Tittle: Aku ingin menjadi Sakura

Cast: Sakura Haruno x Naruto Uzumaki

Rate: T

Genre: General/Friendship/Romance

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Author © Uchiwara Miharu, 2012

Warning: Typo, OOC, dan segala kekurangan yang terdapat dalam penulisan maupun alur cerita ini.

Don't like, don't read! Selamat membaca!

Chapter 4

"Aaaa…"

"Nande, Hinata-chan? Wajahmu semakin memerah," ucap Naruto heran saat Hinata menghindari sentuhan Naruto dan wajahnya semakin memerah akibat ulah si rambut duren itu.

"A-aku tid... Sakura-neechan!" seru Hinata kaget menyadari kehadiran seseorang di hadapan mereka berdua. Naruto menoleh dan dilihatnya gadis berambut softpink itu menatap mereka dengan tatapan tajam.

"Sakura-chan…"

Xxxxx Aku ingin menjadi Sakura xxxxxX

"S-Sakura-nee…"

"Jangan pernah memanggilku seperti itu, Hinata!" sela Sakura masih menatap Hinata tajam. Hinata tertunduk dan takut saat dilihatnya tangan Sakura mengepal dengan kuat untuk menahan emosinya.

"He-hey! Dia adikmu, kan? Kau tidak pantas sekasar itu padanya," ucap Naruto mencoba mencairkan suasana. "Aku tidak suka tatapanmu itu, Sakura-chan!" lanjutnya saat Sakura mendelik tajam ke arahnya.

"Aku tidak peduli! Aku tidak pernah memintamu untuk menyukaiku atau semua tentang hidupku! Berhentilah ikut campur dengan urusanku, baka!" seru Sakura geram. Wajahnya memerah karena emosi yang naik.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kanan Sakura, membuatnya memegang pipinya erat. Naruto yang terkejut, hanya mampu diam terperangah menyadari keberanian Hinata menampar pipi kakak angkatnya tersebut. Sedangkan Hinata, dia tak kalah kaget dengan apa yang dia lakukan, tangannya masih gemetaran hebat.

"M-maafkan a-aku, neechan! A-aku t-tidak s-suka kau berbicara kasar p-pada N-Naruto-kun. Neechan boleh membenciku, dan mengh-hinaku sesuka hati, neechan. K-karena aku memang bersalah. T-tapi, ku mohon… jangan lampiaskan a-amarah Neechan pada y-yang lain. Ma.. maafkan a-aku, hiks!" ucap Hinata lirih. Air mata mengalir deras di pipinya.

"Pergilah…" jawab Sakura. Kepalanya tertunduk, dan matanya lurus menatap ke bawah. "Tolong pergilah… bukankah ini sudah memasuki jam pelajaran," lanjutnya. Naruto hendak berbicara, namun Hinata memegang tangannya dan menggelengkan kepalanya.

"Gomen…" ucap Hinata lirih dan berjalan melalui Sakura yang berdiam diri. Sekilas Naruto menoleh Sakura. Wajah gadis itu tertutupi oleh rambutnya yang terurai, namun Naruto dapat melihat siluet kesedihan dan penyesalan disana.

"Keluarlah, Shikamaru. Aku tahu kau disana," kata Sakura saat langkah Hinata dan Naruto tak terdengar lagi olehnya.

Seorang pemuda berambut nanas keluar dari balik tiang besar yang tidak jauh dari tempat Sakura berdiri. Tampak dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ahh… ketahuan, ya? Mendokusai! Aku tidak bermaksud menguping, tapi…"

"Wakatta," sela Sakura sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan mengangkat wajahnya menatap ke arah lawan bicaranya.

"Sudah memasang topengmu lagi, ya? Baiklah… cuci mukamu dulu. Setelah itu, kita akan menemui Kepala Sekolah," kata Shikamaru. 'Gadis itu akan jadi merepotkan saat melepas topengnya, tapi lebih menyebalkan lagi saat memasang ekspresi palsu seperti itu,' keluh Shikamaru dalam hati.

