Naruto membanting pintu mobil yang ditumpanginya dengan kasar. Dirinya tidak peduli bila pemilik yang sesungguhnya akan marah mendapati mobil Porsche kesayangannya diperlakukan sekasar itu olehnya. Tentu saja dia tidak mau ambil pusing dengan komentar yang akan dikeluarkan oleh pemuda raven yang kini telah mendudukkan diri di sampingnya. Naruto dapat mendengar desah napas kecewa pemuda itu sebelum pada akhirnya memilih melajukan mobil yang mereka tumpangi.

Naruto mengalihkan pandangannya ke kaca di sebelahnya, menghindari death glare yang dilancarkan oleh Sasuke. Dirinya mencoba untuk mengabaikan keberadaan si Raven yang sepertinya akan membuka pembicaraan.

"Naruto," suara baritone Sasuke terdengar menggema di telinganya.

Pemuda pirang itu tidak menyahut. Benar-benar tidak peduli akan panggilan Sasuke. Ditutupnya sapphire yang ia miliki dalam bisu. Otak miliknya—yang biasanya dibilang pas-pasan oleh Kiba—terasa penat dengan masalah yang entah mengapa terus berputar seperti kaset rusak dalam ingatannya. Jemari tan-nya memijit pelan pangkal hidungnya. Keinginannya saat ini hanyalah mengistirahatkan pikirannya, tanpa diganggu siapa pun.

Walau nampaknya Sasuke mengerti suasana hati Naruto, ia memilih mengacuhkannya. Melihat si Blonde yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab panggilannya itu membuat amarah yang tadinya sempat mereda kini mulai berkoar, "Dobe, kau tidak tuli, kan," ucapan sarkastik pun terlontarkan.

Naruto mendesis pelan sebelum membalas dengan nada rendah, "Tutup mulutmu, Sasuke. Atau aku yang akan merobeknya."

Cukup untuk mengawali perdebatan yang tidak akan berujung.

~(^v^-~)~(-^v^-)~(~-^v^)~

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: OOC! OOC! AU!

An: Berhubung fic ini bukan ber-genre hurt/comfort maupun angst, jadi jangan berharap adanya konflik serius. Heheheu…

~(^v^-~)~(-^v^-)~(~-^v^)~

If you don't like… please, don't read! I've warn you…

~(^v^-~)~(-^v^-)~(~-^v^)~

Uchiha Naruto, meremas rambutnya dengan kasar setelah menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dia sudah cukup frustasi dengan semua kejadian mulai tadi pagi hingga percakapan tidak penting di dalam mobil yang baru saja terjadi. Otaknya sekarang sudah terasa ingin meledak. Dan ia yakin kalau ada pematik api di dekatnya, ia tidak akan segan-segan untuk menyalakannya untuk meledakkan kepala pirangnya—kalau perlu, rumah ini juga.

"Brengsek!" umpatnya pada siapa pun yang mendengar—termasuk semut yang tidak sengaja lewat di kaca jendela. Errr… lebih baik abaikan yang terakhir.

Beginilah kalau pikiran tidak jernih dan tidak mendapat jalan untuk melampiaskan kekesalan. Hati galau, kepala nyeri, mata cenat-cenut—salahkan semut yang tidak terima ia katai brengsek, hingga balas menggigitnya tepat di kelopak mata. Oh, betapa Naruto tahu bahwa gigitan kecil itu membawa dampak yang lumayan menyebalkan. Baiklah, bukan itu topiknya sekarang.

Naruto menyandarkan punggungnya ke beberapa bantal berwarna kuning cerah yang sengaja ia tumpuk di bawah headboard kasurnya. Untuk sesaat ia tidak dapat memikirkan hal lain kecuali empuknya bantal milik Sasuke yang sekaligus kepunyaannya. Err… apa baru saja dirinya memikirkan memiliki bantal yang sama dengan Sasuke—Naruto memilih menjitak kepalanya saat menyadari hal yang baru saja ia pikirkan.

