Naruto © Masashi Kishimoto
Numb Girl © Gracia De Mouis Lucheta
Genre : Romance™/ Angst /Drama/Hurt-Comfort
Rated : T
Warning : Misstypo, OOC, AU.
For *SasuSaku Lovers*
Enjoying for Reading and Review…
~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~
Chapter 9
-Isn't Numb Girl-
.
.
.
Sebuah penderitaan tidak selamanya menjadi kehidupan seseorang menjadi terpuruk, karena pasti ada kemudahan untuk mengatasinya. Kini senyuman tampak menguar dari bibir gadis bersurai merah muda yang kini berubah menjadi anggun, kini luka yang melekat di tubuhnya telah tersamarkan bahkan wajahnya sudah terpoles dengan make up natural berkat paksaan gadis beriris Aquamarine.
"Ayolah, Sakura. Lihatlah wajahmu di kaca," perintah Ino membalikkan kursi yang diduduki Sakura.
Sakura mendelik, "aku tidak mau, Yamanaka-san…"
Tidak kalah dengan Sakura, Ino membalas dengan tatapan garang. "jangan memanggil dengan margaku, Sakura! Panggil aku... Ino."
Di kejauhan tampak Temari, Hinata dan Matsuri menggeleng kepalanya melihat pentengkaran dua gadis itu. Terdengar kikikan geli dari Matsuri seraya menghampiri mereka berdua, "sepertinya kami menganggu rupanya…"
"Ah, tidak. Matsuri-san… hanya saja Sakura tidak mau melihat wajahnya di kaca!" dengus Ino.
"Aaa—panggil aku Matsuri saja…," ucap Matsuri sambil memaksa kedua tangan Sakura yang menutupi matanya untuk menghadap kaca, "Sakura, ayoolah." Seketika Sakura perlahan melihat wajahnya tepat di depan cermin.
Ino tampak puas dengan reaksi keterkejutan sahabat kecilnya dan seraya menatap Matsuri, "kau tunangannya Gaara kan? Pantas saja kau cantik sekali, tidak salah primadona di kampus kami memilihmu," celetuknya.
"Kau juga, Ino-san. Anak kepala kepolisian bisa takluk dengan kecantikanmu, aku salut denganmu sampai bertunangan juga," gumam Matsuri.
Kedua pasang mata mengarah ke iris perak keunguan milik Hinata, "Hinata, bagaimana kau bisa berpacaran dengan anak dekan fakultas kesenian? Aku bangga sekali…"
Hinata hanya tersenyum tipis tapi tidak menghilangkan rona kemerahan di wajahnya. Tanpa sadar Temari menghampiri Matsuri, "mereka sudah berhasil."
"Hontou ka, Temari-neesan?" ucap Matsuri mencoba menghubungi Gaara. Inopun juga melakukan hal yang sama seperti Matsuri.
"Moshi-Moshi, Gaara-kun."
"Ada apa—adaww!"
"Ada apa Gaara-kun?"
"Tidak, apa-apa… oh—hei, Sasori-nii."
"…"
"Matsuri-chan, lebih baik kalian ke rumah sakit Konoha sekarang—janee…"
Sambunganpun tertutup membuat Matsuri mendengus kesal dan ingin menjitak kepala calon kakak iparnya, "awas kau, Sasori-nii…"
Tampak dari wajah Sakura ingin tahu bagaimana dengan keadaan seseorang yang memberi cincin di jari manisnya, tanpa sadar Temari melihat raut wajah Sakura tengah mengelus benda mungil berwarna perak itu.
"S-sakura, siapa yang memberi cincin itu?" tanya Temari.
Sakura diam membisu dan membuat Temari menarik tangannya kemudian melihat lebih, dekat, "aree—Sakura, kau sudah dilamar?"
Seketika raut Ino dan Matsuri yang sedari fokus dengan telepon mengalihkan dan mendengar ucapan Temari.
"Dilamar? Dilamar dengan siapa, Sakura?" tanya Ino menyelidiki cincin yang dipakai Sakura dan seketika senyuman tampak seringaian, "wow tidak menyangka tindakan Sasuke sejauh ini!"
