I'm sorry to publish again this chapter. "Saya minta maaf untuk mempublikasikan chapter ini lagi." Karena saya kurang yakin dengan susunan EYD yang digunkan dan KEJUTAN! Saya meminta author Hanaruppi untuk membeta-kan chapter ini. Dan banyak kesalahan yang ku tulis di chapter ini, saya harap kalian tidak bosan untuk membaca fic ini. Chapter yang ke-8 akan secepatnya saya publish**

Author juga manusia yang tidak selalu tepat waktu mempublikasikan ceritanya, onegaii minna~~


Dia terdiam memegang pena dan selembar kertas yang mengharuskannya untuk membubuhkan tanda tangan. Dengan nada mengancam dari bibi Anko, Sakura langsung menandatangani surat tersebut dan membuat bibinya tersenyum kemenangan.

"Bagus Sakura, kau mengerjakan tugas dengan baik. Kalau begitu, bibi akan memberikan bonus untukmu…"

"Apa i-itu bi-bi?"

"Kau bisa kuliah besok, tapi dua hari berikutnya—kau harus lenyap dari mereka."

"Maksud bibi?"

"Kau harus mati, Sakura." Seringai Anko.


Naruto © Masashi Kishimoto

Numb Girl © Gracia De Mouis Lucheta

Genre : Romance™/ Angst /Drama/Hurt-Comfort

Rated : T

Warning : Misstypo, OOC, AU.

For *SasuSaku Lovers*

Enjoying for Reading and Review…

~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~

Chapter 7

-Before The Dawn-

-Sakura is dead-

Terinsipirasi dari lagu Infinite –Before The Dawn

Sebaiknya anda mendengar lagu Before The Dawn dan my Immortal

Karya Evanescence dan Infinite dalam membaca chapter ini


In Konoha et Campus…

.

.

.

Hari-hari berjalan seperti biasa tanpa desas-desus kekacauan minggu kemarin, semua aktivitas terlihat normal. Sama halnya di fakultas tertua di Konoha Et Campus yaitu Psikologi, yang banyak dihuni anak pemegang saham tertinggi di kampus. Berkaitan dengan perkuliahan, salah satu kelas yang dipakai oleh para mahasiswa menjadi hening saat kedatangan Sasuke dan Gaara tanpa kedua sahabatnya.

Semua mahasiswa yang ada di kelas itu berbisik-bisik sesuatu tentang mereka berdua, mengenai kenapa mereka berusaha melindungi gadis yang lebih disebut Numb Girl itu, apa hubungannya dengan mereka. Gaara mendelik tajam ke arah sumber bisikan-bisikan itu, "Bisa kalian tidak bergosip? Tidak baik untuk mental kalian."

"Apa yang kau bicarakan pada mereka, Gaara?" tanya Kiba ketika menghampiri pemuda bermata jade itu dengan duduk di depannya―semula dia duduk di belakang Gaara.

"Oh, tidak ada. Hanya sekedar membuat mereka tidak ribut saja. Karena aku benci dengan keributan." Gaara menjawab dengan singkat namun tersirat suatu arti yang sulit dipahami dari ucapannya. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Kiba, sesuatu yang tersembunyi… entah apa itu.

Sasuke mengindahkan ucapan Gaara tadi, dia tahu sahabatnya berusaha menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh siapapun kalau memang ada hubungan antara Gaara dan Sakura. Ya, dia kemudian memasang headset di kedua telinganya dan terdengar senandung musik dari i-pod yang ia bawa. Lagu My Immortal-Evanesencence… Sasuke mengingat tentang gadis itu.

"Teme, ada berita gawat! Beritanya sudah menyebar luas…" ucap panik pemuda berambut jabrik yang tiba-tiba datang dan langsung menggoncangkan tubuh Sasuke hingga mata onyx-nya menatap horror kepada sahabatnya yang berisik itu.

"Berita apa, bodoh?" Sasuke mem-pause lagu kesukannya dan mendengar racauan Naruto yang menarik pergelangan tangannya ke tempat sumber berita menghebohkan itu.

