Tittle: Aku Ingin Menjadi Sakura

Pairing: Sakura H. x Naruto U.

Genre: General/Friendship/Romance

Rate: T

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, 1999

Aku ingin menjadi Sakura © Uchiwara Miharu, 2012

Warning: Misstypo, OOC, OC, deskripsi jelek, alur lambat –mungkin-, dan segala kekurangan yang terdapat dalam penulisan maupun alur cerita ini.

Don't like? Don't read!

Chapter sebelumnya….

"Apa dia yang membuatmu seperti ini, Sakura-chan?" tanya Naruto pada dirinya sendiri memperhatikan selembar halaman yang bertempelkan sebuah foto yang terdapat di buku tersebut. Foto Wisuda yang menggambarkan keakraban 4 orang muda-mudi yang tampak bahagia, dan seorang gadis berambut softpink tampak tersenyum ceria sambil memeluk seseorang yang berdiri disampingnya, yang tengah membenarkan letak toganya.

Naruto menutup isi buku itu, dan pandangannya beralih pada kotak kado yang ada di meja belajarnya. Tangannya mengambil kotak itu dan dengan nekadnya dia membuka pita kado tersebut.

"I-ini, kan?"

Xxxxx Aku ingin menjadi Sakura xxxxX

Chapter 5

Matahari pagi bersinar dengan indahnya, angin menari-nari menambah kesejukan hari itu. Seorang gadis bermata lavender yang mengenakan dress biru muda dengan kerutan di bagian pinggangnya, tampak berjalan seraya menikmati aroma pagi yang segar dan memberikan relaksasi tersendiri bagi yang menghirupnya. Dengan membawa keranjang kecil berisi bunga-bungaan yang berwarna-warni, gadis itu meyusuri jalanan kecil yang sepi dan memasuki sebuah area pemakaman. Tanpa perasaan takut, dia terus melewati satu persatu gundukan tanah yang bertuliskan nama-nama orang yang pernah mencicipi kerasnya hidup di dunia ini.

Langkahnya baru berhenti saat menemukan sebuah nama yang sangat tidak asing dari ingatannya, tertulis dengan jelas di sebuah batu nisan di antara ribuan nisan lainnya yang menjadi saksi bisu kehadirannya. Gadis itu kemudian menaburkan bunga-bunga yang telah dia bawa di atas makam itu, dan menyiramnya dengan segelas air yang dia bawa dalam sebuah botol. Dia pandangi makam itu dengan tatapan sendu, dan disentuhnya goresan nama yang tertulis disana.

"Nii-san, otanjoubi omedetou gozaimasu!" ucapnya dengan senyum simpul yang membingkai wajahnya. Gadis itu terdiam cukup lama seraya terus menatap ke arah batu nisan. Angannya melayang kepada kejadian-kejadian saat sang pemilik batu nisan masih berada bersamanya, masih ada di dunia yang sama dengannya. Sampai sebuah gemerisik di balik semak-semak membuyarkan semua kenangannya, membuatnya menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati seorang laki-laki paruh baya yang tengah tersenyum padanya.

"Otou-san," ucapnya kepada laki-laki yang menjadi ayah angkatnnya itu.

"Kau tiba sangat pagi, Hinata-chan. Kenapa tidak membangunkan tou-san dan kaa-san?" ucapnya balik bertanya dan menghampiri gadis bermata lavender itu. Tangannya nampak membawa 3 batang bunga lily putih dan kemudian meletakannya di atas makam dengan tersenyum simpul setelah menggumamkan kata 'Baik-baiklah disana, nak!' pada makam tersebut.

"S-sumimasen. Aku takut mengganggu kalian berdua," jawabnya pelan. Laki-laki itu membelai lembut rambut putri angkatnya dan tersenyum lembut padanya.

"Apa kaa-san tidak kesini?" tanya Hinata yang tidak melihat kehadiran wanita yang menjadi pendamping Haruno Taiki, dan telah menjadi ibu angkatnya itu. Belum sempat mejawab pertanyaan sang putri, sosok yang mereka bicarakan datang menghampiri mereka berdua dengan mengenakan gaun berwarna putih dengan rambut yang disanggul sederhana.

"Apa aku sangat terlambat?" tanyanya pada suaminya. Taiki menggeleng dan memberikan ruang bagi sang istri untuk meletakan sebuah foto yang telah dibingkai indah di atas makam tersebut. Foto seorang pemuda dengan jas berwarna krim dan rambut panjang yang diikat rapi, dan memiliki mata seindah Hinata.