"Kau serius kalau dia melamar sepupuku ini," tampak berbinar-binar wajah Temari.
Ino menganggukan kepalanya, "ya aku yakin. Kalau begitu kita ke rumah sakit dan memberi kejutan pada mereka?"
Tanpa babibu, Sakura ditarik perlahan oleh Ino dan ditahan oleh Temari, "wahai nona Yamanaka. Bagaimana ke rumah sakit kalau Sakura—"
"Tenang saja, Temari-neesan…" ucap Hinata seraya mengambil kotak warna biru berisi sepatu.
"Wah, bagus sekali…" seru Matsuri.
Dengan hati-hati, Sakura sendiri mengambil sepatu dan memakainya sendiri.
Kini sepasang sepatu highless warna peach menghiasi kaki jenjang Sakura, dirinya tampak kaku melangkahkan kakinya. Sakura pun mencoba tersenyum tapi diinterupsi oleh Ino, "ayo—pangeranmu sudah menunggumu di rumah sakit."
"Dasar kau, Ino -san…"
Kaget, itulah yang dirasakan Ino karena tanpa sadar Sakura mengucapkan panggilan untuknya tidak memakai nama marga.
"Eh, apa aku bicara yang salah."
Semuanya pun tidak menjawab tapi senyum sumringah menguar dari bibir tipis mereka.
.
.
.
.
Bau obat menguar di kamar VIP nomor 20 juga cairan infus melekat di tangan pemuda berambut Dark Blue yang belum menunjukkan kesadarannya. Lain halnya, pemuda beriris Jade kini yang sudah sadar tampak beradu mulut dengan kakak sulungnya.
"Apa yang nii-san lakukan tadi?" geram Gaara.
"Kau tidak boleh menerima telepon—jadi, kau harus banyak istirahat," desis Sasori menjitak kepala adik bungsunya.
"Apa hakmu melarangku menerima telepon, nii-san?" ringis Gaara mengelus kepalanya.
"Aku kakakmu jadi kau harus ikuti aturanku," ucap Sasori.
Gaara menatap sangar iris Hazelnut milik kakaknya, "Ck, memangnya kenapa? Aku salah menerima telepon dari tunanganku."
Itachi seraya membaca majalah terganggu dengan adu mulut kakak beradik yang berada satu ruangan dengannya lalu dia mengambil dua buah apel dan melemparkannya tepat di dua kepala keturunan keluarga Sabaku.
"Kau—Ittaii…" Sasori mendelik ke arah si sulung Uchiha, "apa yang kau lakukan, Itachi?"
"Kalian sangat berisik," jawab nan singkat Itachi menatap Sasori dengan tajam.
"Itachi-niisan, kepalaku sakit…," ringis Gaara.
"Salah sendiri, kenapa juga ribut di rumah sakit?" ucap Itachi kembali membaca majalah yang terpekur di meja.
Mereka berdua terdiam dan saling mengirimkan pesan-pesan permusuhan dua kakak beradik. Tak berbeda dengan dua pemuda yang duduk santai di sofa warna hijau muda, terlihat adu mulut kecil meramaikan ruangan itu.
"Bodoh, itu minumanku! Kenapa kau jatuhkan disana?" bentak Shikamaru.
Naruto merasa tidak bersalah, "itu tidak sengaja, tuan pemalas. Hanya kesenggol saja…"
"Tidak, kau harus ganti minumanku," desis Shikamaru.
"Apa? Ada minuman yang sama di sana," ucap Naruto tidak mau kalah.
"Aku mau yang itu, bodoh. Ceh, mendokusai…"
Seketika tangan kekar mengambir dua botol kosong yang berada di meja dan melemparkan asal ke arah Naruto dan Shikamaru, "bisa kalian tidak ribut, dobe… Shikamaru?"
Mereka kaget dengan dua botol tepat di depannya dan mengadahkan pandangan ke arah si pelempar dan terperangah karena…
"Akhirnya kau sadar juga, Sasuke," ucap Gaara.
