DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Sampai di chapter 9! \(^o^)/

Sekedar mengingatkan, berhubung ini bulan puasa (dan saya takut telat bangun sahur kalau saya begadang untuk update fic seperti biasa), jadi selama sebulan ini, sampai lebaran, saya akan mengupdate fic saya sesempatnya, di pagi, siang atau sore hari (malam masih mungkin tapi itu juga kalau memang sempat dan nggak ganggu jadwal tidur).

Well then, now let's we back to the chapter


Hazuki's Life

.

Chapter 9 – My Lovely Childhood Friend


Suatu senja, di kota Misora…

Seorang gadis berambut brunette sedang berjalan sambil membawa tas sekolah di punggungnya dan menenteng biola miliknya yang ditaruh dalam sebuah tempat khusus bertuliskan inisial nama dari sang gadis, H.

'Tidak enak juga ya, pulang sekolah sendirian begini…'

Hazuki menghela napas. Ia terus saja berpikir sambil berjalan pulang ke rumahnya, 'Tamaki-san mana mungkin mau pulang jalan kaki? Kalau Ijuuin-san… tadi pagi kami memang sudah berjanji pulang sama-sama, tapi… janji itu terpaksa batal. Ijuuin-san dijemput oleh kedua orangtuanya…'

'Andai saja waktu itu aku tidak jadi masuk SMP Karen…'

'Ah, pikir apa sih aku ini?' Hazuki menggelengkan kepalanya lalu menatap sebuah biola yang dibawanya, 'Memang, hari ini… aku harus pulang sendiri, tapi itu bukan berarti aku harus menyesali keputusan yang telah kupilih. Ini sudah keputusanku. Aku harus bisa menjadi violinist terkenal dan membuat mama bangga.'

'Aku juga ingin membuktikan kepada mama bahwa aku setuju untuk masuk Karen bukan karena mama yang memintaku, tapi karena aku sendiri yang menginginkannya. Aku ingin menjadi violinist profesional.'

'Walaupun dalam beberapa hari kedepan, aku mungkin tidak akan bisa bertemu dengan Doremi-chan sesering biasanya. Jadwal latihan biolaku pasti akan lebih padat lagi dari sekarang…'

Tiba-tiba, Hazuki mendengar suara terompet mengalunkan lagu yang sudah sangat familiar baginya, Kira Kira Boshi. Suara itu berasal dari bawah jembatan, di pinggir sungai.

'Masaru-kun?' tebak Hazuki dalam hati. Ia lalu berjalan menuju ke tepi sungai dimana seorang pemuda berambut hijau gondrong sedang memainkan terompetnya yang berwarna keemasan.

Pemuda itu terus memainkan terompetnya, sampai ia menyadari bahwa Hazuki menghampirinya.

"Yo, Fujiwara," ujar Masaru, "Baru pulang dari Karen?"

"Iya." Hazuki mengangguk, "Kau sendiri, Masaru-kun?"

"Aku sudah pulang dari SMP Misora sekitar satu jam yang lalu, hanya saja… aku sedang ingin bermain terompet saja disini," jawab Masaru, "Kenapa kau menghampiriku? Peraturan di sekolahmu bukannya 'tidak boleh menemui lawan jenis sendirian'?"

"Aku hanya ingin berbicara denganmu. Apa itu salah?" balas Hazuki, "Kalau hanya untuk berbicara seperti ini, kurasa tidak apa-apa."

"Begitu ya?"

Hazuki mengangguk, "Jadi, Masaru-kun, sekarang kau bersekolah di SMP Misora kan?"

"Iya. Memangnya kenapa, Fujiwara?" Masaru balik bertanya, "Kau mau menanyakan padaku tentang Harukaze ya? Aku tidak sekelas dengannya."

"Aku sudah tahu kok. Doremi-chan sudah memberitahuku tentang hal itu. Aku hanya ingin bertanya padamu tentang situasi di sana. Apa di sana menyenangkan?"

"Lumayan, hanya saja… aku tidak habis pikir akan kelakuan Kotake."

"Ada apa dengan Kotake-kun?" tanya Hazuki tidak mengerti, "Apa ini juga ada hubungannya dengan Doremi-chan? Aku dengar-dengar… mereka satu kelas."

