Naruto © Masashi Kishimoto
Numb Girl © Gracia De Mouis Lucheta
Genre : Romance™/ Angst /Drama/Hurt-Comfort
Rated : T
Warning : Misstypo, OOC, AU.
For *SasuSaku Lovers*
Enjoying for Reading and Review…
~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~0~
Chapter 10
-The Last-
.
.
.
Angin semilir meniup helaian rambut merah muda milik Sakura Haruno yang tengah menggeram kesal dengan apa yang dia dengar di kelas tadi. Dirinya tidak menyangka kalau primadona sekolah berdarah Uchiha mendekati bahkan melindunginya dengan taruhan nyawa hanya untuk… bahan penelitian.
Dia harusnya sadar kalau pemuda itu memanfaatkan dirinya saja tapi kenapa ada perasaan yang menggelitik dan membuka hatinya serta membuat dirinya tidak menjadi gadis numb girl—seharusnya dia berterima kasih untuk terakhir kalinya. Mungkin pemuda itu sudah bahagia dengan hasil yang memuaskan, ucapan manisnya bahkan janjinya… sungguh mengelabui dirinya sekarang.
Cklek…
"Sakura…"
Sakura berusaha tidak menoleh dan hanya menatap lurus langit berwarna biru dengan ditemani awan putih.
"Maumu apa? Puas kau memanfaatkanku, Sasuke-san?"
Sasuke kini terpaku mendengar ucapan Sakura dan dirinya berdiri berjarak 45 cm seraya memasukkan tangannya ke saku celananya.
"Sakura—" ucap pelan Sasuke.
"Hentikan ucapan manismu, Sasuke-san! Sekarang pergilah…, dan terima kasih untuk terakhirnya…," potong Sakura menahan getaran matanya untuk mengeluarkan cairan bening—Air mata, hal yang dibenci Sakura.
Sasuke memberanikan diri untuk menipis jaraknya dengan Sakura, bentakan dan teriakan Sakura tidak digubrisnya dan kini diantara berdua… hanya berjarak 20 cm.
"Dengarkan aku dulu, Sakura! Silahkan tanya apapun, aku akan jawab sejujurnya yang kau mau…," ujar Sasuke.
Gadis beriris emerald membalikkan tubuhnya seraya meletakkan kedua tangan di dadanya, "Benar kau memilihku sebagai penelitianmu dengan mendekatiku hingga perhatianku sepenuhnya terarah padamu?" cibir Sakura.
Dengan satu tarikan napas, Sasuke berusaha menstabilkan emosinya. Dia tahu jujur adalah hal yang menyakitkan tetapi akan membawa kelegaan di hati dan ucapannya. "Ya, ucapanmu benar Sakura—"
Runtuh… Runtuh kini pertahanan Sakura untuk menekan dirinya untuk menangis, "Jadi, apa maksudnya kau memberiku harapan juga ini—" seraya menunjukkan benda bulat perak di jari manisnya dan tangannya hendak menampar pipi pemuda tetapi ditahan oleh Sasuke.
"Tapi itu dulu, Sakura. Sejak aku bertemu denganmu dan menyelamatkan dirimu—perasaan ambigu kini merasuki hatiku entah kapan. Bahkan aku hampir mati hanya untukmu…Sakura. Jangan jadi gadis numb girl lagi… dan silahkan tampar aku, kalau perlu seluruhnya…," ucapan terpanjang yang dilontarkan pemuda irit bicara ini.
Plakk
Tamparan manis mendarat di pipi Sasuke dan sekejab Sakura memeluk tubuh bidang pemuda dengan memukul dadanya, "kau betul-betul bodoh memilihku sebagai pasanganmu. Aku hanya gadis numb girl, apa istimewa diriku, bodoh?"
"Kau istimewa di mata juga hatiku bahkan seluruh tubuhku…, Sakura. Aku tidak memerlukan apa-apa...," Sasuke membalas pelukan Sakura dengan kasih sayang dan seraya membentangkan jaraknya kurang dari 20 cm antara mereka berdua.