Iris Sapphire milik Naruto berbinar-binar "syukurlah, teme. Kau sadar…"
Tapi dirinya tidak menanggapi ucapan kedua sahabatnya malah melirik kesana kemari ke seluruh ruangan itu.
"Apa yang kau cari, Sasuke?" tanya Itachi.
Shikamaru tahu akan apa yang dicari oleh Sasuke, dia tersenyum tipis, "mereka akan datang sebentar lagi. Kau tenang saja tuan putri akan menemuimu, pangeran," ledeknya.
"Gyaa—haha, siapa tuan putri itu, Shika?" tanya Naruto.
"Tanpa kujawab, kalian sudah tahu…" sahut Shikamaru yang kini mendapat tatapan tajam dari Sasuke, "heii—Sasuke, aku tidak menyebutnya. Kenapa kau merasa tersinggung?"
Kemudian si bungsu Uchiha memalingkan mukanya, "diam kau, Shikamaru."
Tok…tok
Suara ketukan pintu dan tanpa izin mereka masuk ke dalam ruangan itu dengan tatapan tidak bisa diartikan.
"Sasori-nii…" delik Matsuri langsung menghampiri calon kakak iparnya dan menjitak kepalanya.
"Ittaii—tiba-tiba datang langsung memukulku, apakah pantas disebut calon adik iparku?" sahut Sasori.
"Siapa juga mengambil telepon tunanganku, Sasori-nii?" ucap Matsuri.
Gaara menyela, "sudahlah, Matsuri."
"Arigatou, Gaara-kun," ucap lembut Matsuri seraya menatap iris jade Gaara seraya memeluk tanpa sadar iris Hazelnut mengintimidasi kelakuan mereka.
Tak lain halnya dengan dua pasangan yang tidak memperdulikan keadaan sekitar, siapa lagi kalau Naruto dan Hinata saling menjahili satu sama lain serta Shikamaru terlihat menggoda tunangannya. Tapi berbeda dengan sepasang insan yang membisu diantara keramaian di ruangan tersebut, mereka saling menatap satu sama lain tanpa mengucap satu patah katapun. Mereka sendiri bingung harus memulai darimana bahkan salah satunya adalah gadis yang disebut numb girl tidak mampu untuk membuka pembicaraan sama hal dengan si dingin bungsu Uchiha kurang memahami bagaimana cara mengawali berkomunikasi.
Sasuke tampak terpaku dengan perubahan gadis pujaan hatinya kini berubah menjadi anggun dengan memakai dress lengan pendek warna merah muda dihiasi pita bunga warna merah dan rambut sebahu hanya dikuncir setengah dan sisanya dibuat bergelombang dan highless warna peach juga make up natural natural membuat iris Onyx Sasuke tak berkedip sedikitpun.
Ino menyadari akan kekakuan antara Sakura dan Sasuke mencoba memberi isyarat, "ehem… tampaknya pangeran terpesona dengan kecantikan tuan putri."
"Heii, inikah Sakura yang kalian bicarakan?" tanya Itachi terlihat pura-pura terkejut dengan kecantikan gadis bersurai merah muda bagaikan bidadari turun dari langit.
Dan Itachi mendapat jitakan manis dari adiknya," kau bahkan sudah menemuinya karena dia pernah menginap di rumah kita, baka!"
"Oh, bukankah dia juga tidur di kamarmu, baka ototou?" seru Itachi dengan seringainya.
Semua terperangah mendengar ucapan Itachi dan berspekulasi hal yang tidak-tidak, sebelum mulut Sasuke menyela. Sakura yang sudah duduk di samping Itachi menyela duluan, "kami tidak melakukan apapun. Aku tidur di tempat tidurnya sedangkan dia—" menunjuk ke arah Sasuke, " tidur di sofa."
"Sepertinya pangeran kita berkorban untuk putrinya… ckckck, kalian memang…," ucap Gaara.
Sasuke menatap iris jade Gaara, "sejak kapan julukan itu dipakai untukku?"
"Dari Shikamaru dan Ino," sahut Naruto tanpa dosa seketika mendapat aura membunuh dari pasangan itu.
