Author's note: Yoooo Minna-san! Akhirnya aku balik lagi hahhahahaaXD *memang kemana tadinya?-.-
Tadinya mau post tanggal 22, tapi nggak tau kenapa jadinya tengah malem gini hahahha
dan aku ingkar janji lagi...harusnya cuma ada dua OC, tapi malah jadi tiga (_ _)"
Oke..nikmatin aja deh apa adanya..semoga ini ga mengecewakan kaliaan :D
Note : This Fict Dedicated to Razux. Without her, this story will remain forever in my file and i will never
any guts to publish this. Thanks Razux XD
Disclaimer: I DO NOT OWN Gakuen Alice and all that belongs to Tachibana Higuchi-Sensei. I DO admire her artwork
and her ability to make such a wonderful story. But this plot, and all the Original Character are mine.
Chapter One: The Meeting, Fate starts its wheel
Tanggal 10 bulan 5 Tahun 773
Hiro Ark berguling dalam tidurnya. Wajahnya terlihat gelisah. Lalu seolah mendengar alarm tak terlihat, dia terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Matanya terbelalak kaget. Beberapa butir keringat dingin tampak menuruni wajahnya. Jantungnya masih berdebar kencang tak karuan. Tangannya tanpa sadar menyisir rambut hitam pendeknya yang acak-acakan.
"Huff..Cuma mimpi." Gumamnya pelan.
Walau dia tahu itu hanya mimpi, mimpi itu terasa begitu nyata baginya. Tangan dan kakinya masih gemetar dan rasa dingin masih menguasai dirinya. Hiro memejamkan matanya dan kilasan-kilasan mimpi tadi kembali menari-nari di balik pelupuknya. Dia bisa melihat medan perang itu, dentingan pedang yang beradu kencang, seorang pria bermata merah darah, dan dirinya ditusuk...
Hiro langsung membuka matanya, memaksa otaknya kembali ke kenyataan. Entah kenapa mata merah itu begitu mengganggunya. Tatapan yang diberikan mata merah itu seolah menekannya, begitu mengintimidasi dan dingin. Dia masih bisa merasakan hawa membunuh menguar dari pria itu, seolah ia begitu berhasrat untuk membunuhnya. Membunuhnya..
Dia menekap wajahnya dengan kedua tangannya dan kembali menyisir rambutnya dengan frustasi. Itu cuma mimpi..Cuma bunga tidur! Tegasnya pada dirinya sendiri. Dia melayangkan pandangannya ke luar jendela di samping tempat tidurnya untuk mengalihkan pikirannya dari mimpi sialan yang terus menghantuinya. Di luar semburat merah jingga mulai muncul di kaki langit, merayap pelan-pelan melahap warna biru gelap yang masih tersisa di atasnya. Dia mendesah pelan.
"Tak ada waktu bagimu memikirkan mimpi konyol itu Hiro Ark! Kau masih punya kewajiban untuk mengirimkan hasil panenanmu ke kerajaan atau kau akan kena akibatnya" katanya pada dirinya sendiri.
Dia bangun dengan malas dari tempat tidurnya, lalu menyeret kakinya ke arah kamar mandi tepat di seberang kamar tidurnya. Ia membuka keran air, melepaskan seluruh pakaiannya,lalu membiarkan dinginnya air membangunkan dirinya.
Saat ini sudah sepuluh tahun berlalu sejak Hyuuga memimpin Ascardia. Memang, tak ada hal yang berubah drastis dibandingkan pemerintahan klan Yukihira. Kerajaan tetap makmur dan aman. Malah kekuatan pertahanan Ascardia saat ini tiga kali lipat lebih kuat daripada sepuluh tahun lalu. Hanya saja klan Hyuuga lebih keras dan mengekang kebebasan mereka. Rakyat diwajibkan mematuhi perintah raja, apapun itu perintahnya, bahkan jika perintah itu terdengar aneh dan tidak masuk akal. Lebih parahnya lagi, tak ada yang boleh membantah perintah raja. Sedikit saja terdengar suara-suara yang membangkang, bisa dipastikan saat itu juga orang tersebut akan menghilang. Entah sudah berapa banyak terdengar kasus orang menghilang atau keluarga bangsawan yang dicabut statusnya dan dicoret dari daftar. Rakyat sendiri akhirnya lebih memilih apatis dan mengikuti apa yang di perintahkan raja. Mereka berpikir, "keluarga bangsawan yang memiliki Alice saja tak mampu melawan kekuatan raja, apalagi kami yang hanya rakyat biasa?".
Hiro sendiri lebih memilih bersikap netral. Ia tahu kehidupannya telah berubah total saat ini, tak ada lagi kebebasan yang dirasakannya dulu. Bahkan aku terpaksa menutup usaha penginapan bersama orangtuaku dan menjadi petani di sini karena perintah raja..gerutunya dalam hati.
Hiro membuka pintu kamar mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Baru saja dia menutup pintu kamar mandinya, tiba-tiba terdengar jeritan memekakkan telinga dari arah ruang tamunya. Betapa kagetnya dia ketika melihat seorang gadis berambut cokelat panjang yang tak dikenal duduk di sofa ruang tamunya. Gadis itu memelototinya sambil menunjuk-nunjuk dirinya dengan berang.
"Kau...kau.." Kata gadis itu shock. "Ngapain kau telanjang dada di depan cewek?!" Jeritnya histeris.
Hiro menatap gadis itu dengan tatapan aneh. Dia menyambar sehelai kemeja dari lemari pakaianya di depan kasurnya lalu menghadap gadis itu dengan berang. "Hei! Harusnya aku yang bertanya, Penyusup."Geramnya. "Kau yang ngapain! Ngapain kau masuk-masuk ke rumah orang? Dasar Maling! Pergi sebelum aku menendangmu keluar!" Kata Hiro kesal.
