Pairing yang paling aku suka di Hey! Say! JUMP—OkaJima! Ayeeeeeeyy...
Mendingan Readers-san langsung baca aja deh!
ENJOY!
.
.
Gombal! (OkaJima version)
A Hey! Say! JUMP fanfic—Selepas latihan, Nakajima Yuto bertanya tentang alasan apa yang membuat gombalan begitu booming akhir-akhir ini. Apa yang akan ia lakukan?
All Hey! Say! JUMP's members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho
Gombal! (OkaJima version) belongs to Mochiraito
WARNING! Contains: OkaJima, Sho-ai NOT yaoi, OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL plot, EPIC FAIL gombalan.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
ENJOY!
.
.
Hari itu adalah siang yang cukup panas. Suhu memang cuma beberapa derajat di atas rata-rata, tapi rasanya temperatur di ibu kota Jepang itu sudah mampu memanggang penduduknya. Hal inilah yang membuat enam dari sepuluh personil Hey! Say! JUMP yang sedang kelelahan terlihat sedang mengipas-ngipaskan sesuatu—entah itu buku, majalah, sampai tangan mereka sendiri—untuk mendapatkan sedikit kesegaran. Hampir keenamnya menenggak sebotol minuman dingin; teh, jus, maupun air mineral.
"Kita sudah beres latihan, kan?" tanya Yuya pada kelima temannya yang sedang sama-sama duduk di lantai ruang latihan mereka
Hikaru menangguk menjawab pertanyaan Yuya, "Kau mau kemana, Yuuyan?"
Sang pemilik nama menenggak habis tetes-tetes terakhir oolong tea yang sudah sedari tadi berada di tangannya. Pemuda berambut cokelat itu bangkit dari posisinya, "Aku mau ke minimarket, ada yang mau titip sesuatu?"
"Aku titip yang manis-manis!" seru Daiki dengan penuh semangat
"Apa?" tanya Yuya sambil merogoh sakunya untuk mengambil keitai bercasing silvernya
"Hmm... cokelat deh," jawab Daiki
"Aku mau titip permen karet mint," kata Kouta yang sudah telentang di atas lantai yang dingin
"Titip roti strawberry." kata Ryosuke
"Yuto, Hikaru, kalian tidak ingin titip apa-apa?" tanya Yuya
"Tidak usah. Aku tadi sudah beli roti," jawab Yuto, menunjukkan sebungkus roti melon yang masih terbungkus rapat.
"Aku juga tidak usah," tambah Hikaru.
"Hmm... Jadi cokelat untuk Dai-chan, permen karet mint untuk Yabu-kun, dan roti strawberry untuk Yama-chan," Yuya membaca daftar pesanan teman-temannya sebelum mengenakan jaket dan kaca mata hitam, lalu pergi meninggalkan ruangan latihan.
Rekaman lagu Over terdengar jelas di telinga mereka berlima, namun mereka mengacuhkannya. Mereka sudah lelah berlatih sejak pukul sembilan tadi—dan sekarang sudah pukul setengah dua siang. Hikaru sedang sibuk dengan keitainya sedangkan Kouta sudah berbaring diam sambil menutupi kedua matanya dengan lengannya, tampaknya tertidur. Salah satu kursi yang disimpan di pinggir ruangan tampak terisi oleh tubuh Daiki yang sedang menyandarkan tubuhnya dengan selembar handuk tipis berwarna hijau tosca menutupi wajahnya, tampaknya ia juga tertidur. Di sebelah kursi Daiki, Ryosuke terlihat sedang menyandarkan kepalanya di salah satu kaki kursi. Tepat di hadapan Ryosuke, Yuto sedang membuka bungkusan roti melonnya dalam diam. Pemuda bertubuh tinggi itu menggigit rotinya dengan gigitan besar. Sambil mengunyah, ia memerhatikan keempat temannya yang lain; Kei sedang sibuk dengan tugas kuliahnya—seperti biasa; Yuuri masih berlatih bersama Ryutaro, sedangkan Keito lebih memilih duduk di kursi dengan gitar di pangkuan—pemuda itu sedang tidak memainkannya, ia sedang menonton Yuuri dan Ryutaro latihan.