"Kau tahu, nak. Semenjak kepergianmu, kami bukan hanya kehilangan sosokmu, tapi juga kehilangan sosok Sakura yang ceria dan manis," ucap wanita itu pada makam tersebut. Hinata hanya bisa tertunduk sedih mendengar perkataan nyonya Haruno Harumi, sedangkan Taiki menepuk lembut punggung sang istri seraya menguatkannya.

"Andai kau masih hidup. Aku yakin Sakura akan masih bersama kita. Aku yakin, kita akan bisa melihatnya yang dulu dan kita akan menjadi keluarga yang paling bahagia," lanjutnya lagi dengan mata yang berbinar-binar karena menahan jatuhnya air mata.

"Sudahlah, Harumi. Kita harus kuat. Ini sudah jalan Tuhan. Aku yakin, Neji lebih bahagia disana."

Xxxxx Aku ingin menjadi Sakura xxxxX

Kamar itu masih terasa sunyi, hanya suara kicau burung yang terdengar sayup di pendengaran pemuda bermata biru itu. Sedangkan dirinya, masih terdiam setelah melihat isi bungkusan yang seharusnya menjadi hak gadis yang menjadi tetangganya 3 bulan terakhir.

Sebuah gaun indah berwarna putih dengan manik-manik batu emerald yang membingkai bagian depan gaun tersebut, masih menjadi pusat perhatian pemuda tersebut. Pandangannya lalu beralih pada sepucuk surat yang terselip di bawah gaun pernikahan tersebut. Dengan tangan gemetar, pemuda itu mengambil surat beramplop pink itu, dan membaca serangkai guratan tinta yang bertuliskan nama pengirim dan nama tujuan surat tersebut.

'Tidak! Sudah cukup! Aku harus memberikannya pada, Sakura!' batinnya dan menghentikan niatnya untuk membuka isi amplop tersebut. Kemudian, dengan hati-hati dia membungkus ulang isi bungkusan tersebut. Kemudian, dengan terburu-buru dia keluar dari dalam kamarnya dan apartemennya.

"SAKURA! BUKA PINTUNYA!" teriak Naruto nyaring. Suaranya membahana di seluruh sudut apartemen tersebut. Bahkan beberapa orang tetangganya yang lain menengok ke arahnya dengan pandangan heran. Tapi, apa pedulinya? Dia hanya ingin segera menyerahkan kado itu kepada Sakura. Pintu apartemen itupun terbuka, dan dia dapati seorang gadis bermata emerald dengan kaos merah dan rok simple berwarna hijau di bawah lutut menatapnya dengan tatapan kesal.

"Apa kau itu tidak punya rasa malu! Kau kira ini hutan, heh!" ucap Sakura sengit setelah sebelumnya menarik paksa pemuda berambut durian itu masuk ke dalam kamar apartemennya.

"Hehe, setidaknya aku berhasil masuk kesini. Ambillah!" balas Naruto tanpa rasa bersalah dan menyodorkan bungkusan yang tadi dia bawa.

"Sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak menginginkannya!" tolak Sakura tegas. Saking kesalnya dia dorong Naruto sehingga membuat bungkusan itu jatuh dari tangannya, dan sontak membuat Naruto terkejut. Naruto menghela nafasnya pelan, dan kemudian dia memungut kembali bungkusan itu dan menyodorkannya lagi pada Sakura. Namun, gadis itu malah mengalihkan pandangannya.

"Apa kau tidak ingin tahu apa yang diinginkan Neji darimu?" tanya Naruto dan sukses membuat Sakura menoleh ke arahnya. "Bukalah!" lanjut Naruto menyerahkan bungkusan itu, dan disambut Sakura dengan ragu.

Xxxxxx Aku ingin menjadi Sakura xxxxxX

Sakura P.O.V

Dengan tangan yang gemetaran aku bersiap membuka bungkusan itu. Apa benar ini dari Neji? Apa benar di dalam sini ada harapan Neji untukku? Aku benar-benar ingin tahu.

Ya, bungkusannya berhasil kubuka. Dan kutemukan sebuah gaun yang tidak asing lagi bagiku. Gaun ini, gaun yang seharusnya aku pakai untuk moment paling bahagia bagiku bersama dengan pemuda yang sangat sangat kucintai. Ya, aku kenal betul gaun ini. Setiap detail bentuknya masih tersimpan jelas di memori otakku.

