Moshi-moshi minna-san! I'm back!
Gommen kalau update nya lama-A- soalnya sekarang saya sudah mulai sekolah lagi._.v Ok! Kita langsung saja ke ceritanya ya! Hope you like it^^
Sumarry : Sakura, Ino dan teman-teman asramanya sedang menghabiskan liburannya diluar asrama. Mereka sudah sangat lama tak keluar asrama. Dan fanfic ini pun dibuat untuk menceritakan liburan mereka yang mengubah kehidupan mereka dan memberikan pengalaman yang amat berharga bagi mereka.
Rating : T
Genre : Friendship/Romance
No Warning :p
Disclaimer : Always Masashi Kishimoto.
"Holiday Make It Happen"
.
.
.
Sakura pun segera berlari cepat ke lantai bawah dengan perasaan yang sangat penasaran. Dan ternyata, kedua orangtua Sakura lah yang datang. Mereka berniat menjemput Sakura pulang. Saking kaget dan tidak percaya nya, Sakura pun langsung menangis di pelukan ibunya yang sangat ia rindukan, juga ayahnya.
Sakura : "Kenapa tidak bilang-bilang dulu biar aku bisa bersiap-siap?," tanya Sakura sambil mengusap airmatanya karena sangat senang.
Ibu Sakura : "Maaf Sakura, karena jadwal pesawat yang tidak tentu, ibu dan ayah jadi tidak dapat memastikan kapan akan tiba dan memberitahumu," jawab Ibu Sakura sambil mengusap kepala anak tunggal nya itu.
Ayah Sakura : "Benar Sakura, maaf ya," lanjut Ayahnya.
Sakura : "Iya tak apa!," seru Sakura sambil tersenyum dan memeluk kedua orangtuanya itu.
Akhirnya, malam itu juga Sakura segera membereskan perlengkapannya dan pamit kepada keluarga Yamanaka. Dan dengan segera pergi ke rumah yang amat ia rindukan selama ini bersama kedua orangtuanya.
Dan kemudian saat dirumah, ayahnya menceritakan segala kegiatannya di luar desa, Sakura pun mendengarkannya dengan amat senang layaknya anak kecil yang sedang dibacakan dongeng oleh ayahnya. Sedangkan ibunya menyiapkan makanan dan susu hangat untuk mereka berdua, sungguh terlihat seperti keluarga harmonis. Dan setelah lama berbincang-bincang, ibu dan ayah Sakura pun berniat untuk memberitahukan Sakura satu hal yang amat penting. Salah satu alasan dari kepulangan mereka.
Ibu Sakura : "Sakura… ibu dan ayah ingin memberitahumu satu hal yang amat penting demi kehidupan kita mendatang. Kau tidak keberatan kan kalau ini menyangkut erat tentangmu?," ucap Ibu Sakura dengan wajah sedikit 'tidak enak'.
Sakura : "Hm? Tentu saja. Sakura akan mendengarkan," jawab Sakura dengan polosnya sambil tersenyum manis.
Ayah Sakura : "Tapi Sakura janji tidak marah ya?," lanjut ayahnya khawatir.
Sakura : "Iya! Apapun yang ibu dan ayah tentukan pasti akan Sakura setujui! Sebagai hadiah kedatangan ayah dan ibu!," seru Sakura dengan ekspresi senang yang jauh dari perkiraan orangtuanya.
Ibu Sakura : "Baiklah. Sakura… kamu akan dijodohkan dengan anak dari keluarga Uchiha yang memiliki perusahaan Uchihacorp," lanjut Ibu Sakura dengan ekspresi wajah yang terlihat amat tegas.
Ayah Sakura : "Iya, berhubung perusahaan kita belakangan ini agak menurun, kami mau menjalin hubungan dengan Uchiha Corp yang amat kaya untuk bekerjasama membangun Haruno Corp kembali kalau bisa jauh lebih berkembang. Kau tidak keberatan kan Sakura?," tanya ayahnya.
Sakura : "... kalian serius? …," tanya Sakura dengan wajah tak percaya.