"Kelihatan ada yang akan melangkahimu, Itachi," ucap Sasori.
Itachi menatap Sasori, "apa maksudmu, Sasori?"
"Lihat saja tangan kanan mereka masing-masing, apa kau tidak menyadarinya, tuan Itachi?" desis Sasori.
Tanpa menggubris ucapan Sasori, Itachi mengarahkan pandangan ke tangan kanan masing-masing mereka dan bergumam, "Souka, kau menepati janjimu. Sasuke…"
"Janji apa, baka nii-san?" tanya Sasuke tak mengerti akan ucapan kakaknya.
"Membawa calon adik ipar ke hadapanku…," ucap tanpa dosa Itachi membuat mereka yang ada di ruangan itu terbengong.
Naruto tampak sumringah, "benarkah itu, Sasuke? Wah, sepertinya kita harus mengalahkan mereka berdua rupanya, bukankah begitu Hinata-chan?"
Hinata mengangguk, "iya, Naruto-kun."
"Bagaimana kalau—" bunyi telepon genggam milik Itachi berbunyi dan dengan cepat dia menekan tanpa melihat layar.
"Kau meninggalkan meetingmu, bodoh. Untungnya, aku bisa menggantikanmu"
"Heii—Konan, jangan berteriak. Telingaku bisa tuli…"
"Tidak peduli dengan telingamu tuli, kenapa kau bolos dari meetingmu?"
"Ada urusan penting."
"Oh, tidak menghubungiku. Bisa-bisa kau di skors bodoh!"
"Maaf, Konan. Aku tidak bermaksud—"
"Kau ada dimana sekarang? Direktur mencarimu…"
"Aku ada di rumah sakit."
"Buat apa kau di rumah sakit, Itachi-kun?"
"Adikku terluka parah."
"Oh, aku akan menyusulmu disana dan—eh, maaf direktur."
Itachi berkeringat dingin mencoba untuk tidak gugup dan membuat beberapa pasang mata melirik ke arahnya.
"Itachi, ada apa dengan Sasuke sekarang?"
"Di-dia…"
Iris Onyx milik Itachi kaget mendapati I-phone miliknya sudah berada di tangan Sasuke, "ini aku, Sasuke…"
"Apa yang kau lakukan disana, Sasuke?"
"Aku sedang dirawat di rumah sakit, tousan…"
"Tingkah bodoh apa lagi yang kau perbuat?"
"Aku hanya menyelamatkan seseorang juga menghapuskan permusuhan kita dengan keluarga Sabaku."
"Kauu…"
"Sekarang pelakunya sudah di kantor kepolisian, kalau perlu tanya pada Shikaku-jisan."
Tutt…tutt…
Sambungan telepon terputus secara sepihak oleh Sasuke sendiri, "apa kau tidak takut dengan kemarahan tousan nanti?" tanya Itachi memasukkan telepon genggamnya.
"Tidak, bahkan aku berani untuk menyela. Toh, permusuhan ini tidak ada gunanya dan—aku melindungi yang benar," ucap Sasuke penuh dengan nada keseriusan tanpa setitik keraguan dari perkataannya
"Darimana kau tahu kalau Orochimaru dan Anko di tahan oleh tousanku?" tanya Shikamaru.
Sasuke menghela napas, "hanya feeling…"
"Ternyata pemikiranmu sudah dewasa rupanya, Sasuke," gumam Sasori seraya meninggalkan tempat duduknya dan melangkah keluar dari ruangan tersebut. Dan respon Sasuke hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari sulung Sabaku.
"Kau mau kemana, Sasori?" tanya Itachi.
"Aku mau kembali ke kantor, pekerjaan sebagai direktur sudah menungguku. Dan kau adikku—" Gaara yang ditunjuk bingung, "—cepatlah tamat, kakak menunggumu…"
"Hee—memang kita tidak akan bertemu lagi?" tanya Gaara.
Sasori tersenyum, "dua hari lagi kakak akan ke Belanda. Pekerjaan direktur dialihkan ke Kankuro,"serunya.