Gadis berambut coklat itu melompat bangun dengan kesal dan baru mau membalasnya ketika tiba-tiba wajah manisnya berubah menjadi pucat. Mata coklat hazel-nya membelalak sambil menatap pintu dengan tatapan penuh horor. Hiro menatap gadis itu dengan tatapan aneh. Dia melangkah menuju pintu belakang rumahnya dan hendak membukanya sambil berkata, "Hoi..kalau kau mau berakt—". Kata-katanya tak pernah selesai karena sedetik kemudian ada tangan yang membekap mulutnya. Sebuah pisau pendek tiba-tiba sudah berada di lehernya dalam posisi mengancam. "Berani bergerak..kau akan menyesal pernah hidup." Desis seseorang di sebelah lehernya. Suara itu nyaris seperti geraman dan terdengar begitu mengintimidasi.
Gadis berambut cokelat di ruang tamu membelalakan matanya dengan panik. "Am! Apa yang kau lakukan?" Katanya sambil menghampiri mereka. Hiro mencengkeram tangan orang yang membekapnya dan berusaha membebaskan dirinya tapi sia-sia. Orang itu terlalu kuat. Dia tak bisa menduga siapa penyerangnya. Dari suaranya,ukuran tangan yang membekapnya, dan kekuatannya, bisa saja dia cowok. Tapi dari nama yang di teriakkan si gadis berambut cokelat, kelihatannya dia cewek. Aaaaah, Hiro bodoh! Apa pentingnya dia cewek atau cowok sekarang? Jeritnya dalam hati.
"Sakura..berada di belakangku." Perintah orang yang satu lagi. Gadis berambut cokelat itu langsung menurutinya tanpa protes. "Begitu ku beri aba-aba, hancurkan papan di belakangku ini." Perintahnya lagi dingin sambil menunjuk pintu belakang rumah Hiro.
Hiro tak bisa lagi menahan kesabarannya. Dia tak peduli meskipun nyawanya terancam. Ada dua orang yang tak dikenalnya menyusup ke rumahnya, dan sekarang mereka mau meledakkan rumahnya? Oh, yang benar saja. Memang rumahnya kecil dan hanya terbuat dari papan, tapi ini hasil kerja kerasnya sendiri dan sekarang orang-orang ini mau meledakannya. Tidakkah mereka tahu etika dan sopan-santun? geramnya dalam hati.
Hiro mengeluarkan seluruh kekuatannya dan membanting orang yang membekapnya ke depan. "Kalian gila! Sudah menyusup seenaknya dan sekarang kalian mau meledakkan rumah orang? Aku takkan membiarkan siapapun meledakkan rumahku!" Teriak Hiro marah. Tapi rasa marahnya langsung berganti dengan rasa kaget begitu dia melihat siapa penyerangnya. Matanya membelalak kaget begitu menatap gadis yang kini terduduk di lantai. Lho..seorang gadis lagi? Batinnya bingung.
Dibandingkan si gadis berambut cokelat, wajah gadis ini berkesan liar dan garang. Kulitnya putih, lebih pucat dari si brunette. Tapi yang mengagetkannya adalah mata hitam kelam sehitam malam yang kini tengah menatapnya dengan penuh amarah.
Mata hitam...ga mungkin! Iris mata seperti itu hanya ada dalam legenda, batin Hiro.
Gadis bermata hitam itu menarik pedang di punggungnya secepat kilat dan mengacungkannya ke leher Hiro, nyaris menusuknya. Hiro mengerjap kaget melihat serangan yang mendadak itu. Tapi sebelum ada yang bisa bergerak, pintu rumahnya berhamburan jadi puluhan keping. Hiro secara otomatis menaikkan lengannya untuk melindungi dirinya dari pecahan-pecahan papan yang berterbangan. Seluruh rumahnya kini dipenuhi kepulan debu.
"Uhuk..Ugh..Debu sialan.." Gerutu Hiro sambil terbatuk-batuk. Tangannya sibuk menepis debu yang berterbangan menghalangi pandangannya. Baik, apalagi sekarang? Tadi, gadis itu mengatakan akan meledakkan pintunya dan sayangnya, sekarang ada yang lebih dulu meledakkan pintunya..pikirnya sarkastis. Di rumahnya sudah ada dua gadis asing. Apalagi yang akan muncul sekarang? Gerutunya dalam hati.
Hiro memicingkan matanya dan dia bisa melihat samar-samar dari balik kepulan debu yang mulai menipis, sekelompok orang berzirah memaksa masuk ke dalam. Mereka membawa perisai berwarna merah darah dengan trisula hitam di tengahnya dan membawa sebilah pedang. Hiro tahu siapa mereka; Pasukan Khusus Istana, Solitaire. Pasukan khusus yang bergerak langsung dibawah perintah raja untuk menangkap Warrior—para pengkhianat dan pemberontak kerajaan. Hiro menaikkan sebelah alisnya. Apa sih yang sebenarnya terjadi hari ini?
Seseorang dari pasukan itu yang berdiri paling depan memandang mereka bertiga dan berteriak, "Jangan bergerak! Ka—".
Tapi sisa kata-katanya di tenggelamkan oleh bunyi ledakan lain. Salah seorang dari gadis-gadis itu telah meledakkan pintu belakangnya. Detik berikutnya yang Hiro tahu, tangannya di tarik oleh si gadis bermata hitam. Mereka berlari kencang memasuki hutan ilusi. Rambut gadis itu yang berwarna merah kecokelatan berkibar-kibar di belakangnya. Si gadis berambut cokelat berlari tak jauh di depan mereka. Hiro tak mengerti bagaimana, tapi rasanya semak-semak seperti menyibakkan diri mereka sendiri begitu mereka lewat, seolah semak-semak itu memberi mereka jalan. Dia menyadari—dari kilatan-kilatan hijau yang melewati mereka—,mereka sedang berlari dengan kecepatan yang melampaui kecepatan manusia normal. Hei, sebetulnya siapa sih gadis ini? Gerutunya. Dia tahu hanya bangsawan yang memiliki alice—kekuatan seperti sihir yang disebut sebagai anugerah bagi kaum terpilih, setidaknya begitulah pengertian yang beredar diantara rakyat jelata. Apa mungkin gadis ini bangsawan?
