Tittle: Aku ingin menjadi Sakura
Cast: Sakura Haruno X Naruto Uzumaki
Rate: T
Genre: General/Friendship/Romance
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Author © Uchiwara Miharu
Warning: Typo, OOC, dan segala kekurangan yang terdapat dalam penulisan maupun alur cerita ini.
Don't like, don't read! Selamat membaca!
Chapter 3
"Sudah berapa kali aku bilang, Ino! Aku tidak akan pulang jika anak sialan itu masih di rumah. Aku muak dengan wajahnya, tingkahnya dan semua tentang dirinya!" balas Sakura agak kesal.
"Bagaimanapun Hinata adalah adik angkatmu, Sakura. Kau tidak bisa menghakiminya seperti itu. Dia tidak memiliki salah apapun terhadapmu. Dan kau juga tidak berhak membencinya hanya karena alasan pribadimu saja," jelas Ino. Dia merasa Sakura memang telah kelewatan selama ini. Dia bosan membiarkan tingkah sahabatnya itu dan dia tidak bisa membiarkannya selalu seperti itu.
Sakura menatap tajam Ino, dan dibalas Ino dengan tatapan yang tidak kalah tajam. Sakura bangkit dari duduknya dan berlalu dari Ino, tanpa menghiraukan panggilan Ino.
Sakura berjalan menyusuri lobby kantornya. Pembawaannya masih buruk akibat pertengkarannya dengan Ino tadi. Dia terus menerus menghela nafas dan mencoba meredam emosinya hari ini.
"Jika kau terus seperti itu, kau akan dipecat dari sini, Haruno."
Sakura berbalik melihat ke sumber suara. Dia dapati seorang pemuda dengan rambut emo tengah bersender di dinding dengan tangan yang dimasukan ke kedua saku celananya.
"Apa maksudmu, Sasuke-san?" tanya Sakura mengernyitkan kedua alisnya.
"Apa saja yang sudah kau dapat hari ini? Kau tidak bermaksud untuk melamun dan meratapi dirimu saja, kan? Ingat! Kau digaji bukan untuk berleha-leha, tapi kau harus mengerjakan tugasmu," jawab Sasuke sinis.
"Sejak kapan seorang Uchiha sepertimu mengurusi hal seperti ini," balas Sakura.
"Aku tidak peduli dengan dirimu, tapi sikapmu itu mengganggu kinerja tim. Kau sadar itu, Haruno?" tanya Sasuke mendekati Sakura dan menatapnya tajam. Sakura menghindari tatapan Sasuke. Sekilas tampak semburat merah di wajahnya.
"A-aku akan berusaha lebih baik lagi," jawab Sakura sesaat setelah dia mampu menguasai dirinya.
"Hn. Aku harap begitu," ucap Sasuke dan berlalu dari Sakura.
"N-Naruto-kun…" panggil gadis bermata lavender itu pada pemuda yang tengah asyik merebahkan dirinya di bawah pohon, di taman belakang sekolahnya. Wajah gadis itu bersemu merah saat melihat wajah tidur pemuda berambut kuning itu.
"N-naruto-kun, bangun!" ucapnya lagi. Naruto mulai mengejapkan kedua matanya dan menatap kea rah suara yang memanggilnya.
"E? Hinata, ada apa?" tanya Naruto sambil mengusap kedua matanya yang masih dikuasai oleh rasa kantuk.
"A-anu… P-pelajaran akan segera dimulai. Kita harus kembali ke kelas," jawab Hinata dan bangkit dari posisi duduknya ketika membangunkan Naruto tadi.
"Hontou desu ka? Terima kasih sudah mau membangunkanku, hehehe!" kata Naruto menunjukan cengirannya dan sontak membuat wajah Hinata semakin memerah. Dengan agak tergesa-gesa, Hinata berlalu dari Naruto. Dia sangat malu harus berhadapan dengan laki-laki yang disukainya itu. Naruto segera mengikuti langkah Hinata, dia mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Hinata.
