Naruto © Masashi Kishimoto
Characters:
Uzumaki Naruto (20), Uchiha Sasuke (20), Hyuuga Hinata (20)
Pairing: NaruHina, SasuNaru Friendship
Rate: T


Day 8: The King and His Lionhearts


Serangan itu datang secara tiba-tiba ketika Sasuke, Naruto, Hinata dan Sakura sedang melangsungkan pertemuan diplomatik bulanan mereka dengan Sang Kazekage.

Beberapa orang missing-nin tanpa atribut khusus yang menegaskan identitas mereka menerobos masuk, bersamaan dengan sebuah ledakan besar yang lantas memecahkan dinding kaca di ruang kerja Sabaku no Gaara menjadi kepingan tajam yang berhamburan ke segala arah.

Di tengah kekacauan, Uchiha Sasuke mengaktifkan Mangekyou-nya dan ia melihat Naruto melesat dengan sigap—walaupun ia hanya menangkap sekelebat bayangan kuning dari rambut pirang pemuda itu—untuk mencapai Hinata, beberapa meter jauhnya dari tempat mereka berdiri. Maka dengan refleks Sasuke melindungi Sakura. Ia mematerialisasikan sebuah perisai mini dari kekuatan Susanoo. Sabaku no Gaara sendiri sudah menghilang dari pandangan, Kazekage sahabat mereka itu sudah mengambil tempat tertinggi, di atap, untuk mempermudah dirinya menyusun serangan balasan.

Para penyusup yang kurang beruntung.

Mereka harus menghadapi lima shinobi terkuat dari generasi mereka. Seorang Uchiha bersenjatakan Susanoo, dua Kage termuda dalam sejarah dunia, seorang medic-nin dengan kekuatan diluar batas kemanusiaan dan seorang Hyuuga dengan Byakugan berdeterminasi tinggi.

Ancaman berhasil dinetralisir dalam waktu yang cukup singkat. Pihak Suna menyampaikan permintaan maafnya secara resmi dan berencana untuk membuat kesatuan penyelidik dengan Konoha. Sakura dan Hinata pergi dengan Temari dan Kankurou untuk membahas masalah tersebut lebih jauh. Semua pihak berniat untuk menyingkap dalang di balik penyerangan ini secepatnya.

Namun ada hal lain yang jelas mengganggu pikiran Sasuke.

Sejak tadi, ia sama sekali tidak berpartisipasi dalam tindak lanjut dari insiden tersebut. Matanya jatuh pada sosok Hokage muda yang sedang berbincang dengan Gaara. Sebuah senyum miring terbentuk di wajah Sasuke ketika akhirnya pewaris tunggal Klan Uchiha itu menutup analisis-monolog yang berlangsung di kepalanya.

Dalam perjalanan pulang, Sasuke berbisik kepada Sang Hokage bahwa ia akan mentraktirnya ramen begitu mereka kembali ke Konoha, yang tentu saja direspon dengan teriakan semangat Naruto.

Ternyata memang ada beberapa hal dalam hidup yang tidak pernah berubah.

.

.

.

"Kau mau menjelaskan padaku apa maksud perilakumu tadi?"

Mereka tiba di Konoha tepat seperti rencana mereka, setelah matahari terbenam. Sakura pergi untuk tugas malamnya di rumah sakit, sementara Hinata langsung pulang ke rumah. Naruto, menghiraukan bertumpuk-tumpuk laporan yang menunggu di meja kerjanya, menarik Sasuke untuk memenuhi janjinya menuju Ichiraku.

Jadi di sinilah sekarang Sasuke duduk, satu lengannya beristirahat di meja dan satu lagi bertengger di pinggangnya sendiri. Ramen-nya yang mulai dingin tidak tersentuh. Ia menggelengkan kepala melihat Naruto sudah mulai beralih ke mangkuk ke empatnya.

"Mwaksudmuffh apfwa siwh, Sassyuke?" Ia bertanya dengan mulut penuh mie. Sasuke menjauhkan posisi badannya dari Naruto ketika percikan kuah Pork Ramen itu mengancam untuk mengenai lengannya. Naruto tampaknya menyadari perilaku tidak sopannya, ia lantas menelan makanan yang ada di mulutnya dan menyeka bibirnya dengan serbet sebelum berbicara kembali.

"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Perilaku apa? Kapan? Dimana?"

"Menara Kazekage. Tadi siang. Kau melindungi Hinata alih-alih Sakura. Kukira Sakura cinta abadimu?"

"Memangnya aku pernah bilang begitu? Lagipula tadi aku berada lebih dekat ke Hinata daripada Sakura."

"Bodoh, aku ada di sana. Aku yang lebih dekat ke Hinata daripada kau, Hokage-sama."

