Minna –san, gomen telah menelantarkan fic ini nggak update-update. Ini mungkin agak membosankan atau apalah yang kalian maksud mungkin sedikit percikan dan konflik. Terlebih lagi chapter ini agak pajang dari sebelumnya.
Naruto © Masashi Kishimoto
Numb Girl © Gracia De Mouis Lucheta
Genre : Romance™/ Angst /Drama/Hurt-Comfort
Rated : T
Warning : Misstypo, OOC, AU.
For *SasuSaku Lovers*
Enjoying for Reading and Review…
~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~
Chapter 8
-Not Losing you again-
.
.
Senja sore menghiasi langit dengan sang matahari tenggelam mengantikan malam penuh dengan ribuan bintang serta ditemani raga bulan yang indah. Waktu menunjukkan pukul 6 sore, tak ada kebisingan bahkan sunyi disalah satu sudut kota Konohakagure yang terkenal akan tempat-tempat yang menyeramkan. Tetapi banyak apartemen-apartemen yang disewa mahal untuk sekedar pengunjung untuk berehat ria. Di salah satu apartemen bernuansa agak kebarat-baratan, tempat tinggal dua orang pemuda yang baru menempati dua jam yang lalu. Salah satu pemuda itu tak lain adalah bungsu Uchiha menyandarkan kepalanya di jendela tak bereaksi apa-apa kecuali hanya menatap kosong satu apartemen yang letaknya kejauhan—tempat yang mungkin tempat sang pujaan hati disekap.
"Kau belum makan, ini aku sempat tadi membeli di lantai bawah, mungkin ini bisa mengisi lambungmu," ucap pemuda berambut merah darah menyodorkan kotak nasi yang berisi lauk pauk seadanya.
"Hn, terimakasih Gaara," tanggapnya mengalihkan pandangan kearah makanan yang cukup mengundang lambung untuk diisi.
Suasana kembali dingin dan sunyi tanpa sedikitpun kata-kata yang berkoar disana, tanpa sadar telepon genggam milik Gaara berbunyi. Tak cukup lama Gaara membuka telepon genggamnya dan mengetik sesuatu kemudian meletakkan di atas meja..
"Dari siapa?"tanya Sasuke
"Dari Kakakku, dia hanya mengirim pesan singkat yang tidak penting,"jawab Gaara.
Sasuke menautkan alisnya dan membaca raut wajah sahabat satu itu kemudian terulas senyuman yang mengundang reaksi Gaara menoleh kepadanya, "apa yang kau tatap, Sasuke?"
"Tidak, hanya saja raut wajahmu sudah terbaca jelas," Sasuke menggantung kata-katanya dan meninggalkan Gaara diam mematung—kemudian dia mengambil seberkas laporan dan menghentakkan cukup pelan di meja, "Sasori-nii mengingatkan tugas ini untuk diselesaikan bukan?"
"Aaa…"
"Dugaanku tepat kan, Gaara?"
Sukses Gaara menghentikan kegiatan makannya dan mengambil laporan yang belum selesai—baru mencapai 30%, "benar, kau memang calon psikolog jenius yang bisa membaca pasien dari raut wajahnya saja."
"Jangan terlalu memujiku, kau-kan juga calon psikolog. Seharusnya lebih tahu dariku."
Gaara tersenyum tipis, "dasar kau!"
"Mm, aku bertanya satu hal padamu, Gaara?" tanya Sasuke
"Pertanyaan apa?"
"Apa yang dikatakan lelaki tadi siang kepadamu?"
"Kau mau tahu jawabannya apa?"
"Hn"
Dengan satu tarikan napas, "dia memberitahuku kalau… sepupuku Sakura kondisinya sangat menggenaskan sekali, entah aku mendengarnya membuat darahku berdesir, satu lagi mereka tidak segan-segan memasukkan sepupuku ke rumah sakit jiwa," napas Gaara seakan tercekat mengucapkan deretan kalimat pada Sasuke—dan dia mendengarnya cukup kaget dan menekan tangannya hingga memutih.
