Maafkan saya kali ini, author yang tidak menepati janji. Karena berbagai alasan-alasan yang bla-bla-bla, seperti banyak tugas kuliah menumpuk, tidak ada waktu, buntu ide, kondisi fisik. Dan sekali lagi saya minta maaf *gomen* kalau masih ada kesalahan setiap kata atau bagian pendeskripsian dalam cerita yang terlihat rancu.
Arigatou buat reviewer sekalian, padahal target saya 25 reviewer tapi sudah melebihi target 30 reviewer. *kasih applause buat kalian. Respon untuk review kalian akan dijawab di akhir cerita, tapi tidak semuanya.
Ok, langsung cekidot dalam cerita ~~~~~
Life Like Is Wind, Fly On The Sky If You Want **
Gracia De Mouis Lucheta~`
For Anime Naruto Lovers **SasuSaku Lovers**
Disclaimer : Masih punya Masashi sensei **
Rated : T-een
Genre : Angst/Romance/Drama/Hurt-Comfort
Warning : Agak ke-OOC an, Au banyak Typo bertebaran
.
.
Kumpulan angin berdebu memenuhi ruangan yang berukuran sangat luas bercatkan merah yang sudah kusam, asap-asap menyesakkan paru-paru yang menghisapnya. Terlihat juga pigura dengan kacanya yang pecah berantakan, dilihat lebih rinci pigura itu adalah foto dari keluarga Haruno.
"Kemana anak itu?" Tanya pria berambut panjang dengan matanya yang khas seperti ular itu sambil menyulut rokoknya tengah duduk di perapian bersama wanita disampingnya yang juga sedang meminum Vodka.
"Sudah kubilang jangan gegabah dengan bocah itu! Kita harus menjalankan rencana satu persatu, bukan dengan memotong rencana seenaknya saja. Cepat hubungi dia, suruh dia kembali!" Geram wanita berambut keunguan itu menekan gelas kaca itu sampai retak.
"Anko, bukannya kau menginginkan nyawa gadis itu untuk memuluskan rencana kita." Ucap laki-laki itu yang telah berusia 45 tahun tengah menghembuskan asap rokoknya.
"Iya, aku tahu. Lagipula kita membutuhkan tanda tangan gadis itu saat umur dia 18 tahun, akan tetapi undur rencana itu." Wanita itu menyeringai kepada laki-laki yang berada di sampingnya.
"Hm…"
Wanita bernama Anko itu menunjukkan seringai itu kembali tepat di pigura yang sudah berantakan dan bertatapan tajam dengan laki-laki itu. "Kita mulai dengan bermain-main dulu dengan Uchiha dan Sabaku. Buat ini lebih menarik!"
.
.
In Konoha et Campus at 10.30 a.m
.
.
Angin berhembus kencang menerpa teriknya sang surya, menusuk setiap inci kulit manusia yang merasakannya. Suasana di atas atap gedung fakultas Seni, tepatnya Seni Musik terlihat agak tegang karena seorang yang nampak asing di kampus itu memasuki area yang dilarang tanpa izin.
Tampak dia tengah mengambil sesuatu dari saku celananya, "Bersiaplah untuk mati, kalian berdua—". Sasuke langsung ambil ancang-ancang dan menatap tajam laki-laki itu tampak tak teralihkan dari mata Onyx-nya.
Dret..Dret
Suara getaran berasal dari saku laki-laki itu, dia pun mengernyitkan dahinya melihat layar telepon genggamnya. "—Ah, Orochimaru-sama. Padahal tinggal sedikit lagi." Gumamnya.
Laki-laki itu memasukkan kembali benda yang akan digunakan untuk mencelakakan keturunan Uchiha dan Haruno. Dan meninggalkan mereka berdua tanpa membicarakan sesuatu apapun yang bisa membuat ketakutan, tapi apa daya kalau rencana yang dia lakukan sekarang bukan waktunya. Seringai senyumnya sengaja di perlihatkan kepada mereka.
"Tidak jadi membunuh kami—eh, Kabuto." Ucap Sasuke menghentikan langkah Kabuto.
"Maaf Tuan Uchiha, kali ini kalian selamat. Dan selamat tinggal."