Lalu setelah beberapa saat, Hiro seolah dihentakkan kembali ke kenyataan. Dirinya baru saja melarikan diri dari Solitaire, bersama Warrior. Para prajurit itu pasti kini mengira dirinya adalah bagian dari para Warrior itu. Hiro menghela nafas lalu menghentakkan tangannya dari genggaman si gadis berambut hitam—namanya Am menurut si brunette itu. Gadis itu langsung berhenti begitu Hiro melepaskan tangannya. Alisnya saling bertautan dan mata hitamnya menatapnya dengan pandangan bertanya. Hiro memandangnya balik. "Aku tak mau membantu Warrior." Jawabnya datar.
Am menatap mata cokelat gelap cowok itu. "Kau akan membantuku." Katanya tenang. Hiro menoleh ke belakang dan mendapati tak ada jejak bahwa satupun prajurit Solitaire berhasil mengejar mereka. Oke..dia punya waktu untuk pergi meninggalkan kedua gadis ini dan tak terlibat dalam masalah.
"Percuma..mereka tak peduli kau bagian dari kami atau bukan." Kata Am. Hiro menatapnya heran. Tadi..gadis itu baru saja membaca pikirannya?
"Bantu kami, dan kami akan membayarmu. Kami akan melindungimu,dan mengembalikanmu pada hidupmu lagi." Kata gadis itu lagi. Dia meneliti cowok itu dari atas hingga bawah. Bibirnya melengkung membentuk senyum puas. "Lagipula kau punya potensi." Sambungnya lagi.
Hiro menyisir rambutnya dengan frustasi. Dia bisa saja mengabaikan gadis ini dan pergi, tapi entah bagaimana ada yang menahannya dari melakukan itu. Dia menarik nafas lalu mencoba bicara lagi dengan tenang pada gadis itu."Dengar..aku tak mengerti apa yang kau maksud dengan potensi,dan aku tak mau tahu. Aku tak peduli uang kalian. Yang kubutuhkan hanya kembali ke rumahku, ke kehidupanku yang biasa."—kehidupanku sebelum kalian mengacaukannya, tambahnya dalam hati.
Gadis itu bergeming. "Kau tak mengerti." Katanya pendek. "Ini pilihan terbaik. Bantu kami dan aku bersumpah, aku akan mengembalikan hidupmu.". Hiro menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya. Sesuatu dalam hatinya berbisik gadis ini mengatakan hal yang benar. Tapi ia tahu, sekali ia terlibat, ia tak akan bisa keluar lagi.
Terdengar bunyi berkeresak ribut di belakang mereka. Dari sela-sela rimbunnya semak-semak, Hiro tahu pasukan itu paling jauh hanya seratus meter jauhnya dari mereka. "Aku tak punya pilihan." Kata gadis itu lagi. "Ambil tawaran itu, atau aku terpaksa harus memaksamu." Katanya lagi. Hiro mendesah. Bagus Hiro..Kau sudah melemparkan dirimu dalam masalah besar, gerutunya dalam hati. "Baiklah. Lebih baik kau pegang janjimmu jika kau tak mau ada masalah." Geramnya kesal.
Am menyeringai lalu meniup kerang kecil yang tergantung di lehernya. Tiba-tiba Sakura-si gadis berambut cokelat muncul begitu saja di samping Am. "Batu itu. Cowok ini akan mampu menggunakannya." Katanya tanpa basa-basi sambil mengulurkan tangan tak sabar kepada Sakura. Sakura memberinya tatapan kau-yakin-apa-yang-kau-lakukan sebelum memberikannya pada Am. "Am, aku hanya bisa menahan mereka paling lama lima menit." Katanya. Setelah berkata begitu, gadis itu kemudian menghilang lagi entah kemana.
Tahu-tahu tanpa Hiro sadari, Am sudah membuka kancing kemeja Hiro dengan cepat. Hiro merasa pipinya memerah. "Oy! Apa yang kau lakukan!?" Geramnya separo marah separo malu sambil menahan kedua tangan gadis itu. Am cuma balik menatapnya dingin dan tak menjawabnya. Dia membuka kepalan tangannya dan memperlihatkan sebuah batu kecil seukuran kerikil berwarna merah gelap. Lalu dia menekapkan tangannya ke dada Hiro, tepat dimana jantungnya berada. Seketika itu juga Hiro merasa panas merayap pelan-pelan dari jantungnya lalu menyerangnya ke sekujur tubuh.
"Apa yang...Ugh!" geramnya ketika rasa panas itu makin menjadi-jadi di jantungnya. Begitu rasa panas itu berhenti, betapa kagetnya ketika dia melihat di telapak tangannya ada segumpal api kecil.
Am memandangnya dengan senyum puas terpampang di wajahnya. "Bagus..sekarang aku mau kau bersembunyi di belakang semak-semak itu—katanya sambil menunjuk ke semak-semak di tanah yang sedikit lebih tinggi dari posisi mereka saat ini, sekitar tiga meter dari mereka—dan dengar aba-abaku. Begitu ku bilang 'dua', bayangkan sebuah ledakan dan arahkan padaku."
Hiro mau memprotes gadis itu, tapi tak ada suaranya yang bisa keluar. Mulutnya hanya membuka dan menutup seperti ikan yang membutuhkan oksigen. Entah kenapa ada sesuatu yang tak bisa dibantah dari cara bicara gadis itu.
"Bagaimana?"Hanya itu saja yang bisa dikatakannya.