Satu tarikan bibir berbentuk senyuman bahkan terlihat sendu dan menyakitkan, Sasuke berusaha mengatur napasnya dalam-dalam untuk menenangkan emosi yang kacau, "Gaara, aku tahu penderitaanmu, dan lebih baik kita tenangkan pikiran dulu untuk besok."
"Maksudmu kita akan menyerang mereka besok, kita hanya berdua, Sasuke. Kita juga tidak tahu benar atau tidak disana letak Sakura disekap?"
"Aku yakin dia ada disana…," satu bentuk keyakinan dalam diri Sasuke membuat sedikit Gaara percaya dengan ucapan sahabatnya—bukan tidak percaya tapi dirinya tidak yakin kalau sepupunya disana, hanya keajaiban yang bisa mereka harapkan untuk membawa Sakura kembali.
.
.
.
.
"Ahhh…. Shika, kau memaksaku untuk ikut? Bagaimana dengan perkuliahan dosen killer Kurenai, " jerit frustasi anak tunggal Namikaze duduk disebelah pemuda berambut hitam dikuncir keatas yang sedang menyetir mobilnya.
"—Dan bisa kau diam dengan raunganmu itu, Naruto? Kita hanya menemui Itachi-san dan Sasori-san saja, kau tidak ingat kalau Gaara dan Sasuke ke lokasi itu,"ucap Shikamaru.
Raut bingung Naruto tambah berkedut, "l-lokasi a-apa? Aku tidak tahu, Shika! Kenapa hanya aku tidak tahu?"
"Tch-merepotkan, yasudahlah pegangan erat-erat sabuk pengaman itu, aku akan ngebut kali ini," ancam Shikamaru menekan gas cukup kuat dan hampir mencapai kecepatan maksimun.
"Shikaaa…, nyawaku hanya satu!"
.
.
.
Waktu telah menunjukkan waktu sepuluh tepat, tampak pemuda berambut merah dengan wajah baby face -nya dan pemuda berambut hitam dikuncir belakang tengah duduk dan menunggu sesuatu,
"kemana dua bocah itu? Rapat direksi sebentar lagi—"rutuk Sasori.
"Sebentar lagi, Sasori,"ucap santai Itachi Uchiha mengaduk-ngaduk jus tomat,
Tak berapa lama, dua pemuda yang ditunggu oleh Itachi dan Sasori, "maaf membuat kalian menunggu,"ucap Shikamaru.
"Kau hampir membuatku hampir mati, Shika," rancau Naruto tampak muka pucat dan keringat menghampiri wajahnya.
Itachi hanya mendengus tertawa melihat wajah pucat Naruto,"hey Shikamaru, pasti kau mengemudikan dengan kecepatan tinggi, bisa-bisa kau dilaporkan oleh ayahmu karena melanggar aturan."
"Ayolah, Itachi. Cukup basa-basinya—karena kau juga kan ada pertemuan dengan beberapa klien?" dengus kedua tangan di dadanya. Tampak raut kekesalan dari si sulung Sabaku yang terus mengomeli apa yang menurutnya tidak sama apa yang dipikirannya, apakah terjadi sesuatu padanya.
"Oke… Oke…, Tuan perfeksionis," arah mata Onyx Itachi kemudian mengarah kedua sahabat adiknya itu dengan tatapan tajam,"kali ini aku bicara serius pada kalian tentang buronan kelas kakap yang sedang kita incar—hm"
"B-buronan apa kak Itachi? Intinya kenapa kami harus datang kesini, kemudian kalau pembicaraan mengenai buronan, kami tidak paham. Kare—"ucap Naruto tidak terpotong andai saja mata Onyx sahabatnya—Shikamaru tidak menyuruhnya diam dan fokus dengan pembicaraan kali ini.
"Yang menculik bahkan membuat kekacauan di kampus waktu itu adalah buronan kelas kakap—yaitu Orochimaru,"jeda Itachi sejenak dan menghembuskan napas perlahan kemudian melanjutkan kembali perkataannya,"dia adalah orang yang licik dengan segala apapun caranya berusaha menjatuhkan lawannya. Sempat saya berpikir, ayahku menerima telepon misterius yang kemungkinan adalah dari kelompok mereka."
"Hey,Itachi. Darimana kau tahu ayahmu mendapat telepon misterius?" tanya Sasori.