Ibu Sakura : "Iya Sakura, berhubung anak mereka seumuran denganmu dan terlihat pintar juga tampan, ayah dan ibu ingin menjodohkannya denganmu," lanjut ibunya dengan ekspresi tenang.
Sakura : "Ta….tapi kan Sakura…," belum selesai Sakura berbicara, ayahnya sudah memotong pembicaraannya.
Ayah Sakura : "Sakura masih kecil? Siapa bilang kami akan menikahkanmu langsung? Kami hanya ingin menjodohkan kalian, sebagai pacar terlebih dulu," lanjut ayahnya.
Sakura : "…," Sakura pun saking kagetnya tidak lagi dapat berkata-kata.
Ibu Sakura : "Kamu tidak keberatan kan Sakura? Tadi kan kamu sudah bilang akan menyutujuinya," tanya ibunya sedikit khawatir.
Bagaimana ini? Masa iya aku setuju mau dijodohkan? Uchiha? Kenal juga tidak! Aku harus menolak. Tapi… aku tidak mau melihat ayah dan ibu terlihat sedih dan kecewa… tapi aku juga tidak mau! Tapi… tadi aku secara tidak pasti sudah menyetujui dan ini demi orangtuaku juga… baiklah tak apa, mungkin ini hanya sekedar berpacaran dan tak lebih dari itu… Baiklah…, pikir Sakura dalam hati.
Ibu Sakura : "Jadi bagaimana Sakura?," tanya ibunya terlihat cemas.
Sakura : "Baiklah tak apa! Demi ayah dan ibu aku akan berbuat apapun!," lanjut Sakura terpaksa menyetujuinya.
Ayah Sakura : "Kamu serius Sakura?," tanya nya dengan kaget sampai terharu.
Sakura : "Ya! Sakura serius ayah," jawab Sakura tersenyum palsu.
Ayah Sakura : "Terima kasih Sakura! Ayo sini kemari," lanjut ayahnya senang sampai memeluk erat anak tunggalnya tersebut.
Mereka bertiga pun berpelukan erat. Kedua orangtua Sakura terlihat amat senang ketika tau anaknya menyetujui hal tersebut karena berniat untuk membantu mereka. Dan tak lama setelah itu, ibu Sakura berniat memperlihatkan foto dari lelaki yang akan dijodohkan ke anak nya itu. Sakura pun mau tak mau harus melihatnya walau sedikit takut kalau-kalau lelaki itu bukan tipenya. Dan sebelum diperlihatkan fotonya, ibunya akan memberitahu terlebih dahulu nama anak itu.
Sakura : "Jadi… siapa namanya bu?," tanya Sakura penasaran.
Ibu : "Dia tampan lho Sakura, namanya Uchiha Sasuke," jawab Ibunya.
Sakura : "Uchiha… Sasuke? Sepertinya pernah dengar…," lanjut Sakura yang ternyata sudah lupa dengan teman si penjaga karcis beberapa hari lalu yang ia taksir.
Ibu Sakura : "Iya. Ini ibu perlihatkan fotonya"
Sakura : "Ya, mana bu?"
Ibu Sakura : "Nah ini dia! Tampan kan Sakura? Katanya dia juga pintar sekali lho! Seperti lelaki idamannn," seru ibunya mulai berlebihan.
Sakura : "I….I….INI?," seru Sakura keget sekaget kagetnya.
Ayah Sakura : "Ada apa Sakura? Kau sudah mengenalnya?," tanya ayahnya menjadi penasaran.
Sakura : "Ah! Ti-tidak yah… mi-mirip temanku… tapi ternyata bukan… hehe. Um.. aku ke kamar duluan ya, Sakura capek. Sampai besok," lanjut Sakura sambil segera berlari ke kamarnya.
Sakura pun teramat kaget setelah melihat wajah lelaki yang tak lama ini pernah ia temui dan bahkan ia taksir! Dan tanpa berpikir panjang, Sakura pun langsung bergegas mengambil handphone nya dan menelepon teman baiknya, Ino.
Sakura : "Ino! Ada suatu hal yang ingin kuberitahu kepadamu!," teriak Sakura kepada temannya melalui handphone.