Kembali pada ketenangan—tidak terlalu tenang, sebenarnya—yang ia idam-idamkan sejak tadi pagi. Naruto memilih posisi yang menurutnya nyaman untuk mengistirahatkan tubuhnya, "Heh, istirahat sebentar rasanya bukan hal yang buruk," gumam pemuda itu pelan sebelum matanya tertutup—beberapa saat, sebelum...

Plak!

"Oh, SHIT! What the hell is that!"

Oh, yeah… demi Jashin-sama yang entah ada di mana, pergi ke manakah ketenangan yang baru saja ia capai itu! Sekali lagi, Naruto menyesal telah menutup matanya sejenak dan berpikir bisa istirahat dengan nyenyak. Kini ia mulai menduga kalau-kalau Dewi Fortuna—yang dianggap sebagai Dewi keberuntungan—sedang marah padanya. Kenapa tiba-tiba loncat ke sana? Salahkan penghuni kamar sebelah.

Pemuda blonde itu menggerang kesal. Apakah salah kalau dirinya ingin istirahat sebentar? Kenapa rasanya selalu saja ada gangguan—dari sekitar maupun dari dalam otaknya sendiri. Ingin sekali Naruto meneriakkan kekesalannya pada tembok yang ada di belakangnya. Bukan pada tembok, sebenarnya. Tapi pada seseorang yang sedari tadi tidak tahu sedang melakukan apa di sana—untuk yang satu ini, ia memilih untuk tidak membayangkannya. Karena kalau boleh Naruto jujur, sejak tadi yang ia dengar hanya suara desahan dan derit ranjang. Walau tidak terlalu keras, tapi siapa yang tidak terganggu?

Satu lagi yang membuatnya bernapsu ingin menguliti seseorang. Otaknya—yang Naruto yakin sudah lewat masa kadaluarsanya. Bayangkan, hanya dalam waktu dua menit ia memejamkan mata, sudah ada banyak wajah kakak brengseknya yang melayang-layang di dalam sana. Mulai dari wajahnya yang unyu-unyu, sampai yang paling baru alias menyebalkan setengah hidup.

Sungguh, ia berjanji. Kalau ada kapak, palu atau apa pun itu, ia tidak akan ragu untuk menghancurkan otaknya yang lama dan menggantinya dengan yang baru—tanpa virus bernama Uchiha Sasuke!

"SASUKE-TEME BRENGSEK! MATI KAUUU!"

Buagh!

.

.

Sasuke baru saja memutar kenop pintu kamarnya, kemudian mengembalikannya seperti semula. Ia memilih beringsut mundur setelah telinganya mendengar suara pukulan yang agak keras dari dalam kamarnya. Sepertinya, untuk beberapa hari ke depan ia akan tidur di sofa ruang tamu. Err… tidak. Sasuke merinding membayangkan dirinya tidur di ruang tamu seperti tiga hari yang lalu—sepertinya nyamuk juga salah satu dari puluhan ribu fans-nya. Lebih baik tidur sekamar dengan kakaknya yang autis itu.

Itachi! Sasuke mengetuk pelipisnya pelan saat mengingat kakaknya, "Sepertinya saat ini aniki tidak sesibuk Dobe."

Well, pikiran baik-baik itu segera tersapu bersih saat suara desahan dengan keras menyeruak keluar dari satu pintu di belakangnya—yang ia yakin berasal dari kamar kakaknya, "Atau mungkin lebih sibuk lagi."

Sasuke mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kedua kamar di hadapannya. Dengan lunglai ia melangkah menjauh dari sana.

"Semoga ada kegiatan yang tidak membosankan untuk tiga jam ke depan," desahnya lemas. Dan sebuah pemikiran baru melintas di kepalanya, "Menjadi seorang Uchiha Sasuke tidak selamanya beruntung."

.

.

20 menit 30 detik.

Sasuke memutar bola matanya.

20 menit 35 detik.

Sasuke mulai menatap tajam benda yang tidak bersalah bernama jam dinding dari tempatnya duduk.

20 menit 40 det—"AARRGHH! Brengsek!"

Sasuke mengutuk siapapun yang pernah membuat jam dengan kecepatan yang nyaris sama lamanya dengan seekor hewan berlendir bernama siput!