"Kau akan tahu. Nalurimu mengetahuinya. Sekarang bersembunyilah." Perintah Am.
Tak berapa lama gadis berambut cokelat itu berlari kembali kepada mereka. Tapi kini di belakangnya pasukan itu mengikutinya sambil menyerangnya. Begitu mereka sudah cukup dekat, gadis brunette itu kembali menghilang dan kini pasukan itu berhadapan dengan Am.
Hiro menatap pertarungan di depannya dengan takjub. Am hanya seorang diri dan pasukan itu ada sekitar empat puluh lima orang, semuanya bersenjata dan beberapa memiliki alice. Gadis itu mencabut dua pedang dari balik punggungnya dan menyambut mereka. Tak lama, pertempuran pun pecah. Hiro melihat gadis itu, dengan pedang kembar di tangannya, berhasil menangkis semua serangan itu dan menyerang balik di saat yang bersamaan. Gerakannya begitu luwes,anggun, dan...indah, seolah-olah dia sedang menari. Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar, apalagi takut menghadapi musuh sebanyak itu seorang diri. Hiro justru melihat seringaian di wajah gadis itu makin lebar setiap kali musuh-musuh jatuh berserakan di kakinya. Dia mendengus. Mungkin ini yang dimaksud orang-orang sebagai 'Cantik dan Mematikan'.
Tak lama Hiro menyadari, ada gerakan-gerakan lain di semak-semak yang memenuhi lantai hutan tak jauh dari posisi mereka. Dia bisa melihat baju-baju zirah hilang-timbul diantara rimbunnya dedaunan. Damn! Pasukan bantuan! Gerutunya dalam hati.
Hiro mengalihkan matanya ke pertarungan Am lagi. Nyaris seluruh pasukan sudah tersungkur di kakinya. Gadis ini..petarung yang tangguh..batinnya. Kelihatannya gadis itu tak membunuh para prajurit itu, hanya membuat mereka tak sadarkan diri. Sekarang sisa dua prajurit lagi untuk ditaklukan dan jarak prajurit bantuan tinggal lima belas meter.
Am menjatuhkan kedua lawan terakhirnya dengan sekali tebasan lalu dia berteriak, "Satu!".
Oke Hiro..itu aba-abanya, batinnya pada diri sendiri. Hiro memejamkan mata dan berusaha membayangkan sebuah ledakan. Yah..setidaknya dia mencoba.
"Dua!"
Rasa panas menjalar dari jantungnya menuju kedua telapak tangannya. Hiro membuka matanya dan melihat tangannya. Kedua telapak tangannya saling berhadapan dan diantaranya ada sebuah bola api dengan percikan-percikan seperti listrik. Bola matanya membulat. Ini...Alice?
Hiro melepaskan bola itu dan membayangkan lokasi gadis itu berada. Tiba-tiba saja bola api itu menghilang dari tangannya begitu saja.
Tanpa Hiro sadari, ada seseorang yang berjalan mengendap di belakangnya. Tangannya mencabut sabit kecil dari sisi pahanya dan berjalan mendekatinya.
"Tiga!"
Terdengar ledakan besar dan teriakan membahana ke seluruh penjuru hutan. Hiro membelalak ngeri memandang hasil perbuatannya. Api dengan cepat melalap semak-semak dan asap nyaris membuatnya tak bisa melihat apa-apa. Dia tak bisa melihat dimana prajurit-prajurit itu maupun keberadaan Am. Dia hendak mencari gadis itu ketika dia merasakan nyeri di punggungnya dan seluruh tubuhnya mendadak lemas. Sebelum seluruh tenaganya menghilang, dia memaksakan dirinya berbalik dan menatap siapa penyerangnya. Betapa kagetnya dia ketika sepasang mata crimson memandangnya balik.
Mata merah gelap yang seperti darah.
Mata yang menghantuinya dalam mimpi.
Lalu segalanya gelap...
OoOooOoO
Amaranthia duduk termanggu di pintu gua. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding gua dan memeluk lututnya. Bajunya yang seperti baju pemburu sobek di sana-sini, beberapa sobekan memperlihatkan luka torehan yang separuh sembuh. Tangannya yang putih kini berhiaskan sayatan-sayatan dan bekas luka bakar ringan yang memerah. Sepatu boot panjangnya dan kedua pedangnya diletakkan di sampingnya. Di sisi kanannya, seorang gadis berambut hitam memandangnya khawatir dengan mata merahnya. Am berusaha mengabaikan pandangan gadis itu, tapi lama-lama pandangan gadis itu mengganggunya juga.
"Aoi..hentikan."perintahnya kesal.
Gadis berambut raven itu cemberut. Dia menyentuh pelan luka di tangan Am. Am mengernyit sedikit ketika lukanya berentuhan dengan jari gadis itu. "Kau yakin seyakin-yakinnya kau baik-baik saja, Am?"tanyanya.
"Aku baik-baik saja."Katanya singkat. Am mengubur wajahnya ke dalam pangkuannya. Rambut lurusnya yang berwarna merah kecokelatan terurai begitu saja, menutupi wajahnya dari pandangan.
Aoi menghela napas. Dia mengalihkan pandangannya pada gadis berambut cokelat yang duduk sedikit lebih jauh dari mereka. Tak seperti Am, penampilan gadis itu lebih rapi. Bajunya yang berwarna cokelat gelap hanya sedikit robek disana-sini. Ada beberapa helai daun tersangkut di robekannya, mungkin karena ia terus berlarian di antara semak-semak. Rambut cokelat panjangnya diikat menjadi ponytail. Ujungnya yang mengikal tanpa sadar dimainkan olehnya sementara matanya bergeming, terpaku menatap bulan merah darah yang bersinar penuh diatas mereka.