Sasuke pun menghela napas lega karena dia juga ketakutan dengan laki-laki memakai jubah biru sebagian menutupi kepalanya itu tetapi sangat mengenal namanya dari tangannya terlihat goresan semacam luka berbentuk garis zig-zag dan tato berbentuk ular.
"Kau tidak apa-apa kan, Saku—" Alis Sasuke berkedut pertanda panik melihat Sakura sudah berada di pinggiran gedung itu. "—Sakura, berhentilah bertindak konyol." Mohon Sasuke dengan menarik kembali tangan Sakura.
Sakura menepis tangan Sasuke dan melangkahkan kaki kanannya perlahan-lahan ke bibir gedung itu, dia berharap apa yang di lakukan bisa menyelesaikan masalah berat kini menimpanya. Ironis, saat seperti ini banyak yang ingin membantunya tetapi dia tidak mau melibatkan orang lain. Tidak boleh ada yang menjadi korbannya.
Merasa siap atas niat bunuh dirinya, dia perlahan-lahan kembali melangkahkan satu kaki lagi dan dia bebas ke alam di mana tidak ada lagi yang bisa menemukannya. Terdengar jeritan dari teman sekelasnya yang tengah menggengam erat tangan pemuda berambut nanas, dia tak menggubris teriakan itu karena akan mengurungkan niatnya.
"SAKURAAA…"
Grep..
Sakura merasa dia ada bersama kedua orang tuanya yang berada di surga, tetapi kenapa dia mencium aroma parfum bahkan aroma maskulin laki-laki. Jangan-jangan—
"Bodoh, apa yang kau lakukan? Tidak mendengar ucapanku tadi, Sakura." Dengus Sasuke memeluk tubuh mungil Sakura.
"Lepaskan aku, Uchiha-san." Pinta Sakura menggerakan tangannya mendorong dada bidang Sasuke.
Tetapi Sasuke mengeratkan pelukannya agar Sakura tak berkutik dari jangkauannya. Dia tak mau lagi meninggalkan gadis ini, jika itu terjadi maka Sakura akan menghilang tanpa jejak. "Tidak akan kulepaskan sampai kau tidak melakukan hal konyol itu lagi." Kata Sasuke agak pelan tepat di telinga Sakura.
"Berhentilah menyuruhku, kau bukan siapa-siapa aku!" Ucap sinis nan sarkastik Sakura.
"DIAM…" Bentak Sasuke yang sudah kehabisan kesabaran menghadapi sikap Sakura, dia pun menarik tangan gadis itu keluar dari gedung fakultas seni. Tampak banyak pasang mata yang melihat aksi si bungsu Uchiha ini.
Entah kenapa dia harus melindungi Sakura, padahal dia bukan siapa-siapa dirinya. Tetapi ada yang merasuki keinginannya untuk menolong Sakura, tanpa di sadari oleh alam sadar. Seluruh tubuhnya seakan magnet bagi gadis itu, apapun yang terjadi sesuatu yang buruk ; pasti dia ada disana. Melupakan bahwa Sakura hanyalah sebagai bahan penelitian tugas akhir mata kuliahnya.
.
.
.
.
"Oy, Teme. Kau bahkan terlihat konyol berlari tanpa henti dan lebihnya kau menolong—Eh, kalian mesra sekali." Mata Sapphire milik Naruto *Blink-Blink* melihat sesuatu yang ganjil dengan sahabatnya.
Melihat pandangan aneh dari Naruto, tanpa sadar Sasuke langsung melepas tangannya dari tangan mungil Sakura. "Jangan berpikiran macam-macam, Dobe."
"Benarkah, tidak ada sesuatu…" Celetuk Naruto.
"Kau mengancamku,Dobe." Sahut Sasuke menatap tajam bak elang kepada pasang mata milik Naruto.
"Sasuke…" Panggil Gaara, hingga Sasuke pun menoleh ke arah yang memanggilnya. "Hm…"
"Siapa laki-laki yang berada bersama kalian berdua, Sasuke?" Tanya Gaara mengejutkan semua yang mendengar perkataannya.