"Iya, tapi… sampai sekarang pun, Kotake masih bertingkah tidak baik terhadap dirinya sendiri. Tetap saja dia tidak mau mengaku kalau dia menyukai Harukaze. Padahal, sekarang mereka sekelas lagi."

"Eh? Jadi Masaru-kun juga berpikir kalau Kotake-kun menyukai Doremi-chan?"

"Untuk apa memikirkannya lagi? Menurutku, semuanya sudah jelas. Kotake jelas-jelas menyukai Harukaze sejak lama, tapi setiap kali ada waktu yang bagus untuknya membicarakan perasaannya itu, dia malah tidak melakukannya."

"Maksudmu?"

"Kauingat kan, kejadian sebelum upacara kelulusan kita dari SD Misora?"

"Iya, aku ingat. Saat itu, Doremi-chan mengurung diri di Maho-dou, dan kita semua berusaha untuk membujuknya supaya mau keluar."

"Kau juga ingat kan, kalau saat itu, aku dan Hasebe mengangkat Kotake saat ia bilang kalau semua orang menyukai Harukaze?"

"Tentu saja, aku juga mengingat hal itu," jawab Hazuki, "Lalu, apa hubungannya antara kejadian itu dengan perasaan Kotake-kun terhadap Doremi-chan?"

"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku dan Hasebe menginginkan agar Kotake bisa mengutarakan perasaannya terhadap Harukaze, tapi ternyata, dia malah berkata begitu."

"Jadi begitu…"

"Iya. Karena itulah, aku dan Hasebe menjatuhkan Kotake setelah pernyataannya yang menurut kami masih belum cukup mewakili dirinya sendiri."

"Jujur saja, aku juga sedikit menyayangkannya. Padahal, Kotake-kun benar-benar terlihat cemburu saat Akatsuki-kun menghampiri Doremi-chan di study tour setahun yang lalu." Hazuki berkomentar.

"Maksudmu, salah satu dari empat anak dari SD Takefukita di Fukui itu kan?" tanya Masaru.

"Iya," jawab Hazuki, "Tapi kelihatannya, bukan hanya Kotake-kun saja yang merasa cemburu atas hadirnya mereka di Nara dan Kyoto…"

"K-kenapa kau melirikku seperti itu?" ujar Masaru dengan muka memerah.

"Waktu itu, kau benar-benar memainkan terompetmu untukku kan? Saat Fujio-kun meniup terompetnya, kau memutuskan untuk meniup terompetmu juga demi aku kan?"

"Ngg… itu…"

"Jujur saja… aku butuh kejelasan tentang hubungan kita."

"Apa maksudmu, Fujiwara?"

"Ya… maksudku… dari semua yang terjadi diantara kita selama ini, apa… kau tidak bisa menyimpulkan kalau kita… saling mencintai?"

"Yah, jujur saja… pada awalnya, aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku saja, tapi… seiring berjalannya waktu, aku…" Masaru berpikir sebentar sebelum melanjutkan perkataannya, "Aku menyukaimu. Lebih dari seorang teman ataupun sebagai seorang sahabat. Aku mencintaimu."

Masaru lalu bertanya kepada Hazuki, "Apa kau mau… jadi pacarku, Fujiwara?"

"Masaru-kun, kau tidak perlu menanyakan hal itu lagi," sahut Hazuki, "Tentu saja, aku mau jadi pacarmu, tapi…"

"Tapi apa, Fujiwara?"

"Kau masih ingat kan, peraturan sekolahku? Jadi… kemungkinan saat kita berkencan nanti, akan ada yang menemaniku. Entah itu mama atau Baaya. Tidak apa-apa kan?"

Masaru menghela napas, lalu berkata, "Itu tidak menjadi masalah buatku. Yang penting… kita sama-sama tahu bahwa kita saling mencintai."

"Masaru-kun… arigatou," ujar Hazuki.

'Mungkin inilah yang membuatku mencintaimu, Masaru-kun… karena kau selalu mengerti aku.'


Catatan Author: Oke, kayaknya chapter ini agak gaje ya? =_=" Kayaknya saya nggak mahir bikin scene jadiannya Hazuki sama Masaru… khukhukhu…

Chapter depan akan mengisahkan tentang kehidupan Hazuki setelah menjadi violinist profesional. Ditunggu saja ya?