Naruto © Masashi Kishimoto
Characters:
Hyuuga Neji, Hyuuga Hinata
Pairing: One-sided NejixHinata, One-sided HinataxNaruto
Rate: T


Day 7: Indigo Fields


Seseorang pasti memiliki paling tidak satu hal yang dikagumi dari pasangan atau orang yang disukainya. Baik itu ciri fisik, maupun sisi emosional.

Dulu, Neji sering mendengar hal itu dari orang-orang terdekat.

Rock Lee, rekan satu timnya pernah berkata bahwa kombinasi mata hijau cerah Sakura dan rambut merah jambunya sangatlah indah. TenTen berpendapat bahwa kilauan metal dari senjata yang baru selesai di tempa adalah bentuk karya seni yang tidak ada tandingannya. Bahkan Gai-sensei bersikeras bahwa mata gelap Kakashi yang selalu menampakkan ekspresi malas tampak menghipnotis, membuatnya tak kuasa untuk terus menatapnya.

Sebentar, untuk yang terakhir itu sepertinya memiliki makna yang berbeda. Neji merasakan rambut-rambut halus di lehernya mulai berdiri. Ia membuang memori terakhir jauh-jauh.

Begitu juga dengan Neji.

Hyuuga Neji si jenius yang selalu terlihat tenang dan dewasa itu juga memiliki infatuasi terhadap salah satu ciptaan Tuhan yang ia anggap paling indah.

Neji menyukai rambut milik Hinata.

Warnanya indigo, Neji perlu menegaskan. Bukan biru biasa, bukan juga tipikal ungu, tetapi sebuah spektrum spesial di luar warna dasar dengan identitas khusus: indigo.

Ya, sejak dulu, sejak pertama kali mereka bertemu, Neji selalu menganggap itu adalah warna paling cantik yang pernah dilihatnya. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa prodigi milik Klan Hyuuga itu mempunyai keinginan terpendam untuk melihat Hinata yang berambut panjang. Rambut pendeknya yang sekarang memang manis, namun, Neji tetap saja tidak bisa menyingkirkan image yang sangat ingin dilihatnya dari kepalanya.

.

.

.

Jadi, ketika mereka berdua sedang duduk berdua saja di belakang rumah utama Hyuuga seusai sesi sparing bersama, Neji bahkan tidak berpikir dua kali ketika ia mengucapkan kebohongan itu kepada Hinata. Ia masih ingat dengan jelas, saat itu Naruto telah meninggalkan Konoha untuk berlatih di bawah bimbingan langsung Jiraiya dan Hinata sendiri baru saja pulih dengan sempurna dari cederanya.

"Hinata, kau tahu, Klan kita memiliki sebuah tradisi."

"Tradisi? Tradisi apa, Neji-nii?"

"Ketika seorang Hyuuga menentukan suatu tujuan hidup atau sebuah mimpi dalam hidupnya, mereka tidak akan memotong rambut mereka sampai impian itu tercapai."

Neji menjelaskan dengan ekspresi seriusnya yang khas, sementara Hinata menampakkan air muka yang jauh berbeda.

"Be-benarkah? Aku tidak pernah mendengar tradisi itu sebelumnya."

Hinata tampak luar biasa tertarik dan Neji sedikit merasa bersalah. Konoha Sebelas ada di bawah pengaruh halusinasi bahwa Hyuuga Neji adalah orang yang akan selalu berjalan di garis lurus dan berkata jujur. Namun mereka melupakan beberapa fakta penting seperti: Hyuuga Neji adalah seorang anak manusia dengan emosi dan Hyuuga Neji juga seorang remaja laki-laki dalam proses pertumbuhan yang sehat.

Ia melemparkan satu umpan lagi, "Memangnya kenapa kau pikir sebagian besar laki-laki dalam Klan Hyuuga memiliki rambut panjang?"

"U-umm... berarti Neji-nii—"

"Ya, aku juga punya sesuatu yang ingin kuraih dengan tanganku ini, sayangnya itu belum tercapai."

"Apa aku juga boleh melakukannya?"