"Dia laki-laki yang bahkan kau kenal, Gaara. Lagipula aku bisa mengenalnya dari tanda di tangannya, kau mengerti maksudku?" Ucap Sasuke.
"Tanda—maksudnya apa Gaara…Sasuke?" Tanya Shikamaru pertanda tak mengerti akan pembicaraan diantara mereka berdua.
"Bisa kau jelaskan, Gaara…" Ucap Sasuke tengah memberi isyarat kepada Gaara.
Merasa tak di perdulikan oleh mereka, Sakura ingin bergegas dari situasi ini. Gara-gara dia dan mereka, gadis itu gagal untuk ke empat kalinya mencoba bunuh diri. "Maaf, aku harus pergi sekarang."
"Tidak untuk kali ini dan selamanya, Sakura-chan." Kata Naruto menghentikan langkah Sakura.
"Uzumaki-san, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa kau memakai suffiks-chan di belakang namaku?" Cibir Sakura.
"Kita pernah bertemu bahkan memiliki hubungan erat, Sakura-chan."
Terusik mendengar perkataan dari Naruto, Sasuke mengalihkan pandangannya kepada dua insan yang tengah membicarakan sesuatu yang membuat telinganya panas.
"Naruto, hubungan erat apa? Bukankah kau berpacaran dengan Hinata, huh?" Ucapnya menandakan seolah harus dijawab dengan sejujurnya kepada orang yang di tanyanya.
"Hubungan erat—sahabat, Sasuke. Kau merasa cemburu atas perkataanku tadi, aku hanya ingin sahabatku kembali seperti dulu." Jawab Naruto tak kalah tajam dengan ucapan Sasuke.
"Baiklah…baiklah, apakah bisa di lanjutkan sekarang siapa laki-laki itu?" Lerai Ino menurunkan temperatur suasana di antara mereka.
"Laki-laki itu adalah—"
Dret…Dret… suara getaran bahkan alunan melodi nyanyian instrumental lagu Numb menganggu pembicaraan mereka. Pemuda berambut jabrik kuning merogoh sakunya dan melihat layar I-Phone 3, dia membaca isi pesan nya dan memasukannya kembali ke dalam sakunya.
"Siapa…Naruto?" tanya Shikamaru.
"Maaf, menginterupsi pembicaraan kita—Sakura-chan, kau dipanggil dekan III sekarang." Ucapnya menjurus kepada gadis yang berada di samping Sasuke.
"Ada urusan apa, Dobe?" Tanya Sasuke melipat kedua tangannya di dada bidangnya.
"Entahlah, yang sekarang Sakura-chan—" Perkataan terpotong karena Sasuke menarik tangan mungil Sakura."Cotto matte, Sasuke." Cegat Naruto.
"Sasuke, sebaiknya biarkan Sakura sendiri ke sana." Ucap Gaara langsung menghentikan langkah Sasuke.
Baik Shikamaru maupun Naruto memberi isyarat kepada Sasuke, dia pun mengernyitkan pikirannya dan melepas genggaman eratnya. "Maaf, kau boleh pergi sekarang."
"Terima kasih…" Sahut Sakura kemudian meninggalkan mereka.
"Baiklah, apa yang kalian ingin bicarakan?" Ucap Sasuke.
.
.
In Uchiha Coorporation at 11.25 a.m
.
.
Kertas bertumpuk diatas meja sang pemuda pewaris pertama keluarga klan Uchiha yang terkenal akan kekayaannya. Keringat meluncur deras dari dahi pemuda yang memiliki khas mata Onyx , berulangkali dokumen itu dibolak-balikan. Apalagi dokumen itu harus diserahkan pada direktur sekarang juga.
Rasa haus kini menyerang di kerongkongan pemuda itu, kepala mulai tidak menunjukkan konsentrasi atas sisa-sisa dokumen di depan matanya. Kemudian dia mengambil gelas yang berisi es limun dan memasukkanya ke ruang mulutnya yang tengah menginginkan kesejukan.
"Itachi-kun.." Suara wanita memasuki ruangan yang bernamakan "Wakil Direktur Itachi Uchiha" terpampang jelas di mejanya.