Pandanganku kemudian terbagi oleh sebuah kertas yang terselip di dalam kotak itu. Surat dengan sampul yang senada dengan warna rambutku. Dengan satu tangan yang masih memeluk erat gaun itu, kuambil kertas itu dengan tangan kananku dan dengan perasaan berat kuletakan gaun pengantinku.

"Hyuuga Neji," gumamku pelan membaca sebuah nama yang tertulis dengan tinta hitam di kertas tersebut. Air mataku menetes. Oh, Tuhan! Hanya menyebut namanya saja membuatku serapuh ini.

'Kuatkanlah aku!' batinku sambil membuka amplop itu dengan hati-hati dan segera kubaca isi surat darinya.

Konohagakure, april 20XX

Sakura,

Kau kenal tulisan ini? Ah, konyolnya pertanyaanku? Tentu saja kau kenal baik dengan tulisan ini, kan? Ya, sebenarnya aku hanya bingung hendak menulis apa untukmu. Kau tahu, kan? Aku memang tidak pandai mengungkapkan perasaanku.

Benar juga. Aku jadi ingat saat aku menyatakan perasaanku padamu. Hari itu aku tampak begitu konyol, aku sadar itu. Berlari kencang dari Konoha High School untuk menuju ke Konoha Park memang tidak bisa dikatakan mudah. Tapi, aku sukses membuatmu terkagum-kagum dan menerima cintaku, bukan? Ya, walau bunga mawar yang ku bawakan untukmu saat itu, tidak bisa disebut bunga lagi. Tapi biarlah, biarkan kelopak-kelopak bunga yang berterbangan itu, menjadi saksi perjuangan cintaku padamu.

Sakura,

Aku sering bertanya-tanya dalam hatiku. Apakah aku pantas untukmu? Apakah selama ini aku sudah memberiku kebahagian di hari-hari kebersamaan kita? Dan apakah kelak saat aku tidak lagi bersamamu, kau masih akan mengingatku dan menyimpan ingatan tentangku dalam hatimu?

Aku sadar bahwa selama ini aku sering sekali membuatmu marah. Aku sering mengingkari janjiku dan membuatmu marah. Bahkan saat hari ulang tahunmu, aku lupa janji kita untuk pergi ke Festival malam bersama, dan malah asyik menghabiskan waktu bersama Itachi dan yang lain. Tapi, seperti apapun aku saat itu, kau terus memaafkan kesalahan dan kekhilafanku, kau tetap menungguku hingga Festivalnya tutup. Bahkan, walaupun kau menjadi demam karena hari itu, kau masih memberikan senyum termanismu padaku.

Semua hari yang kulewati bersamamu adalah hal terindah dalam hidupku. Dan puncak kebahagiaanku adalah saat kau menerimaku untuk menjadi pelabuhan hatimu, dan bersedia menorehkan sisa hidupmu bersamaku. Percayalah…! Janji itu yang selalu membuatku kuat sampai hari ini.

Maafkan aku atas semua penderitaan yang telah kau alami selama ini. Maaf atas semua tetes air mata yang kau curahkan untukku. Maafkan atas kata perpisahan yang terucap di bibirku. Maaf, maaf, maaf, karena hatiku tidak bisa berbohong, jika aku sangat mencintaimu, dan semakin mencintaimu.

Sakura,

Mungkin saat kau membaca surat ini, aku bukan hanya tidak lagi berada disisimu, namun aku juga telah pergi jauh meninggalkanmu bersama dengan semua kenangan kita bersama. Tapi, beginilah takdir kita saat ini.

Jika aku boleh bermimpi dan mengangankan tentang hidupku. Aku ingin hidup lebih lama lagi dan menebus semua cinta yang kau curahkan padaku. Aku ingin menarik kata perpisahan yang kuucapkan dan mengisinya dengan cerita-cerita indah bersamamu.

Walau kini aku tak lagi bersamamu, ingatlah selalu aku dalam benakku. Dan kutitipkan harta terakhirku padamu. Hinata. Terimalah dia dalam hidupmu, seperti kau menerimaku dalam hatimu. Seperti keluargamu menerimaku dalam kehidupan kalian.

Walau wujudku tak dapat lagi kau sentuh, kuharap kau dapat merasakan kehadiranku dalam dirinya. Karena jantungku yang nanti kan kutitipkan padanya, kuharapkan bisa menjadi hadiah untukmu dan kehidupannya. Ya, kuharap.. walau fisikku sudah tiada, aku masih bisa melihat wajah ceria dan senyummu dalam dirinya.