Gaara dan Kiba menyusul mereka, terpikirkan oleh mereka berdua berita apa yang membuat seluruh fakultas jadi ramai. Terlihat sebuah papan besar yang ditempeli berderet berita, dan mata mereka terfokus dengan satu poster besar berisi berita mengenai mereka… Gaara, Sasuke, dan Sakura.

Mata Sasuke membulat kaget tidak percaya dengan gambar juga tulisan besar yang bertuliskan, "Ada hubungan apa antara pewaris Uchiha dan Sabaku itu dengan Numb Girl itu?"

"Siapa yang membuat selebaran berita ini? Ayo, jawab!" tanya Sasuke dengan amarah memuncak. Dia tahu memang ada hubungan di antara Gaara dan Sakura, tapi kenapa harus dibuat seperti cinta segitiga padahal sahabatnya sendiri sudah mempunyai pacar dan tidak mungkin mengkhianatinya. Ada seseorang yang berusaha membuat kampus mereka kacau.

Karena tak ada yang menjawab ucapannya segera, pewaris bungsu Uchiha langsung merobek poster itu. Tak peduli dengan aksinya, dia kemudian menghampiri Gaara. "Gaara, bakar berita ini. Kau tidak mau 'kan hal ini diketahui oleh keluargamu?" ucapnya. Gaara yang mengerti akan ucapan sahabatnya segera mengambil poster yang telah sobek itu dan membakarnya di atas tanah hingga menjadi abu.

Seseorang yang membuat keributan dengan menyebarkan berita itu tengah tersenyum puas atas reaksi mereka. "Well, di hari berikutnya akan kubuat kalian lebih dari ini…" gumamnya.

.

.

.


In Faculty Music and Arts

.

.

Gadis berambut merah muda memainkan piano tua dengan menyenandungkan lagu My Immortal karya Evanescence. Entah apa yang membuat ia terdorong ke ruangan itu dan menekan tuts-tuts dengan nada menyakitkan. Besok... Ya besok, dia harus menghilang dari dunia ini, tak ada yang bisa dihindari lagi olehnya. Kejadian tadi pagi saat dia bertemu dengan orang-orang yang menolongnya, tak terkecuali Gaara dan Sasuke. Mungkin terlintas di pikiran mereka bahwa dia baik-baik saja, tapi besok mereka tidak akan menemukannya lagi untuk selamanya.

Saputangan… yang terbalut rapi di pergelangan tangannya akan menjadi kenangan dari bungsu Uchiha itu. Dengan segala perhatiannya, rasa ingin melindungi, telah terbungkus rapat dalam kain warna biru tua ini. Kali ini, wajahnya yang semula datar tergerak untuk membuat lengkungan berbentuk senyuman walaupun sulit, karena dia membuang semua itu.

"Terima kasih…" ucap Sakura terdengar seperti bisikan lalu tertiup angin, dan yang mendengar hanya alam yang menuntun suara itu kepada orang-orang yang menolongnya selama ini.

Di balik pintu itu, dua orang gadis tak sengaja mendengar lagu itu. Orang itu adalah Ino dan Temari. Walau kakak dari Gaara itu satu tingkat di atas mereka, Temari tetap menghampiri kelas adik tingkatnya untuk mengecek sepupunya.

"Temari-senpai, apakah aku bukan sahabatnya yang baik?" suara serak Ino membuat Temari menepuk pundak adik tingkatnya itu. "Kau adalah sahabat yang baik, Ino. Jangan membuat dirimu terpuruk. Besok kita bisa ajak Sakura jalan-jalan, OK?" ucap Temari.

"Arigatou nee…"

.

.

.


Keesokan harinya

.

.

.

"Ck.. ck... Betapa lucunya kalau Teme tidur. Dan aku berhasil mendapatkan pose langka!" ucap cempreng Naruto hingga mendapat jitakan cukup kuat dari Sasuke. "Jika kau menyebarluaskan, maka kau tidak bisa hidup sore ini," ancam Sasuke.

"Merepotkan. Kalau pose itu tersebar luas pun, fans-mu juga makin banyak, bukan?" cetus Shikamaru keluar dari mobil kesayangannya dan menghampiri kedua sahabatnya.