Yuto mengunyah roti melon yang masih ada di rongga mulutnya kemudian menelannya, lalu menggigit kembali. Ia terus menatap Yuuri dan Ryutaro yang masih berlatih sambil sesekali menggoyangkan kepalanya mengikuti irama single ketujuh mereka. Yuto mengalihkan pandangannya ketika akhirnya Yuuri dan Ryutaro memutuskan untuk menyudahi latihan mereka. Ryutaro langsung menjatuhkan dirinya tepat di samping Yuto, "Minta dong!" katanya. Yuto, yang masih mengunyah, hanya menyodorkan roti yang sudah setengah termakan pada Ryutaro
"Arigatou!" Ryutaro menyobek sedikit roti itu dan segera memasukkannya ke mulutnya. Yuto tidak menyahuti, ia masih sibuk mengunyah roti melonnya.
Siapa pun tahu Yuto bukanlah tipe orang yang bisa berlama-lama diam tanpa suara di waktu-waktu senggang. Ryutaro menatap Yuto yang masih serius mengunyah. Kerutan tampak di dahinya dan di antara kedua alisnya. Yuto masih saja tak mengeluarkan satu kata pun.
"Yuto, doushita?" tanya Ryutaro
"Eh? Ah, daijoubu dayo..." jawab Yuto, "Hanya sedang berpikir saja, kenapa akhir-akhir gombalan sepertinya sedang booming ya?"
"He? Mana kutahu..." Ryutaro mengangkat kedua bahunya, "Iya juga sih... kalau dipikir-pikir memang akhir-akhir ini gombalan memang jadi trend baru. Di iklan ada, di acara tv ada, bahkan sampai jadi lelucon," pemuda itu bersungut-sungut
"Ngomong-ngomong, aku punya gombalan loh!" kata Yuto, menampakkan senyum lebarnya.
Ryutaro langsung menunjukkan telapak tangannya tepat di hadapan wajah Yuto, membuat gerakan isyarat 'stop', "Jangan sekali pun mencoba gombalan seperti itu padaku!"
"Ih, kecil-kecil galak..." gumam Yuto sambil sedikit memanyunkan bibirnya
"Nani?" Ryutaro mengangkat kepalan tinjunya
"Iie!" pemuda bermarga Nakajima itu menggelengkan kepalanya
"Kalau mau coba saja pada Keito," usul Ryutaro asal sambil sedikit terkekeh
"Ide bagus!" Yuto menjentikkan jarinya dan beranjak menuju Keito yang kini sedang memetik senar-senar gitarnya dengan asal.
"Keitooo~" panggil Yuto, "Keito-kuuun~~"
Keito menoleh, "Nani? Kau membuatku merinding tahu!" Yuto langsung duduk di samping Keito, masih dengan senyum lebar di bibirnya.
"Doushita?" tanya Keito—dengan wajah yang irit ekspresi, seperti biasa. Sedangkan Ryutaro, hanya menatap kedua orang itu dari kejauhan sambil menahan tawa.
"Keito, Keito, Keito, papa kamu tukang sate ya?" tanya Yuto, berniat menggombal tentu saja
Keito langsung menoleh ke arah pemuda bermarga Nakajima itu, "Enak aja! Papa gue personil band! Enak aja main ngatain papa orang! Yang ada papa kamu tuh tukang sate!" seru Keito marah sebelum pergi meninggalkan Yuto.
"Hoi, Keito!" panggil Yuto, tapi sang pemilik nama sudah keburu keluar dari ruangan.
"Huahahahahahahahahaha!" ledakan tawa Ryutaro langsung memancing kekesalan Yuto. Tentu saja ia kesal, gombalannya pada Keito gagal total, malah mendapat semburan amarah. Dan Ryutaro lah yang mengusulkan padanya untuk menggombali Keito.
"Jangan tertawa kau, Ryuu! Awas yaaa!" Yuto langsung berlari ke arah Ryutaro dan menggelitikinya. Kemudian perang gelitikan yang diikuti perang cubitan berlangsung antara Nakajima Yuto dan Morimoto Ryutaro.
.
Malamnya selepas makan malam, Yuto mendapati Keito sedang duduk menonton televisi sendirian. Entah kenapa Yuto tersenyum sendiri saat menatap raut wajah Keito yang serius. Tanpa basa-basi lagi, pemuda jangkung itu pun langsung menghampiri Keito dan duduk di samping pemuda bermarga Okamoto itu.
"Keito," panggil Yuto
"Hm?" sahut Keito, terdengar sedikit ogah-ogahan
"Kau masih marah ya? Tadi maksudku itu mau menggombal. Aku tahu kok papamu personil band." jelas Yuto, "Jadi, jangan marah, ya?"
Keito menoleh ke arah Yuto, lalu mengangguk, "Gomen. Tadi juga reaksiku berlebihan."
