Naruto © Masashi Kishimoto
Characters:
Sai (16), Hyuuga Hinata (16)
Pairing: Slight SaiHina
Rate: T


Day 4: Picture Perfect


"Dia anggota ROOT, jangan terlalu dekat dengannya, Hime."

Begitulah jawaban yang didapat Hinata ketika ia bertanya kepada Neji apakah sepupunya itu mengenal Sai. Tidak hanya sampai disitu, tanpa diminta Neji lalu menceritakan dengan panjang lebar sejarah ROOT dan ANBU kepada Hinata. Untuk yang terakhir, ia tidak begitu ingat. Saat itu sudah lewat tengah malam dan Hinata terlalu mengantuk untuk mengingat semua rincian yang dibeberkan Neji.

Satu pelajaran berharga yang diambilnya: Hyuuga Neji tidak berbakat menjadi seorang guru sejarah.

Sai—semua orang tahu itu adalah kode nama sementara yang diberikan kepadanya—adalah tambahan baru ke Tim 7 pimpinan Kakashi. Kedatangannya, bukan tanpa kebetulan dan atas perintah langsung dari Tsunade, bersamaan dengan seorang Team Leader pengganti yang tidak kalah anehnya. Seumur hidup Hinata, ia tidak pernah melihat dua orang itu bersosialisasi di desa. Atau sekedar datang ke acara pemakaman yang sepertinya belakangan ini sering mereka adakan. Ia bahkan tidak tahu mereka berdua eksis sebagai warga Konoha sampai suatu hari Naruto bercerita kepada Team 8 (didukung dengan berapi-api oleh Kiba) betapa menyebalkannya anggota baru timnya itu.

Hanya ada satu penjelasan untuk kejanggalan tersebut, mereka berdua adalah anggota ANBU. Bukanlah rahasia lagi kalau anggota pasukan khusus Hokage itu kebanyakan bukanlah makhluk sosial dan memiliki karakter yang terbilang unik. Tidak terkecuali Sai.

Dimulai dari penampilannya. Kulitnya pucat, bukan putih bercahaya seperti kulit Ino atau atau Kurenai-sensei, tetapi benar-benar pucat seperti vampir yang sering Hinata lihat di buku-buku cerita. Lalu kontras dengan warna kulitnya, rambutnya gelap dan halus, selalu terlihat rapi di setiap kesempatan. Seragam lapangannya pun aneh, Hinata bertanya-tanya kenapa Sai mengekspos bagian perutnya. Apa ia tidak takut kedinginan? Atau tidakkah itu terlalu terbuka dan beresiko mengalami cedera lebih parah dalam duel senjata?

Kiba dan kawan-kawan berhasil memojokkan Sai beberapa hari yang lalu dan Sai menjawab ia mengenakan pakaian itu semata-mata untuk mempermudah pergerakannya saja. Jawaban yang tidak terlalu memuaskan, tetapi dapat diterima.

Perilakunya tidak kalah istimewa. Sai kadang memakai ekspresi yang tidak sesuai dengan apa yang keluar dari mulutnya. Misalnya, menghina Naruto dengan senyum manis di wajahnya, atau menceritakan sebuah lelucon dengan mimik serius. Belakangan, ia sering terlihat berjalan santai di tempat umum sambil membaca novel seronok dengan ekspresi datar.

Naruto berpendapat rekannya itu terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Kakashi-sensei.

Ketika melihat Sai, Hinata membayangkan ruang bawah tanah yang dingin dan gelap dimana Sai akan duduk sendiri di sana sambil membersihkan senjatanya satu persatu. Atau mengasah tantou-nya. Ya, Hinata bisa membayangkan Sai melakukan hal itu untuk menghabiskan waktu luangnya.

Jadi, sore itu, Hinata sedikit terkejut ketika ia menemukan Sai dalam gambaran yang jauh berbeda dengan bayangannya.