Xxxxxx Aku ingin menjadi Sakura xxxxxX

'Hey Sakura… Bersediakah kau menorehkan cerita bersama denganku untuk selamanya?'

'Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, bodoh! Tentu saja!'

'Kau bahagia dengannya, nak!'

'Sangat, ibu!'

'Kenapa harus dia? Bagaimana dengan Sakura? Aku tidak ingin membuatnya menderita. Dia anak kita!'

'Sakura… maaf. Aku tidak bisa bersamamu lagi.'

'Sakura! Segeralah kesini. Dia terluka parah!'

'Maaf, kami sudah berusaha. Tapi, Tuhan lebih sayang padanya.'

'Dia sangat mencintaimu. Dia bahkan tetap memesan gaun pengantin ini untukmu.'

"TIDAAAAAK!" seru gadis bermata emerald itu bangun dari tidurnya. Peluh telah membasahi keningnya dan air mata menetes dari pelupuk matanya. "M-mimpi," ucapnya lirih setelah kesadarannya pulih.

Sakura melirik jam weker yang berada di atas meja di samping kamarnya. Jam menunjukan pukul 6 pagi. Sakura segera menuju kamar mandi dan menggosok gigi serta mencuci wajahnya, menghapuskan sisa air mata yang mengalir saat mimpi itu membayanginya lagi. Ya, mimpi yang sering datang padanya. Mimpi yang tidak pernah bosan menghampirinya dan membuatnya selalu mengingat masa-masa penuh penyesalan dan masa yang kini telah hilang darinya. Masa yang membuatnya menjadi Sakura yang berbeda.

"Sudah bangun, nak!" sapa seorang wanita berambut merah sambil tersenyum pada Sakura yang tengah duduk melamun di balkon kamar tidurnya yang terhubung dengan apartemen tetangganya.

"Ahh iya, Selamat pagi, bibi Kushina," balas Sakura sopan Kushina yang tampaknya baru saja selesai menyapu balkon rumahnya.

"Tidak baik melamun pagi-pagi begini. Gadis manis sepertimu seharusnya memulai hari ini dengan semangat. Benar, kan?" kata Kushina tersenyum dengan penuh semangat. Senyuman dan semangat yang sukses diwariskannya pada putra tunggalnya.

"Ibu! Mana ramenku?" sebuah suara dari dalam rumah terdengar. Suara khas yang berasal dari Naruto, si pemuda berambut durian.

"Ehehe… Bibi masuk dulu ya, Sakura!" kata Kushina. "Dimana kau letakan matamu, Naruto! ramennya ada di lemari!"

"Ah iya, bu! Aku sudah menemukannya!"

Perbincangan antara ibu dan anak itu terdengar jelas oleh Sakura. Tanpa dia sadari, senyum simpul menghiasi wajahnya saat mengingat semua kehangatan yang terjalin antara Kushina dan Naruto. Namun, senyumnya memudar dan berubah menjadi ekspresi sedih saat mengingat ibunya.

"Aitakatta, kaa-san."

Xxxxxx Aku ingin menjadi Sakura xxxxxX

"Apa yang kau baca, Naruto?" tanya Minato heran dengan sikap Naruto yan tidak biasanya. Naruto yang biasanya malas berhubungan dengan buku, tampak sangat antusias membaca buku bersampul coklat itu sambil menikmati ramennya.

"Hehehe… ini rahasia ayah!" cengir Naruto ceria pada Minato yang tengah membaca Koran. Minato mengerutkan keningnya, namun tak lama ekspresinya berubah menjadi senyuman jahil. "Apa itu buku dari kakek mesum itu, heh?" tanya Minato dengan senyum jahil yang masih menghiasi wajahnya. Kontan saja kata-kata Minato itu membuat Naruto batuk akibat tersedak saat tengah menghirup kuah ramen. "Whoaa… ternyata benar!" seru Minato.

PLETAK!

