Konnichiwa Minna… O genki desu ka?^^
Belakangan ini kodisi saya sedang tidak fit, makanya jarang melanjutkan fic._. sebenarnya saya sudah buat sampai chapter 4 lho;O dan chapter 3 ini sudah lama selesai dibuat, tp berhubung saya males update…. Jd lama deh =w= *maaf curhat—"* kita lanjutkan saja ya! Ini dia chapter 3 nya~
Summary : Sakura, Ino dan teman-teman asramanya sedang menghabiskan liburannya diluar asrama. Mereka sudah sangat lama tak keluar asrama. Dan fanfic ini pun dibuat untuk menceritakan liburan mereka yang mengubah kehidupan mereka dan memberikan pengalaman yang amat berharga bagi mereka.
Rating : T
Genre : Friendship
No Warning :p
Disclaimer :Always Masashi Kishimoto.
"Holiday Make It Happen"
Dan saat mereka mengetuk pintu rumah tersebut, keluar lah seorang lelaki yang terlihat keren dengan rambut acak-acakan dan muka yang amat familiar yang belum lama ini mereka kenal, ternyata dia adalah petugas pujaan Sakura!, Uchiha Sasuke.
"Wah ada tamu ya…", ucap Sasuke dengan nada yang amat santai.
"Kami bukan tamu! Kami kesini untuk mengembalikan teman bodohmu ini!", jawab Ino dengan nada tinggi yang layaknya seperti berteriak.
"Oh begitu.. Yasudah, taruh saja dia di sofa itu",(menunjuk sebuah sofa berwarna cokelat).
"Cih! Bicaramu menyebalkan sekali! Bantu kami dong! Kami kan perempuan, mana kuat menopangnya lagi setelah berjalan 15 menit sambil menopang lelaki besar ini", teriak Ino dengan ekspresi muka yang amat kesal.
"Cerewet sekali. Siapa suruh membawanya pulang?", jawab Sasuke dengan nada yang lagi-lagi terdengar sangat santai sambil beranjak pergi ke kamarnya.
"Ih menyebalkan sekali sih! Sakura! Kau juga! Bantu aku kek! Daritadi melamun saja, ada apa sih?", bentak Ino dengan kesalnya kepada Sakura yang daritadi diam saja terpaku oleh ketampanan Sasuke.
"Ah! Ma-maafkan aku… ba-baiklah. Hey kau! Tunggu!", teriak Sakura kepada Sasuke dengan raut muka yang menyeramkan.
Sasuke pun langsung menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya menghadap Sakura.
"Kau! Jangan seenaknya pergi saja begitu dong! Dia kan temanmu(melirikkan matanya ke Naruto), kalau bukan karena dia, kami juga tidak akan kesini! Sebagai lelaki, seharusnya kau membantu wanita! Apalagi wanita seperti kami yang menopang lelaki besar seperti ini! Seperti itukah sikapmu sebagai lelaki? Sungguh tidak jantan!", teriak Sakura dengan ekspresi yang amat serius sekaligus menyeramkan. Sampai-sampai tak sadar kalau dia telah melepaskan topangannya terhadap Naruto.
"Aihhh! Sakura! Santailah sedikit!", seru Ino sambil berupaya untuk menopang kembali Naruto.
"Ah! Ma-maafkan aku! Saking kesalnya aku sampai lupa diri.. Gommen!", teriak Sakura panik sambil berusaha menopang kembali Naruto. Namun usahanya sia-sia, Naruto yang sangat besar membuat mereka tidak lagi kuat menopangnya. Tapi untungnya, tak lama setelah itu, Naruto langsung sadar kembali.
"Haa.. a-aku dimana?", seru Naruto masih setegah melantur.
"Hah! ini rumahmu! Baguslah, kau sudah sadar ya bodoh?", jawab Ino dengan nada yang masih kesal.
"Bo-bodoh! Apa kau bilang! Kau tuh yang bodoh! Baka!", lanjut Naruto sambil menunjukkan jari nya ke Ino sambil berteriak.
"Hey! Kau tuh yang bodoh! Bisa-bisanya mabuk di saat kerja! Menyusahkan kami saja!"
"He? Mabuk? Aku mabuk?", tanya Naruto dengan polosnya.