"Ada apa Konan? Bukankah dokumen itu harus di serahkan pada Otou-san?" Jari Itachi menunjuk pada dokumen yang di pegang oleh wanita berumur 23 tahun dengan berambut biru muda itu.
"Kata Otousan, ini bukan dokumen. Tapi—" Konan memberikan kertas itu kepada Itachi. Pemuda itu menautkan alisnya pertanda tidak mengerti dari tunangannya itu. "Maksudnya apa ini, Konan?"
Wanita itu menepuk bahu tunangannya, "Itu berkas mengenai gadis yang kau selidiki—kan,Itachi!"
"Bagaimana kau bisa tahu ini gadis yang aku selidiki, Konan? Bukankah ini—" Ucapan Itachi terpotong karena jari wanita yang berprofesi sebagai sekretaris dari Itachi Uchiha kemudian dia membisikan sesuatu di telinga pemuda itu.
"Aku di beritahu oleh ayahmu, dan sebagai tunanganmu akan membantumu, lagipula aku tahu dimana alamat yang tertera di berkas itu." Ucapnya menunjukan kata-kata yang bertuliskan miring di kertas itu.
"Haruno Family House, At Routen Street number 13"
Itachi ingat akan apa yang di katakan oleh salah satu keturunan Sabaku, yaitu pemuda dengan rambut merah dan khas baby face julukannya. "Walaupun keluarga kita bermusuhan, jangan sampai persahabatan kita juga seperti mereka. Dan kita harus memperbaiki hubungan ini karena beban sebagai anak pertama, bukan begitu Itachi!. Dan satu lagi, jika memerlukan bantuan. Hubungi aku ya, jangan sungkan-sungkan."
Dia langsung mengumbar senyum kepada tunangannya, tetapi wanita itu bingung akan senyuman mendadak dari pemuda yang memiliki guratan garis di wajahnya itu. "Rahasiakan ini—hubungi teman kita berambut merah itu, dan bilang tempat pertemuannya di Akatsuki Café milik Deidara."
"Baiklah sayang~~" Wanita itu memberi kecupan di wajah pemuda bermata Onyx. "Jangan mengeluh lagi, kan ada aku di sini."
"Hn, kembalilah ke pekerjaanmu. Jangan gara-gara kita bertunangan, pekerjaan kita tertelantar."
Wanita berambut biru itu langsung meninggalkan ruangan tunangannya, dan pemuda itu mengetikkan pesan singkat untuk salah satu temannya.
Deidara, pesan tempat buat empat orang. Biayanya ku bayar nanti.
By Itachi Uchiha.
.
.
In Uzumaki House, at 13.12 p.m
.
.
Rasa lelah dan kantuk menguasai kepala mereka, cuacanya yang panas membuat seluruh badan menjadi berkeringat. Salah satu dari mereka menghabiskan Orange Juice sampai empat gelas, ada juga yang menelungkupkan tubuhnya di kipas angin hingga kesejukan menimpa tubuhnya.
"Ah, segarnya. Aku mau tidur aja lah!" Ucap Naruto langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang empuk.
"Baka dobe, kenapa Orange Juice? Bukan Tomato Juice, kau kan sudah tahu aku paling suka dengan tomat." Gerutu Sasuke menghampiri Naruto.
"kau bisa pesan sendiri dengan pelayan, kenapa kau manja sekali sih?" Dengus Naruto langsung menghubungi pelayannya langsung memesan apa yang di inginkan sahabatnya itu.
"Ini kan rumahmu, bodoh." Teriak Sasuke.
Tanpa menunggu beberapa menit, pesanan tuan bungsu Uchiha pun telah berada di meja. "Pesanan Tomato Juice sudah ada di meja, Tuan Uzumaki." Ucap pelayan memberikan senyumannya kepada dua pemuda itu.
"Terima kasih, Azu-san. Kembalilah ke pekerjaanmu…" Cengiran lebar keluar dari mulut Naruto Uzumaki.
"Eh, Sasuke. Kau sudah mengerjakan tugas dari dosen Kakashi?" Tanya Gaara menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Belum, memang harus dikumpul besok?" Sahut Sasuke langsung meminum Tomato Juice buatan pelayan di rumah Naruto.