"Jadi aku dimaafkan, kan?" Keito mengangguk sekali lagi, "Yatta~!" Yuto mengepalkan tinjunya ke udara sedangkan Keito hanya tersenyum tipis melihat reaksi kekanakan dari pemuda yang duduk di sampingnya.
"Memangnya gombalanmu itu seperti apa?" tanya Keito, penasaran
"Kalau begitu jawabnya yang benar ya!" kata Yuto. Keito mengangguk
"Keito, Keito, Keito, papamu tukang sate ya?"
"Iya, memang kenapa?" Keito merespon masih dengan wajah yang irit ekspresi
"Soalnya kau sudah membakar hatiku," kata Yuto sambil nyengir
"Itu tidak mungkin, kan? Kalau aku sudah membakar hatimu, kau pasti tidak akan bisa hidup. Tidak seorang manusia pun dapat hidup dengan organ tubuh yang terbakar. Lagi pula dengan apa aku membakar hatimu? Dengan arang seperti tukang sate? Yuto, lain kali kalau mau memberi gombalan, cobalah yang lebih realistis." Yuto tercengang mendengar respon Keito. Jeda sejenak. "Yuto?"
"Eh? Eh, nani?" Yuto mengerjap-ngerjapkan kedua matanya
"Daijoubu ka?" tanya Keito
"Kau bilang akan menjawab dengan benar..." Yuto memajukan bibir tipisnya, pertanda ia kesal
"Ah, gomen... Sepertinya lagi-lagi reaksiku berlebihan... Kalau begitu bagaimana kalau diulangi lagi?" tanya Keito—masih dengan ekspresi yang irit.
Yuto mengerutkan kedua alisnya, "Enak saja! Aku keburu malas!"
Hening untuk beberapa detik.
"He? Sekarang malah kamu yang marah..." kata Keito
"Terserah aku dong!" cibir Yuto
Lagi-lagi jeda sesaat.
"Hmm kalau begitu bagaimana kalau aku saja yang memberimu gombalan?" tanya Keito, kali ini dengan senyum tipis di bibirnya
"He? Nani?" Yuto hanya melirik ke arah pemuda yang duduk di sampingnya itu
"Sekarang berbaliklah," pinta Keito. Yuto menatapnya dengan tatapan penuh tanya. "Pokoknya berbaliklah," Yuto hanya mengangkat bahunya sebelumnya menunjukkan punggungnya yang berlapis t-shirt berwarna hitam.
"Katanya malaikat itu pasti punya sayap, kok kamu tidak punya sayap sih?" tanya Keito. Yuto terdiam di posisinya. Ia tidak tahu harus merespon dengan reaksi seperti apa. Dan ia bisa merasakan wajahnya memanas mendengar gombalan pemuda yang lebih tua beberapa bulan darinya itu.
"Yuto, daijoubu ka?"
"Eeh, d-daijoubu desu..." jawab Yuto, masih dengan wajah yang merah padam, "A-aku mau ke kamar dulu," kata Yuto sebelum terburu-buru meninggalkan ruang tengah rumah itu dan menuju kamarnya.
Keito terkekeh geli melihat reaksi Yuto. Itu hanya gombalan biasa dan wajah Yuto sudah semerah itu. Demi Kami-sama! Wajah Yuto sangat merah tadi—dan entah kenapa terlihat sangat manis! Yah, mungkin lain kali aku harus lebih sering menggombalinya, ya? Pikir Keito
.
.
THE END
Ini masih termasuk short story ga ya? Udah sampai 1000 kata lebih soalnya... Tapi ya sudahlah.. yang pasti akhirnya kesampean bikin OkaJima yang beginian. Hahahahahaha rada ngeri juga sih mikir Keito ngegombalin Yuto kaya gitu...
Fanfic ini terinspirasi dari percakapan yang dibikin salah satu admin di group HSJ yang ada di Facebook. Karena terngiang-ngiang terus di otak, akhirnya jadi bikin fanfic ini deh. Tadinya endingnya tuh mau pas Yuto sama Ryuu cubit-cubitan, tapi kok kayanya ga asik ya? Soalnya gombalannya gagal, jadi aku tambahin aja. Terus kayanya Keito tuh bukan tipe orang yang bisa dengan gampang digombalin, jadi aku bikin dia ngomong panjang lebar—yah dengan kata-kata rasional pastinya. Karena bingung bikin ending, akhirnya aku bikin aja Keitonya ngegombal. Hahahahahaha #curcol ceritanya *gaploked*
Review?