"Dari tunanganku, Konan. Dia tidak sengaja mendengar percakapan di ruangan ayahku, terlebih lagi menyangkut namaku,"ucap Itachi.
"Itachi-san, setahuku juga mereka hanya berdua ke lokasi itu, apakah tidak berbahaya hanya mereka berdua?" perkataan Shikamaru tersirat nada khawatir dibalik kata-katanya.
Seulas senyuman tipis si sulung Sabaku mengalihkan pandangan mereka, "kau tenang saja bocah, mereka pasti baik-baik saja."
Alis mata Naruto berkedut, "apa kalian berdua tidak mengkhawatirkan mereka?"
"Sebagai kakak, tentu kami khawatir. Tapi kalian tahu mereka sudah dewasa untuk membuat keputusan—kami yakin mereka bisa,"ucap Itachi tersirat sebuah keyakinan.
Tanpa sadar Shikamaru memejamkan matanya dan melipat kedua tangan di dadanya membuat tiga pasang mata mengarah pada si sulung Nara tersebut. kemudian Itachi kembali mengingat sesuatu apa yang pernah diucapkan adiknya—Sasuke, "nii-san, jika kau bertemu Shikamaru dengan memejamkan mata serta melipat kedua tangan—dia sedang memikirkan strategi," dan si sulung Uchiha mengisyaratkan untuk tidak menganggu Shikamaru kemudian keduanya mengangguk.
Dret… Dret…
Telepon genggam milik Sasori bergetar, kemudian dia melihat layar di I-phone miliknya tertera nama adik bungsunya. "Ck, dasar," dan menekan tombol hijau…
"Halo, Gaara. Apa terjadi sesuatu disana?"
"Bukan terjadi sesuatu, baka nii-san. Tadi malam gara-gara kau, aku sempat ditertawakan oleh Sasuke."
"Aku kan hanya mengingatkan tugas itu supaya diselesaikan. Mengapa dia tahu karna kau cerita-kan?"
"Tidak, dia tahu dari raut wajahku saja."
"Oh begitu rupanya, jadi maksud kau menelepon kakak bukan hanya alasan ini, Gaara?"
"Nii-san yakin kalau sepupu kita ada disana…"
"Coba selidiki saja sendiri, jaa Gaara," ucap Sasori menekan tombol merah—dan sempat berpikir adiknya akan mengutuk dirinya karna menghentikan teleponnya.
Dan tanpa sadar, Shikamaru membentuk senyuman tipis dan mengucapkan perkataan membuat ketiga orang terperangah, "well—kita akan menunggu timing yang tepat, biar Sasuke dan Gaara mengalihkan perhatian disana dan menyelamatkan Sakura kemudian aku akan menghubungi ayahku untuk mengirim beberapa anggota kesana, dan kita akan menunggu saja—"
"Heii, kenapa kita hanya menunggu saja?"geram Naruto.
"Aku belum selesai bicara, Naruto. Kita menunggu salah satu dari mereka menghubungi kita."
"Kenapa harus menunggu? Aku benci namanya menunggu,Shika!"
"Naruto, kita butuh strategi untuk menangkap buronan kelas kakap, ingat itu. Jika kita bertindak gegabah, maka nyawa mereka akan terancam," ucap Itachi terdengar nada-nada dingin membuat Naruto bergidik.
Sasori kemudian beranjak dari kursi duduknya, "oke, jika pembicaraan ini selesai, maka sekarang aku duluan."
Sebelum Sasori melangkahkan kakinya keluar dari mereka, tangannya sudah ditahan oleh Itachi, "bukan kau juga yang ada rapat, tuan perfeksionis!"
"Baik-baik, jangan menatap mataku dengan aura membunuhmu itu, aku sedang enggan ribut denganmu, Itachi,"ucapan Sasori seakan permohonan pada Itachi yang kemudian mereka berdua meninggalkan Shikamaru dan Naruto dengan adu mulut antara mereka berdua.
"Hei, Naruto. Apakah mereka selalu seperti itu?"bisik Shikamaru.
Naruto terkekeh pelan, "memang. Dan itu sudah menjadi kebiasaan mereka juga tampak aneh kalau mereka akur."