"Heeee? Dasar benar-benar bodoh! Jangan bilang kau salah minum? Hah! sangat lucu", teriak Ino sambil tertawa aneh.
"Oh.. benar! Aku salah minum ya.. eh! Atau ada yang sengaja memberikan bubuk mabuk ke minumanku!", lanjut Naruto mulai ngawur.
"Cih! Inilah manusia terbodoh yang pernah kutemui! Jelas-jelas tadi kau minum alkohol. Lagipula mana ada bubuk mabuk? Haha!", seru Ino sambil tertawa meledek Naruto yang terlihat seperti orang bodoh.
"Apa kau bilang? Kau lah yang bodoh! Baka! Grr!", geram Naruto.
"Ahhh! Sudah hentikaaaannn!", teriak Sakura dengan suara yang amat kencang sampai-sampai menggema(?) sambil meninju tembok disebelahnya.
*glek* astaga… kekuatanya…, ucap Naruto dalam hati.
"…", Sasuke pun dibuatnya tak dapat berkata apa-apa.
"Sa-sakura… kurasa.. kau terlalu berlebihan…?", seru Ino dengan nada yang sedikit lebih halus(?)
"Ih! Kalian lah yang berlebihan! Memperdebatkan hal yang tak penting! Ino! Sekarang sudah hampir jam 10 tau! Ayo pulang!", tegas Sakura sambil berlalu pergi keluar.
"Ah! I-iya!", jawab Ino sambil membuntuti Sakura dari belakang.
Sakura dan Ino pun langsung berlalu pergi meninggalkan rumah Naruto dan Sasuke tanpa pamit terlebih dahulu. Sedangkan di rumah naruto…
"Naruto…"
"Ha…?", jawab Naruto yang masih menatap tembok yang hancur akibat pukulan maut Sakura.
"Jadi… dia yang meyeramkan itu…?", lanjut Sasuke dengan ekspresi tidak percaya.
"Hm! Ya dia… itulah orangnya Sasuke…", jawab Naruto dengan nada yang datar.
"Hmph… sulit dipercaya…", lanjut Sasuke sambil sedikit terseyum kecil.
"Kenapa tersenyum? Apa yang lucu?", tanya Naruto bingung.
"Ya… unik. Yasudah aku duluan", jawab Sasuke sambil beranjak pergi ke kamarnya.
"He..hey! Bagaimana dengan temboknya?"
"Biarkan saja. Kita bereskan besok"
"Ya sudah deh", lanjut Naruto sambil berlalu pergi ke kamarnya.
Keesokan harinya, di kediaman Yamanaka.
"Pagi Ino!", seru Sakura kepada Ino yang masih tergeletak di kasurnya.
"hm…pa…gi…", jawab Ino yang masih mengantuk.
"Ayo bangun! Hari ini kan ada pertandingan basket! Jangan bermalas-malasan seperti itu dong!"
"Apa? Sekarang?", teriak Ino kaget.
"Ya sekarang… maka itu cepatlah bersiap-siap"
"Okeee!", seru Ino dengan semangatnya.
Lapangan Konoha, 08.30 pagi.
"Haiiii! Ohayouuu!", seru Ino girang kepada teman-teman se-timnya yang akan bertanding hari ini.
"Pagi Ino! Tumben telat, biasanya kan kau yang datang paling pagi", sapa Tenten.
"Yah kalian tidak bilang kalau waktunya dipercepat sehari…!"
"Oh maaf Ino… Ka-kami juga baru diberitahu pelatih Shizune kalau waktunya dipercepat…", jawab Hinata dengan wajah polos tak berdosa(?)
"Oh begitu. Yasudah tak apa kok Hina. Jangan membuatku sedih dong karena melihat tampang bersalahmu itu", seru Ino sambil mencubit pipi Hinata.
"Ih dasar Ino. Kalau begitu, apa kalian sudah latihan? Lawan kali ini cukup kuat lho", tanya Tenten kepada Ino dan Sakura.
"Tenang saja! Tanpa latihan juga kita pasti menang! Kan ada Sakura", lanjut Ino sambil merangkul Sakura yang lagi-lagi sedang melamun.
"Sakura kenapa?", tanya Tenten kepada Ino.
"Entahlah.. Sakura?"
"Ah! Iya? Ada apa?", jawab Sakura yang baru tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kamu melamun?"
