Naruto © Masashi Kishimoto
Characters:
Uchiha Sasuke (7), Hyuuga Hinata (7)
Pairing: Slight SasuHina
Rate: T

Hari-hari Akademi Konoha 11, Terjadi sebelum Uchiha Massacre.


Day 3: Opposites Attract


Dibawah mentari yang bersinar hangat di tengah musim panas, terduduk di tepi sebuah dok kecil yang menjorok ke danau, seorang anak lelaki berambut gelap sedang melangsungkan kontes menatap dengan permukaan tenang dibawah kakinya.

Air.

Begitu biru, jernih, menenangkan. Tak peduli setajam apa intensitas tatapannya, sang tirta tetap tak bergeming.

Bocah berambut raven itu menghela nafas keras. Baiklah, kali ini ia biarkan substansi itu yang menang. Dengan hati-hati ia mencelupkan sebagian kaki yang telah terlepas dari sandalnya ke dalam air.

Dingin.

Dalam artian yang positif. Nyaman dan menyegarkan. Memang begitu seharusnya.

Jelas sekali bukan elemen alaminya.

Ia kembali menarik kakinya.

Apa karena itu ia sangat menyukainya? Apakah itu sebabnya ia begitu tertarik dengannya?

Ia merasakan dorongan tak tertahankan untuk lebih jauh lagi menenggelamkan kakinya dalam belaian lembut larutan bening itu. Anak lelaki lain seusianya pasti sudah membuka seluruh pakaian mereka kemudian terjun tanpa ragu-ragu, memenuhi hasrat mereka untuk segera merengkuh kesegaran air danau. Terbakar oleh semangat musim panas.

Tapi tidak untuknya, karena ia berbeda dari yang lain.

Tidak, bukan itu sebenarnya alasan utamanya. Ia hanya tidak ingin pakaiannya lembab atau basah, menjadikannya tidak nyaman untuk kembali dipakai nantinya. Agak aneh memang, tapi itu yang benar-benar ia rasakan.

"Hmm... bagaimana ya?" Ia bergumam, kebimbangan jelas dalam intonasinya.

Belum sempat ia memutuskan, elemen lain datang menghampiri. Angin yang berhembus cukup keras, menerpa wajahnya, bermain dengan rambutnya. Ia berdecak kesal. Disipitkan matanya, menjaga agar debu-debu dan kotoran yang turut beterbangan tidak mencemari sepasang oniks miliknya.

Ketentramannya terusik.

Ia tidak suka ketika momen pribadinya dirusak.

Lalu dalam area pandangannya yang terbatas saat itu, ia bisa melihatnya. Sekelebat, nyaris tak tertangkap retinanya. Sepucuk kecil bunga Lavender, diterbangkan angin tadi, terjatuh ke permukaan air didepannya. Menimbulkan riak-riak kecil, tidak tenggelam tetapi tetap terapung disana.

Serta merta angin berhenti bertiup. Ia menatap tanpa berkedip tangkai kecil yang perlahan mulai menjauh ke tengah danau.

"Ah..." Sebuah suara lembut sedikit mengagetkannya.

'Anak perempuan?' Ia menoleh.

"U—Uchiha-kun."

Suara itu.

Helaian indigo yang tampak lembut, kemudian... mata jernih dengan sedikit sentuhan Lavender. Wajah bulat namun manis yang familiar baginya.

"Hyuuga..." Kata-katanya perlahan menghilang. Sasuke tidak bisa mengingat nama depannya. Cukup menyedihkan. Ia jadi kesal sendiri. Mengingat mereka sudah hampir satu tahun belajar dalam kelas yang sama.

'Hinari?'

'Hibari?'

'Siapa namanya?'

"Hi—Hinata." Anak itu menjawab, seolah bisa membaca pertanyaan dalam pikiran Sasuke.

"Hn. Itu milikmu?" Sasuke menunjuk dengan gestur sederhana ke arah pucuk Lavender yang masih dalam jarak pandang mereka berdua.

"Hinata" mengangguk pelan.

"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Sasuke. Ia lalu kembali mengalihkan pandangannya ke garis horizon di hadapannya. Jauh dari Hinata. Ia mengharapkan anak perempuan itu akan bosan sendiri lalu meninggalkannya.

Tetapi nyatanya tidak.

Anak perempuan itu tetap berdiri disana dengan tatapan sedih, tak bergeming menyaksikan bunga miliknya yang perlahan terbawa arus kecil menjauh. Ia menggigit bibir bawahnya. Alisnya bertaut, kedua tangannya bertangkup seolah sedang memanjatkan doa.

Ia masih berharap bunga itu akan terbawa arus ke arah sebaliknya.

Sasuke tahu itu.

Jangan tanya kenapa ia bisa tahu.

