu.

Sudah bulan Februari, dan menjelang hari valentine, Majorika mengusulkan agar Doremi, Hazuki, Aiko, Onpu dan Momoko segera membuat coklat untuk dijual di Maho-dou saat itu.

Mereka lalu sepakat menamai coklat yang mereka buat sebagai 'coklat penambah keberanian'. Mereka memang berharap supaya yang membeli coklat itu dapat memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan kepada orang yang disukainya.

Karena Doremi tidak tahu apa yang terjadi diantara Hazuki dan Masaru empat tahun yang lalu, ia mengira bahwa Hazuki akan memberikan coklat valentine lagi kepada Masaru, tapi pada akhirnya, ia, juga Aiko, Onpu dan Momoko mengetahui masalah yang terjadi: Hazuki tidak berani lagi memberikan coklat valentine kepada Masaru.

Doremi, Aiko, Onpu dan Momoko lalu membuat rencana agar Hazuki berani memberikan coklat valentine lagi kepada Masaru. Mereka sengaja menyisakan sekotak coklat penambah keberanian untuk Hazuki, supaya Hazuki membeli coklat itu dan memberikannya lagi kepada Masaru.

Saat Hazuki ingin memberikan coklat itu, rupanya Masaru juga ingin memberikan sebuket bunga untuknya. Masaru lalu memberitahu Hazuki bahwa mungkin ia dapat memberanikan diri untuk memberikan bunga itu berkat coklat penambah keberanian yang sempat ia beli dari Doremi.

Dan sejak saat itu, mereka mulai bertukar hadiah lagi di hari valentine, yang juga hari ulang tahun Hazuki tersebut.


Catatan Author: Oke, mungkin hanya segini saja yang bisa saya tulis kali ini… =_="

Chapter depan akan menceritakan tentang apa yang terjadi di Ojamajo Doremi Dokkan episode 49-51, jadi jangan sampai kelewatan ya?