Pertama kalinya ia bertemu dengan Sai adalah di sebuah lapangan luas dengan rumput hijau, diwarnai dengan bunga-bunga musim semi yang baru saja mekar. Pegunungan berdiri kokoh di kejauhan, cahaya jingga cerah dari matahari yang hampir tenggelam menyinari wajah lembut tanpa ekspresi yang penuh konsentrasi.

Perhatian penuh Sai saat itu diperuntukkan bagi sebuah lukisan yang sedang berusaha di selesaikannya.

"Aku tidak menyangka kau tipe orang yang suka melukis." Hinata memutuskan untuk menyapa Sai.

Sai menoleh, wajah bingungnya cepat berubah menjadi luar biasa ramah ketika ia melihat wajah lain yang familiar. Tanpa berdiri, ia membalas salam Hinata sembari menundukkan kepalanya, "Ah, Hyuuga Hinata. Selamat sore."

"Ti—tidak perlu begitu formal, Sai. Se—selamat sore." Hinata merasakan rona merah mulai menjalar di pipinya. Tidak banyak lelaki di Konoha yang memiliki sopan santun seperti Sai.

"Kupikir wanita menghargai hal-hal seperti itu."

"Umm... kurasa ada benarnya. Hanya saja agak terasa aneh karena ini pertama kalinya aku berbicara langsung denganmu."

"Benar juga," Sai menempelkan telunjuk dan ibu jari kirinya yang tidak memegang kuas ke dagu, "Ini pertama kalinya kita berbicara berdua saja. Tim kita memang sering bertemu, tapi perhatianku selalu saja habis tersita oleh Si Kecil bersuara besar itu."

Hinata berasumsi bahwa yang dimaksud Sai adalah Naruto. Yang tidak ia mengerti adalah kenapa Sai menyebut Naruto dengan sebutan "Si Kecil?" Hinata ingin mencari tahu, namun kemudian ia memutuskan untuk membiarkan kejanggalan itu berlalu. Mungkin kalau nanti ia teringat kembali, ia akan menanyakannya langsung pada Sai.

"Boleh aku duduk di sini?"

"Tentu."

Gadis Hyuuga itu duduk tidak jauh dari Sai. Waktu berlalu sebelum Hinata tiba-tiba bertanya, "Ehm... kenapa Sai melukis?"

Pemuda itu memiringkan kepalanya sedikit, mungkin memikirkan apakah ada maksud lain kenapa tiba-tiba Hinata menanyakan hal itu kepadanya. "Kenapa? Hmm... setidaknya ada dua hal yang bisa kupikirkan."

Sai tidak langsung menjawab. Ia mengambil waktu sejenak untuk menyapukan warna kemerahan matahari di kanvasnya. Hinata memperhatikan gerak-gerik Sai. Menggerakkan kuas, memberikan garis tegas pada bentuk dan menyapukan warna sepertinya sudah menjadi keahlian yang Sai sempurnakan seumur hidupnya.

"Yang pertama... aku melukis karena ingin mengabadikan pemandangan indah yang aku lihat, agar aku tidak melupakannya. Seperti pemandangan saat ini. Belum tentu beberapa bulan dari sekarang aku bisa melihat pemandangan yang sama. Mungkin saja... suatu hari terjadi perang dan hamparan hijau yang kita lihat di depan mata ini tidak ada lagi. Yah, seperti sebuah foto. Untuk mengabadikan momen yang berharga."

"Aku bisa mengerti. Kadang aku menulis puisi. Kurasa aku melakukan hal itu untuk alasan yang kurang lebih sama."

"Menulis puisi?" Sai tertawa kecil, "Aku bisa membayangkannya. Image yang cocok untukmu, seorang Heiress Klan Hyuuga."

Hinata kembali tersipu. Ia bahkan tidak menyadari sudah membeberkan hobi rahasianya yang tidak diketahui oleh banyak orang. Hinata berusaha untuk mengembalikan arah pembicaraan, "Lalu yang kedua?"

"Yang kedua..." Kali ini Sai tersenyum. Ia menurunkan kuas lalu mencondongkan badannya untuk menatap wajah Hinata lebih dekat lagi, "Apa kau tidak keberatan untuk datang ke sini lagi besok? Waktu yang sama. Akan kuberitahu alasanku yang kedua."