"Lalu? Apa kau tidak pernah mendengar kata refleks? Kenapa kau selalu membuat masalah dari hal-hal kecil, Uchiha?"

"Hn, hal-hal kecil katamu? Hal-hal kecil seperti... sudah empat tahun kau menggantungkan lamaran Hinata?"

"Hah?! Hinata-chan tidak pernah melamar—"

"Hinata menyatakan perasaannya padamu di pertarungan terakhir melawan Pain... kau belum memberikan respon konkrit apapun sampai sekarang. Aah... kau mau bertanya darimana aku dengar hal itu? Sakura. Ya, aku mendengarnya dari Sakura. Jadilah lelaki yang sedikit bertanggung jawab, wahai Hokage-sama."

"Aku menghentikan Pain! Kita mengakhiri Perang Dunia! Apa itu tidak cukup?"

"OK, kau menghajar Pain, mengakhiri Perang Dunia, kemudian hanya dalam waktu empat tahun menjadi seorang Hokage. Hebat. Setelah itu, apa kau dan Hinata sudah bicara dari hati ke hati?"

Aku sedang dalam perjalanan membentuk diri menjadi seorang Hokage! Empat tahun lamanya aku mengembara seorang diri menjelajahi dunia! Empat tahun! Aku terlalu fokus pada latihanku dan benar-benar melupakan masalah percintaan!

Inner-Naruto berteriak, Kurama memaksa untuk keluar, Naruto terdiam, Sasuke tampak tidak terkesan.

Sampai kapanpun, Naruto tidak akan mewujudkan jeritan hatinya menjadi ucapan. Ia tahu alasan itu akan terdengar sangat payah di hadapan seorang Uchiha Sasuke. Orang di sebelahnya ini adalah orang yang rela mengejar Uchiha Itachi sampai ke neraka terdalam dan memporak-porandakan kestabilan di dunia shinobi hanya untuk mendapatkan secercah kebenaran.

"Payah."

"Temeeee, ini semua salahmu juga tahu! Kau berlari ke sana kemari, tanpa mempedulikan perasaan orang lain, memangnya tidak sulit untuk mencarimu, membawamu kembali? Lalu ada Perang Dunia! Perhatianku tersita—"

"Hn. Yang penting kan aku sudah kembali dan Perang Dunia sudah berakhir. Nah, sekarang kita kembali pada isu yang tertinggal di tangan. Apa yang akan kau lakukan tentang Hinata? Apa kau menyukainya? Bagaimana perasaanmu terhadap dirinya?"

"Aku merinding mendengarmu berbicara panjang lebar tentang masalah percintaan. Tidak cocok. Sama sekali tidak cocok dengan karaktermu. Jangan-jangan kau... bunshin ya? Siapa kau dan apa yang kau lakukan dengan Sasuke yang asli?" Naruto menyentuhkan sebuah jari telunjuk ke dada sahabatnya.

Jari telunjuk itu tetap di sana selama beberapa detik.

Sasuke menepis tangan Naruto dengan wajah datar, sedikit tidak sabar.

"Dengar baik-baik, aku punya ide dan aku hanya akan mengatakan ini sekali," Sasuke mengacungkan jari telunjuknya ke tengah-tengah mereka. Naruto menatapnya lurus sambil sedikit memiringkan kepala, "Salah satu ciri bahwa kau menyukai seseorang, jantungmu akan berdegup kencang dan wajahmu akan memerah setelah bertemu dengannya, lalu kau... kau akan ingin menghabiskan waktu bersama dengannya, melakukan apapun. Paham tidak, Dobe?"

"Paham," Naruto mengangguk, mengacuhkan panggilan Dobe yang dilemparkan Sasuke, "Lalu apa yang harus kulakukan?"

Ia tidak tahu apakah Hinata memiliki efek seperti itu terhadapnya. Ia bahkan tidak ingat mengalami hal seperti itu ketika bertemu dengan Hinata tadi pagi. Namun tentu saja, tadi pagi juga ada Sakura dan Sasuke. Ia tidak bisa memastikan jika mereka hanya berdua saja.

"Besok tanggal berapa?" Sasuke menariknya dari dunia lamunan.

Naruto mengangkat bahu. Bagus, Konoha sekarang memiliki seorang Hokage maniak ramen yang tidak hafal tanggal. Teuchi yang mendengar pertanyaan itu menjawab untuk Naruto, "Tujuh belas."

"Tujuh belas Desember. Pas sekali. Dua hari lagi Hinata berulang tahun. Untuk memastikan kunjungilah rumahnya, bawa kado untuknya. Mengerti?"

"Ka-kado?" Sumpit Naruto jatuh ke dalam mangkuk yang hampir kosong.

"Bisakah kau melakukannya?"

"Ye-yeah aku bisa melakukannya. Hinata suka bunga. Akan kubawakan bunga. Ya, bunga terdengar bagus."