Ino : "Hah? bicaranya pelan sedikit dong! Sakit ini telingaku"
Sakura : "Ah maaf! Saking kagetnya… AKU DALAM KEADAAN GAWATTT," teriak Sakura kembali dengan teriakan yang jauh lebih kencang dari sebelumnya.
Ino : "Geez! Ada apa sih? Sudah cepat katakan saja!," bentak Ino dengan sedikit kesal.
Sakura : "A-aku… Akan dijodohkan!"
Ino : "Apa? Hanya itu? kukira apa", lanjut Ino dengan reaksi yang diluar dugaan… (tidak kaget)
Sakura : "Hanya? Ini masalah besarrr"
Ino : "Aku tau itu sulit untukmu, tapi jalankan sajalah… aku pun juga pernah dijodohkan dengan lelaki tak kukenal sepertimu"
Sakura : "Masalahnya aku kenal dia, Ino!"
Ino : "Heh? Si Lee? Geez Sakura jangaaaann!," seru Ino salah paham.
Sakura : "Bukan! Lelaki penjaga karcis ituuu!," bantah Sakura.
Ino : "APA? Yang mabuk itu? Oh my god! Noo! Sakura! Kau harus segera menolakkk!," teriak Ino semakin salah paham.
Sakura : "Bukan! Yang satu lagi yang tampan!"
Ino : "Yang tampan? Maksudmu yang seram itu?"
Sakura : "Eh? Ah! I-iya seram…," lanjut Sakura tak sengaja keceplosan mengakui kalau dia suka dengan Sasuke.
Ino : "Fufufu… Jadi… kau suka dengannya? Bagus dong! Seharusnya kau senang Sakuraaa~," lanjut Ino sambil menggoda-goda Sakura.
Sakura : "Ah bukan! A-ano….," jawab Sakura terbata-bata dengan wajah merah padam.
Ino : "Dasar! Kenapa kau malah terlihat gawat begitu sih? Bukannya senang! Ini kesempatanmu! Ayo, Ganbatte," seru Ino menyamangati sahabatnya, Sakura.
Sakura : "Um… Arigatou Ino… Yasudah kalau begitu sudah dulu ya! Oyasumi"
Ino : "Hm! Oyasumi"
Hati Sakura pun kini sedikit lega karena sudah memberitahukannya kepada sahabatnya Ino dan Ino pun mendukungnya. Dia malah menjadi semakin tak sabar untuk dapat bertemu Sasuke sebagai pasangannya dan menjadi sering mengkhayal kan kisah perjodohan romantik nya dengan Sasuke. Namun ketika hari itu tiba, hari dimana keluarga Haruno akan berkumpul dengan keluarga Uchiha, Sakura malah menjadi amat tegang sampai tidak mau ikut makan malam bersama.
Ibu Sakura : "Sakura! Ini pertemuan penting! Kamu kan sudah setuju. Ayolah Sakura," paksa Ibu Sakura kepada anak nya yang mengunci diri sendiri di dalam kamarnya.
Sakura : "Tapi Sakura takut bu…," jawab Sakura dari dalam kamarnya.
Ibu Sakura : "Tak apa Sakura, kamu pasti bisa. Ayo"
Sakura : "Tidak. Diundur saja bu…"
Ibu Sakura : "….."
5 menit kemudian…
Sakura : "Ibu?", lanjut Sakura kebingungan karena ibunya yang tidak lagi memaksanya untuk keluar selama 5 menit.
.
.
.
Ibu Sakura : "SAKURA ADA TELEPON DARI INO!", teriak Ibunya dari lantai bawah.
Sakura : "Ino? AH BAIK BU TUNGGU!", jawab Sakura sambil berlari secepat kilat ke lantai bawah.
Sakura : "Ino? Ada apa?"
Ino : "Sakura! Kamu tak mau menemuinya? Inikan kesempatanmu!," bentak Ino dari telepon.
Sakura : "Kau tau dari si- (melirikkan mata kearah ibunya) Hm… iya, aku takut Ino!," balas Sakura.
