Oke YamaJima. Sebenarnya bukan favorit aku (aku lebih suka OkaJima). Bikin fanfic ini pun hanya karena ngulang-ngulang nonton episode 2nya Risou no Musuko aja—dan sumpah YUTONYA SUPER KAKKOI! XDDD
ENJOY!
.
.
Dialogue
A Hey! Say! JUMP fanfic—Sebenarnya apa hubungan antara Suzuki Daichi dan Kobayashi Kouji dengan Yamada Ryosuke dan Nakajima Yuto?
All Hey! Say! JUMP's members belongs to Kami-sama, their parents, and Johnny's Jimusho
Dialoguebelongs to Mochiraito
WARNING! Contains: 100%YamaJima, OOCness, ABALness, GAJEness, LOCH(?)ness, EPIC FAIL plot, EPIC FAIL story.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
ENJOY!
.
.
Beberapa orang sibuk berlalu-lalang dalam apartemen kecil tersebut. Apartemen tersebut memang dirancang sedemikian rupa untuk kepentingan syuting sebuah dorama. Dua orang pemuda tampak tengah bercanda, membiarkan seorang wanita merapikan tatanan rambut mereka. Di tangan salah satu dari dua pemuda itu, terdapat sebuah naskah. Mereka berdua masih sibuk bercanda ketika seorang pria meminta mereka untuk segera memulai syuting mereka.
"Action!" seru pria itu, memberi aba-aba bagi para cameraman untuk mulai merekam.
Itu adalah adegan saat mereka makan malam bersama. Yamada Ryosuke, yang berperan sebagai Suzuki Daichi, duduk di sebelah rekan se-grupnya dalam Hey! Say! JUMP, Nakajima Yuto, yang berperan sebagai Kobayashi Kouji. Seorang wanita bernama Suzuki Kyoka, yang berperan sebagai ibu Daichi, Umi, dan Sawamura Ikki yang berperan sebagai tetangga mereka, Kurahashi Minoru, pun terlihat sedang menikmati makan malam bersama.
Mereka melakukan percakapan yang memang sudah tertulis dalam naskah yang sudah mereka pelajari sebelumnya. Kamera pun merekam setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh mereka.
"Marukoba?" Yuto mengangguk. "Kau anak dari pemilik Marukoba?"
"Hai," Yuto menatap Suzuki Kyoka yang berperan sebagai ibu Daichi.
"Artinya dia kaya," celetuk Sawamura Ikki
"Pembunuh!" kedua mata Yuto terbelalak. Semua mata memandang pada wanita paruh baya yang cantik itu.
"Kaa-chan, ayah tidak mati karena dia," Ryosuke merentangkan tangan kirinya di depan dada Yuto, bermaksud memberi gestur melindungi pemuda itu.
"Suzuki-kun, Suzuki-kun..." Yuto menoleh pada Ryosuke dengan ekspresi panik terlukis jelas di wajahnya.
Ryosuke menoleh ke arah Yuto, "Ayahku dipecat dari Marukoba,"
"Begitukah? Ah..." Sawamura menutup mulutnya yang hendak mengatakan sesuatu dengan tangannya yang masih memegang sumpit kayu.
"Aku yakin kau tidak akan mengingatnya. Kau tidak tahu satu orang pun karyawan perusahaanmu sendiri! Terutama seseorang dengan nama yang sangat biasa seperti 'Suzuki'."
Kamera beralih ke arah Ryosuke yang terlihat sedikit kebingungan dan Yuto yang terlihat sangat panik. "Setelah dipecat, untuk membuatku tak merasa khawatir dan melindungi Daichi, dia mengambil banyak sekali arubaito! Sehingga ia kelelahan dan pada suatu malam melewati pembatas..."
"Kaa-chan, itu hanya kecelakaan. Lagipula kita tak perlu menyimpan dendam apapun pada perusahaan yang telah memecatnya." Ryosuke memotong perkataan 'ibunya'.
"Kau melindunginya?" Kyoka berdiri dari kursinya, tubuhnya ia condongkan ke arah Ryosuke.
"Eh?"
"Kau... melindungi musuh orang tuamu?"
"S-suzuki-kun..." Yuto langsung mengguncang tangan Ryosuke lalu menggenggamnya erat-erat—masih dengan ekspresi panik.
"Aku bukan melindungi mereka, tapi Kouji kan hanya anak mereka. Lagi pula perusahaan pasti tidak tahu tentang kehidupan pribadi pegawainya." jelas Ryosuke, masih menggenggam erat tangan Yuto. Kyoka terbelalak menatap tangan Ryosuke dan Yuto yang saling menggenggam. Ia menatap Sawamura dan mengisyaratkan pria itu untuk melihat kedua pemuda di hadapan mereka, yang tentunya langsung membuat Sawamura menampakkan ekspresi terkejut.
"Are?" Ryosuke melayangkan tatapan bingung.