Asal tahu saja, bukannya ia suka dengan tingkah autis sang kakak ataupun keberisikan adiknya, tapi—Sasuke berani bertaruh untuk yang ini—kedua hal itu jauh lebih mending dibandingkan menunggu selama berjam-jam tanpa melakukan apapun.

Sempat terlintas beberapa ide yang menurutnya cukup menarik, sebenarnya. Menghabiskan waktu yang membosankan ini dengan menonton TV, bukan ide yang buruk seharusnya. Namun ia tepiskan jauh-jauh pemikiran itu saat mengecek acara TV yang dipenuhi dengan gosip tentang para artis—sesuatu yang ia hindari akhir-akhir ini, yang entah apa alasannya, Sasuke tutup mulut. Bagaimana dengan membaca novel? Coret opsi itu dari daftar. Sasuke sudah jengah dengan ribuan buku yang berjejer rapi di perpustakaan pribadinya.

Hell! Seharusnya, ia mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sebelum mencari gara-gara dengan Naruto. Kalau tidak, ya… seperti inilah nasibnya akan berakhir. Duduk termenung di ruang tamu tanpa ada gerakan berarti. Sial.

Sasuke menggeram di balik bantal yang ia tutupkan ke wajahnya dengan sengaja. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat balasan seperti ini dari Naruto. Memang salahnya sih, iseng-iseng menjahili adiknya yang temperamental itu. Akibatnya… lupakan saja.

Sasuke melirik jam dinding yang ada di atas TV sekali lagi. Sudah hampir satu jam ia ada di sana. Kembali ia tenggelamkan wajahnya ke bantal yang sedari tadi peluknya, "Kuharap aniki tidak lupa memasak makanan untuk malam ini."

Sedetik kemudian, suara dengkuran terdengar lembut mengalun di sana.

~(^v^-~)~(-^v^-)~(~-^v^)~

"…"

"…"

"…"

Bzzztt! Bzzzzttt!

Ctik! Ctik! Ctik! Brak!

"GAH! CUKUP! Sasuke! Naruto! Berhenti saling melempar death glare sekarang juga!" Itachi menggebrak meja makan dengan tidak sabar. Empat kedutan di pelipisnya nampak semakin jelas. Sungguh, ia tidak habis pikir dengan tingkah kedua adiknya yang seolah ingin membunuh satu sama lain itu.

"Dia dulu yang mulai, Itachi-nii!" Naruto menunjuk pemuda di depannya yang kini menaikkan alis—tersinggung.

"Idiot. Aku tidak melakukan apapun sejak tadi," balas Sasuke sengit, tidak terima dengan tuduhan yang ditujukan padanya.

"Kau mengintimidasiku, Teme! Aku tidak suka!" pembelaan yang sia-sia.

"Kau itu idiot atau bodoh, hn? Aku bahkan tidak bicara padamu, Dobe."

"Kau menatapku sinis, brengsek! Kau sekarang bicara padaku."

"Idiot. Menatap dan mengintimidasi itu berbeda, Dobe."

"SHIT! Kudah kubilang jangan menghinaku! Berhenti memanggilku idiot, Teme!"

"Pfh," Sasuke tersenyum meremehkan pada Naruto, "Aku hanya menegaskan kenyataannya, i-d-i-o-t."

Naruto meremas sumpit yang dipegangnya dengan kuat, "Kenyataan apa! Bahwa aku idiot dan bodoh!?"

Sasuke menelengkan kepalanya, "Well, kau sendiri yang mengatakannya. Kombinasi bodoh dan idiot. Aku jadi yakin, tidak akan ada wanita yang jatuh hati padamu."

Begitu kata-kata itu keluar dari bibirnya, Sasuke langsung mengutuk dirinya sendiri. Sungguh, bukan itu yang ingin ia katakan, karena ia tahu pasti kalau Naruto sangat sensitif dengan yang pembicaraan macam ini. Sasuke mengamati wajah yang kini menatap dingin padanya. Geez… dasar mulut ember.

Itachi yang tadinya ingin menjitak kedua adiknya itu kini juga terdiam. Menatap raut wajah Sasuke yang—sedikit—merasa bersalah dan mata sapphire Naruto yang dingin secara bergantian. Sepertinya pertengkaran ini sudah kelewat batas. Baru saja ia akan membuka mulut untuk mencairkan suasana, Sasuke sudah lebih dulu menyela.