"Memanjangkan rambut?" Neji tertawa pelan, "Tentu saja."

Wajah polos yang tampak bahagia ketika Hinata berkata bahwa ia juga ingin melakukan hal yang sama membuat pemuda itu tidak tahan untuk menggoda sepupunya lebih jauh lagi.

"Apa mimpi ini berkaitan dengan Uzumaki Naruto?"

Wajah merah padam Hinata yang ditunjukkan sebagai reaksi cukup menjawab pertanyaan Neji. Hinata sendiri tampaknya terlalu gelisah menghadapi tawa Neji yang belum juga terhenti setelah beberapa waktu, jadi sang Heiress memohon diri untuk pergi ke dapur. Di sana, ia menyeduh teh kemudian kembali dengan membawa satu pot untuk mereka berdua.

"Terima kasih." Bisik Neji. Ia lalu menuangkan teh yang masih panas ke dalam dua gelas kecil yang tersedia.

"E-eh? Untuk apa, nii-san?"

"Tentu saja untuk tehnya." Tawa Neji kembali lepas, namun tetap terdengar lembut dan sopan merespon pertanyaan Hinata.

Jadi Hinata masih gugup karena efek godaan Neji sebelumnya. Uzumaki Naruto memberikan efek yang luar biasa.

"Neji-nii banyak tertawa hari ini," Hinata tersenyum, masih sambil tersipu, "Kurasa itu juga membuatku bahagia."

"Itu sudah menjadi tugasku..."

"Begitukah?"

Mereka berdua mengambil waktu sejenak untuk menikmati teh masing-masing sebelum akhirnya Neji berbicara kembali, "Mungkin aku sudah pernah mengatakan ini padamu, Hinata... aku tidak akan membuang sedetik pun waktuku di dunia ini untuk terus berkembang. Aku akan menjadi seorang shinobi, seorang Hyuuga yang akan dapat diandalkan untuk melindungi Konoha, Klan Hyuuga dan juga untuk melindungimu."

"Kalau begitu..." Hinata menatap Neji tepat di kedua mata dengan ekspresi yang sama, determinasi yang sama, dan intonasi tegas yang sama tanpa keraguan sedikit pun, "Apakah Neji-nii mengizinkanku untuk berbuat yang sama?"

"Tentu saja."

Dua kata itu keluar secara otomatis dari mulutnya karena Neji tahu bahwa mulai sekarang, mereka akan selalu melangkah bersama, berdampingan. Status mereka sebagai anggota Sōke dan Bunke akan terus ada untuk selamanya, namun kali ini (dan Neji percaya pada suatu konsep abstrak bernama harapan) keadaan telah bergerak ke arah yang lebih baik.

Semuanya, kecuali satu.

Hinata mempercayai kebohongan kecilnya dan Neji sama sekali tidak merasa bersalah. Ya, salahkan saja para malaikat cherub imajiner yang beterbangan sambil menembakkan anak panah di sekeliling kompleks Hyuuga.

.

.

.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Naruto!"

.

"Apa yang kau lakukan, Hinata! Pergi dari sini, kau bukan tandingan—"

"Aku tahu... aku hanya... bersikap egois."

.

"Apa yang kau bicarakan! Cepat pergi! Di sini berbahaya!"

.

.

"Aku di sini karena kemauanku sendiri, Naruto."

.

.

.

Neji selalu tahu bahwa Uzumaki Naruto adalah segalanya bagi Hinata. Naruto adalah sosok yang selalu dilihat dan dikagumi Hinata. Cahaya menara pemandunya dalam setiap keterpurukan, kegagalan, keputusasaan. Naruto membantu Hinata menemukan artinya dalam hidup. Sesuatu yang tidak dapat Neji lakukan seorang diri.

Neji pun sadar akan perasaannya sendiri terhadap Hinata. Neji sangat menyayangi Hinata. Perasaan irasional itu mengalir dalam darah di setiap kapiler nadinya yang menjelma menjadi loyalitas serta rasa memiliki—yang tentunya tidak akan ia definisikan sebagai posesif. Entah karena ikatannya sebagai seorang Bunke ataupun karena instingnya sebagai seorang kakak laki-laki.