"Kau tahu benda favoritnya. Bagus, kau tidak benar-benar bodoh rupanya."

"Hei!"

"Tidak akan aneh, orang-orang hanya akan menganggap bahwa Rokudaime Hokage bermaksud menjalin hubungan baik dengan rumah utama Hyuuga. Aku, sang pengawal yang setia, bahkan akan pergi denganmu kalau kau mau."

"Tidak, tidak usah. Aku akan melakukan hal ini sendiri. Aku ingin melakukannya."

"Bagus, itu bagus," Sasuke tersenyum, menepuk-nepuk punggung Naruto, "Semoga berhasil. Sebenarnya aku juga mungkin ada misi selama beberapa hari ke depan, tapi aku akan coba untuk pulang tepat pada waktunya. Jangan lupa kabari aku bagaimana hasilnya ya."

Tekad Naruto sudah bulat. Ia mengacungkan sebelah ibu jari dan memamerkan senyum khasnya dengan penuh semangat. Sayang, senyum jahil yang terbentuk di wajah Sasuke luput dari perhatiannya saat itu.

.

.

.

"Selamat ulang tahun! Kudengarhariinikauberulangta ...hun?"

Bukanlah kalimat pembuka yang pantas atau bisa di bilang mulus untuk memulai eksplorasi perasaan seorang lelaki terhadap lawan jenisnya.

Namun apa daya, pemuda Namikaze itu merasakan sensasi gugup yang luar biasa sejak ia menginjakkan kaki ke dalam pemukiman utama Hyuuga. Bisa ditebak, ketika Hinata yang menyambutnya di pintu masuk, wajah Naruto serta merta berubah menjadi semerah tomat, makanan favorit Sasuke. Tunggu dulu, pikirannya benar-benar kacau saat ini. Kenapa makanan favorit Sasuke tiba-tiba ikut masuk dalam pikirannya? Memori Naruto bereaksi secara otomatis, menendang wajah tampan sang shinobi jenius keluar dari kepalanya.

Sudah lama ia tidak bertemu langsung berdua saja dengan Hinata, mungkin inilah penyebab kegugupannya. Ia berusaha menguasai diri. Naruto beruntung karena saat itu Hinata merasakan emosi yang sama.

"Te-terima kasih Naruto-kun, ta-tapi..."

"Ke-kenapa Hinata-chan?"

Kedua mata Hinata yang tampak lebih besar dari biasanya menatap Naruto dengan rona merah di pipinya.

"Ulang tahunku masih sepuluh hari lagi, tanggal 27."

Naruto tersenyum simpul. Senyum paling manis yang pernah dilihat Hinata. Namun jika diperhatikan baik-baik, sudut mulutnya di sebelah kanan agak sedikit naik. Naruto mengacak-acak rambut belakangnya. Dalam hati, hasrat membunuhnya mulai menumpuk. Ia bersumpah akan menggunduli rambut Si Uchiha Tukang Manipulasi itu dengan kunai—shuriken mungkin lebih baik—jika ia pulang dari misi nanti.

Tapi Naruto sudah datang sejauh ini. Ia tidak mungkin mundur sekarang. Jadi ia menyerahkan beberapa tangkai bunga Lavender yang sudah dirangkai menjadi sebuah bouquet yang cantik—ia harus berterima kasih pada Yamanaka Ino untuk ini—dan Hinata menerimanya dengan ekspresi bahagia yang luar biasa. Ekspresi yang lagi-lagi membuat jantung Naruto berdebar dengan lucu, seperti habis terkena efek Chidori, jutsu andalan Sasuke. (Hei, apa-apaan! Pergi kau, Sasuke!)

"A-ano, karena Naruto-kun sudah repot-repot datang ke sini, mau masuk sebentar?"

"Aku tidak mengganggu?"

"Tentu saja tidak, aku sedang berlatih dengan Hanabi dan Neji-nii di Dojo."

Naruto kembali memamerkan senyum megawatt-nya. Kali ini tulus, khas Namikaze. Kata-kata seperti "berlatih" dan "Dojo" kembali membangkitkan semangatnya. Setidaknya, itu adalah salah satu dari sedikit kegiatan yang mengizinkan Hokage muda itu untuk berpartisipasi.

"Boleh aku bergabung? Sudah lama aku tidak sparing Taijutsu dengan Neji."

Dan tentu saja, Hinata menyambut permohonan Naruto dengan senang hati.

Pasangan yang kemudian menghilang ke dalam bangunan rumah utama Hyuuga itu tidak melihat adanya sosok ketiga yang memperhatikan mereka dengan seksama, bertengger di dahan pohon tertinggi layaknya seekor elang yang sedang mengintai mangsa.