"Bukan itu maksudku…" desisnya dengan nada berat dan penuh pertimbangan.

Mungkin Naruto tidak mendengar apa yang dikatakan Sasuke barusan. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, hanya datar dan nampak tidak peduli. Sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Naruto menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan tenang, "Aku tahu… kau bahkan sudah mengatakannya tadi—pada kekasihmu."

Sasuke tertegun. Onyx-nya mengernyit ragu mencerna perkataan Naruto. Diam-diam dia mengulum seringai, "Ternyata itu masalahnya…" gumamnya, "Dia bukan kekasihku."

Tidak berpikir panjang, pemuda pirang itu otomatis melempar sendok yang dibawanya ke arah Sasuke, "JANGAN MENGELAK, TEME!"

Sepersekian detik berikutnya, Sasuke memandang horor pada adiknya, "USURATONKACHI! Kau harus bertanggungjawab kalau sendok biadap itu tadi mengenai dahiku!"

"AP—TEME! Salahmu sendiri memulai pertengakaran seperti in—" balasan itu tidak terselesaikan saat sebuah suara menyela.

"Sampai kapan kalian mau menelantarkan makanan yang sudah kumasak dengan berat hati, HAH! Sekarang berhenti mengoceh dan manan makanan kalian!" raung Itachi pada akhirnya. Ia benar-benar tidak tahan melihat pertengkaran keduanya yang semakin lama semakin panas tersebut.

Ia kini berpikir sembari menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, "Sejak kapan kata berhenti malah menjadi pemicu pertengkaran! Mereka ini tidak bisa diajak bicara baik-baik, ya!" jeritnya frustasi—dalam hati, tentunya— pada akhirnya.

"Maaf," Naruto menunduk kembali pada ramen-nya setelah mendapat anggukan dari kakak sulungnya.

"Hn," singkat, padat dan sangat menyimpang. Jawab Sasuke sebelum ia berdiri dan meninggalkan ruang makan.

Sepertinya Itachi harus punya kesabaran lebih untuk menghadapi adiknya yang satu itu. Pantas saja Naruto yang tidak pernah bisa akur dengan Sasuke, sikapnya benar-benar membuat orang emosi, sih. Itachi menepuk jidatnya keras-keras.

Poor you, Itachi.

~(^v^-~)~(-^v^-)~(~-^v^)~

Uchiha Sasuke masih setia menekuri deret lantai balkon kamarnya yang entah mengapa terlihat begitu menarik. Diselipkannya sebatang rokok pada tepian bibirnya. Ia sudah nyaris tertawa bila tak sadar ada harga diri sebagai Uchiha yang disandangnya pada saat melihat ekspresi cemburu yang ia yakin dibantah Naruto sendiri dengan tegas. Ah, adiknya yang satu itu memang menggemaskan dan ia sangat menyadari hal tersebut.

Tapi, berbicara tentang Naruto, ia baru menyadari bahwa belum sempat menjelaskan apa-apa pada pemuda itu. Ck, medokusai.

Srek… srek…

Sasuke melirik ke arah suara yang membuyarkan ketenangannya, "Pshh… sudah puas menghindariku, Dobe?" asap putih tipis mengepul samar di udara malam, kala baritone-nya berucap.

Yang dipanggil hanya menatap dingin. Tubuh berbalut piyama putih itu bersandar pada tepi jendela kaca sepenuhnya, "Kau yang memulainya. Jangan salahkan aku."

Sasuke melirik pemuda blonde di belakangnya. Kali ini seulas seringai terlukis, "Mulai apa? Aku tidak ingat telah melakukan hal yang membuatmu marah padaku."

Naruto menggerling kesal, "Memangnya pernah kau mengakui kesalahanmu?"

"Memangnya pernah aku berbuat salah padamu?"—terlalu naïf.

"Tanya pada dirimu sendiri," kali ini, pemuda itu berdiri, berjalan menghampiri Sasuke, "Sudah berapa kali kuingatkan, jangan merokok di depanku," lanjutnya.