Gaara masih di dalam mobil hingga Naruto mendapat ide untuk menjahili pemuda itu. Gaara tampak serius dengan I-phone dan menekan layar sentuh itu. "Hei, Gaara, sampai kapan kau berada di dalam?" ucap Naruto sambil mengetuk kaca mobil dengan keras hingga I-phone yang semula berada di tangan Gaara hampir lepas.

Segera Gaara membuka paksa pintu mobilnya dan membuat Naruto yang menempelkan wajahnya di kaca jendela mobil terjerembab jatuh hingga ke tanah. "Ittai—" dengusnya.

"Dasar bodoh…" seringai Sasuke meremehkan Naruto.

"Naruto, kalau benda ini sampai rusak—kau harus menggantinya," ucap Gaara terdengar seperti ancaman, tapi sahabatnya hanya tersenyum meledek. "I-Phone-mu tidak rusak karena masih bera—" ucapan Naruto terpotong dan mendapati Kiba tengah menghampiri mereka dengan raut wajah kebingungan.

"Ada apa, Kiba?" tanya Shikamaru.

"Berita… berita menghebohkan—" ucap Kiba mengatur nafasnya.

"Apa berita yang sama seperti kemarin?" tanya Sasuke.

"Bukan… ini beda."

"Maksud k-kau?" ucap Naruto.

Kiba langsung memberitahukan bahwa ada berita lain lagi yang tertempel di mading kampus, membuat mereka bergegas ke sana. Dengan mata membulat, Sasuke merosot dari posisi berdirinya. Juga terdengar suara-suara yang semakin meyakinkan kalau berita itu benar.

"Kasihan sekali gadis itu, baru saja dia dilindungi oleh idola kita, eh... dia malah mati."

"Kudengar mayat gadis itu tidak ditemukan, bahkan bercak darahnya pun tidak ada."

Gaara kali ini hampir terjatuh sama persis dengan Sasuke, tapi dia berusaha bertahan atas apa yang sedang ia baca—atau ia dengar? Dia memfokuskan mata jade-nya ke arah Sasuke yang kini terpuruk dengan tubuh tersandar di dinding dan menumpu kepalanya dengan kedua tangannya.

"I-ini tidak mungkin… Ini tidak mungkin… kalau dia mati." Racauan berkali-kali keluar dari mulut Sasuke. Keadaannya semakin diperburuk dengan kehadiran seseorang yang tampaknya sebagai otak dari kekacauan kampus mereka. "Ternyata reaksi kalian tak bisa kubayangkan sebelumnya, bahkan melebihi yang kuperkirakan," desisnya.

Lelaki berambut putih dengan membawa selebaran yang sama dengan yang ditempel di mading, juga dengan seringai yang tajam bahkan menusuk bagi siapa saja yang melihatnya. Ini membuat emosi Naruto memuncak dan hampir melayangkan pukulan kepada laki-laki itu, namun tangan Shikamaru menahannya.

"Apa hubunganmu dengan selebaran memuakkan ini?" tanya Shikamaru mengambil alih dengan menyobek kasar kertas itu dan menunjukkannya ke muka lelaki itu.

"Kalian sudah membacanya? Baguslah kalau begitu." Bukannya menjawab pertanyaan Shikamaru, dia malah membuat suasana bertambah panas, lelaki itu langsung melewati mereka dan menghampiri Gaara dengan membisikkan sesuatu di telinga pemuda berambut merah darah itu, yang membuat jantungnya memompa darah dengan cepat.

Lelaki itu menabrakkan tubuhnya dengan sengaja di bahu pemuda berambut nanas hingga berakibat tatapan tak mengenakkan dari mereka berdua. Kemudian dia berlalu pergi tanpa merasa semua orang yang di dekatnya mengalami perasaan kacau.

Tanpa berselang menit, seorang gadis berlari dan menghampiri tunangannya dan menenggelamkan kepalanya ke badan Shikamaru. Terdengar isakan kecil yang sendu dan menyakitkan dari Ino Yamanaka.

Sasuke terdiam… Naruto merutuk kesal… Gaara shock dan lagi Ino tiba-tiba memasuki fakultas Psikologi yang langsung refleks memeluk tubuh bidang tunangannya yang kini menjadi tumpuan terakhirnya.