"Aku betul-betul bodoh sudah mulai mencintaimu sekarang dan dengan bodohnya lagi memaafkanmu dengan mudah… aku benar-benar naïf," ucap Sakura.
Sasuke tersenyum tipis seraya menipiskan jarak antara mereka berdua, "Aku juga naïf sudah jatuh dalam perangkap hatimu untuk mencintaimu—bolehkah aku melengkapi cintamu itu?"
Dengan anggukan dan senyuman Sakura, kini iris Onyx dan Emerlad saling mendekat kemudian hidung mereka bersentuhan dan kedua bibir mereka menyatu dengan penuh perasaan. Rasa yang membuncah dihatinya kini menjalari mereka, euforia merah jambu menghiasi dan menemani kebahagian mereka berdua. Sasuke mencoba menekan tengkuk Sakura untuk memperdalam ciuman pertama mereka berdua dan mendapat balasan jambakan rambut dari tangan Sakura.
Pasokan oksigen yang menipis memaksa mereka untuk menyudahi ciuman mereka tampak muka memerah Sakura dan semburat tipis menghiasi wajah pucat Sasuke. Tanpa menunggu lama, Sasuke merendahkan tubuhnya membuat Sakura tergagap.
"Aku hanya mengucapkan sekali saja… Menikah denganku dan jadilah Uchiha untukku."
Sakura tersenyum," buat apa cincin ini melingkar dijariku kalau bukan untuk menerima lamaranmu."
Betul-betul sempurna kini kehidupan mereka berdua. Sasuke langsung menghamburkan pelukan dan mengucapkan berulangkali, "Arigatou… Arigatou… Sakura…"
"Ehemm…," suara yang membuat kedua sejoli tengah berdua mendelik ke arah sumber suara itu.
"Wah, wah… Pangeran dan putri melangkahi kita berdua…," ucap Ino seraya melirik Shikamaru.
Gaara bersidekap dengan seringaian, "kalau menikah dengan Sakura berarti kau memanggilku nii-san…"
Dengan membalas seringaian juga,"Oh begitu, aku akan memanggilmu nii-san jika IPK ku dibawahmu saat wisuda nanti."
"Baik, kalau itu perjanjianmu… deal…," seraya mengadahkan tangannya ke arah calon adik iparnya yang merupakan sahabatnya.
Semua menghela napas melihat persaingan ketat diantara kedua pewaris sekaligus bungsu dari Uchiha dan Sabaku.
"Sial, berarti posisiku akan direbut oleh mereka berdua," ucap Shikamaru. Karena dirinya masih memegang IPK tertinggi di dua semester yang lalu dan bersiap-siap untuk melawan mereka berdua. Tak berlainan juga—anak tunggal dekan Fakultas Kesenian, Naruto menggaruk kepalanya, walaupun dilihat darinya terlihat agak bodoh tetapi dia memposisikan urutan keempat dari IPK tertinggi.
"Oh ya, kalau tidak keberatan habis Ujian Semester ini kita buat pesta…" ajak Ino.
Sasuke menginterupsi, "habis Ujian Semester nanti, kakakku akan menikah."
"Berarti kita berpesta di kediaman Uchiha—bolehkah Sakura?" tanya Ino.
"Eh?" sahut kaget Sakura.
"Heii, dia masih bagian keluargaku, Ino. Seolah-olah dia sudah menjadi Uchiha," geram Gaara.
"Gomen, Gaara. Bolehkan Sasuke?" tanya Ino.
"Hn," ucap ambigu Sasuke
Ino mengerucutkan bibirnya," dasar pelit kata."
"Gaara…," panggil Sasuke.
Gaara menatap sahabatnya, "apa? Kau meminta izin membawa Sakura ke kediamanmu nanti kan?. Boleh, tapi jam sembilan harus pulang. Ingat itu!"
Sasuke terperanjat dan tidak menyangka Gaara bisa membaca pikirannya bahkan mengucapkan perkataannya,"darimana kau tahu?"
"Aku calon psikolog, Sasuke." Sahut Gaara dengan santai.
