Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing:
Slight KibaHina
Rate: T

Terjadi beberapa waktu pasca invasi Pain.


Day 2: Unobstructed View


Daisan Enshūjō, Tempat Latihan Nomor Tiga, Konohagakure.

Siang yang cerah. Dibawah sinar matahari yang bersinar terik tanpa ampun, Tim 8 tengah melangsungkan latihan rutin di training ground bersejarah itu. Tempat latihan yang penuh kenangan manis bagi Konoha 11, bagian dari memoir perjalanan masa remaja mereka. Tak terkecuali bagi Inuzuka Kiba, Aburame Shino, dan Hyuuga Hinata.

Absennya Kurenai-sensei karena alasan medis tidak dijadikan alasan untuk lantas bermalas-malasan. Selain menyumbangkan tenaga demi membantu membangun kembali Konoha, Kiba dan kawan-kawan tidak membuang sedikitpun waktu yang ada, terus berusaha mengasah kemampuan mereka. Terutama dengan keadaan di dunia shinobi yang kian tak menentu. Setelah invasi Pain, kemungkinan ancaman masih terus ada.

Saat ini, Kiba berkonsentrasi penuh untuk mengeluarkan gerakan andalannya. Seluruh ototnya berkontraksi, sementara mata dan otaknya berkoordinasi cepat menghitung jalur lintasan Taijutsu khusus miliknya. Kali ini, ia harus berhasil mencapai durasi yang ditargetkan.

Sendirian, tanpa bantuan Akamaru. Samar-samar ia dapat mendengar partnernya itu menyalak dengan keras, seakan memberi dukungan moral.

Ia tersenyum tipis.

Kalkulasi selesai.

Semuanya itu terjadi dalam waktu sepersekian detik.

Kemudian…

Yak, sekarang!

"Gatsuugaaa—aaaaaah!" Namun ternyata fokus dan perhitungan tadi tidak cukup baik untuk menghindari penghalang yang berdiri tegak di jalurnya.

Dengan sukses, ia menghantam salah satu pohon kecil yang berada di dekatnya.

Suara keras itu mengalihkan perhatian Hinata dari sebuah buku yang sedang dibacanya. "Ki—Kiba-kun?" Sang Heiress saat itu urung berpartisipasi, hanya mengawasi jalannya latihan karena masih dalam masa penyembuhan dari cedera yang dideritanya.

"Awawaw… aduh, sakiiit…" Kiba terbatuk-batuk, berusaha bangkit dari dari reruntuhan dan hujan serpihan yang mendadak menenggelamkannya.

Ia melemparkan sisa-sisa batang pohon malang yang menjadi korbannya. Dilihatnya darah segar mulai mengalir dari bahu sebelah kiri ke lengan bagian bawah. Lukanya cukup dalam.

Dasar sial.

Kekesalannya bertambah mendengar komentar dingin rekan satu timnya, "Bodoh. Dari sini saja aku bisa melihat kalau tepat dijalurmu itu ada poho—"

"Diam kau, Aburame menyebalkan!"

"Kiba-kun tidak apa-apa?"

Hinata bergegas menghampiri Kiba, kemudian membantu pewaris klan Inuzuka itu berdiri dan membawanya ke bawah pohon teduh tempatnya duduk tadi. Dengan cekatan ia mengobati luka di lengan Kiba dengan jutsu medis sederhana yang dikuasainya, sebagai pertolongan pertama.

"Uh, pasti sakit... tahan sebentar, ya…"

Kiba mengangguk pelan, ia mulai merasakan aliran chakra Hinata yang familiar merasuki tubuhnya, terkonsentrasi menyusun kembali sel-sel yang rusak di lukanya. Sedikit rasa nyeri yang ditimbulkan proses itu memaksa sebuah erangan singkat lolos dari sela bibirnya.

"Ah, maaf Kiba-kun."

Kiba menatap wajah itu. Rambutnya benar-benar sudah panjang ya, terkesan dewasa sekali. Dan jika berbicara tentang kedewasaan, ia jadi teringat—saat itu—kata-kata yang selamanya akan terpatri dalam otak kecilnya...

.

.

"Dulu aku selalu hanya bisa menangis dan menyerah... tapi kau... kau membantuku menemukan jalan yang benar…."

.

.