Ini membuat Shikamaru berdecak kesal pada lelaki yang beberapa menit lalu menghampiri mereka. Dia mengelus puncak kepala Ino dan membisikan sesuatu hingga gadis itu terhibur, "Tenanglah… Jangan menangis." Itulah yang selalu dikatakannya jika Ino tengah dilanda kesedihan.

Karena shock ringan yang dialaminya, Gaara mengelus dadanya dan mengepal keras tangannya hingga buku-buku jarinya hampir memutih. Segera dia mengambil I-phone dan mengetikkan sesuatu di layar sentuh, itu membuat Shikamaru menatap sahabatnya.

"Kau mengirim pesan ke siapa, Gaara?" tanya Shikamaru.

"Tidak ada, hanya mengecek I-Phone-ku… kalau-kalau ada yang rusak," jawabnya.

Shikamaru menduga bahwa Gaara menyembunyikan sesuatu yang pastinya sangat penting. Tapi kenapa wajahnya tidak berekspresi melainkan datar seperti biasa setelah mendapat bisikan dari lelaki itu?

"Kau berbohong… berbohong kan, Gaara? Apa yang dibisikkan oleh lelaki itu?" Pertanyaan bertubi-tubi menghampiri Gaara dan itu membuatnya semakin tidak berekspresi. Dia bermaksud meninggalkan sahabatnya yang masih bertanya-tanya apa yang dipikirkan olehnya. Tapi apa boleh buat, ini kesempatan untuk menguak kebenaran, dan harus dia yang melakukannya.

Dan lagi, Shikamaru menahan Gaara. Kali ini dia berbuat di luar kepentingannya. Tapi apa boleh buat, di sini dia yang paling dewasa di antara mereka berempat. "Kau percaya berita itu—atau ingin menguak sumber berita itu, bukan?" pembicaraan itu hanya didengar oleh mereka berdua. Gaara kagum dengan analisis Shikamaru. "Yeah, aku tidak percaya berita itu, juga tentang hal yang kau tanyakan tadi benar—tapi, hanya Naruto saja yang diberitahu."

Ini membuat Shikamaru mengernyit bingung, "Kenapa Sasuke tidak boleh tahu?"

"Aku sendiri yang akan mengatakannya…" ucap serius Gaara dengan nada meyakinkan, "—lihat kondisinya, jika dikatakan sekarang aku takut dia semakin rapuh."

"Wakatta, kali ini aku mengandalkanmu."

Daritadi Sasuke merutuki dirinya sendiri. Serentetan kalimat membuat mentalnya semakin tertekan, Sasuke menjerit frustasi atas kegagalannya melindungi gadis yang paling dia sayangi. Eh, dulu dia menganggap Sakura hanya penelitian semata tapi kini status itu berubah. Racauannya semakin menjadi-jadi dan dia menyebut nama itu berkali-kali.

"Sasuke, sadar dari mimpi itu. Aku mohon…" bujuk Naruto menepuk pundak sahabatnya, tapi Sasuke tak bergeming sedikitpun. Melihat Sasuke terpuruk, Gaara menarik tangan sahabatnya yang tadinya menumpu kepalanya dan membuat Sasuke bertatapan langsung dengan mata jade milik Gaara.

"Percaya dengan berita itu, tidak? Kalau jawabanmu tidak, bangkit dari keterpurukanmu, Sobat. Jika iya jawabanmu, silahkan menikmati pikiran negatifmu itu!"

Perkataan Gaara membuat Sasuke berdiri dan menyunggingkan senyuman, pertama kali dia termotivasi atas ucapan sahabatnya. Biasanya dia yang memberi motivasi walau dengan kata-kata tajam namun tersirat, tapi kali ini dia harus berterima kasih pada Kami-sama yang telah memberikan sahabat yang setia.

"Terima kasih…" ucap Sasuke.

"K-kau tidak apa-apa 'kan, Teme?" tanya Naruto cemas.

"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku…"

Pemuda bermata jade tersenyum lega pada sahabatnya yang bangkit dari keterpurukan. Tanpa berselang menit, I-phone-nya bergetar dan menampilkan bait-bait kalimat, kemudian dikirimkannya pesan balasan kepada kontak yang tertera di sana.