"Hey! Kudengar kau menjadi bagian dari keluarga Haruno. Benarkah itu?" tanya Naruto pada gadis itu, dan membuat langkahnya terhenti. Dengan agak ragu dia menatap ke arah Naruto seakan menanyakan sumber informasi yang didengar Naruto.
"Umm, aku dengar dari Shino," ucap Naruto. Hinata tidak menjawab perkataan Naruto, dia kembali berjalan menuju kelasnya. Naruto menatap Hinata heran, dan segera menyusulnya lagi.
"Hey, Hinata-chan! Apakah benar kau menjadi adik angkat Sakura-chan? Bagaimana perasaanmu selama menjadi bagian dari mereka," tanyanya lagi dengan antusias. Kali ini Naruto mencegat langkah Hinata dengan berdiri tepat di hadapannya. Mau tidak mau Hinata terpaksa mengjentikan langkahnya. Namun, dia tidak menatap Naruto, tatapannya lurus ke bawah.
"K-ku mohon, jangan tanyakan hal itu padaku, Naruto-kun. A-aku…" ucapannya terhenti akibat air matanya menetes.
"H-hinata-chan, gomenasai," balas Naruto merasa bersalah. Hinata segera menyeka air matanya dan berlari menjauhi Naruto.
Naruto POV***)
Gadis itu berlari menjauh dariku, dan aku hanya bisa menatapnya saja. Aku masih terkejut dengan apa yang kulihat barusan. Apakah pertanyaanku salah sehingga membuatnya menangis? Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua itu. Ah! Bukan saatnya aku seperti ini. Aku harus mencari Hinata-chan dan kembali meminta maaf padanya. Ya. Apapun alasannya, aku tidak boleh membiarkannya menangis karenaku.
Kuputuskan untuk mencari Hinata-chan ke tempatku tidur saat jam istirahat tadi. Dan benar saja, dia tengah berduduk disana dengan kedua wajah yang ditangkup dengan kedua tangannya. Kurasa dia masih menangis. Kami-sama, maafkan aku.
"Hinata-chan," panggilku pelan. Dia tidak menjawab panggilanku, namun aku yakin dia mendengarku. "Maaf jika aku mengatakan sesuatu yang salah. Aku tidak ta…"
"I-iie," potongnya sambil menghapus air matanya. Matanya terlihat merah karena menangis. "A-aku yang seharusnya minta maaf. Tidak sepantasnya a-aku bersikap seperti tadi," lanjutnya dan berusaha tersenyum padaku.
Aku tersenyum padanya dan duduk disampingnya. Kulihat dia sedikit menjauh dari posisi duduknya sebelumnya dan menjaga jarak dariku. Aku kembali tersenyum mengingat bahwa gadis disampingku ini memang sangat pemalu.
"Maaf sudah membuatmu membolos dari pelajaran," ucapku padanya.
"Daijoubu," jawabnya lirih.
Angin berhembus pelan, dan kami terdiam. Kulihat dia menikmati deru angin siang itu. Mata indahnya menerawang ke atas langit. Dari pancaran matanya, aku dapat merasakan suatu beban ada disana.
"Apa tidak apa-apa kau menyembunyikannya sendirian?" tanyaku. Hinata menatap ke arahku dan berusaha tersenyum padaku. Namun senyumannya itu malah membuatku iba padanya.
"A-aku tidak tahu," jawabnya singkat.
"Apa karena Sakura-chan?" Kulihat wajah terkejut Hinata saat mendengar pertanyaanku barusan. Ya. Walaupun dia tidak menjawab pertanyaanku. Tapi aku tahu, pasti itulah sebabnya. "Apa kau yang menjadi alasan Sakura-chan menyewa apartemen?"
"Sakura-neechan menyewa apartemen?" tanya Hinata. Pertanyaan Hinata tersebut membuatku mengerutkan keningku. Bagaimana mungkin Hinata tidak tahu masalah ini, padahal dia telah menjadi keluarga Haruno. Aku menganggukkan kepalaku ragu.