"Hhh—ayo kita ke kampus lagi,"ajak Shikamaru.
"Bukankah kita membolos hari ini, tuan pemalas," nada dingin akan mengancam menguar dari perkataan Naruto tak menampik Shikamaru takut, "betul juga, ayo ke rumahmu saja."
Naruto mendengus, "ceh,dasar!"
.
.
.
.
Suasana kelam nan sunyi disalah satu apartemen bercatkan biru kusam tampak disana ada beberapa orang bertubuh kekar dan besar mengelilingi bangunan itu seakan didalam adalah barang berharga yang patut dijaga dan tidak boleh diketahui oleh orang-orang sekitar. Alunan suara sepatu tak tergubris oleh penjaga tersebut, terdengas napas lega dari kedua pemuda bersembunyi dibalik bangunan tersebut.
Kemudian pemuda berambut merah langsung bergerak cepat menekan tengkuk salah satu penjaga dan mengisyaratkan pemuda berambut Dark Blue untuk mengurus orang yang lain. Tampak tidak ada rasa ketakutan dari raut wajah mereka menghadapi orang-orang yang kebh besar dan dengan sigap keduanya memasuki bangunan itu dengan hati-hati.
Langkah demi langkah, Sasuke dan Gaara bersembunyi dan mereka mengintip perlahan kea rah salah satu sudut ruangan—dan mendapati Orochimaru sedang bercengkrama dengan Anko.
Dengan langkah yang cukup berbahaya, mereka berdua tanpa sadar mengarah ke sebuah kamar yang bernomorkan 24 dengan pintu agak reyot, perlahan-lahan Sasuke membuka pintu tersebut.
Mata mereka membulat seakan tidak percaya dan menggumamkan pelan, "S-sakura…"
Gadis berambut merah muda tengah meringkuk memeluk pigura—lebih miris lagi kondisi tubuhnya sudah penuh luka sayatan-sayatan di kedua tangan dan bibirnya membiru. Perlahan Gaara melangkah kearah Sakura dan memeluk tubuh lemah sepupunya itu.
"Maafkan sepupumu ini, Sakura," terdengar pilu dari nada Gaara mengucapkan seketika menstabilkan emosinya, Sakura sendiri membisu dan diam tanpa berucap apa-apa. Apakah senang, apakah itu keajaiban.
Sasuke sendiri menahan emosi yang membuncah di otaknya seakan ingin menghabisi dua orang brengsek itu ditangannya sendiri, melihat kondisi ringkih pujaan hatinya—Sakura, rasa bersalah mengguncang pertahanannya seketika.
Gaara-pun mengisyaratkan Sasuke untuk membawa Sakura keluar dari apartemen ini dan melepaskn pelukannya. Kemudian Sasuke bertatapan langsung dengan iris mata Emerlad Sakura dan perlahan mendekat kearahnya. Tangan pemuda berambut Dark Blue merogoh kantung celananya dan memperlihatkan kotak beludru merah serta membuka kotak itu, tampak Gaara mengerti akan apa yang dilakukan oleh sahabatnya ini memilih untuk diam.
Masih dengan sikap kebisuannya, Sakura agak kaget dengan iris mata Onyx bersirobok dengan matanya seakan memberi pesan dengarkan-aku. Tangan Sasuke mengambil sebuah benda berbentuk cincin lambang Uchiha dan tanpa izin memasangkan cincin itu ke jari manis Sakura. "Sst—Sakura, jangan kaget dengan cincin itu. Karna ini lamaran langsung dariku, maaf ini sangat lancang, kau boleh menamparku sekarang,"lirih Sasuke.
Kemudian Sakura tanpa sadar mengecup pelan dahi Sasuke yang membuat pemuda bermata Onyx itu kaku dan dia langsung memasang cincinnya sendiri dan membuat Gaara terperangah, sahabatnya itu mengecup pipi Sakura. Dan dia bangkit dari duduknya dan arah mata mengarah ke Gaara, "kau saja yang membawa Sakura pergi dari sini,"
"A-apa? Tidak… tidak, Sasuke. Kau hanya sendirian, apa kau sanggup?"tanya Gaara.