"Hn, kerja bagus... Hokage-sama." Sosok itu bergumam, kepuasan di wajahnya tersembunyi dengan baik di balik topeng rubah yang dikenakannya. Tak seorangpun termasuk para shinobi Klan Hyuuga yang sedang berpatroli menyadari kehadirannya ketika ia menghilang dengan jutsu.

Naruto menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperkirakannya di rumah Hinata.

.

.

.

Hari itu hanyalah permulaan dari pertemuan-pertemuan kecil lainnya.

Hinata dan Naruto akan meluangkan waktu mereka di tengah-tengah kesibukan masing-masing, karena tentunya Rokudaime Hokage dan pewaris utama Klan Hyuuga memiliki banyak urusan formal yang harus mereka hadapi setiap hari, tetapi hal itu tidak menjadi halangan bagi mereka berdua untuk terus bertemu. Walaupun hanya untuk sekedar menikmati waktu minum teh dan makan dango atau makan siang bersama di Kedai Ramen Teuchi.

Pertama kalinya Hinata berinisiatif untuk meminta Naruto menemaninya adalah hari yang akan mereka berdua ingat untuk selamanya. Ketika itu Hinata tentu saja terbata-bata akibat terserang kegugupan yang luar biasa. Naruto berusaha untuk bersikap gentleman dan terus mendengarkan, tapi darah Uzumaki dalam dirinya tidak membuatnya menjadi orang paling sabar di dunia. Jadi belum selesai Hinata berbicara, Naruto mengenakan sandalnya, meraih tangan Hinata dan menariknya pergi.

"Mulai sekarang, Hinata... kemanapun kau mau pergi, aku akan menemanimu. Kau hanya perlu untuk mengatakannya padaku."

Itu adalah pertama kalinya Naruto menggenggam erat tangan Hinata.

.

.

.

"Hinata!"

Nama gadis itu adalah hal pertama yang disebutkan Naruto ketika ia membuka pintu apartemen, tidak sengaja membantingnya hingga terbuka.

Kosong.

Namun ia bisa mencium aroma masakan yang familiar. Seseorang jelas ada di dalam. Tapi dimana? Pertanyaan yang kemudian terjawab oleh suara lembut, terdengar dari arah dapur.

"Naruto-kun, aku di sini."

Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu segera menemukan sosok yang dicarinya. Benar saja, Hinata sedang berkonsentrasi mengaduk apa yang tampak seperti sup di kompor yang menyala, namun ia menyempatkan untuk menyambut Naruto dengan sebuah senyum manis dan bisikan "Okaeri". Naruto menyimpan momen itu baik-baik di dalam prosessor otaknya—mungkin lebih baik lagi kalau ia membuat memori cadangan, berjaga-jaga agar pemandangan itu tidak hilang untuk selamanya.

Berjalan mendekat, mata birunya menangkap beberapa tangkai bunga berwarna ungu lembut dalam sebuah bingkai yang berada di dinding. Mengeringkan berbagai macam jenis bunga lalu mempreservasi-nya dalam album adalah hobi Hinata. Kadang, ia akan membingkai beberapa jenis bunga favoritnya, menyulapnya menjadi hiasan dinding yang cantik.

Seperti saat ini.

"Bunga baru? Apa itu... Lavender?" Naruto mencoba menerka dengan pengetahuan yang seadanya mengenai dunia flora. Hinata tertawa.

"Hanya karena warnanya ungu, bukan berarti itu Lavender, Naruto. Itu bunga Hebe. Memang mirip dengan Lavender."

"Cantik sekali..."

"Aku senang Naruto menyukai bunga yang kupilih, aku tahu kau terus menatapnya sejak masuk ke ruangan ini."

(Ya Tuhan, gadis ini bahkan tidak tahu bahwa pujian itu ditujukan untuk dirinya.)

"Tidak, Hinata... aku kan sudah pernah bilang, hanya akan menatap dirimu, selamanya." Kedua tangan Naruto bergerak lambat melingkari pinggang pasangannya, kemudian menghadiahkan satu kecupan lembut di pipi.

"Apa aku mendengar sebuah proposal, Tuan Namikaze?"

"Bodoh," Pemuda itu tertawa, pelukannya semakin erat di tubuh Hinata, "Kita kan memang sudah menikah selama dua bulan... Nyonya Namikaze."


Fin.


A/N : Chapter terpanjang di EDW! Semoga ending di manga-nya beneran NaruHina, amin :D Yep, this is the last day, everyone. Dan ya, saya pro NaruHina. Sakura boleh buat Sasuke. Neji punya TenTen, Sai sama Ino, Kakashi? Antara Yamato, Obito atau Iruka (pasang muka datar—kabur nyelametin laptop dari kejaran massa).

Terima kasih untuk dukungannya selama ini. Buat yang review, alert, fave, terima kasih banyak. Saya cinta kalian semua :*

Cheers!
Sei