Pembawaannya yang cuek dan dingin bukan berarti dirinya mengagungkan logika, tak mampu berempati atau bersimpati. Sebaliknya, ia bisa melihat hal yang dilewatkan orang lain. Walau terkadang emosi membiaskan perspektifnya.

'Sudahlah, bukan urusanku. Cepatlah pergi dan biarkan aku di sini sendiri.'

Satu menit berlalu.

Satu menit setengah.

Dua menit.

Dua menit setengah.

'Argh! Kenapa anak perempuan itu merepotkan sekali? Kenapa ia harus berwajah seperti itu, sih? Terpaksa kan aku harus menolongnya? Huh. Apa boleh buat.'

Sasuke berdiri, mengkonsentrasikan chakranya di kedua kaki. Otak kecilnya berusaha mengingat pelajaran yang diberikan ayahnya dan Itachi beberapa hari lalu. Ia tidak yakin kalau ia bisa, karena belum sepenuhnya ia menguasai teknik yang akan diperagakannya sebentar lagi. Namun demi harga dirinya di depan anak perempuan ini, ia akan berusaha sebaik-baiknya.

Perlahan, ia menapakkan satu kaki, kemudian disusul kaki lainnya di atas air. Agak tertatih-tatih ia berjalan di atas permukaan bening itu. Jarak beberapa meter terasa jauh sekali.

Setelah beberapa lama, akhirnya ia sampai juga. Membungkuk, diambilnya Lavender itu dengan hati-hati.

Ia kembali ke tepian dok. Agak puas karena berhasil melakukannya tanpa terjerumus memalukan ke dalam air. Ia harus menceritakan kejadian ini pada ibunya nanti.

"Nih." Ia mengulurkan pucuk itu untuk diambil Hinata, "Sebaiknya cepat kau bawa pulang, nanti layu. Ini sudah terlalu lama ter... terks—terekspos air."

Anak kecil dengan kata-kata sulit. Kombinasi yang menggemaskan.

Hinata menerimanya dengan hati riang. Garis wajahnya yang semula tegang dan kaku berubah menjadi lembut seketika, "A—Ano!" Ia merasa harus mengatakan sesuatu pada Sasuke.

Seperti... permintaan terima kasih?

"Lebih baik kau pergi sekarang, aku mau latihan." Bocah Uchiha itu berkata acuh tak acuh.

"Sasuke-kun!"

"Apa lagi?" Ditatapnya Hinata tepat di kedua mata.

"Arigatou."

Wajah Sasuke langsung memerah dihadapkan pada senyum manis itu. Konsentrasinya terpecah. Kontrol chakra di kedua kakinya hilang dalam sekejap. Sosoknya mendadak menghilang dari pandangan Hinata, tenggelam ke dalam danau. Sasuke bisa merasakan sensasi dingin yang tidak asing lagi menyelimuti seluruh tubuhnya. Refleksnya langsung bereaksi dengan cepat.

"Sa—Sasuke-kun!" Hinata berteriak panik. Bagaimana kalau ternyata Sasuke tidak bisa berenang? Bagaimana ia harus menolongnya? Apa lebih baik ia memanggil bantuan sekarang?

Namun kekalutan Hinata untungnya tidak harus bertahan lama.

Sasuke kembali muncul ke permukaan. Tidak percuma ia belajar berenang sejak usia dini. Terbatuk-batuk, disemburkannya sedikit air tawar dari mulutnya. Tapi ia tetap berusaha tenang, nada suaranya yang kemudian terdengar tetap terkendali. Bagaimanapun juga, terlepas dari usianya, ia adalah seorang laki-laki.

Ditambah lagi, penerus nama Uchiha.

"Hn. Aku tidak apa-apa."

"Ma—maaf ya. Gara-gara aku—"

"Sudahlah. Kubilang tidak apa-apa. Lagipula aku senang kok. Kena air jadi segar panas-panas begini—"

Kata-katanya terhenti. Tapi tidak untuk gerakan kaki dan tangannya, yang menahan kepalanya agar tetap berada di atas permukaan. Walaupun saat ini ia sangat ingin kembali menyelam, kalau perlu berdiam di dasar danau yang paling dalam dan tidak muncul lagi.

'Apa yang kaupikirkan Sasuke? Kata-kata bodoh macam apa itu... sama sekali tidak keren!'

Sebuah tawa kecil terlepas dari mulut Hinata.

Sasuke memalingkan wajah, tersipu ia dibuatnya.

Seutas senyum samar yang perlahan tersungging di bibirnya luput dari perhatian sang Heiress.

Basah.

Malu.

Tapi anehnya, Uchiha Sasuke tidak keberatan.

Ya, ia tidak keberatan sama sekali.


End of Day 3.


A/N: SasuHina! Maaf cuma sebatas seperti ini. Saya belum kebayang hubungan SasuHina yang lebih jauh lagi.

Cheers,
Sei