"Gaara, kau sekarang jadi Sistercomplex…" ucap Naruto tanpa sadar mendapatkan aura tajam dari Gaara.
"Sudahlah, dobe… biarlah dia bersikap seperti itu sampai semester akhir nanti," ucap Sasuke.
Sakura memberanikan diri untuk berbicara kepada kakak sepupunya, "ne, Gaara-nii… bolehkah aku pulang bersama Sasuke nanti?"
Senyuman menguar dari bibir Gaara seraya mengacak pelan rambut adik sepupunya, " boleh, tapi hati-hati dengan sahabat nii-san ya."
"Apa-apaan kau Gaara? Memang aku penjahat apa?"
"Menurutmu?"
Jarum kehidupan kini tengah memutar roda untuk apa yang akan terjadi selanjutnya. Senyuman bahkan tawaan kini memaksa jarum itu berhenti dan merekam kebahagian diantara mereka.
.
.
.
.
.
.
Takut kini menjalari Sakura Haruno seraya mengadahkan penglihatannya terarah mansion mewah milik Uchiha. Dirinya bahkan tidak menyadari mereka sudah berhenti…
"Heii, Sakura…" ucap Sasuke seraya membukakan pintu.
"Ah, iya. Gomenasai…" Sakura terpaku dengan keluarga Sasuke sudah menunggu mereka, dia takut tidak diterima di keluarga itu. Dan tanpa sadar, Mikoto Uchiha menghamburkan pelukan pada dirinya, "Okaeri, Sakura-chan…"
Kemudian Mikoto menarik Sakura tanpa persetujuan Sasuke, dan dirinya mengerucut bibirnya yang disadari oleh Konan—tunangannya Itachi.
"Jangan ngambek, Sasuke. Ibumu menculiknya sebentar," ucap Konan.
Sasuke mengernyitkan dahi,"Hn."
"Sebaiknya kau juga bersiap-siap, baka ototou," bisik Itachi.
"Memang ada acara apa?" tanya Sasuke.
"Ada pertemuan kolega otousan…," ucap Itachi
"Lalu?" tanya Sasuke lagi.
Itachi merentangkan tangannya pertanda menyerah,"entah, aku tidak tahu. Ayo, Konan…"
"Bye… bye, Sasuke."
Tanpa berselang, Sasuke langsung menuju kamarnya dan membersihkan dirinya kemudian memakai kemeja warna putih dilapisi tuxedo warna biru. Dia sekarang tampak gagah dan melangkahkan kakinya keluar dan mendapati halaman mansionnya sudah ramai dengan para tamu, dia berpikir kalau dia bersiap diri tadi selama tiga puluh menit.
Dirinya kini melirik ke sana kemari dan tertuju pada seseorang tidak asing lagi yang merupakan anak kepala kepolisian bersama tunangannya."Shikamaru…"
"Sasuke…" sahut Shikamaru menoleh ke arah Sasuke.
"Orang tuamu juga kolega ayahku rupanya—" ucap Sasuke terpotong dengan perkataan Shikamaru, "tidak, orang tua Ino merupakan kolega bisnis. Mau tak mau, aku ikut juga…"
"Tumben, biasanya kau bilang acara ini membosankan," ejek Sasuke.
"Oh, ya. Mana Sakura?" tanya Ino.
Sasuke tidak mengetahui dimana Sakura sekarang memilih diam dan menyaksikan bahwa acara sebentar lagi dimulai. Dirinya terkejut begitupula Shikamaru dan Ino melihat pembawa acaranya adalah—Deidara yang juga sahabatnya kakak Sasuke. Mereka berpikir pasti dia berbuat aneh-aneh jika membawa sebuah acara.
"Hadirin sekalian, hari ini kami berterima kasih atas kehadiran kalian. Ini merupakan acara spesial karena pada tanggal 27 Agustus nanti akan diadakan acara pernikahan Itachi Uchiha dan Konan…"
Ketiganya bernapas lega tapi tak berselang lama sang bungsu terkejut dengan kelanjutan ucapan sahabat kakaknya menyebut—
"Juga, pada tanggal 23 Juli keluarga besar Uchiha akan mengadakan pertunangan antara Sasuke Uchiha dan Sakura akan membina hubungan baik antara keluarga Uchiha dan Sabaku, karena Sakura adalah sepupu dari Kankuro dan Gaara yang sekarang hadir di pesta ini."