"Bukan itu maksudku, sebernanya tugas itu berhubungan erat dengan penelitianmu. Sasuke!" Ucap Gaara.
Tanpa berucap lagi, Sasuke pun langsung membuka laptopnya. Beberapa menit kemudian dia mengetikkan sesuatu di keyboard, tak lama dia kaget akan yang terpampang di sana.
"Ada apa Sasuke?" Tanya Shikamaru.
"Coba lihat ini—" Ucap Sasuke menggerakan jarinya di layar laptopnya.
"Tipe-tipe simton negatif yang diakui dalam DSM-IV sebagai inti dari skizofrenia adalah affective flattening, alogia, dan atau kemiskinan bicara adalah pengurangan atau penurunan (reduksi) berbicara. penderita mungkin tidak berinsiatif untuk berbicara dengan orang lain, dan jika ditanya secara langsung (direct question), ia menjawabnya dengan singkat dengan isi jawaban tidak berbobot. kurang atau kerusakan berbicara orang tersebut mungkin menggambarkan kekurangan atau kerusakan dalam berpikir, meskipun hal itu mungkin untuk sebagian disebabkan oleh kurangnya motivasi berbicara"
"Teme, kau ketikan apa? Kenapa harus tipe-tipe simton negatif, bukankah seharusnya penyebab Skizofrenia?" Cerca Naruto.
"Aku hanya meng-klik saja, dan di sini ada tertulis A-l-o-g-i-a…" Ucap Sasuke terbata-bata.
Gaara pun tahu kenapa Sasuke mengucapnya seperti itu, karena dia juga tahu Sakura memiliki tipe-tipe itu salah satunya yang di sebutkan oleh pemuda berambut Dark blue.
"Hm, Sasuke. Aku mengerti kenapa Kakashi sensei memberikan tugas ini kepada kita…" Ucap Gaara membuat arah pasang mata ke arahnya.
"Kenapa, Gaara?" Tanya Shikamaru menyenderkan tubuhnya ke sofa dan berada di samping Naruto.
"Kakashi sensei tahu kau akan meneliti Sakura Haruno…"
"Itu tidak mungkin, Gaara. Masa' kau bisa membaca isi hati orang!" Gumam Sasuke tak percaya.
"Aku yakin pasti ada hubungan di antara Kakashi dan Sakura, karena aku pernah melihat data Kakashi. Di sana tertulis dia adalah adiknya ayahnya Sakura.." Jelas Gaara membuat Naruto dan Sasuke membulat tak percaya lagi.
"Kau tahu darimana, Gaara?" Tanya Sasuke.
"Dari Sasori-nii… Aku juga sepupu dari Sakura, jadi—bagaimana kau mengalihkan perlindungannya kepada kami, Sasuke?" Perkataan Gaara sukses membuat lidah Sasuke berkelut.
"Eh, maksudmu apa. Gaara?" Sahut Sasuke menautkan alisnya.
"Maksudku kalau Sakura sebaiknya ke mansion kami saja, apakah kau keberatan?" Tanya Gaara.
"Entahlah, yang kurasa lebih aman di mansion kami saja. Karena kau kan tahu Kabuto itu mantan pelayan dari keluargamu. Jadi mungkin saja dia mudah memasuki areal mansionmu terus mencelakai Sakura lagi!" Penjelasan Sasuke mengarah ke Gaara bagaikan busur yang terkena bidik yang tepat.
Shikamaru benci akan suasana tidak enak begini, dia merasakan aura kegelapan di antara Gaara dan Sasuke. Juga Naruto terlihat cemas akan pentengkaran kecil Uchiha dan Sabaku itu yang bisa saja membuat menjadi kacau. Maka sebagai sahabat yang paling dewasa diantara mereka, dia pun mengambil Blackberry -nya dan mengirimkan pesan kepada seseorang.
Kak Dei, pesan meja untuk 4 kursi. Dengan menu seperti biasa, siapkan tiga Orange Juice dan satu Tomato Juice. Kami akan datang sepuluh menit lagi.
By Shikamaru Nara. Tunangan Ino Yamanaka.