Aoi bisa merasakan—bukan,tepatnya membaca—pikiran kedua gadis itu dengan jelas. Pikiran Amaranth dipenuhi dengan pemuda berkulit cokelat yang tak dikenalnya. Dia bisa merasakan rasa khawatir menguar dari gadis itu. Sementara Mikan, well...Gadis brunette itu sedang memikirkan pemuda berambut raven yang sama sepertinya dengan mata merah yang identik dengannya. Keduanya sama-sama memiliki rasa khawatir yang besar dalam diri mereka. Dia tak tahu mengapa dan meskipun ia ingin bertanya, entah mengapa ia tahu mereka takkan menjawabnya.
Aoi berjalan masuk dan merebahkan badannya ke atas tumpukan jerami di sudut gua. Mereka beruntung menemukan gua yang nyaman dan tak terlalu besar bagi mereka. Lantainya datar,dan terletak dibelakang tebing sehingga gua ini nyaris tak terlihat. Gua ini juga tak begitu lembab, dan entah mengapa ada banyak ranting kering berserakan di dasarnya. Seolah-olah ada yang sengaja menyediakannya untuk mereka gunakan. Ranting-ranting itu kini terbakar di tengah ruangan, menjadi sumber bagi api unggun kecil yang memberi mereka cahaya. Asapnya membumbung tinggi melewati celah kecil di atap gua.
Aoi berguling menghadap api unggun. Dia suka kehangatan yang diberikan api itu. Entah mengapa hal itu terasa seperti nostalgia baginya. Menatap api yang menari-menari..rasanya itu seperti membangkitkan kenangan lama..kenangan yang terasa begitu berharga baginya. Tapi semakin keras usahanya untuk mengingatnya, sesuatu yang ia rasa kenangan itu makin menjauh. Frustasi, Aoi mengalihkan pandangan dari api unggun dan menelentangkan tubuhnya. Ia kini menatap langit-langit gua seolah itu adalah hal paling menarik disana. Matanya menjelajahi celah demi celah, tiap tonjolan yang ada, mengikuti jejak laba-laba yang berlarian, tapi pikirannya melayang-layang tak tentu arah.
Pikirannya masih berusaha mencari-cari sesuatu itu. Ia merasa itu adalah sesuatu yang hilang darinya. Api..rasa rindu dan pikiran-pikiran yang memicu kenangan yang tak bisa diingatnya itu selalu muncul jika ia melihat api. Mungkinkah ada hubungannya dengan keluarganya yang tak pernah di temuinya? Ia mencoba memikirkan keluarganya..setidaknya satu nama yang terus menerus muncul dalam pikirannya, Natsume Hyuuga. Natsume Hyuuga..kakaknya sekaligus pangeran sah Ascardia saat ini. Natsume..kakak yang ia hanya tahu dari kilasan ingatan masa kecilnya. Onii-channya yang wajahnya ia lihat dalam pikiran Mikan-nee. Tapi, tak peduli sekeras apapun ia memeras ingatannya, tak ada satupun kenangan apapun yang muncul. Kalaupun ada, hanya sekelebat-sekelebatan adegan yang terlihat seperti film blur baginya,lalu seperti tadi, adegan-adegan tersebut menjauh dan menghilang.
Aoi menghela napas. Ia memutuskan untuk menyerah kali ini. Memang, ia nyaris tak memiliki ingatan apapun tentang keluarganya, bahkan tentang masa kecilnya. Bagaimana tidak, sejak ia mampu mengingat, ia sudah berada di ruangan kecil, sendirian, di atas menara. Seingatnya saat itu ia berusia enam atau tujuh tahun. Waktu itu ia terbangun di atas kasur, tanpa ingatan tentang apapun kecuali namanya sendiri, Aoi Hyuuga.
Aoi memejamkan mata dan gambaran ruangan yang ia diami selama sepuluh tahun muncul dengan jelas dalam ingatannya. Ruangan itu berbentuk bundar, dengan langit-langit yang tinggi dan penuh sarang laba-laba. Dindingnya yang kokoh terbuat dari batu bata berwarna hitam. Di salah satu ujung terdapat sebuah pintu kayu lengkung berwarna cokelat muda dengan gagang pintu penuh ukiran berwarna hitam. Ruangan itu hanya memiliki sedikit perabot. Di tengah ruangan terdapat sebuah ranjang berukuran kecil dengan seprai berwarna gelap ala kadarnya yang jarang diganti, lalu ada sebuah meja kayu berwarna hitam dan kursi kayu senada di depan sebuah perapian sederhana yang hanya dinyalakan jika musim dingin tiba. Ada sebuah lemari kecil terpaku rapat ke dinding tepat di seberang tempat tidurnya, tempat dimana baju-bajunya disimpan. Diatasnya ada sebuah tempat lilin bertangkai tiga terbuat dari kuningan, satu-satunya sumber cahaya di kamar itu. Hanya ada jendela kecil berjeruji rapat yang terletak tepat di seberang pintu lengkung. Jendela itulah satu-satunya penyuplai udara segar. Terkadang juga ia bisa mencium aroma laut yang segar dan burung-burung berterbangan ribut lewat di depan jerujinya. Tapi jeruji itu begitu rapat hingga hanya tangan mungilnya saja yang bisa melewatinya.
Setiap hari, tiga kali pintu kayu kamarnya akan terbuka dan seorang pria akan muncul dan membawakannya makanan. Terkadang dia akan tinggal dan menemaninya. Pria bertopeng ini-lah satu-satunya orang yang pernah dilihatnya sebelum Mikan-nee dan Amaranth-nee muncul. Pria itu juga yang mengajarinya bermacam-macam hal. Pelan-pelan seiring waktu, beberapa kenangan atau kilasan-kilasan mengenai memorinya mulai kembali. Saat itulah ia mengetahui dirinya tak sendiri. Ia punya keluarga, di luar ruangan menara ini atau setidaknya ia berpikir begitu.