"Aku hanya ingin bersamamu... kau telah merubah diriku! Senyuman mu telah menyelamatkan ku! Itulah sebabnya aku tidak takut mati untuk melindungimu! Karena... aku... mencintaimu…."

.

.

Kiba diam-diam tertawa kecil mengingat kejadian yang masih segar dalam ingatannya. Hyuuga Hinata... sebenarnya sudah sampai sejauh apa dirinya berkembang? Sebagai salah satu kunoichi terbaik yang dimiliki Konoha, dan juga... sebagai seorang wanita.

.

.

Ya, entah sejak kapan... kau melepas tangan kami yang selama ini selalu berada disampingmu dan mencari jalan mu sendiri.

.

.

Aku salut padamu, Hime.

Aku selalu mengagumimu.

.

.

Hei, apa kau tahu itu?

.

.

Ah... mungkin tidak, ya. Karena di hati itu... hanya ada Uzumaki Naruto.

.

.

"Hinata?"

"Ya?"

"Gagapmu sudah mulai hilang ya?"

"E—eh... i—iya... sekarang sudah mulai berkurang. Mungkin karena aku sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama Kiba..." Kemudian perlahan tapi pasti ia menambahkan, "Lalu dengan Shino-kun, Kurenai-sensei, dan teman-teman seangkatan kita juga begitu."

Seandainya Hime tahu kalau kalimat tambahan yang diucapkannya dengan ringan dan tanpa beban itu menghempaskan secercah harapan dalam diri Kiba.

"Kalau dengan Naruto bagaimana?"

"Na… Na—Naruto-kun?" Hinata mulai terbata-bata lagi, dan bersamaan dengan itu, rona kemerahan mulai bergerak mewarnai wajahnya yang pucat. Mendadak ia menemukan bahwa saat ini kegiatan memainkan sepasang jari telunjuknya lebih menarik daripada menatap langsung lawan bicaranya.

Saksi gerakan canggung gadis Hyuuga itu mendengus. Pelan. Berharap kekesalan yang terlukis jelas di setiap sudut wajahnya tidak terlihat. Ia kemudian bangkit dan menggerakkan tangannya yang sudah diperban dengan rapi.

Yak, sudah bisa dipakai lagi.

"Aku mau lanjut latihan." Katanya pada Hinata.

"Eh, sudah mau mulai lagi?" Gadis berambut indigo itu terkesiap, turut berdiri.

Pengalihan perhatian, Hinata... kalau terus berada disampingmu, lambat laun logika ini akan kalah oleh keganasan hormon remajaku.

"Iya dong. Aku harus bisa memperpanjang durasi Gatsuga ku kali ini." Kiba menjawab sambil lalu, berjalan menuju tengah lapangan untuk kembali bergabung dengan Shino, "Ah, tentu saja akurasinya juga."

"Kiba-kun!" Suara lembut itu kembali memanggil dirinya. Membuat remaja berambut cokelat itu menoleh seketika, menghentikan langkahnya.

"Ya?"

"Kiotsukete…"

Sebuah senyum tulus dilemparkan Kiba sebagai respon permohonan Hinata. Gestur kecil serupa diperlihatkan oleh sang Heiress.

.

.

Kami-sama...

Aku ini benar-benar menyedihkan.

.

.

Demo sore dake de ii

.

.

Setidaknya saat ini, kedua manik jernih itu hanya memandang ke arahku dan senyuman indah itu hanya ditujukan untukku seorang.

Ya, begitu saja juga sudah lebih dari cukup bagiku.


End of Day 2.


Glossary:

[1] Kiotsukete: berhati-hatilah
[2] Kami-sama: Tuhan
[3] Demo sore dake de ii: tapi begitu saja juga sudah cukup

A/N: Oke, dengan suksesnya lebih pendek dari chapter sebelumnya :D Yak, walaupun amat-sangat jauh dari kata sempurna/bagus, saya harap bisa cukup menghibur. Maaf buat yang punya original request, Lawliet-san, kalau kurang memuaskan. Maafkan juga kalau ada fakta yang miss atau gimana, berhubung ini canon, ingatan saya agak-agak kabur pas di bagian flashback NaruHina itu :(

Anyway, terimakasih banyak buat yang sudah bersedia membaca.

See you soon!
Sei