"Oh tidak. Aku hanya kangen lapangan ini. Ah! Yasudah ayo kita pemanasan dulu!", seru Sakura mengalihkan perhatian teman-temannya sambil hendak berlalu meninggalkan teman-temannya untuk pemanasan.
"Sakura…"
"Hm? Ada apa?", balas Sakura.
"Kalau ada apa-apa jangan dipendam ya. Ceritakanlah kepada kita. Mungkin kita bisa bantu", seru Ino sedikit khawatir terhadap temannya ini yang lama-lama semakin sering melamun.
"Ah.. iya Ino. Terima kasih", jawabnya sambil tesenyum.
Pemanasan pun dilakukan selama 30 menit sambil menunggu lawan mainnya yang belum datang. Sampai akhirnya waktu 30 menit itu berlalu dan para lawan pemain datang, mereka segera menghentikan pemanasannya dan segera bersiap untuk bertanding.
"Baiklah teman-teman. Sekarang saatnya untuk mempertaruhkan nama baik sekolah kita! Kerahkan seluruh kemampuan kalian!", seru Tenten kepada teman-temannya sebagai ketua tim basket Ginha.
Tim Ginha : "Yosh!"
"Lawan kita yang sekarang sepertinya cukup kuat ya", lanjut Sakura.
"Kau tau darimana Sakura?"
"Belum lama ini aku mengamati skill-skill lawan yang akan bertanding dengan kita. Salah satunya ya Tim dari desa Suna ini. Mereka kuat-kuat", seru Sakura sambil melirik anggota tim desa Suna yang sedang bersiap untuk tanding.
"Memang mereka kuat", sahut Temari yang tiba-tiba ikutan nimbrung.
"Lho! Temari! Kau datang darimana?", tanya Ino dengan kagetnya mengetahui kalau Temari muncul disebelahnya secara tiba-tiba.
"Hihi. Aku daritadi disini kok. Kalian nya saja yang tidak sadar", jawab Temari sambil tertawa kecil.
"Kebetulan! Temari! Kau mantan desa Suna kan?"
"Sampai sekarang juga masih. Memangnya kenapa? Jangan bilang kau mau mengorek informasi tentang lawan mainmu itu ya?", tanya Temari sembari berbisik.
"Hm… sebenarnya aku hanya ingin mengetahui sedikit saja informasi tentang cara bermain mereka. Kalau kau perbolehkan…", jawab Sakura sedikit tak enak hati.
"Cara bagus. Boleh kan Temari? Kami kan sekarang teman…", sahut Ino membujuk Temari.
"Gommen. Walaupun kalian memang temanku. Tetapi kurasa itu bukanlah hal yang baik. Itu sama saja berbuat curang kan…", jawab Temari seakan menolak.
"Heee? Kan kami hanya ingin mengetahui sedikit saja informasi tentang mereka… Kumohon… boleh ya?", paksa Ino dengan muka sok innocent nya.
"IIE!", bentak Temari sambil melengoskan wajahnya.
"Sudahlah Ino, kalau terus-terusan seperti ini hanya akan membuang-buang waktu saja. Lebih baik, ayo kita persiapkan diri. Pertandingan dimulai 5 menit lagi tuh", lanjut Sakura sambil berlalu pergi.
Lalu Sakura dan Ino pun segera pergi menuju lapangan. Disana banyak sekali yang ikut menyaksikan pertandingan basket mereka. Dan terlihat banyak sekali orang tua pemain yang ikut menonton, salah satunya keluarga Yamanaka. Namun, Sakura terlihat amat sedih karena ketidakhadiran kedua orangtua nya. Itulah yang membuatnya selalu melamun belakangan ini, dia merindukan kedua orangtuanya.
-TO BE CONTINUED-
Apakah pertandingan basket kali ini akan dimenangkan oleh SMA Ginha, atau sebaliknya? Dan apa maksud dari Sasuke yang selalu terlihat sedang mengamati Sakura? Ingin tau lebih lanjut? Hubungi…eh! maksud saya terus ikuti kelanjutannya di chapter selanjutnya. Jaa~ *maaf apabila ada kesalahan kata dan alur yang sedikit aneh._. See you in the next chapter! Ditunggu review nya ya^^