Aoi pernah bertanya-tanya tentu, sebenarnya siapa 'Tuan Bertopeng'? Kenapa keluarganya tak pernah mengunjunginya? dan kenapa ia dikurung di ruangan itu? Kenapa hanya 'Tuan Bertopeng'lah satu-satunya yang selalu menemaninya?. Tetapi orang yang dipanggilnya 'Tuan Bertopeng' itu cuma menjawab dua pertanyaannya. Ia menjelaskan alasan kenapa dirinya dikurung: karena dirinya tak memiliki alice api seperti yang seharusnya dimiliki oleh seluruh anggota kerajaan. Dirinya akan menjadi bahan tertawaan dan akan ditolak oleh seluruh Ascardia karena dia tak memiliki bukti sebagai seorang putri kerajaan yang sah. 'Tuan Bertopeng' juga mengatakan, Senat akan mengadili dia dan keluarga kerajaan jika keberadaannya sampai diketahui oleh mereka. Tak tertutup kemungkinan mereka akan dihukum mati karena dirinya dianggap sebagai tanda kesialan yang harus dibuang.
Dia tahu 'Tuan Bertopeng' dan keluarganya menyayanginya dan hanya berusaha untuk melindunginya. Tapi walau begitu ia tak bisa melawan rasa kesepian yang sering menghinggapinya. Dia selalu ingin pergi keluar dari ruangan itu, tapi selain waktu berkunjung 'Tuan Bertopeng', pintu itu tak mau membuka. Pernah suatu waktu pintu itu membuka dan ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap keluar. Tapi, 'Tuan Bertopeng' memergokinya ketika ia baru menuruni separuh anak tangga. Pria itu betul-betul marah padanya dan menguncinya seharian tanpa makanan di kamarnya.
Aoi membuka matanya dan mendesah pelan. Dia berguling menatap dinding gua. Pikirannya melayang ke Sang Pria Bertopeng. Sekarang, setelah aku benar-benar pergi, dia pasti murka padaku..pikirnya. Aoi menekapkan kedua tangannya ke wajahnya dan sebutir air mata menuruni pipinya. Maaf 'Tuan Bertopeng'..Maafkan aku, tapi aku tak mau terkurung selamanya disana, bisiknya dalam hati.
OoOooOoO
Seorang pemuda berambut raven duduk bersandar pada tembok bata hitam. Kakinya dengan santainya menyilang diatas balkon marmer putih. Tangannya bersedekap didepan dadanya. Wajahnya tenang, datar tanpa ekspresi. Matanya menatap bulan merah yang bersinar dengan terangnya diatas sana. Cahayanya menerpa sebagian balkon putih tempatnya berada, membuatnya berwarna merah seolah-olah ternoda oleh darah.
Tiba-tiba daun-daun pohon oak di depan balkonnya bergerak-gerak. Dengan gerakan yang nyaris tak terlihat mata biasa, dia mencabut Claw—senjata terbuat dari besi berbentuk sabit kecil yang seperti bumerang—dari pinggangnya dan melemparnya ke arah pohon tersebut. Sesaat kemudian terdengar bunyi koakan burung yang terdengar aneh sekaligus memilukan dan bunyi bluk kecil saat burung itu mendarat di tanah. Sesaat kemudian burung itu berubah menjadi sosok pemuda yang tewas mengenaskan. Darah mengucur deras dari lehernya yang nyaris putus. Empat lantai di bawah balkonnya, terdengar keributan ketika para prajurit sibuk 'mengurus' mayat yang tiba-tiba muncul itu. Sang pemuda menyunggingkan senyum sarkastis. Pengintai, kalian pikir burung jadi-jadian itu mampu menipuku?batinnya dalam hati.
"Mengagumkan.."kata seseorang dibelakangnya sambil bertepuk tangan. "Seperti yang diharapkan dari pangeran Ascardia yang sempurna." Katanya lagi. Walau kata-katanya adalah pujian, pria itu mengatakannya dengan nada sedingin es dan tak ada ekspresi apa-apa di matanya yang dingin.
Pemuda itu menoleh kebelakang dan mendapati seorang pria dengan pakaian serba hitam berdiri di ambang pintu balkon. Pria itu memakai topeng putih yang menutupi separuh wajahnya hingga ke hidungnya. "Persona.." Kata si pemuda berambut raven. Wajahnya tetap datar, tapi ada kebencian yang dalam tergambar di matanya. "Mau apa kau kemari?".
Pria bertopeng yang dipanggil Persona itu mengangkat tangan kanannya yang dipenuhi cincin dan melepas topeng putihnya. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum mengejek. Tangan kirinya menyibakkan poni rambut hitamnya, menampilkan mata merah kecoklatan yang dingin. Ada tato berbentuk salib di bawah mata kanannya. Kedua matanya kini menatap mata merah darah pemuda itu lurus-lurus. Ada rasa benci dan terlihat jelas pria itu memberinya pandangan merendahkan. Pemuda itu balas memandangnya dengan kebencian yang sama besarnya. "Meskipun kau Pangeran Natsume.."katanya mencemooh. "Bukan berarti kau bisa bersikap seenaknya padaku.".
Natsume mengepalkan tangannya kuat-kuat. Seluruh tubuhnya siaga. Persona yang melihat itu semua cuma tersenyum sinis. "Aku punya tugas untukmu. Kumpul di ruangan biasa tengah malam ini." Katanya dingin. Lalu setelah berkata begitu dia berbalik pergi dan menghilang begitu saja. Natsume cuma mendengus lalu dia kembali ke posisi duduknya semula.
"Natsume..Kau bisa mati kalau kau jatuh dari sana,kau tau."
Natsume menoleh dan melihat seorang pemuda tampan berambut pirang berdiri di ambang pintu kamarnya. Seekor kelinci berbulu putih bersih duduk nyaman dalam gendongannya. Pemuda itu berjalan masuk ke balkon. Dia menatap Natsume, rasa khawatir terpancar dari mata biru cerahnya.