Sebuah sendok sukses mendarat di kepala Minato. Akibatnya, Minato meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang nyeri karena dilempar oleh Kushina. Ternyata wanita yang sejak tadi diam saja karena aktifitas memasaknya, tidak menyukai ucapan suaminya pada sang anak, walau itu sebatas bercanda. Naruto hampis saja tertawa terbahak-bahak melihat insiden tersebut, tapi deathglare sang ayah membuat nyalinya ciut dan hanya bisa mengulum senyum.

"Berhenti mengatakan hal-hal yang bodoh!" kata Kushina seraya menyodorkan sandwich buatannya di hadapan Minato. Kemudian Kushina duduk di samping Minato yang berhadapan dengan Naruto , sambil menikmati biskuit yang tersedia di toples yang ada di meja makan mereka.

"Oh iya, Naruto! Bagaimana dengan latihanmu kemarin?" tanya Kushina pada anaknya yang baru saja selesai menyantap ramen di piringnya sampai tak tersisa.

"Sempurna, bu! Ya, walaupun sangat melelahkan karena Guy-sensei tidak mengizinkan kami istirahat selama 2 jam. Kakiku sampai pegal akibat latihan kemarin," keluh Naruto mengurut pelan betisnya. Kushina tersenyum melihat wajah anak kesayangannya itu. Dia tahu, walaupun Naruto mengeluh seperti itu, Naruto senang dengan aktifitasnya di sekolah dan berlatih dengan tim footballnya. Apalagi dia tahu bahwa Naruto telah membulatkan tekadnya untuk membalas kekalahan mereka dari tim Kimimaro dalam Turnamen Musin semi tahun lalu.

"Walaupun begitu… Aku pasti akan membawa tim-ku menjadi nomor satu di Konoha High School. Ahh tidak.. tapi di seantero Konoha!" seru Naruto mengepalkan tangannya ke atas.

"Ee? Hanya di Konoha?" tanya Minato.

"Ayah benar! Bukan di Konoha saja, tapi…"

"Di seluruh dunia!" seru ayah dan anak itu bersamaan. Keduanya lalu tertawa bersama dan Kushina ikut tersenyum bahagia melihat keakraban dan keharmonisannya bersama dua orang lelaki yang sangat dicintainya.

Suara ketukan pintu menghentikan tawa ketiganya. Kushina segera beranjak dari kursinya dan melepaskan celemek yang masih dia kenakan, kemudian menuju pintu apartemen mereka untuk membukakan pintu. Saat Kushina membuka pintunya, alisnya sedikit terangkat karena mendapati seseorang yang masih asing di hadapannya. Lelaki yang terlihat 5 tahun lebih tua dari suaminya itu, mengenakan setelan jas berwarna hitam dan celana yang juga berwarna hitam. Raut lelah di wajahnya tidak menutupi keramahan dan sifatnya yang hangat. Dia tersenyum sopan pada Kushina.

"Maaf jika saya mengganggu anda. Nama saya Haruno Taiki. Saya ayah dari Haruno Sakura," ucapnya memperkenalkan diri.

"Ahh… ayah Sakura, ya? Silahkan masuk!" kata Kushina mempersilahkan masuk.

"Terima kasih. Saya hanya ingin menitipkan ini untuk Sakura, dan sampaikan salam sayang dari saya untuknya," jawab Taiki berpamitan sopan dan berlalu dari hadapan Kushina setelah menyerahkan sebuah kotak dengan kertas kado berwarna pink. Kushina tercenung dengan sifat Taiki, sehingga membuatnya sedikit terperajat saat sang suami menepuk pundaknya.

"Siapa?" tanya Minato bingung.

"Aaa… ano… ayah Sakura menitipkan ini. Apa tidak aneh, Minato-kun? Bukankah seharusnya lebih baik untuk menyerahkannya sendiri?" tutur Kushina menyampaikan rasa herannya pada Minato. Naruto yang baru saja hendak memasuki kamarnya, tanpa sengaja mendengar ucapan ibunya itu. Ya, Kushina patut heran, karena Sakura memang tidak pernah menceritakan tentang keluarganya maupun alasannya tinggal di apartemen tersebut walaupun mereka telah bertetangga 3 bulan lebih.