Hinata mengangguk, tanpa ragu menerima ajakan Sai.

.

.

.

Esoknya, Hinata datang di waktu yang sama. Selepas bertegur sapa, ia duduk dalam diam memperhatikan Sai menyelesaikan lukisannya. Sesekali, Hinata menulis dalam buku puisi kecil yang di bawanya. Tempat yang menyediakan pemandangan indah ini memberikannya inspirasi dan motivasi untuk menulis.

Beberapa bait puisi berhasil Hinata selesaikan ketika akhirnya ia menyadari Sai sudah berhenti melukis dan tengah menatap satu sketsa hitam putih di sebuah buku. Buku yang tampak sudah berumur melihat kondisinya, mungkin memiliki usia yang sama dengan mereka berdua.

"Sai?" Didorong rasa ingin tahu, Hinata bertanya dengan lembut.

Sai membuka halaman tepat di tengah-tengah buku tersebut. Kedua halaman yang menyatu menampakkan lukisan dua anak lelaki dengan seragam serupa yang sedang berpegangan tangan, "Ini aku dan kakakku, Shin namanya."

"Dimana Shin sekarang? Apa ia juga anggota ANBU?"

Ekspresi Sai yang ditunjukkan sebagai respon dari pertanyaan itu sudah menjawab pertanyaan Hinata.

"Dulu kami sangat dekat, seperti saudara. Karena dia lebih tua, aku menganggapnya seperti kakak lelakiku. Ia mengajariku banyak hal. Sekarang aku belum bisa menceritakan detail-nya kepadamu, tapi... Shin sudah tidak ada lagi di dunia ini. Di dalam lukisan, aku berusaha membuat akhir ceritaku sendiri. Di sini, aku bahagia dan bisa terus bersama Shin, sebagai sebuah keluarga. Sayangnya pada kenyataannya tidak begitu." Sai menutup buku sketsa di pangkuannya.

"Alasan kedua aku melukis adalah... untuk menangkap mimpi. Aku ingin melukis harapan dan mimpi-mimpi dari suatu objek. Bisa benda mati, bisa juga benda hidup. Atau dalam kasus seperti yang baru saja kuceritakan padamu, mimpiku sendiri."

"Nah, Hyuuga Hinata, untuk alasan itulah aku menggambar lukisan-lukisan di buku sketsaku." Sai menutup penjelasannya dengan sebuah senyuman. Ia lalu mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari dalam ransel dan menyerahkannya kepada Hinata.

"Untukmu. Terima kasih sudah menemaniku dan mendengarkan ceritaku."

Gulungan itu berpindah tangan. Dengan hati-hati, Hinata membukanya. Seperti yang ia duga, di dalamnya adalah sebuah lukisan. Di lukisan itu ada Hinata, duduk di atas rerumputan dengan pemandangan yang sama seperti yang ia lihat sekarang. Di sebelahnya, ada Sai. Sai yang sedang melukis di atas kanvas. Di sketsa itu, keduanya tampak sedang tertawa bahagia, seperti salah satu di antara mereka baru saja mengatakan sesuatu yang lucu.

Hinata teringat pertemuan mereka kemarin sore. Juga hari ini. Ia juga berpikir akan sangat menyenangkan jika ia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Sai dan suatu hari mereka akan tertawa bersama seperti cerita dalam lukisan di tangannya.

Sebuah pertanyaan langsung terlintas di benak Hinata.

"Lalu... Sai melukis ini untuk alasan yang pertama atau yang kedua?"

Sai tersenyum, mengalihkan pandangan dari matahari yang hampir terbenam ke wajah Hinata sebelum menjawab, "Keduanya."


End of Day 4.


A/N: Alasan kedua Sai, melukis untuk menangkap mimpi, saya ambil idenya dari film Hugo: Films have the power to capture dreams. Buat yang belum nonton, highly recommended. Hugo sangat inspiratif, setidaknya menurut saya ;) Coming up next: ShinoHina? NejiHina? NaruHina?

Terima kasih.
Sei.