"Aku heran kenapa orang-orang bisa seenaknya masuk ke kamarku." Gerutu Natsume. Pemuda berambut pirang itu tertawa kecil. Dia duduk di kursi di sebelah pagar balkon yang diduduki Natsume. Kelinci putihnya otomatis langsung mengambil posisi di pangkuannya dan mendekam dengan nyaman sementara tangan pemuda itu otomatis membelainya.
Pemuda berambut pirang itu adalah Ruka Nogi. Pangeran dari salah satu Empat Keluarga Bangsawan Besar. Setiap keluarga menguasai satu wilayah di Ascardia dan mengepalai keluarga-keluarga bangsawan lainnya yang ada di wilayah tersebut. Kebetulan Keluarga Nogi menguasai wilayah Utara, tempat Kota Liech berada. Jadi adalah hal yang biasa jika dia mondar-mandir keluar masuk istana. Apalagi dia dikenal sebagai satu-satunya sahabat sekaligus orang yang paling di percaya oleh Pangeran Ascardia, Natsume Hyuuga.
"Ada kabar lagi?" Tanya Natsume malas-malasan sambil kembali memandangi bulan.
"Ya..Dia akhirnya bisa kabur dari istana." Kata Ruka pelan. Natsume langsung menolehkan kepala, menatap sahabatnya. Ada ketidakpercayaan di matanya. "Kau pikir aku akan berbohong?" tanya Ruka balik sambil menaikkan sebelah alisnya. Natsume tak menanggapi kata-kata Ruka. Alih-alih ia malah bertanya, "Siapa?".
Ruka menggelengkan kepala. "Aku pun tak tahu persis. Kontakku dengan Imai terputus. Tapi dari rumor yang kudengar barusan, itu dua orang gadis. Satunya berambut merah lurus, yang satu berambut cokelat dengan ujung mengikal."
Mata Natsume langsung melebar begitu mendengar kalimat terakhir Ruka. Ruka menatap sahabatnya dan menepuk lengannya. "Aku tahu." gumamnya muram. "Aku juga berharap itu bukan dia.".
Ruka melayangkan pandangannya ke arah bulan merah yang kini bersinar terang tepat di atas mereka. "Kau tahu..sudah beberapa minggu ini bulan bersinar terang seperti ini terus." Katanya pelan. "Ku harap semua pertanda itu salah..Ku harap perang belum pecah..ku harap...". Ruka membiarkan kata-katanya menggantung di udara sementara pemuda di sampingnya hanya mematung. Ruka tahu, pikirannya kini pasti penuh dengan gadis berambut cokelat itu. Gadis yang dicintainya sejak mereka masih kecil.
Tiba-tiba Natsume melompat turun dari balkon dan berjalan begitu saja menuju pintu kamarnya. Ruka kaget dengan aksi sahabatnya yang tiba-tiba. Tapi sesaat kemudian dia mengetahui alasannya. Sahabatnya itu pasti mempunyai misi lagi, misi berbahaya lainnya lagi. Ruka menghela nafas.
"Natsume.." Panggilnya.
Natsume berhenti tapi tetap membelakanginya.
Ruka berjalan menghampirinya dan menepuk punggungnya dari belakang. "Kau tahu kan? Apapun yang terjadi, kami akan selalu ada dipihakmu. Aku akan selalu dipihakmu.".
Natsume hanya mengedikkan kepalanya dan berjalan pergi begitu saja. Ruka tersenyum kecil. Senyuman kecil yang sedih. Ia tahu, ia takkan bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Sahabatnya akan selalu begitu, menimpakan segala beban dipunggungnya dan melindungi orang-orang yang dicintainya. Tak peduli apapun bayaran yang harus dibayarnya, tak peduli apapun akibat yang harus ditanggungnya.
Ruka menghela nafas panjang dan berjalan keluar dari kamar Natsume. Ia berdiri di lorong, menatap lorong kosong yang tadi di lewati Natsume. Andai ia bisa melakukan sesuatu untuk sahabatnya. Andai ia bisa meringankan bebannya, alih-alih menjadi sesuatu yang harus dilindungi. Andai saja...
OoOooOoO
Natsume menuruni tangga terakhir menuju ruang basement istana. Ruangan itu luas, seluas balairung istana dan hall-nya jika dijadikan satu. Ruang itu juga lembab dan temaram seperti biasa. Hanya ada empat obor menyala di tengah basement, memberikan cahaya yang nyaris tak berarti diantara kegelapan tak tertembus. Natsume mengepalkan tangannya dan membuat sebuah bola api yang melayang mengikutinya. Cahayanya menerangi lingkungan sekitarnya. Terlihat ada berpuluh-puluh sel disana. Dahulu tempat itu memang difungsikan sebagai penjara, tapi sejak sepuluh tahun lalu ruangan ini nyaris tak terpakai. Alih-alih penghuni sel, sekarang puluhan bahkan mungkin ratusan laba-laba dengan berbagai ukuran dan jenis menghuni sel-sel tersebut. Dimana-mana ada sarang laba-laba menggantung. Di beberapa sarang terlihat serangga-serangga yang tergulung jaring, siap menjadi santapan bagi para laba-laba yang kelaparan.
Semakin mendekati bagian tengah, Natsume bisa melihat ada orang lain disana selain dirinya. Seorang gadis berambut pirang nyaris putih duduk dengan santainya, menonton adegan kanibalisme antar laba-laba raksasa yang ada di sel di hadapannya seolah itu adalah hal yang sangat menarik. Gadis itu mendongakan wajahnya begitu dia menyadari kehadiran Natsume. Dia tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Matanya yang berwarna biru es menatapnya dari atas sampai bawah seolah menilainya. Lalu ia bangun dan melempar rambut lurus panjangnya ke belakang dengan anggun. Matanya kini menatap Natsume dengan lapar seolah tak sabar ingin melahapnya.