"Well, sebentar lagi jam Asuma-sensei. Kalau kita tidak cepat-cepat, bisa-bisa mendapat skors," ucap Gaara tersenyum.

Sasuke yakin itu senyuman palsu, "Kau tidak sedih ka—" ucapannya terpotong karena Gaara menjawab dengan lantang. "Aku tidak percaya kalau sepupuku mati, Sasuke! Aku merasa dia masih hidup… dia hanya disembunyikan orang. Entah di mana! Sasuke, kau percaya kalau dia mati? Aku yakin pasti kau menjawab tidak percaya 'kan?"

"Kalau memang kau tidak percaya, pasti kau tahu di mana Sakura, bukan?" tanya Sasuke tak kalah dengan Gaara.

"Tidak tahu—dan jangan paksa aku untuk memberitahukan tempatnya…" desis Gaara.

"Oke kalau kau tidak memberitahukannya. Yang jelas mungkin kondisi Sakura bisa saja—arghh, lebih baik aku pulang saja dan mencari di mana dia!" ucap Sasuke tanpa ba-bi-bu keluar dari kampus mereka.

"Teme, bagaimana dengan mata kuliah Asuma-sensei?"

"Aku tidak peduli. Pokoknya aku tetap mau pulang dan mencari keberadaanya."

"Baiklah kalau itu keputusanmu, Sasuke. Aku akan mencarinya sendiri," sungut Gaara

Gaara pun melangkah menjauh pergi dari sahabatnya, hal ini hanya diketahui Shikamaru. Dia hanya mendengus kesal dengan sikap Gaara yang dingin seperti biasa. "Mendokusai. Kenapa semuanya jadi runyam?"

Naruto yang kebingungan dengan keadaan barusan, menggoyangkan bahu Shikamaru. "Apa maksudnya ini, Shika? Aku tidak mengerti…" tanyanya.

"Sepertinya kita juga membolos, sekali-kali tidak apa-apa 'kan!" seringai Shikamaru.

"Bagaimana dengan kuliahnya?"

Tanpa menjawab pertanyaan Naruto, Shikamaru menghampiri tunangannya dan membisikan lagi kalimat yang membuat Ino kembali ke fakultasnya. Dan menarik paksa pergelangan tangan Naruto. "Apa yang kau lakukan, Shika? Jangan menarik-narik tanganku!"

"Kita harus membantu mereka, bodoh. Dan jangan menolak dengan ucapanmu itu. Mengerti?" ancam Shikamaru membuat Naruto bergidik ngeri.

"H-hai."

.

.


.

.

In Other Place…

Dia terbaring di kamar berukuran sempit dengan dinding mengelupas di sana sini, tempat tidur reyot dan yang hanya ada di pelukannya adalah pigura keluarganya. Tampak dari tubuhnya, kulitnya bertambah pucat, bibirnya menjadi biru dan darah telah mengering di bahu kanannya. Meski begitu dia masih hidup.

Merutuk dalam alam bawah sadarnya, "Kenapa aku tidak mati saja? Ayo, aku harus mati." Kemudian dia mengambil sebilah pisau dan menggoreskan di pergelangan tangannya hingga darah segar mengalir deras hingga kesadarannya mulai mengabur dan gelap.

.

.

.


In Uchiha Mansion…

.

.

Sial… sial! Kenapa Gaara tidak memberitahuku di mana dia? Padahal dari mata dan gerak-geriknya sudah terbaca. Kenapa dia berbohong kepadaku… sahabatnya sendiri? Aku juga tidak tidak tahu keberadaannya, sungut Sasuke kesal dengan memukul kasurnya.

Tanpa Sasuke sadari, sang kakak melewati kamarnya, dia merasa aneh dengan kepulangan adiknya yang terlampau cepat padahal tidak biasanya dia membolos kuliah. Kali ini ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, pasti tentang Sakura.

Tapi ia menahan langkah dan bersembunyi hingga kehadirannya tidak diketahui adiknya, karena…

DRET… DRET

I-phone milik Sasuke berbunyi kemudian dia langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa kontaknya. "Halo, ini siapa?"