"Hn," iseng, Sasuke menghembuskan napas tepat di wajah pemuda yang tidak lebih tinggi darinya, "Kalau aku tidak mau? Salahkan dulu dirimu yang tidak memberiku 'jatah' hari ini."

Empat urat bersilangan di dahi Naruto beriringan dengan memerahnya wajah pemuda itu, "GAH! TEME! Mati saja kau! Itu juga salahmu, BODOH!" ia benar-benar akan melempar pemuda di depannya bila gerakannya tak terhenti dengan sebuah rengkuhan hangat dari lawannya.

Sebuah senyum samar tersungging di sudut bibir Sasuke. Kapan lagi bisa memeluk pemuda unyu tapi ganas seperti sekarang ini? Orang bilang, jangan mendekati singa yang sedang tidur. Nyatanya, singa yang satu ini sama sekali tidak menggigit. Sekali lagi—dengan iseng, Sasuke meniup pelan telinga Naruto. Sukses membuat si empunya telinga mengernyit sebal, "Jangan mencoba merayuku, Teme."

Mengabaikan kata-kata adiknya, Sasuke memilih meluruskan semuanya sekarang, "Dengarkan baik-baik, Dobe. Aku hanya akan berkata sekali, jadi diamlah sebentar," suara itu terdengar berat di telinga Naruto, gerakan jemari Sasuke yang membelai rambut pirangnya sangat terasa, begitu lembut dan manis. Dan untuk sesaat yang tenang ini, Naruto hanya terdiam, menunggu.

"Dia bukan kekasihku, Dobe. Dia hanya mantan ketua fans girl waktu SMA. Tidak lebih."

"Aku tidak peduli,"—sahutan yang terlalu cepat dari Naruto.

Sekali lagi, mengabaikan respon adiknya, "Dan satu lagi, tidak peduli sebrengsek dan semenyebalkannya diriku, tetaplah memandang hanya padaku. Tepiskanlah semua hal yang mengganggu pikiranmu, agar—" jeda sesaat, Sasuke mengendus pelan, "Agar otak bodohmu tidak meledak sewaktu-waktu."

Dan Naruto tidak pernah menyadari kalau kakaknya ternyata memiliki kecepatan lari yang melebihi seorang ninja.

"TEME! AKU BERSUNGGUH-SUNGGUH AKAN MEMECAHKAN KEPALAMU SETELAH INI!"

~(^v^-~)~(-^v^-)~(~-^v^)~

Itachi baru akan meletakkan sebotol susu ke dalam kulkas saat matanya melihat sosok yang tengah berada di meja makan membelakangi dirinya. Sepertinya pemuda berambut pirang itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Tidak berpikir macam-macam, Itachi membuka kulkas di depannya sambari menyapa Naruto, "Ohayou, otouto."

Pemuda pirang itu pun dengan cepat menoleh ke arah si penyapa sembari meneguk 'air' yang dibawanya, "Ah… nii-saaaann~."

Itachi mengorek-orek telinganya sesaat. Ia pasti salah dengar, atau memang baru saja adiknya itu mendesah? Itachi menggelangkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak boleh berpikiran seperti itu! Naruto milik Sasuke, titik. Itachi menguatkan batinnya.

Melihat kakaknya yang berlagat aneh di depan kulkas, Naruto bergumam, "Kau tidak apa-apa kan, nii? Perlu kupanggilkan dokter, barangkali?"

Sadar dengan gelagatnya, Itachi menoleh dengan simpati, "Tidak apa-apa, abaikan saja yang barusan. Oh ya, Naruto, kau lihat botol hitam yang ada di sini, tid—" sedikit lagi ia akan menyelesaikan kalimatnya, tepat ketika matanya menangkap kilasan botol yang digenggam oleh Naruto.

Itachi memandang horror pada botol yang ia yakin isinya nyaris habis dalam genggaman adiknya, "N-naruto... d-dari mana kau dapatkan botol itu!" untuk kesekian kali dalam hidupnya, Itachi harus merasakan kening mulus tanpa cacatnya berciuman langsung dengan kerasnya pintu kulkas terdekat.