Hening sesaat. Kyoka terlihat seperti baru saja ditampar kuat sehingga membuat tubuhnya yang tadi sempat berdiri langsung duduk dengan ekspresi menyesal.
Sawamura akhirnya memecahkan kesunyian itu, "Anoo... apa kalian..." jeda sebentar, "berpacaran?"
"Pacaran?" ulang Ryosuke.
"Apa kalian pacaran?"
"Eh? Kami hanya teman," Yuto menjawab, sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya.
"Maksud kalian, kalian ini awalnya berteman?"
"Iya, memangnya ada apa?" Ryosuke langsung menjawab.
"Yappari!"
Dan syuting pun terus berlanjut hingga sang sutradara meng-cut adegan tersebut.
.
Tak terasa, matahari yang sepanjang siang bersinar terang di atas langit Tokyo kini telah tenggelam. Syuting dorama Risou no Musuko yang berlangsung sepanjang siang tentunya sudah berakhir. Seluruh anggota Hey! Say! JUMP kini tengah bersantai di kediaman mereka. Ryosuke, yang mendapat giliran mencuci piring, baru saja masuk ke ruang tengah saat Yuto dan Kouta sedang menonton televisi.
"Yo!" sapa Yuto. Ryosuke hanya tersenyum menanggapinya sebelum duduk di samping Yuto. Ketiga pemuda itu menonton televisi yang sedang menayangkan acara komedi.
"Ne, aku mau ke kamar duluan ya," Kouta menepuk bahu Yuto, kemudian melempar senyum pada Ryosuke. Kedua pemuda itu hanya mengangguk.
Beberapa menit berlalu setelah langkah kaki Kouta terdengar semakin menjauh. Tiba-tiba saja Yuto tertawa terbahak-bahak. Ryosuke hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Namun tampaknya tatapan Ryosuke semakin membuat tawanya mengeras.
"Doushita?" tanya Ryosuke akhirnya
"Hahahahahahaha... Nandemonai... Hahahaha..." jawab Yuto diselingi tawanya
"Doushita?" Ryosuke mengulangi pertanyaannya
"Hahahahahaha..." lagi-lagi dijawab dengan tawa. Kesal, Ryosuke mengerutkan keningnya.
Ryosuke meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kepala Yuto, membuat pemuda yang lebih tinggi menatap lawan bicaranya—meski masih diselingi tawa, "Do-u-shi-ta?" pemuda bermarga Yamada itu memberi penekanan pada setiap suku kata. Yuto yang masih tertawa berusaha menghentikan tawanya. Ryosuke melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu tawa pemuda jangkung itu reda.
"Aku hanya mengingat dialog saat syuting tadi." jawab Yuto dengan senyum terkembang di bibir tipisnya
"He?" Ryosuke mengangkat sebelah alisnya, bingung. Tapi ekspresi bingung Ryosuke segera tergantikan dengan ekspresi kaget saat tiba-tiba saja Yuto melingkarkan tangannya di bahu pemuda bermarga Yamada itu, "Tadi, rasanya aku ingin sekali menjawab kalau aku memang pacaran denganmu!" kata Yuto sambil terkekeh
"Yuto... yamete kudasai..." Ryosuke mencoba melepaskan tangan yang bertengger nyaman di pundaknya, "Nanti ada yang lihat!"
"Daijoubu dayo..." Yuto malah semakin mengeratkan rangkulannya dan menarik tubuh Ryosuke semakin mendekat padanya. Pemuda bermarga Nakajima itu menutup kedua matanya lalu menghela nafas. Ryosuke akhirnya membiarkan mereka berada dalam posisi seperti itu.
"Coba kalau tadi aku menjawab kita memang pacaran,"
Ryosuke memotong kata-kata Yuto, "Untungnya kau tidak menjawab seperti itu, Kouji,"
"Ah, kau ini, Suzuki-kun! Kalau begitu nanti akan kukatakan pada Umi-san!" senyuman jahil mengembang lebar di bibir Yuto.
"Jangan!" Ryosuke langsung melepaskan diri dari rangkulan pemuda yang sejak beberapa bulan lalu menjadi kekasihnya dengan wajah panik.
Senyum di bibir tipis Yuto semakin terkembang, "Bercanda kok..." Ryosuke menggumamkan beberapa kata ejekan pada pemuda jangkung itu. "Habisnya wajah panikmu itu lucuu bangeet!"
"Urusai!"
.
.
THE END
Lagi-lagi full of GAJEness desu ne... Aku bingung mau nulis apa lagi, tapi aku suka banget adegan di episode 2 itu. Konyol banget! Apalagi ekspresi paniknya Yuto! Ah pokoknya Yuto tuh super kakkoi banget deh Risou no Musuko!
Sebenernya ini aku bikin pas beres nonton episode 2 Risou no Musuko tapi gomen banget baru bisa dipublish sekarang.
Next chapter is MoriChii!
Review?