"Aku Sasori-nii, masa' kau tidak menyimpan nomorku sih?"

"Gomen, aku tidak tahu. Tumben menghubungiku—ada masalah apa, Kakak?"

"Huuh, seharusnya Gaara memberitahunya langsung tapi apa boleh buat…"

"Apa maksud Kakak?"

"Dia tadi tidak memberitahu apa yang terjadi bukan? Well, Kakak akan memberitahu kalau dia tahu keberadaan Sakura."

"Dari mana dia tahu? Kenapa dia tidak memberitahuku?"

"Sepertinya dia tidak menceritakannya padamu karena di saat itu kau masih terpuruk. Dia tidak ingin kau berbuat konyol jika diceritakan langsung. Dia sudah menganggap kau seperti saudara sendiri…"

"…"

"Dia menunggumu di Deutch Street number 131tapi ingat, dia benci yang namanya menunggu."

Sasuke mendengus kesal, "Wakatta, Kak…" pembicaraan pun diakhiri olehnya tanpa ucapan perpisahan. Mungkin Sasori mengutuknya sekarang. Dia tersenyum tipis dan bersiap-siap membawa sesuatu yang diperlukan, kemudian dimasukkan ke dalam tas ransel. Tak lupa membawa laporan penelitian yang belum selesai. Setelah yakin semua yang diperlukan sudah berada di dalam ranselnya, dia bergegas keluar dari kamarnya.

Itachi yang bersembunyi dari kejauhan menghampiri adiknya, akan tetapi langkahnya tertahan karena getaran di gadget-nya. "Halo, Sasori…"

"Pasti kau menguping pembicaraanku dengan adik kecilmu, bukan?"

"Sudahlah, apa yang ingin kau bicarakan? Jangan berbelit-belit."

Pembicaraan di telepon pun dihabiskan dengan cerita yang panjang, sehingga Itachi hampir menutup gadget-nya jika Sasori membicarakan sesuatu yang penting dan menutup panggilan itu dengan tidak elitnya. "Ini pembalasan untuk adikmu, Itachi.." tutupnya.

Setelah meletakkan gadget-nya di kantung celana, Itachi mendapati adiknya sudah menuruni tangga hingga membuatnya kalang kabut dan cepat-cepat menyusulnya dari belakangnya.

"Tunggu, Ototou!"

Tapi sang ibunda menyusul dari belakang Itachi sambil mengenggam kotak kecil warna merah. "Kalau memang begitu keputusanmu, Sasuke, Kaa-san akan mendukungmu," gumamnya.

Berselang menit, Sasuke sudah mencapai pintu keluar. Merasa ada yang mengikuti langkahnya, dia menoleh ke belakang dan mendapati ibunda dan kakaknya menatap serius padanya. "Kaasan, Niichan, ada apa?"

"Kau mau ke mana, Sasuke?"

"Aku ingin menyelamatkan Sakura, karena aku yakin dia masih hidup," ucap Sasuke.

"Sendirian begitu… Apakah kau sanggup, baka Ototou?" tanya Itachi dengan nada meremehkan.

"Jangan meragukan kemampuanku, baka Niichan!" jawab Sasuke lantang.

"Sudah cukup, kalian berdua!" Mikoto menyerahkan kotak kecil warna merah itu ke tangan anak bungsunya yang membuat Sasuke kebingungan.

"Ini bukankah cincin turun-temurun Uchiha?" ucap Sasuke membuka kotak yang berisi sepasang cincin berlambang Uchiha itu. Cincin itu bersifat mengikat karena berarti jika satu pasangan memakainya maka mereka akan bersatu hidup sampai mati. Sama halnya dengan Itachi Uchiha, dia telah mengikat pacarnya dengan cincin turun temurun itu, walau sekarang masih berstatus tunangan tetapi tunangannya telah menjadi bagian dari keluarga Uchiha sepenuhnya hingga nama marganya berubah menjadi Uchiha.

"Kaasan mau kau bawa Sakura ke sini dan menjadi bagian dari keluarga kita," Mikoto tersenyum penuh arti hingga sang anak yang dimaksud wajahnya agak merona. "Pakaikan cincin ini di jari manisnya dan kau sendiri juga memakainya."