"Tahan dirimu, Sharon." Terdengar suara dingin dari belakang mereka.
Persona muncul dari kegelapan memakai pakaiannya yang biasa dan topeng putihnya. Gadis yang dipanggil Sharon itu memandangnya sambil cemberut. "Tapi Personaa..."Katanya manja. Persona menatapnya dingin dan gadis itu langsung terdiam.
Persona kini mengalihkan tatapannya ke Natsume. "Kau terlambat." Katanya dingin.
Natsume mengacuhkannya. Dia memandang jijik Sharon yang kini memeluk tangannya erat-erat. "Lepaskan!" Bentaknya. Sharon sama sekali tak gentar mendengar bentakannya. Alih-alih takut, dia malah tersenyum makin lebar. "Aaaawww... Aku betul-betul ingin memakanmu. Boleh yaaa?" Katanya manja. Natsume mengernyitkan alis. Apa-apaan gadis ini?
"Sharon, cukup!" Bentak Persona. Sharon langsung melepaskan pelukannya dan memandang Persona sambil cemberut. Persona mengabaikannya dan memberikan selembar kertas kepada mereka berdua. "Aku punya berita bagus bagi kalian berdua." Katanya.
Natsume mengambil kertas yang disodorkan Persona. Seperti biasa kertas itu berisi informasi orang atau benda yang harus mereka ambil atau musnahkan. Bagian atas kertas berisi info tentang gadis berambut merah kecokelatan yang berwajah liar. Natsume hanya membaca info tentang dirinya sekilas sementara gadis di sebelahnya menyeringai riang begitu melihat foto si gadis berambut merah. Sharon mendongakkan kepalanya dan berkata riang pada Persona, "Si rambut merah boleh buatku kan?". Persona hanya memberinya tatapan dingin sebagai jawaban.
"Aku ingin kalian menyerang lokasi yang ku beri tanda di sini." Katanya sambil memberikan peta yang langsung diterima dengan antusias oleh si gadis-rambut-pirang-putih. "Besok, waktu yang sama. Aku yang akan memilih pasukan yang akan kalian bawa. Hancurkan, Jangan sampai ada yang tersisa. Aku tak menerima kegagalan.". Setelah berkata begitu, Persona berbalik dan berjalan kedalam kegelapan.
Natsume memutuskan untuk melihat peta itu nanti dan melanjutkan membaca info yang diberikan Persona. Hatinya mencelos begitu melihat foto gadis yang tercetak di bagian bawah kertas. Foto itu menampilkan seorang gadis yang berusia kira-kira enam belas tahun dengan rambut cokelat dan mata besar yang berwarna cokelat. Di bawahnya tertulis:
' Mikan Sakura Yukihira, Pewaris sekaligus Putri satu-satunya Klan Yukihira. Putri Mahkota dan sekarang diketahui sebagai pemimpin Warrior.'
Natsume berhasil menjaga wajahnya tetap tanpa emosi. Walau begitu sesungguhnya dia merasa sekujur tubuhnya terasa dingin. Rasa khawatir dan takut yang besar menguasainya. Tak pernah ia merasakan emosi seperti ini sebelumnya.
Mikan! Jeritnya dalam hati.
OoOooOoO
'Mikan!'
Mikan mengangkat wajahnya dari pangkuannya. Tangannya menyelipkan rambutnya kebelakang telinganya. Matanya menatap bingung kesana-kemari. Natsume? Pikirnya bingung. Aku bersumpah, tadi aku mendengar suara Natsume memanggilku, batinnya. Suaranya terdengar khawatir dan gelisah. Ada apa? Pikirnya.
Mikan menoleh ke kiri dan mendapati Natalie bersikap siaga. Kedua tangannya masing-masing menggenggam pedangnya. Matanya menjelajahi puncak hutan yang terlihat olehnya. Mikan menoleh ke belakang dan melihat Aoi tertidur, memunggunginya. Pemuda berambut hitam yang tadi pun masih terbaring tak adarkan diri. Tak ada tanda-tanda kehadiran orang lain selain mereka. Mikan menghela napas dan kembali menatap bulan merah yang kini tepat diatas mereka.
Mikan Idiot..gumamnya dalam hati. Tak mungkin Natsume ada disini. Itu pasti hanya ilusi..Ilusi yang dibuat oleh pikiranmu ..kalau ilusi,kenapa terasa begitu nyata?
"Natsume.."gumamnya pelan tanpa sadar.
Mikan menatap bulan itu lekat-lekat. Hanya bulan itulah yang mampu menghiburnya, menguatkannya. Menatap bulan itu seperti menatap mata yang sangat disukainya, satu-satunya mata yang bisa membuatnya tenang. Satu-satunya mata yang membuatnya merasa bahwa segalanya pasti akan baik-baik saja, membuatnya bisa melupakan segalanya.
"Natsume..kau dimana? Aku...ingin bertemu denganmu" bisiknya pelan.
OoOooOoO
Author's Note: Well..gimana menurut kalian? Please Review.. Jadi aku tahu apa yang kalian pikirkan tentang cerita ini
:D. Aku menerima saran, kritik, pendapat, apa saja yang kalian ingin katakan padaku ttg cerita ini. hehe
Thanks karena telah membaca fict ku! XD
Special Thanks For:
Sunny N. February: Thanks karena jadi yang pertama me-review chapter ini ;) Aku akan berusaha!
Razux: Chapter dua menyusul..hahahahaaa XD
Aku nungguin TODAL lhooo^w^ Ganbatte!
Lian and Haq: Thanks pujianmu*blushing* kuharap chapter ini ga mengecewakanmu XD
Rara: Aku udah meng-update-nya nih.
See you soon!
Lovissa