Sakura,

Jangan salahkan Tuhan. Jangan salahkan takdir, dan jangan salahkan dirimu dengan semua yang terjadi. Teruslah melangkahkan kakimu dengan penuh keyakinan, teruslah menjadi Sakura yang kukenal. Teruslah menjadi Sakura yang kucintai.

Sekali lagi, tolong maafkan aku yang pergi dengan cara seperti ini. Namun, apapun yang terjadi, janganlah berubah dan jangan tunjukan wajah sedihmu lagi. Jangan sakiti dirimu hanya karenaku. Lanjutkanlah hidupmu, dan berbahagialah. Walaupun tanpaku, jadilah Sakura yang terus mekar dihati semua orang.

Ah, terlalu banyak yang kutulis ya? Apakah isinya membosankan? Kuharap tidak seperti itu. Walaupun isi surat ini terlalu melankolis, kurasa. Hey! Jangan menangis lagi, ya? Dan jika saat kau menangis saat membaca surat ini, kuharap itu adalah tangisa terakhirmu. Jika tidak, aku akan menyesal selamanya. Ingat itu! Aku sedang mengancammu, kau tahu?

Ternyata menulis surat untukmu itu sangat melelahkan, ya? Berbeda jauh dengan saat aku menjalaninya bersamamu, itu tak pernah membuatku lelah. Namun, jangan selalu tertuju padaku, karena aku akan sangat khawatir jika kau seperti itu. Saat aku telah pergi bersama dengan lembaran-lembaran yang kita lalui, bukalah lembaran baru dalam hidupmu. Carilah mataharimu! Carilah cahaya yang dapat menghangatkan hatimu! Carilah seseorang yang mampu membuatmu mekar dengan sangat indah.

Dan jika kau menemukan lelaki bajingan yang melukaimu, kau tidak perlu khawatir. Aku akan menghantuinya dan membuatnya menyesal telah melukai malaikat-ku. Karena aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.

Entah sejak kapan air mataku menetes dengan derasnya, bahkan membasahi lembaran kertas yang ku genggam erat di tanganku. Sakit! Rasanya sangat sakit! Hatiku terasa tertohok. Neji… Hyuuga Neji. Apakah saat ini aku telah melukaimu? Apakah aku telah membuatmu mengkhawatirkanku? Apa tindakanku selama ini membuatmu tidak tenang disana? Neji… tolong, berikan aku sebuah jawaban!

Xxxxx Aku ingin menjadi Sakura xxxxX

Normal P.O.V

Tetes demi tetes air mata mengalir dari pelupuk mata gadis itu. Tangannya masih erat menggenggam secarik kertas dari kekasihnya yang kini telah tiada. Tangan kanannya meraih gaun yang tadi dia letakan dan memeluknya erat, membuat tangisnya semakin tak dapat terbentung. Sebuah tangan meraih pundaknya dan memeluknya erat, mencoba memberinya kehangatan dan menenangkan tangisannya.

"Menangislah… dan jadikan ini sebagai tangisanmu yang terakhir," ucapnya merengkuh erat tubuh gadis yang terkulai lemah itu.

"A-aku… apa aku membuatnya khawatir? A-apakah aku mem.. membuatnya tidak t… tenang?" tanya Sakura pada Naruto dengan tersegan-segan, seakan meminta jawaban dari Neji pada pemuda itu. Naruto menggelengkan kepalanya dan tersenyum tulus pada gadis itu.

"Sakura, bisakah aku menjadi mataharimu?" tanya Naruto. Ditangkupnya kedua belah pipi gadis itu dengan telapak tangannya, dan tepat menatapnya lurus ke pancaran emerald gadis itu. Tatapan yang membuat gadis itu merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam hatinya yang sekian lama membeku.

"Aku…"

Ooo to be continued ooO

Author's note:

Alhamdulillah, chapter 5 akhirnya selesai dibuat. Sebenarnya sudah lama dibuat, tapi berhubung saya malas meng-upload, jadinya hiatus sangat lama, hehehe. :P

Chapter ini mengupas tentang cinta Sakura, dan sedikit mengungkap alasan Sakura membenci Hinata. Bagaimana? Apakah chapter ini mengecewakan? Saya tunggu review-nya. Sebelum dan sesudahnya, saya ucapkan terima kasih! :)