"Ta-tapi Kaasan, aku—"

"Jangan membantah Sasuke, Kaasan tahu kau menyukai—eh bukan, bahkan mencintainya. Dan jangan menyangkal perasaanmu itu. Jika kau bertanya Kaasan tahu dari mana, itu naluri seorang ibu," ucap Mikoto dengan nada tajam dan wajah sangar hingga Sasuke meneguk ludahnya.

Itachi, sang kakak, bahkan memegang perutnya karena melihat reaksi adiknya dan dia tertawa terbahak-bahak. "Sasuke, bawa Sakura-chan ke sini dan jadikan dia adik iparku, OK!"

Sasuke bersungut kesal atas penghinaan dari kakaknya yang menertawakannya. "Jika aku kembali, kau tidak tenang selamanya. Baka Niichan!"

"Pergilah Sasuke… dan jaga dirimu baik-baik."

"Baiklah…"

Bungsu Uchiha langsung melesat masuk ke dalam mobil pribadinya dan meletakkan barang bawaan serta kotak kecil itu, kemudian dia tersenyum tipis dan melaju kencang menuju alamat yang didapatkannya dari teman kakaknya.

"Tunggulah aku, Sakura. Aku akan menyelamatkanmu…"

.

.


.

Suara itu… suara itu... Dia mendengar suara itu dan mengenalnya cukup jelas. Terlebih lagi suara yang ia dengar adalah suara Sasuke Uchiha. Gadis ini berusaha menepis suara itu tetapi usahanya tidak berhasil bahkan semakin mendengung di telinganya.

Dengan setengah sadar, gadis itu memeluk pigura lusuh itu dan mengumam dalam hati. "Ayah… Ibu, apakah aku tidak berhak menyusul kalian? Kenapa aku masih hidup? Dan… dan suara itu membuatku terhenti." Sakura mengingat kejadian di saat dia ingin bunuh diri tetapi ditahan oleh pemuda itu, juga dia diizinkan menginap di rumahnya bahkan melindunginya di saat dia merasa terancam.

"Aku mohon keluar dari pikiranku… Aku tak punya perasaan apapun dengan semua ini."

.

.

.

Mobil Ferrari 00-5 berwarna hitam tengah menunggu seseorang yang sejak tadi tidak menunjukkan kehadirannya. Sang empunya, Gaara, terlihat merutuk kesal dengan sahabatnya yang satu itu dan mencoba menghubunginya. Tidak lama kemudian mobil bermerk Ferrari 101 warna biru tua menghentikan lajunya tepat di sana. "Maaf sudah menunggu, Gaara."

Hanya helaan nafas yang ia dengungkan. "Aku juga minta maaf jika tadi tidak memberitahumu soal ini."

"Tidak apa-apa. Kalau bukan kau menyadarkan dari mimpi buruk itu, aku tak mungkin berada di sini, bukan?" Senyuman tulus sahabat menguar di bibir Sasuke.

Gaara tertegun karena respon Sasuke tidak secuil pun marah padanya bahkan berterima kasih dengannya. Well, pertarungan sebernanya telah menanti mereka hanya untuk seorang gadis. Bukan itu saja, keutuhan tali persaudaraan antara Uchiha dan Sabaku harus kembali seperti semula.

"Sakura…" gumam Sasuke dalam hati.

.

.

TBC


Gracia Notes

Gomen ini di beta sama author senior dari saya namanya Hanaruppi. Aku percaya kalau fic ini dibeta-kan sama dia, makasih ya Hanaruppi sudah bersedia menggedit fic pertama multichip saya^^. Arigatou.

Maaf jika ini hanya membuang waktu untuk membaca chapter ini lagi—mungkin chapter mendatang saya usahakan secepatnya untuk mempublikasikan. Mampir juga ke fic-fic saya yang lain ok

Review adalah suatu penghargaan untuk saya dalam melanjutkan fic ini, bersediakah kalian mereview fic ini.

Please RnR ok

Signed

Gracia De Mouis Lucheta

19 April 2012, 16.25 p.m