Setelah mengirim pesan singkatnya, dia pun angkat bicara. "Daripada suasana begini, lebih baik kita ke Akatsuki Café saja. Mungkin bisa mendinginkan kepala kalian berdua, terutama untuk Sasuke dan Gaara. Dan untuk Naruto, terima kasih atas pelayanan rumahmu." Ucap Shikamaru menyakinkan ketiga sahabatnya.
"Waakata, ini terlihat lebih konyol kalau kita harus berdebat adu mulut begini. Ayo, Shika. Kita ke Akatsuki Café…" Sahut Gaara kemudian membereskan alat perlengkapan kuliahnya dan bersiap-siap.
"Kalau sudah kemauan kalian, aku ikut." Ucap Sasuke langsung mematikan laptopnya.
"Shikamaru, aku pamit dengan Okaasan dulu ya. Nanti aku menyusul ke bawah, Ok!" Ucap Naruto mengacungkan jarinya dan kemudian berlari ke kamar ibunya.
.
.
.
.
.
"Hati-hati ya di jalan, Naruto! Kalau bisa ajak Hinata-chan ke sini lagi… Kaa san mau tahu kenapa gadis se imut dia bisa naksir dengan kamu, Naruto." Ucap Okaasan Naruto yang memiliki rambut merah kusam panjang dengan memakai dress putih panjang di sertai renda-renda warna biru.
Atas ucapan Okaasannya, muka Naruto langsung berblushing berat dan menutupinya dengan memasuki mobil pribadinya. "Aku berangkat, Okaasan…" Ucap Naruto.
"Kami juga berangkat, bibi. Salam buat paman Minato…" Ucap Sasuke mewakili Shikamaru dan Gaara.
"Baiklah, tapi jangan malam-malam ya!" Peringat Okaasan Naruto.
Mereka pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke Akatsuki café milik kakak laki-lakinya Ino Yamanaka, Deidara. Tampak mereka mengadu kekuatan kecepatan mobilnya karena irama mobilnya seakan balapan mobil di jalan raya.
Walaupun terkadang mereka terlibat adu mulut, tapi ada satu yang bisa melerai pentengkaran mereka dengan pergi ke Akatsuki Café. Sungguh simpel bukan, cara penyelesaiannya.
.
.
.
In Akatsuki Café, at 13.22 p.m
.
.
Akatsuki Café ini memiliki ruangan yang luas disertai kerlipan bintang di depannya juga di luarnya di sediakan beberapa kursi untuk pasangan muda-mudi untuk sekedar berkencan atau hal yang lain. Terlihat di sana ada perbincangan cukup serius di meja 302 dengan berisikan tiga teh hangat, satu Cappucino Coffe, berserta bolu Muffin menghiasinya. Ada yang diam tanpa berkomentar apa-apa, ada yang saling bergosip dengan pemilik Café, dan adu mulut tak ada habis-habisnya.
"Itachi, kau kan tahu kalau aku sepupu dari Sakura. Jadi aku tahu dong dimana tempat tinggalnya?" Ucap Sasori menyeruput teh hangatnya.
"Tapi, aku tak pernah tahu kalau kau adalah sepupu dari keluarga Haruno…" Gumam Itachi mengelus dagunya.
"Kau tidak pernah bertanya padaku…" Ucap Sasori memutar bola matanya seolah tak peduli dengan perkataan Itachi.
"Bisakah kita ke sana sekarang, dan jangan seolah tak peduli, Sasori. " Dengus Itachi.
Di lain arah pembicaraan…
"Un Hari ini ada diskon belanja di Konoha Mall sekitar 40 %, bisa bayangkan kalau kita memborong semuanya un…" Ucap Deidara dengan mata berbinar-binar kepada wanita yang berada di samping Itachi.
"Benarkah itu, Dei-kun. Aku akan ke sana hari ini bersama Itachi-kun…benarkah, Itachi-kun?" Sahut Konan menarik-narik bahu Itachi hingga membuat kepalanya pusing. "Jangan terlalu konyol, Konan." Geram Itachi.
"Go-gomen, Itachi-kun. Hei—Pein, kenapa kau diam saja?" Celetuk Konan menyentilkan sendok kecil di meja nya ke muka Pein.