Itachi menyela, "berapa lama kau disana, Sasori?"
"Tiga tahun…" ucap Sasori meninggalkan ruangan itu.
Sasuke menatap iris jade Gaara, "sepertinya masa depanmu jadi direktur rupanya—"
"Kau juga bodoh," sela Itachi.
"A-apa?" ucap Sasuke terkejut dengan perkataan kakak sulungnya, "jadi aku akan menjadi direktur sama seperti dia juga—merepotkan…"
"Setelah kau kuliah, sepertinya tousan akan menempatkanmu di Amerika Serikat," ucap Itachi.
"Hn," sahut ambigu Sasuke.
Terlihat jam menunjukkan 20.47 p.m, baik Naruto, Shikamaru dengan pacarnya masing-masing serta Matsuri dan Itachi meninggalkan ruangan itu. Tak terkecuali Sakura, diapun bangkit dari tempat duduknya—seketika tangan mungilnya ditahan oleh tangan kekar Sasuke.
"Ada apa?" tanya Sakura.
"Terima kasih…"
Sebua kata yang membingungkan di pikiran Sakura dan pemuda bernama Gaara yang berada tak jauh darinya.
"Maksudmu apa?" tanya gadis bersurai musim semi ini mencoba mencari arti kata dari balik iris Onyx setajam elang.
"Terima kasih untuk mengkhawatirkanku…," jawab Sasuke menatap lembut iris hijau bening Sakura.
Sakura mencoba tersenyum, "tidak masalah bagiku. Tentang cincin yang kau berikan ini aku… akan mempertimbangkannya. Aku akan belajar menyayangimu bahkan mencintaimu."
Bahagia, kata ini yang dirasakan oleh Sasuke. Dirinya bahkan tidak mengerti apa yang ia katakan hingga melakukan untuk gadis ini sampai mempertaruhkan nyawa. Ada seberkas rasa yang membuncah untuk kebahagian gadis yang mencuri bagian terdalam hatinya.
Tanpa sadar tangan kekar yang terbalut perban menarik pelan gadis bersurai merah muda ini menatap dirinya lebih intens hingga jaraknya kurang 30 cm jika tidak diinterupsi oleh pemuda beriris jade menggumamkan sesuatu.
"Eheemm… sepertinya udara disini panas," ucap Gaara mengibas-ngibaskan tangannya.
Sasuke mendelik Gaara dengan tajam, "dasar penganggu…"
"Ayo, Sakura," ajak Matsuri.
Sakura mengangguk pelan dan meninggalkan ruangan itu perlahan kemudian bibir tipisnya mengucapkan kata yang membuat baik Gaara dan Sasuke terdiam.
"Cepatlah sembuh Gaara-nii… Sasuke-san…"
—Dan itu membuat kedua pemuda tersenyum tipis. Sepertinya pelangi akan menghiasi hari esok untuk menemani mereka yang telah memenangkan dalam mengalahkan sebuah kesalahan yang menciptakan permusuhan.
.
.
.
.
Tak berbeda jauh pada hari-hari sebelumnya, kegiatan perkuliahan yang akan berakhir sebentar lagi. Terlihat banyak helaan napas bahkan gerutuan mahasiswa dengan Ujian Akhir Semester ini hingga mereka datang lebih awal ke kampus untuk melihat pemberitahuan.
Tapi kefokusan mereka pecah saat beberapa mobil masuk kedalam kampus—itu tidak asing lagi kalau pemilik mobil itu adalah anak dari orang yang berperan penting baik kampusnya maupun negaranya. Terlihat dari mobil bermerk Ferrari 101 tampak pemuda beriris Onyx keluar menyambut salah satu mobil milik sahabatnya—Gaara mobil Ferrari 00-5.
Diapun membuka salah satu pintu mobil milik Gaara, "kemarikan tanganmu…" ucap Sasuke membuat mahasiswi bertanya-tanya siapa itu.
—Ternyata gadis yang dulu disebut numb girl dengan senyum sumringah menguar dari bibir tipisnya menyambut uluran tangan Sasuke.