Xxxxxx Aku ingin menjadi Sakura xxxxxX

"Boleh aku masuk?" tanya Naruto yang sejak tadi berdiri di depan pintu apartemen Sakura, karena yang punya rumah hanya terdiam menatapnya tanpa mempersilahkan Naruto masuk.

"Buang saja. Aku tidak ingin mengambilnya," kata Sakura saat menatap kotak yang dibawa Naruto.

"Setidaknya izinkan aku masuk dulu. Aku tidak ayah dan ibu mendengar pembicaraan kita," ucap Naruto.

"Aku tidak tertarik, Naruto! Ku bilang 'buang saja' berarti aku tidak membutuhkannya," jelas Sakura. Nada bicaranya sedikit naik karena kesal dengan sifat keras kepala pemuda di hadapannya.

"Tapi ini dari ayahmu, Sakura-chan!" seru Naruto.

"Aku tahu. Karena itu ku minta kau membuangnya," jawab Sakura datar.

"Ambil ini! Aku tidak ingin membuat ayahmu kecewa. Ini adalah pesan darinya dan aku harus menyampaikan ini ke tanganmu," kata Naruto tak kehabisan akal dia menyodorkan kotak itu pada Sakura.

"Aku bilang tidak, Naruto!" bentak Sakura dan mendorong kasar kotak itu sehingga jatuh ke lantai. Naruto terkejut dengan sikap Sakura, sedang Sakura tampak tak perduli dan menutup pintu apartemennya tanpa memperdulikan keberadaan Naruto.

Naruto beranjak dari depan pintu apartemen Sakura dengan membawa kotak yang tadi jatuh, dan masuk ke apartemennya yang bersebelahan dengan Sakura. Ayah dan ibunya sedang pergi bersama untuk menemui kakeknya, Jiraiya. Mereka sekeluarga memang selalu pergi ke rumah Jiraiya setiap hari minggu jika tidak ada kesibukan. Tapi kali ini Naruto memilih tinggal dengan alasan ingin beristirahat dan juga menyerahkan kotak yang dititipkan Ayah Sakura. Ya, untung saja mereka pergi. Kalau tidak, mereka pasti akan terkejut dengan sikap dingin tetangga yang mereka kenal sopan itu.

Naruto masuk ke kamarnya yang dipenuhi oleh nuansa oranye, dan meletakan kotak tersebut di mejanya. Tangannya kembali mengambil buku bersampul coklat yang dia dapat dari Kiba, kemudian membuka isinya.

"Apa dia yang membuatmu seperti ini, Sakura-chan?" tanya Naruto pada dirinya sendiri memperhatikan selembar halaman yang bertempelkan sebuah foto yang terdapat di buku tersebut. Foto Wisuda yang menggambarkan keakraban 4 orang muda-mudi yang tampak bahagia, dan seorang gadis berambut sofpink tampak tersenyum ceria sambil memeluk seseorang yang berdiri disampingnya, yang tengah membenarkan letak toganya.

Naruto menutup isi buku itu, dan pandangannya beralih pada kotak kado yang ada di meja belajarnya. Tangannya mengambil kotak itu dan dengan nekadnya dia membuka pita kado tersebut.

"I-ini, kan?"

Ooo to be continued ooO

Author;s note:

Umm, akhir yang aneh ya? Kira-kira apa isi kado tersebut? Ada yang bisa mengira-ngira? Ah.. dan lagi.. siapa orang yang dimimpikan Sakura? Dan buku Naruto itu.. kira-kira apa isinya ya? Saya sendiri bingung apa isinya. #plak

Mohon maaf jika ceritanya semakin gaje dan membosankan. Mohon kritik dan sarannya, ya? Saya ingin tahu pendapat teman-teman mengenai chapter 4 ini. Read and review, please! Arigatou gozaimasu! :)