Shikamaru menepuk bahu Sasuke, "sepertinya hidupmu sudah ditentukan."
"Hhh, dasar baka nii-san!" geram Sasuke. Dia tahu ini ulah kakaknya—walapun dia senang tapis setidaknya berdiskusi dulu dengannya. Seketika dia terbersit dan teringat secuplik perkataan Deidara, "Shikamaru, bukankah tadi Deidara-nii bilang kalau Gaara ada disini?"
"Ya. Tapi tunggu dulu—mungkin Gaara tahu tentang acara ini. Pantas dia mengizinkanmu membawa Sakura ke sini." Sahut Shikamaru.
"Dasar…," geram Sasuke lagi.
"Itu dia, Sakura. Sakura… Sakura…," panggil Ino membuat iris Onyx Sasuke tertuju dengan surai merah muda yang berjarak kurang dari 30 cm.
Sakura menoleh, "haii, Ino-chan… kau datang dengan siapa?"
Dengan isyarat Ino, Sakura mengerjapkan matanya melihat Sasuke juga tengah menatapnya dengan serius—bukan mengarah ke Shikamaru.
"Sasuke-san…" gumam Sakura.
"Darimana saja kau, Sakura?" tanya Sasuke.
"T-tadi habis membantu Mikoto-baasan di dapur dan bertemu dengan Gaara-nii…," sahut Sakura.
Mata pemuda beriris Onyx tak bisa memungkiri kalaulah Sakura menjadi anggun dengan dress warna soft pink pemberian ibundanya. Memang sang ibunda menginginkan anak perempuan tapi tidak kesampaian. Beruntung kedatangan Sakura—membuat sang ibu lebih ceria kembali.
"Heii, sang pangeran tak berkedip dengan kedatangan putri,"celetuk Shikamaru hingga mendapat sikutan keras dari Sasuke.
"Ternyata kau adalah calon menantu yang baik, Sakura," ucap Ino seketika membuat Sakura muka memerah. Tak berselang lama sang pembawa acara menyuruh seluruh anggota Uchiha Fugaku untuk menaiki atas panggung, tanpa sadar Sakura menarik pelan tangan kekar Sasuke yang membuat para tamu beriuh ramai hingga calon kakak ipar—Gaara tersenyum tipis melihat tingkah adik sepupunya.
Ketika sesampainya di atas panggung, Sasuke menatap tajam iris Emerlad calon tunangannya dengan dalih—Apa maumu,Sakura. Tapi dengan polosnya, Sakura memamerkan senyum tipis, "jangan ngambek, Sasu-chan."
Sasuke terbengong mendengar ucapan Sakura dan memilih diam daripada beradu argument dengannya kemudian sempat terpikir kenapa Sakura mengucapkan kata tabu yang jelas… jelas itu akan merusak pendengaran si bungsu Uchiha, dia tahu kalau yang memberitahu Sakura adalah ibunya.
Entahlah apa yang dibicarakan oleh pembawa acara maupun anggota keluarganya, yang jelas—hubungan antar Sabaku dan Uchiha sudah membaik bahkan akan menjalin ikatan melalui pertunangannya dengan Sakura Haruno. Dia tersenyum tipis dalam angannya tidak membayangkan kalau kehidupan akan seperti ini, entahlah hanya jarum kehidupan yang akan membawa nya dalam tantangan berikutnya.
"Heii, Sasuke!" panggil Gaara.
Dirinya juga tidak tahu kalau seluruh anggota keluarga sudah menuruni panggung sampai Sakura meninggalkannya dan langsung menemui kakak sepupunya. Ck—dasar.
"Kenapa kau meninggalkan aku, Sakura?" Tanya Sasuke seraya mengintimidasi iris mata Sakura.
"Salah sendiri melamun di panggung," timpal Gaara
"Begitukah ! perasaan tidak," desis Sasuke.