Ino : "Takut? Sejak kapan kau takut seseorang kecuali orangtuamu dan Tuhan? Kamu Sakura bukan sih? Temanku si ketua Osis hebat itu bukan…? Kalau chicken begini sih kurasa bukan…," lanjut Ino menyadarkan Sakura.
Sakura : "Hm… Ino…"
Ino : "Iya?", jawab Ino bingung.
Sakura : "Ino… TERIMA KASIH! Benar! Aku kan Sakura Haruno si pemberani! Mana mungkin aku takut dengan hal sesepele ini! Oke aku pergi! Bye," teriak Sakura kembali bersemangat dan segera mematikan handphone nya.
Sakura pun kembali pede dan semangat untuk menemui keluarga Uchiha, Namun…. Beberapa saat setelah melihat wajah keluarga Uchiha terpampang jelas dimatanya saat itu, secara reflek dia muntah di restoran mewah milik Uchiha dan seketika itu juga, pandangan semua orang disana menoleh kepadanya.
10 menit kemudian…
Sakura : "U..um… ha..hai…," seru Sakura gugup saat kembali dari toilet untuk membersihkan bekas muntahannya.
Ibu Sasuke : "Ah.. haiii," balas Mikoto, ibu Sasuke yang ramah yang sepertinya sudah melupakan kejadian memalukan Sakura tadi. "Ayo duduk"
Sakura : "Ah.. i..iya," jawab Sakura semakin gugup ketika tau tempat duduknya bersebelahan persis dengan Sasuke Uchiha.
Itachi : "Jadi… Kamu Sakura?," tanya Itachi, kakak Sasuke dengan wajah seriusnya ketika mengamati Sakura dan membuat Sakura semakin gugup.
Sakura : "I…iya"
Itachi : "Hm! Manis! Hehe, beruntung kau Sasuke!," seru Itachi sambil memukul-mukul punggung adiknya itu.
Sasuke : "Apa sih…," jawab Sasuke malu sambil menundukkan kepalanya.
Ayah Sakura : "Ahaha, Sakura memang manis, dari dia kecil dia sudah sering dipuji anak yang manis. Dia juga pintar dan sangat bersemangat. Hehe," lanjut ayah Sakura membangga-bangga kan anak nya.
Ih, ayah bikin malu saja… seperti Ingin mencari perhatian sekali, Ucap Sakura dalam hati merasa malu terhadap tindakan ayahnya itu.
Itachi : "Haha iyaya. Sasuke juga… banyak sekali yang bilang dia tampan dan keren juga pintar, jadi minder… haha"
Ayah Sasuke : "Itachi… sudah. Kita lanjut saja ke inti pembicaraan nya. Sakura? Kamu serius menyetujui perjodohan ini?," lanjut ayah Sasuke dengan mimik muka yang amat serius.
Sakura : "Ah.. I-iya…," jawab Sakura terbata-bata.
Ayah Sasuke : "Baik. Bagaimana denganmu Sasuke?"
Sasuke : "Terserah," jawab Sasuke dingin.
Itachi : "Dia setuju kok yah, kemarin saja dia bilang kepadaku kalau dia setuju….," ucap Itachi menggoda adiknya sambil merangkulnya.
Sasuke : "Apa sih kak….," lanjut Sasuke sambil berusaha melepaskan rangkulan kakak nya yang suka menggoda itu.
Ayah Sasuke : "Itachi sudahlah. Kalau begitu mulai saat ini kau Sakura akan dijodohkan dengan Sasuke demi kerjasama perusahaan Uchiha&Haruno"
Pertemuan pun berjalan baik. Pada akhirnya Sasuke dan Sakura 'sah' dijodohkan. Hati Sakura sangat berdebar-debar, karena inilah kali pertamanya dijodohkan dan bahkan berpacaran. Namun Sasuke biasa saja, dia terlihat seperti tidak menganggap perjodohan ini sama sekali. Tapi siapa sangka, dibalik sifat 'cool' nya itu, dia sepertinya juga telah menyimpan sedikit rasa kepada Sakura.
Nee~ Jadi, itulah chapter 5 nya^^ semoga kalian suka&mohon bantuannya (: sebelumnya, terima kasih buat yg udah review&comment ya! Arigatou and see you in the next chapter~