Sasuke mengangguk pelan dan kembali iris Onyx nya berhadapan dengan Sakura, "Sakura, aku tahu akan penderitaanmu… keluhanmu yang membuat dirimu menjadi gadis mati rasa, dan sekarang kau tidak usah khawatir karna sepupumu akan membawamu keluar dari sini. Aku akan menghabisi dua orang itu—" ucapan Sasuke terhenti karena tangan Sakura memegang tangannya, "kau jangan khawatir, aku akan selamat,"
Kemudian Sasuke mengisyaratkan Gaara membawa Sakura keluar dari sini, dengan langkah pelan tangan Gaara menggengam erat tangan Sakura dan Sasuke sendiri tetap berdiri disana. Raut kekhawatiran menguar dari Gaara dan bergumam tipis, "semoga berhasil, kawan. Aku akan menyusulmu nanti."
Setelah memastikan mereka sudah keluar tanpa ada keributan apapun, beberapa detik kemudian dengan langkah keberanian yang memegang teguh didalam hatinya, Sasuke melangkahkan kakinya pada dua orang yang membuat keluarganya terjerumus dalam benang kusut hingga permusuhan tetap terikat kuat pada keluarga Sabaku.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Orochimaru… Anko," terdengar nada-nada tajam membuat mereka yang merasa terpanggil menoleh kearah pemuda bermata Onyx itu.
Orochimaru menyeringai, "kau sendirian, nak. Berani sekali kau!"
Tampak berselang anggota dari kelompok mereka mengelilingi Sasuke seakan mengancam jika dia bergerak sedikitpun, sedangkan Anko hanya duduk manis meremehkan pemuda yang pernah ia temuinya beberapa pertemuan yang lalu.
"Kau akan mati…" ucap Anko dengan nada membunuh tak menampik keberanian Sasuke menciut, dengan segala kemampuan yang dimiliknya, Sasuke menghadapi orang yang mengelilinginya tanpa basa-basi memukul… mempelintir tangan lawan sampai menekan saraf hingga semua lawan limbung seketika, "well, kau memang hebat nak. Tapi tidak sebanding dengan kekuatanmu telah menipis," Orochimaru mengisyaratkan anak buahnya yang membuat Sasuke berdecak kesal, "Ck, sial."
.
.
.
.
.
.
Hanya suara dentuman mesin yang menguasai antara Gaara dan Sakura tampak terdiam tanpa yang mengucapkan apapun. Sakura hanya mengelus cincin yang menghiasi jari manisnya sejenak dia memberanikan diri untuk bertanya pada orang disampingnya, "S-sabaku-san…"
"Panggil saja Gaara, aku ini sepupumu. Jangan sungkan dan kaku denganku, Sakura."ucap Gaara tetap fokus dengan menyetir mobilnya.
"Aa—Gaara san, apakah k-kau tahu dengan cincin ini dan kenapa Uc-uchiha san memberikan kepadaku?,"tanya Sakura tampak terbata-bata karna baru pertama kali dia memulai pembicaraan duluan.
Gaara hanya tersenyum tipis dan sejenak dia memasang headset Bluetooth-nya kemudian menghubungi salah satu sahabatnya—Shikamaru.
Karena tak mendapat jawaban dari Gaara, Sakura berulangkali mengingat masa lalu yang berkaitan dengan cincin ini dan tiba-tiba menguar begitu saja di dalam otaknya.
Sakura kecil tengah berbinar-binar dengan tepukan halus wanita muda kemudian dia tidur dipangkuan wanita itu. Arah iris Emerlad menjurus dengan benda yang disebut cincin di jari manis wanita tersebut, "Kaa-san, cincin itu cantik sekali. Aku mau dong," ucap Sakura kecil.
"Ini cincin berharga dan tak ternilai, cincin ini dari otousanmu…,"
Sakura kecil merenggut dengan menggembungkan pipi chubby-nya, "bagaimana aku mendapatkannya, kaa-san?"
"Kalau ada yang memberimu dan memasangkan cincin ini dijari manis Sakura dengan perasaan tulus dan tatapan penuh cinta. Juga satu lagi, kalau dia bersedia melindungi Sakura dalam kondisi apapun berarti dia serius denganmu."