"Kami melihatnya sendiri, tuan muda Uchiha."
"Awas kau. Aku tidak segan-segan melawanmu sekarang. Gaara."
."Oke, lawan aku dengan IPK mu nanti saat wisuda," tantang Gaara.
Sakura merasakan ada aura menusuk dikedua orang yang sama-sama penting bagi dirinya segera kedua kakinya menginjak kaki mereka, "sekarang lagi banyak tamu…"
"Aw—sakit. Sakura…," ringis Gaara mencoba menstabilkan rasa sakit di kakinya yang berhasil di injak oleh sepatu Highless milik Sakura, sama halnya Sasuke—mengalami rasa sakit tidak ketara di kakinya.
"Kalian ini memang pewaris tidak beretika…," desis Sakura.
Ino dan Shikamaru terdiam dengan sifat Sakura yang seakan Gaara dan Sasuka adalah anaknya. Bahkan Gadis bersurai pirang pucat tersenyum dengan sifat Sakura yang kembali, "yokkata…, aku senang sekali. Shika-kun. Dia sudah seperti dulu, aku beruntung kembali ke sini."
"Berkat kau juga, jika kau tidak kembali ke sini. Entahlah…," ucap Shikamaru mengelus surai tunangannya yang membuat Gaara dan Sasuke tersenyum geli.
"Dasar umbar kemesraan lagi," ejek Gaara.
"Kalian iri kan, bodoh!" geram Shikamaru.
"Siapa bilang kami iri?" cibir Sasuke.
Sakura dan Ino sepertinya harus menyiapkan tenaga untuk meredam pentengkaran mereka. Tidak peduli dengan pertemuan penting, mereka jika bertemu pasti melibatkan adu mulut untuk meramaikan pertemuan itu.
.
.
.
.
Tak terasa waktu terus berlalu hingga segelintir peristiwa telah melewati mereka. Kisah mereka berawal sampai sekarang yang telah menginjak semester akhir di masa perkuliahan mereka, juga umur mereka sudah menginjak kepala dua. Sikap mereka sekarang telah berubah menjadi dewasa.
Dan…, juga pada waktu sekarang mereka akan meninggalkan bangku kuliah yng telah berjalan selama empat tahun. Dengan toga yang terpasang di kepala mereka dan raut wajah sumringah. Acara wisuda tahunan telah dimulai yang diadakan di auditorium Konoha et Campuss, di sana akan menampilkan para wisudawan dan wisudawati yang mendapat nilai cumlaude atau dengan bangganya.
Di sana juga para mahasiswa yang telah menamatkan masa perkuliahannya seluruh fakultas di kampus tersebut. bukan itu saja. Para orang tua dan kerabat ikut andil untuk menyaksikan keberhasilan anak mereka berdiri diatas panggung untuk mendapat penghormatan resmi dari rektor.
Guup, kinilah menghampiri para wisudawan dan wisudawati tak terkecuali anak yang terpenting di kampus mereka. Walau orang tua mereka memiliki saham di kampus mereka, tetap mereka berusaha keras untuk menjadi terbaik… dan menjadi lebih baik…
"Baiklah para hadirin sekalian, saatnya mengumumkan siapa yang mendapat IPK tertinggi di kampus kita tahun ini…"
Iris Onyx dan Jade saling memberi tatapan tajam dan menguar dalam aura membunuh mereka yang membuat kedua sahabatnya menghela napas saja.
"Yang mendapat predikat Cumlaude jatuh pada… Sasuke Uchiha, mahasiswa Fakultas Psikologi dengan IPK 3,97."
Sang bungsu Uchiha terpaku mendengar perkataan bahwa dirinya mendapat IPK tertinggi tahun ini . dirinya tidak menyangka usaha kerasnya selama ini berhasil, dia tidak hanya mengalahkan Shikamaru dan Naruto yang berada di posisi tertinggi juga—calon kakak iparnya Gaara sekaligus sahabatnya. Dia segera melayangkan senyum kemenangan kepada Gaara, "aku menang… Gaara."