"Semua memang salahku. Harusnya aku tidak masuk dalam kehidupan Sakura-nee," ucap Hinata lirih dan menangkupkan kedua wajahnya dilututnya.
Aku tidak mengerti. Masalah ini benar-benar membuatku yang biasanya berisik menjadi seorang yang pendiam. Aku hanya bisa menjadi pendengar bagi Hinata-chan. Ya. Semoga saja dengan begini, aku bisa sedikit mengurangi kesedihannya.
Normal POV***)
"Shika, kemana kita sekarang?" tanya Sakura kepada rekannya yang tengah mengemudi mobil.
"Konoha High School," balas Shikamaru singkat. Dan sontak menghentikan aktivitas Sakura yang tengah menyusun kertas-kertas hasil wawancaranya di Akatsuki Corporation barusan. Sakura menatap ke arah Shikamaru dengan tatapan tidak setuju dan berhasil membuat Shikamaru mendecak kesal. "Berhenti menatapku seperti itu, Sakura."
"Jangan paksa aku ke sekolah itu. Aku bisa kemana saja, tapi tidak kesana," balas Sakura.
"Terserah kau saja, Sakura. Tapi, jangan berfikir kau akan dimaafkan oleh Tsunade-sama. Mendokusai!" ucap Shikamaru menghentikan laju mobilnya dan menatap bosan ke arah rekannya itu. Sakura diam. Dia memang tidak ingin ke sekolah tempat adik angkatnya itu menempuh pendidikan, tapi dia juga tidak berharap di depak Tsunade dan kehilangan pekerjaannya. "Baguslah jika kau mengerti," ucap Shikamaru lagi dan kembali menjalankan laju mobilnya.
Shikamaru mengemudi dalam diam dan dia memanglah orang yang malas untuk berbasa-basi dengan siapapun, termasuk gadis softpink itu. Sesampainya di Konoha High School, Sakura turun dari mobil itu dengan enggan dan wajah merengutnya sukses membuat pemuda itu memutar bola matanya bosan.
"Cepat kerja dan setelah itu kita pulang," kata Shikamaru pada Sakura yang masih enggan melangkahkan kakinya menyusuri kelas di sekolah itu. Shikamaru berjalan mendahului Sakura menuju Kantor Guru untuk mewawancarai Kepala Sekolah Konoha High School mengenai Turnamen Musim Semi yang rutin mereka laksanakan.
"Aku ingin ke kamar kecil dulu," jawab Sakura. Dan berlalu tanpa menunggu jawaban dari Shikamaru.
"M-maaf sudah merepotkanmu, Naruto-kun," ucap Hinata.
"Daijoubu. Kurasa aku yang harus meminta maaf," balas pemuda bermata sebiru langit itu kepada gadis yang berjalan di sampingnya itu. Hinata tersenyum malu. Wajahnya memerah mengingat bahwa pemuda yang dia sukai itu, menemaninya saat dia sedih.
"Kenapa wajahmu merah, Hinata-chan? Kau sakit?" tanya Naruto. dengan agak ragu, dia meletakkan punggung telapak tangannya ke kening Hinata.
"Aaaa…"
"Nande, Hinata-chan? Wajahmu semakin memerah," ucap Naruto heran saat Hinata menghindari sentuhan Naruto dan wajahnya semakin memerah akibat ulah si rambut duren itu.
"A-aku tid... Sakura-neechan!" seru Hinata kaget menyadari kehadiran seseorang dihadapan mereka berdua. Naruto menoleh dan dilihatnya gadis berambut softpink itu menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Sakura-chan…"
Ooo to be continued ooO
Author's note:
Huwa…! Chapter ini benar-benar gaje. Gomenasai telah membuat adegannya aneh dan abal seperti ini. Pasti chapter ini sangat-sangat mengecewakan. :(
Semoga teman-teman bersedia member kritik dan sarannya dalam bentuk apapun. Umm, tapi tetap yang membangun ya? ^^a