Naruto mengangkat botolnya ke atas dan menggoyang-goyankannya pelan, menunjukkan pada Itachi, "Oh ini, aku mengambilnya dari sana. Karena tadi aku haus dan tidak ada siapa-siapa di rumah—lupakan Sasuke yang masih bergulung-gulung dengan guling yang dikira sebagai Naruto di kamarnya—, jadi aku mengambil ini dari kulkas. Ngomong-ngomong nii-san..." Naruto meneguk 'air'nya sekali lagi, "Ini apa ya? Rasanya tidak seperti susu kebanyakan..."

Itachi membatu.

Krik...

Krik…

Krik...

"Aaaaaaaaaaaaaaa! Ramuan perangsangku untuk Kyuubi! Kenapa kau habiskan semua, Narutoooooo!"

Mari kita abaikan untuk sesaat pemuda malang yang masih menangis meraung-raung di sana.

~(^v^-~)~(-^v^-)~(~-^v^)~

Uchiha Naruto, tersangka utama yang membuat kakak sulungnya bernama Itachi mendadak gila, terlihat berjingkat-jingkat—sempoyongan—dengan riangnya menuju satu-satunya kamar yang ia miliki.

Brak!

"Sasuke~ ayo banguuuunnn~, ttebayo!" teriaknya kelewat riang untuk ukuran orang yang baru saja marah, sembari menarik-narik selimut tebal yang tadinya digunakan Sasuke untuk menutupi tubuhnya.

"…"

Tidak ada jawaban dari balik selimut yang ternyata hanya berisi guling-guling yang ditumpuk. Naruto menelengkan kepalanya, sesaat kemudian, ia memutar tubuhnya, "Sasukeeee! Di mana kauuu?"

"Berisik, Dobe…" yang dipanggil diam-diam mengintainya dari dalam kamar mandi—mempersiapkan diri untuk sesuatu yang akan terjadi setelah ini…

.

.

.

TBC

Yeah! Akhirnya setelah beberapa bulan saya menelantarkan fic ini, jadi juga akhirnya… #author ditimpuk

Btw, saya ucapakan selamat bersenang-senang pada Sasuke, dan selamat menderita pada Naruto. Kenapa? Kita lihat di chapter depan… itupun kalau author-nya engga males buka leptop lemotnya #plak!

A, ya… saya juga berterima kasih pada reader+reviewer yang sudah bersedia menyempatkan waktu untuk membaca cerita labil punya saya ini #bungkuk-bungkuk sampe bungkuk.

Dan saya juga minta maaf kalau sebelumnya sudah pada ngebayangin bakal ada konflik di fic ini. Karena memang sedari awal saya sama nee-chan sama sekali ga ada niatan buat nyelipin konflik, dan taraaaaaa…. Hasilnya jadi ambigu begini. Maafkan keteledoran kamiiiiii~

~(^v^-~)~(-^v^-)~(~-^v^)~

O,ya… langsung aja kita bales review yang ga log in

Satsuki Naruhh

Errr… maaf mengecewakan untuk konfliknya… TT_TT habis saya juga ga bisa buat konflik… makasih buat reviewnya..

99

Waw… waw… sabar, sabar… #author sembunyi di kolong kasur… =='a

Errrrr… saya bener-bener minta maaf kalau mengecewakan. Fic ini memeang nyaris ga ada konfliknya… maafkan sayaaaa…. TT_TT #pundung di pojokan

Makasih reviewnyaaa…

Hitoshii Rizu

Huwaaaa… TT_TT makasih reviewnyaaaa~ ini sudah apdet, maaf kalau jelek… TT_TT

GerardGeMi

Ini sudah saya lanjut, makasih reviewnya…

Kyuu al

TT_TT apa masih penasaran? Kwkwwk… makasih reviewnya…

Kyuu al z

Demi Itachi yang keriputnya ga ilang-ilang juga, salahakan nee-chan yang tiba-tiba ngambek ga mau ngelanjutin~ #plak!

Guest

Ini sudah saya lanjut~ maaf kalo pendek~ tapi kan lanjut~ kwkwkwkwwk.. #dhuar!

Guest

Makasih reviewnya.. ini sudah saya update…