Yang jelas, melindungi Hinata adalah kemauannya sendiri.

Neji telah memilih jalan ini sebagai takdirnya dan itu berarti Neji akan memastikan perasaannya sendiri terhadap Hinata akan terus terlindungi untuk melindungi Hinata.

Prinsip yang bodoh, bodoh dan bodoh namun Neji terus berpendapat bahwa jalan inilah yang terbaik.

Pemikiran itu membawanya ke salah satu sudut kenangan yang kadang diulangnya berkali-kali di dalam kepala. Kenangan manis di sela-sela kekacauan bernama Konoha-yang-sedang-membangun pasca Invasi Pain.

.

.

.

"Nah, apa sekarang kau akan memotong rambutmu?"

"Aku sudah memutuskan untuk tetap menjaganya."

"Bukankah kau sudah menyampaikan perasaanmu pada Naruto?"

"Perjuanganku belum berakhir, Neji-nii... untuk Naruto dan untuk Klan Hyuuga. Aku ingin Neji-nii terus memperhatikanku sampai aku bisa meraih mimpi-mimpi itu."

Neji berdiri dalam diam, mengangguk. Minimalitas dalam gestur mengkhianati perasaannya yang bergejolak.

(Tanpa kau minta pun, mata ini akan selalu melihat ke arahmu.)

"Lalu, apa suatu saat nanti Neji-nii sendiri tidak akan memotong rambutnya?"

"Maaf, aku tidak sepenuhnya jujur padamu, Hinata..." Ia berkata dengan suara yang dibuat rendah, matanya terpejam, "Aku tidak akan memotong rambut ini untuk selamanya."

"Ke-Kenapa Neji-nii?

Neji bisa membayangkan ekspresi Hinata saat itu dari balik kelopak matanya dan seandainya, seandainya Neji mengucapkan apa yang sebenarnya ada di pikirannya, apa ekspresi Hinata maupun ekspresinya akan tetap sama?

(Karena... segalanya, rambutku, tanganku, bahkan kedua mata ini, mewakili perasaanku terhadapmu. Aku akan melindungimu sebisa mungkin, dengan kekuatanku sendiri. Aku akan terus melindungimu sampai kau menemukan pria yang tepat, dan mungkin... mungkin saat itu aku akan mulai memikirkan mimpi untuk diriku sendiri.)

Hei, wajah seperti apa yang akan kau tunjukkan, Hime?

"Neji-nii?"

Panggilan lembut Hinata menarik dua manik transparan itu untuk kembali terbuka dan roda-roda di otaknya kembali berputar keras untuk menemukan jawaban lain, sebuah pengalihan.

Sebuah kebohongan.

"Karena..." Neji akhirnya tersenyum. Penuh makna, yang tidak diketahui atau terbaca oleh siapapun, "... karena aku menyukainya, rambutku yang panjang dan halus ini."

Ah, malaikat cherub telah beraksi kembali. Hinata tidak yakin dengan pendengarannya saat ini.

Seorang Hyuuga Neji... melucu?

Namun, melihat perilaku Neji yang sekarang sedang menelusuri rambutnya sendiri lalu memeriksa keadaan ujungnya (memastikan agar tidak bercabang katanya) membuat tawa lepas Hinata yang jarang terdengar mengalun di antara desiran angin dan teriknya sinar matahari.

Dan Neji... sesungguhnya Neji ingin mengabadikan tawa itu untuk selamanya.

Namun untuk saat ini, sebuah senyum tulus yang didedikasikan untuk seorang putri bermahkotakan helaian indigo yang berkilauan sudah cukup baginya.


End of Day 7.


A/N: Selesaiiiiiii juga akhirnya. Fiuuuuh. Udah pernah ada yang bikin NejiHina dengan ide seperti ini? Kalau ada tolong kabarin saya ya, saya sama sekali belum pernah baca fic NejiHina yang ada di FFn.

Terima kasih sudah bersedia membaca :)

Sei