"Masa', apakah ada orang yang seperti itu kaa-san?"
Seulas senyuman dari bibir ibu Sakura, "kaa san yakin ada, Sakura."
Sakura terpaku dengan sekelebat memori yang terkuak di dalam otaknya, "oh, mungkinkah dia yang dimaksud, Kaa san? Aku belum mengerti…," gumam tipis Sakura terdengar oleh Gaara yang memerhatikan sepupunya dua menit yang lalu.
"Apanya yang tidak kau mengerti, Sakura?"
"Ahh—ehh, ti-tidak ada, Gaara san."
"Mm, kau tidak mengerti dengan cincin itu-kan? Baiklah aku beri sedikit petunjuk," Gaara menjeda sejenak dan langsung mengutarakan perkataannya, "sahabatku—Sasuke memberimu cincin itu bukanlah hal yang main-main. Kau lihat lambang kipas yang tercetak dicincin itu, berarti dia akan menjadikanmu seorang Uchiha sepenuhnya."
"Eh," berapa kali Sakura mengucapkan kata "eh" membuat Gaara terkekeh pelan dengan sepupunya itu.
Tak berselang lama, mereka sudah ada di sebuah gedung yang disebut rumah keluarga Sabaku, itu membuat Sakura tak serta merta mengerjapkan matanya keseluruh penjuru rumah itu.
"Ayo, Sakura,"ajak Gaara yang sudah terlebh dulu keluar dari mobilnya.
Sakura tampak kaku keluar dari mobil dan menyusul Gaara dengan langkah kikuk, sesampai mereka memasuki pintu berukuran besar dengan bercatkan coklat berbahan mahoni kuat dan disambut hangat oleh para pelayan yang membuat lagi Sakura gugup.
"Selamat siang, Gaara-sama…"sambut beberapa pelayan yang berjejer dengan rapi dan seulas senyum dari Gaara. Tak berselang lama tiga perempuan menghampiri Sakura dan Gaara—dan itu membuat Sakura menundukkan kepalanya.
"Gaara-kun," pekik pelan pemuda berambut cokelat menghamburkan pelukan pada Gaara.
Kedua perempuan hanya menggeleng pelan dengan tingkah laku Matsuri—Tunangan Gaara, dan balik menatap iris Emerlad milik Sakura.
"Sakura…, benarkah kau Sakura?"tanya wanita berambut cokelat muda memperhatikan perempuan berambut merah muda itu.
Tampak kekakuan Sakura mengangguk kepalanya, kemudian wanita memeluk tubuh Sakura dengan kasih sayang, "maafkan bibimu ya, semenjak meninggalnya adikku, aku berusaha mencarimu kemana-mana, tapi mendapat berita kau kuliah di universitas sama dengan Temari dan Gaara, akhirnya aku menemukanmu…," lirihnya.
Temari yang sedari diam memperhatikan tubuh Sakura—dan mendapatkan sekujur tubuh adik sepupunya banyak bekas sayatan dan bibirnya agak pucat, "gomen, kaa san. Bisa kita bawa Sakura kekamar ka-karena…,"
"Aku tahu, Temari. Bawalah sepupu kesayanganku kekamar yang sudah ibu siapkan dan ajak Matsuri juga sahabatnya satu lagi namanya—"
Matsuri memberanikan berucap setelah memeluk tunangannya, "Ino… "
Kemudian tanpa sadar Gaara mengalihkan pandangannya dan kabur begitu saja dengan melangkahkan kakinya keluar dari Sabaku Mansion, "kau mau kemana lagi, Gaara?"
"Aku mau membantu sahabatku, dia mungkin sudah babak belur jika aku tidak membantunya. Jaa," ucap terakhir Gaara seraya keluar dari pintu dan masuk kedalam mobilnya menuju arah tempat Sakura disekap, "tunggu aku, Sasuke."
.
.
.
.
.
.
Tampak raut lebam dan penuh darah di sekujur tubuh Sasuke tidak menghalangi langkah Sasuke menghajar satu persatu anak buah Anko sekaligus menghadapi Orochimaru. Dengan napas terengah-engah, tangan Sasuke mengikat kuat kepala Orochimaru yang terduduk dengan tanpa sedikitpun ketakutan bahkan aura membunuh menguar. Dan tanpa sadar pelatuk pistol milik Anko menempel di dahi Sasuke, "lepaskan dia atau kau akan mati bocah."