"Adauw, Konan-san. Bisa tidak untuk menghentikan kejahilanmu? Perbuatanmu masih seperti anak kecil saja…" Gerutu Pein mengelus dahinya karena meninggalkan bekas kemerahan.
.
.
.
"Di mana meja kita, Shikamaru? Aku sudah lelah nih…" Keluh Naruto merenggangkan tangannya.
Semua pasang mata melihat ke empat cowok memasuki Akatsuki Café, ada yang berdecak kagum, ada yang histeris bahkan sampai ingin meminta foto dari mereka. Yang dimaksud itu malah menghela napas panjang dan tidak peduli.
"Kita cari kak Dei dulu—oh, itu dia…" Ucap Shikamaru melihat pemilik Café tengah bercengkrama dengan tiga orang yang tampak tidak asing dari pandangannya.
"Di mana, Shikamaru? Aku tidak menemukannya…" Dengus Gaara menfokuskan mata Jade nya kesana-kemari.
"Bukannya itu kakak kalian…Sasuke…Gaara?" Ucap Shikamaru menepuk pelan kedua sahabatnya itu.
Sorotan mata keduanya langsung mengarah ke salah satu meja dan alangkah terkejutnya mereka melihat kedua kakaknya di sana. "Sasori-nii…" Gumam Gaara, "Baka nii-san…" Ucap Sasuke.
"Ayo, kita hampiri mereka!" Ajak Naruto menggeret ke tiga sahabatnya menuju ke meja yang di maksud.
.
.
.
"Sudah ku bilang kalau di sana itu berbahaya, kita harus merencanakan matang-matang, Itachi." Geram Sasori.
"Bukannya masalah itu, keluarga kita kan saling bermusuhan. Jadi susah untuk bergerak…" Ucap Itachi tak kalah.
"Itachi, kita bukan artis hollywood yang selalu di kejar. Kita hanya orang biasa kok, jadi tidak mungkin ada mata-mata untuk mencelakai kita.." Sahut Sasori.
"Aku harus tahu sekarang, soalnya ini menyangkut paut dengan ayahku…" Ucap Itachi mengalihkan pandangan dari Sasori.
"Maksudmu?"
"Sakura adalah anak teman ayahku, jadi secara tidak langsung keluarga kami ada hubungan juga, Sasori.."
"Sakura? Hubungan? Ayah? Apa yang kalian maksud…?" Tanya Sasuke tiba-tiba mendengar percakapan diantara keduanya.
"Sasori-nii, kenapa kalian membicarakan Sakura? Apa maksudnya ini?" Cerca Gaara.
"Apakah kalian bermaksud meneliti Sakura juga?" Tanya Shikamaru.
"Memang kenapa dengan Sakura-chan?" Cemas Naruto menggebrakan meja itu.
"Itu…."
.
.
.
TBC
Author Notes~~
Maafkan Gracia lagi karena ceritanya kurang feel, mungkin dengan sedikit clue-clue di fic chapter ini bisa memuaskan kalian semua. Baiklah saya akan menjawab review Kalian
Listri-chan
Itu sudah di sebutkan diatas, nama-nya Kabuto . Yang ortu mereka sahabatan mungkin bisa di perjelas di chapter berikutnya…
Diggory Malfoy
Oh, iya. Saya lupa benerin nya… makasih ya atas kritikannya ^^a
Kamikaze Ayy a.k.a Ayhank-chan UchihArlinz
Itu, sudah update … Baca dan review ya !
Uchiharuno phorepeerr
Iya, orang tua mereka sahabatan, tapi belum diperjelas di sini. Orang yang membunuh ortu-nya Sakura itu ada hubungan juga dengan Sabaku dgn Uchiha, makanya jadi mereka bermusuhan, bukan anaknya ya ^^o
Sindi 'Kucing Pink
Kenapa Sakura ada di atap? Karena dia mau, bunuh diri tapi di cegah oleh-, baca aja yap !
Makasih buat naomi-azurania, G-dragon, darkflash, Uchiha Yuumna, Kazuki Namikaze, rumi, Dark girl, Chiwe-SasuSakuNaru…
Yosh, sekarang Review ya ^^o