Gaara segera mengalihkan pembicaraan dengan menoleh ke arah berlawanan, "sudah… sudah.. segara naik ke atas podium…"
Tak berlangsung lama, Sasuke mendapat penghormatan serta selendang bukti menjadi cumlaude. Peraih IPK kedua tertinggi jatuh pada Sakura Haruno. Mahasiswi Fakultas Kesenian dengan IPK 3, 95.
Sakura dengan bangganya menangis terharu saat menaiki di atas panggung, dan setelah mendapat penghormatan. Dia melihat Sasuke berdiri di sana sambil menunggu dirinya yang membuat para hadirin menatap tertuju pada mereka.
"Ayo, Sakura…"
Sakura mengerucutkan bibirnya, "tidak usah. Terimakasih…" ucapnya.
Merasa tidak digubris oleh tunangannya—Sasuke mencoba memanggil Sakura walau tetap nihil tidak dijawab.
"Mendokusai-na, bikin heboh saja," gerutu Shikamaru.
Peraih ketiga jatuh pada Sabaku no Gaara mahasiswa Fakultas Psikologi dengan IPK 3,94, yang keempat adalah Shikamaru Nara dan yang kelima jatuh pada Naruto Uzumaki. Serentak mahasiswa yang mendapat penghormatan sekaligus pujian merupakan hal yang paling membanggakan lagipula tahun ini yang mendapat predikat pujian adalah fakultas psikologi.
Seluruh keluarga yang mendapati anak kesayangannya mendapat predikat membanggakna langsung menghambur pelukan tak terkecuali dengan anak pewaris dari pemegang saham di kampusnya. Ada sedikit iri dari Sakura yang melihatnya… dia kemudian tidak menjauhi dirinya jikalau ada tangan yang menahan dia pergi.
"Di sini keluargamu… Sakura," ucap Temari.
"Ayo, kemarilah… Sakura-chan," ajak Kankuro.
Gaara hanya tersenyum tipis dan memberi isyarat kepada adik sepupunya untuk berkumpul bersama mereka. Dan kemudian Sakura dengan senggukan langsung menghambur pelukan ke Temari… bibi Rei.. juga Gaara.
"H-hei, kenapa aku tidak dipeluk, Sakura-chan?" gerutu Kankuro.
"Gomen, Kankuro-nii…"
Di kejauhan, sang bungsu Uchiha melihat keceriaan tunangannya berkumpul dengan keluarganya hingga dirinya tersentak dengan pukulan halus dari kakaknya. "Jangan melamun, baka ototou…"
"ji… ji…," ucap bocah kecil berusia dua tahun yang berada digendongan Itachi.
Sasuke menoleh dan menatap iris onyx dengan pipi gembul—ya, itu anak dari kakaknya bersama Konan. Mau tak mau, dia gemas dengan anak kakaknya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" ucap Itachi.
"Hanya memegang saja, dasar… childreencomplex," cibir Sasuke.
"Kalau kau punya anak, juga sama sepertiku, baka ototou!"
"Jangan samakan aku denganmu, nii-san."
Fugaku dan Mikoto tersenyum geli dengan pentengkaran kecil kedua anak laki-lakinya, walau mereka sudah menginjak dewasa tetap adu mulut tetap menjadi bumbu dari persaudaraan mereka.
"Sasuke," panggil Mikoto.
"Hmm—ada apa, kaa san?" sahut Sasuke.
"Kapan kalian akan menikah? Bukankah kalian sudah lulus wisuda…," ucap Mikoto.
"Nanti aku bicarakan dengannya—"
Tanpa sadar pemuda berambut jabrik kuing langsung menarik tangan Sasuke, "ayo temeee… saatnya acara melempar togaa…."
"Jangan menarik tanganku, baka-dobee…"
Dengan tanpa dosa, Sasuke diseret paksa oleh Naruto keluar dari auditorium. Dirinya mendapati para sahabatnya sedang menunggunya, "kau lama sekali…"
Sasuke yang mendapat tatapan tajam dari iris jade milik Gaara tersenyum meremehkan, "aku mengalahkanmu…"
"Oke, kau boleh memanggil dengan nama biasa…"
"Mendokusai… na." seru Shikamaru.