Posisi mereka sama-sama terancam, tapi membuat Orochimaru menyeringai tajamm, "kau naïf sekali Uchiha,"seketika posisi mereka terbalik dan membuat Sasuke berdecak kesal. Dengan hantaman pukulan-pukulan membuat Sasuke tak bisa berdiri lagi dan tidak bisa menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya penuh luka. Seakan hidupnya sudah mencapai batas.
Terdengar suara pukulan yang cukup keras menghantam sesuatu, arah matanya kaget mendapatkan sahabatnya—Gaara menolongnya dan tersenyum meremehkan, "tumben badanmu babak belur, biasanya menghadapi sekumpulan seperti ini, kondisimu tidak seperti itu,"
Sasuke mendengus kesal, "kalau kau berada diposisiku, pasti aku akan membalikkan ucapanmu itu, Gaara."
Suara tepukan dari kedua tangan Anko dan terkekeh pelan, "wah… wah ada bala bantuan rupanya, sepertinya posisi kalian tidak menguntungkan karena orang yang kalian cari masih ditanganku."
"Oh ya, nyonya Anko," suara mengancam ucapan Sasuke membuat Anko membungkam mulutnya, "apakah Sakura masih berada dikamar nomor 24, kalau kami benar, dia sudah berada tempat yang aman, kalian yang naïf sekaligus ceroboh meremehkan kami hanya bocah dari kalian."
Seketika aura membunuh Anko membludak dan menghantamkan pelurunya tanpa arah membuat Gaara dan Sasuke dengan sigap menghindari arah peluru supaya tidak mengenainya, tapi saat itu juga Orochimaru bangkit dan menghajar dua pemuda sekaligus.
Raut wajah sakit Sasuke membuat dirinya lengah dan mendapat peluru menancap di kakinya, bukan itu saja Gaara mendapatkan banyak peluru yang membuat perih di sekujur tubuhnya dan itu membuat mereka tersudut.
"Sekarang posisi kita terbalik, bocah! Hahaha…" teriak kemenangan Anko menarik pelatuknya kearah Sasuke dan Gaara.
"Anko tunggu apa lagi, ayo habisi mereka."perintah Orochimaru.
Tanpa sadar pistol yang dipegang Anko terlepas dan Orochimaru tampak terkunci dengan tangan yang menekan kepalanya.
"Sepertinya kami terlambat ya."gumam laki-laki berambut hitam dikuncir panjang mengunci pergerakan Orochimaru.
"Sasori-nii… Itachi-nii," suara lemah Gaara dan Sasuke serempak membuat yang dipanggil menatap balik kedua adiknya yang babak belur dan miris melihatnya.
Sasori menekan tengkuk Anko hingga membuat wanita itu pingsan, "bukan kami saja yang datang—"
Kedua mata Sasuke membulat, "Dobe… Shikamaru, ck dasar."
"Gomen Teme, bukan saja kalau rencana Shikamaru. Aku langsung saja menolongmu,"ucap Naruto mengulurkan tangannya pada Sasuke.
Tak lain dengan Naruto, Shikamaru mengulur tanganya pada Gaara dan membantunya untuk berdiri. Terdengar ringisan perih tanpa sengaja membuat Shikamaru kaget, "kau harus dibawa ke rumah sakit segera."
-Juga tanpa sadar tubuh Sasuke merosot seketika menabrak ditubuh Naruto., "S-sasuke…"
Kemudian suara sirine menguar di luar bangunan itu sayup-sayup ditelinga pemuda berambut Dark Blue dan mata Onyx-nya mengatup rapat.
"H-heii, Sasuke!"
.
.
.
TBC
Waduh, sebenernanya mau panjang chapter kali ini tapi saya potong karena melihat halamannya sudah panjang dan kemungkinan membuat bosan membacanya.
Silahkan membaca dan mereview fic ini
Gracia De Mouis Lucheta
09 May 2012, 12.16 p.m