"Tidak perlu repot, Sasuke-san…" sahut Sakura menatap sekilas iris Onyx Sasuke.
Sebagian bahkan seluruh pasang mata yang melihatnya terperangah dengan perubahan gadis itu yang sekarang tampak anggun membuat para mahasiswa tidak berkedip dengan kecantikan yang dia sembunyikan.
Juga salah satu mahasiswi keluar dari mobil tunangannya kemudian menarik pelan tangan Sakura.
"Ayo, Sakura…" ajak Ino seraya menatap tajam Sasuke.
"Apa maksudmu, Ino?" tanya Sasuke menautkan alisnya tidak mengerti.
Ino menggeleng kepalanya, "ah—tidak, aku punya urusan bisnis dengan Sakura. Jaa…"
"Eh, tunggu dulu Ino…"ucap Shikamaru tergesa-gesa membuka pintu mobilnya dan menahan tunangannya.
"Apa?" tanya Ino.
"Kau lupa sesuatu—" ucap Shikamaru mendekatkan diri ke telinga Ino, "tasmu dan…"
Cup…
Shikamaru berhasil mendaratkan ciuman singkat ke bibir tipis Ino dan seraya meninggalkan tanpa dosa kemudian masuk kedalam mobilnya.
"Ceh, dasar pamer kemesraan…" dengus Sasuke.
Seketika tak mau kalah dengan Shikamaru, pemuda berambut dark Blue menghampiri Sakura kemudian mengecup singkat di dahi gadis musim semi itu hingga teriakan fans menjerit melihat aksi primadona di kampusnya.
"Aww—sakit Sakura…" ringis Sasuke menahan sakit kakinya yang berhasil diinjak oleh Sakura.
Ino mendengus tertawa, "rasakan itu Sasuke…"
"Makanya jangan iri…" ucap Temari menepuk pundak Sasuke seraya menghampiri Ino yang melambaikan tangannya.
"Hn," sahut ambigu Sasuke.
"Hoii, Sasuke… mata kuliah Kakashi sebentar lagi dimulai," ucap Gaara seraya membuka jendela mobilnya.
Tanpa respon, Sasuke pun memasuki mobilnya kemudian mereka segera ke fakultas dengan kecepatan tinggi.
.
.
.
Tak berlangsung lama mata kuliah musikal sudah selesai, tampak muka bahagia gadis musim semi ini memainkan piano dengan lantunan nada yang merdu. Dia tidak memberhentikan permainan jikalau seseorang berbicara yang membuat dirinya terdiam.
"Kudengar tugas akhir Psikologi Abnormal harus meneliti orang, bahkan kudengar primadona kampus kita—Sasuke Uchiha meneliti… gadis numb girl,"
"Kau tahu dari mana?"
"Dari pacarku di Fakultas Psikologi, katanya Sasuke mendapat nilai yang sempurna tugas penelitian itu dan—"
Seketika Sakura bangkit dari tempat duduk dan memasang muka datar lagi kemudian menuju tempat dimana dirinya dulu diselamatkan oleh Sasuke.
Ino kaget dan seraya menatap tajam dua mahasiswi yang membicarakan tentang sahabatnya kemudian mengambil telepon genggamnya.
.
.
.
Di lain tempat, si bungsu Uchiha merasakan getaran di sakunya dan mengambil I-phonenya kemudian membaca pesan singkat yang ia ketahui adalah Ino.
To : Sasuke Uchiha
Sepertinya kau harus menemui Sakura sekarang. Karena dia tahu orang yang kau teliti itu adalah dia…
Kau harus menjelaskannya…
—Dan Sasuke membeku seketika…
.
.
.
TBC
Satu chapter menuju tamat. Gomen jikalau chapter ini membosankan dan ya apalah, sebernanya mau dilanjut tapi aku potong untuk chapter terakhir.
Tenang saja, habis chapter terakhir ada epilog ^^
Semoga kalian tidak bosan membaca fic ini dan review menumbuhkan kepercayaan diriku mempercepat update fic ini.
Salam
Gracia De Mouis Lucheta
01 July 2012, 13.02 p.m