Ino melirik tunangannya terus mengeluh membari tepukan halus di bahunya,"ne, jangan disesali… kau sudah terbaik untukku… ayoo.. kita lempar toga…"
Seketika Naruto memberi aba-aba kepada seluruh mahasiswa untuk melempar toga masing-masing… "Ayo lempar…"
Semua mahasiswa bersuka cita atas keberhasilan mereka tak terkecuali Naruto menghampiri Sakura dan menarik bersama-sama berkumpul dengan mereka.
"Habis ini, kalian mau kuliah dimana?"tanya Naruto.
Shikamaru menjawab duluan, "aku akan melanjutkan studi di Jerman mengambil S2 bersama Ino."
Dengan tatapan terperangah, "j-jadi kalian sudah menikah… kenapa tidak mengundangku?" ucap Naruto.
"Dasar bodoh, kami akan menikah bulan ini… tepatnya tanggal 17 Maret," timpal Ino.
"Hontouka?" ucap Naruto dengan tatapan berbinar-binar.
"Naru-baka…, kau salah obat hari ini. Tidak nyangka kalau Hinata bisa suka denganmu," cibir Sakura.
"Jangan mengejekku, Sakura-chan…"
"Oh ya, aku akan melanjutkan studiku di Amerika juga mengelola perusahaan disana," ucap Sasuke.
"Kau tidak mengajak Sakura?" tanya Ino.
"Tentu aku ajak,"
Semuanya terbengong kecuali Sakura. Dan dirinya pun mengambil alih pembicaraan, "kami akan menikah tanggal 28 Maret tepat di ulangtahunku. Bukan begitu,Sasuke-kun…"
Sasuke mengangguk, "Hn."
Naruto mengarah ke pemuda berambut merah darah, "kau…"
"Aku. aku akan meneruskan mengelola perusahaan di Italia juga melanjutkan studi tentunya setelah menikah dengan Matsuri. Kalau kau?"
"An-ano, aku melanjutkan di Amerika juga sama dengan teme, tapi beda universitas."
Sasuke mendecih, "dasar pengikut!"
"Aku tidak mengikutimu…"
"Jangan mengelak…"
"SUDAH CUKUPP…" teriak Sakura.
Seketika membuat semua terbengong, "hoi..hoi… Gaara, sepertinya adik sepupumu menirumu…"
"Hn."
"mate… mate… sepertinya kita akan berpisah. Kita akan melanjutkan sesuai dengan keinginan masing-masing. Ne, mari mengulurkan tangan…" ajak Shikamaru.
Semuanya mengangguk dan mengulurkan tangannya dan bersorak…
"BANZAIII…"
Semua titik telah terlewati dengan kebersamaan yang diiringi kebahagiaan dan kesedihan mewarnai mereka. Dan mereka selalu berharap ini merupakan titik awal dari perjuangan. Tak terkecuali dengan rasa cinta dan kasih sayang menemani mereka melangkahi hidup.
"Sakura…,"panggil Sasuke.
"Ya, ada apa Sasuke -kun?"
Sasuke langsung menghamburkan pelukan kepada gadis yang dicintai sekarang bahkan selamanya…, "apakah kau bersedia menemaniku selamanya?"
"Ya, aku akan menemani sampai maut memisahkan kita…"
.
.
Apapun yang menjadi kerikil masalah
Akan hilang dengan usaha untuk menyelesaikannya
Dan menghasilkan kebahagiaan untuk selamanya
.
.
.
Owari
Tsurugi Notes
Yatta-zo, satu utang fic udah tamattt…. Akhirnya..akhirnya.., agak ringan bebanku. Saya minta maaf jika ada kesalahan dariku dan misstyponya masih terlihat. Terimakasih sudah mengikuti fic ini.
Arigatou na…
Jikalau sempat aku akan bikin sekuel dari fic ini… jikalau sempat.
Sempatkah kalian mereview fic ini ^^
Salam'
Tsurugi De Lelouch
26 July 2012, 16.54 p.m
